WARNING: explicit PWP, very very kinky, weird description.
Sarada pernah menyentuh tentakel mentah sebelumnya. Ia basah, lembek, lengket, dan berlendir. Namun, organ tubuh itu terus bergerak dan menggeliat dalam genggamannya, menyeruak liar dan mendobrak celah-celah untuk bebas. Ia melilit, mendorong, menggulung dirinya sendiri dalam kungkungan. Tenaganya tidak lebih besar dari eratan jari-jemari Sarada, namun gerakan benda tumpul basah itu tak dapat diprediksi.
Begitu pula lidah orang dewasa.
Lidah itu menggulung-gulung dan menyedot puncak piramida kenyal anak itu, mengaduk-gaduk daging kecokelatan yang mengeras, membuat dadanya turut terisap ke atas seperti ditarik pompa ASI.
Jemari kecil Sarada meremas rambut Sasuke, mengikuti gerak kepala itu. Namun, kepala Sasuke sama seperti lidahnya, tidak terkontrol.
Kini lidahnya menyapu kulit berkeringat anak itu dan turun ke lembah di antara dua pucuk dadanya, melata perlahan dan merambat hingga ke leher. Lidahnya menekan keras leher itu hingga rahang anaknya terdongak ke atas. Lelehan air hangat membasahi lehernya yang menegang. Ujung gigi-giginya sesekali melintas. Sarada merasakan tangan besar Sasuke mencengkram payudaranya lagi, namun amukan tentakel di bawah rahangnya adalah distraksi gairah yang lebih mematikan.
Lidah itu kemudian kembali melata turun seperti tentakel yang menjalar, menari-nari di atas kulitnya, kembali mengisap ketika tiba di lembah di antara kedua gunung kembar. Lidah basah itu turun ke tulang iga yang menonjol, memberi jejak basah saat menuruni tanjakan ke lereng perut yang mengempis.
Menuju ke bibir di tubuh bagian bawahnya sudah terbuka. Pahanya terbuka seperti ilalang yang tersibak oleh cengkraman jemari pria itu yang membuka pintu pahanya lebar-lebar.
Mulut Sasuke bertemu dengan mulut bagian bawah Sarada. Dua bibir itu bergumul seperti dua kekasih yang mengadu ciuman lidah.
Bedanya Sasuke melakukan ini dengan bibir kelamin.
Lidah itu hangat dan lengket saat menjilati kulitnya perlahan. Ia melesak ke sela-sela daging yang memerah, mendorong dari bawah ke atas, menyuplai sengatan sensual yang membawa tubuh anak itu mengejang dalam tiap kali sapuan. Uap panas dari napas Sasuke menyapu kulit selangkanya yang meremang. Pasokan liur melelehkan labianya yang berkedut. Ia melihat kepala Sasuke tenggelam dalam lembah di antara kedua pahanya. Kepala itu mengarungi celah di antara kaki yang terbuka. Melumasi permukaan kulit yang dilaluinya dengan sapuan lidah yang lihai.
Kepala si anak kembali terdongak lemas. Kedua tangannya terbuka lebar. Dirasakannya lagi kedua telapak tangan itu menjalar melewati perutnya dan mendarat di timbunan dua daging yang mengeras, mendorong hingga dada anak itu menegang. Punggungnya melengkung kokoh ke belakang.
Pinggulnya mendesak-desak wajah itu dengan ayunan pinggang. Menenggelamkan lidah panas itu ke renggang dagingnya yang merapat, hingga ujung daging lunak itu berhasil menerobos perisai kewanitaannya, dan segera bersalaman kasar dengan daging kecil yang mengaktifkan tombol gairah si anak.
"Hhah-"
Perutnya mengempis, dadanya membusung, pahanya berkontraksi kencang.
Lidah itu memain-mainkan daging kecil tersebut dengan tempo cepat. Menambah suplai cairan sang anak yang berduyun-duyun tersalurkan ke luar.
Ia ingin pipis sekarang.
Satu daging lagi menginvasi gejolak dua lereng daging yang bergetar. Daging itu melesak maju mundur dengan cepat. Jari-jari itu terus membuka jalan untuk tiap percik enceran kental yang menyembur-nyembur ke udara.
Paha anak itu bergetar. Remasan di sebelah bukitnya menambah suplai gairah. Kepalanya terus mendongak ke atas. Perutnya mengempis, mendorong-dorong seluruh cairan kepuasannya untuk tersalurkan. Bendungan itu semakin penuh di sana. Jari itu mengaduk semakin cepat, terus menarik pasokan air pasang yang bergejolak. Dadanya melonjak ke angkasa.
Tubuhnya terguncang-guncang dengan tiap hentakan yang mendorong-dorong dinding rentannya. Sapuan dan kocokan lidah itu pada daging yang tersengat stimulasi terus menuntunnya menuju puncak kenikmatan.
Gelombang air itu mendobrak ke luar.
Sarada mengejan kuat dan seluruh cairan itu termuntahkan dengan nikmat.
"Aangh-"
Mani yang tersemprot itu berceceran ke mulut Sasuke yang terbuka. Tubuh Sarada terbanting lemah ke ranjang. Kepala Sasuke maju ke depan dan bibirnya kembali bertemu dengan labia basah itu.
Bunyi cairan yang tersedot mengiringi lelehan air orgasme yang tenggelam dalam mulut Sasuke. Sedotan yang lebih keras lagi, menelan daging-daging merah yang basah, membawa turut serta pinggul anak itu terangkat dan terisap ke angkasa. Tubuh bagian atasnya banjir keringat, sementara tubuh bagian bawahnya banjir kolam ejakulasi.
Terengah-engah napasnya saat menyemburkan sisa-sisa cairan yang menggantung.
Tangannya meremas rambut Sasuke, membawa kepala itu melintasi tubuhnya perlahan.
Merasakan cairan hangat kewanitaannya sendiri yang dilumurkan lidah Sasuke di atas perutnya.
Tangan Sasuke memeras pinggul Sarada, membantu anak itu duduk tegak dengan paha yang masih mengangkang. Ia memposisikan tubuh anak itu di atas selonjoran tubuhnya, sementara ia membaringkan dirinya sendiri di atas ranjang. Sarada merangkak ketika tangan Sasuke mendorong pantatnya untuk maju hingga saluran air seninya kembali sejajar dengan wajah lelaki itu. Kedua pahanya terbuka di antara kepala Sasuke, betisnya disandarkan di kedua bahu lelaki itu.
Sarada menegakkan punggungnya dan sokongan dua tangan, kemudian menenggelamkan pinggulnya ke wajah Sasuke. Dari atas sini ia hanya mampu melihat rambut Sasuke yang rimbun.
Tangan Sasuke mencengkram dua bongkahan di pinggul Sarada untuk membawa tubuh itu turun ke dalam jurang basah mulutnya.
Serangan itu kembali menggempur tubuhnya.
Lidah itu seperti tentakel yang pernah disantapnya dulu. Ia menggeliat-geliat tanpa kendali, melumuri dua belah daging basah yang diaduk-aduk laju dalam mulutnya.
"Ngh-ngh-hngh-"
Sarada mengetatkan selangkangannya, kepalanya terdongak dan matanya terpejam.
Pinggulnya terbanting-banting ke wajah itu. Gejolak di bawah perutnya masih tergenang oleh sisa-sisa semburan tadi. Wajah Sasuke tergenang semburan likuidnya. Lidah itu mendorong-dorong ke atas, melesakkannya ke dinding-dinding yang menghimpit padat, berusaha membuka saluran air yang tertahan oleh labia yang saling menjepit itu.
Sarada merasakan gejolak air di dalam sana mendidih liar.
Saat caplokan bibir itu terlepas, tersemburlah cairan hangat ke wajah Sasuke.
"Haangh-"
Sasuke menarik turun kembali pinggul Sarada dan melesakkan bibir merah basah itu ke mulutnya. Mulutnya meraup dan lidahnya mendorong cairan itu ke dalam mulutnya.
Sarada merasakan seluruh cairannya turun deras ke dalam mulut Sasuke. Sementara mulut itu berkoyak lebih brutal, menuntut cairan yang lebih banyak untuk masuk ke mulutnya. Lidah itu menjalar dari saluran kencing hingga klitorisnya. Menyapu-nyapu sisa-sisa orgasme yang menggenang.
Dada Sarada terbanting lemas ke tempat tidur. Napasnya terengah-engah, dadanya tersendat.
Tubuhnya amat kelelahan dan tubuhnya mati rasa dalam kelumpuhan.
Sementara itu pinggulnya masih menindih wajah Sasuke.
