Kedua tangannya masih gemetar, bagaimanapun Izuku baru saja mengirim seorang lelaki ke dunia lain. Sebagai manusia, secara tidak sengaja dia telah sedikit membantu tugas Tuhan mencabut nyawa. Nyawa adalah berkah dunia, mencabutnya bukan perkara sepele. Seperti terkena cipratan bensin yang meninggalkan bau menyengat, Izuku masih dapat merasakan bagaimana nyawa lelaki itu melayang. Tetapi inilah tugas seorang watchdog, dan meski berkali-kali sudah melakukannya, rasa bersalah kerap muncul memeluknya seperti penyakit. Ketika luapan negatif itu menjerumus begitu dalam, Izuku akan kembali mengingat alasan lelaki itu pantas dibunuh. Seperti pria bernama Honda barusan, dia bajingan yang memanfaatkan jaringan untuk melindunginya dari hukum. Lelaki yang tampak beradab tapi menyembunyikan kebusukan belatung. Seorang suami yang tega memukuli istri hingga tulang rusuknya patah.
Watchdog ada untuk menghabisi orang-orang bangsat semacam itu.
Remaja 15 tahun itu butuh relaksasi. Izuku memutuskan menuju hotel di daerah Okubo, sebelum kembali ke Musutafu, tidur nyaman di rumah kecilnya. Dia perlu secangkir kopi untuk menenangkan sarafnya.
Izuku menimbang-nimbang sejenak, masih belum terlalu larut dan jalanan cukup ramai. Dia belum percaya menggunakan taksi sejak kejadian kemacetan tadi sore. Izuku berpikir jalan kaki bukan pilihan buruk, jaraknya kurang dari satu kilometer dan dia bisa melihat pemandangan pusat Kabukicho yang menawarkan surga hiburan malam.
Setelah mengambil kembali tas di loker stasiun, Izuku keluar melalui pintu yang mengarah langsung ke Kabukicho. Dia mengambil jalan sentral yang dipenuhi orang-orang lalu lalang. Sebagai pusat hiburan, meski waktu menunjukkan larut malam pun, jalanan di Kabukicho tetap dijumpai banyak pro patroli. Ada dua agensi cukup populer di sekitar Kabukicho, Aphrodite dan Black cat. Kedua agensi itu diolah oleh pro hero perempuan yang menonjolkan penampilan, cocok dengan tempat semacam Kabukicho. Izuku tersenyum-senyum sendiri. Sekali lagi raut mukanya yang ketika tersenyum memberi kesan aneh, beberapa orang jadi salah tingkah dan ada diantara mereka pura-pura tidak melihat agar terhindar dari kesialan. Tentu dia tidak bisa membendung rasa senangnya, ketika berpapasan dengan pro yang sedang patroli dan melihat secara langsung Quirk yang baru dikenalnya, dorongan tertentu yang selalu dia berusaha tekan seperti berusaha menjebol untuk keluar.
Saat pelatihan, ayahnya tidak pernah mengajari cara kegunaan Quirk itu, tapi dia diajari untuk menahan gejolak dorongan gara-gara Quirk itu.
Untuk saat ini aman.
Sebagai distrik pusat hiburan dan roda ekonomi, aktivitas patroli berbanding lurus dengan aksi kriminal. Penjambretan, maling kendaraan, perkelahian, pencurian dan aksi-aksi kecil semacam itu sudah hal biasa terjadi, dan di situlah pro hero ada untuk patroli. Tapi di sinilah perbedaannya, sama seperti aksi kriminal kecil-kecilan, pro hero yang patroli hampir semuanya jenis yang tidak begitu terkenal. Mereka yang tergabung dalam agensi umum atau sidekick agensi besar yang lebih banyak terjun ke lapangan. Sedangkan yang sudah duduk di kelas atas semacam pro peringkat 50 ke atas, tetap berpatroli, tapi tidak sering terlihat. Tentu kondisi ini bukan patokan, Endeavor contohnya. Calon pro nomor satu itu kadang menangani kasus pencurian motor bahkan perkelahian pemabuk, tapi karena sikapnya yang dingin, aksinya tidak mengundang kerumunan manusia yang ingin mengabadikan ke dalam ponsel. Berbeda dengan bosnya Hawks, sekali mengepakkan sayap, orang akan berebut minta foto bersama.
Penjahat-penjahat besar yang menimbulkan kerusuhan masal bisa dihitung jari. Sama halnya dengan kemunculan All Might menangani sebuah kasus. Jadi untuk malam ini sama seperti malam-malam lain Cuma 1% kemungkinan terjadi sesuatu yang besar. Mungkin Stain termasuk kategori lain, dan dia sudah menyelesaikan persembahannya di Kawaguchi, entah kota mana lagi yang jadi targetnya.
Di dekat museum Samurai, terjadi insiden yang diawali perkelahian remaja yang berbuntut kerusakan beberapa toko di sekitarnya. Tampaknya salah satu remaja punya Quirk yang memperbesar lengan dan mungkin karena pengaruh minuman, aksinya menjadi lebih liar. Dua pro yang Izuku tidak kenal berhasil mengamankan situasi dan polisi datang tak berselang lama. Seperti masyarakat tauladan, Izuku memberi tepukan kepada para pro yang menjaga keamanan lingkungan.
Izuku berpapasan dengan beberapa sidekick yang antusias melakukan patroli, beberapa ada yang dikenalnya tapi mereka tidak satupun mengenal Izuku. Ya itu bagus, biarlah semua mata menyorot Hawks, dia cukup bahagia sebagai manajer yang mengurusi surat penggemar.
Keluar dari gemerlap Kabukicho, menyeberang jalan Syokuan Izuku masuk ke dalam jalan tikus di sebelah Family mart. Tujuannya adalah Hotel Akasa di jalan nomor 30. Rute ini adalah jalan tercepat. Meski disebut gang, masih bisa dilalui mobil satu arah. Semakin masuk ke dalam, keramaian mulai berkurang. Tidak ada tanda-tanda mencurigakan juga, Izuku melihat sekeliling dengan tatapan antusias, sudah lama dia tidak jalan-jalan sesantai ini di Shinjuku apalagi malam hari. Sebuah kedai kecil menarik perhatiannya, kedai kopi yang dikelola seorang pria berkepala botak. Ada tiga pengunjung dan semua para pekerja kantoran yang sedang menikmati waktu santai sesudah bekerja dan sebelum pulang untuk menemui masalah baru disana.
Apakah aku pernah bermimpi menjalani hidup sesederhana itu? jika dipikir-pikir Izuku ragu dulu pernah memikirkan masa depan. Sejak kecil, Izuku sadar dia berbeda dengan anak lain. Pertama fakta Qurikless sampai dia berusia 10 tahun. Di masa masyarakat Quirk mendominasi, Quirkless bukan sebuah pilihan menyenangkan. Meski negara berusaha meminimalisir diskriminasi, sifat manusia yang kadang meremehkan hal yang tidak sempurna jauh lebih kuat dari sebuah perangkat aturan tertulis.
Waktu berusia empat tahun, Ibunya membawa ke sebuah klinik dan seorang dokter mengatakan dia Quirkless setelah serangkaian tes. Ibunya menangis karena tahu masa depan anaknya suram. Izuku? Dia kecewa jelas. Dia waktu itu punya mimpi sama seperti anak lain menjadi pahlawan, tapi Quirkless? Mimpi itu tiba-tiba menjadi apel busuk yang jatuh dari tangkai pohon. Tapi ada satu yang tidak diketahui ibunya, kekecewaan itu hanya muncul secara singkat. Beberapa hari berikutnya, Izuku seperti tidak merasa Quirkless adalah hal yang mengganggu. Aku Quirkless? Ya sudahlah mau diapakan lagi?
Izuku menjalani hari-hari biasa. dia masuk sekolah dan anak-anak yang tahu dirinya Quirkless perlahan memulai perundungan. Tidak masalah, mau mereka melihatku apa.
Masuk ke kelas lima itu menjadi titik perubahan dalam hidupnya. Bertemu seorang bocah laki-laki yang menarik tangannya hingga dia bermimpi basah terlalu dini. Ibunya meninggal karena kecelakaan dan ayahnya tiba-tiba muncul setelah sepuluh tahun tanpa kabar. Tapi dari semua itu, Izuku nyatanya bukan Quirkless. Quirknya hanya terlambat muncul.
Kakek kedai itu mendongak dan melihat Izuku. Dia mengangkat tangan seolah berkata 'halo' atau 'mari masuk'. Izuku membalas dengan anggukan sebelum kembali berjalan. Dia memasuki lorong sempit yang memisahkan jalan 7 dan 5. Ada bau alkohol menyengat, dan suara geraman samar. Izuku pikir dia akan menemukan sosok mabuk di tengah jalan dengan masih memakai seragam kantoran dan menyapa orang-orang tanpa sadar apa yang keluar dari mulutnya. Jika ada pro yang kebetulan lewat, orang semacam itu beruntung. Tapi siapa pro yang mau patroli di gang-gang sempit semacam ini? Apalagi kasus Stain masih hangat dibenak banyak orang.
Ya... jika aku bertemu Stain, paling dia melihat aku hanya remaja kaya yang tidak berbahaya. Lagipula Stain tidak pernah menyerang masyarakat sipil.
BOMMM
Atau bukan Stain yang menunggunya di gang sempit ini.
Dia berhenti. Matanya memendar sekeliling sebelum terkunci sebuah gedung dua lantai yang berada 10 meter dari tempat dia berdiri. Ada papan menunjukkan gedung itu sebagai kantor percetakan. Tiba-tiba aroma aneh tertangkap indra penciuman nya yang tajam dan berikutnya suara tembakan sebanyak lima kali.
Bang... bang... bang... bang... bang...
Bunyinya seperti arena menembak di pasar malam. Tapi sekarang itu bukan permainan. Melainkan tindakan kriminal.
Lalu jendela dari lantai dua gedung itu pecah, menghamburkan kaca seperti debu tertiup angin.
Ya, meski bukan pahlawan secara resmi, dia tetap harus melakukan sesuatu.
1
Tangan laki-laki gemuk itu gemetar. Jari-jari telapak tangan kanannya basah bukan main dan selalu berkali-kali gagal menekan panggilan 911. Dalam hatinya Nakamura mengumpat kesal, ini harusnya tindakan yang bisa dia lakukan dengan tenang. Sebagai satpam dia sudah dilatih berkali-kali dibawah tekanan untuk bertindak secepat dan seefisien mungkin. Tapi aksi di lapangan berbanding terbalik dengan pelatihan, saat ini nyawanya bisa dengan mudah melayang jika sekali saja bertindak ceroboh dan sifat alami Nakamura yang berusaha menghindar masalah sehingga hidup sepanjang 40 tahun berlangsung damai. Jadi kenapa laki-laki macam dia mau menjadi satpam?
Pertama dia bodoh, bukan tipe yang mengandalkan otak dan nilai akademisnya pas-pasan. Dulu sewaktu mudah fisiknya bagus dan pernah menjuarai lomba lari SMA tingkat daerah. Quirknya juga tidak bisa diandalkan, kemampuannya hanya sebatas mempertajam penglihatan dan merubah warna bola matanya menjadi hitam bila digunakan. Nakamura menyadari dia tidak bisa berharap muluk-muluk seperti cita-cita kebanyakan orang menjadi pahlawan. Ayahnya meninggalkan rumah sewaktu dia masih bayi dan ibunya buruh di pabrik pembuatan bekal kemasan. Jadi dengan segenap kepasrahan, dia mendaftar menjadi satpam. Tapi Nakamura masih menggunakan sedikit otak yang dikaruniakan Tuhan secara tidak ikhlas, dia memilih tempat kerja yang kemungkinan minim aksi kekerasan sehingga dia tidak perlu mempertaruhkan nyawa jika ada orang bodoh yang main penjahat-penjahat. Dua puluh tahun tuntas hidupnya damai, meski gajinya kecil dia sanggup memberi apartemen murah punya istri pendiam nan baik dan bayi laki-laki kecil yang sangat dia cintai.
Setidaknya satu jam lalu hidupnya akan mengalir tenang seperti sungai Edogawa dan tiba-tiba topan datang diawali pintu lantai bawah jebol dan disusul bunyi tembakan. Nakamura waktu itu ada di lantai dua berniat buat kopi di kantin kantor. Bunyi asing yang selalu berusaha dia hindari menampar pipinya untuk membangunkannya dari tidur lama dan kembali bekerja. Dia Cuma punya pentungan dan pistol bukan duet yang cocok untuk berkelahi. Nakamura masuk ke dalam ruang bos bersembunyi di balik meja kerjanya yang tidak cocok untuk kantor percetakan kecil. Ada gosip diantara karyawan kalau bosnya licik menggelapkan uang perusahaan bersama akuntan kantor yang sama-sama bermuka tikus. Tapi meja itu kini melindungi tubuh besarnya. Nakamura meraih ponsel nya dan baru akan memanggil bantuan, pintu ruangan didobrak dan tembakan dimuntahkan memecah kaca tepat di atasnya.
Penjahat masuk ke ruang bos. Memegang senjata entah keduanya atau hanya satu orang. Nakamura tidak berani mengintip, tapi dia bisa merasakan betul kematian sedang berjalan mendekat.
"Dimana kau pak satpam? Kami ingin bermain-main denganmu," suaranya serak, mengingatkan Nakamura badut yang pernah ditontonnya bersama istrinya waktu masih pacaran tapi sama sekali tidak mengundang tawa.
"Mungkin dia sedang di toilet," yang ini cempreng seperti pita suaranya tertekuk.
"Ya, lalu dia terkencing-kencing sekarang. Ayolah kita rusak yang lain."
Dilihat dari situasi, para penjahat ini cuma mengamuk dan mengacaukan. Tidak ada tanda-tanda pencurian dan itu semakin membuat dia tahu, kekacauan ini tidak akan berlangsung sebentar.
Lagi-lagi bunyi tembakan dari ruang lain, mungkin kantin kantor dan suara meja terbalik disusul pecahan kaca jatuh ke lantai. Nakamura berdoa sambil memaki jika nyawanya melayang dan gugur di tempat kerja, seberapa besar pun uang yang diberikan istrinya nanti, dia harap cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang tak pernah ada kata selesai. Dia berdoa agar anaknya kelak tumbuh dan sama seperti ayahnya, tidak banyak menuntut dan menghormati ibu.
Tuhan mendengarkan dan dua penjahat itu kembali ke ruang dimana Nakamura menjadi alim untuk pertama kali dalam hidupnya. Mereka akan memeriksa dibalik meja, atau menembak langsung dan akan melihat darah mengalir menggenang.
Oh tuhan! Yesus! Budha! Apapun namamu, kalau aku selamat malam ini. Anak dan istriku tidak lagi hidup seperti sekarang. Aku akan banting pulang kalau perlu sampai mati dan ku pastikan masa depan baik untuk mereka berdua!
Dan Tuhan sekali lagi mendengarkan. Doanya dikabulkan oleh sosok yang melompat masuk dari lubang jendela. Nakamura tidak sempat melihat, tapi kelebatan kecil itu menyerang salah satu penjahat. Ada jeritan dan makian, lalu disusul bunyi komputer jatuh ke lantai. Tembakan menyusul kemudian tapi tidak berlangsung lama jeritan kembali terdengar, kali ini cempreng lalu bunyi berdebum dalam disusul kesunyian aneh seperti kuburan.
Ada suara berisik dari jauh, mungkin itu penjahat lain di lantai bawah. Apa semua sudah selesai? Apa tadi itu pahlawan? Oh semoga itu pahlawan. Bukan penjahat lain. Akhir-akhir ini, banyak perkelahian geng yang meski sudah diurus para pro, seakan seperti semut, tidak pernah berakhir dan itulah kenapa Nakamura mendapat jam malam.
Saat Nakamura dengan gemetar dan rasanya kandung kemih akan bocor, dia memberanikan diri untuk merangkak lalu mengintip. Ada sosok tergeletak dengan darah mengalir. Apa dia mati? Nakamura mengaktifkan quirk dan menemukan dada penjahat itu masih naik turun. Ada perasaan bersyukur aneh yang dirasakan olehnya.
Lalu pandangannya beralih ke sosok yang tadi muncul dari jendela seperti hantu. Dia tampak seperti remaja dengan pakaian mahal yang salah tempat. Tubuhnya kecil tapi pisau di tangannya dengan noda darah sangat tidak cocok dengan tampilan nya. Sesaat Nakamura benar-benar yakin kalau dia sedang terlibat perkelahian antar geng.
"Kamu baik-baik saja?" sosok itu bicara, suaranya seperti anak remaja tapi dengan tekanan yang aneh dan sama sekali tidak cocok untuk remaja. Dia membelakangi Nakamura, tapi Nakamura merasa ada mata di punggungnya. "Sudah memanggil bantuan?"
"A-ah a-aku baik-baik saja," seperti dikejutkan listrik tegangan tinggi, Nakamura mendapatkan kembali kemampuan bicara. "A-apa dia mati?" sial kenapa dia peduli dengan pengacau itu!
"Tidak... tapi mungkin akan mati jika tidak cepat-cepat dirawat. Aku membuat mereka lumpuh... panggil bantuan dan tetap disana," sosok remaja itu bahkan tidak menoleh sama sekali dan keluar dari kantor bosnya. Meninggalkan dia sendiri dan dua penjahat yang sudah tamat riwayatnya.
Sesaat Nakamura kembali mengingat masa-masa pelatihan nya. Satu sosok pelatih yang galak dan merasa memiliki otoritas paling tinggi meski dia cuma pelatih senam. Dia tidak ingat nama guru itu, tapi guru itu punya ketenangan sesuatu yang menakutkan dan setiap kata-katanya adalah perintah yang harus dikerjakan. Bahkan meski sekilas ada dorongan untuk membantah, ada insting di dalam dirinya untuk melakukan perintah itu. sama seperti herbivor yang menghadapi karnivora.
Remaja misterius tadi mengingatkan pada pelatihnya dulu.
2
Tidak sulit, memanfaatkan serangan dadakan, Izuku mengambil belati dan menyerang pemegang pistol duluan. Pro hero dilarang membunuh selagi bisa melumpuhkan dan tidak ada aturan cara melumpuhkan. Izuku dengan luwes memotong pergelangan tangan dan pistol jatuh sebelum sempat digunakan. Pria itu tersungkur menjerit memaki meratapi tangan buntung dan darah mengalir seperti pipa bocor. Rekannya memelarkan tangan lalu melemparkan benda apapun dalam jangkauan ke arah Izuku. Ini juga tidak sulit, dia menghindar. Izuku meraih pistol di lantai lalu menembak dada dan menghindari bagian vital. Lawan seketika tersungkur. Bergerak maju ke pria jangkung bermulut mancung mendorong sebelah kaki ke punggung dan menarik kedua lengan ke belakang diakhir bunyi nyaring menyakitkan. Satu penjahat pingsan yang lain berusaha bangkit meski pucat dan buntung tangannya. Izuku tidak perlu banyak membuang tenaga, sekali tendangan ringan dia ikuti pingsan mengikuti rekan senasib.
Masih ada tiga orang di lantai bawah dan seorang mendekat ke tempat ini, Izuku berharap yang terakhir adalah pro hero.
"Kamu baik-baik saja? sudah memanggil bantuan?"
Satpam itu kelihatan cukup baik, tapi terlalu takut untuk mengambil tindakan cepat. "A-ah a-aku baik-baik saja, A-apa dia mati?"
"Tidak... tapi mungkin akan mati jika tidak cepat-cepat dirawat. Aku membuat mereka lumpuh... panggil bantuan dan tetap disana," kalau kau mati para pengacau ini akan kubuat sekarat bukan main, anda secara tak langsung menyelamatkan mereka semua.
Izuku tidak menunggu. Habis membersihkan belati dari darah sejenak dia berpikir untuk mengambil pistol milik salah satu pengacau itu. tapi dia urungkan dan berharap sisa pengacau tidak memiliki Quirk merepotkan. Seminimal mungkin, dia tidak ingin menggunakan Quirknya. Sangat merepotkan ketika polisi meminta keterangan nanti. Belum lagi pendatang yang masih diperjalanan itu mungkin bisa jadi saksi yang merugikan.
Menelusuri lorong gelap membangkitkan sedikit adrenalin Izuku. Dia teringat pelatihan dua tahun di tanah leluhur mafia Sicilia. Ayahnya mengirim Izuku ke salah satu keluarga mafia yang masih bertahan dan dibawah arahan Don Craxii, dia belajar cara menyelinap seperti kucing tanpa menimbulkan suara. Belati tetap siaga di tangan kanannya, permukaan logam putih dingin yang bisa mengirimkan nyawa ke tempat lain. Di masa era Quirk, membunuh dengan pisau mungkin pilihan paling buruk. Tapi jika pisau itu di tangan seorang yang pandai menyelinap. Bravo, All Might mungkin bisa terbunuh saat tertidur pulas.
Izuku mencapai tangga dan setelah memastikan tidak ada musuh dia turun sehening mungkin. Mendarat di lantai satu Izuku menjumpai lorong. Dia berhenti ketika merasakan langkah kaki mendekat. Di dalam gelap, pandangan Izuku tidak begitu terganggu, dia menemukan vas besar yang cukup untuk tempat menyergap. Izuku beranjak ke balik vas itu, bersembunyi seperti kucing menunggu tikus bodoh ceroboh masuk ke dalam perangkap. Pisau siap menerima tumpahan darah lain.
"Den! Yu! Apa kalian baik-baik saja? jawab aku!"
Mereka tidak akan menjawab, siapapun Den dan yu itu. aku sudah membuat si melar pingsan dan rekannya buntung juga ikut pingsan.
Sosok semakin mendekat ke tempat persembunyian Izuku. Langkah botnya berat, jenis bot yang dipakai militer. Lalu ada suara samar halus dari senjata yamg dibawa. Bagus, selama ada logam atau besi tidak masalah. Tapi yang diperhitungkan Izuku adalah pengacau baru itu tidak membawa senter, seolah-olah kegelapan bukan lingkungan yang merugikan. Jadi kemungkinan dia punya Quirk tipe sensor atau penglihatan malam. Tapi kemungkinan pertama jelas bukan, karena jika tipe sensor dia pasti bisa merasakan Izuku bersembunyi di belakang vas bunga besar.
Jadi pilihan kedua.
Dengan cepat tanpa membuang kesempatan, Izuku fokus pada senapan pengacau itu dan mengaktifkan Magneto.
Laki-laki itu punya Quirk yang disebut infrared, yang menjadikannya mampu melihat dalam kegelapan. Dia menangkap sosok yang muncul dari balik vas. Ketika jari tangan kirinya hendak menarik pelatuk, tiba-tiba saja AK-47 itu malah melawan dan mendorongnya hingga menabrak dinding, tak Cuma itu, seakan senapan itu memiliki kehendak sendiri, moncong yang tadinya di depan sekarang mengarah ke bawah mulutnya. Jari kirinya masih di pelatuk, bergetar bukan main dan keringat membuat pegangannya licin.
Sosok yang sembunyi itu muncul mendekat ke arahnya.
"Pernah lihat serial X-men? Tahu Magneto? Kalau tidak sebaiknya jangan macam-macam, kalau tidak ingin kepalamu meledak."
"Fujin apa yang terjadi!?" seru rekannya dari kejauhan. Lantai satu dipenuhi mesin-mesin besar percetakan. Suara rekannya menggema dalam keremangan.
Laki-laki terperangkap bernama Fujin Cuma bisa melototi Izuku. Tahu bersuara sedikit saja nyawa melayang.
"Kurasa aku tidak punya banyak waktu eh?" Izuku mengepalkan tangan dan memukul ulu hati laki-laki itu. untungnya jari kirinya sudah lepas sehingga dia tidak akan sengaja menarik pelatuk senjata. Ketika berat tubuhnya jatuh dan menimbulkan suara seperti kardus yang penuh buku, tiba-tiba jatuh dan membuat lantai bergetar.
"Hei apa yang terjadi di sana!"
"Ini Pro. Menyerah atau kalian tanggung sendiri akibatnya."
"Pro! Dari mana dia datang!"
Izuku tidak perlu menjawab. Dia segera memeriksa barang-barang milik Fujin, memang itu hanya taruhan kecil, tapi melihat penampilan laki-laki itu menyerupai militer, dan sampai punya AK-47, bukannya harusnya dia punya? Izuku menggeledah isi rompi dan nyaris bersorak saat merasakan permukaan dingin di salah satu saku. Dia menemukan dua granat asap.
"Bajingan!"
"Seperti permintaanmu sayang," Izuku menyeringai. Melemparkan granat saat satu penjahat lain muncul. Kemudian seperti ledakan kecil, asap segera membutuhkan pandangan musuh. Para pengacau mengumpat dan Izuku menyelinap seperti kucing. Asap tidak mempengaruhi, bahkan dengan mata tertutup dia bisa menyerang target.
Salah satu penjahat memiliki wujud menyerupai Gorila, ada codet di mata kirinya dan otot-otot lengan yang bisa ditebak akan menyakitkan jika tidak berhati-hati. Mutan Gorila itu meraung dan melemparkan apa yang bisa diraihnya ke segala arah. Izuku dengan tubuh kecilnya mampu menghindari cukup mudah, tapi tiba-tiba saja dia merasakan kesakitan bukan main. Tulang rusuknya tiba-tiba terasa menyusut dan mencengkeram paru-paru dan jantung seperti dipeluk beruang! Kepalanya juga tak jauh beda. Apaan ini!
"Gorila arah jam 1!"
Gorila itu meraung marah dan mengangkat mesin fotokopi raksasa lalu melempar ke tempat Izuku sedang berusaha menahan kesakitan aneh di dadanya. Dia berhasil berguling menghindar.
"Akan kubunuh kau!" Gorila itu menerjang bak kesetanan, Izuku masih dipenuhi pening dan sekujur tubuhnya sakit semua, tapi dia sudah mendapat pelatihan di Itali. Gorila itu tiba-tiba terpental cukup jauh hingga ketika membentur dinding bangunan, getarannya terasa bukan main.
"Apa?" jerit penjahat lain. Dia memiliki tubuh kecil malah terlihat seperti anak SMP. "Apa yang terjadi sial!"
"Kau punya Quirk menarik rupanya,"
"Sial!"
Penjahat kecil itu melotot ke arah Izuku dan seketika Izuku kembali merasakan rasa sakit. Tapi kali ini Izuku sudah bisa sedikit menguasai rasa sakitnya. Dia mengambil belati dari lututnya dan melempar ke arah bocah SMP itu, bocah itu bisa menghindari tapi tidak bersiap untuk serangan kedua. Izuku menerjang, berguling dan mengunci lawan. Dia menggunakan kedua jarinya dan memencet mata laki-laki itu. bukan main jerit pilunya.
"Quirk mu sepertinya semacam memberi rasa sakit pada target yang kamu fokuskan. Menarik bagaimana kau menyebutnya? Crucio? Hm?"
"Mati sialan."
"Tidak, tidak sekarang."
Izuku merasakan kebutuhan biologis yang sangat dibencinya. Makanannya ada di depan mata, tapi dia sadar menikmati hidangan itu sekarang akan berdampak buruk. Nanti kita bertemu lagi kid.
Gorila itu kembali bangkit dan akan menyerang Izuku, tapi dia tidak memperdulikan karena sosok yang sudah lama dia tunggu akhirnya datang.
"POWERRRR!" dan Gorila itu pingsan setelah mendapat pukulan K.O tepat di wajahnya.
3
Izuku mendapat perawatan tidak perlu dia sekarang duduk ditemani biskuit dan air putih. Kondisinya baik, tidak ada lecet meski pertarungan barusan cukup menegangkan. Mungkin juga karena dia terlalu santai, perawat khawatir dan dua kali bertanya apa Izuku baik-baik saja.
Tadi Izuku sempat berpapasan dengan Nakamura, rupanya satpam gemuk itu begitu syok sampai perlu ditandu dan mendapat perawatan. Sekilas laki-laki usia 40 itu bertemu mata dengan Izuku dan berusaha mengacungkan jempol seakan ingin berterima kasih. Para penjahat dibawah satu persatu. Penjahat dengan Quirk Crucio telah diamankan dan kemampuannya telah ditekan, si gorila dan militer masih pingsan, khususnya si gorila dia muat untuk satu mobil saja. yang paling parah dua penjahat yang lebih dulu dijatuhkan Izuku, mereka di larikan ke rumah sakit khusus untuk mendapat penanganan. Tetap saja meski Izuku berbaik hati, lukanya bisa mengancam jika tidak ditangani secara cepat.
Selama pemeriksaan polisi, Izuku lebih memperhatikan pro berambut pirang yang kini masih dalam interogasi polisi. Angka satu juta di kostum nya sama-sama mencolok dengan otot terbentuk matang berpadu dengan tubuh tinggi dan besar. Wajahnya mirip tintin malah sekilas Izuku pikir itu memang tintin dalam bentuk yang lebih kasar seperti kapten Haddock. Izuku kenal pro itu masih magang dan siswa dari Yuei, hanya dia lupa namanya. Quirknya semacam kemampuan menembus benda-benda. Bisa disebut Quirk merepotkan dan jika dia menjadi pro, si wajah tintin pasti telah melewati banyak jalan terjal hingga mencapai titik puncak. Izuku selalu menghormati orang-orang semacam itu.
"Midoriya Izuku-san?"
Di depannya berdiri petugas polisi berwajah bosan dan kumis mirip hitler. Dia seperti ogah-ogahan mengerjakan kewajibannya. Berbanding terbalik dengan petugas di sampingnya beralis tebal seperti ulat bulu yang memancarkan keseriusan. Anak baru.
"Yamikumo saja, itu nama pro yang saya pakai."
Petugas kumis Hitler tidak bereaksi cuma mengamati Izuku dari ujung kaki hingga kepala. "Aku sudah memeriksa id-card mu dan lisensimu. Maaf sebelumnya bisa kau jelaskan lisensi ini?"
"Secara hukum aku bukan pro hero resmi, tapi dibolehkan mengambil tindakan seperti pro lainnya dalam kondisi tertentu dan otomatis aku juga diperbolehkan untuk menggunakan senjata. Mungkin ini pertama kali kamu mendengar, tapi aturan ini sudah dibuat dua tahun lalu."
Petugas itu diam, tidak menanggapi masih terus melihat Izuku. Anak magang di sampingnya mencatat semua yang diucapkan olehnya.
"Kamu bisa mengecek di database milik asosiasi, seingat ku Cuma ada enam orang Quirkless di Jepang yang punya ijin ini. Jadi tidak sulit mencari nama Yamikumo."
"Anda punya ikatan dengan agensi tertentu?"
"Aku sidekick Hawks, meski lebih banyak mengurus urusan administrasi."
"Hawks! Pro nomor tiga itu!?" ada pekikan tersendat dari anak baru, wajahnya kelihatan dia fanboy si pahlawan burung. Si kumis Hitler tidak tertarik dengan informasi baru itu, dia Cuma melihat lisensi milik Izuku lagi sebelum mengembalikannya. "Apa yang dilakukan sidekick hawks di Shinjuku?"
"Tadinya aku Cuma jalan-jalan di sekitaran Kabukicho, aku mengambil cuti untuk menengok rumahku di Musutafu. Malam ini aku ingin mampir ke bar di Okubo. Makannya untuk menghemat waktu aku lewat tempat ini. Dan secara tidak sengaja aku berpapasan dengan hal tak terduga ini."
"Apa kamu sudah tahu larangan untuk pergi ke gang-gang sendirian gara-gara hero killer?"
"Kurasa aku cukup bisa menjaga diri. lagipula aku sedang berpakaian sipil dan hero killer mugkin Cuma melihatku sebagai warga biasa."
Polisi berkumis merenung sejenak, kepalanya dimiringkan lalu menghela napas panjang. "Apa kamu akan tetap di Musutafu? Kami akan memanggil Anda untuk penyelidikan lebih lanjut."
"Sayangnya lusa aku harus segera kembali berkerja. Tidak bisakah kepolisian Fukuoka melakukannya?"
"Tidak masalah kalau agensimu sedikit terlibat?"
"Kurasa bosku malah senang jika agensinya terlibat."
Polisi itu tampaknya ingin cepat-cepat menyelesaikan tugasnya dan begitu mendapat apa yang menurutnya cukup dia pergi. Si magang awalnya ragu-ragu, seperti ada yang ingin di sampaikan. Tapi atasannya memanggilnya dan kecewalah si magang.
Polisi tadi kembali ke tempat si wajah tintin. Pro pirang sedang mengobrol dengan salah satu petugas perawat. Si kumis Hitler tampak mengatakan sesuatu dan menunjuk ke arah Izuku, si wajah tintin mengikuti, mereka masih terus bicara sebelum si pro berjalan mendekat. Dilihat dari dekat, Izuku ragu apa benar dia masih murid Sma. Dia seperti All Might.
"Yamikumo-san? Namaku Lemillion, terima kasih sudah membantu meringkus penjahat itu."
Lemillion, salah satu murid top Yuei. "harusnya aku yang berterima kasih. Aku berhutang nyawa denganmu. Panggil saja Yamikumo, lagipula umurku masih 15."
Lemillion tampak sedikit terkejut, itu wajar. Semua orang akan bereaksi serupa. Malah ada beberapa yang mengira Izuku bercanda. Tapi Lemillion justru menampakkan reaksi ceria yang sedikit berlebihan.
"Itu keren! Pro berusia 15 tahun baru pertama kali aku bertemu."
"sebenarnya aku bukan pro, pekerjaanku cuma mengurus administrasi kantoran."
"Tetap itu hebat! Kamu bisa menjatuhkan penjahat semudah itu. apalagi tanpa Quirk Cuma mengandalkan tangan kosong, kamu pasti jago bela diri."
"Begitulah."
Izuku sudah terbiasa berbaur dengan orang-orang yang bertipe ceria seperti Lemillion. Bos burungnya termasuk kategori ini, meski dia keceriaan itu masih setengah-setengah, hawks secara menyeluruh tetap membuat suasana sekitar riuh. Dalam dirinya Izuku lebih suka menghindar, dan berusaha menjauh dari orang-orang seperti itu. malah dia sengaja menunjukkan tembok batasan untuk membuat orang asing tidak sembarang masuk.
Tapi Limellion... ada yang mengganggu darinya.
"Keren, uhm Yamikumo boleh aku minta bantuan mu?"
"Ada apa?"
"Begini, aku terpisah dari rekan patroli ku dan karena aturan soal patroli beregu bisakah kamu berpatroli denganku sampai bertemu dengan rekanku?"
"Tidak kamu telepon dia?"
"Dia tidak membawa ponsel. Tapi kami berjanji bertemu di agensi Black cat."
Black cat adalah agensi yang terdiri dari tiga perempuan. Sama seprti pussycat, black cat berkerja dalam operasi khusus. Biasanya mereka menangani masalah penyelundupan senjata atau narkoba. Tiga pro black cat dulunya anggota kepolisian jepang.
"Kurasa tidak masalah."
"Itu keren!"
4
Ketika Izuku memasuki bar, waktu menunjukkan pukul 9 lewat sedikit. Duet pianis dan gitaris muda sedang memainkan jazz klasik, tidak terlalu buruk. Izuku duduk di meja dekat panggung dan memesan espresso, ketika pelayan menanyakan pesanan makanan, "Temanku sedang menelpon di luar, aku tunggu dia." Pelayan mengangguk dan kembali ke konter meja.
Izuku duduk menunggu Lemillion yang sedang menelpon bubble girl di luar bar. Memakan waktu lima belas menit baru Lemillion masuk. Dia tidak memakai jubah merahnya, sehingga penampilannya sedikit aneh, meski cuma sebentar. Izuku sadar jika dia merasa canggung. Bagaimanapun juga bar ini berada di lantai atap hotel elit di Shinjuku dan biasanya pengunjungnya didominasi para elit kantoran atau kelompok arisan wanita kaya.
Pelayan tadi kembali dan menanyakan pesanan. Izuku menawarkan Chicken fillet dan spageti karena menurut Izuku makanan itu yang paling enak di bar ini. Lemillion menurut saja dan dia memilih minum moktail segar.
"Sepertinya kamu terbiasa makan di tempat seperti ini.
"Percayalah kalau kamu ada di posisi atas pro hero, kamu harus biasa beradaptasi dengan tempat-tempat seperti ini," kata Izuku. "Bar ini memang jarang dikunjungi pro hero, tapi tidak ada larangan pro datang ke sini. Dan alasan aku suka kemari adalah rasa espresso nya. Kamu suka kopi?"
Memang benar, kadang ada beberapa bar yang tidak memperbolehkan pro hero masuk karena asalan kostum pahlawan mereka.
"Tidak begitu suka, tapi temanku Suneater mungkin. kamu harus bertemu dengannya, dia magang di Fatgum."
"Akan ku ingat. Ngomong-ngomong bagaimana penyelidikan narkoba black cat? Semua beres?"
"Untuk sekarang kami berhasil menggagalkan jual belinya dan menangkap penggunanya. Target kami adalah pengedar untuk membongkar jaring jual beli obat. Akhir-akhir kawasan Shinjuku banyak dijumpai praktek ini. Karena itulah black cat meminta bantuan Sir. Sir kebetulan ahli dalam bidang ini."
Yang dimaksud Sir oleh Lemillion adalah pahlawan pro bawah tanah Nighteye. Izuku cukup tahu banyak karena sama-sama bekerja di tempat-tempat yang tidak semestinya. Tentu dia bukan watchdog, tapi Izuku cukup melebeli pro itu agar tidak terlalu terlibat dengannya. Apalagi dia juga dikenal sidekick terpercaya dan yang membuat All Might berjaya di eranya.
"Shinjuku adalah kawasan perekonomian, hiburan, tempat ini seperti jantungnya Tokyo. Pengedar menargetkan pembelinya adalah kalangan pebisnis, artis atau birokrat yang banyak kemari untuk melepas lelah. ada anak-anak jalanan, tapi uang dari kelompok itu jauh lebih kecil. Jadi fokus utamanya ada di para berduit tebal yang banyak dijumpai di bar-bar semacam ini."
"Sir juga berpendapat begitu, kalau ingin menangkap ikan gemuk, kami fokus ke Kabukicho."
"Tapi memakai kostum akan menarik perhatian."
"Well, sebenarnya aku dan bubble girl Cuma sebagai pengalih perhatian. Black cat yang paling banyak mengambil aksi, mereka sudah menargetkan beberapa orang sebelumnya.'
Secara ajaib suasana jadi akrab. Lemillion tidak canggung dan menikmati dinner dengan santai. Sesekali pro muda itu bertanya pendapat soal kasus narkoba. Izuku tidak keberatan, malah ini jadi cara untuk mengenal gaya Nighteye. Rupanya remaja 17 tahun ini anak emas agensinnya, bahkan Lemillion menceritakan pengalamannya di kelas dua bekerja di agensi All Might, meski tidak langsung berduaan dengan simbol perdamaian.
"Quirku susah untuk dilatih. Ayahku sendiri memilih menyerah dan bekerja di kantoran," ucap Lemillion. "Kurasa aku cuma anak keras kepala, itu saja."
"Kalau keras kepala saja tidak cukup. Kamu pasti punya alasan kuat untuk menghadapi Quirk mu dan jadi pahlawan."
Lemillion sedikit ragu. Dia mengangkat garpu spageti lalu kembali menurunkannya. Tiba-tiba tersenyum kecil seperti gadis tersipu malu. "Aku ingin membuat semua orang tersenyum, melupakan masalah mereka sejenak kalau bisa selamanya lalu menikmati hidup."
Pikiran Izuku berkelana, 'cita-cita pahlawan' biasanya tidak jauh-jauh dari ingin menyelamatkan dunia dan hal-hal muluk seperti itu. hanya beberapa yang terang-terangan mengatakan ingin terkenal, uang yang bisa membuat telinga Stain gatal mendengarnya. Impian Limellion sebenarnya umum dan biasa. tapi saat dia mengucapkannya, Izuku kagum dengan cara yang aneh.
"Jika kamu tidak bisa menyelamatkan seseorang apa yang akan kamu lakukan?"
"Aku tidak akan menyerah."
Izuku tersenyum tipis. "umur ku memang masih 15, tapi aku sudah mengamati banyak dan bekerja di bawah sayap Hawks membuatku melihat kenyataan. Di luar sana ada ratusan pahlawan gagal secara halus, maksudku mereka gagal karena tidak bisa menyelamatkan diri mereka sendiri."
Lemillion terdiam. Izuku mengangkat cangkir espresso nya. Menghirup wangi kopi yang tak lagi pekat lalu meminumnya sedikit. "Mungkin sedikit sombong, tapi banyak pro yang lupa cita-cita mereka dan menjadi sampah masyarakat. Ada yang tidak menikmati pekerjaan mereka lalu kehilangan arah tujuan mereka. Dan kasus terburuk sejak awal ada pro yang memang sampah masyarakat."
Lemillion menelan ludah, mungkin dia tidak pernah membayangkan anak 15 tahun mengatakan perkataan semacam itu.
"Itu seperti ucapan Stain," ucap Lemillion.
"Memang, sejujurnya aku sedikit setuju dengan ideologi nya. Bahwa pahlawan palsu ada dimana-mana, tapi Cuma sedikit. Dia menggambarkan sosok pahlawan komik dengan pahlawan sekarang, itu salah. Pahlawan sekarang sama halnya dengan pegawai kantor. Mereka bekerja dan dibayar. Sedangkan pahlawan komik, mereka menjadi pahlawan bukan karena sebuah lisensi, tapi setelah proses matang dan apa yang sudah banyak mereka korbankan. Lalu membunuh begitu saja sama sekali tidak menghargai nyawa."
"lalu seperti apa pahlawan menurut mu?"
Izuku mengamati ketenangan aneh Lemillion. Pemuda yang ceria polos itu mendadak seperti Hawks. ceria itu ada disana, tapi di baliknya dia menilai dan mencari informasi. perubahan ini sejujurnya mengejutkan Izuku.
"Bukan seperti apa, tapi apa yang telah mereka lakukan. Aku tidak mempermasalahkan cita-citanya, tapi aku mengkritik apa yang sudah mereka lakukan."
"Apapun sisi kelemahannya, mereka semua berusaha sebaik mungkin menjalankan beban yang sudah dipikulnya."
"Itu kata-kata All Might," ucap Izuku.
"Mentor ku mengatakan untuk belajar dari simbol perdamaian," balas Lemillion dengan senyum sopan. Dia menatap lurus mata Izuku. "Tapi dia juga mengajari ku untuk tidak melewati batas-batas tertentu. Aku sendiri masih belum paham, tapi ku pikir aku akan berusaha dengan apa yang sudah ku pelajari. Aku ingin membuat sebanyak mungkin orang tersenyum."
"Apa kamu akan berjuang untuk itu?"
"Tentu saja."
"Sampai titik dimana kamu tahu itu batas dirimu sendiri?" izuku bertanya tenang. "Bagaimana jika orang yang kamu selamatkan tidak mau menerima bantuan mu meski dia sangat membutuhkan. Katakan saja ada Quirkless yang membenci dunia, dia bisa menjadi ancaman dan kamu tahu itu, kamu berusaha dan nekat untuk mengulurkan tanganmu padanya, memberikannya gambaran jika ada pahlawan untuk anak itu. tapi dia terus menolak hingga titik dimana dia akan membunuh dirimu. Apa yang akan kau lakukan?"
"aku akan terus mengulurkan tangan untuknya."
"Meski akhirnya kamu bisa mati?"
"Sir mungkin akan membentak ku. Tapi aku ingin membuat semua orang tersenyum dan aku ingin anak itu tersenyum."
Izuku sadar tindakannya impulsif dan bisa membahayakan dirinya sendiri. Entah Lemillion menyadari atau tidak, masih ada sesuatu yang tidak enak dari pro pirang berwajah tintin itu. tapi Izuku ingin meredakan haus aneh sejak mereka bertemu. Ini bukan gejolak biologis gara-gara All for One, tapi apa yang dimiliki Lemillion yang sangat menarik Izuku seperti nektar yang menarik lebah. Ini judi, tapi Izuku harus memuaskan rasa penasaran nya.
"Jika begitu, anak itu ingin menunggu bantuan mu. Dia begitu tertarik dengan pahlawan keras kepala yang ingin membuat semua orang tersenyum," Izuku meminum sisa espresso nya dan mengelap sisa makanan di mulut dengan tisu. "Namaku Midoriya Izuku."
Lemillion masih terbawa emosi percakapan barusan. Lalu dia melihat tangan terjulur di depannya dan menerimanya. Dia merasakan sentuhan listrik yang membuat bulu kuduknya merinding, Lemillion ingin lebih tahu remaja 15 tahun unik di depannya.
"Togata Mirio. Kuharap aku bisa bertemu lagi denganmu."
