Disclaimer: Koyoharu Gotoge.

Warning: OOC, typo, horor ga berasa, nano2, dll.


Chapter 2:

Ini Bukan Lagi Pertanyaan


Seorang gadis yang bercerita kepadanya adalah impian Zenitsu sejak mengenal cinta monyet, di kelas satu SMP. Tanpa curiga lagi ia duduk di samping dengan senyuman merekah tak tertahankan, membuat lawan bicaranya tertawa kecil yang kian mendebarkan dada. Dari berprasangka orang-orang akan melupakan keduanya, dan untuk pulang itu mustahil, Zenitsu menjadi berpikir mereka bakal baik-baik saja, soalnya ia bertemu perempuan cantik.

"Tolong lanjutkan ceritanya. Pasti bagus banget."

"Atau mau baca bersama-sama? Ada ilustrasinya, lho." Dengan cepat dan berulang-ulang Zenitsu mengangguk antusias. Selain cantik ternyata dia manis–sukanya buku bergambar yang imut-imut membikin Zenitsu tak sabaran.

"Mana? Mana? Gambarnya pasti ba–"

Bagus, ya? Zenitsu itu tidak sakit, sehingga pujiannya ditarik duluan daripada ia mengagumi kertas kosong. Masa iya gadis secantik ini sinting? Atau jangan-jangan mata Zenitsu saja yang mendadak hipermetropi? Namun, mau dikucek ratusan kali pun Zenitsu tak melihat apa-apa. Senyum di wajah sang anggota komite kedisplinan memudar, mengundang kekhawatiran dari yang mengajak Zenitsu mendengarkan.

"Ada apa? Kamu sakit?"

"E-eh?! E-enggak, kok! Cuma aku gak bisa liat gambarnya. Kamu ceritain aja, deh. Pasti kudengarkan." Buku tersebut ditarik olehnya dengan pelan. Sejurus kemudian gadis itu menghela napas. Agak tampak sedih bercampur cemas. Namun, riang lagi untuk membacakannya kepada Zenitsu.

"Sang kakak menjual kayu bakar ke kota meninggalkan ibu serta adik-adiknya di rumah. Ia tiba di kota saat hari menjelang sore. Khawatir dengan keluarganya kakak memutuskan pulang, tapi di perjalanan seseorang mencegat dia."

"Katanya, 'jangan pulang sekarang. Iblis berkeliaran di malam hari'. Awal-awal kakak gak setuju. Hanya saja setelah dibujuk kakak memutuskan menginap sehari."

"Namanya emang kakak atau gimana?" Aneh jelas. Semalas apa si pengarang sampai-sampai ogah memikirkan identitas tokoh ceritanya? Cukup lama gadis itu terdiam barulah mengangguk. Sudah halamannya tipis, dengan tega pula dia membuat perempuan cantik kebingungan.

"Usai menginap sehari, kakak pun menaiki gunung tempat rumahnya berada. Ketika sampai ia melihat bahwa ibu, serta adik-adiknya sudah bersimbah darah. Kakak pun nyaris putus asa. Namun, masih ada harapan karena adiknya yang kedua ternyata bernapas."

Kala ia mengatakan "bersimbah darah", halaman yang menunjukkan alur tersebut langsung dipenuhi bercak merah berbau amis. Saking kuatnya Zenitsu menutup hidung. Samar-samar pula sekujur tubuhnya merasai seseorang bernapas, bahkan mendengarnya terengah-engah dari segala arah membuat Zenitsu buru-buru kabur. Sepatu kirinya menginjak tali sebelah kanan yang terlepas. Zenitsu jadi tersandung, begitu pun sang gadis yang berusaha mengejar.

"Maaf! Kamu tiba-tiba kabur. Jadi, aku pengen menyusulmu tapi malah ketabrak." Ah. Bukunya mendarat di kepala Zenitsu dalam keadaan terbuka, dan persis di halaman yang sekilas ia lihat berlumuran merah. Gadis itu hendak mengangkatnya. Hanya saja Zenitsu lebih dulu bangun, sebelum tangannya menyingkirkannya.

"Sa-santai aja, santai. Yang penting kamu se–" Suara buku membentur lantai menghentikan ucapan Zenitsu, karena secara refleks ia berspekulasi duluan. Barusan objek ini jatuh dari kepalanya. Entah mengapa firasat Zenitsu memburuk, sewaktu hendak meraba-raba rambut.

"Kepalamu sakit?"

"S-s ... sakit? I-iya, d .. deh, k ... k ... kayaknya." Tangan kanan Zenitsu tremor berat, dan menyadarinya gadis itu berniat menggenggamnya guna menenangkan. Patah-patah ia menggeleng menolak uluran tersebut. Sekencang-kencangnya pula Zenitsu berteriak, agar menjauh saja daripada ikut "ternodai".

"Beneran sakit, ya? Besok juga kamu sembuh, kok. Sampai jumpa."

Pandangan Zenitsu yang mengabur menyaksikan sang gadis melambai-lambai, dengan senyuman lembut pada paras penuh harap. Sebelum kesadarannya lenyap Zenitsu juga membentuk garis lengkung yang lemah. Ingin berkata ia menyukai kalimat "sampai jumpa" itu. Ingin membalasnya dengan jawaban serta ketulusan serupa, tetapi telanjur pingsan membuat iris keemasan Zenitsu sekadar dibayangkan olehnya yang akan menanti.

"Besok kita bertemu lagi, pasti."

Pada kediaman Kuwajima Jigoro–tempat Zenitsu tinggal usai pindah dari Nagoya–pria paruh baya yang biasa dipanggil "kakek" itu iseng-iseng mengecek kamar keponakannya, dan Kuwajima menemukan Zenitsu tengah terlelap menggunakan seragam musim panas yang berdebu.

"Kapan datangnya nih bocah? Pas gue mandi kali, ya?"

Tidur tanpa makan malam dan mandi, besok Kuwajima wajib mengayunkan tongkatnya supaya Zenitsu lebih beradab.


Hah ... hah ... hah ...

Dalam kegelapan remaja itu berlari, demi menghindari suara napas yang terengah-engah sekaligus mengabaikan kepala, dan sekujur tubuh yang terus mengucurkan darah.


BRAKKK!

Kamar mungil Zenitsu sudah heboh dengan jatuhnya sang penghuni dari ranjang, padahal pagi baru memulai memancarkan sinar. Seolah-olah belum cukup pintunya pun dibanting oleh Kuwajima yang berniat membangunkan, memakai ayunan tongkat maut yang seribu untung mampu Zenitsu hindari– keponakannya pasti melek tepat waktu, setiap Kuwajima akan menerapkan metode sadis ini.

"Aduh, Kakek! Bisa enggak, sih, bangunkan aku pake cara no–" BUAKK! Pucuk kepalanya benjol usai dihantam ujung tongkat. Zenitsu yang masih setengah mengantuk kini betul-betul sadar. Netra emas itu celingak-celinguk kebingungan, mendapati ia tidur di kamar lalu benar-benar bertemu kakek yang dongkol.

"HAH?! KAPAN AKU BALIK KE KAMAR?!"

"Lah?! Bukannya pas Kakek mandi sekitar jam tujuh kemarin malem? Kau masih ngigau, bukan?"

"TERUS KAKEK JUGA GA LIAT APA RAMBUT SAMA TANGAN KANANKU KENA DARAH? KOK NYANTAI BANGET?!" Lagi. Jitakan mesra dari tongkat tersayang menghajar kepala Zenitsu tanpa ampun. Ia berguling-guling di ranjang menahan sakit. Jengkel sendiri mengapa Zenitsu yang linglung malah ditakol melulu.

"Cepet mandi terus sarapan. Tanjiro nungguin di luar."

Tetapi tidak ada di sudut mana pun, ketika Zenitsu mengecek tangan kanannya kemudian berkaca, bahkan mengacak-acak rambut gara-gara dihantui skeptis. Lembaran buku yang tahu-tahu dipenuhi bercak merah jelas-jelas mengenai sampai menodai kepalanya. Gara-gara kecelakaan tersebut juga Zenitsu bermimpi darah mengucur lewat pori-pori kepala, termasuk badannya selagi ia berlari menghindari suara napas terputus-putus.

"Tanjiro harus tau."

Sahabat terbaiknya di jagat raya itu pasti memercayai Zenitsu, dan apa pun yang Tanjiro bicarakan soal Inosuke akan Zenitsu percayai seutuh mungkin.


Selama menaiki bus yang sesekali bergoyang, Zenitsu menceritakan pengalamannya mulai dari terpisah dengan Tanjiro, bertemu gadis cantik pembaca dongeng, bercak merah tahu-tahu timbul di salah satu halaman, mereka saling tersandung, buku tersebut mengenai kepalanya dalam keadaan terbuka, tangan kanan serta rambut Zenitsu jadi berlumur darah, dan terakhir pingsan yang ajaibnya; Kuwajima menemukan dia tertidur di kamar.

Telah melewati serangkaian fenomena absurd pun, keterkejutan masih saja menghias ekspresi Tanjiro setiap membayangkan yang menimpa Zenitsu. Bus mereka sudah tiba di halte dekat sekolah. Melompat turun darinya selalu lebih Zenitsu sukai, daripada mengayuh sepeda butut yang kapan saja bisa berkhianat–bannya lepas, lah, rem blong, lah, mana Zenitsu malas reparasi.

"Juga ada satu hal lagi yang kusesali banget."

Sejauh ini Zenitsu telah berjuang keras, demi mempertahankan diri sendiri. Tanjiro menepuk punggungnya dengan pelan namun bertenaga. Tersenyum lembut yang mustahil Zenitsu jauhkan dari jangkauannya walau mengutuk dunia menggunakan kebencian sedalam apa pun, karena ia tidak akan melewatkan menjadi baik-baik saja melalui garis lengkung yang menantang waktu bersama Zenitsu itu.

"Tanjiro ... aku ..." Iris keemasannya berkaca-kaca. Berapa banyak pun kerisauan, susah hati, ketakutan, air mata yang terlalu bisu hingga diam–semua itu akan Tanjiro kembalikan kepada Zenitsu dalam kata-kata, agar ia dapat meneriakkannya dibandingkan membusuk bersama lara.

"Katakan aja. Tumpahkan semuanya."

"Aku ..."

"Iya?" Menunggu. Mata dan senyuman itu menanti Zenitsu yang mulai menghirup dalam-dalam. Bersiap mengeluhkan apa pun yang tertinggal tanpa sengaja. Melepaskan yang belum dapat tuntas itu supaya usai, dan berhenti bertanya kepada waktu, "kapan ia pergi?" karena Zenitsu pun berhak terbebas lagi.

"AKU ...!"

"Hm, hm. Pasti kutunggu sampai kamu bicara."

"AKU ... AKU LUPA NANYAIN NAMA GADIS ITU! BEGO BANGET, 'KAN? IYA, BEGO BANGET EMANG! SEKARANG JADI NYESEL RASANYA."

Hmm ... ya ... iya ... iya ... ah ... memang Zenitsu banget yang bakalan histeris kalau bertemu wanita, apa lagi sampai melupakan perkenalan pertama mereka. Zenitsu itu lemah dengan hal-hal horor. Ia yang tidak terlalu memikirkannya setelah menyaksikan langsung, masih seperti Zenitsu yang suka heboh, berisik, suaranya awet untuk berteriak ... justru seharusnya Tanjiro yang berterima kasih, ketika secara tak langsung disegarkan Zenitsu.

"Kebetulan aku mau ke sana lagi. Nanti jangan lupa tanyakan."

"Berarti pencarianmu soal Inosuke masih buntu, ya?" Lama. Lambat sekali waktu yang berputar di antara mereka, saat Zenitsu menemukan Tanjiro termenung macam dua hari lalu. Bangunan lama itu membawa Tanjiro ke mana? Apakah melakukan yang aneh-aneh terhadapnya sejenis cuci otak, mungkin?

"Ya. Makanya harus pergi lagi. Zenitsu mau, kan?"

"Cuma kurasa keadaanmu lagi gak baik. Kayak ... Tanjiro mendapatkan sesuatu yang buruk, dan itu berat banget. Kalo ada apa-apa kamu bisa cerita sama aku. Meski ingatanku soal Inosuke belum balik, aku udah bersumpah akan memercayai apa pun yang Tanjiro katakan!"

Meski ada kalanya Zenitsu kurang memahami cara Tanjiro tersenyum, dan itu adalah sekarang yang ketidaksukaannya datang serta singgahnya jauh lebih lama, dibandingkan garis lengkung yang barusan menyemangati Zenitsu–mendadak dia sendu, cemas sekali sampai ingin menangis, bahkan Zenitsu spontan menggenggam tangan Tanjiro yang syukurlah masih memiliki rasa seorang Kamado Tanjiro.

Bagaimanapun buruknya Zenitsu enggan berprasangka kepada Tanjiro, terutama menduga-duga ia tengah menyembunyikan sesuatu. Namun, Zenitsu seolah-olah mustahil melenyapkannya. Semakin dia melihat Tanjiro, kecurigaannya pun tumbuh subur mengakibatkan Zenitsu kembali dibayangi suara asing yang kali ini mendesaknya terus-menerus sangsi.

Curigai dia, Zenitsu. Curigai Kamado Tanjiro atau kau akan menyesal.

Jelas-jelas dia menyembunyikan sesuatu darimu. Masa kau semudah itu menganggapnya salah sangka?

"Aku cuma khawatir cewek yang Zenitsu temui itu jangan-jangan hantu." Sejenak yang tidak Tanjiro pahami Zenitsu tampak menghela napas. Hampir saja suara tersebut menenggelamkannya. Bahkan meskipun Tanjiro memang menyembunyikan sesuatu, Zenitsu percaya ada alasan tersendiri.

"Ja-jangan ngomong hal kejam kayak gitu, dong! Pasti manusia, kok. Tapi ada hantu jahat yang ngurung dia di dalem perpustakaan."

"Mari pastikan bersama-sama. Terima kasih, Zenitsu."

Terima kasihnya itu buat apa, ya, kira-kira?


Di jam istirahat makan siang, mereka langsung sepakat memanfaatkan waktu tersebut dengan mengunjungi bangunan lama. Seperti biasanya Tanjiro memimpin jalan, sedangkan Zenitsu akan bersembunyi di belakang punggung Tanjiro sewaktu pintu dibuka. Tidak ada kegelapan pekat yang menyergap. Secara ajaib keduanya hanya menginjak lantai kayu reot yang biasa-biasa saja, seakan-akan hanya tengah memasuki sekolah ala zaman kuno.

"Kemarin enggak gini, kan?" Berulang-ulang pula Zenitsu mengusap-usap matanya yang menolak percaya. Sinar matahari masuk dengan normal melalui jendela. Zenitsu juga tidak menangkap tanda-tanda aneh semacam hawa dingin yang mencekam, gerakannya tahu-tahu ditahan entah oleh apa, dan lain-lain yang sedikit membuat lega.

"Langsung naik aja. Jangan dipikirin, Zenitsu."

Jangan dipikirkan, kah? Begitu cepat Zenitsu yakin semuanya berhenti mengerikan, sehingga penuh semangat ia menggantikan Tanjiro berjalan di depan. Kotak pensil Shigeru ternyata ada. Kabar baik pasti menanti mereka yang semakin membakar Zenitsu–tidak sabar bertemu gadis itu untuk makan siang bersama, meski kekhawatirannya perihal Tanjiro masih mengganggu.

"Hey, Tanjiro. Apa mendingan aku ikut sama kamu aja, ya?" Ruang-ruang kelas yang berjejer sudah terlihat. Keadaannya pun sama seperti di lantai bawah; yakni sinar matahari menerangi sekitar, tanpa lampu berkedip-kedip atau penggalan apa pun yang terasa menjanggalkan.

"Bukannya kamu mau ketemu cewek itu di perpustakaan?"

"Mau, sih. Tapi aku masih khawatir sama kamu. Lagian Tanjiro ke mana, deh, kemarin? Padahal kita masuk bareng-bareng. Kok kamu enggak di perpustakaan juga?"

"Coba tebak aku kemarin di mana. Kita mulai saat kamu menengok ke belakang."

"Menurutku sekarang bukan waktunya main tebak-tebakan, d–"

Zenitsu tetap menoleh ke belakang, dan seketika kelu gara-gara menemukan Tanjiro berdiri tanpa bola mata. Hanya rongga yang hitam kosong yang terlihat. Bulu kuduk Zenitsu kian menegang mendapati Tanjiro tersenyum lebar menampakkan gigi, tetapi satu demi satu lepas yang setelah copot sepenuhnya; Tanjiro membuka mulut lebar-lebar hingga bibir atasnya bergerak naik ke dahi, sedangkan yang bawah berada di dagu.

"AAAAAAAA!"

Tidak. Itu bukan teriakan Zenitsu yang tengah bersusah payah menggaruk-garuk lantai agar tak tersedot. Percaya atau harus percaya, justru yang barusan memekik adalah Tanjiro, dan mana mungkin Zenitsu melupakan suara sahabatnya sendiri. Wajah "Tanjiro" yang tinggal mulut ini mengeluarkan tangan-tangan hitam lewat perut. Perlahan-lahan menutupi Zenitsu dari kaki hingga kepala membuatnya menyerupai kepompong, barulah ditelan hidup-hidup.

"Ayo kita main tebak-tebakan. Ayo kita main tebak-tebakan. Ayo kita main tebak-tebakan."

Kepala makhluk itu berputar 180 derajat ke belakang. Menengok ke kiri, kanan, mendongak, menunduk, mengulanginya tanpa melihat ke depan lagi, sambil berjalan macam robot. Mulutnya balik pada ukuran normal, serta bibir atas begitu pun yang bawah berada di tempat semestinya. Ia kembali memiliki hidung, tanpa bola mata, lalu tersenyum memperlihatkan gigi-giginya yang seolah-olah tidak pernah rontok, ke arah lubang tempat seseorang terjatuh tadi.


BRAKKK!

Sensasi ketika Zenitsu terjatuh dari ranjang kembali terulang, menyebabkan tulang ekornya nyeri ditambah batuk-batuk. Makhluk sinting yang meniru-niru Tanjiro sudah lenyap, digantikan sesosok gadis yang memperhatikan Zenitsu menggunakan mata pink pucatnya. Ini di perpustakaan. Padahal tadi Zenitsu merasa tenggelam di laut usai tangan-tangan hitam itu menangkap dia, yakin sekali Zenitsu dimasukkan ke dalam perut "Tanjiro", kemudian melepasnya begitu saja membiarkan Zenitsu meminum air berwarna hitam.

"Mau tau sesuatu yang hebat? Tadi kamu jatuh dari langit-langit perpustakaan, lho. Punggungmu baik-baik aja? Tadi mendarat duluan soalnya." Sembari membawa kotak makan siang yang baru Zenitsu sadari masih digenggamnya, padahal ia sempat sesak napas saat masuk ke dalam lautan hitam apalah itu.

"HAH?! ARTINYA AKU KELUAR DARI PERUT DIA GITU?! MASA IYA KENCING LEWAT PANTAT?!"

"Kencing lewat pantat?" Kepalanya dimiringkan dengan mimik polos yang membahayakan hati Zenitsu. Sudah jatuh dari langit-langit perpustakaan–meskipun tidak ada bolong yang tercipta–dengan tololnya pula keceplosan melontarkan candaan jorok kelewat absurd.

"A-ah ... i-itu ... salah ngomong, kok. Maksudku ..."

"Hahahaha ... ada-ada aja lawakannya. Bisa berdiri? Jatuh kayak gitu pasti sakit banget." Tanpa darah di tangan kanannya atau rambut seperti kemarin, siapa juga yang mau menepis uluran tangan dari gadis cantik? Kulitnya selembut sutra. Hangat betul sampai-sampai hati Zenitsu merasa ikut diberkati.

"Tuh, kan, bener! Mana mungkin gadis secantik kamu itu hantu. Buktinya aku bisa menyentuh tanganmu."

Belum cukup dengan tangan sebelah kanan, saking bersemangatnya Zenitsu pun menggenggam yang kiri. Mereka berjabat. Zenitsu membuatnya bergoyang ke kiri lalu kanan. Berputar-putar ke segala arah seakan-akan berdansa yang sejurus kemudian terhenti, akibat Zenitsu menabrak meja panjang dekat jendela raksasa–ada biru langit, awan tebal yang menggumpal, bahkan kawanan camar membentuk formasi "V".

"Ma-maaf tiba-tiba ngajak berputar-putar kayak tadi." Saking malunya Zenitsu menggaruk belakang kepala yang tidak gatal. Kotak makan siang Zenitsu ditaruh di atas meja oleh sang gadis. Tampaknya dia tengah membaca buku yang kemarin membikin Zenitsu ngeri dadakan.

"Menyenangkan, kok."

"Omong-omong kamu udah makan belum? Itu ... sebenernya ... sebenernya aku pengen kita makan bareng." Tolol. Sumpah. Zenitsu masih saja tersendat-sendat, walaupun ia telah melatih ajakan tersebut dengan Tanjiro pada jam kosong di pelajaran sejarah. Matanya terlalu cepat memerangkap Zenitsu. Ajaib sekali yang membuat Zenitsu terus-terusan berdebar.

"Boleh! Kamu mau duduk di mana?"

"Di deket jendela aja. Langitnya bagus banget."

Kotak makan siang yang terdiri atas dua tingkat itu Zenitsu angkat perlahan-lahan. Tempura, telur gulung, tomat ceri, aneka sayur-mayur, karage, nasi dengan umeboshi, apel fuji merah–semua sudah Zenitsu persiapkan sebaik mungkin, sebelum menemui Tanjiro di depan rumah Zenitsu untuk menaiki bus. Kuwajima tidak bertanya aneh-aneh ketika Zenitsu meminta demikian–palingan ingin makan bersama Tanjiro, atau calon kekasih, mungkin?

"Ini masakan Kakek. Dulunya dia mengelola toko bento di Tokyo, tapi sekarang udah tutup. Pas masih bersekolah di Nagoya kadang aku suka berkunjung. Menu kesukaanku itu beef teriyaki bento."

"Dulunya kamu tinggal di Nagoya? Berarti pernah liat Benteng Nagoya? Shachi-hoko? Nagoya Omotenashi Busho-tai?" Akar lotus goreng batal dimakannya mendengar latar belakang Zenitsu yang bukan penduduk asli Tokyo. Senyum gadis itu lebih cemerlang daripada kemarin, atau menit-menit lalu. Bintang menari-nari di matanya yang serupa purnama, tetapi Zenitsu malah harum karena biru langitlah yang menjadi tarikan napasnya.

"Pernah, kok, beberapa kali. Apa kamu suka sejarah samurai? Palingan aku tau Oda Nobunaga doang, atau Himura Kenshin. Hobiku bermain musik soalnya."

"Dulu ayahku suka cerita tentang samurai. Kami juga tiap liburan musim panas ke Nagoya. Bisa main gitar, dong, berarti? Dari dulu aku mau belajar main piano terus memainkan Fur Elise, buat kakakku. Atau enggak twinkle twinkle little star! Nostalgia banget, 'kan?"

"Ka-kalo gitu besok ... besok mau mendengarkan permainan gitarku? Sekalian kuajari sama, kalo kamu mau juga ... mendengarkan lagu buatanku, gimana?"

"Bahkan kamu bisa bikin lagu?! Baiklah. Besok kutunggu di perpustakaan ini lagi, oke?"

Kini giliran Zenitsu yang mengulurkan tangannya pada sang gadis, tetapi dalam posisi memalingkan wajah. Bagaimana ini? Rasanya semakin gugup sewaktu perlahan-lahan Zenitsu menjabatnya, dan ia nyaris terbang ketika kembali menjumpai mata pink pucat yang tidak sekali pun melepaskan Zenitsu itu.

"A-Agatsuma ... Z-Z ... Ze ... Zenitsu. Namaku Agatsuma Zenitsu! Kita belum kenalan, 'kan? Aneh banget rasanya kalo enggak manggil pake nama."

"Nezuko. Senang berkenalan denganmu, Agatsuma-san, dan sampai jumpa besok."

Perpustakaan ini tak memiliki pintu, dan agaknya Zenitsu melupakan fakta tersebut. Keponakan Kuwajima itu lebih asyik membalas lambaian Nezuko daripada memikirkan lain-lain. Besok ia harus membawa gitar, makan siang yang banyak, juga tak ketinggalan menceritakan manisnya mereka kepada Tanjiro–sekalian saja Zenitsu menggoda dia agar segera mendekati Kanao secara langsung.


Yang terjadi selanjutnya adalah Zenitsu membuka mata di ruang kesenian, dan dihadiahi jitakan mesra oleh Uzui Tengen.

Dengan tampang orang bodoh Zenitsu celingak-celinguk -masih belum mencerna betul kenapa ia bisa tersesat kemari. Tangannya pun sudah memegang palet yang diisi warna-warni cat air. Namun, ketika melihat teman-teman lain telah menggores berbagai garis, kanvas Zenitsu kosong melompong membuat Uzui kembali menjitak murid kuningnya ini–keranjang berisi buah-buahan ada di depan mereka, punya mata jelalatan amat bikin keki.

"Apaan, sih, Sensei? Jitak pala sendiri sono." Kuas di tangan kiri diacungkan Zenitsu ke arah sang guru. Dia sudah tahu harus menggambar keranjang berisi buah-buahan. Uzui tinggal pergi daripada setelahnya iritasi, gara-gara gambar Zenitsu buruk rupa.

"Gambar, Zumanitsu. Kok malah bobo di kelas gue? Gak flamboyan banget jadi cowok."

"Udah tau."

"Lagian lo ini gaib banget, asli. Pas awal masuk abis istirahat lo gak ada. Eh, pas gue ke toilet bentar lo tau-tau nongol. Tapi begonya malah ketiduran." Penggambaran Uzui itu mengapa seolah-olah Zenitsu melakukan teleportasi, deh? Malas menjawabnya Zenitsu langsung menggerakkan pensil. Jadi kepingin cepat-cepat pulang juga, kalau sudah melihat wajah Uzui yang mengesalkan.

"By the way mana sohib lo si Tanjidor? Kagak keliatan dari tadi."

"Saran aja, sih, Sensei, kalo haus jangan minum cat air. Sekarang jadi ngayal ga jelas, kan. Kagak mungkin Tanjiro enggak ada. Kita semua tau dia itu murid teladan kesayangan guru. Rajin masuk kelas sama menabung. Tidak sombong pula. Emangnya Sensei."

"Cuih. Moto anak TK dipake. Liat aja sendiri kalo enggak percaya. Tanjiro bener-bener gak hadir, kok."

Melawan sifat keras kepala Uzui hanyalah membuang-buang tenaga Zenitsu yang telanjur malas kuadrat. Pertama-tama ia memperhatikan barisan kiri, tetapi nihil di sana. Di kanan pun sama saja, terutama saat matanya menangkap bangku kosong yang tinggal satu, membuat Zenitsu langsung menatap cemas dan setengah menahan tangis ke arah Uzui yang geleng-geleng–aneh sekali Zenitsu tidak tahu apa-apa.

"Tanjiro sempet ke UKS kagak?"

"E-enggak ... tolong izinkan saya mencari Tanjiro, Sensei!" Mencurigakan. Namun, melihat murid cengengnya ini sudah menahan tangis sampai-sampai membungkukkan badan, Uzui mana mungkin setega itu menahan Zenitsu? Anggukan singkat ia berikan. Sebelum punggungnya menghilang Uzui sengaja memperingatkan soal Giyuu yang berpatroli, walaupun sebenarnya Zenitsu sangat tahu.

Destinasi pertama adalah ruang kelas yang hanya terdapat tas-tas bergelantung di punggung meja. Sepanjang berlari Zenitsu mencoba menelusuri tempat yang bebas dari mata elang seorang Giyuu–perpustakaan, laboratorium, UKS membuat Tamayo-sensei bingung sendiri, melihat lapangan melalui jendela lantai dua, nihil. Ingin ke atap pun Zenitsu harus memiliki kunci, sedangkan halaman belakang sekolah? Zenitsu ragu akan idenya.

"Di sana banyak preman, dan mereka tau aku anggota komite kedisplinan. Gak bareng Giyuu-sensei kena hajar yang ada."

Demi menemukan Tanjiro haruskah Zenitsu bekerja sama dengan Giyuu? Beberapa waktu ke depan, entah mengapa Zenitsu berfirasat dirinya atau Tanjiro akan sering kesasar. Karena Giyuu bertugas berpatroli, termasuk mengurus izin keluar sekolah, maka meyakinkannya pasti menguntungkan mereka. Tetapi Zenitsu tidak siap menceritakan soal kegaiban bangunan lama. Guru olahraga segalak itu memangnya bakal percaya apa?

"Tapi masa aku diem terus di–" Terdengar langkah kaki dari seseorang yang menuruni lantai tiga. Zenitsu melongok sedikit dari tempat persembunyian. Seketika terbelalak menyadari siapa itu yang menghampiri Giyuu, "Kenapa kau habis dari atap, Kamado?"

"A-ah, itu ..."

"Giyuu-sensei! Selama tiga hari ke depan tolong jangan bertanya kenapa kami tiba-tiba hilang."

Tahu-tahu muncul di hadapan Giyuu dengan posisi membungkukkan badan, bagaimana mungkin mereka tak kaget? Tatapan Giyuu menyelidik Zenitsu yang terasa berbeda. Seorang Agatsuma yang sering mengeluh padanya dengan ingus naik-turun tidak lagi ada. Cara mata itu menatap, menyiratkan rasa, memahami perasaannya sendiri–Zenitsu memang anggota komite kedisplinan yang pantas Giyuu banggakan.

"Jelaskan alasannya, Agatsuma."

"Justru karena berbahaya kami enggak bisa melibatkan Sensei! Aku dan Tanjiro yang memulainya, maka kami juga yang akan menyelesaikannya. Tolong percaya pada kami!"

"Seperti kata Zenitsu, Sensei. Kami minta maaf karena enggak bisa menjelaskannya. Namun, ini penting untuk kami." Bahkan Tanjiro sampai ikut memohon menemani Zenitsu yang terharu. Giyuu menepuk kepala kedua sahabat itu. Berlalu begitu saja yang untuk terakhir kalinya; mengacungkan jempol ke udara menyemangati mereka.

"Terima kasih, Giyuu-sensei!" seru Tanjiro dan Zenitsu berbarengan. Harusnya ia bilang hati-hati atau memperingati mereka mengenai beberapa hal. Hanya saja Giyuu sudah bersumpah akan melupakannya–bahwa dia harus demi teman-teman di masa lalu juga.

"Jangan sampai kalah, Kamado, Agatsuma."


Keesokan harinya, tersisa tiga hitungan lagi sebelum liburan musim panas dimulai.

Kantin bernuansa sepi pada istirahat kedua, di mana Zenitsu lebih dulu memborong roti untuk dinikmati bersama Nezuko. Dewi keberuntungan benar-benar tersenyum kepada mereka, menilik pelajaran terakhir yakni biologi dikabarkan jam kosong. Selagi menghabiskan semangkuk mi ayam pua Zenitsu sudah bercerita mengenai yang dialaminya, dan sekarang giliran Tanjiro sebelum tiba di bangunan lama.

"Saat pertama kali kita ke bangunan lama, sebenernya aku sudah bertemu Inosuke di kelas X-3." Sungguh. Zenitsu benci ketika teringat lagi, akan kalimat yang dilontarkan suara asing itu. Ternyata dia benar Tanjiro menyembunyikan sesuatu, dan meskipun Zenitsu telah berpikir demikian juga, tetap saja membuat penasaran bagaimana dugaannya begitu tepat.

"Terus gimana? Dia mengatakan sesuatu?"

"Awalnya dia menendangku, lalu tiba-tiba aku berada di luar bangunan lama, dan hari udah sore menjelang malam. Karena Zenitsu belum keluar aku memutuskan menunggumu. Tapi ketahuan Giyuu-sensei."

"Gile emang itu guru satu, patrolinya sampe jam tutup sekolah. Dia nanya-nanya gak ke kamu?" Matahari terik yang seolah-olah terus bersinggasana di pukul dua belas menyambut mereka yang keluar sekolah. Berjalan lima menit pun terasa melewati abad demi abad. Tidak berlebih juga, orang-orang termasuk media massa menjulukinya, "Bakuhatsu Summer".

"Selama nganterin aku pulang Giyuu-sensei enggak bicara apa-apa. Cuma, ya ... meski kita tau dia itu pendiam, diamnya agak aneh menurutku saat itu."

"Lupain aja, deh. Abis itu pas kita kunjungan kedua kalinya, kamu ketemu Inosuke lagi?" Mengenai makhluk sinting yang kemarin mempermainkan Zenitsu pun sudah Tanjiro ketahui. Mendapati pintunya berada di depan mata sebisa mungkin mereka menyamakan langkah. Jangan sampai mendahului atau tertinggal. Terang pun bangunan lama masih berbahaya.

"Ya. Kemarin Inosuke mengatakan hal yang penting, meski aku belum mengerti."

"Hal penting kayak gimana?"

Tanjiro berhenti tepat di depan pintu. Sepasang netra-nya lamat-lamat memandangi Zenitsu yang sedikit meneguk ludah–jarang-jarang ia menyaksikan Tanjiro sangat serius hingga suasana berubah mencekam.

"Ketika pertama kali masuk ke bangunan ini, sesungguhnya kita membayar."

"Membayar? Bayar pake uang maksudnya?" Atau dalam makna konotasi, kah? Tanjiro menggeleng. Masalah ini mungkin lebih rumit dibandingkan sekadar menyelesaikan, "siapa yang sakit?", "pergi ke bangunan ini dapat mengatasi amnesia Zenitsu", atau, "Gonpachiro bakal sembuh jika kemari".

"Bayarannya ditentukan secara acak. Untuk Inosuke keberadaannya langsung dihapuskan saat pertama kali masuk, karena itu Zenitsu sama temen-temen lain lupa soal Inosuke."

"Jika gitu kenapa Tanjiro enggak lupa soal Inosuke?"

"Karena aku dibimbing lebih dulu, sebelum Inosuke masuk ke bangunan lama. Zenitsu ingat, kan, sewaktu aku melamun terus? Aku lagi ngobrol dengan seseorang di bawah sadar. Untuk berkomunikasi dengannya sulit, dan sering terputus."

"Apa aja yang kalian obrolkan?" Andaikata boleh Zenitsu ingin menghentikan Tanjiro menjelaskan, kemudian sembah sujud saja kepada Giyuu memohon pertolongan. Empat orang siswa–kalau Inosuke dan Nezuko dimasukkan dalam perhitungan–bisa apa memang? Lama-kelamaan malah Zenitsu serta Tanjiro yang lenyap duluan, sebelum kebenarannya terkuak.

"Tidak banyak. Dia hanya berkata aku harus bersiap menyelamatkan seseorang, karena ada yang sedang mencari mangsa untuk dipermainkan secara acak, dan dia gak bisa menghentikannya. Inosuke kena. Kalian yang membawaku ke UKS tiga hari lalu melihat bayangan hitam aneh, kan?"

"Be-bener, tuh! Padahal lewat doang, tapi kakiku sampe mati rasa. Apesnya Giyuu-sensei nongol pula. Untung dia kagak aneh-aneh."

"Inosuke enggak melihatnya, tapi Inosuke mendengar bisikan yang nyuruh ke bangunan lama sekolah, biar aku sembuh. Selain membawa pulang Inosuke, orang yang membimbingku itu juga bilang ada hal lain yang harus kuselesaikan, di bangunan lama sekolah."

"Paan lagi yang harus diselesaikan? Bawa pulang Inosuke aja udah susah."

"Sampai sekarang aku dan dia belum berkomunikasi lagi. Sedangkan ini cuma pendapatku, tapi menurutku ..." Jeda sejenak. Kini Zenitsu jadi ribut sendiri berharap Tanjiro ke intinya saja, daripada membiarkan Zenitsu berspekulasi negatif gara-gara panik duluan.

"Giyuu-sensei ada–"

BRAKKK!

Pintu bangunan lama yang semula tertutup tiba-tiba terbuka lebar, menyebabkan Zenitsu yang menggendong gitar terpelanting sementara Tanjiro masih kukuh berdiri–kebingungan di tempat. Dari dalam sana angin berkekuatan tinggi menghisap Tanjiro. Tangan putra sulung Kamado itu masih terulur untuk Zenitsu raih. Namun, setiap mendekat satu langkah Zenitsu pasti dibanting lagi, sampai akhirnya Tanjiro lenyap ketika pintu kembali merapat.

"TANJIROOO!"

Bagaimana badai bego itu dapat muncul dari dalam bangunan lama? Kenapa pintu bangsat yang mendadak terbuka ini bisa-bisanya menghempaskan Zenitsu, padahal sudah karatan? Penuh amarah Zenitsu membukanya. Menerobos secara membabi buta yang tidak mempertemukan dia dengan deretan loker atau tangga lantai dua, melainkan Zenitsu langsung tiba di perpustakaan tempat Nezuko menunggu dia.

"Selamat datang, Agatsuma-san! Kamu jadi, kan, memainkan lagu buatanmu?" Ekspresi yang kusut lambat laun melunak hingga Zenitsu tenang sendiri. Hatinya seketika membaik melihat senyuman Nezuko. Mengkhawatirkan Tanjiro yang dihisap dadakan sudah berhenti ia lakukan, dan sekarang Zenitsu sekadar ingin memainkan gitar.

"Mana mungkin enggak jadi. Aku udah menunggu-nunggu dari kemarin."

Memang ada yang aneh, dan itu adalah Zenitsu langsung berhenti merisaukan hal-hal di luar perpustakaan, walau tidak pernah menenangkan diri atau dihibur.


Bersambung ...


A/N: Yuhuu kita bertemu lagi seminggu lebih sehari, karena kemarin c2 ini blom slse. seperti yang udah aku bilang di chap sebelumnya, horor di sini masih berusaha diperlihatkan meski ya maaf ga horor2 banget. awalnya juga mau bener2 dalam 4k ini nyeritain zennezu doang. tapi kurasa kalo dibikin kek gitu bakal terlalu egois. tanjiro punya bagian yang penting, dan giyuu di sini juga sebenernya punya tapi itu kita bahas laen waktu~ jadinya aku ga akan bisa bener2 fokus ke zennezu, karena zenitsu harus punya interaksi sama tokoh lain. rencananya pengen update seminggu sekali ya tiap hari minggu. moga berjalan lancar deh. dan kurasa fanfic ini ga akan slse dalam 4 chap deh.

Btw thx banget buat review2 yang masuk. aku ga nyangka bakal banyak yang tertarik ama fic aneh ini. buat reauvafs, vira ama butter peanut aku udah bales review kalian di sw ya. kalo ga puas nanti aku bikin 10 sw deh (tapi boong). moga kalian yg review, fav, follow, atau SR fic ini puas ya ama c2 nya.


Balasan review:


Strawberry Cheesecake14: Hai kamuu. aku dari dulu pengen banget ngomong ini; thx banget hampir setiap saat review di fanfic buatanku. maaf karena ga pernah kirim PM buat bales, dan syukurlah kesempatan ini dateng. aku selalu menghargai review dari kamu, dan bacanya selalu aja bikin terharu. soal itu penunggu sekolah atau bukan, kita liat nanti aja~ moga suka ya ama chap 2 nya. sekali lagi tengkyu.

Mikazuki Ryuuko: yuk ikutan nyumbang buat tema horor kali ini. niat tinggal niat rasanya mau fokus zennezu. pada akhirnya tanjiro ga bisa kuabaikan begitu saja~ (kecuali chap depan mungkin). untuk horor kurasa di chap ini ga akan bener2 dapet. tapi ya moga kamu suka ya sama c2 ini. tengkyu udah mampir.