VAMPIR PROTAGONIS?

Whaat!

Wait!

Naruto belongs to Masashi Kishimoto

SAKURA POV

Kakiku melangkah ringan menapaki lantai koridor rumah sakit ini. Aroma karbol yang bagi beberapa orang membuat indera penciuman mereka tak nyaman, bagiku sudah seperti aroma parfum sehari-hari. Bukan tanpa sebab hormon endorphinku naik, rasa lega dan rasa syukur bercampur aduk didadaku saat kedua tangan ini mampu membantu menyelamatkan nyawa seseorang.

"Selamat pagi dr. Haruno. Semoga hari Anda menyenangkan." salam seorang pemuda yang kukenal dengan senyum manisnya.

"Aww! Manis sekali kamu Mitsuki. Tolong bantu dr. C yaa."

Kukedipkan sebelah mataku untuk Mitsuki. Hei! Jangan salah sangka! Dia masih kecil, mahasiswa koas dibawah asuhan C.

"Tentu saja dr. Haruno. Anda bisa mengandalkan saya." balasnya dengan senyum simpul yang menawan.

Ah! Wajar saja jika banyak perawat yang terpesona dengan Mitsuki. Selain jenius, dia juga punya wajah dan senyum yang menyejukkan hati.

Kali ini aku hanya membalas perkataan Mitsuki dengan senyum, dan kembali melanjutkan perjalananku ke lantai 4. Sebenarnya bisa saja aku naik lift, tapi aku ingin sedikit berjalan-jalan dan meregangkan otot kakiku yang masih tegang karena berdiri 9 jam saat operasi cangkok jantung Genma-san. Lagipula jarak antara lantai 2 dan lantai 4 tidak terlalu jauh bukan?

Pemandangan seperti ini sudah biasa di koridor lantai 3. Ibu-ibu dengan perut buncitnya mengantri menunggu panggilan periksa dari salah satu dokter kandungan yang sudah kukenal cukup baik. Khawatir, cemas, dan bahagia terpatri jelas dari raut wajah mereka. Kukembangkan senyum dibibirku saat bertatapan mata dengan salah seorang pasien yang kulewati.

"Sakura! Haruno Sakura!"

Suara itu sangat familiar ditelingaku. Teriakan khas dari seseorang yang sudah kukenal sangat lama. Kubalikan badanku melihat kearah suara itu berasal. Dan benar! Kulihat Temari dan Shikamaru berdiri tepat di salah satu ruang periksa yang kulewati tadi. Mereka berjalan pelan kearahku. Ah! Aku masih tidak menyangka, mereka akhirnya menikah setelah melewati masa putus nyambung yang sangat panjang.

"Kau disini? Kenapa tidak mengabariku dulu bodoh!"

"Heii! Kau yang bodoh! Aku sudah menghubungimu dari kemarin, tapi ponselmu tidak aktif."

Ahh! Benar juga! Sejak kemarin aku fokus ke operasi lanjutan Genma-san. Tak ada waktu senggang untuk sekedar mengisi daya ponselku.

"Kau benar. Hahaha." jawabku sambil tertawa.

Temari merengut mendengar jawabanku barusan, dan menggumamkan kata-kata yang kutahu pasti itu kata-kata yang tidak pantas didengar Shikadai.

"By the way, kenapa kalian disi-"

Oh tidak!

"Jangan bilang..." tanyaku kaget.

Temari tersenyum seraya mengelus-ngelus perutnya.

"Adik untuk Shikadai! Selamat Temari!"

Kurengkuh Temari dalam pelukanku. Hei! Ini bukan sekedar basa-basi! Aku tulus melakukannya. Aku juga sangat senang dengan kabar ini. Dan yang kutahu pasti, dia begitu mendambakan kehamilan yang kedua. Dia pasti senang bukan main.

"Dengarkan apa yang dikatakan dr. Chiyo tadi! Kau paham hn?"

"Wow! Perangai doktermu keluar Sakura. Hahaha."

Aku mendelik garang mendengar jawaban cengengesan Temari.

"Baiklah dr. Haruno, aku mengerti." jawabnya pura-pura takut.

Responku hanya mengangguk pelan berwibawa.

"Dan kau Shikamaru! Bersabarlah dengan sifatnya." perintahku tegas.

"Ya Tuhan Sakura. Kurasa aku orang paling sabar di muka bumi ini. Kau tahu hal itu kan?"

Err- ya! Aku sangat tau itu. Shikamaru termasuk orang langka dengan kesabaran atau kedunguan diatas rata-rata. Dia pernah memanjat pohon kelapa di salah satu pantai daerah sini karena Temari menyuruhnya, nyidam katanya. Gila bukan? Sangat! Tapi setidaknya si rambut nanas ini baik untuk Temari.

"Benar juga. Maksudku, jangan bosan-bosan untuk bersabar menghadapinya." kataku dengan mimik wajah frustasi dengan gesture menunjuk ke Temari.

"Hei apa maksud kalian berdua eh?"

"Kau lihat sendiri kan?" tanyaku sarkastik.

Dan kami bertiga tertawa renyah. Entah kapan terakhir kali aku bisa tertawa seperti ini dengan Temari dan Shikamaru. Rasanya sudah lama sekali. Karena kesibukanku di rumah sakit ini, waktuku untuk hang out bersama dengan mereka dan Tenten tentu saja, menjadi berkurang. Lagipula mereka juga sibuk dengan kehidupan mereka yang baru.

Kulirik jam yang bertengger cantik ditangan kiriku, 15.18.

"Ah sial! Guys, aku harus pergi sekarang." kataku menyesal.

"Kau! Kenapa kau sibuk sekali brengsek! Setidaknya berikan sedikit waktumu untuk kami! Tenten sangat merindukanmu, kau tahu itu?"

Tentu saja aku tahu. Dia mengatakannnya saat terakhir kali kami ngobrol lewat telepon. Tapi bagaimana lagi, aku sedang sibuk disini, a-atau mencari kesibukan? Mungkin keduanya.

"Im so sorry. Aku akan menelponnya nanti, aku janji! Tapi yang jelas, aku harus pergi sekarang, ada meeting intern yang ha-"

"Baiklah-baiklah pergilah sana!" ucap Temari frustasi memotong perkataanku tadi.

Kembali kupeluk Temari dengan kata terimakasih yang meluncur dari bibirku. Mereka, Temari dan Tenten, bukan lagi sahabatku, tapi saudaraku. Aku begitu menyayangi mereka, hanya saja untuk saat ini, kesibukan yang seperti ini bisa mengalihkan pikiranku dari seseorang itu, tak perlu kuperjelas siapa orang tersebut bukan?

Bergantian kupeluk Shikamaru yang nampak sangat ngantuk itu. Aku kasihan sekali dengannya. Sungguh.

"Kalian, jaga kesehatan baik-baik yaa. Aku pergi dulu."

"Hei kau! Jangan lupa makan dan berkencan brengsek! Tubuhmu semakin kering!" teriak Temari kasar kepadaku.

Ya dia memang seperti itu, jangan kaget begitu. Itu caranya menunjukan rasa sayangnya kepadaku. Ck! Berkencan yaa? Rasanya untuk sekarang tidak mungkin, entah kalau besok. Bisa saja kan?

"Tentu saja brengsek!" ucapku tersenyum dan mengedipkan sebelah mataku ke mereka.

Bergegas aku naik eskalator tanpa menunggu anak tangga menuntunku ke atas dengan otomatis. Aku tak suka menunggu dan membuat orang menunggu. Ketepatan waktu adalah salah satu ciriku, mereka para pegawai di rumah sakit ini sudah tau betul.

Kubuka salah satu pintu dengan tulisan "Meeting Room" di lantai 4. Berjalan pelan dan penuh wibawa di depan para staff yang sudah menungguku entah dari kapan.

"Apa saya terlambat? Maaf jika kalian harus menunggu lama." sapaku ke mereka yang duduk rapi di depanku.

"Tidak dr. Haruno, Anda tepat waktu."

Aku hanya tersenyum menanggapi celetukan dari dokter yang menjadi partnerku di Spesialis jantung. Kuambil remote control yang tersedia dimeja dan menekan tombol power yang ada disana. Sinar proyeksi muncul dan menerjang ketubuhku dengan silaunya.

"Baiklah, kita mulai rapat hari ini. Selamat sore, saya, Haruno Sakura, dokter spesialis senior jantung, akan menjelaskan bab pencakokan jantung yang kita jalani akhir-akhir ini..."

Kujelaskan semua tulisan dan gambar yang terpantul dari proyektor dengan jelas dan terperinci. Juga memberikan kesempatan pada mereka untuk bertanya kepadaku secara langsung. Aku berusaha sebaik-baiknya menjadi dokter dan mentor di sini, Konoha Medical Center. Karena yang kutahu pasti, aku mengahabiskan lebih dari 80% waktuku disini, setiap harinya. Jadi merekalah keluargaku saat ini, juga para pasien. Wajar bukan jika aku memperlakukan keluargaku dengan baik?


Entah ini kopi gelas keberapa yang kuminum. Bukan aku merasa ngantuk karena membaca rekam medis Genma-san yang ada tepat didepanku. Hanya saja, terkadang kopi menjadikanku lebih fokus mengahadapi tulisan-tulisan dan angka yang begitu kecil ini. Dan juga meringankan sakit kepalaku.

"Kau menakutkan. Pulanglah Sakura."

C sudah berdiri di depanku, tangan kanannya memegang gelas kopi milikku dan meminumnya tanpa menunggu izin dariku. Toh, aku juga tidak memperdulikannya.

"Kau bercanda? Ini masih jam 9, lagipula ini juga nanggung." sambil kuangkat kertas rekam medis yang sedang kubaca.

"Ck! Are you kidding me woman? Lihat jammu! Percuma punya jam mahal tapi tidak kau gunakan."

Aku meringis melihat digit jam menunjukan angka 00.45. Ahh! Waktu begitu cepat berlalu.

"See? Pulanglah! Istirahatlah di rumah. Jika kau sampai menginap disini lagi, akan kuadukan Dokter Kepala. Pegang perkataanku!" ucapnya tegas.

"Nanti saja C. Aku juga harus controlling keadaan Genma-san lagi, tadi keadaannya sempat drop."

Kuambil gelas kopi yang sudah diletakan kembali C di tempatnya. Menyesapi rasa pahit dan manis yang bercampur dalam lidahku. Benar-benar nikmat!

"Kau... Apa kau tak percaya kemampuanku hah? Aku juga spesialis jantung di sini, dan partner kerjamu."

Kulirik C yang sekarang sudah duduk tepat di depanku. Perubahan nada bicara membuatku kaget. Aku tak menyangka reaksinya akan seperti ini.

"Bukan itu maksudku, hanya saja..."

"Kumohon pulanglah dr. Haruno. Istirahatlah di rumah. Perhatikan kesehatanmu, sudah 2 minggu ini kau tak mengambil jatah liburmu bukan? Keadaan Genma-san, percayakan padaku. Kumohon, pulanglah."

Kali ini aku tidak bisa mempertahankan pendirianku. Melihat mimik wajah C yang seperti ini membuatku merasa tak enak hati juga.

"Baiklah, aku pulang sekarang. Puas haah?" ucapku sambil menutup map rekam medis milik Genma-san.

"Ya Tuhan Sakura, apa aku harus membujukmu seperti itu hah? Kau lebih sulit ketimbang keponakanku yang masih berumur 2 tahun. Sungguh!"

Aku merengut mendengar celotehan C barusan. Kurapikan seluruh barang-barangku yang tercecer dimeja.

"Baiklah, aku pulang dulu C! Jaga pasien kita baik-baik! Kau paham?"

Kupeluk tubuh kekar C sebagai salam perpisahan. Heei! Bukan! Ini hanya sekedar pelukan untuk pertner kerjaku! Dan tidak ada sama sekali perasaan romantis didalamnya.

"Kau cerewet sekali Sakura! Pulanglah segera! Hati-hati dijalan. Kalau bisa mampir di club malam, bersenang-senanglah disana. Hahaha."

"Kau bodoh C!"

Dia hanya tertawa mendengar cemoohku barusan. Dasar bodoh!

"Ingat kata-kataku Sakura! Bersenang-senanglah!"

Tawa C semakin keras kudengar saat jari tengahku memberikan salam manisnya. Jangan kaget! Memang seperti inilah hubungan kerja kami. Saling mencemooh, saling memuji, dan saling menguatkan adalah hal biasa antara aku dan C.

Koridor tempatku berjalan kali ini begitu sepi dan tenang. Kurasa hanya aku sendiri yang keluyuran di sini. Aku takut? Kalian bercanda! Aku pernah mengalami hal yang jauh lebih mengerikan dari ini dulu, dan kurasa keadaan sepi di rumah sakit tidak termasuk kategori mengerikan.

Jas putih yang dari tadi pagi kupakai sudah berganti coat hitam berbahan woll yang nyaman. Kurogoh saku dalam dan mengeluarkan benda yang ada disana, ponselku. Tadi aku sudah menelepon Tenten dan dia senang bukan main saat aku menyanggupi berkumpul dan makan malam bersamanya dan Temari tentu saja. Ahh! Sudah lama aku tidak melakukan hal-hal yang seperti itu. Pasti akan menyenangkan bukan?

8 Panggilan tak terjawab? Entah ini nomor siapa akau tak tahu, tapi dari kodenya nomornya, sepertinya itu dari telepon umum. Belum sempat aku menekan tombol hijau untuk menelponnya kembali, ponselku bergetar mendapatkan panggilan dari nomor yang sama.

"Hallo good evening, Haruno Sakura speaking." ucapku santun.

'Sa-sakura? Haruno Sa-sakura?'

Kaiku berhenti berjalan, lebih memfokuskan telingaku untuk mendengar suara seorang wanita dari seberang sana. Memang tebata-bata, tapi jelas dari untuk ukuran wanita suaranya cenderung rendah, seksi? Ya! Memang kesan seksi yang kudengar. I-ini aneh! Su-suaranya tidak asing untukku. I-ini seperti suara se-seorang yang dulu kukenal.

"Be-benar. Maaf ini siapa?"

'Love...'

Tanganku yang lain terangkat mencoba meraih dinding samping yang tak cukup jauh. Dadaku bergemuruh kencang mendengar sapaan dari lawan bicaraku. Udara seperti enggan masuk ke sistem pernapasanku, sesak. Kepalaku serasa kehilangan otak untuk sekedar berfikir dengan jernih. Ke-kenyataan ini... Tak pernah ada sedikit keberanian da-dariku untuk me-mikirkan hal ini sebelumnya.

'Lo-love? I-ini a-aku...'

Ti-tidak! Ini salah! Tidak mungkin. Dia, di-dia...

"Yamanaka Ino."

Aku menangis lagi. Setelah sekian lama, aku menangis lagi.


Kulirik piring yang sudah kosong disampingku. Diantara mereka berempat, piring Naruto yang pertama kali habis. Kurasa dia benar-benar lapar. Wajar saja bukan? Mengingat mereka berjalan cukup jauh dari pantai yang biasa kukunjungi sampai ke telepon umum terdekat ditengah guyuran salju tengah malam.

"Naruto, kamu mau tambah? Biar kupesankan lagi."

"Bo-bolehkah?" tanyanya dengan mata berbinar-binar

"Tentu saja boleh. Sebentar kupesankan dulu."

Dia tersenyum lebar seperti anak kecil. Kakiku melangkah ke konter pemesanan restoran cepat saji ini. Sekalian saja kupesan menu bucket chicken dan beberapa tambahan nasi juga softdrink. Perjalanan jauh dan udara yang dingin pasti membuat mereka sangat lapar.

Kuletakan nampan dengan berbagai makanan yang kupesan tadi tepat didepan Naruto. Pemuda berambut pirang jabrik itu senang bukan main saat melihat kilapan minyak dari ayam goreng. Dia lebih kekanakan ketimbang Shikadai.

"Terimakasih Sakura-chan."

Kuletakan secangkir cokelat hangat tepat ke seseorang di depanku. Perlahan, kepalanya mendongak menatapku. Untuk kesekian kalinya dadaku bergemuruh kencang merasakan desiran aneh didalam tubuh ini. Sinar biru aquamarine miliknya kembali menusuk hatiku entah sudah berapa kali. Di-dia, tidak banyak berubah.

"Kau menyukainya bukan? Itu juga minuman favoritku."

Kukendalikan diriku kuat-kuat agar tak menerjang tubuh rampingnya. Surai pirangnya begitu menggodaku untuk menyentuhnya kembali.

"Ini enak. Aku menyukainya." ucapnya sesaat sebelum meminum segelas cokelat yang kuberikan tadi.

Seringai dari bibirnya yang pucat kembali menggoyahkan diriku. Ayolah Sakura! Masih ada waktu banyak! Kuatkan dirimu sebentar saja!

Segera kualihkan pandangan dari Ino. Jika terus-terusan menatapnya, bisa-bisa kuterjang tubuhnya, kukulum bibir seksinya, dan, dan... Bodoh! Apa yang kupikirkan!

"Hinata? Kau kedingingan? Maaf, aku tidak sempat pulang dulu, hanya itu yang sanggup kubawa."

Mataku tak buta bagaimana kesusahannya Hinata mengencangkan jaket woll milikku yang tebalnya tak seberapa itu ditubuhnya sendiri. Padahal kalau dipikir, dia juga sudah memakai mantel bagiannya Naruto. Mungkin karena berdiam diri cukup lama dibawah guyuran salju membuat keadaan tubuhnya mengigilan seperti ini.

"I-ini sudah dari cukup Sa-Sakura-chan. Terimakasih bany- Haccchoooooh!"

Untuk kesekian kalinya Hinata bersin. Membuat Naruto yang sedang makan meletakan ayam gorengnya dan memastikan keadaan Hinata.

"Kurasa besok kau harus ke rumah sakit Hinata." celetuk seseorang pemuda yang duduk di samping Ino.

"Benarkah? I-ini tidak mematikan kan Sakura? Hinata bisa selamat?" tanya Naruto sangat khawatir.

"Hinata terkena flu bodoh! Dia akan baik-baik saja."

Benar kan? Dia tidak berubah. Mulutnya masih kasar seperti yang dulu.

"Iya Naruto, nanti akan kuberikan obat penurun demam. Jangan khawatir."

Ucapanku dan beberapa orang lainnya nyatanya tidak melunturkan rasa khawatir Naruto ke Hinata. Dengan raut wajah cemas Naruto memeluk erat Hinata dan menggumamkan kata-kata yang hanya mampu didengar Hinata.

Andai aku berada diposisi Naruto sekarang, aku akan melakukan hal yang sama. Mendapatkan kesempatan kedua kalinya bersama orang disayangi itu anugerah terbesar. Apalagi setelah merasakan kehilangan yang membuat seluruh pondasi hidupmu hancur. Memikirkan hal semacam itu lagi membuatku bergidik ngeri. Untung saja aku bisa melewati masa-masa suram itu dulu.

Segera kualihkan pandanganku dari Naruto dan Hinata. Dan sialnya malah terjebak dimanik biru yang selalu menggoda nuraniku. Entah sejak dari kapan mata itu menatapku. Tatapan yang dalam dan penuh arti. Tapi entah kenapa, justru rasa sedih yang kurasakan dibalik pandangan mata indahnya.

Kuangkat kedua alisku sebagai kode bertanya.

Entah aku atau dia yang bodoh, dia malah melakukan hal sama yang baru saja kulakukan. Mengangkat alis tentu saja!

"Kenapa?" tanyaku pelan.

"Apanya?"

Pertanyaan dibalas pertanyaan. Kurasa bukan aku yang bodoh.

"Kau melihatku dengan tatapan aneh Ino."

"Benarkah?" tanyanya pelan.

Ada apa dengannya? Bukan! Tapi lebih apa yang sedang dipikirkannya? Memang menurutku tidak ada yang berubah dari Ino, tetap sama dengan Ino yang dulu. Hanya saja tatapan anehnya barusan baru kali ini kulihat, juga mimik wajah yang menyiratkan sendu.

"Ayolah Ino. Tell me..." tanyaku frustasi.

"Hanya saja..."

Hanya saja? Ya Tuhan! Tinggal katakan langsung kepadaku, kenapa harus meminum coklat hangatnya dulu sih!

"Coklat ini enak."

E-enak dia bilang? Apa dia bercanda haaaah?

"Inoo! Aku sung-"

"Guys, bisa kita pergi sekarang? Aku semakin khawatir dengan keadaan Hinata-chan."

Mau tidak mau kuurungkan mulutku untuk mengeluarkan kata-kata. Melihat keadaan Hinata sekarang sungguh kasihan. Wajah putihnya terlihat semakin pucat, bibirnya yang kecil menggigil kedinginan.


"Benarkaaah? Terimakasih banyak C. Maaf kalau merepotkanmu."

Yayaya. Tak perlu kujelaskan apa yang terjadi saat ini kan? Aku menelpon C untuk konfirmasi cuti kerja hari ini. Sebelumnya aku sudah menelpon Dokter Kepala, dan diluar dugaan, beliau senang bukan main saat kata 'cuti kerja' meluncur dari mulutku.

Dan, respon sama juga yang kudapat dari C.

"Diamlah! Jaga baik-baik pasien kita! Ah jangan lupa kontrol keadaan Genma-san setiap 2 jam sekali C!"

'Kau cerewet sekali Sakura! Tutuplah teleponnya! Semakin kau banyak bicara, semakin habis percuma waktu cutimu bodoh!'

"Baiklah! Kalau ada apa-apa, cepat telepon aku. Keep in touch with me al-"

"Sakura, kau... Oh."

Mulutku seketika tertutup rapat. Aku tak berani melanjutkan kata-kataku yang sempat terpenggal begitu saja. Mata birunya menatapku tajam sebelum meninggalkanku sendiri disini. Kurasa aku melakukan kesalahan.

Sejujurnya, aku tak tahu apa yang dikatakan C barusan. Pikiranku yang memang sudah penuh ini dipenuhi bayang-bayang ekspresi si blonde tadi. Kutarik ucapanku yang bilang dia tak banyak berubah! Salah! Dia sangat berubah. Maksutku, dia yang dulu begitu agresif, percaya diri, dan tak tahu malu. Sekarang? Entahlah.

Bergegas ku tinggalkan ponselku begitu saja di meja kabinet dapur. Keluar mencari dimana Ino sekarang berada dengan membawa dua gelas coklat hangat yang tadi sudah kubuat.

Surai pirang panjangnya berayun pelan selaras arah angin pagi berhembus. Bahunya yang kecil bergerak naik turun meresapi dinginnya udara saat ini. Mataku tak buta melihat bagaimana behunya sesekali bergetar merasakan dingin yang menusuk ini, walaupun sudah tertutupi dengan selimut yang cukup tebal. Bodoh! Salah dia juga, berdiri di balkon lantai 27 saat pagi hari dimusim dingin, ya walaupun sudah termasuk akhir musim dingin.

"Hei." sapaku pelan.

Kusodorkan segelas coklat hangat yang memang kubuatkan untuk Ino. Dan hampir saja aku tak bisa mendengar ucapan terimakasihnya yang begitu lirih. Bahkan dia sama sekali tidak melihatku, jangankan melihat, melirik saja tidak.

Ino hanya diam memandang lurus entah kemana. Bangunan apartment di depan kami? Kau gila? Memang terlihat arsistik dan modern, tapi apakah itu terlihat menarik daripada aku? Aku haah! Kekasihnya tersayang. Kekasih yaa? Fuck! Aku tak pernah berfikir sebelumnya tentang hal ini. Maksudku, apa Ino masih menganggapku kekasih? Sifatnya dari pertana kali bertemu sampai sekarang begitu dingin dan enggan berdekatan denganku.

"Ino..."

"Sakura..."

Dengan cepat kututup mulutku rapat-rapat. Aku tak pernah membayangkan bisa sebegini gugupnya untuk ngobrol dengan Ino.

"Hn, you first Sakura."

Dia tidak memanggilku Love lagi.

"Kamu duluan Ino."

"Nope, ladies first."

Padahal Ino juga termasuk ladies kan?

"But woman on the top Ino!"

Dengan cepat Ino memandangku dengan alis mata yang hampir menyatu.

"Pffffft. Hahahahhaha!"

Entah siapa dulu yang memulai. Aku dan dia tertawa begitu bebasnya tanpa mempedulikan waktu saat ini. Melihat suara tawanya membuat seluruh darah ditubuhku berdesir. Mata birunya yang biasanya menatap tajam, kali ini menyipit imut.

"Hahaha! Dari mana kamu menadapatkan kosa kata nakal seperti itu Sakura?"

"Dari C, Ino. Orang yang kutelepon tadi."

Tawa renyah Ino yang beberapa saat lalu ku lihat hilang begitu saja. Ahh! Mulut sialan! Kenapa kau menghancurkan moment langka yang tak pernah kulihat sebelumnya? Brengsek!

"Ohh. Benarahkah?" tanyanya pelan.

"Dia temanku Ino, cuma rekan kerjaku."

"Ohhh..."

Ino kembali memandangku dengan matanya yang sendu.

"Kukira dia kekasihmu."

"Bukankah... bu-bukankah aku masih milikmu?" tanyaku ragu.

Wajar saja aku ragu, perlakukannya kepada akhir-akhir ini sungguh berbeda dari yang dulu. Memang aku masih merasakan kecemburuannya saat aku berbicara soal C atau lainnya. Hanya saja, aku masih bingung dengan hubunganku dengan Ino saat ini.

"Kau masih memikirkan hal itu? Aku kira tidak lagi. Aku kira kau sudah punya yang lainnya." ucapnya sangat lirih.

"Bodoh! Tentu saja masih bodoh! Kenapa hal konyol semacam itu bisa terlintas di otakmu?" jawabku jengkel.

"Well, aku membayangkan pertemuan pertama kita kembali, tadi malam, kau akan memelukku, menciumku atau apapun yang romantis."

"Kau... Kenapa kau bodoh sekali brengsek! Bagaimana mungkin aku menciummu membabi buta saat kutahu kau mengigilan seperti itu? Bodoh!"

Kutengguk coklat hangatku dengan cepat. Mendengar apa yang dikatakannya barusan membuat perasaanku campur aduķ ya jengkel, marah, sedih juga.

"Tak tahukah kamu betapa aku ingin menyentuhmu lagi? Seperti yang dulu." ucapku pelan.

Pandanganku kabur. Air mata menggenang dibola mataku.

Tangan Ino berada di pipiku. Dingin, tapi sangat nyaman kurasakan. Aku tak berani memandangnya, takut semakin jatuh ke dalam mata biru yang begitu memabukan. Tak pernah sedetikpun aku berani membayangkan hal seperti ini lagi, disentuhnya dengan lembut, ditatapnya sendu.

"I love you."

Kuberanikan mataku memandangnya lagi. Melihat genangan air mata dimatanya yang indah membuat darahku berdesir, gemuruh didadaku semakin tak karuan saat Ino semakin menciutkan jarak diantara kami. Dahi kami bersentuhan. Dapat kurasakan hangat nafasnya menerpa kulit wajahku.

"Kau selalu menjadi semestaku Sakura, dulu, sekarang, dan selamanya."

Dadaku bergejolak hebat. Jantungku berdetak tak terkendali lagi. Tak ada apapun yang mampu kulihat kecuali wajah ayu sempurna serta bola mata biru yang berkaca-kaca. Kuseka setetes air yang jatuh dari mata biru Ino. Perasaan campur aduk bersarang dihatiku, yang jelas itu sesuatu yang bagus.

Tanpa berkata lagi, kutempelkan bibirku ke milik Ino yang kemerahan. Hanya sekedar menempel. Ya Tuhan, rasanya sungguh hebat. Maksudku, aku tak pernah menyangka, mengecup bibir seseorang rasanya akan seluarbiasa ini.

Kulepas koneksi dibibir kami. Memandang wajah sempurna dari seseorang didepanku membuat darahku memanas. Kurengkuh Ino dalam pelukanku. Berbagi kehangatan didinginnya udara pagi ini. Kubelai rambut pirang panjangnya. Ya Tuhan, i-ini seperti mimpi! Menyentuh surai pirangnya lagi merupakan keinginan terbesarku selama ini.

Ino semakin mngeratkan pelukannya ditubuhku.

"Ino, tubuhmu... hangat."

Kutenggelamkan wajahku ditengkuknya yang hangat.

"Bukankah aku sudah bilang Love? Aku manusia sekarang. Biasakanlah." jawabnya terkekeh.

"Kau benar."


Ini kejadian yang sangat langka. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali bisa pulang setepat waktu ini. Tidak tidak! Aku bukan tipe seperti itu! Pulang meninggalkan pekerjaan yang menumpuk? No way! Aku sudah membereskan pekerjaanku sebelum pulang, seperti laporan kemajuan para pasienku.

Tanpa kesulitan kutekan dial number password apartment milikku. Suara dingdong menyambut kedatanganku.

"Aku pulang."

Blessing? Tentu saja! Aku merasa terberkati. Tak pernah aku membayangkan mengucapkan dua kata itu untuk pulang ke rumahku sendiri.

Kakiku melangkah masuk menyusuri lantai marmer maroon rumahku dan berhenti tepat di ruang tengah tempat kami biasanya kumpul. Menatap 2 orang dengan wajah putih pucat berdiskusi entah apa aku tak tahu.

"Oii! Pizza!" teriakku kekanakan.

Kuambil sepotong kecil pizza dan memakannya dengan antusias tanpa mencopot blazer navy yang sejak tadi kupakai.

"Kamu sudah pulang?" tanya Ino singkat setelah melihatku.

"Hmm." aku hanya berdehem saja menanggapi pertanyaan Ino.

Dengan tenang kumakan sepotong pizza yang ada dimeja. Kunyamankan dudukku di arm sofa tempat Ino duduk, melihat dua orang yang masih sibuk membaca dokumen yang berserakan dimeja. Karena penasaran kulirik sebentar apa yang dibaca Ino.

"Uhuuk uhuuuuk!"

Kuterima sodoran gelas dari Ino.

"Are you okay?" tanya Ino khawatir.

"I-ini benar?"

Kataku sambil menunjuk-menunjuk tulisan disalah satu kertas ini.

"Oh God..."

Kupijat pelipisku pelan. A-aku tahu mereka pasti kaya, tapi aku tak pernah berfikiran Sai sebagai pemilik perusahaan manufaktur merk mobil yang selalu kupakai. Dan Ino? Haah! Jika aku tahu dia pemilik perusahaan jaringan hotel dan resort yang luar biasa terkenal ini, aku pasti akan minta paket berlibur paling mahal dan gratis tentu saja.

"Sakura, kamu seperti orang tua saja." celetuk Sai.

"Aku tak pernah menyangka jika kalian sekaya ini." jawabku dengan menunjuk surat-surat dimeja.

"Ck! Ini belum seberapa Sakura, masih banyak yang lainnya. Mau kuberitahu?"

"Stop! Jangan bicara lagi Sai! Kau membuatku semakin pusing."

Kuletakan kembali potongan pizza yang tadi kumakan.

"Terserah kalian mau punya apa aja, yang penting jangan rumah sakit tempatku bekerja! Pokoknya jangan pernah!"

"Kenapa memang?" tanya Ino sambil melihatku.

Kukira dia hanya sibuk dengan dokumennya.

"Rasanya aneh saja, jika kalian itu bossku. Arrgh! Membayangkannya sudah membuatku merinding."

Aku beranjak pergi, ingin mandi, gerah sekali rasanya.

"Oi Sakura, pinjam mobilmu sebentar boleh? Aku ada janji."

Sudah kuduga, soalnya Sai memakai setelan jas yang baru dia beli kemarin.

"Kamu kan punya perusahaan mobil Saiii."

"Iya, tapi belum bisa menentukan mau ambil mobil yang mana. Bingung, terlalu banyak."

Aku hanya memincingkan mata mendengar jawaban Sai barusan. Sudah mulai sombong dia.

"Cepat dimana kuncinya?" tanya Sai sambil berdiri dari sofa.

"Itu." jawabku sambil menunjuk ke arah meja disamping rak buku.

Aku hanya berdehem menanggapi pamitnya Sai barusan. Dan tak lupa untuk mengingatkannya berhati-hati dijalan. Detik berikutnya kudengar suara dingdong pintu apartmentku.

Mandi! Kata pertama yang muncul diotakku saat ini. Kucium puncak kepala Ino cepat dan bergegas kuletakan coat dan tasku di kamar tidurku. Melepas seluruh pakaian yang kupakai dan menggantinya dengan selembar handuk berwarna putih. Terlalu seksi? Biar saja! Toh di apartment ini hanya ada aku dan Ino saja kan?

Kupejamkan mataku saat air memancur ke wajahku. Hangat dan menenangkan. Kubasuh rambut kepalaku untuk menghilangkan busa-busa shampo yang ada disana. Menggosok seluruh bagian tubuhku yang bisa kujangkau. Membiarkan air mengalir membasahi seluruh tubuhku.

"Love..."

"Shiitt! Inoo! Kau mengagetkanku!"

Refleks kututup tubuhku yang polos dengan gorden kamar mandi ini. Sebetulnya ini salahku juga sih, aku lupa mengunci pintu kamar mandi ditambah tidak menutup gorden area shower juga. Yasudah dipastikan Ino melihat tubuhku polos. Malu sih, tapi biar sajalah. Toh dulu juga pernah lihat juga.

Kupukul pelan lengan Ino dengan tangan kiriku. Dan jangan tanya responnya, dia hanya diam saja memandangku aneh. Si-siaal! Apa ada sesuatu yang aneh di wajahku?

"Heei! Ke-kenapa diam saja?"

"I am... You're just beautiful."

Heck! Jangan tanya tampangku seperti apa! Sebisa mungkin tekan aliran darahku agar tidak meninggalkan rona merah dipipiku, walaupun itu jelas tidak mungkin.

Dengan tenang Ino membuka gorden yang menutup tubuh telanjangku. Aku yang sudah tenggelam dibola mata birunya pasrah saja dengan apa yang Ino perbuat kali ini.

"I-ino..."

Debaran dijantung semakin tak karuan saat si pirang di depanku memajukan langkahnya, menghimpitku dengan tubuhnya yang menggoda dan dinding kamar mandi yang keras. Innerku berteriak kencang saat kurasakan hangat nafasnya menerpa kulit leherku. Dan bisa kujamin, bulu kudukku berdiri dibuatnya.

"Eenggghhh..."

Seberapa kuat bibirku merapat tetap saja tak bisa membuat erangan tidak keluar dari mulutku. Apalagi saat leherku dikecup dan diciumi Ino menggoda. Tangan kananku sudah tidak berada didadaku lagi, gantian mencengkeram blouse hitam yang dipakainya. Diam dan menikmati segala perlakuannya saat ini.

"Is it okay?"

Brengseeek! Kenapa suara begitu seksii?

"A-apa ma-maksudmu?"

"You know what I mean."

Jangan tanyakan apa yang selanjutnya terjadi. Aku mengangguk menjawab pertanyaannya. Ino menciumku, membopong tubuhku dengan kedua tangannya, aku mengeratkan tanganku kelehernya, dan dia membawaku ke kamar. Untung apartmentku sedang sepi.


Kepalaku seaakan mau meledak! Rona merah dipipiku kupastikan tidak menghilang dengan mudah. Bayangan erotisme berputar berulang-belung dibenakku. Semuanya tampak begitu jelas. Bagaimana Ino melumat bibirku pelan, mengecup leherku menggoda, ba-bagaimana lihainya tangan Ino meremas dadaku, dan... dan, sa-saat lidahnya be-berada di kli-kli... Aaarghhh! Ya Tuhaaan! Semua ini membuatku gila!

Ketepuk-tepuk pipiku dengan pelan, berharap agar rona merah ini segera menghilang sekarang juga! Bodoh memang! Tapi biar sajalah, daripada aku harus jadi bulan-bulannya si C? Tidak tidak!

"Sakura, ada apa denganmu? Apa kamu sakit?"

"Ti-tidak Hinata, a-aku ba-baik-baik saja. Hanya kepanasan saja! Yaa kepanasan!"

Hinata hanya ber oh saja mendengar penjelasanku. Pakaiannya masih sama saat tadi pagi meninggalkan apartmentku, blouse putih dengan Double Pleat, celana kulot panjang hitam dengan flare dibawahnya dan tak lupa Stiletto berwarna Beige.

"Hinata, apa yang kamu lakukan disini? Apa jangan-jangan kamu demam lagi?"

Reflex kupegang dahinya, suhu tubuh Hinata normal kok.

"Aku baik-baik saja Sakura-chan." jawab Hinata sambil tersenyum.

"Lalu?"

"Aku tadi bertemu Direktur rumah sakit ini, ada urusan bisnis."

Aku hanya menganggukan kepalaku saja. Sedikit banyak aku mulai paham dengan kehidupan para mantan vampir ini, disamping kehidupan monsternya, mereka juga punya kekayaan dan bisnis yang jumlahnya tak bisa dihitung. Ya maklum saja, mereka sudah hidup ratusan tahun, wajar bukan kalau hartanya banyak?

"Apa Ino tidak memberitahumu soal kedatanganku?"

Perasaanku mulai tak enak.

"Tidak Hinata. Tapi, apa hubungan kedatanganmu dengan Ino?" tanyaku dengan wajah try to play it cool.

"Rumah sakit ini milik Ino, Sakura."

Benar kaaaaaaan!

"Ino tidak memberitahumu? Mungkin dia lupa."

Aku hanya tersenyum mendengar penjelasan Hinata. Kubalas pelukannya saat dia pamit tadi. Bukannya aku marah atau apa, tapi jengkel saja rasanya, bukan Ino yang memberitahu soal hal ini malah Hinata. Yasalahku juga sih, aku bilang soal tidak mau jika dia juga punya rumah sakit ini. Wajar jika Ino sampai tidak memberitahuku.

Aku terdengar bijak? Hei usiaku sudah 30an, aku sudah dewasa, wajar jika aku harus bersikap bijak kan?

Setelah Hinata pergi, aku bergegas keluar. Tadi Ino sudah menelponku kalau dia menungguku di taman depan rumah sakit ini.

Cuaca hari ini cukup bersahabat. Sinar matahari sore menerpa jalanan yang ada di depanku. Memang salju masih menggunung ditanah, tapi samar kulihat daun-daun bunga Sakura sudah mulai tumbuh juga. Bunga Sakura tahun ini rupanya muncul lebih awal.

Tak sulit menemukan Ino, rambutnya yang pirang sangat mencolok diantara beberapa orang yang sedang duduk-duduk di taman ini.

"Heii Lov-"

"Rumah sakit ini juga milikmu kan?" tanyaku to the point bahkan tanpa menjawab sapanya.

"Err, bagaimana kamu bisa tahu?"

Ino berdiri tepat di depanku. Dia terlihat sangat cantik sekali saat memakai coat warna hitam dan syal rajut yang kupilihkan saat belanja kemarin.

Hitam memang cocok dengan warna kulit dan rambutnya.

"Kenapa pas kemarin kamu tidak jujur hn?"

Ino melingkarkan kedua tangannya kepinggangku.

"Kamu kemarin kan bilangnya 'pokoknya jangan rumah sakitku', makanya aku tidak jujur dulu." ucapnya sambil tersenyum

Ya Tuhan! Pacar siapa ini kok cute banget!

Aku hanya berdecih tanpa menjawab.

"Jangan marah yaa." kata Ino sambil menyentuhkan hidungnya di milikku.

Mana mungkin aku marah Tuhan? Sudah imut, cantik, ka-ya juga.

Kucubit pipinya gemas.

"Mana mungkin aku marah kepadamu hn?"

Ino memajukan wajahnya, mengecup bibirku lembut, sangat lembut.

Ino semakin merapatkan tubuh rampingnya ke tubuhku, aku bahkan bisa merasakan hangat nafasnya menerpa wajahku. Bibirnya tertarik keatas, geli dengan perkataanku barusan.

"Setidaknya kamu tidak punya pabrik mobil, jika iya mungkin kamu dan Sai akan bersaing ketat." candaku sambil terkekeh.

"Aah! Kalau perusahaan manufaktur mobil aku tidak punya. Kalau pesawat ada, tapi di German. Besok kapan-kapan aku ajak kesana pas aku ada meeting. Atau sekalian mau kubuatkan pesawat dengan foto wajahmu disisi-sisinya?"

God! Please stop. Membayangkan ada pesawat dengan gambarku pasti akan nampak sangat mengerikan.

"Kenapa wajahmu seperti itu? Apa karna aku tak punya perusaan mobil hm?"

"Heeh kamu! Aku tidak sematre itu bodoh!"

"Lalu kenapa ekspresimu seperti itu?"

Ino memincingkan matanya.

"Seperti apa?"

"Babi ketakutan?" jawabnya sambil terkekeh.

"Ino!"

Aku cubit perut rata Ino. Tidak terlalu keras, tapi cukup membuatnya berhenti tertawa. Aku juga tak ingin menyakiti kekasihku sendiri kali. Kan sayang...

"Sakiit Love. Iya iyaa maaf Love, bercanda kok."

Ino dengan raut wajah yang dibuat takut-takut berhenti tertawa. Dipandangi seperti ini semakin membuatku lebih gugup lagi. Duh!

"Aku hanya takut Ino."

"Takut kenapa Love, aku tidak mungkin selingkuh kok. Sumpah!"

Dia semakin kesini kok semakin menyabalkan banget sih! Tapi aku suka.

"Percaya diri sekali kamu Nona. Bukan itu!"

"Lalu?"

"Aku takut kamu menyuruhku berhenti jadi dokter. Ma-maksudku, aku, a-aaku... kamu tahulah i-ini duniaku, aku jatuh cinta dengan duniaku yang sekarang, ja-jadi..."

CUP

"I got it. I really really got it. Apapun itu, selama itu baik untuk kamu dan aku, selama kita tetap jadi kita yang sekarang, aku pasti mendukung hal itu."

Kurengkuh tubuhnya dalam pelukanku. Bersyukur kepada Tuhan telah mengembalikannya untukku. Bersyukur karena Tuhan memberikanku kesempatan kedua untuk memeluk tubuh ini dalam kehangatan. Aku tak pernah berhenti bersyukur mendapatkan kembali hal yang paling kudambakan, Ino.

"Ah ya! Yang tadi bagian selingkuhnya juga benar! Kamu, jangan berani-berani selingkuh! Jangan lirik-lirik cowok atau cewek lain! Jangan makan bareng mereka! Jangan mau diajak jalan sendiri bareng mereka! Jangan cha-"

"Yasudah yasudah kalau gitu besok kita menikah saja."

Refleks kulepas pelukanku ditubuhnya. Wajah Ino semakin lucu lagi saat di menggerak-gerakan alisnya naik turun. Tak lupa menyunggingkan senyum jenaka yang selalu melelehkan hatiku.

"Ino! Lamaran macam apa itu? Tidak-tidak! Lakukan lagi nanti."

"Dirumah? Di kamar?" ucapnya sambil tersenyum mesum.

"Ide menarik."

"Ayo pulang!"

Tanganku dan Ino bergandengan erat, menautkan jari-jemariku yang memang tercipta untuk mengisi ruang disela jari-jemari Ino.

'Ayah, aku baik-baik saja di sini. Aku sudah menemukan bagian diriku yang hilang. Aku bahagia dengan yang kumiliki saat ini. Aku harap Ayah bahagia di surga sana. Terimakasih atas segalanya yang telah Ayah berikan untuuku. Aku menyayangimu Ayah.'

THE END

Cuap cuapnya saya:

Ada yang masih ingat fic ini?

Setelah berabad-abad fyuuuh! akhirnya selesai jugaaaa. Makasih banget dari anda-anda semua yang setia menunggu (kalo ada) kemunculan saya lagi.

Ada yang bingung kenapa Ino dkk bisa hidup lagi? *Saya mbak bingung* Authornya juga. Hiks.

Punya niat bikin tambahan chapter side storynya mereka sih. Tapi belum tahu mau di publish atau enggak. Yang penting punya niat dulu yaak.

Berarti kurang Girl Crushnya aja yaa... Hn...