Warning! Pada cerita ini terdapat adegan kekerasan terhadap anak di bawah umur, pertengkaran perkelahian.

.

.

.

Taehyung terbangun dari tidurnya, ia mendengar suara debuman keras yang berasal dari luar pintu kamarnya. Suaranya begitu nyaring dari balik pintu kamar Taehyung yang sedikit terbuka, kemudian disusul oleh suara pekikan dan teriakan penuh amarah dari dua orang yang sudah sangat Taehyung hafal.

Taehyung mengubah posisinya menjadi duduk di atas ranjang selimut yang semula membungkus tubuh mungilnya sampai dada menjadi turun menutupi pinggang hingga kakinya, mengusap matanya sebentar sebelum ia menoleh menatap pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Taehyung masih ingat dengan jelas semalam pintu kamarnya tertutup rapat, dan sekarang pintu itu terbuka menandakan ada seseorang pernah masuk ke kamarnya.

Taehyung menyibak selimutnya, kedua kaki kecilnya ia bawa turun menyentuh lantai kamar yang dingin kemudian berjalan menuju pintu kamar, dengan perlahan kedua matanya mengintip dari celah pintu yang terbuka untuk melihat keadaan di luar sana. Detik kemudian kedua mata Taehyung membulat terkejut, dirinya melihat kedua orangtuanya tengah bertengkar hebat di depan pintu kamar Taehyung dengan jarak sekitar enam meter dari depan pintu kamarnya.

Taehyung memang kerap melihat kedua orang tuanya bertengkar setiap malam ataupun pagi, akan tetapi pertengkaran Ibu dan Ayah Taehyung kali ini jauh lebih mengerikan dari yang selalu Taehyung lihat.

Lemari kaca tempat menyimpan barang antik rumah mereka jatuh sampai seluruh isinya pecah dan serpihan kacanya tercecer berantakan hingga mengenai kaki Ibunya yang tidak beralaskan apapun. Ayahnya terus membentak Ibunya yang menangis sambil mencengkeram kedua bahunya, sesekali Ayah Taehyung mengguncang bahu Ibunya ketika Ibu Taehyung menunduk tidak menatap sang Ayah. Taehyung bisa melihat dengan jelas kaki Ibunya berdarah seiring Ibunya bergerak mundur atas bentakan keras Ayahnya.

Mereka saling memaki, meneriaki, dan menyumpahi dengan raut wajah yang penuh akan emosi tinggi. Taehyung selalu melihat wajah kedua orangtuanya ketika mereka bertengkar, wajah mereka akan berubah menjadi merah. Entah karena perasaan marah yang terlalu meluap tinggi, atau karena tangisan yang sudah lama ditahan.

Taehyung selalu melihat ini sedari ia berumur satu tahun sepuluh bulan. Pertama kali Taehyung melihat kedua orangtuanya bertengkar adalah,Taehyung shock, sangat ketakutan, badannya bergetar disusul oleh tangisan keras Taehyung yang memanggil Ibu dan Ayahnya untuk meminta tolong agar menyudahi semuanya. Taehyung tidak tahu apapun mengenai alasan kedua orangtuanya kerap kali bertengkar karena umur Taehyung masih belum mengerti apapun mengenai masalah keluarganya. Dan pertengkaran orangtua Taehyung akan berakhir sampai salah satu di antara mereka pergi dari rumah.

Saat pertama kali Taehyung melihat kedua orangtuanya bertengkar, Taehyung menangis karena teriakan Ayah dan raungan tangis Ibunya sambil memaki sang Ayah nyaris hampir setiap waktu ketika mereka berdua bertemu, tubuh Taehyung akan bergetar hebat ketika ia melihat kedua orangtuanya mulai saling memukul dan mengeluarkan kata-kata yang Taehyung yakin itu adalah kata-kata kasar dan tidak boleh di sebut sembarangan. Sebab ketika salah satu di antara mereka menyebutnya, maka amarah di antara keduanya seakan semakin saling tersulut dan berujung meledak seperti bom.

Tapi kali ini sangat berbeda dari yang biasanya, Taehyung seperti melihat Ibunya mengeluarkan segala apa yang dia pendam selama ini. Taehyung tidak mengerti jelas apa maksud dari semua ucapan Ibunya, dia mendengar Ibunya menyebut Ayah Taehyung adalah penipu, penjudi, brengsek, seorang psikopat gila, monster dan Ibu Taehyung mengatakan bahwa ia menyesal telah menikahi Ayah Taehyung dan segera ingin mengajukan perceraian.

Kedua mata Taehyung mengerjap, otak kecilnya berusaha keras mencerna ucapan sang Ibu dari balik pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Taehyung jarang mendengar Ibunya mengucap kata 'cerai' selama tiga tahun dia melihat kedua orangtuanya bertengkar, karena itu akan membuat Ayah Taehyung murka dan berani melakukan hal lebih pada Ibunya.

Kedua mata Taehyung melebar tanpa sadar ketika mengingat itu. Jika Ibu Taehyung mengucapkan, bagi Taehyung itu adalah kata keramat, maka itu sama artinya memancing sisi liar Ayah Taehyung keluar.

Suara pekikan dari sang Ibu menyadarkan Taehyung, ia melihat Ayahnya menarik rambut Ibunya kemudian melayangkan tamparan di pipi kanan sang Ibu, suara tamparan begitu keras sampai tubuh Ibu Taehyung terhuyung. Melihat itu, Taehyung dengan cepat mendorong pintu kamar dengan kedua tangan mungilnya sampai tubuh kurusnya bisa keluar, berlari menghampiri kedua orangtuanya yang masih terlibat pertengkaran tanpa memperdulikan kakinya yang nanti terkena pecahan kaca atau tidak.

Taehyung tidak bisa jika melihat salah satu di antara mereka memulai kekerasan seperti itu, walaupun Taehyung tau hukuman seperti apa yang akan ia terima jika Taehyung berani ikut campur dalam masalah orangtuanya, tapi tetap saja Taehyung tidak bisa melihat Ibunya disakiti oleh Ayahnya.

Berteriak memanggil Ibu dan Ayahnya, air mata Taehyung sudah keluar meluncur dari pelupuk matanya dengan deras sambil berlari. Berdiri di samping sang Ayah yang masih menarik rambut Ibunya, Taehyung menggeleng, menarik lengan tangan Ayahnya agar melepaskan Ibunya.

"Ayah hentikan! Ayah jangan pukul Ibu! Ayah jangan menyakiti Ibu lagi!" Ujarnya sambil memohon kepada Ayahnya dengan kedua mata yang sudah basah karena air matanya yang terus mengalir.

Perlahan kedua mata sang Ibu terangkat menatap Taehyung yang berdiri di samping suaminya. Taehyung mengenakan piyama tipis berwarna cokelat muda, wajahnya memerah karena tangis, kedua tangannya gemetar karena menahan lengan tangan suaminya agar tidak melayangkan pukulan lagi. Di sela-sela rasa sakit karena terkena pukulan dan suara tangis Taehyung yang terus mengatakan pada suaminya agar berhenti, Ibu Taehyung tersenyum kecil.

Sang Ayah berhenti, kepalanya menunduk menatap Taehyung yang memeluk lengan tangannya. Taehyung sangat berharap ketika Ayahnya menatap seperti itu Ayahnya bisa berubah dan menghentikan pertengkaran ini untuk selamanya.

Ya, Taehyung sangat sangat berharap. Tapi, tentu saja itu tidak akan pernah terjadi. Yang terjadi adalah tubuh Taehyung terhempas jatuh ke lantai, Taehyung meringis sakit pada pinggang dan bokongnya. Kemudian sang Ayah melepas cengkeraman tangannya pada rambut Ibunya.

Di sela meringis karena sakit, kedua bahu Taehyung dicengkeram kuat oleh Ayahnya sampai membuat Taehyung terpekik, tubuh Taehyung terangkat dengan mudah, kedua matanya menatap Ayahnya dengan amat sangat ketakutan. Ayahnya terlihat sangat menyeramkan dan Taehyung tidak bisa berbuat banyak selain menerima apapun yang akan Ayahnya lakukan sebagaimana dirinya diperlakukan di rumah.

Setidaknya, dengan begini Ibunya bisa pergi dari rumah seperti biasa ketika dirinya sudah ikut campur dalam urusan mereka.

"Bocah tidak berguna sepertimu, tahu apa soal ini?" Ayah Taehyung menggeram mengerikan membuat Taehyung merinding takut.

Tubuh Taehyung bergetar hebat, aura mengerikan Ayahnya adalah hal yang sangat Taehyung takuti sampai Taehyung tidak bisa mengucapkan sepatah katapun untuk membalas. Matanya mengelak, tidak berani menatap sang Ayah, melainkan pandangannya mengarah pada Ibunya yang terduduk di atas lantai dengan serpihan kaca lemari di sekelilingnya. Taehyung bisa melihat Ibunya berantakan, rambut cokelat madunya terlihat acak-acakan, bagian lengan sweater rajutnya sobek, dan ada noda darah di lantai yang Taehyung yakin itu berasal dari kedua kaki sang Ibu.

Taehyung tersadar saat mendengar helaian nafas Ayahnya, tubuhnya yang semula terangkat dihempas kembali hingga menubruk lantai dengan keras. Untuk kedua kalinya Taehyung merasakan remuk di bagian punggung dan bokongnya.

"Kalian benar-benar merepotkan, apa aku harus seperti ini agar kalian bisa menurut?" Ayah Taehyung mendesah keras, "Dasar sampah!" Membalik badannya, menatap sang istri dengan pandangan malas. "Kau juga, lihat dirimu. Apa kau sungguh ingin ku bunuh?"

Taehyung tertegun, padahal ini bukan pertama kalinya Taehyung mendengar Ayahnya mengatakan akan membunuh Ibunya. Akan tetapi itu tetap saja membuat Taehyung merinding sekaligus takut. Sebab yang hanya Taehyung ketahui tentang kata 'bunuh' adalah suatu hal yang buruk, walaupun Taehyung tidak tahu lebih jelasnya mengenai kata itu. Yang jelas, selama ia mendengar kata bunuh keluar dari bibir kedua orangtuanya yaitu, seakan hendak saling menyakiti sampai batas kesadaran mereka habis.

"Benar-benar merepotkan." Ayah Taehyung menghela nafas panjang, melangkahkan kakinya menuju tangga rumah mereka. Tapi sebelum kakinya menapak pada anak tangga, Ayah Taehyung menolehkan kepalanya menatap sang Istri yang masih terduduk lemah di atas lantai. Ayah Taehyung mendengus, "Kau ku izinkan pergi, tapi jangan pernah mencoba untuk membawa Taehyung. Kalau kau berani, sudah pasti kau akan mati." Ujarnya, setelah itu kakinya melangkah menuruni anak tangga.

Keadaan menjadi sunyi setelahnya, Taehyung mengambil nafas dengan rakus setelah beradu pandang dengan Ayahnya, lalu kedua matanya menatap sang Ibu yang masih diam duduk disana. Wajah Ibunya tak terlihat karena tertutup oleh rambut cokelat madunya.

Taehyung dengan perlahan bangun, meringis sakit pada punggung dan bokongnya akibat hempasan dari Ayahnya tadi. Akan tetapi itu tidak membuatnya berhenti untuk melangkah mendekati Ibunya. "I-ibu? Ibu baik-baik saja?" Taehyung berjalan hati-hati sambil sesekali matanya melihat pecahan kaca yang tercecer di lantai.

Ibu Taehyung tidak merespon, dan itu semakin membuat Taehyung khawatir. Maka dari itu, dengan nekat Taehyung semakin mendekati Ibunya yang dikelilingi oleh serpihan kaca lemari. "I-ibu? Apa- akh!" Taehyung meringis, kaki Taehyung menginjak serpihan kaca.

Dan Taehyung sampai di depan Ibunya dengan susah payah, kemudian berjongkok, kepalanya mencari keberadaan dua mata Ibunya yang tertutup rambut. "Ibu?" Panggilnya lagi.

Perlahan Ibu Taehyung menyibak rambutnya hingga wajahnya terlihat, itu menimbulkan helaian nafas lega Taehyung menguar. "Taehyung," Sang Ibu merentangkan kedua tangannya, mengisyaratkan agar Taehyung memeluknya. "Kemari." Ujarnya lembut.

Taehyung menurut, semakin mendekat pada Ibunya kemudian memeluknya, menyandarkan kepalanya di dada sang Ibu. Posisinya sudah berubah, Taehyung duduk di atas pangkuan Ibunya.

Taehyung bisa merasakan tubuh Ibunya gemetar hebat, detak jantungnya berpacu sangat cepat, dan suara sesenggukan Ibunya karena sisa tangis.

"Taehyung..." Satu tangan Ibu Taehyung terulur mengusap pelan rambut belakang Taehyung, Taehyung bisa merasakan dengan nyata tangan Ibunya gemetar ketika bersentuhan dengan rambutnya. "Apa Kim Taehyung menyayangi Ibu?" Ujar Ibunya pelan.

Taehyung tak berekspresi mendengarnya, tak ada gestur yang menandakan bahwa Taehyung akan antusias menjawab pertanyaan Ibunya dengan semangat bahwa Taehyung menyayangi Ibunya, melainkan, wajah Taehyung datar dengan sisa air mata di pelupuk.

"Aku tidak tahu."

Usapan pada rambut belakang Taehyung berhenti, "K-kenapa?" Ujar Ibunya sedikit terkejut.

Kedua mata Taehyung menatap ke depan dengan tatapan kosong. "Karena," Taehyung terdiam sebentar, "Aku tidak mengerti apa yang Ibu maksud."

Tempat mereka berpelukan sangat sunyi dan sepi dari suara bising orang-orang, hanya ada suara dentingan jarum jam dan suara nafas sang Ibu yang belum kembali normal. Ini tengah malam dan hanya ada mereka bertiga di dalam rumah. Jadi, walaupun suara Taehyung teredam karena bersandar di dada Ibunya, tapi Ibunya dapat mendengarnya dengan jelas.

"Aku tidak tahu apa yang Ibu maksud dengan bertanya apakah aku menyayangi Ibu atau tidak." Kepala Taehyung terangkat menatap mata Ibunya yang menatap ke depan. "Karena, ini pertama kalinya Ibu bertanya seperti itu padaku."

Nafas Ibu Taehyung tercekat mendengar ucapan puteranya, "H-huh? Jangan bercanda, Taehyung. Ibu pernah mengatakan hal ini padamu, apa kau lupa?" Kini pandangan Ibu Taehyung mengarah pada Taehyung.

Taehyung menggeleng, "Ibu tidak pernah mengatakan kata itu selama ini, dan ini pertama kalinya. Aku mengingatnya dengan baik selama Ibu berbicara padaku." Taehyung menunduk, menyandarkan kembali pipi kanannya ke dada Ibunya. "Kata seperti itu tidak pernah Ibu ucapkan." Ujarnya datar.

"Kim Taehyung." Ibu Taehyung menunduk, menatap puteranya yang bersandar pada dadanya. Sedangkan Taehyung menatap kosong pintu kamarnya yang terbuka, Taehyung selalu menghabiskan waktunya di dalam kamar itu sepanjang ia bernafas hingga saat ini, tak ada yang berubah dari kamarnya. Kamar itu tetap gelap, walaupun lampu yang ada di dalam sana menyala, tapi bagi Taehyung kamar itu tetap gelap gulita layaknya gua.

"U-ukh..." Taehyung meringis, kedua matanya terpejam, tanpa sadar tangan kecilnya meremas sweater rajut Ibunya. Dirinya kembali mengingat suara teriakan penuh akan emosi yang membludak tinggi dan suara benda-benda yang selalu digunakan untuk memukulnya di dalam kamar itu.

Ayahnya sering memukul Taehyung di dalam kamarnya tanpa adanya sebuah alasan yang jelas, semuanya terjadi secara tiba-tiba saat Ayahnya masuk ke dalam kamar Taehyung dengan sempoyongan, aroma Ayahnya sangat busuk sampai membuat Taehyung mual. Lalu detik itu juga Ayah Taehyung memukulnya tanpa aba-aba sambil terus meracau jika Ayahnya malam itu kalah dalam berjudi, tidak berhasil menjual dirinya, mengatakan Taehyung adalah anak yang tidak berguna, menyalahkan Taehyung kenapa hingga saat ini Taehyung masih bernafas hidup, dan beberapa ucapan-ucapan lainnya yang sama tidak Taehyung pahami.

Itu yang membuat Taehyung sangat jarang bisa terlelap damai menyusul alam mimpi yang indah jika ia tertidur di sana. Terlebih lagi jika kedua orangtuanya bertengkar, Taehyung benar-benar merasa tersiksa.

Terkadang Taehyung bertanya pada dirinya sendiri, apa anak-anak seusianya mengalami hidup seperti ini juga?

Pikiran Taehyung kacau ketika ia merasakan sebuah usapan halus pada punggungnya, Taehyung mengubah posisinya, mengangkat kepalanya dan bertemu pandang dengan kedua mata Ibunya. "Taehyung, Ibu sungguh ingin bertanya padamu. Jangan bercanda" Suara Ibunya sangat pelan dan begitu lembut membuat Taehyung merasakan sensasi aneh pada dirinya, karena Ibunya jarang berbicara dengan nada seperti itu padanya.

"Apa kau menyayangi Ibu?"

Pertanyaan yang sama. Wajah Taehyung tidak berubah, masih datar dan merasa pertanyaan itu sama sekali bukan pertanyaan yang menarik bagi Taehyung. "Aku tidak mengerti dengan pertanyaan Ibu." Jawabnya lagi.

"Kau tidak mengerti maksudku? Kau tidak berbohong bukan?"

Taehyung menggeleng, "Tidak." Balasnya pendek.

Telapak tangan Ibunya berpindah menyentuh pucuk kepala Taehyung, lalu menghela nafas. "Jika ada seseorang yang kau cintai mengatakan hal seperti itu padamu, kau harus merasa senang dan bersemangat menjawabnya."

"Kenapa harus seperti itu?"

Ibu Taehyung tersenyum kecil, satu tangannya terulur meraih sesuatu dari balik punggung Taehyung. "Itu karena, jika kau menjawab 'ya', berarti kau siap untuk melakukan apapun padanya."

Taehyung memiringkan kepalanya, bagi Taehyung, ucapan Ibunya itu aneh. "Apapun?" Ujarnya yang di balas anggukan oleh Ibunya.

Taehyung tak pernah mendengar hal semacam 'kasih sayang' ataupun 'cinta' selama ini, tidak ada yang pernah mengucapkan hal semacam itu di rumahnya. Ayahnya atau Ibunya, Taehyung tidak pernah mendengar mereka membahas hal semacam itu. Yang Taehyung tahu, ketika kedua orangtuanya bertemu, sepuluh menit kemudian mereka akan selalu bertengkar.

Jadi, ini hal baru bagi Taehyung.

Pandangan mereka masih beradu, Taehyung merasa Ibunya tengah menunggu pertanyaan yang akan terucap dari bibir mungilnya. "Bagaimana jika aku menjawab tidak?" Dan Taehyungpun bertanya.

Senyum Ibu Taehyung kembali terukir sampai bibir Ibunya terlihat tipis. "Itu berarti kau tidak menyukainya, kau tidak akan melakukan 'apapun' yang dia minta."

Kedua mata Taehyung mengerjap mendengarnya, itu hal baru dan sepertinya Taehyung harus mengingat itu dengan baik. "Uh, aku mengerti." Taehyung mengangguk.

Tubuh Taehyung direngkuh, dagunya langsung ia letakkan pada bahu kiri Ibunya. "Hmm, jadi? Apa jawabanmu untuk Ibu? Kau menyayangi Ibu, kan?" Ujar Ibu Taehyung ketika mendengar jawaban yang ia rasa cukup membuatnya yakin jika Taehyung akan menjawab pertanyaannya dengan anggukan, lalu disusul dengan ucapan 'ya' dari puteranya.

Akan tetapi respon Taehyung malah sebaliknya, Ibu Taehyung merasakan puteranya menggelengkan kepala di pelukan mereka.

"Tidak, aku tidak menyayangimu." Jawabnya tanpa beban.

Kedua mata Ibu Taehyung membulat, merasa tidak percaya dengan jawaban puteranya. "A-apa? Kenapa?"

Taehyung memandang sebuah lukisan seekor macan yang digantung pada dinding rumahnya dengan pandangan kosong. "Aku tidak mengerti kata cinta yang Ibu maksud. Tapi ketika aku mendengarnya, sepertinya satu kata pendek itu mengarah pada sesuatu yang spesial, terdengar seperti kejutan layaknya gambar-gambar kelinci yang sering kulihat di buku milikku, dan, sesuatu yang lembut dan tulus." Taehyung terdiam sebentar, "Tapi aku tidak mendapatkan semua itu darimu, Ibu."

Kening Ibu Taehyung berkerut, "Apa maksudmu?"

"Karena kau bukan Ibu asliku."

Ibu Taehyung terdiam, itu membuat Taehyung kembali berujar. "Aku tidak sengaja mendengarnya saat kalian bertengkar malam-malam di dapur, Ayah mengatakan Ibu bukan Ibu asliku dan Ayah tidak mengizinkan Ibu membawaku pergi." Taehyung menarik nafas kemudian menghembuskannya, "Sebenarnya, Ibu ingin membawaku kemana?"

Taehyung menunggu sang Ibu menjawab pertanyaannya, akan tetapi Ibunya tidak merespon setelah beberapa detik Taehyung menunggu. Suasana semakin hening, yang Taehyung dengar hanyalah deru nafas mereka dan leher Taehyung yang mulai pegal karena terlalu lama mendongak di atas bahu Ibunya.

"Ibu?" Taehyung memanggil ketika Ibunya semakin mengeratkan pelukan mereka.

"Seharusnya aku terkejut dengan pengakuanmu yang mengetahui aku bukanlah Ibu kandungmu, tapi dilihat dari ekspresi wajahmu, nada bicaramu, kau terlihat tidak keberatan dengan fakta itu. Dan, kenapa kau mengatakan jika di dalam diriku, kau tidak bisa merasakan apa yang kau maksud?" Ibu Taehyung terdiam sebentar, "Seperti kata cinta yang kau artikan barusan sampai membuatmu menjawab kau tidak menyayangi Ibumu." Ujarnya dengan nada bicara yang berubah, terdengar kosong.

Taehyung menahan bahu Ibunya saat dirasa bahu itu semakin menghimpit dadanya. "Uh, itu karena aku tidak bisa merasakannya."

Pelukan Ibunya yang semakin erat berhenti seketika. "Apa?"

"Aku tidak bisa merasakan semuanya. Apa yang selama ini Ibu lakukan padaku. Seperti pelukan-pelukan yang Ibu berikan padaku, uh, sama seperti sekarang ini, aku merasakan dingin. Ibu yang menemaniku tidur, memberiku makan ketika aku mengatakan lapar, memandikanku, menatapku." Taehyung mengambil nafas, "Semuanya dingin seperti es, dan, terasa seperti Ibu terpaksa melakukannya." Taehyung terdiam sebentar, "Apa memang seperti ini seorang Ibu memperlakukan anaknya, Bu?"

Nafas Ibu Taehyung tercekat, mendengar ucapan seperti itu mengalir dengan sempurna dari bibir putera tirinya yang masih berumur lima tahun membuat dirinya terkejut. "A-apa maksudmu, Taehyung?"

"Aku juga tidak tahu, tapi aku merasakannya seperti itu. Jadi, aku tidak menyayangimu dan aku tidak bisa melakukan apapun yang Ibu mau karena aku tidak merasakan cinta yang mengalir darimu untukku ketika aku melihat Ibu." Taehyung mengerjap, dirinya bahkan baru tersadar kenapa ia bisa berucap seperti itu kepada Ibunya. "Uh, jika memang benar seorang Ibu memperlakukan anaknya seperti itu, aku tidak tahu kenapa aku menolak untuk menyayangimu. Apa Ibu tahu aku kenapa?" Taehyung mengerjap lagi, seperti ia melupakan sesuatu. "Uh, maksudku. Aku meminta tolong pada Ibu untuk menjawab ucapanku."

Taehyung menunggu jawaban seperti apa yang akan Ibunya lontarkan kepadanya selama beberapa detik, akan tetapi Taehyung tidak mendapatkannya. Pelukan mereka melonggar. Satu tangan Ibunya berada di punggungnya, dan satu tangan lainnya menyentuh kepala belakang Taehyung kemudian dibawa untuk menatap sang Ibu.

Taehyung bisa melihat kedua bola mata Ibunya begitu gelap, seolah mata itu kosong dan, terasa seperti adanya sebuah keputusasaan. Ah, terkadang Taehyung tidak mengerti dengan dirinya sendiri, Taehyung tidak bersekolah, Taehyung tidak bisa membaca dan menulis. Akan tetapi, Taehyung selalu saja melontarkan kata-kata yang menurutnya Taehyung juga tidak memahami kata-kata itu. Semuanya terucap begitu saja dari bibir kecilnya.

Taehyung mengerjap ketika otaknya lagi-lagi menyimpulkan sesuatu di luar kendalinya. Kedua matanya kembali menatap Ibunya yang sekarang ini Ibunya tengah tersenyum. Bukan, itu bukan senyuman seperti yang biasa Taehyung lihat, senyum itu berbeda.

"Kau benar, Kim Taehyung. Putera tiriku." Tangan Ibu Taehyung yang berada di belakang kepalanya perlahan bergerak mengusap halus. "Aku menikah dengan Ayahmu di umurku yang masih sangat muda. Dan saat aku pindah ke rumah ini, aku baru tahu ternyata Ayahmu seorang duda." Ibu Taehyung terkekeh kecil, "Kau tahu? Aku terkejut, di benakku tentang mempunyai seorang anak itu masih terbilang sangat jauh karena umurku masih muda. Tapi Ayahmu memberiku kejutan jika ternyata ia memiliki seorang anak, itu membuatku marah padanya. Aku mengatakan Ayahmu adalah seorang penipu karena berhasil menikahiku dengan iming-iming dia lajang dan seorang pengusaha besar yang sukses."

Wajah Taehyung tak berubah, ia memperhatikan Ibunya yang bercerita dengan wajah datar, seperti Taehyung tidak memiliki rasa keingintahuan tinggi terhadap ucapan Ibunya.

"Dari situ kami sering bertengkar, aku tersadar ternyata aku menikahi seseorang yang salah, sangat salah. Ayahmu lebih buruk dari orang-orang yang pernah aku temui. Penipu, pencuri, penjudi, pembohong, dan psikopat. Itu definisi Ayahmu bagiku." Ibu Taehyung terdiam sebentar, "Dan saat pertama kali aku melihatmu berbaring tidur di ranjang kecilmu, aku tidak percaya dengan umurmu itu satu tahun. Ah, aku memang tidak terlalu mengerti soal anak, tapi, saat itu kau kecil sekali. Itu membuatku ragu jika umurmu satu tahun."

Tangan Ibu Taehyung berpindah menyentuh kening Taehyung dengan pelan menggunakan jari telunjuk. "Pertama kali aku melihatmu, kau sama sekali tidak mirip dengan Ayahmu, itu membuatku sempat curiga jika kau bukanlah anak dari Ayahmu. Lalu aku bertanya beberapa kali padanya, jika anak mungil yang tengah tertidur di atas ranjang kecil itu apakah benar anaknya, tetapi jawaban Ayahmu tetap sama. Kau adalah anaknya." Jari Ibu Taehyung turun menyentuh pipi tirus Taehyung, "Kau belum bisa berjalan, tidak berbicara selayaknya bayi cerewet yang sering aku temui di luar sana. Aku pernah mengira jika kau bisu, tapi itu tidak bertahan lama. Waktu dimana untuk pertama kalinya aku mendengarmu menangis pada saat aku dan Ayahmu bertengkar, itu membuatku menepis semua pemikiranku tentang dirimu yang bisu. Saat itu kau menyuruh Ayahmu untuk berhenti memukulku sambil menangis keras, dan selalu seperti itu hingga saat ini. Boleh aku bertanya kau melakukan itu karena apa? Kupikir kau melakukan itu karena kau menyayangiku, tapi saat aku bertanya apa kau menyayangiku, kau menjawab tidak."

Taehyung meremas ujung baju piyamanya mendengar ucapan itu, pandangannya mulai ragu untuk menatap kedua mata Ibunya. "Uh, aku melakukannya karena menurutku jika Ayah memukul Ibu, itu terlihat tidak nyaman untuk dilihat." Taehyung mengelak pandangannya dari tatapan Ibunya. "Pukulan Ayah sangat sakit, dan Ibu adalah perempuan. Akan sangat aneh melihat seorang laki-laki memukul perempuan. Aku melihat di buku kelinciku, Ibu kelinci sangat dilindungi oleh keluarganya dari binatang lain hendak memangsanya."

Ibu Taehyung tertegun mendengar jawaban Taehyung beberapa saat, lalu tangannya ia bawa meraih dagu Taehyung sampai kedua mata kecil anak yang selama ini berstatus sebagai anak tirinya menatap kembali dirinya. "Kau, sungguh melakukannya karena merasa iba padaku? Kau melakukannya karena kau merasa aneh ketika melihat aku dipukuli oleh Ayahmu?" Ibu Taehyung membuang nafas tidak percaya, "Lalu bagaimana dengan dirimu yang menangis? Kau menangis sangat kencang, apa maksudnya itu, Taehyung?"

Taehyung menyentuh jari sang Ibu yang mengapit dagunya, "Itu karena Ayah akan sedikit lemah jika melihatku menangis. Ayah tidak suka, jadi aku melakukan itu untuk bisa membuat Ibu terbebas dari Ayah."

Ibu Taehyung merasa lemas mendengarnya, jadi selama ini pemikirannya pada Taehyung itu salah? Ia mengira alasan Taehyung melakukan semua itu karena Taehyung menyayanginya. Tapi apa yang baru saja ia dengar? Semua itu di luar ekspektasinya.

"Begitu?" Ibu Taehyung tanpa sadar terkekeh. "Hei, nak. Apa kau tahu alasan kenapa selama ini aku bersikap seperti itu padamu? Seperti yang kau bilang tadi, kau tidak bisa merasakan cinta yang mengalir pada diriku selayaknya Ibu kandungmu?"

Taehyung memiringkan kepalanya, "Ibu kandung? Apa maksud Ibu? Aku tidak tahu apa itu Ibu kandung, yang kutahu kau adalah Ibuku walaupun kau bukan Ibu asliku."

Ibu Taehyung tertawa, "Ah, benar. Kau tentu tidak tahu bagaimana rasanya memiliki sosok Ibu yang sesungguhnya." Ia mengusap pucuk kepala Taehyung. "Sebenarnya aku membencimu, mungkin itu alasan kenapa kau tidak bisa merasakan adanya cinta yang mengalir dari dalam diriku untukmu. Merawatmu, menemanimu tidur, memberimu makan, memandikanmu, menggantikan pakaianmu. Kau benar, aku terpaksa melakukan itu semua agar kau tetap hidup atas suruhan Ayahmu." Ibu Taehyung menghela nafas pelan, "Hari terus berlalu dan Ayahmu semakin tak terkendali. Ayahmu benar-benar seperti iblis, kau tahu itu? Dia membunuh, merampok uang, berjudi, menjadi psikopat gila. Dan semua itu membuatku muak dan ingin segera pergi meninggalkan Ayahmu."

Tangan Ibu Taehyung beralih menangkup pipi kanan Taehyung, rasa dingin langsung Taehyung rasakan dari telapak tangan itu. "Tapi itu tidak mudah, Ayahmu mengancam akan membunuhku jika aku melakukannya. Itu membuatku takut dan ingin membunuh iblis itu agar ia tidak membunuhku lebih dulu, akan tetapi tentunya dia jauh lebih kuat dibandingkan aku." Ibu Taehyung tersenyum miris, "Lalu pertengkaran kami semakin parah seiring berjalannya waktu, bahkan Ayahmu mulai berani memukulku. Ah, tapi aku tertolong berkatmu yang berani menyela pertengkaran kami, kau membiarkanku keluar dari rumah ini tanpa memperdulikan dirimu yang akan menggantikan posisiku untuk dipukuli oleh Ayahmu. Aku berterimakasih untuk itu."

Taehyung hanya diam memperhatikan, sampai ia melihat raut wajah Ibunya berubah mendung, kedua alis Taehyung terangkat.

"Kau tahu apa yang tengah ku rencanakan malam ini?" Ujar Ibunya yang Taehyung balas dengan gelengan pelan. "Apa kau tidak merasa aneh dengan diriku yang tidak langsung keluar dari rumah ini setelah kau menyelamatkanku untuk kesekian kali?" Ibu Taehyung terkekeh dengan suara berat. "Itu karena Ayahmu membunuh Ibuku, tepatnya tiga hari yang lalu."

Taehyung tertegun, kedua matanya perlahan melebar. "H-huh?"

Ibu Taehyung mengangguk, tersenyum puas melihat reaksi Taehyung. "Ya, Ayahmu membunuh Ibuku saat aku mengancam akan cerai dengannya sekaligus akan melaporkan seluruh kejahatan yang ia perbuat ke polisi." Tangan Ibu Taehyung terulur merapikan rambut Taehyung yang menutupi matanya, "Aku berniat untuk balas dendam malam ini, yaitu dengan membunuh Ayahmu. Tapi, itu sulit. Aku tidak bisa melakukannya."

"Lalu aku teringat padamu. Ayahmu mengatakan kau itu penting, penting dalam arti kau dibutuhkan untuk seseorang yang kelak akan mengambilmu untuk membayar hutang masa lalu Ayahmu." Satu tangan Ibu Taehyung yang sejak tadi berada di punggung Taehyung di bawa menjauh, "Aku kira ketika aku bertanya kau menyayangiku layaknya seorang Ibu yang bertanya kepada anak lelakinya, kau akan menjawab dengan anggukan. Tapi sepertinya aku salah, aku melupakan fakta jika kau tidak pernah diajarkan banyak hal oleh Ayahmu maupun aku. Oh sayang sekali, seharusnya anak seusiamu tumbuh dengan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Bukan berdiam diri di dalam kamar kecilmu sendirian, menjadi pelampiasan Ayahmu dan selalu mendengar kedua orangtuamu bertengkar." Ujarnya, bahkan nada bicara Ibu Taehyung berubah sedih sambil mengusap pipi Taehyung.

Taehyung sama sekali tidak berekspresi. Tidak merasa marah, sedih, tersinggung, ataupun kecewa dengan apa yang barusan Ibunya katakan. Wajahnya tetap datar seperti biasa. Tapi itu semua membuat Taehyung menyimpulkan satu hal. Jadi selama ini Taehyung hidup dengan cara yang salah?

Taehyung merasakan tangan Ibunya menelusup masuk ke dalam baju piyamanya, Taehyung merasakan kulit tangan dingin Ibunya menyentuh punggung telanjangnya membuat Taehyung sedikit bergidik geli. "Aku ingin bertanya padamu, apa kau tidak lelah hidup dengan iblis itu? Kau benar-benar tidak ingin keluar dari sini? Apa kau tidak penasaran dengan dunia luar dari balik pintu utama rumahmu? Aku yakin kau akan menemukan sesuatu yang tidak terduga di luar sana."

Taehyung menatap Ibunya, ekspresinya sama sekali tidak berubah sehingga Ibu Taehyung sulit untuk menebak. "Aku tidak tahu." Jawab Taehyung pendek.

Itu membuat Ibu Taehyung mengerutkan alisnya seperti merasa iba atas jawaban Taehyung. "Oh anak yang malang, apa Ayahmu memukulmu sampai mengenai mentalmu? Aku melihat banyak sekali iblis itu meninggalkan bekas luka di tubuhmu, jika aku memiliki hati untukmu aku yakin aku sudah mengobatimu dan membawamu ke rumah sakit." Jari Ibu Taehyung mengusap sudut bibir Taehyung yang terdapat luka lebam di sana. "Tapi sayangnya aku tidak memiliki hati untukmu, karena kau adalah anak dari iblis itu. Kau tahu bukan? Ibuku dibunuh olehnya, menurutmu apa itu terdengar lucu? Tentu tidak bukan? Tapi kenapa setelah iblis itu membunuh Ibuku dan mengatakannya padaku, dia tertawa?"

Tubuh Taehyung mulai bergerak tidak nyaman di atas pangkuan sang Ibu, Taehyung merasa tatapan serta nada bicara Ibunya mulai aneh, terlebih lagi satu tangan Ibunya masih berada di dalam baju piyama yang Taehyung kenakan membuatnya semakin tidak bisa bergerak nyaman.

"Hei, Kim Taehyung. Apa kau tahu jika aku tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini?" Ibu Taehyung tersenyum kecil sambil tangannya mengusap kepala belakang Taehyung untuk kesekian kali. "Ayahku meninggal saat ia bekerja membangun sebuah gedung bertingkat, dia terjatuh dari lantai lima. Waktu itu umurku tujuh belas tahun, masih terlalu muda untuk ditinggal oleh seorang Ayah kandung yang sangat amat kusayangi." Ibu Taehyung terkekeh, "Dan sekarang, Ibuku meninggal karena dibunuh oleh suamiku sendiri? Ah, tidak, dia sama sekali bukan suamiku. Dia adalah iblis yang pantas mati dengan cara paling mengenaskan."

Tanpa sadar tangan kecil Taehyung memegang pergelangan tangan Ibunya yang mengusap kepala belakangnya, Taehyung merasa usapan pada tangan Ibunya berbeda jika dibandingkan dengan yang tadi. Usapan ini seperti menahan emosi yang bergejolak sehingga Taehyung merasa tangan Ibunya menekan kepalanya.

"Aku sepertinya mulai menyukai dan menyayangimu." Perlahan, bibir Ibunya mendekat ke telinga Taehyung, kemudian berbisik. "Dan aku tidak membutuhkan jawaban 'ya' darimu agar kau bisa melakukan apapun untukku. Kau bisa menyebutku tidak adil, karena aku sudah merencanakan ini sebelumnya. Jika aku tidak bisa membunuh Ayahmu malam ini, bagaimana jika aku membunuh anak kandungnya yang berguna?" Ibu Taehyung terkekeh mengerikan, "Setidaknya ku anggap itu adil walaupun aku harus mati malam ini karena amukan Ayahmu."

Detik selanjutnya Taehyung merasakan punggungnya tergores oleh benda tajam. Taehyung terpekik, lalu berteriak kesakitan. Tubuhnya memberontak dari pelukan sang Ibu agar segera dilepaskan, akan tetapi tenaganya tidak cukup kuat. Tangan Taehyung yang semula memegang pergelangan tangan Ibunya kini berbalik, Ibunya mencengkeram tangan kecil Taehyung agar Taehyung tetap pada posisinya. Sedangkan satu tangan Ibunya terus menusuk sekaligus menggores punggung Taehyung berkali-kali menggunakan pecahan kaca lemari.

"Setidaknya dengan ini aku bisa membalas iblis itu. Tak tahukah dia betapa tersiksanya aku? APA DIA TAHU BAGAIMANA MENYEDIHKANNYA DIRIKU SAAT MELIHAT IBUKU SENDIRI MATI DI DALAM RUMAHKU DENGAN MULUT YANG BERBUSA KARENA RACUN TIKUS?!" Ibu Taehyung meraung marah, tangannya terus menggores punggung Taehyung dengan berantakan, ia tidak peduli dengan teriakan kesakitan Taehyung.

Taehyung merasakan tubuhnya terasa panas sekaligus perih karena benda tajam itu terus menggores bahkan sampai mengoyak punggungnya, Taehyung terus memberontak agar terlepas dari kungkungan Ibunya. Akan tetapi itu sangat sulit, bahkan sekarang ini satu tangan Ibunya yang lain beralih menarik leher Taehyung untuk dipeluk dengan erat..

"I-ibu hentikan! Sakit!" Taehyung menangis, "Sakit, Ibu! H-hentikan!"

Ibu Taehyung menggeleng. "Tidak, Taehyung, tidak. TIDAK SAMPAI IA MERASAKAN APA YANG KURASAKAN! AKU TIDAK AKAN PERNAH BERHENTI!"

Tubuh Taehyung terbanting ke lantai, itu menyebabkan sakit pada punggungnya semakin menjadi, pecahan kaca yang tercecer di lantai ikut menusuk tubuh belakang Taehyung. Tangis Taehyung semakin keras, Taehyung takut. Akan tetapi itu tidak membuat Taehyung berhenti untuk memohon kepada Ibunya untuk menghentikan ini.

Taehyung hendak bangkit untuk lari, tetapi satu tangan Ibunya sudah lebih dulu mengukung dua tangan Taehyung lalu dibawa ke atas kepalanya. Taehyung bisa merasakan cengkeraman kuat dari tangan Ibunya.

Lalu, pandangan mereka bertemu. Untuk pertama kalinya Taehyung melihat wajah Ibunya yang sangat menyeramkan. Kedua mata Ibunya sangat gelap, seperti tertutup oleh sesuatu yang Taehyung ragu pada pemikirannya. Apa kata 'bunuh' yang selama ini Taehyung dengar dari pertengkaran kedua orangtuanya adalah seperti ini? Apa ini yang dinamakan aura yang benar-benar berniat membunuh? Jika memang benar, Taehyung berharap semoga ia tidak akan pernah dipertemukan kembali dengan tatapan seperti ini lagi untuk kedua kalinya.

"Apa sakit? Tentu, tentu saja sakit. Aku berharap Ayahmu yang merasakannya, tapi sayang sekali. Anak berusia lima tahun sepertimu yang harus mengalami ini." Satu tangan Ibu Taehyung yang masih memegang pecahan kaca, perlahan terangkat mengarah ke leher Taehyung. "Maaf jika harus membuat kenangan buruk padamu, tapi aku akan segera menyelesaikannya." Senyum kecil sempat terlihat dari bibir Ibunya, lalu Tangan Ibu Taehyung semakin mendekat ke lehernya.

Taehyung tak bisa berkata apapun lagi, suaranya mendadak hilang karena terlalu takut sampai badan mungilnya bergetar. Taehyung melihat tidak ada setitikpun cahaya dari kedua mata Ibunya untuk membawa Ibunya kembali sadar. Semuanya gelap, sangat gelap. Hanya ada rasa benci, kecewa, marah, dan keputusasaan.

Sedikit lagi pecahan kaca itu akan mengoyak lehernya, bahkan yang Taehyung lakukan hanya menangis, menutup kedua matanya dan berharap semua ini cepat berakhir entah bagaimanapun caranya. Tak ada perlawanan seperti tadi karena ia sadar tenaganya jauh lebih kecil daripada Ibunya.

"Apa yang kau lakukan, sialan?!"

Pecahan kaca yang semula mengenai leher Taehyung tiba-tiba terjatuh, dengan perlahan Taehyung membuka kedua matanya. Dari balik badan Ibunya, Taehyung melihat Ayahnya melayangkan sebuah kaleng yang masih tersegel ke kepala Ibunya dengan keras. Kaleng itu langsung terbuka ketika berhasil menghantam kepala Ibunya, Ibu Taehyung terhuyung jatuh menimpa badan mungilnya yang mana membuat pecahan kaca di balik tubuh kecil Taehyung semakin menusuknya. Taehyung tidak berteriak seperti tadi karena suaranya benar-benar seperti tertelan, melainkan ia diam bersamaan dengan cairan dari dalam kaleng itu tumpah mengotori lantai, rambut Ibunya dan sedikit pipi Taehyung.

Bau isi kaleng menguar menyapa indera penciuman Taehyung, perut Taehyung langsung bergejolak mual, ia mengenal bau ini. Ini bau Ayahnya ketika Taehyung dipukuli di dalam kamarnya. Tubuh Taehyung semakin bergetar karena takut, otaknya kembali memutar memori dimana Ayahnya memukul Taehyung dengan bertubi-tubi sampai membuat Taehyung berbaring di atas ranjang selama berhari-hari.

Ayah Taehyung mendesah keras, "Wanita sialan! Apa yang kau lakukan pada bocah itu, huh?! Apa kau gila?!" Lalu Ayah Taehyung menendang kaki Ibunya dengan marah.

Akan tetapi Ibu Taehyung tidak bergerak, itu membuat Taehyung panik. "I-ib-ibu?" Tangan Taehyung yang berhasil bebas dari cengkeraman tangan sang Ibu langsung terulur mengguncang bahu Ibunya. "B-bu? I-ibu?"

Ayah Taehyung berdecak kesal, "Bagus! Dia tidak sadarkan diri! Dengan begini aku yang harus membereskan kekacauan ini!" Lalu Ayah Taehyung melangkah melewati Istri dan puteranya, tapi sebelum Ayah Taehyung kembali melangkah, ia sempat berhenti saat melewati Taehyung. "Cepat lepaskan dirimu, bocah. Lalu masuk ke kamarmu." Dan Ayah Taehyung berlalu untuk mengambil sesuatu dari dalam kamar Taehyung.

Taehyung menurut, tangan mungilnya hendak menggeser bahu Ibunya. Akan tetapi ia merasakan tangan Ibunya lebih dulu bergerak menyentuh pucuk kepalanya. Taehyung hampir terpekik, tapi satu tangan Ibunya yang lain langsung membungkam bibir kecilnya.

Ibu Taehyung mendesis, perlahan kepalanya terangkat menatap Taehyung yang terlihat sangat menyedihkan. Kedua mata itu bengkak, bau bir bercampur darah menguar diantara mereka dan tubuh mungil Taehyung bergetar hebat. Ibu Taehyung tertegun melihatnya, lalu menjauhkan tangannya dari bibir Taehyung.

Taehyung yang melihat Ibunya sadar, sedikit merasa lega. "I-i-ibu? I-ibu baik-ba-baik sa-sa-saja?"

Bibir dengan luka lebam di sudutnya berujar pelan, Ibu Taehyung bisa melihat dengan jelas bibir mungil itu bergetar saat mengeluarkan beberapa patah kata tadi yang menurutnya itu tidak penting untuk diucapkan kepada seseorang yang sudah melakukan kekerasan terhadap anak berusia lima tahun seperti Taehyung.

Taehyung menanyakan keadaan Ibunya di saat seperti ini.

"T-taehyung..." Dengan gerakan perlahan Ibu Taehyung mengangkat tubuhnya, menyangga tubuhnya agar tidak terlalu menghimpit tubuh Taehyung menggunakan satu tangan. "D-dengar, aku hanya akan mengatakan ini satu kali. Dan setelahnya, itu tergantung padamu."

Ibu Taehyung mengambil nafas, "Kau sungguh ingin tetap tinggal di sini? Dengan hari-hari yang sama? Kau sungguh ingin terus hidup seperti ini? Apa kau tidak berniat untuk mencoba hal baru dari balik pintu utama rumahmu?" Ibu Taehyung terdiam sebentar, "Kau tahu?" Kedua mata Ibu Taehyung menatap puteranya yang masih terpaku di tempat dengan tubuh bergetar hebat. "Cara hidupmu salah, anak dengan usia kecil sepertimu tidak hidup dengan cara seperti ini. Kau berhak tahu dan bebas untuk mengejar apa yang selama ini tertanam di otak kecilmu. Kau bisa meraihnya diluar sana, cari dan dapatkan. Maka kau akan memahami suatu hal dari semua itu, dan kau akan belajar tentang hidup di dunia ini. Dunia luar itu unik, Taehyung. Kau harus tersiksa di luar sana agar kau bisa mengerti hidup yang sebenarnya."

Taehyung menatap Ibunya dengan kedua pupil yang bergetar, Taehyung tidak mengerti maksud Ibunya. Akan tetapi kenapa itu terdengar menarik bagi Taehyung?

Ada apa di balik pintu utama rumahnya?

Taehyung merasakan kembali berat pada tubuhnya, di susul oleh suara decakan Ayahnya yang baru kembali membawa sebuah sapu dari dalam kamarnya.

"Kau masih di situ? Aku menyuruhmu untuk menyingkir dan masuk ke dalam kamarmu, bocah sialan!"

Taehyung tersentak, dirinya cepat-cepat menggeser bahu Ibunya. "U-ukh... ini berat, Ayah." Taehyung mengerutkan alisnya. Kenapa Ibunya menahan tubuhnya?

Ayah Taehyung mendengus, membuang sapu yang ia pegang ke lantai dengan kasar. Lalu kedua tangan Ayahnya terulur menyingkirkan tubuh Ibunya dengan cara diangkat, Taehyung langsung berdiri walaupun sangat sulit. Tubuh Taehyung terhuyung, dirinya sulit untuk berdiri normal.

"Masuk ke kamarmu, obati lukamu sendiri sebagaimana kau selalu mengobatinya." Ujar Ayah Taehyung, lalu tangannya mengapit sebatang rokok yang berada di bibir.

Taehyung mengangguk, akan tetapi langkahnya terasa berat ketika matanya menangkap tubuh Ibunya yang masih terbaring di atas lantai yang dipenuhi oleh serpihan kaca dan juga darah. Entah kenapa ucapan Ibunya tadi masih terngiang di benaknya. Taehyung tertarik pada apa yang akan ia temukan di balik pintu utama rumahnya.

Akan seperti apa kira-kira?

"Kau masih disana? Apa kau ingin tubuh kurusmu kupatahkan? Cepat masuk! Jangan menambah bebanku, sialan!"

Taehyung tersentak mendengar bentakan Ayahnya, kaki mungilnya perlahan melangkah menuju kamarnya. Seluruh tubuh Taehyung sangat sakit luar biasa, tubuhnya terasa remuk dan siap hancur kapan saja jika seseorang kembali menghempaskan tubuh kecilnya ke lantai. Akan tetapi dirinya sempat merasa bingung, kenapa ia masih bisa bertahan sadar seratus persen dengan semua luka yang ia dapat malam ini?

Dengan langkah tertatih Taehyung tetap terus membawa kakinya melangkah dengan perasaan berat menuju kamarnya, sesekali langkah Taehyung tak seimbang sehingga membuatnya hampir jatuh. Kakinya perih karena ada beberapa serpihan kaca yang menusuk, tapi Taehyung tidak boleh berhenti, Ayahnya bisa memukulnya jika Taehyung tidak menurut.

Dan akhirnya Taehyung sampai di ambang pintu kamarnya, tapi sebelum tubuhnya masuk, Taehyung dikejutkan dengan suara teriakan kesakitan sang Ayah di balik tubuh mungilnya, kepala Taehyung dengan cepat tertoleh kebelakang.

"MATI! MATI! MATI! CEPATLAH MATI!"

Kedua bola mata Taehyung membulat sempurna, disusul oleh tubuh kecilnya yang kembali bergetar. Taehyung melihat Ibunya menusuk wajah Ayahnya menggunakan sepotong pecahan kaca, Ayah Taehyung terkapar di atas lantai tempat dimana Ibunya menghempaskan tubuhnya tadi. Kedua tangan Ayah Taehyung berada di depan wajahnya membentuk huruf X guna menghalangi tusukan dari Ibunya sambil berteriak kesakitan.

Mengerikan, benar-benar mengerikan. Tubuh kecil Taehyung terpaku di tempat, matanya tak berkedip menatap bagaimana sang Ibu yang begitu brutal melayangkan sepotong kaca tajam itu ke wajah sang Ayah. Tubuh Taehyung bergetar kembali, bahkan Taehyung tidak sadar jika kedua matanya sudah mengeluarkan air mata. Taehyung kembali menangis.

Apa, apa yang sebenarnya sedang Taehyung lihat saat ini? Teriakan balas dendam, wajah putus asa, amarah membludak tinggi, dan perasaan sakit yang selama ini dipendam kuat akhirnya meledak.

Apa anak seusianya juga melihat hal seperti ini di luar sana?

Gerakan Ibunya berhenti saat Ayahnya tak bergerak, bahkan kedua tangan sang Ayah yang semula melindungi wajahnya terjatuh ke lantai. Darah mengalir dari wajah Ayah dan kedua tangan Ibunya sampai menetes mengotori lantai.

Jantung Taehyung semakin berdegup kencang saat kedua mata sang Ibu ter-arah menatapnya. Kedua mata itu gelap sama persis seperti yang Taehyung lihat saat dimana Ibunya menggores punggungnya menggunakan serpihan kaca, akan tetapi kali ini kedua mata itu terlihat sedikit mengilat merah. Taehyung tidak pernah melihat tatapan seperti itu sebelumnya, tatapan itu seperti sudah terlalu lama memendam perasaan sakit yang pada akhirnya terus menumpuk lalu meledak dengan sangat mengerikan.

Jarak mereka cukup jauh, akan tetapi Taehyung seperti merasakan jarak mereka hanya sebatas dirinya dan pintu kamarnya yang terbuka ketika matanya beradu pandang dengan milik sang Ibu. Begitu dekat. Nafas Taehyung tercekat, jantungnya berdetak semakin menggila di dalam tubuh kecilnya saat melihat Ibunya perlahan bangun dari tubuh sang Ayah yang semula di tindih dan tangan yang masih memegang potongan kaca.

Ibunya begitu mengerikan, terdapat percikan darah di wajahnya dan rambut coeklat madunya sangat berantakan. Tubuh Ibunya sudah berdiri sempurna. Taehyung menahan nafas saat melihat sang Ibu sudah mulai melangkah berjalan ke arahnya, langkah Ibunya begitu cepat atau hanya perasaan Taehyung saja karena terlalu terpaku dengan sang Ibu yang terlihat begitu berbeda dari biasanya sampai-sampai ia tak sadar Ibunya sudah berdiri di hadapannya dengan jarak tiga langkah.

Taehyung kesulitan mengambil nafas, rasanya seluruh udara sangat sulit ia raih karena kedua matanya beradu pandang dengan kedua manik gelap Ibunya. Kedua tangan kecil Taehyung bergetar hebat sambil meremat ujung baju piyamanya yang sudah ternodai oleh darah dan serpihan kaca yang masih menempel.

Tentu semua itu tak luput dari pandangan sang Ibu, dengan jelas dirinya melihat puteranya begitu ketakutan melihat dirinya yang sekarang. Air mata Taehyung terus mengalir membasahi pipi sampai dagunya, Taehyung menangis, akan tetapi Taehyung tidak bersuara. Itu membuat Ibu Taehyung semakin meremat potongan kaca yang masih ia genggam, tak peduli jika itu akan membuat kulit telapak tangannya sobek. Toh, ia sudah tahu dirinya tidak bisa lari saat ini sampai ia berhasil menyelesaikan urusannya.

"Hei, nak," Ibu Taehyung menghela nafas dengan sangat pelan. "Apa boleh aku bertanya?"

Taehyung ingin membalik tubuh kecilnya lalu berlari masuk ke dalam kamarnya, mengunci pintu kamar rapat-rapat kemudian berlari mencari perlindungan di bawah selimut tebalnya sampai Ibunya pergi dari rumah. Akan tetapi tubuhnya benar-benar tidak bisa Taehyung gerakan, seolah ada satu lusin paku yang menancap di tubuhnya sehingga dirinya sulit untuk melarikan diri.

"Nak, aku berbicara padamu."

Taehyung ingin berteriak untuk jangan menyakitinya ketika mendengar sang Ibu bersuara, akan tetapi responnya malah di luar ekspektasinya. "A-a-ap-apa Ib-i-ibu... Ibu, Ibu ak-akan me-membu-membunuh-ku?" Ujarnya tanpa sadar.

Taehyung takut, jelas Taehyung sangat takut. Melihat bagaimana Ibunya melayangkan potongan kaca yang sekarang masih berada di genggaman tangan dengan brutal kepada Ayahnya tadi membuat Taehyung merasa dirinya akan menjadi korban kedua setelah sang Ayah. Tunggu, apa Ayah Taehyung mati?

Taehyung mengerjap ketika Ibunya jatuh terduduk di hadapannya, Taehyung bisa mendengar suara deru nafas Ibunya yang tidak teratur. Kepala Ibu Taehyung menunduk, "Kenapa... ke-kenapa." Gumamnya pelan tapi masih bisa terdengar jelas oleh Taehyung. Lalu detik selanjutnya, suara tangis memenuhi indera pendengaran Taehyung. Ibunya menangis. "Seharusnya aku tak melakukan itu padamu." Ujarnya penuh penyesalan.

Taehyung tak menjawab, tapi ia bisa mendengar suara tangis Ibunya begitu pilu selama sekian detik. Sampai Ibunya kembali mengangkat kepala, Taehyung melihat kedua mata Ibunya terdapat satu titik celah terang disana. "Aku... ingin bertanya padamu." Ibunya menatap Taehyung, "Tadi, kau mengatakan jika kau tidak tahu apa itu seorang Ibu kandung." Ibu Taehyung terdiam sebentar, "Tapi kenapa, kau mengatakan bahwa kau tidak bisa merasakan kasih sayangku padamu dengan alasan aku bukan Ibu kandungmu?"

Bahu sempit Taehyung yang semula tegang luar biasa bisa sedikit rileks setelah mendengar pertanyaan Ibunya yang kini tengah duduk dengan kedua kaki yang ditekuk ke belakang. Mata Ibunya basah dan bengkak, sebenarnya tak jauh beda dari Taehyung, akan tetapi ini pertama kalinya Taehyung melihat Ibunya menangis karena dirinya. Maka dengan sekepal keberanian yang tersisa, Taehyung membuka mulutnya walau agak terbata. Kemudian berujar, "A-aku, aku menemukan semua i-itu dari, buku ke-kelinciku."

Ibu Taehyung terdiam selama beberapa detik, "Bisa kau tunjukan kepadaku?"

Taehyung mengangguk ragu, tubuhnya perlahan berbalik, berusaha sekuat mungkin untuk menahan rasa sakit pada telapak kakinya yang Taehyung yakin ada banyak serpihan kaca menusuk. Taehyung berjalan dengan hati-hati masuk ke dalam kamarnya lalu berjalan mendekati ranjang kecilnya.

Taehyung selalu menyimpan buku itu di atas ranjangnya, lebih tepatnya di samping bantal tidurnya. Taehyung sebenarnya tidak tahu buku itu berasal darimana, ketika ia terbangun dari tidurnya tiba-tiba buku itu sudah berada di atas meja nakas kamarnya. Taehyung berpikir buku itu pemberian dari Ayahnya, akan tetapi buku itu tidak terlihat seperti buku baru yang di beli di. Melainkan buku itu terlihat tua dan sudah tersimpan lama di sebuah tempat sehingga baunya sangat berbeda dari bau buku-buku yang diberikan oleh Ibunya.

Taehyung hanya memiliki lima buku di dalam kamarnya, dan di antara ke-lima buku itu Taehyung hanya tertarik pada buku dengan cover seekor kelinci berwarna putih dengan dua mata berwarna merah terang. Baunya sangat berbeda dari buku-buku yang ada di kamarnya, itu yang membuat Taehyung tertarik untuk melihatnya. Walaupun Taehyung tidak bisa membaca, akan tetapi seiring Taehyung melihat gambar kelinci-kelinci itu, dengan perlahan Taehyung mulai mengerti alur ceritanya. Walaupun seratus persen Taehyung tidak yakin jika pemikirannya benar atau salah mengenai cerita kelinci-kelinci itu.

Taehyung meraih buku itu dari atas ranjang, kemudian Taehyung dekap menggunakan dua tangan kecilnya. Tubuh Taehyung masih bergetar, akan tetapi Taehyung tidak bisa menolak permintaan Ibunya yang ingin melihat buku yang Taehyung maksud. Lalu Taehyung berjalan keluar kamarnya, ia bisa melihat Ibunya sudah berdiri di depan pintu kamar Taehyung dengan jarak tiga langkah kaki orang dewasa.

"Ah? Buku itu ternyata. Aku selalu melihatmu memandang buku itu, apa buku yang ku berikan padamu tahun lalu belum kau buka plastiknya?" Ujar Ibu Taehyung saat melihat puteranya sudah berdiri di posisi seperti tadi. Taehyung mengangguk ragu, kedua matanya mengelak untuk menatap Ibunya. "Jadi? Bisa kau jelaskan alasanmu?" Ujar Ibu Taehyung.

Taehyung menggigit bibir bawahnya gugup. "U-uh, di buku ini aku melihat kelinci putih ada karena Ibunya." Ujarnya, "Ibu kelinci putih tidak pernah tergantikan sampai di akhir cerita. Jadi, aku berpikir jika dia adalah Ibu asli kelinci putih, karena dia selalu menemani kelinci putih tumbuh menjadi besar." Taehyung menarik nafas sangat pelan, "Aku... melihat Ibu kelinci sangat menjaga kelinci putih dengan baik. Um, jika kubandingkan dengan diriku dan dirimu, rasanya tidak sama dengan Ibu kelinci dan kelinci putih." Perlahan Taehyung menatap Ibunya, sedikit ragu. "Mungkin, jika aku bertemu Ibu asliku. Mu-mungkin rasanya akan sama seperti sebagaimana kelinci putih tumbuh dengan senyum lucu hingga dua gigi panjangnya terlihat." Taehyung mengeratkan dekapannya pada bukunya, "Tapi aku tidak tahu Ibu kandung itu seperti apa. Apa sungguh rasanya akan sama seperti Ibu kelinci dan kelinci putih?"

Ibu Taehyung total bungkam. Potongan kaca yang semula ia genggam kuat terjatuh begitu saja hingga menimbulkan suara dentingan kaca yang menghantam lantai. Ibu Taehyung tidak berkedip menatap Taehyung, perlahan kakinya melangkah semakin mendekati Taehyung yang dibalas dengan raut wajah ketakutan dan tubuh kecil puteranya yang reflek mundur.

Apa Taehyung berbuat salah? Apa ucapan Taehyung barusan adalah kesalahan? Apa Ibunya marah? Taehyung semakin mengeratkan dekapannya pada buku kesayangannya. Ibunya terlihat menyeramkan dengan tatapan kosong seperti itu.

Punggung Taehyung terhimpit pada tiang kayu pintu kamarnya, matanya tak henti menatap gemetar sang Ibu yang sekarang ini sudah berjongkok di hadapannya. "Dengar," Taehyung merinding mendengar nada bicara Ibunya. "Pergi dari sini, dan jangan pernah kembali. Jika sampai aku melihatmu kembali ke rumah busuk ini," kedua bahu Taehyung diremas kuat, wajah Ibunya kian mendekat. "Aku bersumpah akan membuatmu menderita jika kau kembali ke rumah ini. Memukulmu, menyiksamu, atau bahkan, aku akan membunuhmu." Kedua mata Ibu Taehyung turun menatap buku kesayangan Taehyung yang di dekap. "Dan, mengambil buku kelincimu, mem-"

"Tidak!" Taehyung reflek menyela, matanya semakin membulat menatap Ibunya. Didekapnya buku kelinci miliknya semakin erat sampai buku-buku kukunya memutih.

Tidak boleh, tidak ada yang boleh mengambil buku kelinci itu darinya.

Itu membuat Ibu Taehyung terdiam sebentar, rupanya Taehyung sangat menyukai buku yang tengah ia dekap tersebut, itu membuat Ibunya tersenyum miring. "Benar... maka dari itu, sekarang keluar dari rumah ini dan- ARGH!"

"BRENGSEK! BERANINYA KAU!" Tiba-tiba saja Ayah Taehyung datang dari arah belakang Ibunya, menarik rambut Ibunya dengan sangat kuat kemudian dihempaskan hingga membentur lantai menimbulkan suara yang cukup keras. Taehyung mengangkat kepalanya, dia melihat Ayahnya berdiri dengan satu tangan yang menutup mata kirinya. Taehyung tertegun menatap sang Ayah, wajah Ayahnya penuh akan lelehan darah di setiap luka tusuk dan sayatan. Untuk pertama kalinya Taehyung melihat Ayahnya seperti itu.

Bola mata Taehyung tergerak menatap Ibunya yang perlahan kembali bangun, di tangan kanannya sudah kembali menggenggam potongan kaca yang sempat Ibunya jatuhkan tadi. "Lihat kemana kau, bocah? Masuk ke kamarmu! Atau kau ingin kupukul?" Pandangan Taehyung kacau, dengan takut menatap sang Ayah yang sibuk menyeka darah di wajahnya, "Sialan, sakit sekali." Gumamnya pelan.

"Tidak, Taehyung! Apa yang ku katakan padamu tadi?!" Seru Ibu Taehyung di belakang tubuh sang Ayah, kini Ibunya sudah berdiri walaupun agak terhuyung, lalu tatapannya mengarah tajam pada Taehyung.

Taehyung bimbang. Ia tidak tahu harus memilih siapa. Di sisi lain, Taehyung sangat takut dengan amukan sang Ayah yang akan memukulnya. Tapi di sisi lainnya juga, Taehyung takut dengan ancaman sang Ibu yang akan mengambil buku kelinci putih kesayangannya. Ibunya tidak pernah mengancam Taehyung selama ini, ia hanya berbicara pada Taehyung hanya pada saat Taehyung butuh saja. Tapi sekarang, ancaman Ibunya terdengar sangat menakutkan.

Ayah Taehyung yang mendengar itu langsung membalik badannya, menerjang Ibunya dengan cara mencengkram kedua bahu sang Ibu dengan kuat. "DIAM SIALAN!" Ujarnya marah. Akan tetapi itu tak membuat Ibu Taehyung melepas pandang pada Taehyung, mata itu tetap menatap tajam Taehyung.

"Jika kau tidak keluar dari rumah ini, aku berjanji. Aku berjanji, Taehyung. AKU BERJANJI AKAN MENGAMBIL BUKU KELINCI KOTORMU ITU KEMUDIAN MEMBAKARNYA HINGGA TIDAK ADA YANG TERSISA! BA-" Ucapan Ibu Taehyung terputus saat Ayah Taehyung melayangkan pukulan pada wajah Ibunya beberapa kali sampai wajah Ibunya terhempas ke belakang. "DIAM BRENGSEK!" Ujar Ayahnya marah.

Lari...

Taehyung mengerjap, dirinya kembali menangis tanpa suara sampai pandangannya buram karena air mata. Dengan perlahan, kakinya melangkah maju dengan ragu.

Satu langkah, dua langkah, dan Taehyung berlari.

Tidak boleh, tidak ada yang boleh mengambil buku ini darinya, karena Taehyung tertarik dengan buku ini. Tidak ada yang boleh merebutnya dari Taehyung. Tidak akan ada, bahkan orangtuanya sekalipun, tidak boleh. Taehyung memang sering mendapat amukan dan pukulan dari sang Ayah, akan tetapi luka yang Taehyung dapatkan bisa sembuh kembali walaupun tidak seratus persen kulitnya kembali normal. Taehyung bisa menerima itu, tak masalah jika Ayahnya akan memukulinya sampai kedua kakinya sakit dan tidak bisa diajak berjalan kembali, itu sama sekali tidak masalah. Akan tetapi, jika buku ini tidak bersamanya, Taehyung merasa itu akan buruk padanya.

Taehyung tidak bisa berlari normal karena kakinya perih akibat serpihan kaca yang masih menusuk, tapi Taehyung terus berusaha. Sedikit lagi Taehyung melewati kedua orang tuanya, akan tetapi, satu tangan Ayahnya sudah lebih dulu meraih kerah bajunya membuat Taehyung terhuyung jatuh kembali.

"KAU PIKIR KAU MAU KEMANA?! AKU BILANG MASUK KE KAMARMU BOCAH! APA KAU BERANI MELAWANKU?!"

"JANGAN MENGELAK BRENGSEK!"

Taehyung bahkan tidak bisa berpikir dengan baik sekarang, fokusnya kacau. Baru kali ini Taehyung terlibat pertengkaran kedua orangtuanya hingga seperti ini, biasanya semuanya akan selesai saat Ayahnya marah pada Taehyung kemudian memukulnya karena lagi-lagi Taehyung ikut campur dalam urusan orangtuanya. Akan tetapi, ini sangat berbeda dan sangat mengerikan.

Oh, jika memang benar ini adalah mimpi buruk seperti yang biasa Taehyung alami. Tolong segera bangunkan Taehyung.

Ibu Taehyung menendang kaki sang Ayah dengan keras sampai Ayahnya terjatuh. Tarikan pada kerah piyama Taehyung terlepas, Taehyung dengan cepat bangun kemudian berusaha merangkak menjauh dari Ayahnya. Akan tetapi sebelum benar-benar menjauh dari Ayahnya, satu kaki kecil Taehyung lebih dulu dicengkeram oleh sang Ayah, Taehyung langsung menoleh ke belakang. "Kau... pikir, kau mau kemana?" Ujar Ayahnya sedikit terengah.

Jantung Taehyung semakin berpacu cepat, cengkeraman pada kakinya sangat kuat, seperti itu mampu untuk meremukkan tulang kakinya. "A-aya-ayah..." Ucap Taehyung gemetar.

"Masuk. Taehyung. Atau aku sungguh akan mematahkan tubuhmu jika kau tidak menurut." Ujar Ayah Taehyung dengan nada bicara penuh penekanan, itu membuat Taehyung semakin gemetar takut. Ucapan Ayahnya seolah akan benar-benar terjadi jika Taehyung tidak menuruti dengan cepat. Taehyung memejamkan kedua matanya, ternyata memang benar, amukan Ayahnya adalah hal yang paling mengerikan dari semua hal.

Taehyung mengangguk dengan ragu, sebisa mungkin menahan tangisnya yang siap kapanpun akan keluar. Tapi saat hendak dirinya bangun, suara pekikan nyaring Ibunya lebih dulu menyadarkan Taehyung.

"AKU BILANG JANGAN MENGELAK BRENGSEK! KEMANA ARAH MATAMU HUH?!" Ibu Taehyung meraung marah, menduduki perut sang Ayah dengan cepat, satu tangannya terangkat siap melayangkan tusukan lagi menggunakan potongan kaca. Tapi Ayah Taehyung lebih dulu menahannya menggunakan tangan kanan, kemudian menarik pergelangan tangan Ibunya hingga kepala sang Ibu terjatuh di atas dada Ayahnya. "Sialan! SEBENARNYA APA MAUMU?!" Ujar Ayahnya berteriak pada Ibunya.

Ibu Taehyung mengangkat kepalanya susah payah, menatap kedua mata Ayah Taehyung dengan marah. "TENTU SAJA MEMBUNUHMU! KAU PIKIR AKU AKAN DIAM SAJA SAAT IBUKU BERHASIL KAU BUNUH DENGAN RACUN TIKUS?!" Ibu Taehyung menarik nafas, "SEKARANG LEPASKAN ANAK BODOH ITU DAN LAWAN AKU BRENGSEK! DIA TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN INI!" Kepala Ibu Taehyung tertoleh menatap Taehyung yang masih diam di posisinya sambil memeluk bukunya. "PERGI DARI SINI BODOH! APA UCAPANKU TADI BELUM CUKUP MEMBUATMU MENGERTI?!"

"JANGAN MENYURUHNYA! KAU BUKAN IBU KANDUNGNYA SIALAN!-"

"KIM TAEHYUNG! AKU BERSUNGGUH SUNGGUH PADA UCAPANKU! JIKA KAU TIDAK PERGI DARI RUMAH INI! AKU AKAN MEMBAKAR BUKU BODOHMU! MEMBUANG SISA ABUNYA KE SEBUAH TEMPAT YANG TIDAK AKAN PERNAH KAU TEMUKAN! AKU-"

Tidak...

"DIAM SIALAN! JANGAN MENGATAKAN APAPUN PADANYA!"

"AKU BERSUMPAH KIM TAEHYUNG! WALAUPUN AKU MATI SEKALIPUN! AKU AKAN TETAP MEMBAKAR BUKUMU JIKA KAU KEMBALI KE RUMAH BUSUK INI!"

Tidak!

Entah darimana Taehyung mendapat sebuah keberanian, yang jelas, saat mendengar ancaman dari Ibunya itu membuat kaki kanan Taehyung yang bebas melayang, mengarah tepat mengenai mata kiri sang Ayah yang luka. Taehyung melakukan itu beberapa kali.

Ayahnya menjerit kesakitan, reflek cengkeraman pada kaki Taehyung terlepas begitu saja. Mengambil kesempatan, Taehyung langsung bangun dengan cepat, mengabaikan semuanya karena otaknya tumpul akan ancaman Ibunya. Taehyung terus berlari, kakinya lagi-lagi mengenai serpihan kaca lemari, karena itu adalah jalan satu-satunya menuju tangga rumahnya.

Berlari dengan wajah ketakutan, seluruh tubuhnya gemetar dan penuh akan luka, sisa air mata yang masih berada di pelupuk, dan pikirannya yang kacau. Kaki kecilnya terus Taehyung paksakan untuk berlari, menuruni tangga dengan terburu tanpa takut terpeleset.

Tidak, Taehyung salah. Ancaman Ayahnya bukanlah apa-apa daripada kehilangan buku yang sekarang Taehyung dekap kuat. Meskipun Taehyung tak tahu darimana asalnya buku ini, tapi kenapa Taehyung seolah harus tetap membawa buku ini agar tetap berada di sisinya?

Dan akhirnya, Taehyung sampai di depan pintu utama rumahnya. Nafas Taehyung terengah, jantungnya berdetak memburu. Taehyung tidak pernah sedekat ini dengan pintu utama rumahnya karena sang Ayah melarang keras Taehyung berada di lantai bawah rumahnya.

Selama ini Taehyung hanya diizinkan untuk keluar kamarnya hanya sebatas dapur, tidak lebih. Jika Taehyung berani melanggar, maka amukan sang Ayah akan ia dapat.

Satu tangannya perlahan terulur meraih gagang pintu, mengabaikan dengan keras teriakan sang Ayah yang memanggil Taehyung dari lantai atas dan raungan kesakitan Ibunya. Dengan gemetar tangannya membuka pintu utama rumahnya, Taehyung tak pernah membayangkan akan ada apa di balik pintu rumahnya karena ia sama sekali tidak memiliki pemikiran soal dunia luar selain kamarnya dan buku kelinci yang tengah ia dekap erat-erat.

Pintu terbuka, angin malam langsung berhembus menerpa wajah Taehyung, kedua matanya mengerjap. Basah. Dingin, tapi sejuk. Apa itu?

Rasa penasaran kian mendesaknya untuk membuka pintu rumahnya semakin lebar.

Taehyung tertegun, kedua matanya tak berkedip. Taehyung melihat, ada banyak bulir-bulir air yang jatuh dari langit gelap di atas sana. Tubuh Taehyung seketika berhenti bergetar, tangannya sudah menjauh dari gagang pintu. Perlahan, kakinya melangkah semakin maju, berdiri tepat di garis pintu utama rumahnya.

"W-woah..." Ujar Taehyung tanpa sadar. Apa yang ada di depannya ini adalah suara yang sering Taehyung dengar dari dalam kamarnya?

Kamar Taehyung tidak memiliki jendela. Jadi, Taehyung tidak bisa menebak suara berisik apa yang selalu Taehyung dengar dari atas atap rumahnya. Suaranya terkadang berisik sampai membuat Taehyung tidak bisa tidur, tapi terkadang, suaranya juga akan sangat teratur dan lembut membuat Taehyung mengantuk.

Apa, namanya?

"BRENGSEK KIM TAEHYUNG! KEMARI KAU BOCAH SIALAN! APA KAU INGIN KU BUAT TIDAK BISA BERJALAN LAGI?!"

Taehyung tersentak, lalu menolehkan kepalanya ke belakang. Taehyung melihat Ayahnya sudah berdiri dengan tangan kanan yang memegang mata kirinya. Ayahnya meringis, berusaha menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terjatuh di atas sana. Lalu pandangan Taehyung ter-arah pada Ibunya.

Taehyung bisa melihat tubuh Ibunya terlungkup membelakanginya. Dan, tubuh itu tidak bergerak.

Kedua mata Taehyung membulat. Apa yang terjadi? Taehyung hendak membalik badannya untuk melihat kondisi Ibunya. Akan tetapi, sesuatu menahannya. Yaitu ucapan Ibunya yang berjanji akan membakar buku kelinci putihnya dan amukan sang Ayah. Taehyung terdiam di tempat, sedangkan Ayahnya mulai berjalan ke arah tangga menyusul Taehyung.

Jika Taehyung berhasil ditangkap oleh Ayahnya, maka Taehyung akan kembali ke kamar gelapnya dan mendapat amukan dari sang Ayah. Dan juga, Ibunya sudah berjanji jika Taehyung kembali ke rumahnya, maka Ibunya akan mengambil bukunya dan membakar buku kelincinya sampai menjadi abu.

"Tidak, tidak boleh." Perlahan Taehyung bergerak maju, kepalanya masih menghadap Ayahnya yang sudah menuruni anak tangga dengan cepat walaupun sempat terhuyung.

"Aku..." Tubuh Taehyung semakin melangkah keluar. "Aku..." Taehyung menggigit bibir bawahnya, "Aku ingin bebas, Ayah..."

Detik selanjutnya Taehyung berlari, menerobos bulir-bulir air yang terjatuh dari atas langit. Taehyung tidak peduli, Taehyung tidak peduli jika Ayahnya akan memukulnya jika ia berhasil tertangkap.

Malam ini Ibunya berbicara banyak pada Taehyung. Termasuk ancaman membakar buku Taehyung jika ia kembali kerumahnya dan, ucapan Ibunya yang mengatakan dunia luar itu unik. Unik? Bahkan Taehyung tak mengerti apa itu. Tapi kenapa Taehyung tertarik?

Taehyung berlari, memaksa kedua kaki kurusnya agar terus menjauh dari rumahnya. Mengabaikan rasa sakit dari telapak kakinya yang semakin perih.

Berlari dengan arah tujuan entah kemana, yang jelas, Taehyung harus berlari sejauh mungkin agar Ayahnya tidak dapat menemukannya lagi.

Ya. Akhirnya, Taehyung keluar dari neraka itu.

.

.

.

.

.

To be continued.

Finally ini selesai dalam 8 hari? Pengerjaan.

Berharap kalian suka, dan terus baca untuk kelanjutannya. Terimakasih, tolong untuk tinggalkan jejak dengan Vote Share cerita ini.

Harap jangan menjiplak cerita ini tanpa seizin aku ya, buatnya ga gampang. Capek luar biasa, tapi aku seneng akhirnya ini bisa jadi.

Cek postinganku selengkapnya untuk cover/desain cerita ini! Di

Instagram : nalaryuwi

Twitter : nalaryuwi (ada di bio Wattpad aku)

Ayo berteman