Hari baru, cerita baru.
Di pagi hari yang dingin, Kihara Ren sudah berangkat ke sekolah naik sepedanya.
Disekelilingnya terdapat pohon hijau yang rindang. Di sebelah kirinya ada sungai yang panjang. Tempat itu memang berada di pinggir kota dan bisa dibilang pedesaan. Tapi jarak dari rumah Ren ke sekolah tidak begitu jauh jika naik sepeda atau transportasi umum.
Kenapa tidak teleportasi saja katamu?
Jelas karena penggunaan sihir tanpa izin dilarang dan setiap gerakannya diawasi oleh pemerintah. Dia tidak bisa sembarang menggunakan sihir karena sihirnya walaupun tidak memiliki efek kehancuran, tetapi dampaknya berbahaya. Malah sihir [Teleportation] milik Ren sudah masuk ke dalam kategori A yang artinya sangat berbahaya.
Ya, kemampuan Ren tidak hanya segitu.
"Haah… sistem sial! Rusak!"
Di sepeda dia sudah menjelek-jelekkan sistem yang memberinya kekuatan Esper miliknya saat ini.
"Misi #30: Tampar 100 perempuan."
"Hadiah: Imagine Breaker."
"Kemajuan 80/100."
"Deskripsi: Sebagai pahlawan keadilan, bagaimana bisa kamu memilih-milih musuh dan jenis kelamin? Pergi dan terapkanlah kesetaraan gender."
Ren menggelengkan kepalanya ketika melihat misi yang diberikan oleh sistem. Hadiahnya memang menggiurkan, tapi Ren masih memiliki rasa empati. Kalau perempuan itu bersalah maka Ren tidak segan memukulnya. Jangankan memukul, membunuh saja Ren sudah pernah. Dia sudah melewati banyak hal di kehidupan ini.
Tapi di zaman seperti ini, sangat sulit mencari seorang perempuan yang bersalah. Pada saat perang beberapa tahun yang lalu juga Ren menemukan lebih banyak tentara pria dibanding wanita.
80 orang itu juga hasil kumulatif dari perang beberapa tahun yang lalu.
"Imagine Breaker ya? Kalau punya itu, aku bisa menetralkan semua jenis sihir."
Imagine Breaker adalah kekuatan milik Kamijou Touma dari anime To Aru Majutsu No Index. Sebuah kekuatan yang bisa menetralkan segala jenis hal supernatural bahkan kekuatan dewa dan kemampuan abstrak seperti kemungkinan dan takdir.
Untungnya, Ren tidak gila kekuatan dan hanya mengoleksi semua kemampuan saja.
Dia sudah cukup puas memiliki kemampuan teleportasi Kuroko. Selain itu, karena bantuan sistem, dia juga berhasil mengembangkan kemampuan itu lebih jauh sampai bisa menteleportasi hal abstrak sekalipun.
Tidak terasa 17 tahun sudah berlalu sejak Ren datang ke dunia ini. Siapa yang sangka kalau dia akan bereinkarnasi dengan kekuatan dari To Aru? Jelas bukan Ren pastinya.
Ren sama sekali tidak panik atau sedih ketika bereinkarnasi. Justru dia merasa sangat senang dan bersemangat karena diberikan kesempatan ini. Selama 17 tahun ini dia sudah melakukan banyak hal yang dia inginkan. Bahkan hal yang memalukan sekalipun. Kalau disuruh jujur, Ren pasti merasa sudah puas dengan semua ini.
"Yang tersisa tinggal cari waifu. Hehe."
Katanya sambil tersenyum lebar dan menghayal.
*Gubrak*
"Wadaw!"
Karena tidak fokus, Ren menabrak sebuah tong sampah yang ada di pinggir jalan dan akhirnya terjatuh.
"K-kamu gak apa-apa?"
"Huh, iya, makasih."
Ren langsung berdiri dan merapihkan pakaiannya. Untung saja tong sampah itu tidak ada isinya sehingga dia tidak bau dan kotor. Paling-paling kotor karena kena debu dan tanah saat dia jatuh tadi.
Ketika Ren melihat ke depan, dia baru sadar kalau yang ada di hadapannya adalah seorang perempuan cantik. Dia tidak kalah cantik dengan Mayumi, malah menurut Ren dia jauh lebih cantik kalau dari segi estetika.
Dia memiliki rambut hitam yang panjang dan lurus. Kulitnya berwarna putih dan terlihat lembut dan mulus seperti salju. Wajahnya juga bersih dan cantik. Yang paling penting adalah dia memiliki tubuh yang aduhai.
"Malaikat…"
"Eh?"
"Siapa nama kamu?!"
Ren langsung menanyakan namanya karena menemukan waifu potensial selain Mayumi.
Sementara itu perempuan itu merasa terkejut ketika Ren menaikan suaranya dan bertanya namanya. Perempuan itu sudah biasa mendapati lelaki yang tergila-gila padanya dan dia merasa kalau Ren tidak berbeda dengan mereka. Apalagi Ren mengenakan seragam yang sama dengan perempuan itu.
Walau begitu, dia tetap menjawab dengan senyuman lembut.
"Shiba Miyuki."
"Ah, gak jadi deh."
Anehnya, ekspresi laki-laki itu langsung menjadi datar dan langsung pergi menggoes sepedanya. Miyuki dan kakaknya kebingungan ketika melihat reaksi Ren yang tiba-tiba seperti itu. Miyuki bertanya-tanya apakah ada yang salah dengan namanya.
Mereka tidak tahu saja kalau Ren adalah seorang reinkarnator yang sudah mengetahui background mereka.
Mengapa pada awalnya Ren tidak tahu?
Dia adalah seorang pelupa!
Ren bisa ingat jika fragmen-fragmen memorinya membuat ingatan utuh. Bisa dibilang ingatannya sudah menjadi samar-samar karena transisinya ke dunia ini. Lagipula dia juga sudah hidup 17 tahun di dunia ini. Wajar saja jika dia melupakan banyak hal.
Akan tetapi ketika perempuan itu mengucapkan namanya-
"Yotsuba, ya?"
Benar.
Miyuki dan Tatsuya adalah keturunan Yotsuba yang tersembunyi. Akan tetapi yang membuat Ren mundur bukan karena itu. Dia sama sekali tidak takut dengan keluarga Yotsuba. Memang dia sadar kalau melawan mereka semua masih susah, tapi pasti ada cara.
Yang membuat dia mundur adalah sifat alami Miyuki.
"Dasar brocon!"
Karena beberapa kejadian, Miyuki sangat memuja kakaknya dan mencintainya. Entah itu karena rasa cinta atau rasa balas jasa dan terima kasih. Intinya, Miyuki sudah tidak bisa lepas lagi dari Tatsuya.
Alasan lainnya adalah karena mereka berdua adalah karakter utama dari cerita ini.
Selama hidup Ren, dia merasakan kalau tingkat kesulitan di dunia ini dinaikan karena kehadirannya. Masalah jelas akan menghampiri karakter utama tanpa terkecuali. Ren adalah orang yang sederhana dan tidak mau ambil repot.
"Lebih baik mencegah daripada mengobati."
Tidak lama kemudian Ren sampai di sekolah dan memarkirkan sepedanya di parkiran.
Dia langsung pergi ke kelas dengan pakaiannya yang berantakan. Ren sama sekali tidak pedulli dengan pemikiran orang lain. Padahal dia sudah menjadi senior tingkat tiga.
"Akhirnya dateng juga!"
"Ada apa?"
Baru sampai di kelas, Ren sudah disambut Mayumi dengan wajahnya yang marah tapi tetap imut. Semua orang yang ada di kelas hanya melirik sebentar dan kembali ke aktivitas mereka masing-masing. Pemandangan ini seperti sudah tidak asing untuk mereka.
Ren sering sekali dimarahi Mayumi karena dia sering melanggar peraturan sekolah. Dia seperti tidak peduli dengan peraturan sama sekali. Orang-orang saja bisa heran kenapa dia bisa jadi mantan wakil ketua OSIS.
"Ada apa? Kemarin kamu kenapa lari?"
"Lari? Aku jalan kok."
"Grr…"
"Sudah Mayumi, biarkan saja orang itu. Daripada kamu capek sendiri."
Seorang perempuan berambut pendek menarik bahu Mayumi. Dia adalah sahabat Mayumi, namanya Watanabe Mari. Sama dengan Mayumi, dia juga memiliki prestasi yang bagus walau masih kalah. Saat ini jabatanya adalah ketua komite disiplin moral yang tugasnya adalah ngerusuhin orang.
Badan ini adalah grup yang paling dibenci di seluruh sekolah karena bekerja seperti polisi.
Ren sendiri lumayan jengkel dengan badan itu karena video game dan komiknya sering disita.
Setelah berurusan dengan semua itu, Ren berjalan ke meja miliknya yang ada di pojok kanan belakang dekat jendela. Tempat yang sangat spesifik bagi para karakter utama.
"Apa ini?"
Ren yang sedang tiduran di meja miliknya dibangunkan oleh sebuah ban tangan bertuliskan 'komite disiplin moral' yang ditaruh di atas mejanya oleh Juumonji Katsuto. Dia adalah seorang siswa dengan badan besar dan berotot yang juga sekelas dengan Ren.
Posisinya di sekolah ini juga tidak kalah dengan Mayumi, yaitu sebagai ketua asosiasi klub sekolah.
"Tugasmu dari kepala sekolah. Sebagai pengganti absen kamu yang kurang."
"Seriusan?"
"Mana mungkin aku bercanda."
Ren melihat wajah Juumonji yang kaku dan selalu serius. Dia terlihat seperti seorang bapak-bapak yang keras kepala dan galak. Yup, dia tidak bercanda.
"Iya juga."
Karena tidak ada pilihan lain, Ren terpaksa datang ke ruang OSIS sepulang sekolah. Sebenarnya komite disiplin moral punya ruangan sendiri, tapi biasanya mereka berkumpul di ruang OSIS kalau tidak ada tugas.
Sebenarnya hanya Mari saja sih karena dia dekat dengan Mayumi.
"Haah… ini yang terburuk."
Keluh Ren sambil memejamkan matanya di meja.
…
Sepulang sekolah Ren pergi ke ruang OSIS yang berada di gedung praktek. Dia masih menunggu di luar dan ragu untuk masuk ke dalam. Bukan karena dia merasa tidak enak dengan Mari, tapi karena dia tidak mau mengganggu aktivitas yang ada di dalam.
Setelah melakukan beberapa pertimbangan, Ren akhirnya masuk ke dalam.
"Permisi!"
"Ah, datang juga. Ngapain dari tadi nunggu di luar, hm?"
"S-siapa juga yang nunggu di luar."
"Fufu."
Bukannya Mari yang menyambutnya, malah Mayumi yang menggodanya seperti biasa.
Kalau di perhatikan baik-baik, di dalam ruangan ini ada dua orang yang tidak seharusnya berada di ruang ini. Kedua orang itu juga adalah mereka yang ditemui Ren di jalan tadi, Shiba Miyuki dan Shiba Tatsuya.
Gak bisa kabur dari plot ya?
Ren juga sudah menduga ini sebelumnya. Sebagai karakter utama, mana mungkin dia tidak terlibat dengan plot dunia ini. Tapi cerita yang dia inginkan adalah romkom dan bukan aksi bunuh-bunuhan seperti yang di novel.
Dia menyimpan semua itu dalam hatinya dan duduk di kursi terdekat.
"Ren, bagaiamana menurutmu kalau Miyuki masuk jadi anggota OSIS?"
"Terserah."
"Aku tanya serius!"
"Hei, aku kan bukan anggota OSIS. Terserah kamu lah."
Melihat mereka berdua bertengkar, seisi ruangan kecuali beberapa orang menjadi sangat cemburu. Saegusa Mayumi adalah idola kampus dan banyak yang suka dengannya. Mereka merasa iri karena Ren dekat dengannya.
Sementara itu, Miyuki yang tidak tahu apa-apa bertanya ke Mari.
"Mereka dekat ya?"
"Ya, mereka sudah berteman dari kecil. Kalau dulu malah Mayumi selalu membuntuti Ren kemana pun dia pergi."
"Hmm…"
Miyuki mengangguk mendengar jawaban Mari.
"Transporter…"
Sementara itu, Shiba Tatsuya yang duduk di sebelah adiknya memiliki pemikiran lain. Kedekatannya dengan anggota keluarga Saegusa membuatnya tambah was-was lagi.
Bakat sihir sudah ditentukan sejak lahir dan tidak bisa ditingkatkan. Semuanya tergantung dari kalkulasi sihir setiap orang. Karena itu juga semua bergantung pada gen dan keturunan sebelumnya.
Di Jepang, ada sebuah asosiasi bernama Ten Master Clan. Asosiasi sepuluh keluarga penyihir di Jepang yang memiliki keturunan sihir terbaik. Mereka juga adalah keluarga yang telah berkontribusi banyak terhadap sihir negara ini. Saegusa, Yotsuba, dan Juumonji termasuk ke dalamnya.
Biarpun namanya asosiasi bukan berarti mereka akur. Di luar memang terlihat begitu, tapi di dalam mereka bersaing untuk tinggal di puncak. Yang dianggap masyarakat paling kuat saat ini adalah Yotsuba, Jumonji, dan Saegusa.
"Ahem."
Mari akhirnya menarik perhatian mereka untuk melanjutkan topik awal mereka.
"Jadi, apa kamu terima tawaran ini, Miyuki?"
"Um, kalau Onii-sama ikut aku juga ikut."
Ketika Miyuki mengatakan itu, suasana ruangan menjadi bisu. Ren juga hanya tersenyum dengan songong sambil duduk sampai disikut oleh Mayumi yang ada di sebelahnya.
"Kalau untuk itu sepertinya tidak bisa."
Kata Mayumi dengan pelan. Dia takut melukai perasaan Miyuki.
"Kenapa? Kalau untuk kemampuan, aku bisa menjamin kemampuan Onii-sama. Dia layak menjadi anggota OSIS."
Miyuki mengatakan itu dengan penuh emosi. Yang ada di sekitarnya pun menjadi beku karena kekuatannya. Hampir semua orang sudah tahu kalau Miyuki sedih atau emosi, sekelilingnya akan membeku. Itu sudah menjadi kekuatan supernatural bawaan Miyuki.
"Bukan begitu, tapi-"
"Tapi apa?"
"Memang sudah jadi peraturan sekolah kalau jalur dua tidak boleh menjabat sebagai anggota OSIS. Aku tahu ini tidak adil dan aku juga berupaya untuk menghilangkan peraturan ini."
"…"
Miyuki terdiam ketika mendengar itu. Kalau masalah opini pribadi, dia masih bisa meyakinkan mereka untuk merekrut kakaknya. Tapi kalau sudah masalah peraturan, dia juga sadar kalau dia tidak punya kekuatan untuk mengubahnya.
Apalagi kepala sekolah di SMA Sihir Satu sangat terkenal dengan arogansinya. Bahkan dia adalah orang pertama yang mengajukan dan menerapkan sistem jalur satu dan jalur dua. Singkatnya jalur satu adalah untuk mereka yang berbakat menggunakan sihir modern sementara jalur dua adalah untuk yang tidak.
Dengan kata lain para murid jalur dua adalah cadangan bagi murid jalur satu yang gagal.
Sebenarnya tidak ada perbedaan pelajaran. Hanya saja segala gasilitas akan diprioritaskan ke murid jalur satu secara umum. Contohnya saja seperti guru, ruang praktek, dan yang lain. Bahkan kelas jalur dua tidak didampingi oleh guru dan menerapkan sistem self-study.
"Kalau begitu aku tidak bisa ikut. Maaf."
Miyuki membungkuk sedikit ke arah Mayumi. Keputusannya sudah bulat. Jika Tatsuya tidak bisa masuk maka dia juga tidak akan masuk.
"Dasar brokon…"
Sementara itu Ren berbisik untuk komplain.
Mengapa yang cantik sudah diambil semua?!
Dia melihat ke arah Mayumi dan membulatkan keputusannya agar Mayumi juga tidak menjadi mangsa dari Tatsuya.
"Ngapain sih ngangguk-angguk terus?"
Tanya Mayumi dengan kesal.
"Ah! Bagaimana kalau begini saja."
Semua orang melihat ke arah Mari yang mengagetkan mereka semua.
"Bagaimana kalau Miyuki menjadi anggota OSIS sementara Tatsuya jadi anggota komite disiplin moral? Komite disiplin moral posisiya independen dan tidak kalah dari OSIS loh. Hanya tugasnya saja yang beda."
"Boleh juga tuh."
Walau terlihat tomboy dan garang, Mari sebenarnya baik hati.
Solusi ini adalah solusi yang terbaik untuk memancing Miyuki masuk jadi anggota OSIS, tapi-
"Aku sama sekali gak setuju!"
Seorang laki-laki yang baru masuk ke dalam ruangan meneriaki itu. Orang itu memiliki rambut pendek yang rapih dan wajah yang bisa dibilang feminim.
"Oh, mengapa begitu, Hattori Gyoubushoujo Hanzou?"
"S-senpai, sudah aku bilang gak perlu panggil nama panjang. P-pokoknya aku gak setuju! Tugas komite disiplin moral adalah untuk menjaga ketertiban sekolah. Mana bisa seorang jalur dua melakukan itu. Kalau dia kalah malah akan membawa malu nama komite disiplin moral."
Lagi-lagi Miyuki terlihat marah. Sekelilingnya sudah berubah menjadi es. Untuk menenangkan adiknya, Tatsuya akhirnya bicara.
"Bagaimana kalau kita putuskan dengan duel?"
"Huh?"
"Kalian ingin melihat kemampuanku kan? Siapa tahu aku memiliki sedikit kualifikasi."
"Jangan sombong-"
Hattori merasa marah karena ditantang olehnya.
"Akan aku tunjukkan kamu tidak pantas!"
"Tunggu sebentar Hattori-kun."
Kali ini Mayumi angkat bicara untuk menenangkan keadaan. Atau itulah yang dipirkan oleh Ren. Kalau saja dia melihat senyuman jahat Mayumi, dia pasti sudah lari dari tempat ini.
"Apa kamu tidak setuju, Mayumi-senpai?"
"Bukan begitu Tatsuya-kun. Aku mau mengajukan pergantian pemain."
Kata Mayumi sambil mengacungkan jari telunjuknya.
"Maksud senpai?"
"Iya, apa maksudnya?"
Hattori juga ikut ngegas karena perkataan Mayumi. Dia sudah siap membantai Tatsuya, tapi merasa agak kesal karena dihentikan.
"Hm, bagaimana menjelaskannya ya. Selain Tatsuya, Ren juga adalah anggota baru komite disiplin moral. Bagaimana kalau pertandingannya melawan Ren saja. Dia juga kan murid jalur satu."
"Oh, pantas orang itu disini."
"Oi! Jangan libatkan aku!"
"Hm, ada masalah, Kihara Ren-kun?"
"Gah."
Ketika Mayumi memanggilnya dengan nama panjangnya, dia tahu kalau dia sudah tidak bisa kabur lagi dari rencana jahat Mayumi. Dari awal Mayumi terus tersnyum dengan imut sambil menjelaskan semuanya.
"Aku tidak keberatan."
"Kalau kamu bagaimana, Hattori Gyoubushoujo Hanzou?"
"…Baiklah."
Walau dia sendiri tidak bisa mempermalukan Tatsuya, Hattori percaya dengan kemampuan Ren yang bahkan bisa masuk ke dunia militer. Hal itu bukan rahasia lagi dan Ren juga tidak berupaya merahasiakannya.
Setelah sepakat, mereka semua pergi ke ruang praktek untuk melakukan duel.
