Selamat Datang Kembali di Dunia HUNHAN! ^^
Enjoy!
and... Sorry for typo "
.
.
Zimzalabim!
Bagian II: Mantra Penghubung Takdir
.
.
"Jika sihir itu ada, maka setiap kalimat yang kau ucapkan bagaikan mantra penenang bagiku"
…
Luhan menghembuskan napas lelahnya setelah memilah semua barang pemberian mantan kekasihnya, Jongin. Mulai dari foto kenangan mereka, boneka, baju, sepatu, dan lainnya, yang berhubungan dengan mantan kekasihnya, bahkan gelang couple mereka, Luhan meletakkannya dalam kotak dan siap diasingkan.
Luhan kembali mengambil beberapa lembar foto yang memperlihatkan bahagianya mereka, "pria berengsek!" umpatnya kecil. Ia meremas lemah foto tersebut, matanya memanas, dan hampir saja air matanya kembali berlinang. Dengan cepat Luhan mengusap matanya, setelah itu ia menarik napas panjang. "Tidak ada gunanya menangisi pria sepertinya," gumam Luhan pada diri sendiri.
"Luhan! Sayang! Sudah siap belum?"
Luhan tahu itu, Baba-nya pasti selalu saja berteriak jika ia terlalu lama bersiap-siap. Ya, pagi ini Luhan ada kelas dan seperti biasa Baba-nya akan mengantarnya ke kampus. Semenjak Luhan mengalami kecelakaan hebat setahun yang lalu, Luhan tidak diperbolehkan lagi mengendarai mobilnya sendiri. Kecelakaan yang hampir membuat nyawa Luhan melayang masih membuat Yifan trauma. Jadilah, setiap hari Yifan selalu mengantar-jemput anak kesayangannya itu.
Sebenarnya Luhan merasa telah merepotkan Baba-nya selama ini, maka Luhan selalu meminta untuk naik bus saja jika ke kampus. Tentu saja Luhan diperbolehkan, tetapi tetap saja jika ada jam pagi Luhan selalu berangkat bersama sang Baba.
"Luhan!"
"Astaga…" keluh Luhan saat mendengar teriakan Baba-nya lagi. "Sebentar Baa, Luhan turun!" balas Luhan berteriak.
Setelah menenangkan diri, Luhan menutup kotak tersebut, mengambil tas kuliahnya, lalu keluar dari kamarnya sambil membawa kotak besar tersebut.
Luhan menuruni tangga dengan kesusahan karena kotak besar tersebut menutupi pandangannya. Hal itu membuat Baba-nya panik lalu menghampiri anaknya yang masih di tangga. Yifan mengambil alih kotak tersebut dari Luhan. "Astaga sayang! Kalau kau terjatuh bagaimana?" Baba-nya memulai omelannya.
"Habisnya, barang itu banyak sekali, Ba…"
"Memangnya apasih yang kau bawa?" tanya Baba-nya setelah sampai bawah.
"Itu… barang-barang dari Jongin," ucap Luhan. Ia tidak berniat sedih di hadapan Baba-nya, tetapi sepertinya ia tidak sadar memperlihatkan wajah terlukanya.
Yifan mengusak kepala putrinya, "masih sedih? Ingin melupakan dia secepatnya?"
Luhan tersenyum, "gwaenchanha Ba. Lagipula, Luhan sudah tidak terlalu peduli padanya."
Kini Baba-nya itu memeluk putri semata wayangnya yang sedang patah hati. "Baba tahu, putri Baba adalah yang terbaik. Kau pasti akan pulih dengan cepat…"
Luhan membalas pelukan Baba-nya lalu mengangguk, "em… terima kasih Ba." Lalu Luhan mendongak, melihat Baba-nya yang terlalu tinggi itu. "Apa-apaan ini, Baba belum siap? Nanti Luhan terlambat!" gerutu Luhan. Baba-nya berteriak sudah seperti mereka akan langsung berangkat, ternyata Baba-nya malah belum siap-siap.
Yifan seperti mengingat sesuatu yang gawat, wajahnya terlihat panik. "Astaga Baba lupa, seseorang menunggumu di ruang tamu. Kau berangkat bersamanya ya. Baba ada meeting di tempat lain pagi ini, jalurnya berlainan dengan kampusmu."
Luhan mengerutkan dahinya, "hm? Siapa?" tanya Luhan.
Yifan memegang kedua pundak putrinya lalu membalik tubuhnya, "nah… sebaiknya kau lihat saja sendiri, cepat! Baba masih harus siap-siap." Setelahnya, ia mendorong lembut Luhan agar berjalan ke ruang tamu.
Luhan berbalik, "kotakku–"
Baba-nya mengibaskan tangannya, "Baba akan membantumu. Cepat, kau bisa terlambat!" ucap Baba-nya.
"Ba-baiklah…" ucap Luhan bingung, "go-gomawo Ba…" kemudian Luhan menuju ke ruang tamu untuk menemui tamu paginya.
"Bilang pada tamumu, langsung saja berangkat karena Baba sedang siap-siap ya."
Luhan kembali berbalik pada Baba-nya, "araseo Ba…"
Yifan melihat putrinya menjauh, "semoga kau bisa cepat melupakan kesedihanmu, sayang…" gumamnya.
..
Luhan sedikit mengintip ke ruang tamu sebelum benar-benar keluar. Ia benar-benar penasaran siapa yang datang, selama ini tidak ada yang berkunjung ke rumahnya sepagi ini.
Mata Luhan tidak menangkap siapa pun di ruang tamu, hanya ada satu gelas berisi jus jeruk yang ia tahu pasti Baba-nya yang menyediakan. Luhan semakin mendorong kepalanya keluar, mungkin jika ia lebih barusaha, ia bisa melihat siapa tamunya. Saat dirinya sedang fokus menoleh ke arah kursi, seseorang berbisik di telinganya.
"Apa yang kau lakukan?"
Luhan terlonjak dan dengan cepat menoleh ke samping kirinya. Matanya membulat, mulutnya hampir ternganga tetapi ia berhasil menahannya, "Se-Sehun! A-apa yang kau lakukan disini?!" tanya Luhan tak bisa menyembunyikan kehebohannya.
Yang membuat Luhan terkejut malah tertawa lepas, "justru aku yang seharusnya bertanya, mengapa mengendap di rumahmu sendiri seperti itu?"
Luhan kehilangan kata-katanya, wajah Sehun terlihat sangat jelas di matanya yang berarti Sehun adalah nyata di hadapannya. Apa tamunya adalah Sehun? Pikir Luhan. Mengapa Sehun? Pikir Luhan lagi.
"Hei? Kau baik-baik saja?" Sehun mengibaskan kedua tangannya di depan wajah Luhan.
Luhan mengerjapkan matanya, "n-ne… Sehun, ada apa kau kemari?" tanya Luhan akhirnya.
Sehun bergumam seperti sedang berpikir, lalu ia menggeleng, "entahlah… mungkin karena merindukanmu?" Sehun tersenyum yang membuat Luhan menahan napasnya.
Jantung Luhan berdetak dengan tidak normal. 'Apa karena aku melihat pria tampan?' lalu Luhan mengangguk, 'ini wajar aku berdebar karena ada manusia tampan di dekatku'. Entahlah, Luhan berusaha meyakinkan dirinya bahwa debarannya bukan berarti apa-apa.
"Kau merindukanku?" tanya Sehun.
Luhan melihat Sehun dengan aneh, "mi-michoseo?!"
Sehun terkekeh, "kau lucu sekali." Ia meraih pergelangan tangan Luhan "Ayo, kau bisa terlambat." Ucap Sehun lalu menuntun Luhan ke luar.
Mau tidak mau Luhan ikut tertarik untuk mengikuti Sehun. Ia semakin dibuat bertanya-tanya dengan tingkah aneh Sehun. "Ya!–"
Sehun berbalik dengan cepat dan menyejajarkan dirinya tepat di hadapan wajah Luhan. "Jadi, bukankah banyak yang ingin disampaikan padaku, teman lama?"
Mata Luhan membulat, wajahnya benar-benar menampakkan keterkejutan karena Sehun akhirnya mengingat siapa Luhan. 'Ini semua gara-gara Baba!' kesal Luhan dalam hati. Luhan lalu hanya bisa tersenyum dengan kikuk dan pasrah ketika Sehun membawanya masuk ke mobil.
"Jadi, Luhan, kau kuliah di mana?" tanya Sehun.
Luhan menoleh pada Sehun dengan cepat, "mwo? Jadi kau mengajakku pergi bersama tetapi tidak tahu dimana aku kuliah?
"Hmm… mungkin Universitas S?"
"Whoa, bagaimana kau tahu?" takjub Luhan.
Sehun tersenyum sambil sesekali menoleh pada Luhan karena ia masih harus fokus ke depan. "Benarkah? Yah aku pikir kau cukup pintar. Universitas itu bukan masalah kan?" kekehnya.
Pipi Luhan bersemu, "kau berlebihan Tuan Oh Sehun. Lalu, di mana kau kuliah?"
"Aku baru saja lulus dari perguruan tinggi di Amerika, maka itu aku kembali ke Korea." jawab Sehun.
Mata dan bibir Luhan membulat takjub, lalu ia tertawa, "kau lagi-lagi sukses membuatku terkejut. Chukhae untuk kelulusanmu,"
"Gomawo, lagipula memangnya apalagi yang membuatmu terkejut tentangku?" tanya Sehun penasaran.
Luhan bergumam sambil menggigiti kecil bibirnya, "itu… banyak, tiba-tiba bertemu denganmu lagi saja sudah membuatku terkejut."
"Mungkin aku bisa membantumu, apa kau terkejut karena aku lebih tampan?" kekeh Sehun.
Luhan menarik telinga Sehun hingga membuat Sehun mengaduh, "jangan terlalu percaya diri!"
"Tapi Lu, mengapa kau tidak langsung memberitahu bahwa kita teman semasa sekolah dasar?"
"Mungkin saja kau tidak ingat, jadi… yah begitu." Luhan merutuki jawabannya, bagaimana jika Sehun salah paham dan membuatnya terlihat menginginkan Sehun mengingatnya? Ugh!
Sehun menoleh pada Luhan dan terlihat mengerutkan keningnya, "kau bercanda? Aku sudah pasti mengenalmu langsung jika kau mengatakannya."
"Wae?" tanya Luhan penasaran
Sehun menghentikan mobilnya setelah sampai di gerbang utama universitas. "Sudah sampai, Nona. Kau tidak mau terlambat kan?" Sehun memberitahu.
Luhan tersadar lalu melihat pada jam tangannya. "Astaga! Kalau begitu terima kasih Sehun, bye!"
Sehun mengangguk sambil melambaikan tangannya. Ia menghela napasnya, "kau itu istimewa Luhan. Jika saja kau tidak menjadi secantik ini, aku masih berani menanyakan apa kau Luhan, penyelamatku."
"Astaga! Aku lupa menanyakan fakultasnya! Dasar Sehun bodoh!" lalu ia tertawa sendirian.
Setelah berbicara pada dirinya sendiri kemudian menjalankan mobilnya pergi dari sana.
.
.
Sepertinya Sehun benar-benar seorang lulusan baru yang masih menganggur, hahaha. Ia tidak ada kegiatan sama sekali dan berakhir menghubungi ayahnya, lalu menghubungi Tuan Wu untuk meminta nomor Luhan, sungguh pria yang berani atau nekat? Bahkan ia sampai meminta nomor Luhan pada Baba Luhan sendiri.
"Eoh, Lu! Kapan kelasmu selesai?" tanya Sehun saat sambungannya terhubung.
"Hmm… sebentar lagi, tapi aku masih ada kelas siang nanti."
"Kalau begitu ayo makan siang bersama sebelum kelas siangmu!" ajak Sehun.
"Ba-baiklah, kita ketemuan di tempat tadi–"
"–aniya, aku akan menghampirimu. Di mana fakultasmu?"
"Hmm, kau bisa menunggu di depan fakultas kedokteran. Aku akan ke sana,"
"Araseo." Setelah mematikan sambungannya, Sehun memekik senang.
..
Saat jam makan siang, Sehun benar-benar sudah berada di depan fakultas kedokteran. Luhan baru saja keluar dari kelas dan berjalan bersama teman-temannya. Luhan memerhatikan sekitarnya yang terlihat ramai dan terfokus pada satu orang, yaitu Sehun.
"Gila! Dia tampan sekali!"
"Bahkan mahasiswa kedokteran kita masih kalah tampan dengannya!"
"Apa dia artis?"
"Sepertinya dia bukan mahasiswa di sini."
Luhan samar-samar mendengar ucapan kekaguman dari mahasiswa di sekitarnya. Luhan jadi ciut sendiri mendengarnya, bagaimana jadinya jika ia yang biasa saja ini ternyata kenal dengan pria yang mereka agung-agungkan.
"Luhannie lihat! Pria itu tampan sekali, bukan?" Irene, teman di sebelahnya menyenggol lengannya membuat Luhan kembali ke alam sadarnya.
"A-ah? N-ne…" jawab Luhan pelan dan sekenanya. Rasanya bukan hal bagus meminta Sehun menunggu di depan fakultasnya.
Sehun tersenyum dan melambaikan tangannya saat ia menemukan di mana posisi Luhan.
Luhan tahu sepertinya ia tidak bisa berpura-pura tidak mengenal Sehun. Sekitarnya terdengar bergitu riuh karea terpesona dengan senyuman Sehun, Luhan hanya menduga itu.
"Luhannie! A-apa dia melambai ke arahku?" bisik Irene heboh.
Luhan hanya menatap temannya itu dengan aneh, ia baru tahu jika temannya ini memiliki tingkat percaya diri yang sangat tinggi. Bingung bagaimana menganggapinya, Luhan tidak merespon apapun, tidak membalas pertanyaan Irene dan tidak membalas sapaan Sehun.
Merasa dihiraukan oleh Luhan, akhirnya Sehun berinisiatif untuk menghampiri Luhan. Semakin Sehun mendekat, semakin Luhan berdoa agar Sehun tidak menghampirinya, doa yang tidak masuk akal, Luhan!
"Lu, annyeong!" sapa Sehun.
Luhan memerhatikan sekelilingnya diam-diam, kebanyakan dari mereka menyorot tajam ke arahnya. "O-oh, hai Sehun. Su-sudah lama?" tanya Luhan, ia mencoba tersenyum, tapi senyumnya menampakkan rasa tidak nyaman.
Sehun menggeleng, "aniya, aku juga baru sampai."
Sementara itu, Irene, teman Luhan itu menatap Luhan dan Sehun dengan tatapan berbinar. "Luhannie dia kenalanmu?" bisik Irene sambil menyikut temannya.
"A-ah, iya. Irene-ah perkenalkan ini teman lamaku, Oh Sehun dan Sehun, ini teman kuliahku, Irene Bae." Luhan memperkenalkan keduanya. "Ah iya benar juga, Irene selama ini tinggal di Amerika sebelum ke Korea." Lanjut Luhan ketika mengingat temannya itu berdarah campuran Amerika-Korea.
Sehun tersenyum pada Irene, "annyeong Irene-ssi," sapa Sehun.
"H-hai Sehun-ssi." Sapa Irene balik.
Tiba-tiba Luhan merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya, ia rasanya ingin sekali menarik Sehun pergi dari sana agar Sehun tidak membagikan senyumnya pada siapapun. 'Pemikiran aneh, Luhan!' Namun tiba-tiba Luhan kembali merasa kecil, jika dilihat Irene dan Sehun memancarkan aura yang sama. Benar-benar memanjakan mata saat melihat keduanya. Serasa saat ini ada sorot lampu yang menyorot keduanya.
Sebenarnya Luhan dan Irene dipandang seisi kampus mereka sebagai dua mahasiswi tercantik, baik di fakultas maupun universitas. Tidak heran jika mereka memperebutkan gelar queen di angkatan, tetapi yang memenangkannya adalah Irene. Tentu saja Luhan tidak keberatan, ia juga tidak terlalu peduli dengan gelar-gelar semacam itu. Yang Luhan pedulikan hanya mengenai kuliahnya saja, ia harus lulus dengan nilai terbaik dan menjadi dokter yang baik, itulah yang Luhan inginkan.
"Luhan, bisa kita pergi sekarang?" tanya Sehun.
"A-ah, iya benar." Luhan menoleh pada Irene, "mian. Aku sudah janji dengan Sehun," ucap Luhan merasa bersalah.
Irene mengangguk, "gwaenchanha, pergilah. Aku akan makan bersama Krystal dan Yoona."
"Kalau begitu kami pergi dulu, Irene-ssi," pamit Sehun.
"Byee Irene-ah!"
.
.
"Jadi kau mahasiswi kedokteran?" tanya Sehun saat keduanya berjalan bersama ke kantin kampus. Ya, mereka memutuskan untuk makan di kantin karena hanya akan memakan waktu jika mereka makan di luar.
Luhan mengangguk, "hm, wae? Sepertinya kau tidak percaya," selidik Luhan.
Sehun tertawa, "bukan begitu. Hanya lucu saja,"
"Lucu?" Luhan mengerutkan keningnya.
"Kau dahulu menangis saat menerima suntikkan vaksin di sekolah." Sehun kembali tertawa setelah mengingatnya kembali. "Sudah tidak takut jarum suntik lagi?"
Wajah Luhan seketika berubah merah. Hal yang disebutkan Sehun adalah salah satu kenangan yang tidak ingin Luhan ingat. "Oh Sehuuuunnnn!" pekik Luhan yang membuat tawa Sehun menggelegar.
..
[Flashback on]
Seluruh siswa di sekolah Luhan akan menerima vaksinisasi hari ini, hal itu membuat para siswa yang masih berusia kurang dari sepuluh tahun itu ketakutan. Banyak dari mereka yang menangis dan tidak ingin disuntik, bahkan sampai ada yang membolos agar tidak mendapat suntikkan. Memang ada juga yang tidak menangis, tetapi hanya sebagian kecil.
Luhan, gadis kecil yang rambutnya diikat dua itu tengah duduk di kursinya sambil mengamati teman-temannya yang menangis setelah menerima suntikkan. Ia terlihat tenang kelihatannya, tetapi dalam hatinya, ia ingin menangis seperti yang teman-temannya lakukan. Tetapi ia tidak bisa karena ia sudah berjanji pada Mama-nya agar tidak menangis saat disuntik. Gadis kecil itu hanya bisa mengeratkan kedua tangannya, seiring dengan jeritan yang semakin memenuhi telinganya.
Saat giliran Luhan tiba, gadis kecil itu maju ke depan dan duduk dipangkuan sang perawat. Kata-kata penenang yang diberikan perawat tersebut tidak lagi dapat Luhan dengar karena tertutupi suara tangisan teman-temannya.
Jarum tajam itu sukses menusuk kulit sensitif Luhan, gadis kecil itu hanya memejamkan matanya dan merasakan tangannya yang seperti 'digigit semut' itulah yang Mama-nya katakan.
"Pintar, Wu Luhan tidak menangis. Kau sudah boleh pulang, sayang" wali kelasnya mengusap kepala Luhan lembut.
Luhan mengambil tasnya dan keluar dari kelas. Ia tidak tahan mendengar teman-temannya yang menangis.
"Luhan!" panggil seorang gadis kecil lainnya, ia datang bersam murid laki-laki berwajah datar.
"Baekhyun…" panggil Luhan, ia hampir menangis karena bertemu temannya. Sebenarnya ia hampir menangis karena tangannya sudah mulai kaku.
"Kau sudah selesai?" tanya Baekhyun. Luhan mengangguk, tetapi air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya. "Jangan menangis… Aku dan Sehun juga mendapat suntikkan." Luhan mengangguk, tetapi air matanya ikut mengalir karena kepalanya bergerak.
"Ini sakit… hiks…" Luhan mulai terisak.
Baekhyun memeluk temannya, "nanti tidak akan sakit lagi, jangan menangis. Ya kan Sehun?" Baekhyun meminta pendapat teman sekelasnya.
Sehun yang kebingungan karena baru pertama kali melihat perempuan menangis–yang ia perhatikan karena biasanya ia tidak peduli– hanya mengangguk, "eng… tidak sakit lagi." Ucap Sehun sambil mengangkat tangannya yang disuntik.
Luhan melihat Sehun dengan mata basahnya, ia tidak lagi terisak, tetapi air matanya terus mengalir. Inilah Luhan, ia termasuk anak yang penurut dan tidak banyak tingkah. Dasarnya Luhan bukan anak yang cengeng, tetapi sekali Luhan menangis, tangisannya sulit untuk dihentikan. Meski ia tidak lagi terisak, air matanya terus saja mengalir. Maka itu Mama-nya tidak menyarankan Luhan untuk menangis, apalagi Mama-nya tidak bisa menemani Luhan di sekolah hari ini.
"Kkajja… kita pulang saja," ajak Baekhyun sambil menggandeng tangan Luhan. Sehun mengikuti Baekhyun begitu juga Luhan yang berjalan mengikuti kedua temannya dengan air mata berderai.
"Hiss… sakit sekali…" keluh Luhan ditengah perjalanan.
Ketiga anak tersebut memang pulang ke rumah dengan berjalan kaki karena jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolah ke rumah mereka. Sehun dan Baekhyun tinggal di gang yang sama, rumah mereka bersebalahan, sedangkan Luhan tinggal di gang sebelah mereka. Jadi ketiga sekawan ini selalu pulang bersama setelah pulang sekolah.
Diam-diam, ternyata Sehun memetik sebuah bunga liar di tempat yang mereka lewati lalu memberikannya pada Luhan. "Jangan menangis lagi Luhan, setelah ini rasanya tidak akan sakit lagi. Lihat, aku dan Baekhyun saja tidak menangis." Ucap Sehun.
Bagai tersihir, air mata Luhan tidak lagi mengalir. Ia menatap mata Sehun yang terlihat tidak berekspresi dan Luhan tidak berniat untuk mengambil bunga di tangan Sehun. Saat tiba-tiba Sehun tersenyum, Luhan melihat sesuatu yang berbeda dari mata anak laki-laki di depannya, "ini untukmu," Sehun mengarahkan bunganya ke tempat dimana Luhan mendapat suntikkan "Zimzalabim! Ini akan cepat sembuh…" ucap Sehun lagi. Luhan ragu-ragu untuk mengambilnya, tetapi mata Sehun memperlihatkan ketenangan. Kemudian Sehun tersenyum lebar saat Luhan mengambil bunganya.
"Eng… terima kasih." Ucap Luhan sambil tersenyum manis, sangat manis di mata Sehun.
"Ya Sehun! Bukankah seharusnya simsalabim? Ugh kau bisa mebuat Luhan sakit!" protes Baekhyun yang memerhatikan Sehun dan Luhan sedaritadi. Luhan terlihat khawatir setelah mendengar perkataan Baekhyun.
"Ihh!" Sehun menyenggol lengan Baekhyun, "kata itu terlalu banyak huruf s, aku kesusahan mengucapkannya!"
Luhan dan Baekhyun sontak tertawa mendengar keluhan Sehun.
[Flashback off]
..
Luhan menatap Sehun dengan tatapan tidak percaya, "k-kau masih mengingatnya?"
"Berarti kau juga masih mengingatnya kan?" Sehun malah balik bertanya.
"Y-yah… i-itu karena sebuah keajaiban aku bisa berhenti menangis secepat itu." Ucap Luhan, sebenarnya ia agak malu mengatakannya, tetapi ia benar-benar berterima kasih pada Sehun. "Lalu, kenapa kau masih mengingatnya?" tanya Luhan.
"Apa ini kantin fakultas kedokteran? Terlihat hebat!" ucap Sehun, entah ia sengaja menghindari pertanyaan Luhan atau memang tidak mendengar.
Luhan mengurungkan untuk melanjutkan pertanyaannya, rasanya cukup canggung juga jika terus membahas masa lalu. Apalagi masa lalunya tidak ada yang menarik. "Salah satu kebanggaan kami, bahkan mahasiswa dari fakultas lain sering datang kemari," jawab Luhan.
Sehun maraih tangan Luhan lalu mengajaknya untuk masuk, "kalau begitu kita harus cepat sebelum penuh!" Tidak dipungkiri, Luhan cukup terkejut ketika tangan asing menggenggam tangannya.
"Apa yang ingin kau pesan? Atau ada yang kau rekomendasikan" tanya Sehun ketika keduanya sudah di depan mesin pesanan.
"Bento spesial makan siang adalah yang terbaik, eotte?"
Sehun mengangguk, "mungkin aku harus mencobanya."
Setelah mengambil makanan mereka, keduanya mencari tempat yang kosong. Meja di sisi jendela yang menghadap ke belakang kantin menjadi pilihan mereka.
"Whoaah… apa karena ini kantin di fakultas kedokteran? Makanan ini terasa enak dan sehat," komentar Sehun setelah mencicipi makanannya.
Luhan tertawa, "kau berlebihan, tetapi memang ini yang terbaik."
"Sehun, apa rencanamu setelah lulus?" tanya Luhan.
Sehun sedikit bergumam, "tentu saja mengambil alih jabatan Appa. Mereka bahkan sudah merencanakan hal ini sejak aku dilahirkan," kekehnya.
Luhan mengangguk, "kau terlahir untuk itu. Lalu, kau menyesalinya?"
"Tidak, tentu saja. Aku bukannya senang hidupku diatur, tetapi menjalankan kewajiban sebagai pewaris itu bukan aturan. Jadi… aku akan menjalankannya dengan baik." Jelas Sehun, kemudian ia menatap pada Luhan. "Wae? kau tidak suka jalanmu yang sekarang?"
Luhan tersenyum lalu menggeleng, "ini adalah jalan yang aku inginkan. Menjadi dokter yang mampu menyelamatkan orang lain adalah keinginanku. Ini semua demi Mama, aku ingin Mama melihatku dari atas sana bahwa suatu saat nanti aku bisa berguna bagi pasien yang mengidap penyakit seperti Mama."
Sehun meletakkan tangannya ke kepala Luhan lalu mengusaknya lembut, ia tersenyum, "bahkan dengan niatan seperti itu, Mama-mu akan bangga padamu."
Melihat senyum itu dan mendengar ucapan yang Sehun berikan mampu membuat jantung Luhan bekerja dengan tidak normal. Rasanya seperti sebuah mantra yang menenangkan.
"Kau masih ada kelas kan?" tanya Sehun.
Luhan mengangguk, "hm, sebentar lagi…"
"Kkajja–"
"Luhan!" panggil Sehun.
"Hm?" Luhan melihat pada Sehun yang masih duduk di kursinya.
"Boleh aku menjemputmu nanti?"
"Bu-bukankah itu merepotkanmu?" Luhan malah menjawab dengan pertanyaan.
Sehun menyentuh tengkuknya gugup, "yah… sebenarnya tidak. Aku juga sedang senggang, eotte?"
Luhan terseyum, "kalau begitu, baiklah…"
Sehun bersorak dalam hati, senyumnya tak bisa ia kendalikan, "pukul berapa kau selesai? Aku akan menunggu di tempat tadi."
"Pukul setengah 5," jawab Luhan.
"Baiklah."
.
.
Setelah kelas selesai, Luhan segera bergegas ke tempat janjiannya dengan Sehun. Meski kelasnya berakhir 15 menit lebih cepat, Luhan memutuskan untuk menunggu Sehun. Lagipula 15 menit itu tidak lama.
Ketika sampai di tempat, langkah Luhan melambat hingga akhirnya ia berhenti dengan terpaut jarak cukup jauh. Tetapi masih memungkinkan keduanya berbicara.
"Luhan…" meski begitu, gerakkan bibir pria di hadapannya masih bisa terbaca jelas oleh Luhan.
"Mau apa kau kemari, Jongin sunbae?" tanya Luhan dingin pada pria yang baru saja menjadi mantan kekasihnya. Bahkan Luhan sampai memanggil Jongin dengan sopan. Sebenarnya Jongin adalah senior di universitas tempat Luhan berkuliah, meski fakultas mereka berbeda.
Jongin melangkahkan kakinya mendekati Luhan, "Lu, aku ingin menjelaskannya padamu–"
"Apa lagi yang ingin kau jelaskan? Bukankah sudah jelas?"
"Pertunangan itu… aku tak menginginkannya. Kau tahu, usia kami tarpaut begitu jauh. Aku menginginkan pasangan yang dewasa, aku juga benar-benar mencintaimu Luhan." Jelas Jongin.
Luhan mengalihkan pandangannya dari Jongin. Bisa dibilang Luhan merasa lega karena Jongin tak mempermainkan perasaannya, tetapi tetap saja, memiliki perasaan dengan wanita lain disaat sudah memliki tunangan itu perbuatan buruk.
"Lalu… kau mau memperjuangkanku dan membatalkan pertunanganmu?" tanya Luhan menyorot tajam pada Jongin.
Jongin sedikit terkejut dengan pertanyaan Luhan tersebut. Ia memang ingin membatalkan pertunangan itu, ingin sekali, tetapi ia tidak berani untuk melakukannya. "I-itu…"
"Berhentilah omong kosong jika kau tidak bisa melakukannya. Hubungan kita sudah berakhir!" tegas Luhan.
"Luhan tunggu–" Jongin menahan tangan Luhan. "Ba-baiklah, aku akan mencoba membatalkannya. Bisa kau menungguku?"
"Terserah!" Luhan menghentak tangannya, menghempaskan tangan Jongin dengan kasar. Setelah itu, tanpa menoleh kembali pada Jongin Luhan berjalan menjauhi pria di belakangnya. Baru beberapa saat ia menjauh, Luhan kembali diam di tempatnya menatap lurus pada pria lain yang menjadi alasannya kemari.
"Sehun…"
..
[Pukul 4.10 Sore...]
Sehun baru saja sampai di tempat janjiannya dengan Luhan. Ia mengecek jam tangannya dan menyadari betapa cepatnya ia datang. Sehun tertawa menyadari semangatnya untuk bertemu Luhan.
Sebenarnya, Sehun ingin mengajak Luhan untuk makan malam dan berencana untuk menyatakan perasaannya. Memang terlalu cepat, tetapi ia tidak ingin didahulukan orang lain. Meski ia dan Luhan adalah teman dari kecil, bukan berarti Sehun memiliki perasaan untuk Luhan dari lama. Yahh… Sehun sendiri tidak yakin untuk itu, ia masih terlalu kecil dan tidak mengerti perasaan yang ia rasakan dahulu. Tapi… ia benar-benar jatuh cinta pada Luhan saat pertemuannya pertama kali setelah sekian lama.
Melihat Luhan dipermainkan oleh Jongin, membuat Sehun marah dan tidak ingin melihat Luhan kembali menangis. Senyuman Luhan, ia ingin melindunginya.
Beberapa menit dari kedatangan Sehun, seorang pria yang sangat ia kenal datang ke arahnya. Ia adalah Jongin. Sebelum ketahuan, Sehun sudah terlebih dahulu bersembunyi taman dekat sana, ia duduk di kusi yang tertutupi pepohonan. Dengan ini, Sehun bisa memantau apa yang Jongin lakukan, karena setahunya, Jongin bukanlah mahasiswa kedokteran.
..
"Sehun…"
Luhan masih terdiam di tempatnya. Ia khawatir jika Sehun mendengar percakapannya dengan Jongin. Percakapan ini seperti mengarah pada Luhan yang ingin merusak pertunangan Jongin. Juga, tunangan Jongin adalah sepupu Sehun. Apa Sehun salah paham padanya? Pikir Luhan.
.
.
to be continued-
.
.
Heihoo~ ternyata ada yang berminat dengan cerita ini TT gamsahamnida... meski gak begitu banyak atau belum (?) yang fav/follow cerita ini, demi kalian aku akan melanjutkannya hohoho. Cerita cinta HUNHAN tuh kalo gak diselesaiin rasanya menyiksa :" bener gak sih?
Gimana menurut kalian chapter kali ini? Kira" apa yang terjadi selanjutnya? Perlu dilanjut? (harus kalo gak daku bisa-bisa digebukin kkk). Pokoknya tunggu chapter selanjutnya ya. Semoga saja aku selalu update di tiap minggunya ^^
..
Balasan review
#sisisima: yup! Bakal aku lanjutin ^^ semangatt!
#Guest: yuhu siapp!
#Sarah: yess! hidup HUNHAN... kkkk
#LuVe94: Cinta sejati, wow! ^^ Gak usah minta maap sama Jongin, dia kan dah aku bayar buat peranin itu kkkk. Iiiihhh jadi terharuuu TT siap deh bakalan update di FFN sebisa kuuu~ hehehe, fightingg!
#nanima999: mari kita aamiin-in, bantuin Sehun juga yaa ^^ hihihi
#AsaHunHan: biasa Sehun kan suka bawa kendaraan jadi kerjaannya nge-gas kkkk. Tunggu interaksi Baba dan Luhan lainnya ^^
..
Muaahh buat kalian semua yang review hehehe. Yuk yang lain mohon reviewnya juga hehehe ^^
Gamsahamnida
*loveforHUNHAN yeayy!
