Disclaimer: Masashi Kishimoto
"Mau kemana kau!!!"
Shit!! Ketahuan!!
Hinata mengumpat dalam hati. Dengan gerakan patah-patah, ia menolehkan kepalanya ke belakang. Didapatinya Hiashi tengah melotot garang ke arahnya. Oh jangan lupakan ajudan-ajudanya yang berbaris rapi dengan setelan jas hitam dan kaca mata hitam. Tampang mereka semua terlihat garang.
Glek
Hinata meneguk ludah dengan paksa dan menyunggingkan cengiran kuda yang tentu saja tidak akan mempan apa-apa bagi mereka.
"Hai, Ayah!" sapa Hinata dengan polosnya, seolah-olah apa yang baru saja ia rencanakan dan ia lakukan bukanlah masalah besar.
"Kau tidak tengah berusaha kabur kan!!"
jleb
Rasanya Hinata seperti tertusuk sebuah jarum kecil tak kasat mata. Benar-benar tepat sasaran. Pernyataan itu benar-benar telak menusuk hatinya. Rasanya ia ingin memanyunkan bibirnya karena rencananya telah diketahui. Tapi ah sayang juga, bibirnya yang kecil dan imut ini menjadi monyong seperti bebek. Ihhh tidak sudi yehh!!
Oke, dia Hinata Hyuuga yang akan menikah pada hari ini. Yups, apalagi yang jadi pertanyaan? Tentu saja pernikahannya ini bukan kemauannya, tetapi kemauan ayah dan para tua bangka peot itu.
Hello, Hinata masih muda. Dia baru 19 tahun. Masa iya dia harus menghabiskan masa mudanya menjadi seorang istri. Dia belum ada kepikiran ke sana. Dia masih ingin kuliah, mengenal banyak teman, mengenal dunia luar dan lainnya yang tentu saja yang biasanya dilakukan para gadis seusianya. Tapi, sepertinya ia tertimpa kemalangan dengan pernikahannya. Pupus sudah mimpi dan angannya.
Tapi Hinata tak kehabisan akal untuk membatalkan pernikahan ini. Oke, dari yang dia pura-pura menoleh ataupun sengaja bergerak agar dandannya corat-coret alias cemang-cemong. Tentu saja si penata rias harus memompa kesabaran karena ulahnya. Dia tidak mungkin berani memarahinya. Siapa sih yang berani memarahi putri bangsawan yang memiliki cabang perusahaan dimana-mana? Shit!! Kenapa ia jadi congkak begini? Ah, mungkin ia ketularan gen Hyuuga? Yah, mungkin saja.
Tapi...di luar dugaan. Si penata rias ternyata mengadu pada ayahnya. Oh my god. Dasar mulut comber sialan! Beraninya dia!
Alhasil, sang ayah melotot galak dan berkata "Jika dia masih melakukan itu, jambak saja rambutnya!!", yang tentu saja mendapat respon kemenangan bagi si penata rias.
Sial!! Ayahnya kejam sekali!! Hinata meringis sedih penuh nestapa. Membuang muka saat sang Ayah memandangnya. Siapa sudi memandang ayah yang sekejam itu!! Ogah!! Lebih baik ia memandang tukang ojek pengkolan deket warung mbak Surti.
Hinata merengut mengembungkan pipinya yang tembam, ametysnya melirik kanan kiri mencari sesuatu, lebih tepatnya mencari ide untuk terlepas dari acara laknat ini.
Crriiingggg
Tiba-tiba sebuah ide terlintas dengan nakalnya. Hinata tertawa laknat di dalam hati. Ribuan caci makin ia layangkan seandainya rencana kali ini berhasil. Seandainya loh!! Kalau ga berhasil ya cari ide lagi. Begitu saja terus sampai otaknya benar-benar tumpul. Ah masa bodoh, yang penting ia coba dulu ide kali ini.
'Kamera rolling action' batin Hinata. Lantas Hinata membuat mimik semerana mungkin, hingga si penata rias mengerutkan keningnya. Menjatuhkan bibirnya ke bawah penuh tanya.
"Kau kenapa?!" meskipun sedikit heran plus khawatir, si penata rias yang bernama Konan itu tetap bertanya judes.
Hinata mendongak menatap Konan dengan mata berair, dan bibir bergetar. Memelas memandang Konan. Padahal dalam hati ia tengah tertawa terpingkal-pingkal. "Gotcha, kena kau, mulut comber!!" jeritnya dalam hati. Ah, ia bersyukur pernah ikut klub drama bimbingan Hotaru sensei.
"Pe-perutku s-sakit se-sekali, aduuhhh!!" ringis Hinata sambil memegang perutnya. Berakting sebagus mungkin agar orang-orang tidak curiga padanya. "Bolehkah aku ke toilet sebentar?" lanjutnya dengan suara lirih.
"Yakin!! kau tidak tengah berusaha kabur!!" sarkas Konan menyipit tajam ke Hinata lewat pantulan cermin.
Shitt!!
Cewe comber satu ini rupanya tidak cukup mempan dengan sandiwaranya. Okey, sepertinya Hinata harus lebih menghayati dramanya agar Konan percaya padanya.
"Te-tentu saja tidak!! aduh.." Hinata mengerang kesakitan memegang perutnya.
"Jadi bolehkah?" Hinata memasang wajah puppy eyes dengan mata yang berair, bibirnya bergetar hendak menangis.
Konan yang melihat itu merasa tidak tega, bagaimanapun ia juga pernah merasa sakit perut dan kebelet buang air. Ia menghela nafas dan berkata "baiklah, kau boleh ke toilet!"
Yippi!! inner Hinata bersorak kegirangan. Kena kau, nenek sihir!! Hinata tertawa laknat dalam hati.
"Tapi kau tetap harus dikawal!!"
Ucapan Konan barusan mampu menghancurkan kebahagiaan sementaranya, tergantikan gerakan patah-patah menatap para ajudan berwajah seram yang mengelilinginya.
Hinata tak kuasa menahan bibirnya untuk tidak manyun. Dia mendengus jengkel. Dasar licik! awas saja kau, nenek sihir!! ku sumpahin kau jadi perawan tua!' maki Hinata dalam hati.
Dengan jengkel, Hinata menghentakan kakinya sambil mengangkat gaun pengantinnya yang menjuntai hingga ke lantai. Dia melangkah dengan diikuti 6 pengawal yang membuntut di belakangnya. Oke, ia jadi mirip ayam yang digiring hendak di masukan kandang.
"Kami ditugaskan untuk mengawal anda, nona!"
Rontok sudah senyum Hinata, rupanya pengawalnya ini tak mudah ditipu. Coba saja dia bisa jurus 'sexy no jutsu' seperti anime yang serin ia tonton, mungkin ia akan memakainya dan membuat pengawal itu pingsan karena mimisan. Nyatanya ini kan dunia nyata, bukan dunia 2D.
"Baiklah, kalian makanlah, aku akan ke toilet dapur yang terlihat dari sini. Kalian jadi tidak usah khawatir aku akan kabur, kalias bisa mengawasiku dari sinh," Hinata akhirnya mengalah meski masih berusaha bernego.
Please, kali ini saja, permudahkan jalanku, Kami-sama. Kalau tidak, aku akan menderita seumur hidup dengan hidup bersama bebek. Bahkan aku tidak berani membayangkan keluargaku menjadi keluarga unggas. Dengan aku bertelur dan mengerami. NO!!!' jerit Hinata menangis pilu di dalam hati membayangkan masa depan suramnya.
"Baiklah,"
Hampir saja ia melompat kegirangan dan kayang jungkir balik saat mendengar jawaban pengawalnya. Namun ia menahan ekspresi absurdnya agar tidak ketahuan.
Dengan senyum manisnya ia melepas para ajudan itu. Dan ia mulai berjalan berjingkat saat semua ajudan ayahnya tengah sibuk memilih makanan.
Aman... aman, semua aman terkendali. Kini saatnya ia beraksi menuju pintu keluar belakang. Sedikit lagi ia mencapai sebuah gerbang kebebasan. Yah, sedikit lagi jika tidak ada suara berat menghentikannya.
Itulah kilas balik perjuangan Hinata demi kabur dari acara pernikahan konyol ini. Dan selalu berakhir ketahuan ayahnya dan menyeretnya menuju ballroom.
Hei, ayahku yang tampan, ganteng, seksi, perkasa dan hot-
Plakkk
Hentikan pikiran bodohmu, Hinata!! Kenapa kau jadi berpikiran menjijikkan seperti itu!
Ah, racun Neji rupanya eh kenapa ia malah menyalahkan sepupunya, bodoh!
Pokoknya Hinata benar - benar belum siap, apalagi saat ia melewati para tamu yang sudah penuh. Dan ia juga belum siap bertemu dengan...
Ah, siapa dia?
Hinata mengernyit heran pada pemuda yang sedang berdiri di hadapan pendeta membelakangi dirinya.
Bukankah calon suaminya si bebek itu, tapi kenapa pemuda itu rambutnya klimis?
Hinata hampir saja menjerit saat pemuda itu berbalik menatap ke arahnya. Jadi bebek buruk rupa yang berubah jadi pangeran tampan itu benar nyata? Hinata pikir itu hanya dongeng semata.
Sumpah demi apapun, demi sponge bob ataupun demi kerang ajaib. Si bebek yang kemarin terlihat kucel, kumal, kini benar-benar tampan. Dengan tuxedo warna putih yang serasi dengan gaun Hinata pakai, semakin membuatnya keren.
"Percepat pernikahannya "
Mendengar ucapan ayahnya, ia kembali tersadar dari lamunan bodohnya. Ah, haruskah ia menyesal? saat ia tahu calonnya bisa setampan ini? setidaknya tidak malu-maluin saat dibawa ke acara reunian.
Hinata berusaha fokus dan mencoba mengusir pikiran yang tidak-tidak yang terus melambai di otaknya.
"Ya"
Ah ia sudah mengikrarkan janji suci pernikahan.
"Sekarang kalian boleh mencium pasangan kalian,"
Deg deg deg
Jantung Hinata mulai melompat-lompat, wajahnya kian memanas saat melihat Sasuke tersenyum miring dan memajukan badannya. Ia ingin mundur tapi tangan sialan Sasuke menahannya. Rasanya ia ingin pingsan saat itu juga.
Sasuke memiringkan kepalanya dan...
krett
Sumpah demi keriput Itachi, demi kaset hentai Neji dan demi mulut tajam Sai, saat ini ia ingin sekali berteriak kencang. Bagaimana tidak!! Sasuke bukan menciumnya tapi menggigit ujung bibirnya. Dan rasanya Oh jangan dibayangkan! Karena ini sakit sekali.
Dengan mesra, tangan Hinata menyusuri pinggang Sasuke dan gyut~ mencubitnya dengan sekuat tenaga. Hingga ia yakin Sasuke meringis kesakitan dan sedikit melonggarkan gigitannya.
Di mata pengunjung mereka berdua tampak begitu mesra dengan tangan mereka yang sama-sama memeluk pinggang pasangannya. Adegan itu cukup membuat para tamu meronta malu. Apalagi saat mereka memisahkan diri dan menatap satu sama lain dengan intens kyaaa romantis sekali.
Padahal yang sebenarnya mereka berdua tengah adu deathglare.
"Akan ku buat kau tidak bisa berjalan besok pagi!!" ancam Sasuke dengan berbisik.
"Aku sudah mengasah belatiku jika kau berani macam-macam padaku!" balas Hinata tak kalah sengit.
bbbtzzzzz
Seperti ada aliran listrik yang menyalurkan kedua mata berbeda warna itu dan dengan saat bersamaan mereka memalingkan wajah mereka.
Bagaimana yah, rumah tangga mereka?
tbc
