Dari seorang penulis awam yang mencoba menuangkan isi kepalanya pada dunia fanfiksi, Kuharap akan menjadi cerita yang panjang. Aku mencoba membangun duniaku sendiri dan ceritaku sendiri yang ingin kuceritakan dengan pelan kepada kalian. Terima kasih banyak ya sudah membaca yang prolog pertama dan memberikan review.


Satu setengah bulan.

Itu adalah waktu yang telah Naruto habiskan untuk memulihkan luka tubuhnya secara penuh dan selama itu pula Naruto masihlah tinggal bersama dengan kakek Garfil. Kakek Garfil adalah orang yang ramah jika mau mengenalnya lebih baik lagi. Dia gemar sekali menceritakan kisah masa mudanya yang sering membuat Naruto terpukau karena kakek Garfil nyatanya telah berpetualang ke banyak tempat namun akhirnya harus menetap pada hutan terlarang untuk menjaga sesuatu.

Ya, hutan yang mana Naruto berada memang merupakan hutan terlarang yang tidak boleh dijamah oleh siapapun. Ada semacam pelindung kuno yang dibuat oleh kakek Garfil untuk melarang orang luar masuk dan entah bagaimana caranya Naruto bisa menembusnya ketika dia terbawa arus sungai. Pelindung kuno yang dibuat oleh kakek Garfil dikatakannya sangat sempurna dan kakek Garfil juga keheranan dengan Naruto karena tubuhnya bisa menembus pelindung yang dia buat.

Bicara tentang kakek Garfil. Dia adalah seorang penyihir agung. Eksistensi yang dikatakan legenda yang hanya ditemui pada buku-buku sejarah pada dunia ini. Kakek Garfil tidak pernah menceritakan apa yang dia jaga di hutan terlarang ini dan Naruto rasa dia juga tidak berhak bertanya untuk itu karena dia hanyalah orang yang diselamatkan oleh kakek Garfil itu sendiri.

Terkadang kakek Garfil bertanya seperti apa kehidupannya di kerajaan. Naruto sendiri hanya bisa menjawab berdasarkan ingatan dari pemilik tubuh ini sendiri karena dia memang tidaklah tinggal pada dunia ini sebelumnya. Naruto hanya mengatakan hal-hal yang baik-baik saja yang dialami oleh pemilik tubuh ini karena buruknya kehidupan yang diterima oleh pemilik tubuh ini sebelumnya beberapa tidaklah pantas untuk diceritakan. Dia mungkin hanya mengatakan kekurangan dari pemilik tubuh ini sebelumnya tapi selain itu tidak. Meski begitu, sekalipun Naruto bercerita, sesekali Naruto bisa lihat kakek Garfil menatapnya dengan lebih dalam namun ketika Naruto menyadarinya, kakek itu akan berselimur dengan kelakar yang lainnya.

Tinggal selama satu setengah bulan bersama kakek Garfil tidaklah buruk. Ketika seminggu kemudian luka Naruto telah menutup dan dia bisa berjalan, Naruto setidaknya ikut dengan kakek Garfil dalam mencari bahan makanan di hutan. Hutan terlarang ini banyak pohon-pohon besarnya tapi sedikit sekali semak-semaknya. Hal yang tidaklah lumrah untuk ukuran hutan tapi Naruto hanya menganggap itu tidaklah penting karena mungkin seperti itulah karakteristik hutan pada dunia ini. Lagipula banyak berbagai tumbuhan yang tidak Naruto ketahui sebelumnya pada dunianya yang lama dan dia menemuinya disini. Ketika itu pula dia harus belajar tentang tumbuhan-tumbuhan hutan dimana dia diberi tahu oleh kakek Garfil mana yang bisa dimakan dan mana yang tidak. mendapat pengetahuan seperti ini rasanya menyenangkan juga.

Kakek Garfil sendiri meskipun tubuhnya kurus namun dia tidaklah bungkuk. Dia terlihat seperti masih sehat dengan jalannya yang masih tegak dan janggut putihnya memang panjang yang Naruto pikir cocok untuk dirinya sebagai seorang penyihir agung. Kakek Garfil sangat menyukai jamur dan jamur memang mudah ditemukan di hutan tapi kakek Garfil lebih menyukai jamur Eriar namanya. Itu adalah jamur yang bisa dibilang menyerupai jamur kuping namun warnanya putih bersih. Rasanya juga lebih enak meskipun hanya direbus dengan sayuran liar yang kemudian diberi bumbu sederhana seperti tumbukan bawang liar atau irisan jahe. Jangan berharap garam untuk menambah rasa asin karena itu tidaklah mungkin didapatkan dihutan jadi kakek Garfil mengganti rasa asin dengan rasa manis dari madu yang dia dapatkan dari lebah liar yang dia panen dan dia simpan.

Dalam satu setengah bulan Naruto tinggal bersama kakek Garfil, rasa keakraban mulai terjalin diantara mereka berdua. Rasa hangat dari kakek Garfil dan peringainya yang luwes membuat Naruto cepat menerimanya dan terkadang membandingkannya dengan mendiang ibu panti yang dahulu merawatnya. Naruto dulu adalah yatim piatu dan dia dirawat pada sebuah panti asuhan. Dia adalah orang yang dekat sekali dengan ibu pantinya dahulu bahkan dia sudah dianggap ibu sendiri hingga kemudian kecelakaan menimpa ibu panti dan ibu panti harus meninggal pada saat Naruto berusia lima belas tahun. Meninggalnya ibu panti membuat Naruto sangat bersedih dan dia berubah menjadi penyendiri hingga saat dia berusia tujuh belas tahun kemudian, dia keluar dari panti karena dia sudah bisa mencukupi kebutuhannya sendiri sampai kemudian dia bisa masuk ke universitas dengan beasiswa hingga kemudian dia mengenal Hinata dan selanjutnya hanyalah kejadian yang berakhir menuntunya pada keadaannya sekarang.

Lupakan kisah kelam tadi karena kini Naruto kembali bercerita tentang kakek Garfil dimana untuk sekarang Naruto merasa dia menganggap kakek Garfil seperti kakek yang tidak pernah dia miliki. Tidak ada rasa tidak nyaman ketika Naruto bersama kakek Garfil dan Naruto mungkin berharap dia bisa tinggal terus bersama dengan kakek Garfil ini. Dia pernah mengutarakan hal ini kemarin malam dan itu hanya dijawab dengan tolakan halus oleh kakek Garfil yang mengatakan bahwa di usianya yang masih muda, terperangkap dalam satu rutinitas hanya akan membawa penyesalan untuknya.

Naruto mengerti bahwa kakek Garfil mungkin mengingikan Naruto untuk kembali pada keluarga yang dia miliki tapi sayang keluarga yang benar-benar dia anggap keluarga pada dunianya yang baru ini hanyalah kakek Garfil. Hanya kakek ini yang dia temui ketika membuka mata kembali, yang merawatnya hingga sembuh dan memberinya penjelasan pengetahuan tentang dunia ini ketika sesekali dia bertanya. Meski begitu Naruto mungkin akan mempertimbangkan kata-kata kakek Garfil padanya.

Lalu hari ini ketika Naruto menghitung hari selama dia telah tinggal bersama kakek Garfil, Naruto yang kini tengah memegang sebuah ranting pohon yang cukup besar mencoba mengayunkannya beberapa kali sendirian. Dia mencoba gerakan berpedang yang telah dipelajari oleh tubuh ini dan ingatan yang masuk kepadanya. Pemilik tubuh ini meskipun hanya memiliki sirkuit [Mana] yang hanya berjumlah 30— Hal yang menjadikan pemilik tubuh ini dikatakan sebagai anak yang gagal sejak lahir— nyatanya pemilik tubuh ini dahulu adalah seseorang yang menekuni seni berpedang. Meski Naruto sendiri dulunya bukan seorang ahli berpedang tapi dengan memori yang ada dan mungkin ingatan dari tubuh ini sendiri perlahan tapi pasti Naruto mulai menguasai seni berpedang pada dunia ini dan mencoba membekali dirinya untuk bertahan hidup pada dunia sihir ini sekarang.

Ayun.

Tebas.

Ayun.

Tebas.

Naruto setelah sembuh selalu mencoba melakukan ini dan terkadang tenggelam dalam waktu. Meski dia tidak punya pedang asli ataupun kayu, Naruto masih bisa melakukannya dengan ranting yang sedikit besar. Mungkin bobotnya sedikit lebih berat dari pedang normal tapi dia sekarang sudah terbiasa. Lagipula dia melakukan gerakan seni berpedang ini bukan semata sebagai latihan saja tetapi juga sebagai ajang uji coba dimana terkadang dia mengaplikasikan [Mana] pada setiap ayunan atau tebasan yang dia lakukan untuk menimbulkan tenaga yang lebih besar lagi. Dengan mengalirkan [Mana] secara sedikit, menimbunnya sebentar dan melepaskannya secara mendadak akan memberikan tenaga yang jauh lebih besar. Dia menamai teknik ini dengan nama [Burst]. Pengaplikasian [Mana] seperti ini mungkin terbilang sudah biasa terlihat pada Manga yang pernah dia baca selama hidup namun anehnya belum ada yang melakukannya pada dunia ini karena dunia ini lebih terpaku pada rapalan mantera untuk melakukan sihir. Bahkan jika seorang ahli sihirpun pasti tidak akan melakukan ini entah kenapa.

Ketika Naruto sedang asyik mengayunkan ranting seperti biasa, mungkin dia tidak memperhatikan bahwa kini kakek Garfil tengah melihatnya. Dia baru menyadarinya ketika dia berhenti untuk menyeka peluh pada dahinya dan melihat sekitar.

''Eh kakek.'' Kata Naruto ketika dia melihatnya. Dia tersenyum padanya sambil duduk.

''Kau sedang berlatih berpedang?'' Tanyanya dan Naruto menjawab dengan anggukan malu. Mungkin karena jika dikatakan latihan pedang akan lebih baik jika dilakukan dengan pedang asli. Sementara dia? Dengan ranting.

Kakek Garfil tertawa kecil ketika melihat tingkah Naruto yang malu-malu. Dia berdiri dan seperti biasa, tongkatnya selalu tidak lupa menemaninya. ''Meskipun kau hanya menggunakan ranting. Jangan malu berkata bahwa kau melakukan gerakan berpedang. Lagipula gerakanmu tadi kulihat luar biasa sampai menimbulkan gelombang kejut. Bagaimana caramu melakukannya dengan ototmu yang terlihat tidak besar itu?''

''Aku menggunakan [Mana]?'' Kata Naruto yang menimbulkan naikan alis pada wajah kakek Garfil.

''Oh? Kau menggunakan mantera penguat tubuh?''

''Eh tidak.'' Sanggahnya dengan cepat disertai gelengan kepala. Menggunakan Mantera penguat tubuh itu lebih memakan banyak [Mana] lagipula. ''Aku mengalirkan [Mana] pada kedua lenganku, menekannya lalu melepaskannya secara mendadak untuk menghasilkan momentum yang lebih besar?'' Naruto menjelaskan sebisanya namun dia lihat wajah kakek Garfil terlihat terkejut setelahnya.

''Kau... Kau melakukan apa?'' Kakek Garfil melihat dengan seksama kedua lengan Naruto yang dia rasa masih terlihat normal. ''Kau tahu apa yang kau lakukan itu sangatlah bahaya?'' Ujarnya yang membuat Naruto sendiri juga terhenyak dengan ucapan kakek Garfil.

Bahaya darimananya? Ini sangat efisien dan terlihat tidak berbahaya baginya namun kakek Garfil menghela nafasnya. Kurasa mencoba menjelaskan. ''Apa yang kau lakukan akan melukai dirimu sendiri jika kau sampai salah dalam memperhitungkan jumlah [Mana] yang tersalurkan karena [Mana] bukanlah sesuatu yang bisa dikontrol dengan mudah.'' Garfil berkata demikian sembari tangannya melambai ke atas. ''Ventum.'' Ujar kakek Garfil dan Naruto lalu bisa merasakan angin berdesir. Kakek Garfil tengah menggunakan rapalan tadi. ''Mantera membantu untuk menyampaikan sihir agar terlaksana. Itu lebih baik dan tidak akan melukai dirimu sendiri. Itulah alasannya kenapa tidak ada yang menggunakan caramu itu Naruto. Kau lebih baik menggunakan mantera penguat tubuh.''

''Tapi aku bisa melakukannya dengan mudah.'' Naruto rasanya kukuh masih mencoba menyanggah kakek Garfil. Naruto paham apa yang kakek Garfil jelaskan padanya dan dia mengerti itu tapi ada satu hal yang membuatnya bisa melakukan ini dengan mudah. ''Aku bisa melihat aliran [Mana] milikku mengalir dan aku bisa memperkirakan berapa jumlah yang diperlukan.'' Naruto lalu memberikan contoh dengan sedikit menjauh dari kakek Garfil. Mengalirkan sedikit [Mana] pada lengannya, menimbunnya dan melepaskannya sembari dia melakukan ayunan dengan ranting yang kemudian menimbulkan gelombang kejut. Dengan percaya diri lalu Naruto melihat kakek Garfil yang terdiam terpaku disana.

''Naruto...'' Kakek Garfil terbata. Telunjuk tuanya mengarah padaku. ''Matamu... bersinar?''

''Eh?'' Naruto menyentuh bagian dekat matanya. Dia memang tidak memperhatikan matanya ketika dia melakukan ini tapi dia memang tanpa sengaja bisa melihat aliran [Mana] memang setelah mencoba menarik [Mana] nya sendiri untuk digunakan. Lagipula disini tidak ada cermin dan alhasil Naruto memang tidak bisa memperhatikan itu sampai kakek Garfil sendiri yang mengatakannya karena baru kali ini memang Naruto melakukannya dengan pengamatan cermat dari kakek Garfil.

''Ya. Jika diamati lebih baik, matamu memang sedikit memancarkan sinar ketika kau tadi melakukan teknikmu.'' Kakek Garfil memandangku dengan serius sekali. ''Kau punya berkah ternyata Naruto dibalik kekuranganmu.'' Naruto memang menceritakan tentang keadaan dirinya yang mempunyai sirkuit sihir dibawal normal. ''Katakan padaku sejak kapan kau bisa melakukannya?''

''Sejak beberapa hari lalu?'' Naruto berkata jujur pada kakek Garfil dan kakek Garfil mengamatinya lebih lama dan kemudian kembali ke tempatnya tadi duduk mengamatinya saat Naruto tadi berlatih pedang. Sebuah batang pohon yang telah tumbang menjadi alas duduk dari kakek Garfil dan kakek Garfil menyuruh Naruto datang mendekat dan duduk disampingnya dengan menepuk-nepuk sebelahnya.

Naruto menurut pada kakek Garfil dan setelah dia duduk, kakek Garfil tersenyum kecil padanya. ''Hey Naruto. Bisa kupegang tanganmu?'' Tanyanya pada Naruto dan Naruto tanpa ragu kemudian kemudian menyerahkan tangannya karena hidup selama ini dengan kakek Garfil telah membuat Naruto sepenuhnya percaya pada kakek Garfil dan kakek Garfil lalu menyentuh tangan Naruto kemudian memejamkan matanya.

Entah apa yang dilakukannya tapi dia memejamkan matanya cukup lama. Naruto tidak merasakan apapun dari kakek Garfil dan tidak ada rapalan mantera atau sihir disekitar. Kakek Garfil hanya memejamkan matanya saat ini dan Naruto kemudian melihatnya membuka mata setelah beberapa lama dan kakek Garfil kemudian secara tiba-tiba mengelus pucuk kepala Naruto lalu berkata sesuatu.

''Jadilah pemberani dan sabar Naruto.''

''Huh?'' Hanya itu yang bisa dikatakan Naruto karena kata-kata kakek Garfil tadi membuatnya bingung. Jadi pemberani dan sabar? Apa maksudnya? Naruto tidak mengerti tapi jika kakek Garfil berkata seperti ini dan jika dia membandingkan hal ini dengan apa yang diingatnya pastilah apa yang diucapkan oleh kakek Garfil berhubungan dengannya. Apalagi dengan apa yang barusan dilakukannya dan mungkin saja kakek Garfil melihat bagaimana masa depannya dan berkata demikian?

Terkaan itu rasanya seperti lelucon saja ya dan Naruto dengan segera mengusir pikiran tadi karena hal itu tidak mungkinlah terjadi karena jika punya kemampuan melihat masa depan, itu sudah terlalu kuat namanya.

Mungkin ini hanyalah tingkah aneh dari kakek Garfil padanya yang sering dia lakukan selama Naruto tinggal bersamanya. Hidup sendirian selama ini dalam kurun waktu yang jelas terlalu lama tentu bisa melakukan hal ini padanya hingga terkadang dia bisa melihat kakek Garfil yang menerawang langit dengan pandangan kesepian.

'Kau tidak sendiri lagi kek.'

'Ada aku yang menemanimu disini.'

'Ketika aku terlahir kembali. Ketika pemilik tubuh ini juga dikucilkan oleh yang ada disekitarnya, takdir membawa kami untukmu. Meskipun nanti aku kau suruh berpetualang, aku pasti akan kembali kesini lagi untuk menemui.'

'...Kau sekarang adalah bagian dari keluargaku sekarang.'

Naruto pernah berpikir demikian dan dia sekarang kemudian hanya mengikuti kakek Garfil yang mulai bercerita tentang suatu hal lagi padanya. Mungkin tentang petualangannya dahulu.

Dalam keadaan hutan yang damai. Naruto mendengarkan.