Konohagakure no Sato

Matahari terbit sudah satu jam yang lalu. Langit cerah meskipun masih belum melewati waktu pukul sembilan. Sinar hangat matahari merasuki jajaran pohon tinggi menjulang yang mengelilingi sebuah rumah tradisional yang cukup besar di bagian terdalam Shi no Mori.

Letak rumah itu memang di bagian terdalam hutan kematian. Namun, selama lebih dari dua dekade, tidak ada yang melihat atau menyadari ada sebuah rumah di sana. Kenapa?

Karena terpasang kekkai (penghalang).

Penghalang tingkat tinggi dengan rank-S. Penghalang inilah yang menyebabkan orang-orang yang melewati wilayah rumah ini tidak melihat maupun merasakan keberadaan apapun selain pemandangan hutan seperti umumnya.

Siapa di dalamnya? Mari kita intip. Ups~

...

Terlihat sebuah kolam air sederhana berbentuk lingkaran berdiameter dua setengah meter dengan batuan dan tanaman hias mengelilinginya. Di sekelilingnya, berbagai macam bunga dan tanaman obat berjajar rapih. Kita sebut saja tempat ini kebun.

Seorang pria berambut kuning cepak dengan kulit tan berkumis kucing di kedua pipinya tengah duduk setengah berbaring di kursi rotan. Sambil memejamkan matanya, pria itu menghirup oksigen yang bercampur dengan bau tanaman dengan santai.

Pria ini bernama Naruto Uzumaki. Putra tunggal Minato Namikaze atau lebih sering dikenal Yondaime Hokage dengan Kushina Uzumaki. Sang pahlawan perang dunia shinobi keempat dan mantan Hokage, lebih tepatnya Hokage ketujuh atau Nanadaime Hokage.

Lho kok masih hidup? Padahal sudah dua ratus tahun terlewati.

Iya dong..

Tidak ada yang mustahil di dunia ini.

Maksudnya dunia fiksi.

Efek perang dunia keempat bagi kedua pahlawan perang sangatlah membekas. Tubuh berhenti menua diusia dua puluh tahun, kemampuan super regenerasi, bertambah kuat setiap harinya, dan yang paling penting adalah kapasitas chakra yang sepertinya tidak memiliki batas. Bagaikan makhluk Immortal. Dan yang lebih mengejutkan adalah efeknya hanya berlaku untuk mereka berdua saja.

Iya, mereka berdua. Naruto Uzumaki dan Sasuke Uchiha.

Menjalani kehidupan bagai makhluk abadi itu tidaklah mudah. Mereka harus berkali-kali merasakan kehilangan dan berkali-kali melihat konspirasi dunia dan tatanannya. Mengalami berbagai macam keadaan baru, beradaptasi dengan perubahan, dan yang pasti adalah mereka harus menyembunyikan diri selama dua ratus tahun ini. Melelahkan. Disaat teman-teman seangkatan mereka hanya tinggal nama, mereka malah hidup hanya dengan meninggalkan nama. Berat~

Namun, hal-hal seperti inilah yang menjadikan dua tokoh ini semakin kuat setiap harinya. Hidup untuk menjaga desa dari bayangan ternyata tidak buruk. Menyaksikan perkembangan dan pertumbuhan desa beserta orang-orang di dalamnya, pergantian Hokage, dan tentunya perdamaian yang sampai saat ini masih terjaga.

Namun, dibalik kebaikan dan keburukan itulah terkadang rasa bosan akan menghantui.

"Ah... Membosankan sekali. Meski tahu akan selalu seperti ini tapi tetap saja membosankan. Sasuke, lakukan sesuatu.." Sudah berpuluh kali Naruto mengeluh di tempat yang sama dan di posisi yang sama. Sasuke yang tengah berlatih (?) menggunakan pedang kayunya tepat enam meter di sebelah kanan Naruto hanya mendengus kecil.

"Mau mengeluh sampai berjuta-juta kali pun hidup tidak akan berubah, Usuratonkachi! Karena itulah berhenti mengeluh dan diam saja!" Walaupun dalam hatinya tidak menyangkal bahwa dirinya (Sasuke) juga merasakan hal yang sama.

Cih!

"Aku mendengar umpatanmu Dobe!"


Malam harinya...

Selesai makan malam, Naruto beranjak dari ruang makan menuju ke luar rumah berniat bersantai sambil menatap langit malam penuh bintang. Namun langkahnya tertahan kala mendengar suara sahabatnya.

"Ayo menyusup, Naruto."

Eh?

...

Rencana dadakan Sasuke benar-benar membuat Naruto senang setengah hidup. Jadilah mereka sekarang tengah berdiri di atas tembok raksasa yang mengelilingi desa Konoha. Tembok yang dulu tidak ada kokoh-kokohnya sama sekali dibandingkan yang sekarang.

Hey, memangnya apa yang bisa diharapkan dari masa lalu selain sejarah beserta seribu satu pembelajarannya itu?

Tentu saja ada! Warisan leluhur mereka akan tetap berharga sampai kapanpun. Buktinya adalah perdamaian yang tercipta ini.

Naruto dan Sasuke melompat turun dari tembok dengan mulusnya. Tanpa suara tanpa hembusan angin. Chakra yang sudah ditekan sampai sedemikian normal telah dilakukan sejak sebelum keluar dari kekkai.

Setidaknya mereka tidaklah pikun untuk menyamar.

"Hm? Sepertinya semakin banyak perempatan dan belokan. Ah, terakhir kali kita menyusup sudah berapa tahun ya? Hm..." Naruto merenung sambil mengusap duagunya.

"Lima puluh tahun. Ini sudah setengah abad yang lalu. Malam ini ada festival untuk pembukaan pendaftaran akademi." Sasuke mengingatkan mengenai agenda malam ini.

Setelah berjalan selama lima belas menit, mereka sampai ke tempat festival. Festival ini diadakan di sekitar akademi ninja, tidak di dalam lingkungan akademi. Ini bertujuan untuk menjaga akademi tetap steril sampai pembukaan lusa. Festival ini mulai diadakan mulai dari masa pemerintahan Hokage Kesembilan yang berarti pada orde sekarang.

Siapa Hokage Kesembilan?

Namanya adalah Arashi Uzumaki. Kini usianya empat puluh delapan tahun. Sudah tua. Hehe~

Tetapi dibandingkan dua monster legenda ini, Kyuudaime Hokage masihlah anak-anak.

"Eh.. Lumayan meriah untuk acara kecil seperti ini." Naruto berkomentar, Sasuke diam.

Walaupun mereka sudah menyamar, sepertinya keberadaan mereka masih menarik perhatian. Namun apa daya. Dua orang ini tidak peduli karena sudah terlalu terbiasa.

Naruto : "Aku ingin kembali menjadi seperti dulu."

Sasuke : "..."


TBC


Hai! Hai! Hai!Setelah membaca beberapa respon dari kalian, saya langsung tulis part satu ini. Apakah memuaskan atau tidak saya minta tolong reviewnya dong senpai:)

Salam!

1styanSabila

20200319