・
Naruto Uzumaki, pria yang kini dikenal oleh orang-orang sebagai Pahlawan Dunia Shinobi dan Calon Hokage berikutnya, pada malam hari itu sedang dalam perjalanannya untuk menuju rumahnya sambil menguap lelah.
"Dasar kau Kakashi-sensei ttebayo ..." Si pirang menggerutu pelan ketika mendekati jalan yang menuju ke arah rumahnya, merasa sangat lelah hari itu. Sejak Kakashi memilihnya menjadi Hokage selanjutnya, Ninja berambut perak itu menggunakan semua alasan yang bisa ia pikirkan agar membuat Naruto mengerjakan tugas-tugasnya.
Tentu saja, Naruto tidak berkeberatan pada awalnya tetapi pendapatnya tentang masalah ini dengan cepat berubah setelah ia menyaksikan secara langsung jumlah dokumen yang dimiliki Kakashi. Laki-laki bernetra biru menendang kerikil ketika melanjutkan perjalanan singkatnya, dia perlu mengeluarkan rasa frustrasinya pada sesuatu. Suara menguap lain lolos dari rahangnya. "Hal pertama yang akan aku lakukan ketika menjadi Hokage adalah memberi Ayame 'Resep Ramen Uzumaki' agar semua orang di desa bisa menikmatinya, BAHKAN mungkin lebih dari itu! Lalu hal kedua menaruh Guru Kakashi di panti jompo-ttebayo!" Naruto menyeringai Ceshire. Dengan demikian dia akan mengerjakan dokumen tambahannya! "Kita akan lihat bagaimana Guru menyukai ini?!"
Si pirang menahan tawa jahatnya, tetapi tak lama kemudian satu-satunya hal yang ia tahan adalah menguap lagi. Naruto mendekati tangga di depan rumahnya dan menghela nafas. "Aku hanya ingin pulang menikmati waktu bersama anak-anak dan Hinata." Dia tersenyum senang. Setelah sepanjang malam mengerjakan tugas dan dokumen, dia yakin pantas mendapatkan waktu berkualitas.
Ketika Naruto mengeluarkan kunci pintu dari sakunya, dia tak bisa tidak bertanya-tanya apakah Hinata masih terjaga. Sejak jaminan Naruto menjadi Hokage berikutnya dan peningkatan jam kerja, telah menjadi tradisi yang tak terucapkan bagi Hinata agar tetap bangun sampai dia kembali. Namun terkadang Hinata sudah tertidur. Naruto tidak keberatan sama sekali, dia tak ingin separuh orang lainnya sangat lelah karena terjaga menunggunya.
Dengan sedikit ketidaksabaran, Naruto membuka pintu dan melihat anak-anaknya berlari ke depan pintu.
"Ayah!"
Naruto menangkap Boruto dan Himawari dengan kuat, satu anak di setiap lengan. "Ahh," mata biru Boruto bersinar bahagia. "Kami tidak pernah melihatmu selarut ini!"
"Aku sangat merindukanmu, Papa!" Wajah Himawari penuh dengan senyum lebar.
Dan dengan ini Naruto resmi membatalkan agendanya untuk memberi ceramah pada anak-anak seperti yang telah ia rencanakan sebelumnya. "Heh. Aku terlalu lunak ketika menyangkut putri kecilku." Dia menyeringai lebar di dalam hati dan dapat mendengar suara dengusan yang akrab dari alam bawah sadarnya. Naruto menutup pintu dengan kakinya, entah bagaimana berhasil menguncinya lagi. "Apa yang kalian lakukan sampai larut malam begini?" si pirang mencoba terdengar tegas. Matanya melihat sekeliling ruang tamu, dan dia bisa melihat lampu menyala di kamar Himawari. Aneh bahwa anak-anak masih terbangun dan Hinata tidak ada di sini.
"... Di mana ibumu?"
Himawari yang menjawab, "Ibu tidur di kamarku." Gadis kecil itu memiliki pandangan polos di mata birunya.
Naruto mengangkat sebelah alis dan menatap Boruto sebagai konfirmasi. Si pirang yang lebih muda mengangguk. "Ibu bertingkah agak aneh." Hanya itu yang diperlukan untuk meyakinkan Naruto agar langsung menuju kamar putrinya. Dan ketika dia melihat Hinata, di sanalah istrinya pingsan di tempat tidur Himawari dengan posisi yang canggung seakan-akan Boruto dan Himawari sendiri mencoba menempatkannya di tempat tidur dengan lembut. "Dia seolah-olah tidak mengenal Himawari dan aku," Naruto ingin menggigit jarinya karena khawatir. "Dan ibu bilang dia berumur empat belas tahun."
"Hah …? Empat belas tahun katamu?"
Boruto mengangguk sekali lagi dan Naruto mendengus keras, mencoba menajamkan tawanya.
Dia menurunkan Boruto dan Himawari lalu mengangkat Hinata dengan gaya pengantin, "Yah, ayah akan membawa Ibu ke tempat tidur, oke?"
"Baaaiiik!" Bocah pirang dan gadis blunette berkata serempak dan Naruto menyuruh mereka diam dengan lembut, tersenyum kecil.
"Kita tidak ingin membangunkan ibu, 'kan?" Dia menerima "Baaik" yang lebih tenang sebagai balasannya, dan tersenyum pada mereka sekali lagi sebelum berbalik pergi ke kamar tidur miliknya dan Hinata. Selimut sudah ditarik ke bawah dan begitu pula gordennya, Naruto memperhatikan. Dia menebak bahwa kemungkinan besar Hinata terbangun untuk menatap bintang-bintang. Itulah salah satu dari banyak hal yang Naruto temukan ketika dia mulai mendekati gadis dari Klan Hyuga, salah satu hal yang Hinata sukai adalah menatap bintang.
Naruto memposisikan istrinya di sisi lain ranjang dengan hati-hati, membelai poni rambut gaya Hime Hinata. "Sudah kubilang jangan terlalu memaksakan dirimu." Si pirang berbisik pelan ketika menatap istrinya dengan penuh kasih. Dahinya terasa normal, namun Naruto hanya ingin memastikan dia cukup istirahat.
"Ayah."
Naruto melirik dari balik bahunya dan melihat sosok Boruto di depan pintu. "Iya, ada apa, Nak?"
Boruto terdengar seakan dia takut bertanya, "Ibu tidak apa-apa, 'kan?"
"Ya," Pemimpin rumah tangga Uzumaki menghampiri putranya dan mengacak-acak rambut anak itu, "dia tidak apa-apa. Ibu hanya terlalu lelah, itu saja."
Jawaban itu tampaknya cukup baik bagi putra Naruto yang biasanya bersemangat. "Aku memapah ibu naik ke tempat tidur Himawari." Dia membusungkan dadanya lebar-lebar. "Yah Hima sedikit membantu juga." Namun anak itu terdengar agak jengkel saat menambahkan bagian terakhir.
"Aku sangat bangga padamu, Boruto." Naruto melihat Himawari mendekati kamarnya dengan boneka beruang yang dibungkus lengannya. "Kamu juga, Himawari. Kalian sangat hebat dalam membantu ibumu saat ayah pergi." Dia memberi mereka masing-masing pelukan. "Sekarang kalian berdua harus tidur."
Boruto langsung mengerang. "Tapi besok aku kan libur, Ayah!" Anak bernetra biru memprotes.
"Itu bukan alasan, kamu harus banyak beristirahat." Naruto menyilangkan lengan dan menatap putranya dengan wajah tegas. "Sekarang ayo, biar ayah membawamu ke tempat tidur."
Saat itulah Naruto membuat kesalahan terburuk, dia menatap mata biru besar putrinya. Matanya bulat, lebar, dan tampak seperti basah oleh air mata. "Tapi kami belum melihatmu sepanjang hari ini ..." Himawari meringkuk di lekukan leher beruang teddynya. "Tak bisakah kita menonton satu film saja?"
"Oh, tidak!" Naruto menelan ludah. "Ayolah Naruto, ini tidak terlalu sulit. Kau sudah menghadapi Akatsuki! Melawan Madara, dan menghajar Dewi Kelinci bermata pucat itu! Yang harus kau lakukan hanyalah mengatakan 'tidak'. Itu mudah!" Pria bersurai kuning melihat dari balik bahunya ke tempat Hinata berbaring. Dia benar-benar ingin berbaring di sebelahnya. "Dan selain itu apa yang akan dikatakan Hinata. Dia akan bilang aku adalah ayah yang lucu dan dia benar! Jadi aku harus …"
"Kalian berdua yang memilih filmnya dan kita akan ke ruang tamu lalu membuat benteng. Ayah hanya perlu memakai piyama dulu." Naruto akhirnya berkata dengan desahan kekalahan murni.
Ekspresi saudara kandung Putri Uzumaki langsung cerah. "Benarkah ayah!?" Bisik Boruto nyaris berteriak. "Ayo Himawari!"
"Aku mau memilih filmnya, Kakak!"
Naruto menyaksikan kedua anaknya berlari menyusuri koridor dan menuju ke ruang tamu. Dia tertawa gugup saat melihat ke arah sosok Hinata yang sedang tertidur, tampak sangat damai nan cantik. "Yah … Sepertinya aku kalah lagi, Hinata. Selamat malam." Calon Hokage masa depan berganti pakaian yakni sepasang kemeja sederhana, kemudian mencium bibir istrinya dengan lembut sebelum berjalan keluar ke aula.
Menutup pintu kamarnya, lalu membuka yang lain untuk mengeluarkan tiga selimut besar dan tebal.
ー
Momen-momen dari malam sebelumnya adalah semua yang Naruto butuhkan sebagai jaminan bahwa Hinata baik-baik saja, itulah yang ia janjikan pada Boruto. Dan meskipun dia tampak normal secara fisik, sudah cukup jelas secara mental, dia tidak baik-baik saja. Istrinya yang bermata lembayung muda benar-benar percaya dia berusia 14 tahun. Perilakunya telah membuktikan hal itu. Pada awalnya, Naruto mengira Hinata agak memerah mungkin karena dia bangun pagi-pagi dan membuatkan sarapan spesial untuknya. Sudah lama ia tidak pernah melihat istrinya bertingkah seperti ini sejak mereka menikah, namun sekarang dia sudah tahu. Sebab sekali lagi Hinata sangat pemalu ketika berada di dekatnya.
Suara desahan keluar dari bibir Naruto.
Untungnya, Boruto dan Himawari tidak bertanya terlalu banyak. Naruto memberitahu ketika mereka datang lebih awal untuk memeriksa kesehatan ibu mereka - bahwa Hinata masih sangat lelah - jadi sepanjang hari sejauh ini, kedua saudara kandung sepakat satu sama lain bolak-balik antara tinggal di rumah dan ke luar untuk bermain.
Naruto menggertakkan gigi dan mengepalkan tangannya erat-erat. "... Hinata …!" Netra birunya memiliki nyala api keyakinan dan tekad. "Aku pasti akan membantumu-ttebayo"
Hinata meregangkan tubuhnya perlahan saat dia akhirnya terbangun, merasa seolah-olah telah tertidur berhari-hari.
"Aku bermimpi paling aneh tadi malam …" Gadis itu berpikir dengan grogi, menghapus rasa kantuk yang tersisa dari wajahnya. Jumlah pingsan yang ia alami dalam mimpinya melelahkan, dan agak memalukan. Namun mimpi itu sendiri adalah penyebabnya.
Mimpi itu dimulai dengan cukup normal. Dia berada di tempat latihan Tim Delapan - sedang berbicara dengan teman satu timnya dan bersiap berlatih. Tetapi pada saat dia memutuskan untuk memulai pelatihan, sakit kepala yang terasa seperti dia menerima Segel Burung Terkutuk membuatnya tidak sadar. Kemudian ketika dia bangun, Hinata mendapati dirinya berada di sebuah rumah dengan dua anak misterius lucu, yang kemudian mengaku sebagai anak-anaknya menyebabkan dia pingsan lagi. Namun, bagian paling gila dari mimpi itu, adalah ketika dia terbangun di rumah yang sama sekali lagi tetapi kali ini Naruto yang lebih tua ada di sana. Dia juga bersikap genit dan bertindak SUPER akrab dengannya.
Dan untuk melengkapi semua itu Naruto mengatakan bahwa mereka sudah menikah dan memiliki dua anak.
Hinata merasakan darah mengalir di pipinya karena mengingat mimpi itu.
"Ayo Hinata, tenanglah …" Dia menarik napas tajam, berusaha untuk menyatukan pikirannya dengan pembicaraan yang sangat dibutuhkan. "Itu hanya mim ... pi …" Dia berhenti di tengah pemikirannya ketika merasakan rambut panjang menutupi bahunya. Dan kamarnya masih sama, tepat di sebelah tempat tidur ada lemari yang memiliki nampan berisi semangkuk sup dan sudah dipanaskan.
Hinata terdiam beberapa saat ketika dia diam-diam menyadari bahwa dia memang, tidak lagi bermimpi.
"Naruto-kun …! Aku bersama dengannya…" Mengatakan Hinata terkejut sungguh pernyataan yang meremehkan; dia super kaget. "Aku bersama dengan Naruto-kun ...!" Seketika gambar-gambar wajah Boruto dan Himawari yang berkilau terlintas di benaknya, dan si Blunette merasakan gelombang kesedihan menggerogoti hatinya. "Kai!" bisik Hinata nyaris tak terdengar, merasakan air mata menusuk di sudut Netranya. Bagaimana mungkin ke dua anak yang manis itu adalah miliknya!? Miliknya dan Naruto!
"…"
Hinata mengarahkan pandangannya ke mangkuk sup di sampingnya. Dengan cepat ia mengumpulkan kesadarannya yang kini berserakan, dan mengambil nampan.
Dia agak lapar, jadi dengan sedikit keraguan Hinata meletakkan nampan di pangkuannya dan mulai memakan sup. Terasa lezat, seperti sup yang dulu dibuat oleh ibunya ketika dia masih kecil.
"... Tidak, tidak! ini…?" Hinata bertanya-tanya dalam hati. Dia tidak pernah memikirkan masa depannya sebagai seorang remaja, bahkan berpikir sedikitpun dia akan bersama Naruto adalah hal mustahil. Namun, jauh di lubuk hati terdalamnya, ia tidak ingin menjadi orang munafik karena menyangkal keinginan egoisnya untuk berada di samping naksir masa kecilnya itu.
Cengkeramannya pada sendok menegang.
Sekarang, Hinata yakin akan beberapa hal. Pertama, dia kini berada di tubuh masa depannya dan ini bukanlah Ilusi semata, atau setidaknya itu yang terlihat saat ini. Dua, dia kemungkinan besar memiliki Segel Kutukan di dahinya. Tiga, dia bersama Naruto dan memiliki dua buah hati yang sangat manis.
Ketika Hinata menyelesaikan sarapannya, dia berdiri dan merapikan tempat tidur. Tak peduli di mana dia berada, si blunette itu merasa tidak nyaman di kamar yang tak dikenalnya dan meninggalkan tempat tidur masih berantakan. Kemudian setelah menarik nafas membangun keberanian, Hinata mengambil nampannya lalu membuka pintu, meninggalkan ruangan yang telah dipastikan menjadi miliknya dan Naruto.
Rumah itu sunyi. Ini sangat aneh bagi Hinata, mengingat betapa muda anak-anak. Dia mengharapkan mereka berlarian, tetapi pintu kamar mereka tertutup sehingga dia menduga bahwa mungkin mereka ada di luar bermain.
Ketika Hinata memasuki ruang tamu, dia memberikan pandangan menyeluruh kali ini, sekarang dia tak lagi percaya dia diculik. Ruangan itu lapang dengan meja kopi cokelat muda di tengah dengan dua kursi kekuningan di sekitarnya. Tapi apa yang betul-betul diperhatikan Hinata adalah cermin di sudut kanan ruangan dan dia tersentak ketika akhirnya melihat dirinya untuk pertama kali.
Seperti yang dia temukan sebelumnya, rambutnya tumbuh hingga ke bawah. Tapi juga biru gelap, tampak penuh dengan volume dan lebih berkilau. Wajahnya menjadi kurang bulat dan lebih berbentuk oval, membuatnya tampak seperti orang dewasa, matanya memiliki pandangan yang dewasa pula. Seolah-olah, itu telah melihat lebih dari sekadar kehidupannya, tetapi Hinata hampir tidak percaya dengan mata kepalanya sendiri melihat bayangannya. "Ini … Aku …?"
"..."
Dia bahkan berani menilai bayangannya sendiri "cantik", bahkan dalam pakaian piyama yang hanya berupa kaus abu-abu longgar dan celana pendek ungu-abu-abu selutut.
Wanita muda itu berjalan cepat ke cermin dan merasa terpesona dengan pantulan bayangannya. Kemudian beban di hatinya hilang ketika tangan kanannya menyisir poni rambut untuk sesaat, tidak ada Segel Kutukan. Di sanalah dia memperhatikan lemari di bawah, penuh dengan foto-foto dirinya, Naruto , Himawari dan Boruto. Yang pertama ia sadari adalah gambar di tengah yakni dirinya serta Naruto, mereka berdua mengenakan Kimono. Naruto menyeringai dan mengedipkan mata ke arah kamera, sementara Hinata tersenyum dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan. Gambar itu juga dibingkai oleh empat gambar lain, masing-masing dua di setiap sisi foto utama.
Di sebelah kanan ada foto Himawari. Di atas adalah Himawari yang masih bayi, mengangkat dirinya dengan tersenyum lebar ke arah kamera. Yang di bawahnya ada gambar dirinya dan Himawari, tersenyum sambil menggendong Himawari ke atas dan ke depan, mata biru kecil Putri Uzumaki lebar dengan rasa keingintahuan
Kemudian di sisi kiri ada gambar Boruto. Yang pertama adalah Boruto kecil, menatap kamera dari apa yang tampak seperti tempat tidur bayi, terlihat seperti berumur satu bulan pada foto itu. Gambar di bawahnya adalah Boruto dan Naruto, tersenyum sambil memegang Tanda Segel Damai.
Hinata menghela nafas dengan gemetar. Apakah ini memang adalah keluarganya?
Gambar yang lain termasuk dirinya, Sakura, Ino, dan Tenten dalam sebuah foto, mereka berempat tersenyum lebar. Kemudian foto lain adalah Hanabi dan ayah mereka, Hyuga Hiashi. Foto terakhir termasuk Neji di dalamnya, tersenyum kecil tetapi dia terlihat damai.
"Hanabi … Neji-niisan …!" Gumamnya lirih sambil terus menatap foto keluarganya dari Klan Hyuga. Hanabi - adik yang ia sayangi serta dulu begitu sangat ceria, kini lebih pendiam dan jarang tersenyum ramah. Lalu Sepupunya - sekaligus sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri, masih tidak terlalu ramah juga, namun itu semua sedikit demi sedikit mulai berubah setelah Naruto mengalahkan Neji dalam ujian Chuunin beberapa waktu lalu. Dia telah berjanji untuk membalas kekalahan dirinya, dan menepati janji tersebut yang semakin menumbuhkan rasa kagumnya terhadap ninja pirang itu. Beberapa waktu sejak saat itu, terkadang Neji mulai membantunya ketika gadis muda itu berusaha keras meningkatkan level jangkauan teknik Perisai Delapan Trigrams 64 Tapak 護 八卦 六十 四 掌守. Memang terkesan sedikit intens, namun Hinata sangat menghargai bantuan dari Neji. Gadis bersurai biru gelap itu tersenyum kecil, lalu melihat dua orang pada foto terakhir.
Itu adalah foto Hokage Keempat dan seorang wanita cantik berambut merah panjang lurus.
Hal ini mengejutkannya. Hinata tidak bisa menyangkal kemiripan antara Naruto dan Hokage Keempat, namun itu tak menjelaskan mengapa Naruto memiliki fotonya.
"Foto-foto yang cukup bagus, bukan?"
Hinata terkesiap ringan dan melihat dari balik bahunya, itu adalah Naruto. Dia berada di balkon membuka pintu kaca geser, menjulurkan kepalanya ke dalam. Hinata merasa malu karena tidak memperhatikannya, tetapi setelah dia melihat sosok Naruto, lingkungan sekitarnya langsung terdorong ke samping. Tidak tahu harus menjawab apa, Hinata hanya mengangguk pelan.
Naruto mengambil nampan dari tangannya. "Sini, biar aku saja yang mencucinya nanti."
Hinata sedikit linglung, tetapi segera ia cepat mengangguk. "Terima kasih. Umm ... Di mana Boruto dan Himawari?" Matanya yang berwarna Lavender melihat sekeliling mencari kedua anak kecil itu.
Si pirang muncul kembali dari dapur, "Oh, mereka di luar." Dia menjawab sambil berdiri di depannya. "Aku di balkon mengawasi mereka, Boruto sering mendapat masalah."
Sepertinya Putra masa depannya telah mewarisi kenakalan Naruto, Hinata menahan keinginannya untuk tertawa. "Begitu ..."
Naruto berjalan kembali ke balkon dan menoleh pada istrinya, mengisyaratkan agar ia mengikuti. Gadis Hyuga mengangguk, lalu berjalan di belakang Naruto. Dia melihat ke bawah balkon, di sana ada Boruto dan Himawari bermain permainan kejar-kejaran bersama sekelompok anak lain. Hinata tersenyum lembut melihat pemandangan ini. "Mereka sangat manis." Naruto tidak mengatakan apa-apa sebagai tanggapan, tetapi dia membuat gerakan isyarat seolah ia juga setuju.
"... Naruto-kun." Hinata tak bisa lagi menghindari percakapan yang tak terelakkan. "Aku … Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku … tapi mungkin ini nyata, bukan Ilusi …"
Terlepas dari pernyataannya, secara mental Hinata benar-benar ragu. Gadis bermanik Lavender itu menoleh ke samping untuk melihat naksir masa kecilnya. Naruto memiliki ekspresi keras di wajahnya. "Kurasa itu menjelaskan mengapa Boruto bilang kau mengira dirimu masih remaja. Ya, aku mengerti sekarang." Dia berkata dengan nada yang terdengar seolah mencoba meringankan situasi. "Yah, aku bisa mengatakan bahwa ini bukanlah Ilusi."
Merasa bersalah telah memberi Naruto beban, meskipun dia baik-baik saja dengan hal itu, Hinata berbalik dan membungkuk rendah, kepalanya tertunduk. "Maaf, Naruto-kun … Aku-"
"Hentikan. Ini bukan salahmu!" Naruto dengan cepat menghentikannya dari membungkuk, tangannya yang terbalut perban menopang pundak istrinya dengan lembut tapi kuat, suaranya tegas. "Kau adalah korban di sini, bukan aku. Aku akan membawa seseorang untuk membantu kita, jadi jangan khawatir. Kita akan menghadapi masalah ini bersama-sama, Hinata!"
Wanita muda itu berhenti membungkuk dan mendongak, mata Byakugan bertemu biru safir, jantung gadis itu berdebar kencang. Naruto memperlakukan dirinya dengan sangat manis. Dia masih berusaha menerima kenyataan bahwa ini bukanlah Ilusi, melainkan kenyataan. Sayangnya, rasa hangat di hati Hinata memudar ketika pandangannya menangkap sesuatu yang dikenakan Naruto. Tangannya perlahan menunjuk kain merah. "... Naruto-kun … Ini …"
.
" Naruto-kun …! Selamat tinggal … "
.
"...!"
Entah dari mana datangnya, gambar-gambar dan suara-suara yang menjadi satu memenuhi kepala Hinata, berputar seperti pusaran, nafasnya mulai memburu tak beraturan.
"Hm … Ini-! " Naruto akan meneruskan kalimatnya tetapi berhenti seketika itu juga saat melihat bibir Hinata bergetar, mata gadis itu terbuka lebar seakan baru saja melihat sesuatu yang mengerikan. Rasa khawatir dengan cepat menjalar di hati Sang Jinchuriki, segera kedua tangannya menahan lengan istrinya yang kini juga bergetar. "Hinata! Oy! Katakan sesuatu! … Hinata!" Suara Naruto terdengar hampir seperti permohonan, namun tidak begitu keras.
"Hinata …"
"... Naruto …-kun …!"
Hinata mengerjap-ngerjapkan matanya yang kini sedikit basah, keringat dingin mulai bercucuran di keningnya. Apa yang baru saja terjadi dan apa yang ia lihat, dia tidak bisa mengerti apa itu! Suara yang terdengar jauh sementara di saat yang lain menyerupai miliknya sendiri. Perlahan tubuhnya mulai tenang.
"Kau baik-baik saja?" Naruto dengan hati-hati memapah Hinata menuju ke dalam rumah, mendudukkan wanita muda itu di sofa pada ruang tamu. Dia bergegas ke dapur, dan kembali membawa segelas air di tangan kanannya. Si pirang duduk di samping gadis yang masih tampak terguncang, kemudian menyodorkan air itu padanya. "Ini. Tenangkan dirimu." Meskipun dalam kondisi masih syok, Blunette meraih gelas dari tangan Naruto, perlahan meminumnya.
"... Terima kasih …"
Naruto mengambil gelas di tangan sang istri dengan hati-hati dan meletakkannya di atas meja. Manik birunya memandang ke arah sosok wanita yang sangat ia cintai, merasakan gelombang kekhawatiran yang makin lama makin besar di dalam dirinya. "Hinata ..." Patrierk rumah tangga Uzumaki menghentikan ucapannya untuk sesaat, kemudian melanjutkan. "Apa yang kau lihat? Kau ingat sesuatu?"
Gadis yang saat ini pandangannya tertunduk menatap meja, kini perlahan mengangkat wajahnya, tidak tahu harus menjawab jujur atau tidak. Pikirannya masih sulit menghilangkan rasa dingin yang tidak pernah ia rasakan sebelum ini. Akhirnya, setelah beberapa saat dalam suasana hening yang tidak nyaman, dia membuka lisannya untuk memotong keheningan tersebut. "... Naruto-kun ... Kamu, jatuh ke bumi ... A-Aku sudah ..." Netra gadis itu terpejam, nafasnya tercekat.
Naruto mengambil waktu sesaat, membiarkan kata-kata dari Sang istri meresap ke dalam pikirannya, sambil masih ia perhatikan Putri Hiashi itu mencoba menghilangkan keterguncangannya. Angin dari pintu masuk berhembus memasuki kediaman Uzumaki, sayup-sayup suara dari anak-anak yang sedang bermain di luar ikut terbawa masuk ke telinga kedua orang itu. Sekian detik berlalu, pria berkumis itu lantas hanya menepuk bahu istrinya sehalus mungkin, yang segera gadis itu mendongakkan kepala. "Sudahlah. Aku tidak memaksamu untuk memberitahu jika itu sangat sulit." Naruto mencoba yang terbaik agar terdengar seakan-akan itu bukanlah masalah besar. Namun, Hinata yang berada di depannya adalah seseorang yang berbeda, dan Naruto tahu hal itu. Dia bukanlah ahli dalam menebak, tapi siapa pun yang terlibat saat itu tentu saja bisa melihat maksud Hinata.
Meskipun Hinata bisa mengatakan bahwa naksir masa kecilnya berusaha membalikkan telapak tangan, ia sendiri juga tidak bisa masuk lebih jauh lagi. ... Benarkah aku telah melakukan kesalahan itu, Naruto-kun …? Batin gadis muda itu bertanya-tanya, dan tidak ada yang menjawab selain kesunyian di dalam pikirannya. Apakah dirinya di sini telah berbuat dosa, atau apakah itu bahkan bisa dimaafkan bukanlah urusannya. Mantan pewaris Hyuga itu mencoba sebaik mungkin agar rasa dingin di dalam raganya berkurang.
"... Kau masih ingat dengan ini?" Tiba-tiba Naruto berkata memecah kesunyian yang hampir terasa seperti keabadian itu.
"... Eh …?" Mata lavender Hinata sedikit berkedip karena perkataan dari si pirang di sampingnya. Dia merasakan hatinya berdebar sekali lagi dengan cara yang aneh, dipandanginya kain merah yang menggantung di leher Naruto, lalu netranya melebar. "... Naruto-kun, tapi …" Nada suara kekagetan sang Hyuga terdengar jelas.
Naruto mengangguk pelan. "Ya," dia melanjutkan. "Kau masih ingat sebab belum terlalu lama, bukan?" Itu lebih seperti pernyataan daripada pertanyaan.
Sekali lagi, Hinata terpaku memandang syal itu, sedikit demi sedikit gambar-gambar dari suatu hari bersalju terlintas. Mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, ia memandang Naruto lekat-lekat. "Itu berarti …?" Si blunette merasakan getaran aneh menyebar di tulang punggungnya.
Naruto terdiam beberapa saat, sebelum sebuah senyuman yang tulus tersungging di bibirnya. "Yah, anggap saja seperti itu, Kau memberikan ini padaku setelah sempat hancur beberapa kali. Aku benar-benar bodoh karena sama sekali tidak melihatnya." Senyum tulus itu berangsur-angsur surut. Naruto menyandarkan tubuhnya di sofa, menarik nafas pelan.
... Aku yang membuat ini? Benarkah ... Naruto-kun?
Naruto menekan kedua jarinya di depan wajah gadis itu sambil menyeringai lebar. Tidak perlu seorang jenius seperti Shikamaru Nara agar bisa menangkap isyarat, apalagi Naruto yang mengisyaratkannya. Kesadaran membanjiri pikiran Hinata.
"..."
Tidak tahu harus berkata apa lagi, Hinata hanya bisa menempatkan kedua tangan di pangkuannya. Apakah itu berarti, Naruto memilihnya secara tulus? Ataukah semata-mata hanya kewajiban untuk menghargai? "... Kenapa, Naruto-kun …?" Bahkan ia sendiri tidak tahu dari mana dan bagaimana pikirannya menyimpulkan sesuatu yang begitu jauh. Sekarang sudah terlanjur, perkataan itu lolos dari bibirnya. Mata Byakugannya kini menatap wajah Naruto dengan campuran berbagai macam emosi, bingung, tidak enak hati, dan mungkin … rasa bersalah. "Hentikan …! Aku tidak pantas bertanya seperti ini! Tidak!!" Itulah suara-suara di dalam kepala gadis berambut biru itu.
Mungkin bagi sebagian orang lain yang mendengar pertanyaan semacam itu, mereka hanya akan tertawa dan mengatakan beberapa kata cerdas, layaknya kue yang dibumbuhi taburan gula halus di sana sini untuk sarapan. Sang calon Hokage, bagaimanapun, tidak berniat melakukannya, dalam hati ia meringis. Sekali lagi dia harus menelan paksa kenyataan, bahwasanya orang yang kini bersamanya adalah dua insan yang sama, tetapi juga berbeda di dalam benaknya. Tangan si Jinchuriki dengan gerakan halus menarik kain yang terselip di bahunya, lalu ia sodorkan syal itu. Hinata merasakan kain halus di tangannya yang saling tertangkup, lantas gadis muda itu melirik pada syal walau masih menunduk, dahinya sedikit berkerut.
"...?"
Masih tidak tahu apa yang harus ia katakan, Naruto adalah yang pertama berbicara setelah beberapa saat. Tangannya yang terbalut perban perlahan terangkat, jari telunjuk dan jari tengah ia arahkan ke depan wajah Hinata, dia terkesiap, dan menengadah dengan gigi yang terkatup.
"Apakah Kau butuh alasan untuk menyukai orang sepertiku?"
Jika Hinata pernah berpikir akan mendengar Naruto bisa berkata-kata tegas, tapi tidak seperti yang selalu dia terima dari ayahnya. Gadis itu hanya diam saat menundukkan kepala. Di sinilah dia, di depan naksirnya, tidak bisa memalingkan pandangan sedikitpun. Alih-alih tetap diam, kali ini Hinata tidak ragu-ragu untuk menjawab Naruto, tidak lagi menunduk. "... Aku ... tidak tahu, Naruto-kun. Aku, itu muncul dengan sendirinya." Sumbat tak tertahankan di tenggorokan Hinata akhirnya sirna. "Aku hanya … sulit menerima semua ini begitu cepat ..."
Maafkan aku ...
Apa yang tidak diharapkannya adalah Naruto, bukannya membentak ataupun meninggalkannya, dia malah tersenyum padanya dengan cara yang bagi Hinata menyimpan begitu banyak hal. "Kenapa kau malah minta maaf? Kau memang aneh."
"... Aah?"
"Kau tidak pernah berubah, Hinata. Selalu saja meminta maaf. Jangan bersikap keras terhadap dirimu. Aku tidak menyalahkanmu." Naruto menyatakan, kejernihan dalam suaranya lebih jelas. "Kau bahkan telah kuat meskipun saat ini secara teknis, yah ... kau tahu."
Apakah itu benar? Apakah kegagalan seperti dirinya bisa menjadi kuat? Berbicara tentang itu, Hinata tidak bisa bertanya-tanya lagi. Sangat sulit baginya untuk menerima dan meyakini bahwa ini benar-benar terjadi, apalagi dia mendengarnya secara langsung dari Naruto. Tidak bisa tidak, gadis bermata Lavender itu merasakan hatinya hangat hanya memikirkan saja.
"Ok-ke ... " Dia menunduk, meski kali ini dengan seulas senyum tipis yang hampir samar.
Merasa telah mencairkan suasana, Naruto cuma bisa menatap sosok sang istri, pandangan matanya tampak jauh. "Jadi, kau melihat cermin dan beberapa foto di meja, bagaimana menurutmu?" Tanyanya, tak sedikitpun terganggu oleh Hinata yang masih menatap syal di tangannya.
Sedikit bingung, Hinata mendongak, mata Byakugan memandang wajah pria Uzumaki sekilas lalu dia menoleh ke arah lemari di mana foto-foto tersebut berada. Satu per satu netranya mengamati masing-masing gambar, kemudian perhatiannya tertuju pada sebuah foto yang di dalamnya terdapat empat orang wanita - dirinya, Tenten, Ino, dan terakhir - Sakura. Sesuatu muncul di kepalanya, benar juga! Sejak kecil, Naruto memang menyukai Kunoichi berambut merah muda yang diam-diam juga Hinata kagumi. Dia tahu bahwa Sakura pernah pemalu seperti dirinya. Tetapi kemudian si rambut merah jambu menjadi gadis yang tangguh, tidak memakan cacian dari pengganggu lagi . Naruto benar! Dia juga ingin lebih tegas.
Hinata merasakan tangan si pirang menempel di pundaknya. Laki-laki bermata biru masih menyeringai, namun kali ini lebih halus. Entah kenapa Hinata merasa bahwa Naruto bisa mengerti apa yang ia pikirkan hanya dengan melihat Netranya. Merasa sedikit malu, gadis itu mencoba menanyakan sesuatu. "Bagaimana kabar Sakura-san sekarang?" Apakah itu terdengar gugup atau tidak, dia kurang begitu yakin.
Seringai Naruto masih tetap menempel di wajahnya, suara terkekeh ringan lolos dari lisannya. "Kau mudah untuk dibaca, kau tahu! Yah, Sakura-chan baik-baik saja, dia menjadi Master Medis di Rumah Sakit Konoha sekarang." Naruto terlihat bangga ketika dia berbicara tentang seberapa banyak temannya yang berambut merah jambu tumbuh. "Dia juga seperti bibi bagi Boruto dan Himawari."
Setidaknya kesimpulan Hinata tentang Naruto bisa menebak isi kepalanya benar. Namun, pernyataan terakhir sang Uzumaki menimbulkan tanda tanya lain di kalbu gadis berambut gaya hime itu. "Eh?" Hanya itu jawaban dari Hinata. Naruto terus berbicara,
"Ya, aku tidak akan berbohong, aku awalnya sedikit heran kenapa kalian begitu dekat. Tapi kalian menjadi teman akrab."
Aku berteman dekat dengan Sakura-san? Hinata berkedip karena terkejut, bahkan dia sendiri tidak pernah berbicara dengan Sakura. "Kami adalah teman akrab …?"
Dia menerima anggukan dari Naruto, "Kau bilang dia adalah motivasi utamamu ketika berusaha mendekatiku." Dia menyeringai. "Yah, aku selalu tahu Sakura-chan akan mencegahku melakukan hal-hal bodoh! Bayangkan saja jika aku cukup bodoh untuk mengabaikanmu." Rasa menggigil muncul saat Naruto menyebutkan kemungkinan itu.
Perona pipi menyebar di wajah gadis Hyuga. Sakura adalah orang yang paling mendukung perasaannya terhadap Naruto! Dia merasa bersalah karena tiba-tiba mencurigai kesimpulan yang telah dia pikirkan sebelumnya.
"Hinata." Naruto memanggil. "Mari kita keluar. Kau sudah tidak apa-apa, kan?" Sebagai balasan Hinata hanya mengangguk, kemudian berjalan mengikuti si pirang. Sinar matahari pagi tidak terlalu menyengat sebab awan tipis menghalangi, sementara bagian langit di sekeliling begitu cerah saat mereka berdua kembali ke balkon. Mata berwarna lembayung si rambut indigo memandang ke atas, pada gedung-gedung Konoha kemudian dia mendongak lebih jauh dan akhirnya melihat monumen Hokage. Ternyata Keluarganya tinggal dekat dengan monumen.
Semua ukiran Hokage terdahulu masih ada, yakni Hashirama, Tobirama, Sarutobi, Hokage Keempat, sementara itu ada tambahan ukiran wajah Nona Tsunade, kemudian Kakashi. "... Guru Kakashi menjadi Hokage keenam?"
"Begitulah," jawab Naruto. "Banyak hal telah berubah di sini di Konoha sejak asal waktumu."
Hinata memandang Naruto dengan heran. "Berubah ...?"
Naruto mengangguk padanya, "Ya, banyak hal yang telah terjadi dan kini desa ini jauh lebih terbuka untuk orang-orang."
Gadis Hyuga balas mengangguk padanya dan kembali menatap Monumen Hokage."Hm?" Hinata berkedip beberapa kali, lalu tersentak. Tepat di samping wajah Kakashi, ada setengah wajah yang masih diukir. Aneh dalam kenyataan bahwa itu dibangun dari dagu, tetapi meskipun demikian, wajahnya ada di sana. "Naruto-kun, wajah siapa itu?"
"Wajah Hokage Ketujuh!" Suara Naruto penuh kebanggaan. "Ukiran itu akan selesai dalam waktu sekitar tiga bulan, mereka bilang bagian rambutnya adalah yang paling lama."
Hinata memiringkan kepala sedikit bingung, namun sekaligus senang. Dia berharap Naruto akhirnya akan mencapai tujuannya sejak kecil. "Siapa Tuan Hokage Ketujuh-?" Hinata hendak mencoba bertanya, tapi si pirang memberinya seringai konyol yang membuatnya sedikit linglung. "... N-Naruto-kun?"
Naruto menunjuk jarinya pada Ukiran Monumen, lantas mata Hinata mengikuti ke mana arah yang ditunjuk, kemudian tangan naksirnya terbuka. ... Dan tangannya mengepal saat menghantam kaos oranye di dadanya.
Hinata langsung menangkap kode tersebut, tangan kanan gadis itu menutupi mulutnya. "... Ohh ...?! Naruto-kun, kamu ..."
"Tidak," jawab Naruto. " Ini sebagai penawaran, tapi aku ingin menunggu sampai wajahku selesai dibangun sebelum menjadi Hokage berikutnya. Aku merasa ada banyak hal yang harus kupelajari." Dia memandang Hinata. "Dan ketika aku menerima posisi ini secara resmi, aku akan sering sibuk. Ya ampun … Himawari kadang memberiku mata biru berkilaunya agar aku memperpanjang masa promosiku."
Hinata sedikit terkikik. Jadi Naruto adalah seorang Daddygirl ketika datang ke putrinya.
Dia melihat kembali ke bawah untuk memeriksa apa yang sedang dilakukan anak-anak sekarang. Mereka masih bermain dan sepertinya Himawari yang mengejar, kecepatan permainan berubah sehingga gadis kecil itu bisa mengikuti mereka semua. Dan ketika Hima berhasil menangkap orang yang dia kejar, Naruto berteriak bangga. "Wow, kerja bagus, Himawari!"
Himawari mendongak dengan senyum lebar di wajahnya, "Berhasil, Papa!" Lalu matanya yang biru melihat Hinata. "Ohh! Selamat pagi, Mama!" Dia melambaikan tangan kecilnya.
Sedikit terkejut, Hinata kemudian tersenyum dan balas melambai. "Selamat pagi!"
Gadis muda Uzumaki berlari sedikit lebih dekat sehingga dia tidak perlu berteriak, sekarang meninggalkan permainan yang sedang dia mainkan. "Mama, kamu merasa lebih baik?"
Hinata bahkan tidak yakin bahwa jawaban untuk pertanyaan itu bersifat positif. "Umm … ya." Dia tidak perlu khawatir dengan putrinya yang menggemaskan. "Mama sudah lebih baik sekarang!"
Senyum di wajah Himawari menyebar di wajahnya, "Kalau begitu, bisakah kamu bermain denganku hari ini seperti yang kamu janjikan?!"
Hinata memandang Naruto. "Apa ini tidak apa-apa?" Dia tidak yakin apakah akan baik-baik saja dengan kondisinya sekarang, tetapi keraguannya melayang keluar jendela ketika Naruto memberinya senyuman persetujuan. Hinata kembali menoleh ke putrinya. "Hai!"
Himawari berlari menuju ke dalam rumah. Hinata merasa senang, dia tidak sabar untuk terikat dengan putrinya. Dia kemudian melihat Boruto, "Boruto ingin bermain bersama kami juga?" Dia memanggil, ingin merasakan ikatan dengan putranya juga.
Boruto memandangi teman-temannya dan kemudian ibunya. Dia tidak ingin tampak seperti ''anak kecil'', tetapi dia khawatir pada peristiwa yang terjadi sebelumnya. Ibunya tidak mengenalinya. Tapi ibunya tampak normal sekarang. "Hei, sampai jumpa, Shikadai." Dia akhirnya berkata kepada sahabatnya, Shikadai Nara. Bocah itu terlihat sedikit menguap.
"Ya," bocah berambut hitam itu melambai malas. "Aku akhirnya bisa tidur." Seperti ayahnya, Shikadai biasanya malas dan ingin tidur. Satu-satunya alasan dia bahkan bermain karena Boruto juga mengajaknya bermain.
Anak pirang itu mencibir betapa malas temannya dan kemudian berlari menaiki tangga yang mengarah ke rumahnya.
ー
"Ahh aku takut!" Himawari berteriak dengan gembira dan menarik Hinata ke kamarnya saat Boruto mengejar mereka, sambil meraung.
Hinata ingin tertawa, tetapi dia berteriak ketakutan untuk menghibur putrinya.
Permainan yang akhirnya mereka mainkan adalah petak umpet dan Sang Putri, dan Hinata merasa seolah-olah mereka telah memainkan permainan ini sebelumnya karena Boruto mengerang dengan jengkel ketika Himawari menyarankannya. Namun mereka akhirnya bermain dan Hinata menyukai ini. Dia mengganti pakaiannya juga, melepas piyama lalu kini mengenakan blus ungu muda dan capris biru. Naruto sedikit bermain dengan mereka sebentar, tetapi kemudian dia pergi, menimbulkan kekecewaan anak-anak. Namun mereka bersorak gembira ketika Hinata menggelitik dagu mereka dan permainan dimulai kembali.
"Lari, Mama! Kak Boruto datang!"
"Aku berlari secepat yang aku bisa, Himawari!"
"Ghroaaah!! Aku akan memakanmu karena aku suka gadis kecil, muwaha ha ha!"
Himawari menjerit. "Tidaaaak!!"
Hinata terjatuh dengan dramatis saat Boruto melompat dan mendarat di pangkuannya. "L-Lari Himawari, sang monster," Hinata menarik napas perlahan. "Dia … menangkapku!"
"Mama, tidaaakk!" Himawari menangis, berusaha menarik Hinata dari genggaman Boruto.
Boruto tertawa jahat, "Sekarang giliranmu, gadis kecil!" Dia menyelinap di atas tubuh 'mati' pengawal sang putri dan berjongkok ke arah Himawari. "Bersiaplah untuk dimakan!"
Kemudian pintu depan berderit terbuka, Boruto dan Himawari menghentikan permainan mereka secara otomatis. "Ayah!" Boruto berteriak saat berlari keluar dari kamar Himawari dengan penuh semangat.
"Papa!" Himawari juga berlari keluar. "Ayo, Mama!"
Hinata mengangkat dirinya dari lantai, tersenyum hangat ketika dia memandang sosok Boruto dan Himawari yang berlari ke depan pintu. Itu hanya beberapa jam, tetapi mereka sudah mulai memiliki tempat di hatinya. "Saya datang." Dia berjalan ke lorong dan mulai menuju ke ruang tamu, ketika dia mendengar suara.
"Hai, Bibi Sakura." Kata Himawari.
"Oh! Halo, Himawari-chan." Suara seorang wanita menjawab. "Kamu semakin cantik setiap kali aku melihatmu."
Kemudian Boruto menyapa seseorang, "Hei, Paman Shikamaru."
"Shikadai bilang kamu mengajaknya bermain." Jawab seorang pria.
"Ya!"
"... Shikamaru-kun ...? Sakura-san ..." Hinata akhirnya memasuki pintu ruang tamu.
Selain Naruto, Boruto dan Himawari ada dua orang dewasa tambahan. Pria dan wanita.
Rambut merah muda dan mata zamrud wanita itu sangat menonjol
Dia mengenakan atasan qipao merah serta celana panjang putih. Dan di samping wanita itu pada dasarnya adalah replika seorang pria yang dikenal sebagai Shikaku Nara.
Hinata menahan napas saat wanita itu melambai, "Hei, Hinata!"
Ini adalah penampilan orang dewasa dari teman-teman sekelasnya — Sakura Haruno dan Shikamaru Nara.
・
Jika kalian bertanya bagaimana saya masih bisa mengenali warna dan deskripsi seseorang ... pertama, ayolah! I'm not that dumb, homies ;-). Kedua, anggap saja Dissability saya mirip dengan Masamune tapi lebih buruk dalam tanda kutip, haha!
Maaf jika ada typo, saya berusaha secepat mungkin dalam mengedit ini di PONSEL!! :D. Entah kenapa Fanfiction tidak bisa mengupload file Docx dari MSW di ponsel, terpaksa deh pake format HTML sebagai file upload, jadinya semua cetak miring dan spasi hilang. Sampai jumpa di bab berikutnya!
