Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
.
.
[ Kagutsuchi(Dewa Api) ]
~ Chapter 15 ~
.
.
.
Sakura pov.
(sebelum bertemu dewa Sasuke)
"Bagaimana hari ini kita jalan-jalan? akhirnya pulang lebih awal." Ucap Shion padaku.
"Maaf, aku tidak bisa, aku harus ke kuil." Ucapku.
"Kau ke kuil terus, apa kau tidak bosan? Bagaimana dengan kami?" Ucap Ino.
"Aku ingin melakukan hal baik sebelum meninggalkan Konoha." Ucapku, aku ingin bertemu dengan dewa Sasuke sebelum kami benar-benar tidak bertemu lagi.
"Sudahlah, Sakura akan pergi bersama kita saat hari kelulusan." Ucap Tenten.
"Aku akan ikut kemana pun kalian pergi." Ucapku.
"Yeey, kita akan liburan bersama!" Ucap heboh Ino.
Aku hanya tersenyum mendengar pembicaraan mereka, sebelum aku pergi, mereka ingin membuat acara yang menyenangkan dan akan menjadi kenangan kita sebelum kami berpisah.
Bergegas pergi, aku tidak sabar ingin bertemu dengan dewa itu, sejujurnya dia menarik perhatianku, walaupun aku sangat sadar jika dia adalah seorang dewa, dia selalu mendengar setiap cerita keluhanku meskipun itu menyedihkan.
Bught!
Aku hampir terjatuh, tanpa sengaja aku menabrak seorang murid.
"Beraninya kau menabrak-" Ucapnya terhenti setelah melihatku
"Kita pergi, jangan mencari masalah dengannya." Ucap yang lainnya.
Kami bertemu lagi, mereka yang terus melakukan hal jahat padaku.
"Bukanya aku ingin berlindung pada kak Naruto, tapi kami tidak memiliki hubungan seperti itu, lalu aku berharap kalian tidak bersikap seperti ini kepada murid lainnya, tolong hentikan sikap buruk kalian, apa kalian tidak merasa jika kalian menyakiti perasaan orang lain? Bagaimana jika kalian berada di posisi yang sama?" Ucapku, aku harus berhenti untuk lari atau pun bersembunyi di balik punggung orang-orang yang peduli padaku.
"Apa yang kau ucapkan? Anak buangan seharusnya menyadari posisinya, mau sok menasehati kami?"
"Aku tidak menasehati kalian, tapi kalian akan mendapat balasannya jika terus bersikap seperti ini." Tegasku.
"Apa ini? Apa karena kau terus ke kuil dan meminta kesialan pada kami?"
"Aku tidak melakukan itu, tapi kalian seharusnya memikirkan tindakan kalian." Ucapku dan beranjak dari mereka, aku tidak ingin meladeni mereka lagi.
"Aku tidak perlu nasehatmu!" Teriak mereka.
Aku harap mereka berubah.
Kembali bergegas ke arah kuil, dari arah tangga aku bisa melihat dewa Sasuke di sana, semakin mempercepat langkahku, tapi hari ini tatapannya terlihat berbeda, dia terlihat sedikit kesal dan menatap lurus ke depan, apa yang di lihatnya?
Dewa Sasuke menggerakkan tangannya dari bawah ke atas dan aku bisa melihat dua orang dewa dengan pakaian tradisionalnya, Hakama dan yukata yang indah, yang satunya terlihat seperti patung dewi Izanami, Sasuke membenarkannya, dan yang satunya lagi terlihat cukup tampan tapi dia sangat marah.
Aku tidak tahu apa yang aku lakukan, aku terus berdiri di hadapan dewa Sasuke dan menundukkan wajahku, tolong pakai hakamamu dengan benar! Dada dan otot perutnya itu seperti tengah di pamernya.
Berkali-kali dewa itu mengancam dewa Sasuke, dia akan membunuhnya, aku tidak bisa membiarkan hal ini, aku tahu, aku hanya manusia biasa yang bahkan melawan teman sekolah sendiri aku kesulitan, tapi beberapa hari ini aku mulai merasa percaya diri untuk lebih kuat melawan apapun, aku berusaha melindungi dewa Sasuke dengan keras kepalaku.
"Kau sungguh akan melindungiku?" Tanyanya.
Mengangkat wajahku dan tatapan kami bertemu, dia pria yang tinggi, ini sangat konyol, aku hanya berusaha melakukan apapun yang aku bisa, sementara itu aku mendengar dewi Izanami berusaha menenangkan dewa Izanagi.
"A-aku akan melindungimu." Ucapku, walaupun aku takut, tanganku terus menahan ujung lengan hakamanya, aku hanya inign mencoba tenang, tapi dewa itu kembali mengancamku juga.
Zraasshh!
Aku tidak tahu apa yang terjadi lagi, tiba-tiba saja dewa Sasuke memelukku dan kami berpindah tempat, apa-apaan tadi! Aku seperti mendengar lemparan petir ke arah kami, kupingku sampai terasa berdengung.
"Hentikan Izanagi!" Teriakan keras itu, mencoba berbalik, aku bisa melihat dewi Izanami melindungi kami, aku yakin itu adalah kekuatan Izanagi yang mungkin sangat kuat.
"Kau tidak apa-apa?" Ucap dewa Sasuke. Mengalihkan tatapanku dan menatapnya, telingaku terus berdengung hingga dengungan itu menghilang.
"Sakura." Panggilnya.
"A-aku tidak apa-apa." Ucapku, aku hanya syok merasakan hal yang tadi, dewa Izanagi itu benar-benar akan membunuhku juga.
"Jangan mencari masalah denganku Izanami, aku sedang melindungimu." Ucap dewa Izanagi, di tangannya itu seperti ada petir yang mengitari telapak tangannya.
"Kau adalah dewa, bagaimana sikapmu seperti ini? Kau akan membunuh manusia?" Ucap dewi Izanami, mereka kembali berbicara satu sama lain.
Aku merasakan dekapan itu cukup erat, dewa Sasuke berusaha melindungiku, tatapannya bahkan terlihat sangat tenang, apa dewa Sasuke hanya menahan diri saja?
"Manusia itu sudah berani melindungi dewa yang harus mendapat hukumannya." Dewa Izanagi tetap saja keras kepala, aku rasa itu cocok dengan ucapan dewa Sasuke tadi, dia mengatakan jika Izanagi adalah dewa pemarah.
"Sadarlah Izanagi, ini adalah kesalahanku, aku yang datang ke dunia manusia, sekarang kita kembali, jangan membuat masalah, satu manusia mati akan menurunkan derajatmu sebagai seorang dewa, manusia ini hanya melindungi sesuatu yang sangat di percayainya. Aku mohon, kita kembai, aku berjanji, ini adalah yang terakhir kalinya aku bertemu dewa Kagutsuchi." Ucap Izanami.
Suasananya seperti menjadi tenang, aku merasa jika Izanami bagaikan seorang ibu bagi dewa Sasuke, tapi Izanagi tidak pernah akan mendengarnya.
Aku harap semua berakhir, aku sangat ketakutan jika benar aku akan mati hari ini juga, nenek masih sedang menungguku.
Aku melihat Izanagi berbalik dengan tatapan kesalnya, dia perlahan-lahan melayang dan naik ke atas langit, apa semua ini sudah berakhir?
"Aku akan pergi, selamat tinggal Kagutsuchi dan terima kasih padamu gadis muda, kau menolong Kagutsuchi dan mengontrolnya." Ucap dewi Izanami dan dia pun menghilang.
Aku tidak mengerti dengan ucapan dewi Izanami, aku tidak begitu menolongnya, aku hanya membuat diriku dalma bahaya dan membuat dewa Sasuke jadi repot.
"Maaf aku hanya menjadi beban untukmu." Ucapku, kami sampai terduduk dan dewa Sasuke menyandarkan dirinya di sebatang pohong, apa benar dia juga menahan diri?
"Tidak, aku berterima kasih padamu, seperti ucapan Izanami, kau membuatku mengontrol amarahku, jika tidak, akan terjadi perkelahian yang cukup besar, aku mungkin bisa saja membakar seluruh kota atau pun Izanagi yang akan menghancurkan seluruh kota." Ucapnya.
Aku tidak tahu jika dampak dari perkelahian mereka akan seburuk itu, tapi bagaimana pun juga mereka para dewa, kami manusia hanya titik kecil yang akan jauh lebih cepat musnah karena kekuatannya.
"Kau sungguh berani." Ucapnya lagi dan hari ini aku melihat sebuah senyum itu di wajahnya, untuk pertama kalinya dia tersenyum padaku.
Bergegas berdiri dan menjauh darinya, sejak tadi aku hanya duduk di pangkuannya dan mendengarnya berbicara, aku bahkan sempat membalas pelukannya, apa yang sudah aku lakukan! Sadar akan posisiku! Aku hanya manusia biasa!
"Apa yang membuatmu datang lagi?" Tanyanya.
Tidak mungkin aku mengatakan sangat ingin melihatnya lagi.
"Ko-kotak bekal, aku harus mengambil kotak bekalku." Ucapku, gugup.
Mencari kotak bekal itu dan tersimpan rapi di teras, berjalan ke arah teras dan mengambilnya, kegiatanku sempat terhenti, aku tak tahu jika dewa itu sudah berdiri tepat di belakangku dan aku tidak ingin berbalik dan melihat posisi hakamanya yang mengganggu itu.
"Kapan kau akan pergi?" Tanyanya.
"Seminggu lagi." Ucapku dan rasanya semakin membuatku gugup, kenapa dia harus berdiri belakangku?
"Kau akan datang lagi?"
"I-iya, aku akan datang lagi dan setelahnya tentu saja akan pamit padamu." Ucapku.
"Aku senang mendengarnya." Ucapnya dan rasa tertekan ini akhirnya menghilang, dewa itu seakan menghilang lagi, berbalik dan mencarinya, dia sudah berdiri di dekat sebuah pohon, pohon yang paling besar di halaman kuil ini dan di keramatkan oleh para warga disini, mereka bahkan melingkarkan pohon itu dengan kertas mantra.
"Aku akan segera pulang, sampai jumpa besok." Ucapku dan bergegas, dewa Sasuke hanya bergumam, dia tidak juga berbalik dan menatapku, dia terus menatap ke arah pohon itu.
Jantungku jadi berdebar-debar setiap mengingatnya mendekapku, di saat festival pun dia melakukan hal yang sama. Sadar lah Sakura! Dia adalah dewa! Aku tidak mungkin tertarik pada dewa! Ini sangat konyol, aku harus terus menghentikan pikiran anehku ini.
Walaupun seperti itu, apa tidak bisakah seorang manusia memiliki perasaan terhadap seorang dewa?
.
.
TBC
.
.
update...~~
