Naruto memiliki seorang dosen lajang, namanya Kakashi. Dia mengajar kelas filsafat yang sangat mengagumi tulisan-tulisan kelam Edgar Poe. Setiap mengajar dia selalu membawa novel-novel detektif dan Raven tidak pernah absen dari daftar buku di meja mengajarnya. Kakashi dikenal mahasiswa fakultas sebagai dosen kematian. Bukan karena dia kejam, malah setiap selesai mengajar dia akan selalu meminta salah satu murid mendefinisikan makna kematian dan kesendirian. Banyak rumor tentang dosen yang selalu pakai masker itu. Ada yang bilang dia bunuh mantan pacarnya karena ketahuan selingkuh, bekas luka di matanya karena perkelahian berebut perempuan dan Kakashi membunuh saingan nya dengan segenggam batu lalu menembak perempuan yang direbut. Pokoknya rumor tentang dosen itu buruk semua. Tapi Naruto melihat Kakashi seperti kakak, dosen itu kerap mengajak Naruto makan ramen dekat kampus. Dan beberapa akhir ini. Naruto menyadari jika dosen itu menaruh hati pada dirinya.

Naruto teringat jika Kakashi punya rumah warisan ayahnya (ini pun tak lepas dari rumor kalau ayah Kakashi pengedar narkoba dan mati bunuh diri gara-gara malu) dan tidak ditempati. Kakashi memilih menyewa apartemen lain dekat universitas. Naruto bertanya apakah rumah itu bisa dia sewa.

Rumah itu terdiri dari dua lantai. Lantai pertama dulunya kedai kopi yang dikelola ayahnya. Di depannya ada taman kecil dan pohon cemara tinggi mencolok. Ketika Desember tiba pohon cemara akan dihias pernak-pernik natal dan mulai dari 25 desember sampai malam tahun baru dibuka pasar malam di sekitar pohon yang menarik minat orang-orang untuk merayakan natal. Memang di hari-hari normal kawasan itu sepi, tapi Naruto punya firasat lokasi itu bagus untuk memulai bisnis bar yang sudah lama ingin dia wujudkan. Lantai dua bisa digunakan untuk tempat tinggal. Jadi Naruto bisa berhemat dan karena dekorasi kedai kopi tidak begitu berbeda dengan bar, dia tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk biaya renovasi.

Setelah dia mendapati kejadian mengejutkan di rumahnya sendiri. Naruto tinggal seminggu di tempat Nagato baru menelpon Kakashi untuk meminta ijin menyewa rumah di Aoyama. Naruto dengar Kakashi berniat menjual rumah itu karena terlalu repot merawat rumah tersebut. "Bisakah aku menyewa rumah itu dan membayar sewa per bulan?"

"Apa yang terjadi Naruto? Semua baik-baik saja?" Kakashi bertanya.

"Aku berpikir sekarang saat yang tepat untuk hidup mandiri."

Naruto pernah cerita tentang kecanggungan hubungan dia dan ibunya sejak kematian Minato. Waktu itu keduanya minum setelah Naruto membantu Kakashi menilai tugas para mahasiswa lain. Sejak semester empat, Naruto menjadi asisten dosen Kakashi dan mendapat berkat posisi itu nilai di kampusnya cukup baik, bahkan Kakashi membantu Naruto menyusun skripsi. Dia cuma menceritakan sedikit tentang itu pada Kakashi, jadi dosen nya cuma tahu garis luarnya. Naruto tidak menceritakan alasan dia pindah dari rumah orang tuannya.

"Kamu boleh menempatinya gratis. Anggap saja perawatan rumah itu sebagai biaya sewa."

Naruto bimbang. Tawaran itu menggiurkan, tapi dia tipe yang tidak suka banyak bergantung orang lain. Apalagi Kakashi sudah banyak membantu di kampus dan dia berusaha menjaga jarak agar tidak terlalu dekat. "Uang keuntungan bar akan ku bagi setengah denganmu, tapi mungkin untuk dua bulan pertama pemasukkannya mungkin sedikit."

Kakashi menghela napas, Naruto bisa mendengarnya. "Lakukan apa yang kamu suka. Nanti aku akan berkunjung mencicipi koktail racikan buatan mu."

"Ditunggu."

Naruto menggunakan setengah dari tabungan nya untuk mengubah kedai kopi menjadi sebuah bar. Karena furnitur semacam meja dan kursi sudah ada, Naruto melengkapi alat-alat kebutuhan meramu koktail dan berkat koneksi Nagato, Naruto bisa membeli macam jenis merek minuman dengan harga miring. Dia membeli pemutar piringan hitam dan membawa koleksi musik milik ayahnya (setelah kematian Minato, Naruto membawa koleksi musik ayahnya ke rumah Nagato dan ibunya tidak bertanya soal itu). karena pemutar milik ayahnya rusak, Naruto membeli yang baru dengan merek yang sama Thorens, dia juga membeli ampli Luxman dan speaker JBL. Harganya memang mahal, tapi karena tidak perlu membayar sewa, Naruto pikir itu pengeluaran yang pantas. Seminggu pertama dengan bantuan Yahiko kelompok band Akatsuki yang jadi langganan bar Nagato, bersama Naruto membangun bar di rumah Aoyama.

Bar itu diberi nama Kurama. Nama itu diambil seekor rubah yang tinggal di rumah seorang filantropi di dekat taman kecil depan bar. Tampaknya orang tajir itu punya banyak rubah dan semuanya dilatih jinak, bahkan karena kedekatan nya dengan pengurus kota seekor rubah diperbolehkan berkeliaran bebas di taman. Rubah bernama Kurama itu sering Naruto lihat tertidur seakan hidupnya dimaksudkan untuk itu di bawah cemara. Minggu pertama dia buka, tidak ada satupun pelanggan, tapi dia tidak terganggu. Lagipula dia belum mengiklankan tempat itu, atau memasang tanda yang menarik. Dia menunggu sabar orang yang mungkin tertarik dengan bar di depan taman pohon cemara. Dia masih memiliki sisa tabungan dan Naruto bukan tipe yang perlu makan banyak. Asalkan ramen tersedia di lemari penyimpanan itu cukup. Hidup sendirian rupanya membuat hidup Naruto menjadi lebih berwarna. Dia bisa mendengar musik tanpa merasa sungkan, membaca buku apa yang dia suka bahkan perkembangan tulisannya sejak tinggal sendiri kini sedang menyusun novel perdananya. Saat sendirian di rumah Aoyama sambil mendengar musik, Naruto serasa berada di tengah oasis gurun. Semuanya serba sunyi, sunyi dan sunyi. Tidak ada kehidupan dan hanya dia kehidupan di kesunyian itu. ini mempengaruhi gaya cerpen nya dan Itachi semakin memuji Naruto berkat kedalaman tulisannya. Naruto dan sulung Fugaku itu masih menukar pesan. Dia kerap meminta nasihat soal saham meski belum berani mencoba bisnis itu. sejak kejadian Kushina, hubungan mereka tetap sama bahkan Itachi tampaknya tidak tahu apa-apa tentang kejadian itu.

Selama menulis dalam kesunyian, bayangan Kushina sering menembus pelindung dalam kepalanya. Ada satu cerpen yang dia tulis untuk mereka emosi tentang kejadian itu. Naruto tidak marah tentang Kushina yang mengkhianati dengan bermain dengan laki-laki lain. Mungkin itu karena dia Cuma anak perempuan, bukan seorang suami. Dan hubungan yang sudah renggang sejak kematian Minato semakin menambah apatis terhadap Kushina.

Mungkin itu cara ibunya mendapatkan kehangatan? Mungkin ibunya membutuhkan sosok kesatria lain seperti Minato? Karena belum pernah merasakan kehidupan seorang istri, Naruto tidak bisa menemukan jawaban. Dia Cuma mengandai-andai membayangkan apa yang dirasakan wanita itu, meski sulit dan kadang membuat kepalanya sakit. Apa nanti kalau aku bersuami aku akan jadi seperti itu? mencari kehangatan yang kosong bila suami tidak di rumah karena urusan dinas?

Naruto membayangkan kehidupan rumah tangga macam apa yang mungkin akan dijalaninya. Selama ini dia tidak mempermasalahkan asmara. Dia tidak pernah pacaran, tapi pernah tidur dengan laki-laki lain. Itu pun karena alasan ingin tahu soal rasanya seks. Waktu itu bersama Kiba teman satu tim lari di SMA, keduanya pergi ke hotel cinta dan memesan kamar secara patungan. Tidak jelas awal mulanya, pokoknya sehabis latihan sore, keduanya pergi ke daerah Kabukicho. Malam itu mungkin tidak mudah dilupakan. Kiba yang canggung, bahkan saat Naruto mengijinkan menyentuh payudara nya dia masih tidak tahu harus berbuat apa. terlepas dari itu, Kiba laki-laki menyenangkan dan penuh cerita yang mungkin cuma bualan, tapi mereka teman dekat bahkan setelah malam aneh itu. kabar terakhir yang Naruto dengar tentang pecinta anjing itu sekarang seorang atlit lari nasional dan punya pacar yang kelihatannya wanita baik-baik.

Setidaknya seks pertama ku lebih baik dari ibuku yang diperkosa. Aku bersama dengan laki-laki yang ku kenal baik sedangkan ibuku dipaksa melayani nafsu bejat laki-laki asing.

1

Rubah bernama Kurama itu aneh. Hewan itu tidak pernah mau menerima makanan dari orang-orang yang lewat. Tapi ketika Naruto memberikan sepotong daging, rubah itu langsung saja memakannya. Saat Naruto mendengarkan musik sendiri, Kurama sering mengintip dari jendela seakan tertarik. Suatu hari Naruto membiarkan rubah itu masuk dan memberinya makan dan susu. Kurama lebih besar dari rubah normal dan warna bulunya lebih cerah seperti emas. Ada ketertarikan aneh yang Naruto tidak paham, saat bersama Kurama menikmati musik, Naruto seperti bersama anggota keluarga yang telah lama hilang. Bahkan dia pernah bermimpi menjadi seorang laki-laki ninja yang menjalani kehidupan keras dan bercita-cita menjadi ninja terhebat di desa tempat tinggalnya. Kurama disana menjadi iblis yang ditakuti dan disegel dalam tubuh Naruto, tapi Naruto sendiri tidak melihatnya sebagai iblis melainkan teman.

Mimpi itu tidak terjadi sekali, cukup sering dan berkat itu dia menulis cerita bersambung dari apa yang dialaminya dalam mimpi.

Sejak kemunculan Kurama di sekitar bar nya. Pengunjung mulai berdatangan. Meski tidak seramai bar Nagato, sehari pasti ada sedikitnya lima pelanggan dan Naruto puas. Kurama juga sering berkunjung malah menginap. Dan dari sinilah pria robot itu mulai datang secara teratur, yang kelak dia tahu namanya adalah Shisui.

2

Mungkin hari itu sulit dilupakan Naruto. Cuaca gerimis yang tidak bisa kau rasakan sehingga sulit apakah kamu membutuhkan payung atau tidak. Hanya tiga pelanggan di bar, Shisui dan dua pria berjas. Pukul setengah tujuh malam seperti biasa Shisui muncul langsung memilih tempat duduk kosong di bawah anak tangga. Sudah meminum bir, membaca sebuah buku sambil menikmati racikan wiski yang diminum sedikit-sedikit. Kedua pelanggan lain duduk di sebuah meja, minum sebotol Malbec. Mereka membawa botol itu bersama mereka dan bertanya genit apa Naruto mau bergabung satu meja. Untuk awalnya Naruto bisa memaklumi, bekerja magang dengan Nagato dia pernah melihat pelanggan semacam itu. Naruto menyiapkan semangkuk kacang pesanan kedua orang itu.

Rokok adalah penyebab awal ketidaksukaan nya, memang Naruto merutuk tidak ada larangan merokok, tapi memasang larangan semacam itu di bar adalah hal yang aneh. Nagato sendiri membuat tempat outdoor sehingga orang bebas merokok, jadi tidak masalah. Sedangkan bar kecil Kurama tidak bisa begitu. Jadi dengan rasa muram, Naruto melipur diri dengan lagu Celine Dion yang menggetarkan relung kesedihan.

Pada awalnya itu rokok dan semua baik-baik saja. mereka sedikit ramai, tapi masih bisa dimaklumi. Tetapi kemudian suatu perbedaan pendapat dan cekcok untuk beberapa topik yang apa itu Naruto tidak tahu. Laki-laki berbadan besar seperti atlet basket membalik meja, mengirim asbak dan gelas pecah. Botol menggelinding, menumpahkan sisa anggur di dalamnya.

Naruto buru-buru mengambil alat pembersih menyapu kekacauan, dia meletakkan kembali meja.

Shisui (meski saat itu Naruto tidak tahu) jelas menunjukkan raut jijik melihat kekacauan oleh dua pria berjas. Dia masih duduk anteng, tapi sorot hitam matanya tidak menipu. Dia mengetukkan jari-jari tangan kirinya dengan ringa di atas meja. Aku harus membereskan kekacauan ini, pikir Naruto. Dia pergi ke kedua orang dan berkata sopan, "aku minta maaf, tapi bisakah kamu sedikit mengecilkan suara mu?"

Pria membalik meja kini menatapnya. Raut dingin dan tidak segan menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah. Laki-laki yang lain jauh lebih pendek, tapi raut nya licik dan tipe yang menghasut orang lain agar berbuat sesuatu untuk dirinya seorang. Dan tidak segan pula membuang orang lain jika tidak berharga. Naruto menyadari kedua laki-laki akan berniat buruk, meski dia belajar bela diri, laki-laki dibawah pengaruh minuman bisa jauh lebih mengerikan.

"Apa urusanmu wanita? Mau ikut campur urusan laki-laki?"

Naruto menyadari kalung emas yang terlihat dari kancing kemeja bagian atas yang sengaja dibuka. Lalu Rolex asli perak menujukan kelas yang dimiliki pria berbadan besar. Yang satu juga menujukan kelas nya. Tapi menurut Naruto gaya pakaian mereka norak dan terkesan kampungan meski ingin menujukan kalau mereka punya banyak uang. Mungkin mereka Yakuza yang sebenarnya. Apapun itu, pekerjaan mereka bukan pekerjaan orang terhormat.

"Permisi?"

Naruto berbalik mendapati Shisui berdiri di belakangnya.

"Jangan salahkan dia. Dia hanya pemilik bar kecil, aku yang meminta untuk membuat kalian berdua sedikit tenang. Aku tidak bisa membaca buku gara-gara suara kalian."

Suaranya tenang, tapi Naruto merasakan ketajaman dingin dan permusuhan yang halus.

"aku tidak bisa membaca bukuku," ejek laki-laki pendek sambil terkekeh dan mengulang ucapan Shisui.

"Apa kamu tidak punya rumah?" tanya si besar.

"Punya. Aku tinggal di dekat sini."

"Lalu kenapa tidak pulang dan membaca di rumahmu sendiri!"

"aku suka membaca disini."

Kedua pria itu bertukar pandang.

"Serahkan buku itu! aku bisa membacakan nya untukmu."

"aku lebih suka membacanya sendiri dengan memaknai kata-katanya dalam-dalam," kata Shisui. "aku tidak suka jika kamu salah mengucapkan kata-katanya."

"Siapa namamu pria lucu!" ucap si pendek.

"Shisui," katanya. "kalau ingin lebih tahu 'shi' ditulis dengan kanji 'mati' dan 'sui' dengan kanji 'air'"

"Berhati-hati dengan air orang lucu, mungkin nyawamu bisa melayang hanya karena tercebur ke selokan."

"Ide bagus, mungkin aku juga harus berhenti mandi juga?" ucap Shisui santai bermaksud melucu tapi tidak di mata Naruto atau kedua orang itu."

"Nah, bagaimana kalau kami antarkan kau ke kolam ikan dekat rumah rubah? Kami bisa menunjukkan kau lubang jalan yang bisa membuatmu tersandung dan jatuh lalu mati konyol di makan ikan koi," kata pria lebih kecil.

"Menarik," kata Shisui. "aku selalu menghindari rumah itu karena kolamnya. Tetapi sebelum kau tunjukkan caranya bagaimana kalau kau bayar minumanmu? Bar ini baru buku dan kasihan jika gadis itu harus menutupi kerugian gara-gara kalian."

()