==Disclaimer==
Bungou Stray Dogs hanya milik Asagiri Kafka dan Harukawa Sango. Cylva tidak mengambil keuntungan apapun dari karya ini.
Warn : BL, Lemon, Some Abusive Content, Typo.
02. Hope
Rasa makanan terakhir di ingatan Chuuya adalah sebuah dorayaki pemberian sang kakak yang ia makan sejam sebelum diculik. Perjalanannya dari ruang hias menuju panggung untuk tampil tidak jauh, sungguh. Hanya berjarak beberapa tikungan lorong dan tangga besi lalu kelip mewah panggung maha besar tersaji untuknya. Tapi mengapa— bagaimana bisa dengan mudah seseorang membuatnya pingsan dan membawanya ke sini?
Chuuya tertidur selama perjalanan lalu terbangun di atas kursi kayu dengan pakaian panggung dan sendi gerak terikat tali tambang. Ketika itu ia bertekad menerjang siapa saja yang membuka pintu di hadapannya. Meskipun pria itu setinggi seratus sembilan puluh, ramping, dengan rambut hitam tipis yang membingkai wajah pucat tirus.
Chuuya ingat waktu itu ia terkejut, terutama saat melihat tatapan kosong yang terpancar di kedua bola mata hitamnya. Ketika langkahnya hampir sampai pada Chuuya, aroma darah tercium pekat. Chuuya merasakan seluruh saraf berguncang menampilkan alarm bahaya ketika pria itu dengan pisau berlumur cairan berlutut di hadapannya. Chuuya tidak ingat apa yang terjadi kemudian selain fakta bahwa itu adalah waktu ia diperkosa.
Dan kini sudah dua belas hari, ia kembali duduk di tepi tempat tidur setelah memuntahkan semua makan malam yang dipaksanya masuk ke tenggorokan beberapa jam lalu.
Dua belas hari. Sungguh!
Apa yang dilakukan agensinya saat ini? Dimana para polisi yang seharusnya mencari? Kenapa tidak ada yang mendobrak pintu dengan senjata lengkap dan membawa Chuuya kembali ke atas bumi? Ia ingin pulang.
Detik air mata Chuuya jatuh ke pipi, pintu diketuk. Ia lantas menyeka aliran sungai kecil menutup rasa terkejut. Ia tidak mendengar gerendel, ia tidak mendengar langkah berat yang menyeret-nyeret. Sebuah ketukan.
Di saat seperti ini ia harus apa?
Keadaan mengatakan pada Chuuya bahwa ada seseorang yang meminta izinnya untuk masuk. Jika Chuuya berkata, "Masuk," bukankah sama artinya dengan menerima kalau ruangan pengap ini adalah kamarnya dan ia mengizinkan seseorang untuk masuk?
Ketika ketukan kembali terdengar, Chuuya menguatkan volume dan menghilangkan jejak-jejak getaran tangis dari suaranya. "Masuk."
Knop dibuka dan seorang yang masuk membuat Chuuya sekali lagi terkejut. Banyak sekali kejutan malam ini, namun yang ini benar-benar menakjubkan. Chuuya tidak menyangka akan bertemu lagi dengan figur yang membuat langkahnya berhenti di lorong.
Dalam sorot serbuk-serbuk cahaya bulan yang menembus ventilasi, Chuuya bisa melihat rambut ikal bergerak lembut ketika ia membungkuk. Sepasang permata hazel tampil kemudian membuat darahnya berdesir. Cahaya bulan tampil di dasarnya, sementara kegelapan malam mengelilingi garis coklat dalam iris nan indah.
"Kau siapa?"
"Aku orang yang bertugas memenuhi seluruh kebutuhanmu selama disini."
Tanpa tutur sopan— sebenarnya Chuuya terkejut seorang dengan setelan seformal itu berbicara dengan amat santai. Jika tugasnya melayani, seharusnya ia memanggil Chuuya dengan sebutan Tuan, bukan? Apa orang itu yang menyuruhnya?
Baiklah Chuuya tidak ambil pusing tentang peraturan yang diberikan pada pelayan itu. Lagipula ia tidak terganggu oleh sikap informal disertai suara merdu yang membuai. "Jadi untuk apa kau kesini?"
"Mengganti bed cover-mu." Dia melirik kasur yang berantakan dengan matanya. "Pasti kotor kan?"
Chuuya langsung mengigil ketika kata-kata itu memutar ingatan tentang hal yang terjadi pagi tadi. Tubuhnya seperti disayat di seluruh tempat, ia sakit.
"Maaf.. Perkataanku membuatmu tidak nyaman?"
Sekuat tenaga Chuuya mangatur napas, "Tidak.." Chuuya menegakkan diri membelakangi kursi kayu yang tidak berubah sejak ia meninggalkannya untuk mandi pagi tadi. "Silahkan lakukan tugasmu."
Pelayan itu beralih ke lemari tiga pintu di sisi kamar dan menarik selembar seprai putih dari salah satu tumpukannya Sementara Chuuya yang masih bergetar bersandar pada nakas. Trauma melarangnya untuk tidak menyentuh kursi yang ada di tengah-tengah ruangan. Chuuya berharap sebuah kepekaan, namun ternyata sang pelayan juga tidak berniat menyingkirkannya.
Ketika pria itu memulai pekerjaan, Chuuya mencoba mengisi sepi sekaligus mengusir rasa penasaran, "Kenapa kau tidak menggantinya ketika aku pergi?"
"Karena aku tidak bisa melakukannya ketika kau pergi makan malam," si pelayan sama sekali tidak mengubah fokus dari menarik ujung-ujung kain seprai.
"Itu aneh." Chuuya mengintrupsi ketenangan yang terjadi. "Kenapa begitu? Dia tidak mengizinkanmu melakukannya? Seharusnya, kalau dia pintar, kalau dia sangat-sangat— terobsesi denganku, seharusnya dia tidak biarkan aku bertemu orang lain." Kalimat Chuuya penuh penekanan karena ia terguncang ketika mengatakannya. Menunggu, ia menatap sosok Pelayan dengan bingung, seperti menuntut jawaban yang ia sendiri yakin Pelayan itu tidak tahu apa jawabannya.
"Aku juga tidak mengerti," sang Pelayan membalik diri dan berhadapan dengan Chuuya. Senyum terbit di wajahnya. Tipis dan lembut, seperti sebuah hal yang membuat dada Chuuya ditekan rasa rindu. "Mulai saat ini, kau bisa menyuruhku melakukan apapun, Chuuya."
Tangan Chuuya meremas kancing kemeja yang membungkus dada. Entah apa sebab bagian itu begitu sesak, begitu hangat, seperti sebuah harapan dijatuhkan surgawi tepat di sana. "Apapun?"
"Itu tugasku," senyum yang melebar menjadi tawa memperlihatkan deretan gigi putih yang rapih. Pelayan itu kemudian melanjutkan, "memenuhi semua kebutuhan Nakahara Chuuya, itu tugasku."
Chuuya terdiam. Terpesona sekaligus terkejut. Sungguh ia tidak tahu akan ada orang yang menyebut nama aslinya di tempat seperti ini. Selama debut, nama Chuuya hanya menjadi Chuuya, tanpa marga. Cukup aneh, tapi entah mengapa ia tidak mempermasalahkannya, malah merasa senang orang itu mengucap namanya.
Tapi lebih dari kebahagiaan yang melanda, saat ini ia perlu melihat ke lingkaran lain. "Apapun?" pelayan itu menjawab dengan anggukan. Chuuya mengecilkan suara, dilanda sebuah gelombang keraguan maha dahsyat sampai tubuhnya bergetar hebat. "Termasuk keluar dari sini?"
Tidak ada respon. Sang pelayan tetap pada posisinya, tetap pada senyumnya, tetap pada sorot mata kopi yang menuju tepat ke iris biru sang artis. Sementara di kepala Chuuya tengah ada ketakutan yang sahut menyahut.
'Bagaimana jika dia menolak?'
'Bagaimana kalau dia melapor pada bosnya dan pria itu akan menyakitiku tanpa henti?'
'Bagaimana kalau dia langsung melayangkan kepalan tangannya ke kepalaku?'
'Bagaimana jika di balik jas hitamnya ada sebuah pisau yang sedetik lagi akan ditembak ke jantungku?'
Lidah Chuuya kelu, liur akibat gugup ditelan berkali-kali untuk membasahi kerongkongannya yang kering. Sekarang ia menyesal telah melemparkan satu pertanyaan bunuh diri. Ruangan senyap sekali sampai-sampai Chuuya bisa mendengar detak jantungnya yang begitu cepat alih alih detik jam dinding. Kenapa waktu berjalan begitu lama? Kenapa seluruh udara menjadi dingin dan membuatnya kaku katakutan menatap ubin?
"Apapun permintaanmu, Chuuya."
Mata Chuuya melebar.
Satu kalimat itu menghentikannya dari menunduk dan kini dengan iris samudra yang berbinar cerah ia menatap seseorang di depannya. Harapannya. Penyelamatnya.
Chuuya kembali menelan ludah, "kau— kau.. Kau yakin?"
"Itu tugasku."
Seluruh gugup runtuh dari bahu mungil yang detik ini berhenti bergetar. Chuuya mengepal tangan di sisi-sisi celananya, menahan air mata yang hendak jatuh dengan menatap langit langit.
"Ini seperti mimpi."
"Meski begitu.." Suara sang pelayan memanggil Chuuya untuk kembali menatap senyumnya. "Pria itu bukan orang biasa, Chuuya."
Chuuya terdiam. Ya, tentu. Seseorang yang menculik dan menyekap artis terkenal seperti Chuuya selama dua belas hari tanpa ketahuan tidak mungkin orang biasa-biasa saja. Chuuya paham, ia sangat paham sampai seluruh nadinya terbakar karena ragu dan cemas.
"Namun apapun itu, aku memenuhi permintaanmu sebisaku. Tentu. Percaya padaku, akan kulakukan apapun."
"Jangan.." Jika ini adalah situasi dimana Chuuya berdua dengan orang itu di sebuah meja bundar dengan vas, piring steak, dan segelas anggur merah di antara mereka, pasti Chuuya akan bahagia sampai berlinang air mata. Namun sekarang, Chuuya tidak ingin lagi. "Jangan lakukan apapun untuk diriku.." Ucapnya. "Banyak hal yang terjadi.. Aku tidak ingin sebuah obsesi lain muncul tertuju padaku."
"Jangan khawatir." Jemari pria itu mengangkat dagu Chuuya sebagai gestur kalau ia ingin kembali bertatapan dengan mata birunya. "Aku hanya menjalankan tugasku. Kalau dibilang obsesi, mungkin ini lebih seperti obsesi seorang perfectionis."
Wajah riang yang ia buat diiringi pernyataan lembut bernada tanya, membuat Chuuya tertawa. Pertama kali setelah dua belas hari. Pertama kali ia lupa tentang seluruh hina yang ia terima di tubuhnya. Chuuya tertawa.
To Be Continued
See You~
Cylva
