Lipbalm
Starring : Ignis x Reader
Words : 1711
Bulir-bulir kapas bumi jatuh perlahan, berayun turun secara perlahan sejak kemarin malam. Benda putih cantik yang terus menerus turun itu kini terlihat menumpuk, mewarnai kota megah yang tak pernah tidur dengan warna suci itu.
Dedaunan kering tak lagi nampak, ia telah gugur, diterbangkan angin bersuhu dingin. Di atas ranting-ranting pepohonan kurus itu, salju yang jatuh telah terlihat menutupi, menciptakan kebekuan pada batangnya yang kaku. Suhu terus menerus menurun, melapisi jalanan aspal dengan setipis es yang hampir beberapa kali mencelakakan sekerumun orang yang berlalu lalang.
Walau udara kian lama kian menjadikan gigil memeluki para insan di kota tersebut, mereka tak terlihat bersembunyi di balik selimut hangat mereka. Malah, semakin malamnya hari, kerumunan itu semakin ramai. Mereka beramai-ramai untuk bercengkrama dengan satu sama lain atau melihat iluminasi lampu kerlap kerlip yang begitu memanjakan visual.
"Aku tidak suka musim dingin."
Tapi, di dalam keriuhan di depan pohon besar yang bersinar cantik, kamu tiba-tiba saja menyuarakan sesuatu yang berbanding terbalik dengan kegaduhan di sekitarmu. Wajahmu yang cantik tak memancarkan senyuman jahil seperti biasanya. Sekalipun kamu saat ini tengah terbalut mantel tebal berwarna hitam legam, kamu tetap harus menggosok-gosokkan kedua tanganmu yang tertutup sarung tangan berwarna senada.
Beberapa kali kamu mengepulkan udara putih saat kamu buka katup bibirmu. Bibirmu sedikit bergemeletuk, menandakan bahwa kamu benar-benar tak tahan dengan suhu yang menusuk. Bahkan, saat ini, ujung hidung dan kedua pipimu telah memerah, membuatmu nampak lucu.
"Kenapa?"
Meski memakai penutup telinga merah muda berbulu lembut, kamu tak sulit untuk mendengar suara sahutan seorang pemuda bertubuh tinggi yang memang berada di sampingmu. Bola kacamu menaik, membalas tatap hijau yang terlindungi oleh bingkai hitam yang menggantung di wajah.
Sekali lagi kamu mendesah, membiarkan pemuda itu melihat bagaimana kamu bisa mengeluarkan kepul pekat dari sela bibirmu yang bergetar. Ada sedikit percik rasa sebal yang hadir di hatimu. Bukannya apa-apa, pemuda itu mengenalmu sejak lama, sungguh sangat lama. Karenanya, kamu tahu bahwa pemuda itu menanyakan hal tersebut hanya karena ia tengah mencoba menggodamu. Tanpa kamu jabarkanpun, kekasihmu itu seharusnya paham benar.
"Karena dingin, Igg."
Kamu menjawab dengan begitu cepat tanpa berpikir lebih dulu. Berlianmu memandang begitu lekat—dan juga sangat polos—ke arah penasihat pangeran itu, memberitahukan tanpa lafal bahwa kamu benar bersungguh-sungguh dengan jawabanmu.
Pada detik berikutnya, indera pendengaranmu digelitik oleh renyah suara tawa tertahan milik kekasihmu itu. Kerut di dahimu semakin kentara karena gelak tersebut tak kunjung hilang dari bibir sang Scientia.
"Salju tidak akan ada jika suhu udara tidak dingin."
Kamu ingin menepuk dahimu yang tertutupi oleh poni setelah memahami apa yang terjadi pada pemuda tercintamu tadi. Wajahmu yang sudah merah terlihat semakin memerah karena merasa malu dengan kebodohanmu.
Yah, pantas saja pemuda cerdas itu tertawa seperti tadi, itu semua karena kamu menjawab pertanyaannya dengan respon bodoh—yang tanpa kamu ketahui jawabanmu tadi sangat lucu dan membuatnya gemas.
Kamu menghela napas, memasukkan tanganmu yang sejak tadi berada di hadapanmu ke dalam mantel. Kali ini bibirmu yang dingin berusaha kamu tarik agar senyum simpul hadir di sana untuk membalas tanggapan Ignis—begitu simpul karena malu masih meradang dalam dadamu.
Dilangkahkan kakimu setelah kekasihmu memberi gestur agar kalian kembali menuju mobil yang terparkir tak jauh dari tempat kalian berpijak. Jarum jam memang sudah berada di angka sepuluh malam dan kamu tahu ini saatnya kamu menyudahi kegiatan kalian—memandangi iluminasi di jantung kota.
"Maksudku…" Kamu berbicara lagi setelah memastikan Ignis yang tadi membukakan pintu mobil untukmu sudah berada di kursi pengemudi. "Suhu dingin ini membuat bibirku kering." Tambahmu untuk menjelaskan. Memang salahmu yang jika berbicara tidak pernah jelas dan lengkap. "Kau tidak?"
Sang Scientia yang kini menjatuhkan seluruh surainya—suatu kebiasaan ketika kalian menghabiskan waktu di luar Citadel—terdiam. Ia menatapi dirimu selama sepersekian detik sebelum mendadak membuat bibirnya merapat, mengerutkan dahi tanpa sadar—membuat wajah tampan itu mendadak menjadi begitu manis.
"Tidak." Jawabnya.
"Bohong!"
Kamu menjulurkan lidah sembari melepaskan sarung tanganmu yang begitu rapat membungkus membungkus jemarimu yang kurus. Ada setitik rasa sebal lagi yang hadir di dalam rongga dadamu saat mengetahui bahwa bibir kekasihmu itu ternyata tidak menjadi korban suhu dingin.
"Aku tidak berbohong."
Terhembuskannya suara rendah itu hampir menjadikanmu memekik. Bukan, bukan karena suara itu. Melainkan karena tiba-tiba saja pemuda tampan itu meraih tanganmu—kamu dapat merasakan ia berjengit sedikit karena kulitmu yang masih dingin—sebelum menempelkan jemarimu di bibirnya.
"Ignis!"
Kamu tahu bahwa reaksimu ini akan membuatnya menjadi lebih senang menggodamu. Kamu tahu bahwa reaksimu inilah yang kekasihmu harapkan. Tetapi, bagaimana bisa kamu bersikap tenang-tenang saja ketika pemuda yang baru menjalin kasih denganmu selama dua tahun itu tiba-tiba membawa tanganmu untuk menyentuh bibirnya.
Demi apapun, meski beberapa kali kamu pernah mengecapnya, kamu tidak akan pernah bisa melakukan hal memalukan seperti itu.
Oh tidak. Aku merasa panas.
"Tanganmu sangat dingin. Kemarikan."
"Fokuslah menyetir, Ignis."
Ada tawa manis yang mengalun dari pemuda itu. Penyebabnya adalah satu, suaramu bergetar. Dua, suaramu sangat bergetar. Ketiga, meski kamu mengatakan itu, kamu biarkan kekasihmu menggenggami tanganmu untuk membagi kehangatannya.
"Ahhh...kenapa bibirku sangat kering!" Kamu tiba-tiba saja bersuara, menyerukan kefrustasianmu karena bibir pemuda di sampingmu sama sekali tidak terkena dampak musim dingin. Sedangkan kamu yang perempuan harus mati-matian melakukan ini dan itu untuk memertahankan kelembapannya.
Tidak adil!
"Apakah sudah kau pakai lipbalmmu?"
"Tentu saja."
Helaan nafas panjang terdengar sekali lagi dari katup bibirmu yang terbuka. Kamu mengantungkan kembali tanganmu dan berjalan turun dari mobil kekasihmu yang telah terparkir di basement gedung hitam pencakar langit megah yang berada di jantung kota tempat kalian tinggal. Bahumu terkulai, menandakan keputusasaanmu karena masalah sepele itu. Padahal, kamu sudah memakai lipbalm merk terbaru yang cukup mahal. Tapi, bibirmu begitu sensitif terhadap dingin. Lipbalm itupun tak mampu membuatnya sembuh.
"Yang biasa kau pakai?"
Pemuda itu menyahuti kembali, menyodorkan tangan untuk disambut olehmu. Sembari tersenyum senang kamu menggandeng kekasihmu itu, tidak memerdulikan bahwa dingin tubuhmu akan membuat Ignis mengigil.
Setidaknya, kalian sudah berada di lift yang akan membawa ke lantai kamar kalian.
"Tidak. Merk lain. Baru ku beli." Jawabmu sembari melihat Ignis menekan tombol lantai tempat kalian tinggal. "Tapi ternyata tidak mempan juga. Igg, kau juga pakai kan? Pakai merk apa?"
"Tidak ingat." Pemuda tersebut menjawab cepat.
"Apa kau membawanya?"
Netramu yang bulat sempurna melihat Scientia tampan itu segera merogoh tasnya. Dengan sebelah tangan yang bebas, pemuda tersebut mencari-cari pelembap bibir yang tadi kamu tanyai selama beberapa menit sebelum kemudian gerakannya terhenti.
"Tidak."
"Haah..." Kamu menghela napas. "Padahal aku ingin mencobanya."
Tanpa ditutup-tutupi kamu menunjukkan kekecewaanmu. Kamu tahu bahwa sikapmu ini sangat konyol karena kalian sebentar lagi akan akan sampai dan kamu bisa saja menghampiri kamar Ignis untuk meminta benda itu.
Tapi! Kamu terkenal dengan pribadi yang tak sabaran. Kamu ingin apa yang kamu inginkan segera ada di hadapanmu. Seperti saat ini, kamu sangat-sangat ingin memulas lipbalm milik kekasihmu itu ke bibirmu yang kering. Jika Ignis berhasil membuat bibirnya tetap terjaga kelembapannya meski di udara sedingin ini, kamu begitu ingin mengetahui brand dari pelembap yang dipakainya. Karena, mungkin saja penantianmu untuk mencari-cari lipbalm yang cocok dengan bibirmu akan terhenti.
Tapi...sayangnya kekasihmu tidak membawanya.
Mungkin memang kamu harus ke kamarnya nanti.
"Ignis?"
Tiba-tiba saja kamu melafal saat kedua permatamu menangkap Ignis telah menghadapkan tubuh ke arahmu. Kamu mengerjap, mengerutkan dahi dalam-dalam saat kamu dapati mendapati Ignis menanggalkan kacamata—napasmu sedikit tercekat karena kamu tidak pernah bisa melihat wajahnya yang seperti itu karena tanpa kacamata, ketampanan kekasihmu semakin jelas.
Refleks kamu menunduk, menjauhkan penglihatanmu dari sosok indah yang diciptakan dewa di hadapanmu. Jantungmu berdegup dan kamu semakin tak dapat mengontrolnya saat menyadari ada sedikit sentakan kecil di dalam genggaman tangannya.
Kamu hendak membuka mulutmu lagi tapi kalimatmu tak meluncur saat kamu lihat pemuda itu semakin lama semakin merendah. Pada detik selanjutnya, matamu terbelalak dan jantungmu yang tadi berdegup kencang memainkan melodi yang tak beraturan seolah terhenti sejenak saat ada kehangatan menyapu bibirmu.
Tubuhmu membeku setelah otakmu selesai memroses apa yang sebenarnya terjadi saat ini
Ignis menciummu!
Kamu segera saja nanap dan hendak meronta untuk menjauh. Satu, kamu sangat terkejut dengan perlakuan mendadak kekasihmu itu. Dua, kamu benar-benar tidak siap!
Sayangnya, pergerakan tubuhmu harus terhenti karena Ignis mengunci pergerakanmu dengan lengan kokohnya. Tubuhmu yang hanya sebatas dada pemuda tersebut membuatmu tidak memiliki tenaga cukup untuk melepaskan diri.
Kalian mungkin memang sudah menjalin kasih, tapi, demi Astral, dengan persiapan saja terkadang kamu ingin pingsan, kini Ignis menciummu tanpa aba-aba!
Kamu belum memersiapkan hatimu!
Beberapa detik berlalu dan pemuda tampan tersebut masih belum menyudahi kegiatannya. Sang Scientia masih tetap setia menempelkan bibirnya dengan lembut pada bibirmu yang tak lagi dingin. Rontaanmu juga tak lagi ada karena kamu telah terbuai dalam permainannya, mengajak bibirmu yang rapat perlahan-lahan terbuka, meminta ijin kepadamu agar ia diperbolehkan menjelajahi lebih dalam.
Akan tetapi, melihat dirimu bergetar halus sembari memejamkan mata dengan raut wajah lucu, dengan enggan Ignis menyudahi perlakuannya. Ia berusaha tidak meloloskan tawa. Karenanya, Ignis menyunggingkan senyuman tipis setelah melepaskan bibirnya…meski sangat enggan.
"Apakah lipbalm-ku manjur?"
Kamu hanya terdiam, tak kuasa menjawab kata-kata kekasihmu. Netramu tertumbuk ke sosok itu, memberikan tatapan tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi di antara kalian. Ruhmu seperti melayang, tetapi juga seperti terhisap ke dalam seringai simpul milik Scientia itu.
Denting lift yang terdengar membuat dirimu terperanjat. Ragamu yang tadi seolah kosong terasa seperti telah kembali terisi oleh ruhmu dan saat itu, segera saja semburat hangat merambat ke sekujur wajahmu. Pipimu tak lagi merasakan dingin karena kamu tahu bagaimana merah wajahmu saat ini.
"Sepertinya ampuh."
Kamu merasakan buku kudukmu meremang saat pemuda itu tiba-tiba saja menyentuh bibirmu, membelainya dengan ibu jarinya yang kokoh. Kamu dapat melihat senyuman terkembang sempurna menghiasi wajah tampannya dan sosok itu tiba-tiba saja melepaskan genggaman, berjalan keluar lift tanpa menunggui dirimu.
Remasan di rok hitammu kasat mata karena kamu masih belum bisa menetralkan debar jantungmu yang begitu kencang. Perlakuan yang kamu dapatkan tadi begitu memberikan dampak besar bagi dirimu...dan tentunya jantungmu!
"Oh!" Kamu yang masih berada di dalam lift terkesiap saat tiba-tiba pemudamu membuka mulut. "Ternyata lipbalm-ku ada di saku mantel." Ucap sang pemuda sembari membalikkan tubuh menghadapmu. "Silahkan." Ucapnya lagi.
Kamu yakin bahwa kini semburat kemerahan di pipimu semakin jelas dan bahkan merambat hingga ke seluruh wajahmu—membuatmu tampak lucu bak stroberi segar yang baru matang. Ignis sengaja!
"Tidak butuh!"
Kamu memekik, melangkah keluar dari lift dalam sekali hentak dan dengan cepat melangkah melewati kekasihmu yang menggerakkan kedua hijau teduhnya untuk mengikuti pergerakanmu. Rasa malumu semakin membuncah ketika kamu dapati indera pendengaranmu menangkap tawa kecil Ignis di belakang sana.
※Fin※
Mengapa epilog Crystallo Filia sulit sekali untuk dibuat hiks
