Chapter 2

"Curse of The Last Blood : Outsider."

Present by : Ichie Hilarion

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

DxD Highschool ©Ichie Ishibumi

Genre : Mature, Gore, Drama, Humor, Martial Art, Etc.

Warning :Typo, Gaje, ide pasaran, OOC, Adult Theme, Etc.

Summary : Menjadi keturunan terakhir Vampire terkuat dengan membawa kutukan ras nya, ia mencoba menjalani hidup berpegang teguh ideologi kakeknya. Membaur dalam keramaian, ia menyembunyikan fakta dia mewarisi dua garis keturunan pembawa malapetaka. Apa yang dia lakukan saat mengetahui fakta dibalik masa lalu-nya..?.

Rate : M

Pair : (...)

Author Note : Konten cerita Mengandung unsur 18+ Author berharap reader lebih bijak memilih bahan bacaan. Efek samping karena tetap membaca bagian 'Berbahaya' dan menghiraukan peringatan ini ditanggung sendiri ya, jangan marah-marah jika nanti kalian san*e tiba-tiba khukhukhu.. :-P

"Not like, don't read."

"Cerita ini dibuat hanya untuk menyalurkan inspirasi. Tidak ada tujuan tertentu, penyebutan karakter yang berhubungan dengan keagamaan, budaya, dan lainnya tidak mengandung makna yang negatif. Berpikir dewasa, cerita ini hanya sebagai penghibur para pembaca dalam mengisi kekosongan waktu luang.."

"Biasakan meninggalkan jejak setelah membaca."

Happy Reading..

.

.

.

© Curse of The Last Blood : Outsider ©™

.

.

.

Chapter sebelumnya..

.

.

.

.

Bel pertanda pulang sekolah sudah berbunyi 15 menit yang lalu. Naruto saat ini berada di ruangannya, memandang kosong lengan kirinya. Mungkin jika lebih diperhatikan, sensei muda ini lebih menatap kosong tatto dua pistol bermoncong panjang yang disilangkan.

Keturunan terakhir Van Hellsing ini memegang dada tengahnya, membuka sedikit kancing kemejanya ia memandang tatto sebuah kalung dengan bandul buku kecil berlambang hexagram. 'Jiji.. Tou-san.. Kaa-san..' batin Naruto.

Tok tok!

Mendengar ketukan pintu, Naruto merapikan pakaian dan tak lupa menurunkan kemejanya menutupi tatto di lengannya.

"Masuk!"

Setelah perintah itu, terbuka pintu ruangan Naruto menampilkan dua gadis bersurai merah dan hitam. "Siang sensei.." ucap mereka sopan.

Naruto mengangguk, mempersilahkan keduanya duduk. "Silahkan duduk, aku tidak akan berlama-lama.." kedua gadis tadi mengangguk, duduk di dua kursi yang berada di depan meja Naruto.

"Jadi apakah kalian tahu maksudku memanggil kalian kemari, Rias Gremory dan Sona Sitri..?"

.

.

.

Chapter 2

.

.

.

Bel pulang sekolah adalah salah satu yang paling ditunggu oleh kebanyakan murid akademi. Setelah bel pulang berbunyi mereka bebas melakukan apa yang ingin mereka lakukan, seperti bermain basket, nongkrong di cafetaria, melakukan kegiatan club, atau tidur cantik disiang hari.

Mungkin itulah sebagian yang dilakukan setelah pulang sekolah. Tapi kegiatan itu jauh dari tiga orang yang saat ini berada di salah satu ruangan Kuoh Akademi.

"Tentu tidak mengetahui kenapa kami dipanggil kesini sensei.." ucap gadis bersurai merah darah, Rias Gremory. Disebelahnya, gadis bersurai hitam Sona Sitri hanya mengangguk membenarkan ucapan Rias.

"Apa para Maou tidak memberi tahukan kedatangan wakil aliansi-nya..?" jawab Naruto malas, memutar bola matanya.

!

Sona dan Rias mengerutkan keningnya bersamaan. "Sensei wakil aliansi ?" tanya Rias bingung. "Hey.. Sensei sudah mengetahui dunia supranatural..?" lanjutnya dengan ekspresi terkejut.

Naruto memandang datar Rias yang terkejut. "Kurasa kalian bisa merasakan jika aku tak memiliki aura seperti seorang manusia.." jawab Naruto menatap Rias dan Sona bergantian.

Naruto mengambil tas-nya, mencari sesuatu yang dititipkan oleh Tou-sama nya sebelum ia berangkat tadi.

"Berikan ini kepada Maou Lucifer.." ucap Naruto memberikan amplop cokelat, sepertinya berisi beberapa berkas.

Rias dan Sona memperhatikan amplop cokelat itu seksama. Saling berpandangan, kemudian mengambil amplop tadi untuk nantinya diberikan ke kakak Rias, Sirzech Gremory.

"Kalau boleh kami tau, apa isi amplop cokelat ini sensei..?" tanya Sona.

"Biarlah Maou Lucifer yang akan menjelaskan pada kalian. Terlalu panjang jika harus dijelaskan disini.." jawab Naruto tanpa melihat kedua gadis didepannya. Ia merapikan beberapa berkas akademi, menyimpan di laci meja kerjanya.

"Lagipula, aku memiliki keperluan setelah ini.." ucap Naruto berdiri membawa tas kerjanya.

"Kalian bisa kembali, sampaikan salam ku kepada Akeno.." lanjut Naruto melangkah keluar ruangan, meninggalkan Rias dan Sona dalam kebingungan.

.

.

-Change Scene-

.

.

Disebuah hutan yang masih dalam kawasan kota Kuoh, terlihat seorang gadis bersurai ungu pucat tengah memandang awan biru dengan senyum diwajah cantiknya.

.

"Entah sudah berapa lama aku menunggu.." ucapnya penuh pengharapan.

.

"Aku tahu kau pasti kembali.."

.

Gadis ini memiliki perawakan seperti gadis berusia 20 tahun. Kulitnya putih bersih tanpa noda, parasnya cantik seperti gambaran seorang putri dalam cerita dongeng. Gadis yang masih setia memandang awan itu semakin melebarkan senyumnya saat gambaran seorang pria tampan bersurai pirang terlintas di pikirannya.

.

"Tapi masih belum waktunya.."

.

"Belum waktunya untukku kembali, kuharap kau tak melupakanku.."

.

Diakhir ucapannya ia kembali mengalihkan pandangannya kearah goa tempat dirinya tinggal. Goa yang diselimuti beberapa lapisan es di bagian dalamnya.

Melangkahkan kakinya, sudah waktunya ia kembali kedalam goa. Melakukan sesuatu yang sudah biasa ia lakukan tiap harinya.

.

.

-Change Scene-

.

.

Malaikat jatuh adalah ras yang memiliki dua sifat bertentangan. Ras ini kadang memiliki sifat layaknya malaikat, namun disatu sisi memiliki keburukan yang tak beda jauh dengan Iblis. Mungkin setiap makhluk akan menganggap ras nya yang paling superior diantara ras yang lainnya, begitu pula ras malaikat jatuh ini.

Malaikat jatuh menempati tempat yang sama seperti iblis, jika iblis menyebut rumah mereka Mekai, maka malaikat jatuh menyebut tempat tinggalnya Grigori. Mekai dan Grigori nyatanya adalah tempat yang sama, berada di dunia bawah, tempat yang berbeda dengan bumi, tempat manusia berada.

Di gedung pusat pemerintahan Grigori, saat ini Azazel telah bersama seorang remaja bersurai abu-abu. Matanya menatap malas Azazel, sungguh ia tak terbiasa melakukan hal yang membosankan ini.

"Apa yang membuatmu yakin aku harus melakukan ini..?" tanya remaja itu tanpa memandang pria didepannya. Pandangannya tertuju pada pemandangan luar ruangan itu.

"Sebenarnya banyak fakta yang belum kau ketahui tentang nama yang menjadi kutukanmu Vali.." Remaja yang dipanggil Vali itu mengerutkan keningnya mendengar ucapan Azazel.

"Fakta apa yang kau maksud kali ini..?" tanya Vali serius.

"Aku sebenarnya ingin memberitahu kebenarannya, tapi aku tak punya hak untuk melakukan itu. Ada satu orang yang berhak memberitahukan kebenaran itu padamu.."

Vali semakin tak mengerti arah pembicaraan ini. Fakta, kebenaran, apa yang sebenarnya dimaksud Azazel ia sungguh tak mengerti. "Kau bisa mencari orang yang ku maksud saat kau masuk akademi Kuoh. Ini juga perintah darinya, mengingat kau adalah keponakannya.."

.

'Oke, omong kosong apa lagi ini..'

.

"Jangan membicarakan sebuah omong kosong padaku Azazel!" ucap Vali dengan nada agak tinggi. Ia tak suka saat seseorang membicarakan latar belakangnya atau masa lalunya.

"Inilah yang ku benci dari Hakuryuukou saat ini. Kepalanya terlalu keras menerima sebuah masukan dari orang lain.." Azazel kemudian berdiri, ia mengambil sebuah map dari laci lalu melemparnya ke depan Vali.

"Itu berkas-berkas yang sudah ku siapkan. Orang itu ingin kau bersekolah di Kuoh Akademi. Dia hanya bilang, 'Jangan cari aku, biarkan takdir membawamu kepada keluargamu..' aku tak tau apa maksudnya. Tapi, aku bisa menjamin dia adalah keluargamu, dia juga memiliki ambisi yang sama sepertimu.."

Setelah mengucapkan itu, Azazel pergi meninggalkan Vali yang masih mematung mendengarkan fakta yang bahkan tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Azazel memperhatikan Vali sebelum ia benar-benar keluar dari ruangan. Ia bisa melihat wajah terkejut yang jarang ia temui dari pemegang secred gear naga surgawi itu.

.

"Beri aku waktu.."

.

Azazel sempat mendengar ucapan Vali sebelum ia meninggalkan Hakuryuukou itu sendirian.

'Entah ini salah atau tidak, tapi mereka akan menjadi aktor utama dalam panggung yang sebenarnya.. Berikan aku sedikit waktu lagi, akan aku bongkar kebusukannya.. Aku bersumpah demi nama Kami-sama, aku akan membongkar semuanya..'

.

.

-Change Scene-

.

.

Beralih ke tokoh utama cerita, pemuda pirang keturunan Vampire terakhir ini sedang berjalan pulang setelah berbelanja kebutuhannya. Walaupun ia Vampire tapi ia juga membutuhkan makan. Kebutuhan makan dan nutrisi beda untuk ras Vampire, jika makan ia bisa makan selayaknya manusia. Namun untuk kebutuhan nutrisi hanya darah yang bisa memenuhi kebutuhan wajib ras Vampire.

Kebutuhan nutrisi darah ini tak bisa ia perkirakan kapan akan muncul, maka dari itu ia selalu menyiapkan beberapa kantung darah di Gate penyimpanan miliknya. Ia tak bisa begitu saja menghisap darah manusia yang ia temui, ia tak ingin dunia supranatural gempar dengan munculnya ras Vampire yang dikabarkan telah punah beberapa puluh tahun yang lalu.

.

.

"Tolong.. Tolong..."

.

Naruto yang awalnya berjalan santai berniat pulang, harus menghentikan langkahnya setelah mendengar suara seorang wanita meminta tolong. Mencari keberadaan suara tadi, Naruto mengerutkan keningnya karena tak lagi mendengar suara meminta tolong.

.

.

"Tolong.. Hiks.. Ja-jangan bunuh aku.."

.

.

Saat akan melangkahkan kakinya, ia mendengar lagi suara meminta tolong bercampur tangis seorang wanita. Memandang gang yang ia rasa dekat dengan suara tadi Naruto berlari sambil memegang tatto pistol di lengan kirinya.

"Brengsek!"

Naruto mengumpat saat tiba di tempat wanita meminta tolong tadi. Ia melihat dua sosok monster sedang memakan jasad wanita yang kini tubuhnya tidak utuh lagi.

Mengumpulkan energi dikedua pistol miliknya, ia membidik dua kepala monster yang sibuk dengan makanannya.

DOORR!

DOORR!

Senjatanya ia tembakan, namun bukan peluru yang keluar, melainkan sebuah bulatan energi berwarna hitam kemerahan.

Crasshh!

DUAAARR!

DUAAARR!

Bukan hanya kepala yang hancur, tapi dua monster tadi langsung hilang tak menyisakan bekas apapun.

"Huwaa! Jangan bunuh aku.. Ku-kumohon.." gadis yang tak jauh dari ledakan menangis sejadi-jadinya melihat Naruto yang berjalan pelan mendekatinya.

"Hahaha.. Lumayan untuk seorang makhluk rendahan.. Kau harus bertanggungjawab karena telah menghabisi anak buah ku Hahaha.."

Di ujung gang yang tak disinari cahaya terdengar suara berat tanpa menunjukkan wujudnya. Naruto berhenti memperhatikan asal suara, ia menajamkan pandangannya saat seekor monster banteng menampakkan diri.

"Jadi ini yang disebut iblis liar..?" entah Naruto bertanya kepada siapa. Ia agak jijik saat melihat perwujudan iblis liar didepannya. Berwujud banteng namun bagian atasnya bertubuh manusia, memiliki wajah banteng dengan dua tanduk di kepalanya.

"Hahaha begitukah kalian menyebut kami.. Tapi aku merasakan aura yang asing dari tubuhmu, makhluk apa kau sebenarnya..?"

Saat Naruto sibuk dengan iblis liar berbentuk banteng, diluar gang terlihat lingkaran sihir berwarna merah mengeluarkan beberapa orang dengan seragam Kuoh Akademi.

"Untuk ukuran iblis liar, ternyata kau banyak bicara ya.." ucap Naruto menanggapi perkataan iblis liar didepannya.

"Matilah kau brengsek!" iblis liar itu mengeluarkan semacam cairan berwarna hijau dari mulutnya, yang diarahkan tepat dimana Naruto berada.

[Accel]

Tak sampai sedetik Naruto sudah tak berada ditempat ia berdiri tadi. Jika diperhatikan jalan aspal yang terkena cairan hijau itu tiba-tiba terbakar mengeluarkan asap hijau.

Tak memberi kesempatan lawannya mengeluarkan cairan hijau lagi, Naruto yang tiba-tiba berada dibelakang iblis liar itu menendang kuat leher samping monster banteng bertubuh manusia tersebut. Beberapa orang yang tadi datang menggunakan lingkaran sihir terkejut saat melihat Naruto menendang iblis liar sampai terguling-guling diatas tanah.

Melihat sebongkah besi bekas panjang berkarat, Naruto berlari mengambil besi itu dan melesat kearah iblis liar yang menggeram akibat tendangan Naruto tadi.

Crasshh

"ARRGGGHH!"

Crasshh

Puluhan tebasan Naruto layangkan pada tubuh iblis liar itu. Naruto yang mengira iblis liar didepannya itu cukup kuat, harus kecewa karena tak ada perlawanan berarti dalam pertarungan ini.

"Kukira kau memiliki kemampuan diatas rata-rata.. Tapi ternyata aku salah, kau hanya banyak membual. Bahkan aku tak mengeluarkan keringat setetes pun.." ucap Naruto arogan melihat lawannya tak berdaya dengan tubuh yang penuh luka sayatan.

"Siapa kau sebenarnya.. aura yang kau miliki bahkan tidak pernah aku temui.." ucap iblis liar itu dengan nada pelan, menatap tak percaya Naruto yang kini tangan kanannya tumbuh kuku panjang layaknya kuku hewan buas.

"Kau tak perlu repot-repot mengetahui tentang diriku.." jawab Naruto berjalan pelan dengan tangan kanannya digerak-gerakkan, memberi kesan horor bagi lawannya.

Jleebb

"Karena sudah waktunya kau memudar menuju kehampaan.." lanjut Naruto ketika tiba-tiba ia berada didepan iblis liar itu. Tangan kanannya menembus dada kiri monster itu, meremas jantung hitam yang perlahan memudar, diikuti tubuhnya dengan mata melotot memandang Naruto.

Naruto menghela nafas menggerakkan lehernya ke kiri-kanan hingga menimbulkan suara Krek seperti tulang yang diremukkan. Ia memandang gadis yang tadi berteriak meminta tolong, wajahnya sedikit sedih melihat penampilan gadis itu.

Pakaian dan rambutnya berantakan, wajah pucat dihiasi bekas air mata di pipinya. Naruto menghampiri gadis itu yang tergeletak tak sadarkan diri. Ia berjongkok, merapikan surai pink senada bunga sakura. Dibawanya gadis itu dalam gendongannya, kemudian berdiri diam tak bergerak.

"Rias Gremory.. Bukankah tak sopan mengintip seseorang.." ucap Naruto tiba-tiba tanpa menoleh.

Dibalik bayangan dinding gang keluarlah 5 orang remaja menggunakan seragam Kuoh Akademi.

"Na-naru-nii..?" bukan Rias yang mengeluarkan suaranya, melainkan seorang gadis bersurai hitam kebiruan terlihat menahan tangisnya.

Empat orang yang bersamanya tadi sedikit terkejut saat temannya memanggil Naruto dengan sebutan kakak, bukan sensei. Mereka diam tak mengerti, mereka menunggu apa yang terjadi selanjutnya.

"Akeno..? Kau sudah dewasa ternyata Imouto-chan.." ucap Naruto tersenyum menolehkan kepalanya melihat sosok Himejima Akeno.

Saat Akeno akan melangkahkan kakinya menuju Naruto, tiba-tiba sosok yang ia panggil kakak itu memudar bersamaan dengan munculnya kabut disekitar mereka.

"Rias Gremory.. Tolong bersihkan tempat ini, maaf aku harus pergi.." ucap Naruto menggema dalam kabut.

"Tolong simpan pertanyaanmu Akeno. Tanyakan saja pada Maou Lucifer untuk menjawab semuanya.." lanjut Naruto hilang dari penglihatan, kemudian kabut yang menyelimuti tempat tadi hilang tak berbekas.

Akeno yang mendengar jelas suara Naruto menghela nafas kecewa, ia harus bersabar. Setidaknya ia harus ke dunia bawah jika ingin menanyakan hal ini kepada Maou Lucifer, seperti kata Naruto.

"Apa kau lupa Akeno.." ucap Rias menghasilkan tatapan bingung dari putri petinggi Da-tenshi itu.

"Dia kan sensei di akademi.." lanjut Rias dengan wajah datar memutar matanya malas mengingat sifat Akeno ini.

"Ara ara ufufufu.. Kenapa aku bisa lupa.." ucap Akeno dengan tawa aneh disertai senyum yang tak kalah aneh.

.

.

.

© Curse of The Last Blood : Outsider ©™

.

.

.

Sinar matahari menyinari wajah cantiknya, menimbulkan rasa tak nyaman yang membuatnya membuka kedua kelopak matanya. Melihat sekelilingnya, ia mengernyit heran karena merasa tak mengenal kamar yang ia tempati saat ini. Menyibakkan selimut yang menyelimutinya saat tidur, ia merasa asing dengan pakaian yang ia gunakan saat ini.

Gadis bersurai senada bunga sakura ini terperanjat saat mengingat kejadian yang ia alami semalam. Tanpa bisa ia tahan, air mata mengalir membasahi pipinya. "Hiks.. Hana.. Shima.. Hiks.." Gumam gadis itu mengingat kematian dua sahabatnya.

"Hiks.. Haaaa.. Huwaa.. Hikss.." pecah sudah tangis yang berusaha ia tahan. Menyembunyikan wajahnya di lutut, gadis pink ini memeluk kaki kembali merasakan ketakutan menjalar di seluruh tubuhnya, mengingat sosok monster yang semalam mengambil nyawa kedua sahabatnya.

Pemilik kamar yang tidur di ruang tengah membuka matanya saat mendengar sesuatu yang menggangu telinganya.

"Huwaaa.. Hikss.. Hana-chan.. Shima-chan.. Maafkan, maafkan aku Hikss.."

Naruto jelas mendengar tangisan yang berasal dari kamar miliknya. Kamar yang sementara ditempati gadis pink yang ia tolong semalam. Sejak remaja Naruto diajarkan untuk bisa menyembunyikan perasaannya. Tapi mendengar tangis gadis itu membuat Naruto ikut merasakan kesedihan itu sendiri.

Beranjak dari sofa panjang tempatnya tidur semalam, Naruto melangkahkan kakinya menuju kamar dimana gadis pink itu berada.

Membuka pelan pintu kamar, ia melihat gadis itu meringkuk memeluk lututnya berusaha menahan tangisannya. "Jangan kau tahan kesedihanmu.. Lepaskan semuanya, habiskan dalam satu waktu. Setelah kau baikan keluarlah, biar aku jelaskan semuanya.." ucap Naruto memandang gadis pink itu datar. Sang gadis yang mendengar suara Naruto bergerak mundur, seakan takut dengan sosok pemuda pirang itu.

Melihat gadis yang ia tolong semalam ketakutan, Naruto mengangkat kedua tangannya setinggi dada, mengisyaratkan ia tak akan macam-macam. Ia meninggalkan gadis itu untuk menenangkan diri, melangkahkan kakinya menuju dapur, berharap ada bahan yang bisa ia gunakan untuk sarapan.

Cukup 30 menit yang dibutuhkan Naruto untuk membersihkan diri, menggunakan seragamnya, dan menyiapkann sarapan. Bukan sarapan yang mewah tapi cukup lah untuk mengisi perut sebelum melakukan aktivitas hari ini.

Terlalu sibuk menyiapkan masakan, Naruto tak menyadari gadis pink yang ia tolong semalam sudah berada beberapa meter dibelakangnya. Selesai dengan masakannya, Naruto membalikkan badan dan melihat gadis bersurai pink berdiri menatap dirinya takut-takut.

"Kemarilah nona, lebih baik kita sarapan dulu.." tersenyum kepada gadis itu, Naruto meletakkan dua piring yang berisi spaghetti dengan saus tomat.

"Aku tahu banyak pertanyaan yang ingin kau tanyakan, aku akan menjelaskannya setelah kita sarapan.." lanjut Naruto meletakkan dua gelas jus jeruk, pelengkap sarapan pagi ini.

Tanpa mengeluarkan suaranya, gadis itu duduk didepan Naruto. Memandang Naruto yang memakan sarapannya dengan tenang. "Te-terima kasih.." ucap gadis itu pelan kemudian mulai memakan sarapannya, bersama Naruto.

Sarapan berjalan hening, tak ada pembicaraan terjadi, itulah yang diajarkan oleh Kurama sebagai tata krama bangsawan saat makan. Berbeda dengan Naruto yang makan dengan tenang, gadis bersurai pink itu memakan sarapannya dengan sesekali melihat Naruto, menunduk, melihat Naruto lagi, hal itu terjadi beberapa kali hingga mereka menyelesaikan sarapannya.

Setelah menyelesaikan sarapannya, Naruto membawa gadis itu ke ruang tamu. Jika diperhatikan, gadis ini memiliki wajah yang cantik, garis wajahnya tegas dengan rambut merah muda yang membuatnya terlihat manis.

"Jadi apa yang ingin kau tanyakan nona..?" tanya Naruto karena gadis didepannya ini hanya diam dengan sesekali memandang ke arahnya.

Naruto dapat melihat gadis itu mengambil nafas panjang, sepertinya sedang mengumpulkan ketenangan sebelum mengeluarkan suaranya. "Ja-jadi makhluk semalam se-sebenarnya a-apa..?" yah, walaupun sudah mencoba menenangkan dirinya, gadis itu masih saya merasa takut saat melihat Naruto.

Dalam hati Naruto yang terdalam sebenarnya ia kecewa melihat respon gadis bersurai pink ini. Sebegitu menakutkan kah dirinya, padahal ia hanya berusaha menolong gadis ini dari iblis liar semalam.

"Aku tak tahu apa yang ada dipikiran mu tentang diriku." Ucap Naruto memandang tatto di lengan kirinya.

"Aku hanya ingin menolong, tapi melihat sikapmu.."

Seperti inikah sifat manusia, Naruto tak tahu harus merespon bagaimana. Haruskah dia marah, atau sedih, yang pasti Naruto sedikit kecewa. Naruto tak melanjutkan ucapannya menyadari bukan waktunya mementingkan ego.

"Maaf, maaf aku terbawa suasana. Baiklah akan aku jelaskan, tapi kau harus tahu konsekuensi mengetahui sisi lain dunia ini ? Kau bisa menyembunyikannya ?" tanya Naruto dengan wajah datar, dibalas anggukan kepala oleh gadis didepannya.

"Baiklah.. Monster semalam itu adalah iblis liar.."

Akhirnya Naruto menjelaskan keberadaan makhluk supranatural kepada gadis ini. Tapi ia hanya menjelaskan garis besarnya saja, tanpa membeberkan identitasnya sebagai seorang Vampire. Gadis yang mendengar penjelasan Naruto memeluk dirinya teringat dua sahabat yang telah meregang nyawa semalam.

Naruto mengakhiri penjelasannya berdiri kemudian berjalan kearah kamar. Ia keluar dari kamar membawa selimut, berjalan mendekati gadis yang masih meringkuk memeluk lututnya.

"Istirahat saja dulu, aku tahu kau masih tertekan. Jika lelah gunakan kamar untuk tidur, aku harus mengajar hari ini. Aku pulang nanti sore.." ucap Naruto panjang lebar sambil menyelimuti tubuh gadis pink itu.

Gadis yang merasakan sesuatu menyelimutinya membuka matanya, ia memandang Naruto yang mengatakan bahwa harus mengajar hari ini.

Naruto yang melihat gadis itu memandangnya hanya tersenyum tipis, sebelum benar-benar pergi Naruto berkata.

"Saat aku pergi, kau bisa membersihkan dirimu. Jika kau ingin pergi aku tak melarangmu, simpan saja kunci apartemen di pot depan. Aku membawa kunci cadangan." Kemudian ia melangkahkan kakinya untuk berangkat ke Kuoh Akademi. Tapi saat akan membuka pintu, ia mendengar gadis itu mengatakan sesuatu..

"Tu-tunggu.."

"Hmm..?"

"Ma-maaf.. Namaku Satsuki Momoi.."

Naruto mendengar dengan jelas gadis ini memperkenalkan dirinya, ia tersenyum tipis mengetahui gadis ini sepertinya sudah membaik dari trauma yang ia dapatkan semalam.

"Aku akan mengingatnya Momoi-san.."

Gadis itu mengangguk menanggapi ucapan Naruto. Ia masih memandang pemuda pirang itu, menunggu pria didepannya mengatakan namanya.

"Kau memiliki nama yang indah nona. Namaku.."

.

.

.

.

.

.

.

.

"Naruto Vermillion.."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Continue...

.

.

Sudah muncul dua karakter baru di chapter ini. Yang pertama gadis bersurai ungu pucat, dengan kekuatan es. Yang kedua gadis bersurai pink Satsuki Momoi, gadis biasa tanpa kekuatan supranatural.

Bisakah kalian menebak-nebak siapa sosok gadis pertama ? Rambutnya ungu pucat dengan kekuatan es.

Untuk masukan yang menginginkan Naruto punya kekuatan Gilgamesh, Gate of Babylon maaf saya nggak bisa mengabulkannya. Entah kenapa jika memakai kekuatan itu kesannya saya mencontoh salah satu fict Author senior.

Saya juga meminta tolong, pake bahasa yang santun jika sekiranya ingin mengkritik. Saya terima kritikan tapi bukan dengan cara mencaci. Mungkin inilah penyebab Fanfiction Indonesia semakin sepi, banyak reader yang tidak menghargai Author. Kami bikin cerita menguras otak mencari inspirasi, kalian enak tinggal baca masih aja bacot. Tolong kerja samanya.

Kalian manusia berakal, jangan membuat derajat manusia jadi seperti binatang yang bisanya cuma menggonggong. Keep support, ramaikan Fanfiction Indonesia.

Terimakasih sudah rela berkunjung apalagi menyempatkan waktu untuk membaca sebuah karya tulis yang sangat jauh dari kata baik.

Setelah membaca biasakan meninggalkan jejak. Tinggalkan review, tanggapan, maupun usulan ide yang menurut kalian menarik.

Ichie Hilarion pamit undur diri.

Ramaikan Fanfiction, jangan malu berfantasi, terus berkarya.

Jaa na..

.

.

.

.

Tentang Naruto :

Ibu : Seras Van Hellsing.

Ayah : Minato.

Kakek : Alucard Van Hellsing (Adrian Fahrenheit Tepes)

Senjata : - Pistol Kembar (Pistol Alucard)

Pasangan : -

Kekuatan : - Accel : Menambah Movement speed dan power pada penggunanya.

.

.

.

.

29 Maret 2020