"Jadi, kau yang―"
"Iya. Aku yang membawamu ke taman," sela robot itu sebelum Gempa menyelesaikan kalimatnya. Pemuda itu mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya.
"Err, sebenarnya kau siapa?"
"Namaku Ochobot. Aku adalah salah satu AI yang ditugaskan untuk memantau perkembangan game yang penerbit kami telah buat. Dan juga..." Robot tersebut memperkenalkan diri, lalu mendekati tiga saudaranya.
"AI yang memilih player untuk menjadi Rising Hero yang baru."
BoiBoiBoy (c) to Monsta
Oe tidak mengambil keuntungan apa pun dari fic ini
Enjoy~
"Ngomong-ngomong, kenapa kita berkumpul di kamarku?" Gempa yang duduk di pinggir ranjang bertanya. Ketiga saudaranya duduk melingkar di lantai kamar mengelilingi setumpuk cemilan dan minuman berbagai rasa yang mereka beli di minimarket.
Beberapa menit setelah menyelesaikan perkara di TPA Pulau Rintis, keempat remaja itu memutuskan untuk pulang ke rumah dan berkumpul di kamar Gempa.
Mereka telah kembali berpenampilan seperti biasa menggunakan saragam sekolah. Tanpa topi dino, tanpa jaket dengan motif yang mencolok.
"Kupikir, karena kita harus membicarakan ini bersama-sama," balas Ochobot. Robot serupa bola itu tengah mengamati meja belajar Gempa yang dipenuhi buku-buku pelajaran sekolah. Ia kemudian berbalik mendekati Gempa. "Kau baru saja menjadi superhero, masih banyak yang perlu kauketahui."
"Benar sekali!" Taufan menyela, sementara tangannya membuka sebungkus keripik kentang. "Sekarang, kita mulai kursus kilat untuk menjadi Rising Hero! Sebagai yang pertama menjadi superhero, kau bisa menanyakan banyak hal padaku!" Taufan berujar bangga seraya menyodorkan sebotol milk tea kepada Gempa.
Gempa menyambut uluran itu. Diperhatikannya Blaze dan Thorn yang tampak semangat menunggu pertanyaan pertama darinya. Sedangkan Taufan, pemuda bermanik safir itu menunggu sambil menjejalkan beberapa keripik kentang ke mulutnya.
"Kalau begitu..." Setelah menimbang-nimbang, Gempa akhirnya menanyakan hal yang paling sederhana lebih dulu, "Bagaimana kita bisa mempunyai kekuatan elemental?"
Taufan menelan kunyahan keripik di dalam mulutnya, lantas menjawab, "Kekuatan kita datang dari benda ini." Jarinya kemudian menunjuk jam tangan miliknya.
Iris keemasan Gempa melirik jam di tangannya sekilas, lalu menatap kembali sang kakak.
"Ini jam kuasa. Kalau kita mengaktifkan mode superhero pada jam ini, kita akan berubah seperti karakter game dan bisa menggunakan kekuatan kita. Kau cukup menekan tombol ini di jam kuasamu untuk mengaktifkannya," jelas Taufan sembari menunjuk tombol berwarna kuning pada jamnya. Gempa mengangguk paham.
"Kak Gempa, jam ini juga menyimpan data game, lho! Coba Kakak ucapkan 'Status' ke jam kuasa Kakak!" Blaze berujar semangat.
Mendengar itu, Gempa spontan melakukannya. Ia mendekatkan jam kuasa tersebut ke mulutnya, kemudian berkata, "Status!" Seketika, muncul sebuah hologram kecil yang menampilkan kata-kata dan angka yang cukup ia kenal.
Level : 16
EXP : 526/648
MP : 124/216
Streght : 4
Agility : 2
Intelligence : 3
Dexterity : 4
Luck : 2
"Wah, ini cukup praktis!" ujar Gempa takjub. Ia mematikan hologram itu dan fokus kembali kepada Taufan. Tangannya beralih membuka tutup botol minuman yang diberikan Taufan sebelumnya. "Oh ya, papan luncur Kakak itu dapat dari mana?"
"Maksudmu, hoverboard-ku!? Itu rare item yang berhasil kudapat dalam game sebelum menjadi superhero. Keren, kan!?" Taufan menjawab antusias. Terlihat sekali bahwa dirinya sangat menyukai kendaraan terbangnya itu.
Namun, daripada memikirkan seberapa mengagumkannya papan luncur milik kakaknya, Gempa lebih penasaran akan satu hal. Dibiarkannya Taufan yang mulai mengoceh mengenai rare itemnya dan lanjut bertanya, "Berarti, item yang kita dapat dalam game bisa berlaku di dunia nyata?"
"Begitulah," ganti Ochobot yang menjawab. Robot kuning itu mendaratkan dirinya di pangkuan Gempa.
"Seperti yang Blaze bilang, jam kuasa selalu menyimpan data perkembangan permainan kalian. Misalnya, jika kalian menaikkan level atau mendapat item dalam game yang kalian mainkan di ponsel, hal itu berlaku di dunia nyata saat kalian berubah ke mode superhero. Begitu juga sebaliknya," imbuh Ochobot menjelaskan.
Gempa seperti mendapat pencerahan. Berbagai hal yang sempat melintas di pikirannya terjawab sudah.
Thorn, adiknya yang memiliki manik sewarna batu zamrud tiba-tiba menambahkan, "Tapi, Thorn lebih senang leveling sambil jadi superhero, sih. 'Kan, bisa sekalian menolong orang."
Thorn tersenyum polos saat mengutarakan pendapatnya, membuat Gempa turut tersenyum. Ia sangat menyadari sifat dermawan sang adik. Mungkin juga hal itu adalah akibat dari pola pikir Thorn yang terlalu naif, tapi yang pasti Gempa tak pernah menyalahkan hal tersebut. Toh, sang adik bermaksud baik.
"Kau benar, Thorn! Kalau jadi superhero, kita juga bisa dapat 'Extra Point'!"
Kata-kata Blaze berikutnya membuat Gempa memiringkan kepala. "'Extra Point'?" Pemuda itu membeo ucapan adik pertamanya.
"Kak―" Gempa membatalkan niatnya bertanya kepada Taufan. Sang kakak masih bermonolog ternyata. Mengoceh ria tentang hoverboard miliknya meskipun tak ada yang mendengar. Karenanya, pertanyaan di pikirannya ia alihkan kepada robot kuning yang masih berada di pangkuannya. "'Extra Point' itu apa, Ochobot?"
Ochobot kembali terbang di samping Gempa, baru setelahnya menjawab, "Poin yang kaudapatkan jika berhasil melakukan aksi heroik sebagai superhero. Boleh dibilang semacam reward khusus."
"Reward khusus?"
"Ya. Singkatnya, kau sama seperti mengikuti event atau bonus stage saat berubah ke mode superhero. Saat berhasil melakukan aksi heroik di sini, kau akan mendapatkan reward. Sama seperti saat kau telah menuntaskan misi dalam game di ponselmu."
Penjelasan yang cukup panjang itu berusaha dicerna oleh Gempa. Kemudian, Ochobot menambah lagi,
"Tapi, ada hal yang hanya berlaku dalam game. Misalnya, Health Point. Dan ada juga hal yang tidak berlaku dalam game, yaitu 'Extra Point'. Ini adalah poin yang hanya berlaku di dunia nyata. Biasanya akan muncul setelah kau beraksi sebagai superhero."
"Gunanya?"
"Tidak ada efek untuk peningkatan skill atau statistik, sih. Ini semacam bayaran atas aksimu. Kalau kau mau, kau bisa mengonversinya menjadi uang sungguhan yang bisa kaugunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Bisa juga untuk membandingkan performamu dengan superhero yang lain."
Manik keemasan Gempa membulat. Bukan karena poin ekstra yang katanya bisa diuangkan, melainkan pernyataan Ochobot yang terakhir. "Superhero yang lain?" gumamnya tak percaya. "Jadi, ada superhero lain selain kami berempat?"
Ochobot mengiyakan. "Di Pulau Rintis ini, totalnya ada lima belas orang termasuk kalian."
Raut wajah Gempa berubah takjub. "Sebanyak itu?"
"Kak Gem, Pulau Rintis itu nggak kecil, lho. Aku rasa segitu juga masih kurang," sahut Blaze.
Ochobot kembali buka suara, "Ada sekitar 800 lebih penduduk Pulau Rintis yang memainkan Rising Heroes dari rentang usia 8 sampai 32 tahun. Tapi, kami hanya memilih orang yang kami anggap layak."
"Dan faktor kelayakannya?"
"Usia serta kesehatan fisik dan mental."
Artinya superhero yang lain memiliki keadaan fisik dan mental serupa. Dan mungkin mereka juga adalah remaja yang usianya tidak terpaut jauh dengan dirinya. Gempa mengusap jam kuasanya dan memikirkan lagi penjelasan Ochobot.
"Mau bertemu mereka?"
"Eh?" Pertanyaan dari robot kuning bundar itu membuat Gempa mendongak. Ditatapnya Ochobot yang kini terbang sedikit di atas kepalanya. "Memangnya bisa?"
"Bisa, Kak," suara yang terdengar agak ringan menjawab. "Kita bisa ketemu mereka di catering room di wisma," tambah Thorn.
Dahi Gempa berkerut, "Catering?"
"Ckckck, bukan, Thorn. Yang bener itu, tathering room."
"Hei, kau pikir superhero itu manusia miskin abad 21 yang nggak punya kuota internet, huh? Yang benar, gathering room, tahu!?" Tiba-tiba saja Taufan menyeletuk, menyudahi kegiatan monolognya.
Gempa sweatdrop melihat ketiga saudaranya mulai berdebat tentang hal yang tak penting.
"Bagaimana?" tanya Ochobot yang membuat Gempa fokus kembali pada topik.
"Mereka semua ada di sana?"
"Pasti ada, kok. Ochobot sempat menyuruh berkumpul sebelum kami bertemu denganmu di TPA," ujar Taufan yang mulai adu jotos dengan Blaze, disusul sesi bongkar aib yang sungguh nirfaedah. Thorn hanya terkekeh menontonnya sambil menyantap cracker rasa cokelat di tangannya.
Gempa hening, antara ingin dan tidak. Pasalnya, ia hanyalah hero bau kencur yang baru saja dipilih sekitar dua jam lalu. Entah kenapa, ia merasa situasinya nanti akan canggung jika bertemu langsung dengan yang lain.
"Boboiboy Gempa?"
Tersentak karena nama lengkapnya dipanggil, pemuda itu mengiyakan dengan terbata, "I-iya! O-oke... Aku mau!"
"Baiklah kalau begitu. Akan kuantar dengan cepat."
"Huh?"
Ochobot menyilangkan kedua tangannya seraya menghadap pintu kamar. Perlahan, tubuh besinya dilingkupi cahaya putih. Semakin lama, cahaya itu semakin menguat. Robot bundar itu terlihat seakan mengumpulkan tenaga.
"KUASA TELEPORTASI!"
Ochobot memancarkan seberkas sinar ke pintu kamar Gempa, yang kemudian membentuk sebuah lubang yang terhubung ke suatu tempat. Dari posisi Gempa kini, netranya dapat menangkap pemandangan sebuah bangunan yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
Gempa ternganga. Matanya membulat, takjub melihat sebuah bangunan raksasa di seberang pintu teleportasi.
"Wisma yang luar biasa ..." gumam Gempa hampir kehilangan suara. Bangunan itu benar-benar besar seperti istana.
Taufan tersenyum tipis melihat Gempa yang masih terkagum-kagum. "Kalau kau berdiri di situ terus, kapan ketemu yang lain? Ayo pergi!" Ia meraih tangan sang adik dan membawanya melompat ke dalam lubang teleportasi diikuti oleh Blaze, Thorn dan Ochobot. Begitu tiba di depan kawasan wisma tersebut, pintu teleportasi itu menyusut hingga menjadi setitik cahaya kecil, kemudian menghilang.
Mata Gempa menelusuri lingkungan sekelilingnya. Wisma tersebut merupakan bangunan megah bercat biru muda berpagar besi setinggi belasan meter. Bangunan tersebut tampak elit dengan pilar-pilar penyangga yang terbuat dari marmer putih.
Di halaman depan bangunan terdapat sebuah kolam air mancur yang cukup besar. Ada satu atau dua kali Gempa melihat ikan di dalam kolam melompat-lompat.
Di luar pagar besi yang mengelilingi kawasan wisma tersebut, terdapat pepohonan menjulang tinggi seolah menyembunyikan keberadaan bangunan raksasa itu.
"Wow... Ternyata ada tempat seperti ini di Pulau Rintis?" tanya Gempa setengah tak percaya. Ochobot mengabaikan begitu saja pertanyaan Gempa dan terus terbang mendekati gerbang.
Robot kuning itu tampak melakukan scanning di sebuah hologram yang tiba-tiba muncul di depan gerbang. Mungkin ia tengah memasukkan password untuk lewat. Beberapa saat kemudian, gerbang tersebut terbuka otomatis.
Gempa mengekori langkah ketiga saudaranya yang mengikuti Ochobot menuju pintu depan wisma. Lagi-lagi, muncul hologram kecil di depan pintu masuk dan Ochobot kembali melakukan scan. Baru kemudian ia menjawab pertanyaan Gempa sebelumnya, "Memang ada tempat seperti ini di sini. Tapi, tak ada yang tahu bahwa ini adalah tempat perkumpulan superhero."
Boboiboy bernomor urut tiga mengangguk ketika pintu di hadapannya terbuka. Yang ia lihat pertama kali adalah sebuah ruangan yang cukup luas. Terdapat beberapa sofa, kursi dan meja disusun sedemikian rupa di tengah ruangan serta lukisan-lukisan yang tergantung di dinding.
Mereka berlima berjalan menyusuri lorong di belakang ruangan tersebut. Terdapat enam pintu kayu dengan ukiran unik di kedua sisi lorong. Jaraknya cukup jauh satu sama lain. Gempa pun berpikir bahwa ruangan di balik pintu-pintu itu pasti lah sangat luas.
Ochobot tiba-tiba saja kembali bicara, membuat atensi pemuda itu teralih.
"Ini gathering room, ruangan tempat kita berkumpul dan berdiskusi secara bebas. Sejujurnya, aku tak tahu apakah semua masih berkumpul. Tapi, kurasa masih ada orang di dalam," ujar Ochobot yang berhenti di depan sebuah pintu kayu yang cukup besar di ujung lorong.
"Tenang saja, Gemgem~ Mereka semua orang baik, kok!" Taufan menyemangati seraya menepuk-nepuk pundak Gempa.
Sang adik menarik nafas, kemudian menghembuskannya dengan kasar. Ia berusaha mengumpulkan kepercayaan dirinya.
"Walaupun nggak semuanya, sih..."
"Eh, Kakak bilang apa?"
Kalimat Taufan yang terakhir tak dapat ditangkap jelas oleh Gempa, karena pemuda pecicilan itu berucap dengan suara yang kecil sekali.
"Ngomong-ngomong," celetuk Ochobot memotong pembicaraan. Diperhatikannya keempat Boboiboy bersaudara yang masih mengenakan seragam sekolah. "Kalian tidak berubah ke mode superhero?"
"Ah!" Taufan menjentikkan jari dan langsung menekan satu tombol pada jam tangannya. Seketika tubuh pemuda itu diliputi cahaya sesaat dan penampilannya berubah menjadi karakter game yang ia mainkan.
Melihat Blaze dan Thorn yang turut berubah ke mode superhero, Gempa pun tanpa pikir panjang melakukan hal serupa.
Setelah keempat Boboiboy sudah berpenampilan seperti avatar game mereka, Ochobot pun mendekati pintu masuk dan membukanya perlahan.
"Nah, selamat datang di gathering room!"
Informasi yang pertama kali Gempa dapat setelah pintu tersebut terbuka lebar adalah bahwa ruangan itu sama luasnya dengan ruang rapat anggota parlemen pemerintahan. Di berbagai sisi ruangan ada beberapa meja yang di atasnya terdapat berbagai jenis kudapan dan minuman. Seraya melangkah masuk, iris emasnya menelusuri berbagai interior dan dekorasi yang membuat ruang pertemuan itu tampak mewah.
Lampu hias yang menggantung indah di langit-langit ruangan, berbagai lukisan pemandangan alam dan binatang, kursi dan meja berbahan kayu jati serta sofa dengan desain elegan yang tampak mahal. Semuanya tampak menyatu, memberikan kesan elit dan berkelas. Sejurus kemudian, baru dirinya menyadari keberadaan enam orang yang menyaksikan kedatangan mereka berempat.
Ada seorang pemuda bersurai raven acak-acakan yang menyisihkan diri di salah satu pojok ruangan. Seorang pria dengan armor ungu tampak duduk di salah satu sofa di sisi ruangan lain. Kemudian, ada tiga orang perempuan tengah berkumpul bersama seorang pemuda berbadan tambun di salah satu meja yang penuh dengan kudapan manis porsi besar.
Meski masih merasa gugup, Gempa tetap berusaha tersenyum ramah. Tanpa melangkah lebih jauh, ia mengambil posisi tetap berdiri di depan pintu masuk yang ditutup lagi oleh Ochobot.
Orang-orang yang sedari tadi di dalam ruangan itu belum bersua sedikit pun. Ada yang tak peduli, ada juga yang menunjukkan wajah penasaran. Gempa masih memerhatikan mereka satu per satu.
Ochobot mendekat dan menepuk pelan punggung Gempa dengan tangan besinya. "Nah, bagaimana kalau perkenalan diri dulu, hero baru?"
Pemuda dengan topi dino terbalik itu mengangguk, kemudian memandang lurus ke depan.
"Aku Boboiboy Gempa. Aku menjadi hero baru sore tadi. Salam kenal dan mohon bantuannya!" Gempa berujar mantap yang dibalas senyuman oleh empat superhero lain.
Ia menghembuskan nafas lega. Reaksinya tak seburuk yang ia kira. Syukurlah ia bisa berpikir lebih positif sebelumnya.
"Bang, kuasa apa yang Abang punya!?"
"UWAAH!?"
Gempa terlonjak ketika seorang gadis kecil tiba-tiba saja muncul di hadapannya dan bertanya dengan nada riang. Mata hazel gadis itu mengerjap melihat reaksi Gempa, lalu ia tertawa. "Maaf, Bang! Hehehe!"
Gempa mengelus dada, kemudian menghela nafas samar. Blaze dan Thorn terkikik melihat reaksi sang kakak yang mereka anggap berlebihan.
"Woah, kalian benar-benar seperti suadara kembar, ya!" Seorang pemuda keturunan India berperawakan berisi turut serta dalam pembicaraan. Diperhatikannya penampilan Gempa dari atas sampai bawah.
"Bukan 'seperti'! Kami memang kembar, tahu!?" Blaze langsung menyahut ucapan pemuda sebelumnya. Ia meninju pelan bahu lawan bicaranya dan hanya dibalas cengiran lebar.
"Gopal, Gopal, gimana penampilan Kak Gempa menurutmu? Keren, kan?" Thorn bertanya dengan semangat dan dijawab dengan anggukan mantap oleh Gopal, superhero berbadan tambun itu.
"Tentu saja! Avatar game kalian setipe. Cuma beda warna dan motif saja. Dan itu keren! Dari pada aku? Cuma jaket hijau kuning dengan armband dan headband merah. Celana dan sepatuku pun biasa saja." Pemuda itu mendesah kecewa.
"Hahah! Sabar, Gopal! Salah sendiri kau asal pilih saja avatar game-mu!" Blaze tertawa sambil menepuk bahu Gopal.
Melihat itu, Gempa hanya tersenyum samar. Blaze terlihat akrab sekali dengan hero bernama Gopal itu.
"Haiya, Blaze! Kau nggak bisa simpati sedikit pada Gopal, ya?" sebuah suara menyela. Netra Gempa beralih melihat sosok dua perempuan yang berjalan mendekat.
Blaze cemberut, lantas menjawab, "Cuma bercanda, kok! Nggak perlu seserius itu, kan!?"
Gadis yang berparas oriental berkacamata mendengus, lalu menoleh kepada Gempa. "Namaku Ying! Kuasaku manipulasi waktu. Salam kenal, Gempa!" Ying mengulurkan tangannya yang dilapisi sarung tangan kuning-biru dan disambut hangat oleh Gempa.
"Salam kenal juga," balas Gempa setelahnya.
"Oh, ya! Namaku Gopal! Aku punya kuasa manipulasi molekul!" Ganti Gopal yang memperkenalkan diri. Ia kemudian menunjukkan gestur agar Blaze melakukan sesuatu. "Coba lihat ini!"
Blaze mengeluarkan bola-bola api dan melemparnya ke atas. Gopal kemudian merapatkan kedua tangan dan jemarinya membentuk pose menembak.
"Tukaran makanan!"
Cahaya hijau kemudian terlontar dari ujung jarinya mengenai kuasa api Blaze yang melayang di udara. Bola-bola api itu seketika berubah menjadi bola-bola cokelat yang segera ditangkap dengan mulut oleh Gopal. Persis seperti pemain sirkus, pikir Gempa.
"Gopal itu... sebenarnya, potensi kuasanya boleh dibilang lumayan. Tapi sayang, isi kepalanya cuma makanan saja," Taufan berkomentar setelah Gopal menelan bola cokelat terakhir, sedangkan Gempa hanya terkekeh mendengar fakta itu.
Gempa kemudian beralih kepada seorang gadis berhijab dan berpakaian serba pink. Ada syal merah muda panjang yang melingkari lehernya. Topi berwarna senada yang dihiasi googles dikenakan di atas hijabnya. Merasa dipandangi, gadis itu tersenyum ramah dan turut memperkenalkan diri.
"Aku Yaya. Aku punya kuasa manipulasi gravitasi. Salam kenal!" Gadis itu berkata singkat seraya merapatkan kedua tangan. Gempa pun membalas dengan gestur dan senyuman yang sama.
"Lalu, bagaimana denganmu?" Gempa bertanya kepada gadis kecil yang berhasil membuatnya terkejut tadi. Gadis itu pendek, hanya setinggi pinggang Gempa. Usianya mungkin sekitar delapan tahun. Rambut hitamnya diikat cepol dua dengan hiasan pita merah muda. Pakaian yang dikenakannya pun boleh dibilang cukup mencolok.
Kurva senyuman terbit di paras gadis itu sebelum menjawab, "Nama saya Pipi Zola! Pipi bisa mengubah benda-benda jadi kartu, lho!" ujar gadis itu antusias. Ia kemudian mengeluarkan selembar kartu tak bergambar yang muncul entah dari mana dan melemparkannya ke arah kudapan manis di meja dekat mereka. Kudapan itu bersinar sesaat, lalu masuk ke dalam kartu tersebut.
"Wah, keren!" ucap Gempa takjub, lalu mengelus kepala gadis kecil itu.
Pipi tersenyum bangga dan bertanya lagi, "Kuasa Abang apa? Tunjukkan lah~" pinta Pipi dengan jurus kitty eyes. Gempa menggaruk tengkuknya.
"Umm... Kekuatanku cukup berbahaya kalau digunakan dalam ruangan seperti ini. Tapi, yah... Kuasaku pada dasarnya adalah geokinesis," jawab Gempa ragu.
"Geo... apa, Bang?"
"Intinya, aku bisa memanipulasi elemen tanah."
"Wow! Jadi, Abang bisa bikin istana pasir yang besaaarrr?" tanya Pipi Zola penuh semangat seraya merentangkan kedua tangannya. Gempa hanya terkekeh.
"HAH!"
Gempa tersentak ketika tiba-tiba suara lantang menginterupsi. Ia segera memerhatikan eksistensi pemilik suara yang kini duduk di salah satu sofa di sisi kanan ruangan. Pria itu tampak sangar dengan armor ungu hitam yang dikenakannya. Rambutnya yang berwarna hitam kemerahan dan beberapa baret yang menghiasi wajahnya, serta palu merah besar yang ia sandarkan di dinding tak jauh darinya menambah aura beringas yang sejak awal sudah menguar kuat.
Pria itu melirik tajam ke arah Gempa, sedetik kemudian bangkit dari duduknya.
"Kami semua disuruh menunggu di sini sejak siang hanya untuk melihat kedatangan ikan teri ini?" Pria tersebut mengangkat palu besarnya dan menyampirkannya ke pundak.
"JANGAN BERCANDA!!!"
Suara pria itu menggema dalam ruangan, mendengungkan telinga setiap pendengar. Thorn bahkan menutup telinganya kuat-kuat.
Sementara Ochobot, robot kuning bundar itu hanya menatap pria tersebut dari jarak yang cukup jauh. Ia diam tanpa menunjukkan reaksi apa pun selama beberapa detik.
"Tapi, nggak ada yang memaksamu menunggu, kan?"
Pria itu berdecak kasar mendengar retorika Ochobot. Ia menggumamkan kata-kata kasar seraya keluar dari ruangan. Mereka sedikit tersentak saat pria tersebut menghempaskan pintu kuat-kuat, membuat telinga superhero di ruangan itu kembali berdengung.
Mendadak Gempa merasa tak enak hati. Ia memang bukan superhero tangguh dengan kekuatan luar biasa. Ia bahkan baru saja naik ke level enam belas. Tapi, Ochobot menyuruh superhero lain berkumpul untuk memberitahu perihal kedatangannya. Padahal dirinya bukanlah siapa-siapa.
Seketika suasana terasa canggung. Melihat Gempa yang tampak memikirkan sesuatu, Ying tiba-tiba bersuara, "Gempa, tak perlu kaupikirkan, ma! Dia memang begitu orangnya."
Pemuda itu mengangguk, berusaha memaklumi. Ya. Pria berarmor itu pastilah superhero level tinggi. Wajar saja jika ia bersikap pongah pada Gempa yang baru saja bergabung.
"Tapi, kenapa kalian harus berkumpul? Apa setiap ada hero baru, hero lain harus menyambut?"
Pertanyaan dari Gempa membuat mereka kompak melirik ke arah Ochobot yang melayang di dekat Taufan. Mereka sepakat dalam diam untuk menyerahkan jawabannya pada si robot kuning bundar.
"Sebenarnya, tak perlu ada sambutan. Tapi, kau adalah superhero kelima belas sekaligus menjadi player terakhir yang kami pilih menjadi Rising Hero. Jadi, para admin bilang ada baiknya semua bertemu," jelas Ochobot.
"Namun, ada beberapa yang tak peduli. Setelah aku memberitahu profilmu, mereka langsung pergi entah ke mana," tambah robot kuning itu lagi.
Gempa berdehem panjang. Ternyata tidak semua Rising Hero memiliki sifat yang easygoing dan cerah ceria. Gempa memertanyakan apakah pria itu bisa dikatakan sebagai superhero atau tidak.
Namun demikian, ia bersyukur masih ada orang-orang ramah di antara perkumpulan pahlawan itu. Tiga saudaranya pun ada di sana. Ia jadi merasa tidak perlu canggung, sungkan ataupun rendah diri meskipun ia baru saja menjadi superhero.
―――――
Keempat Boboiboy bersaudara menghabiskan waktu hampir empat jam di wisma hanya untuk berbagi cerita aksi superhero mereka. Gempa yang merupakan freshmen hero mendengar dengan takzim setiap kisah dari teman-teman barunya.
Blaze dan Thorn yang paling semangat saat menceritakan bagaimana debut Gempa di TPA Pulau Rintis. Keduanya terus mengoceh pujian yang ditujukan untuk sang kakak. Gempa hanya tersenyum canggung, merasa agak malu dengan kata-kata yang menurutnya terkesan berlebihan.
Sekitar jam sembilan malam, Gempa dan ketiga saudaranya memutuskan untuk pulang. Meskipun tak diucapkan terang-terangan, Taufan yakin bahwa adiknya yang beriris emas itu menghawatirkan keadaan di rumah mereka. Maka, Ochobot pun membubarkan pertemuan malam itu dan mengantarkan empat saudara kembar ke rumah mereka dengan kemampuan teleportasinya.
Mereka berempat diantarkan kembali ke kamar Gempa. Setelah pintu teleportasi menghilang, mereka kembali ke sosok remaja biasa yang mengenakan seragam sekolah.
Taufan, Blaze dan Thorn kembali ke kamar masing-masing, sedangkan Gempa memilih untuk tetap di kamarnya. Ia mengganti pakaiannya dengan kaos hitam dan celana pendek selutut, lalu berbaring di atas ranjang. Sementara itu, pikirannya berkelana jauh mengingat seluruh kejadian yang ia lalui hari ini.
Cukup banyak yang terjadi hari ini. Dan ia merasa hampir tak bisa memercayai semuanya.
Namun, jam tangan itu masih melingkar di tangannya. Semua yang terjadi sepanjang hari ini semuanya bukan kebohongan. Gempa tidak bisa, dan tak akan pernah bisa menampik kenyataan itu.
Pemuda itu mengulurkan tangan kanannya lurus ke langit-langit kamar. Matanya memerhatikan jam kuasa tersebut dengan saksama. Ia pun tersenyum kecil mengingat apa yang sudah ia lakukan menggunakan kuasa elementalnya.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau di sini?" Pemuda itu mendudukkan dirinya, kemudian bertanya kepada robot kuning bundar yang kini melayang di samping nakas dekat tempat tidurnya.
"Tidak boleh?" Yang ditanya menjawab retoris.
"Maksudku, kau tak punya kesibukan lain?"
"Hmm..." dehem Ochobot panjang. Ia menukar posisi, mendaratkan tubuh besinya ke ranjang tepat di samping Gempa.
"Sebagai AI, aku hanya mengawasi jalannya permainan dan Rising Hero yang lain. Aku bebas mengikuti player mana pun yang aku inginkan. Jadi, boleh dibilang aku selalu menganggur di wisma," tutur Ochobot panjang lebar.
Gempa mengganti arah pandangnya ke meja belajar di sisi ruangan yang berseberangan. Sepintas saja, tiba-tiba ia mengingat lagi figur seorang pemuda yang hanya duduk diam sejak dirinya memasuki ruang pertemuan di wisma. Meskipun merasa sudah terlalu banyak bertanya hari ini, tapi Gempa tetap menyuarakan pikirannya,
"Bagaimana dengan anak yang berjubah ungu gelap itu? Yang rambutnya mirip landak?"
"Oh? Namanya Fang. Dia punya kuasa untuk memanipulasi bayangan. Dari informasi yang kupunya, dia selalu menggunakan kekuatannya untuk membuat bentuk binatang tertentu. Potensi kuasanya cukup tinggi dan sejauh ini dia memanfaatkannya dengan efektif."
"Lalu, laki-laki berarmor itu?"
"Borara. Salah satu player yang cukup berbahaya. Kekuatannya adalah menciptakan lubang hitam yang mampu menarik benda apa pun, tergantung seberapa kuat medan gravitasi yang dibuatnya. Kusarankan, dengan levelmu yang sekarang sebaiknya jangan terlalu banyak berurusan dengannya. "
"Dia tidak kelihatan seperti pahlawan." Gempa menerawang, mengingat sikap Borara yang menurutnya sama sekali tak terlihat seperti superhero. Senang membentak dan membuat orang lain tersudut.
"Dia memang kasar. Mungkin pengaruh pergaulan dan lingkungannya. Meski begitu, dia juga sudah menolong banyak orang."
"Begitukah? Apakah kalian juga merekrut orang-orang seperti itu untuk menjadi Rising Hero?"
"Entahlah. Aku hanya memilih orang yang menurutku bisa mengemban tugas sebagai pahlawan super. Kalau para admin menerima usulanku, baru aku bisa mengirimkan pesan dan, sebut saja, membuat kontrak dengan player terpilih. Selain itu, aku bertugas sebagai pengawas dan pembimbing di lapangan."
Mendengar itu, ada secuil perasaan aneh muncul di benak Gempa. Ada yang mengganjal di pikirannya. Namun, ia tidak tahu apa.
"Tapi..." Seraya menatap langit-langit kamar, Gempa kembali bersuara, "Apa kau tidak khawatir kalau player seperti Borara itu menyalahgunakan kekuatannya? Bisa saja dia berbuat masalah, kan?"
Ochobot membalikkan badan untuk menghadap Gempa. Dua bulatan biru di atas layar hitam itu sama sekali tak berubah sejak awal Gempa melihatnya. "Sepertinya kau benar-benar menghawatirkan hal itu, ya."
Gempa mengernyit. "Wajar saja, 'kan? Bukannya seorang pahlawan harus bersikap bijaksana dan selalu membela kebenaran?"
"Kau tidak bisa memaksakan determinasi semacam itu, Gempa. Meskipun aku hanya robot, tapi aku tahu bahwa masing-masing manusia memiliki pola pikir yang berbeda. Borara punya caranya sendiri untuk menolong orang yang kesulitan. Dan selama ini, dia belum pernah menggunakan kekuatannya untuk merusak atau menghancurkan sesuatu apa pun. Jadi, apa kau masih perlu mempermasalahkannya?"
Jawaban dari Ochobot membuat pikiran remaja itu jumpalitan. Apa benar mereka boleh bersikap apatis terhadap perilaku Borara yang demikian? Jika suatu saat terjadi sesuatu karena hal itu, apakah Ochobot akan mengambil tindakan meskipun tugasnya hanya sebagai pengamat?
Seketika, muncul sedikit kekhawatiran di benak Gempa. Bagaimana jika dunia superhero yang dimasukinya kini sebenarnya tak sebaik yang ia kira?
Menepis pikiran negatifnya, pemuda itu berbaring. Memejamkan mata seraya menyugestikan diri bahwa ia lah yang terlalu khawatir. Mereka adalah superhero. Perwira dengan kekuatan luar biasa. Mereka harus menggunakan kuasanya sebaik mungkin demi kebaikan orang lain.
"Gempa," panggil Ochobot membuat sang pemilik nama melirik. "Apa alasanmu menjadi superhero?"
Gempa mengacuhkan pertanyaan itu sesaat. Alasan itu terngiang kembali di kepalanya. Alasan yang membuatnya menyetujui untuk menjadi superhero hari itu.
"Aku... hanya ingin menolong lebih banyak orang. Banyak yang bilang padaku bahwa aku terlalu baik. Tapi, aku merasa kalau yang kulakukan selama ini belum seberapa. Makanya hanya dengan berpikir seperti itu saja, aku memutuskan untuk menjadi hero."
Ochobot tak menyela ucapan Gempa satu kata pun. Seolah tahu bahwa pemuda itu belum selesai bicara, ia menunggu Gempa melanjutkan kata-katanya.
"Lagipula ... Aku sudah berjanji pada seseorang. Aku akan melindungi keluargaku dan orang-orang yang penting bagiku. Dengan kekuatan ini, aku bisa menjadi seseorang yang melindungi mereka, bukan dilindungi oleh mereka." Gempa menggenggam jam kuasa yang melekat di pergelangan tangan kanannya, kemudian tersenyum tipis.
"Kalau begitu, kau pasti bisa melebihi Borara."
"Eh..." Gempa menoleh, melihat Ochobot yang kini melayang di samping tempat tidurnya.
"Tentu saja ini juga bergantung dengan seberapa besar usahamu ke depannya. Tapi, kalau kau memang memiliki pikiran dan perasaan seperti itu, artinya kau memiliki potensi luar biasa. Aku benar-benar tak bisa memerkirakan sehebat apa kekuatanmu suatu hari nanti."
Gempa tercenung mendengar pernyataan robot itu. Ia terkekeh, lalu mengganti posisi berbaringnya menghadap Ochobot. "Kau pasti bercanda."
"Tidak, kok," sanggah robot tersebut.
Mendengar itu, Gempa tersenyum kecil. Meski tak bisa percaya sepenuhnya, ia senang mendengar hal itu.
Gempa meletakkan ponselnya ke atas nakas. Rasa kantuk dan lelah mulai menguasai dirinya, memaksanya untuk memejamkan mata. "Selamat tidur, Ochobot..."
"Tapi, aku tak perlu tidur." Ucapan si robot bundar mengundang tawa kecil untuk Gempa.
"Setidaknya, kau perlu mengisi ulang tenaga, kan?"
Ochobot dapat mendengar suara nafas yang halus beberapa saat kemudian. Melihat mata Gempa yang sudah mengatup rapat, Ochobot mendaratkan dirinya di atas meja belajar di kamar tersebut. Seperti kata pemuda itu, ia harus mengisi ulang tenaganya.
―――――
"Cattus~ Makanya kubilang jangan manjat pohon! Jadi nyangkut, 'kan!?"
Remaja laki-laki dengan jaket musim dingin berwarna abu-abu melompat dari atas pohon bersama seekor kucing di pelukannya. Dihampirinya anak kecil yang sedari tadi menunggunya. Senyuman lebar merekah di wajah anak itu tatkala menyambut kucing peliharaannya yang sempat tersangkut di dahan pohon.
"Lain kali jangan nakal! Oke, Cattus?"
Mendengar itu, remaja tersebut mengedikkan bahu. Memangnya binatang bisa mengerti bahasamu? batinnya.
"Terimakasih udah menolong Cattus, Bang! Aku pulang dulu, ya!" pamit anak itu seraya melambaikan tangan.
Pemuda itu balas melambaikan tangan kirinya kepada anak tersebut yang sudah jauh berjalan. Tidak ada ekspresi sama sekali di parasnya yang setengah tertutup lidah topi yang ia pakai.
Beberapa saat kemudian, ia menurunkan lambaian tangannya dan memandang angkasa. Iris aquamarine itu menangkap kilatan merah yang melesat cepat dalam waktu sepersekian detik di langit.
Ia terdiam sesaat. Tangan kanannya yang tampak bening seperti es menurunkan sedikit posisinya topinya, menyamarkan mata sayunya yang seindah permata. Penampilannya yang menggunakan jaket dengan hoodie berbulu itu benar-benar membuatnya terlihat seperti orang eskimo di kutub utara.
"Ngantuk," gumamnya sejurus kemudian. Ia mengambil langkah memasuki sebuah gang kecil yang minim penerangan di sebelah kirinya. Lace putih-biru yang menjadi corak jaketnya tampak berpendar temaram di sepanjang jalan yang gelap.
"Pulang, ah."
.
.
.
.
Panorama kendaraan yang lalu-lalang nun jauh di bawah kakinya terlihat bak semut-semut yang melintas. Kilauan lampu-lampu terlihat seperti kunang-kunang yang berbaris sepanjang jalan. Suara deru kendaraan dan kebisingan manusia malam itu nyaris tak mampu mencapai pendengaran seorang pemuda yang kini duduk di pinggiran atap gedung pencakar langit.
Pemandangan malam kota tempatnya tinggal itu ia abaikan sepenuhnya. Kepalanya tertunduk. Netranya bergulir membaca berita terkini yang tertera di layar ponselnya. Sejurus kemudian, terdengar suara dengung yang tak asing lagi di telinganya.
Seseorang telah datang dan berjalan mendekat di belakangnya.
"Kaubilang kita harus banyak bertindak daripada bicara. Tapi, kau selalu duduk diam setiap kali kutemui." Orang itu berujar sembari terus berjalan memerkecil jarak antara mereka berdua.
"Kita terlambat." Pemuda yang duduk di pinggiran atap gedung berujar nyaris tak terdengar. Perhatiannya terfokus pada ponsel yang ada dalam genggamannya.
Dahi orang itu berkerut dan ia reflek menghentikan langkah. Manik delimanya memandang punggung lawan bicara yang mengenakan jaket putih. "Apa maksudmu?"
Tanpa berkata apa-apa, remaja itu melempar asal ponselnya ke arah belakang yang untungnya dengan sigap ditangkap oleh orang di balik punggungnya.
Iris sewarna merah darah itu memerhatikan berita terkini yang masih setia terpampang pada layar ponsel.
[Empat Siswa SMA Membantu Polisi Menangkap Kawanan Perampok]
Netranya terus mencermati tiap kata yang disajikan dalam berita hingga sebuah nama yang tertera di antara tulisan itu menarik penuh atensinya.
Boboiboy Gempa.
"Bagaimana menurutmu?"
Yang ditanya tersentak. Pandangannya teralih kepada pemuda yang kini telah berdiri di pinggiran atap. Jaket putihnya berkibar tertiup angin malam. Posisi mereka yang berada di puncak gedung setinggi belasan lantai membuat pemuda itu tampak berdiri berlatarkan langit kelam bertabur bintang-bintang.
"Entah." Jawaban singkat diberikan. "Apa kau punya rencana lain karena hal ini?"
Pertanyaan tersebut diacuhkan oleh rekannya. Netra kelabu dibalik kacamata jingga itu memandang tanpa ngeri panorama jalan yang berjarak puluhan meter di bawah kaki.
"Tidak," balasnya kemudian. "Itu tak ada hubungannya," pungkas pemuda itu seraya menatap lurus ke depan.
Dua remaja laki-laki dengan penampilan kontras satu sama lain berdiri di tepi atap gedung yang menjulang tinggi di tengah kota. Angin malam berhembus, mengantarkan hawa dingin yang dengan lembut menyapu kulit. Bulan purnama bergantung pongah di angkasa bersama titik-titik bintang. Cahaya temaramnya berpendar pelan tak kalah dari lampu-lampu jalanan.
"Kita teruskan saja mengumpulkan informasi."
.
.
.
.
To be continued
Me pas baca chapter ini: Bosenin banget lurr :"v Oe missqueen diksi TwT pas mikirin narasi, otak lancar jaya. Pas ngetik, ambyaarrr :v hadeuuh...
*uhuk
Btw, makasih buat yang udah ripiu chapter kemarin~ walaupun oe ga balas tapi oe baca komenan kalian kok :).
Udah banyak karakter unlocked ya :v walaupun ada yang ga disebutin namanya, tapi pada tahu itu siapa kan? Coba tebak siapa hero yang belum muncul, hayoo *sokasikcuih
Nah, sampai sini aja author notenya. Mon maap kalau ada misstypo, aing masih belajar nulis :v.
Jangan lupa tinggalin jejak, yes ;)
Terakhir, HBD BUAT DEK BOOYYY!! OTAOME! MET ULTAAHHH!!! BE A GOOD HERO FOR US YEA! :v awokwokwok Bubye~
From Wkwk Land :v
