Genggaman tangan itu di lepas paksa saat mereka sudah cukup jauh dari anak klub basket tersebut.

"Lepas." Ujarnya ketus dan menatap sinis. Memerpehatikan pergelangan tangan yang sedikit kemerahan.

"Maafkan aku, ya?" Permohonan maaf Chanyeol untuk dua hal yang ia lakukan baru saja. Menarik tangannya kemudian berlari kedalam gedung seperti pengecut.

Tidak ada respon. Langkahnya ia bawa menjauh menuju toilet dengan Chanyeol yang masih mengekor.

Mencuci kedua tangan serta pergelangan secara sungguh-sungguh dan berulang. Memastikan setiap inci tidak tertinggal dari kemungkinan penyakit yang akan ditularkan oleh orang tadi.

Chanyeol yang bersandar pada dinding terus menatap kegiatan seorang yang dari tadi mencuri atensinya. Juga tentang pertanyaan yang sedari tadi tak ia dapatkan jawaban.

Menyerah tidak pernah ada dikamusnya. Karena itu hanya mengikut anak ini seharian setidaknya bisa menghilangkan rasa penasaran. Dan juga mengapa mereka bisa di satu kampus yang sama.

Setelah selesai dengan adegan bersih-bersihnya, Chanyeol muncul secara tiba-tiba tepat didepannya.

"Masih tidak mau menjawab pertanyaanku?" Tanyanya dengan wajah yang sedikit menggoda. Itu sudah Chanyeol tahan karena is tahu anak ini pasti akan—

"Minggir." Dengan mudahnya ia menyinggung bahu Chanyeol yang jelas jauh lebih tinggi darinya dan melenggang pergi.

Senyuman kecil terukir. Tubuh tinggi itu ia bawa untuk mengikuti. Jalannya tidak cepat, buktinya mereka masih bertemu di lorong dengan papan skateboard yang masih dipegangnya.

Chanyeol terus menatap wajah ketus itu sambil sesekali memperhatikan jalan. Salah-salah ia bisa menabrak sesuatu jika terus memperhatikan wajah terindah yang pernah dilihatnya ini.

Namun langkahnya ikut terhenti saat yang diikutinya menghentikan langkah. Matanya menatap penuh tanya.

"Ugh, baiklah." Jawabnya kemudian memindahkan skateboard kesisi kanan.

"Pertama, berhenti menatapku." Chanyeol langsung berdiri dengan tegap.

Tak sadar, ia terkekeh kecil. Chanyeol tak sadar akan itu tentunya.

"Kau mau apa jika kuberi tahu namaku?" Tanyanya mendadak. Chanyeol mengernyit, "Mencintaimu mungkin?" Jawabnya santai.

"Aku serius."

Chanyeol terkekeh pelan, "Tentu saja untuk lebih dekat denganmu."

Matanya membola—kaget. Jantung berdegup dan nafas mulai tak beraturan. Ia seperti terkena serangan jantung mendadak tapi dengan keadaan 100% sadar.

"Baekhyun." Papan skateboard diletaknya dibawah dan mendorongnya cepat dan berlalu secepat mungkin dari sana.

Selagi melaju diatas papan beroda itu, Baekhyun menyalakan kembali headphone, memutar lagu Japanese Denim oleh Daniel Caesar.

Dipikir-pikir, ia sedikit keterlaluan tadi. Lagipula kenapa juga orang aneh itu terus mengikutinya.

Namun sejak tadi, Baekhyun merasa mulutnya pahit dan itu membuatnya sedikit pusing.

Skateboard diberhentikan dan berjalan keluar menuju toko untuk membeli kembali nikotin yang tadi sempat habis.

Sejak pagi, Baekhyun juga belum makan apa-apa. Sebungkus kimbab sepertinya bisa menjadi penyelamat disaat krisis seperti ini.

"Baekhyuna?" Pemilik nama itu berbalik dan mendapati si ketua klub basket yang sedang meminum susu kotak rasa pisang dengan salah satu tangannya masuk ke saku celana.

Baekhyun memutar bola mata—malas. Membayar barangnya dan segera keluar dari sana.

Langkahnya terhenti saat tangan dicegat sepihak. "Bukankah kau harus meminta maaf?" Dengan sepotong roti dimulut dan sebuah susu ditangan kiri yang kemudian ia buang sembarang.

"Aku tidak merasa harus meminta maaf denganmu, Oh. Minggir, kau menghalangiku." Jawabnya tegas dengan menyingkirkan tangan itu dengan cepat. Membawa langkahnya menjauh dari seorang yang terus saja menganggunya.

Namun ia menarik kerah baju Baekhyun dan menyeret anak itu. "Dimana sopan santunmu?" Jantung Baekhyun berdegup kencang. Nafasnya berhembus panas sedang matanya menatap tak peduli.

Dengan hati-hati tangan yang mencengkram kerahnya dilepas dengan baik. "Tidak ada." Katanya santai dan berlalu dari sana.

.


.

Kelas sudah berlangsung dari tadi namun Chanyeol baru masuk kekelasnya. Seluruh teman kelas menatapnya sinis. Chanyeol mengangkat bahu tak mengerti lalu duduk sembarangan.

"Baiklah, sampai disini hari ini."

Lalu pria setengah botak itu menyusun bukunya dan berjalan keluar.

Bagus sekali Chanyeol, kau terancam dapat GPA rendah dan tak bisa menjadi lulusan terbaim tahun ini. Atau skenario terburuknya adalah dikeluarkan.

Nasi sudah menjadi bubur, bagaimana pun dipertemuan selanjutnya ia harus datang lebih awal dan tak mengulangi kejadian serupa.

"Yak, Chanyeol!" Pundaknya dipukul pelan namun Chanyeol meringis cukup keras. "Kau sudah dapat donatur?"

Itu adalah pertanyaan yang paling dihindarinya saat ini. Ada baiknya memang tidak masuk kekelas dan mempertaruhkan kehidupannya dari pada harus menjawab pertanyaan menyeramkan dari Joohyun.

Tangannya masih mengusap bahu dengan pelan, "Tenang saja, aku pasti—" Belum selesai dengan ucapannya, Joohyun sudah nampak marah dah bersiap untuk melayangkan pukulan pada tempat yang sama.

"Minggu ini atau kau kukeluarkan dsri kelompok!" Teriakan Joohyun memekakkan telingan lalu sosok itu pergi dari sana dengan hentakan kaki yang keras.

Chanyeol mengusap keningnya. Menghela nafas dan mengusap dadanya. Memikirkan tentang hari yang tidak pernah berubah dan semakin buruk tentunya.

Namun is teringat dengan seorang yang baru saja ditemuinya pagi ini.

Baekhyun! Ucapnya dalam hati dan berlari keluar.

Disisi lain, Baekhyun hanya duduk di perpustakaan dengan membuka novel yang diambilnya asal agar bisa berlama-lama disini karena kelas akan mulai dua puluh menit dari sekarang.

Pandangan mulai kabur dan berbayang, mulutnya juga terasa pahit. Sejak tadi, Baekhyun belum sempat menghisap sigaret dan itu membuatnya pusing.

Baekhyun berjalan keluar dan mengeluarkan sebatang sigaret dari saku. Menyalakan lighter dan melakukan pencemaran lingkungan.

Menatap langit biru untuk beberapa saat dan menghirup udara segar yang nyatanya berdebu hari ini. Setidaknya ia bisa membohongi diri sendiri untuk nikmat yang selalu disajikan Semesta diatas sana.

"Langit tidak akan suka jika kau mengotorinya seperti itu."

Baekhyun menoleh ke sumber suara yang ternyata berada tepat disebelahnya. "Chanyeol?"

Yang dipanggil tersenyum, "Aku senang kau mengingatku." Baekhyun mendecih, "Namamu aneh."

Dahi Chanyeol mengernyit, "Tapi kau ingat." Kemudian tersenyum kesebelahnya.

Menatap kagum pada makhluk ciptaan Tuhan yang berdiri disampingnya. Mata yang sipit, bibir merah muda alami juga rahang yang tajam. Sesekali kepulan asap keluar namun Chanyeol masih terus menatap manusia yang hampir menyerupai malaikat disampingnya itu.

Merasa diperhatikan, ia menoleh. "Lihat apa kau?" Chamyeol refleks membawa pandangannya kearah lain. Tersenyum lalu menggaruk kepala yang tidak gatal.

Menahan sesak didada lalu berjongkok, "Masih akan terus melakukannya?" Tanyanya sambil menatap ke wajah yang lebih tinggi darinya. Baekhyun mengernyit dan merasa sedikit bersalah sebenarnya, namun ia mengangguk mengiayakan dan memegang batang nikotin itu di antara jari telunjuk dan tengahnya.

Chanyeol membiarkan pilihan Baekhyun. Lalu menikmati langit yang hampir kehilangan warna birunya. Untuk berganti menjadi gelap. Sebelum itu, warna biru ungu dan oranye serta awan putih tipis muncul samar-samar.

Pohon-pohok tinggi berdaun rindang menjadi lukisan nyata dengan latar warna dari Semesta.

Pandangan itu ia bawa kembali pada sosok yang masih berdiri disampingnya. Menyesap batang nikotin berasap itu dengan tenang.

Memperhatikan setiap kedipan yang diciptakan. Bagai candu tanpa obat. Berpaling darinya saja seperti melewatkan kesempatan besar. Pemandangan sore itu mungkin sangat indah. Tapi itu hanya sesaat, sedang keindahan yang berlangsung lama ini sedang berada disampingnya.

Tubuh yang tidak terlalu tinggi untuk laki-laki pada umumnya. Jaket berwarna putih dan celana hitam yang sedikit ketat dengan garis putih ditengahnya. Tak lupa sepatu Converse dibawah. Takkan ada yang menyadari seberapa meruginya mereka melewatkan ini. Lagipula itu bagus, karena mereka sekarang sedang berdua, bersama.

Dengan orang-orang yang berlalu lalang tanpa mempedulikan mereka berdua.

Siang yang berganti sore itu berlalu menjadi gelap yang berganti cahaya lampu.

Sadat sigaretnya sudah habis, Baekhyun berbalik dan berjalan menuju perpustakaan kembali. Chanyeol segera berdiri dan menunggu Baekhyun yang keluar sesaat setelahnya.

Dan selalu menatap sinis Chanyeol yang tak pernah bisa melepaskan senyuman saat wajah itu menatapnya.

"Aneh."

Kedua sudur bibir itu masih terangkat. Bahkan saat sosoknya sudah berlalu beberapa saat tadi.

Memang candu yang tak pernah ada obatnya.

.


.

Papan skateboard melaju diantara pejalan kaki yang sibuk dengan ponsel. Jalanan banyak dilalui oleh anak sekolah yang baru pulang. Beberapa jalan dengan kelompoknya, beberapa lainnya berjalan sendiri dengan ponsel ditangan.

Pengendara papan luncur itu masih mendorong dengan kaki kirinya dan menaikkannya saat sudah berjalan cukup cepat. Berbelok sesekali saat ada yang melintas didepan.

Perhatiannya tersita saat seseorang tersungkur keluar dari sebuah gang gelap. Dengan tas yang dilempar tempat di wajah.

Tubuh yang masih berusaha bangkit itu bergetar saat seseorang yang lebih tinggi datang padanya dan menarik kerah bajunya. Mereka berbicara, tidak. Yang berbicara hanya orang yang terlihat jahat itu.

Baekhyun mengedarkan padangannya, berharap ada seseorang yang melintas namun nihil. Seakan alam memaksanya untuk membantu seorang yang didepannya saat ini.

Nafasnya dihembuskan malas. Mengangkat papan luncur dan memegangnya ditangan kiri. Kemudian berjalan mendekati mereka. Sebenarnya Baekhyun tidak suka mengurusi orang lain. Tapi anak itu bahkan tak melakukan perlindungan diri, bagi Baekhyun ini jelas perundungan dan dia menentang hal itu.

Tangannya ia ulur untuk membantu yang tersungkur itu dan dia segera berdiri, dibelakang Baekhyun dengan kaki yanh bergetar.

"Baekhyun?"

Shit. Kim Jongin.

Jongin tertawa, "Sejak kapan kau mau mencampuri urusan orang lain, huh?" Sebuah pukulan mendarat dipelipis. Bibirnya berdarah. Baekhyun meringis pelan.

Terkekeh pelan setelahnya, "Saat kita bertemu tadi." Pukulan keras melayang tepat didepan, diuluh hati yang membuat Jongin meringis kesakitan setelahnya.

Tubuh itu lebih besar darinya memang, dan betul saja. Ia segera bangkit dan menghantam wajah Baekhyun hingga ia jatuh.

.


.

Kedua tangan ia masukkan disaku sambil berjalan menyusuri trotoar. Jalanan mulai sepi. Anehnya begitu.

Tepat didepan matanya beberapa orang sedang melakukan baku hantam. Chanyeol mencoba melihat secara rinci dan menyipitkan mata sambil berjalan kearah sana.

Jaket putih, papan luncur...

Itu Baekhyun!

Jalan ia ubah jadi berlari sekencang mungkin lalu memukul siapapun yang berada didepan Baekhyun itu hingga tubuhnya tersungkur jauh.

Baekhyun melotot kaget saat Chanyeol yang tiba-tiba datang dan memberi pukulan kerasa pada Jongin.

Terus memukul tubuh yang sudah melemah dan mulut yang sudah berdarah. Baekhyun berbalik dan berbicara pada anak tadi untuk segera pulang dan diberi anggukan terima kasih lalu berlari menjauh dari sana.

Tangannya menepis darah yang mengalir dibibir kemudian menghentikan Chanyeol yang hampir membunuh Jongin disana jika tidak Baekhyun tendang saat itu.

"Urus urusanmu sendiri!" Teriaknya sambil memegang tangan kiri yang terlihat terluka itu.

Keringat mulai membasahi wajah. Tangannya menyibak rambut hitam itu kebelakang. Dan menangkup wajah mungil didepannya, "Kau baik?" Tanyanya khawatir dan menatap khawatir.

Tangan itu Baekhyun tepis segera, "Kau menyebalkan." Ia berdiri dan membawa papan luncur itu ketanah, mendorongnya cepat dengan kaki kiri yang hampir diseret.

Meninggalkan Chanyeol yang setengah mati takut. Takut jika Baekhyun terluka lebih banyak. Ia putuskan untuk menendang Jongin yang masih meringsuk disana sekali lalu berjalan mengikut Baekhyun yang hampir menjauh.

Namun semakin ia kejar, Baekhyun mendorong kencang papan luncurnya. Hingga sosok itu hilang diantara kerumunan.

Chanyeol kacau. Pikirannya meliar dan meyibak rambut kebelakang.

Tapi ia tak menyerah dan terus mencari Baekhyun diantara kerumunan itu. Dia tak mungkin pergi jauh mengingat jalanan di Itaewon sudah menanjak, pasti dia sudah berjalan dan tidak memungkinkan memakai skateboard.

To be continued