Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
Dan di sini author akan membuat segalanya terlalu berlebihan, hehehe,
.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
[Crown for the Queen ]
~ Chapter 15 ~
.
.
Itachi Pov.
"Dengan ini, kami mengangkat pangeran pertama, putra mahkota dari mendiang Yang mulia raja Fugaku dan ratu Mikoto menjadi raja berikutnya."
Hari itu adalah penobatanku sebagai seorang raja, aku tidak percaya akan menjadi seorang raja setelah ayah wafat, saat itu aku terlalu muda itu mengatasi segalanya, aku bahkan tidak mengetahui bagaimana watak setiap orang yang bekerja di belakangku, bagaimana sikap asli mereka, apa yang mereka harapkan dariku yang jauh lebih muda dari mereka.
Hingga aku bertemu dengan seorang bangsawan bergelar Duke. Kisame, dia sudah bekerja pada ayah cukup lama dan menjadi seorang penasehat di istana, pria yang terlihat cukup menakutkan ini bukan hanya karena penampilannya, ayah sengaja memberi kepercayaan penuh terhadapnya, dia yang mendampingiku di saat orang-orang mulai mengharapkan aku jatuh dan memberi dampak buruk pada kerajaan ini.
Selain itu, seorang knight terbaik ayah yang akhirnya tunduk padaku, bukan hal mudah menundukkan Hidan, dia adalah kesatria dengan tipe bebas tanpa ingin tunduk, keahliannya dalam bertarung adalah hal yang luar biasa, kekuatakan kami ternyata sama dan dia salut padaku yang lebih muda darinya, di hari itu pun dia mengakuiku dan akan mengikutiku kemana pun aku pergi.
Orang-orang jadi penasaran, bagaimana aku bisa menaklukan kesatria yang hebat itu? Mereka bahkan tidak tahu aku melalui masa-masaku sebagai pangeran sejak aku mulai berumur 10 tahun, aku harus belajar pedang dari berbagai knight yang ahli, aku harus belajar banyak pengetahuan dari berbagai guru yang jenius, rasanya aku ingin mati saja saat itu.
"Ayah percaya padamu."
Itu adalah ucapan ayah yang terus aku ingat, dia menaruh harapan besar padaku, menatap satu-satunya saudara yang aku punya, Uchiha Sasuke, seorang pangeran kedua, ayah ingin aku bisa menuntun pangeran Sasuke, ayah merasa jika pangeran Sasuke mulai memperlihatkan sikap berbedanya saat masih berumur 5 tahun, umurnya sangat-sangat muda, tapi sikapnya seperti orang dewasa.
Ada sebuah lukisan wajah yang di pajang di ruangan gelari, itu adalah raja pertama yang mendirikan kerajaan Uchiha, ayah tidak ingin pangeran Sasuke menjadi seperti dia, selain aku, ayah juga mempersiapkan pangeran Sasuke sebagai raja cadangan, dia juga akan menjadi sepertiku, tapi sikapnya terlihat hampir menyerupai raja Madara, lukisan ini sengaja di pajang dan sebuah pemberitahuan agar tidak mengikuti jejak raja Madara, kerajaan ini akan hancur begitu saja.
Aku jadi belajar pada kakek buyut, dia yang berkuasa setelah raja Madara, kerajaan ini cukup luas dan aku harus mengatasi banyak masalah, beberapa orang masih terus bekerja padaku, mereka tidak memandang aku sebagai seorang pangeran muda, tapi sebagai raja yang akan menentukan masa depan kerajaan ini.
Di hari penyergapan sebuah kapal budak, mereka sengaja mengatas namakan kapal budak, padahal selain budak yang di bawa, ada begitu banyak bahan ilegal yang mereka bawa, kapal budak itu hanya sebagai alibi, aku tiba-tiba datang ke sana untuk mengawasi setiap budak, aku hanya meminta mereka kembali ke tempat mereka semula dan jangan mengganggu ketentraman di kerajaan ini, aku sudah harus memulai untuk menghentikan tindakan penjualan manusia sebagai budak di negeriku ini.
Dari sekian banyak budak yang ada, aku melihat seseorang yang sangat familiar, ini sesuatu yang tanpa di sengaja, rambut itu tidak mungkin turun dari orang lain, dan ciri khas mereka hanya berada di kerajaan selatan, jika benar dia adalah gadis kecil itu, aku tidak akan salah.
"Putri Sakura." Panggilku.
Langkah wanita itu terhenti dan menoleh ke arahku, tatapan itu, dia terlihat sangat-sangat lelah, pipinya terlihat sangat tirus, apa yang terjadi padanya?
Wanita itu berjalan perlahan ke arahku, tangannya yang terlihat ramping dan dia benar-benar tidak terurus, pakaian lusuh dan wajah yang sangat kotor.
"Pa-pangeran Itachi?" Ucapnya. Dia tidak tahu jika aku sudah naik takhta menjadi seorang raja.
"Apa kau benar putri Sakura?" Tanyaku sekali lagi.
Wanita itu menangis dan mengangguku. "Tolong saya pangeran, tolong saya." Ucapnya dan terus menangis di hadapanku.
Aku tidak mengerti bagaimana seorang putri mahkota menjadi budak seperti ini, putri dengan kerajaan yang memiliki hasil pangan yang melimpah dan kerajaan yang makmur.
"Aku akan menolongmu, ikut aku putri." Ucapku.
Sepanjang perjalanan putri Sakura hanya menangis dan berterima kasih padaku, keadaannya sungguh memprihatinkan, aku merasa sangat kasihan padanya.
Membawanya ke istana dan meminta para pelayan membersihkan putri Sakura dan memberinya pakaian yang bersih, memberinya makan yang cukup dan aku ingin mendengar seluruh penjelasannya, dia tidak mungkin menjadi budak begitu saja.
"Sa-saya tidak percaya jika pangeran Itachi telah menjadi raja, maaf atas kelancangan saya." Ucapnya, wanita yang tidak berubah, sejak kecil dia di ajarkan sopan santun oleh banyak guru yang di bawa masuk ke istana oleh ayahnya, raja Kizashi.
"Apa yang terjadi padamu, putri?"
"Saya di kurung di tahanan bawah tanah dalam waktu yang cukup lama, ayah, maksud saya Yang mulia raja tidak peduli lagi pada saya, tiba-tiba ada yang membawa saya keluar dari istana dan menutup mata saya, setelahnya, saya berkumpul dengan orang-orang yang akan di jual. Jika saja-" Ucapannya tertahan dan air matanya kembali menetes. "Ji-jika saja Yang mulia raja tidak melihat saya, mungkin saya sudah di jual dan menjadi budak." Lanjutnya.
Hal buruk telah menimpah sang putri mahkota, dia berakhir seperti ini, sepanjang yang aku ingat saat menemuinya pertama kali di kerajaan Haruno, dia gadis yang pandai, ayahnya terus menyanjungnya sebagai putri terhebat, dia adalah satu-satunya penerus sah kerajaan Haruno, anak dari ratu Mebuki, sedangkan saudara lainnya hanya seorang anak selir, kemungkinan mereka akan naik takhta akan sedikit sulit, aku memikirkan jika mereka sengaja menyingkirkan sang putri mahkota.
"Aku mendengar kabar yang kurang mengenakkan hingga kerjasama antar kerajaan kita terputus." Ucapku.
"Uhm, ayah berpikir karena kedatangan orang-orang dari kerajaan Uchiha membuat ibu tertular, ibu sempat mendapat perawatan tapi anehnya sakitnya semakin parah dan ibu pergi begitu saja, tidak ada lagi yang akan berada disisiku dan mendukungku, semua saudara dan para selir ayah tidak peduli padaku." Ucapnya dan tatapan itu terlihat sedih.
Kami berada di posisi yang sama, saat ibu kami juga pergi karena sakit, namun aku masih memiliki orang-orang ayah dan juga pangeran Sasuke.
Aku mengerti sekarang.
"Aku akan membantumu putri, sebagai tanggung jawab kerajaan Uchiha karena membawa wabah penyakit ke negara kalian, kau bisa tinggal disini sementara waktu, di samping itu, aku akan berusaha mencari informasi terbaru dari kerajaan Haruno dan apa yang sedang terjadi disana."
"Terima kasih Yang mulia raja, kau begitu berhati mulia dan bijaksana, kita bahkan hanya bertemu beberapa kali saat Yang mulia berada di istana Haruno."
"Tidak perlu berterima kasih, tapi jika mungkin ada yang berniat menghabisi putri mahkota, kita harus menutupi identitas pribadimu, gunakanlah nama Sumire dan jangan sampai ada yang tahu apapun tentang latar belakanganmu, tunggulah sampai semua rencana tersusun baik." Ucapku, sebagai sebuah saran agar dia bisa kembali ke istananya dan mengambil haknya.
Jika saja putri mahkota di buang dari kerajaannya, mungkin masih ada yang mengincarnya, selama putri mahkota masih hidup, kedudukan raja Kizashi masih bisa menjadi miliknya, walaupun ada anak laki-laki yang berasal dari para selir, kedudukan mereka tidaklah lebih tinggi dari seorang putri mahkota.
"Bagaimana dengan pangeran kedua?" Tanyanya, pangeran kedua, pangeran Sasuke.
"Ada hal buruk terjadi padanya, mungkin dia tidak akan mengingatmu lagi putri." Ucapku.
Dulunya ada yang berusaha menghasut pangeran Sasuke, aku tidak tahu siapa orang yang sangat berani melakukan ini pada adikku, kami hampir bertengkar satu sama lain, dari pertengkaran itu, pangeran Sasuke mengalami masa-masa yang buruk, dia harus di kurung untuk waktu yang lama, mungkin karena masih labil dalam berpikir, dia akan mudah mendengar hasutan orang, ayah juga takut jika dia mewarisi sikap raja Madara, bagaimana pun juga, raja Madara termasuk dalam susunan keluarga kami.
Selama masa kurungannya itu, hal lain terjadi padanya, dia meminta maaf padaku, dia mengatakan akan melakukan apapun untukku, dia terus meminta maaf, hingga sekarang, sikap pangeran Sasuke menjadi tidak peduli untuk orang sekitarnya, dia membangun kepribadian yang baru untuk sendirinya dan lebih menutup dirinya.
Aku senang akan perubahannya itu, dia bisa lebih dewasa lagi, hanya saja, dia sengaja memaksa dirinya untuk melupakan segala hal, apalagi saat itu kematian ibu sangat mempengaruhinya.
"Mungkin dia sudah melupakan apapun, maaf putri mahkota, ucapan yang ayah ku katakan saat itu, akan sulit terealisasikan." Ucapku.
"Ti-tidak apa-apa Yang mulia, saya tidak bermaksud menanyakan pangeran kedua untuk menepati janji Yang mulia raja Fugaku, saya hanya menanyakan apa dia baik-baik saja? Saya pikir kami juga tidak memiliki keakraban saat pertemuan pertama kami." Ucapnya.
"Kenapa? Aku pikir pangeran Sasuke senang bertemu dengan putri Sakura."
"Dia sangat membenciku saat itu Yang mulia, di saat itu dia masih mendengar orang-orang, seluruh saudaraku berbohong mengatakan saya anak pelayan, ayah tidak bersamaku, aku sudah berusaha membela diri, semakin saya membela diri, semakin tatapan pangeran Sasuke terlihat marah. Mungkin kami memang tidak cocok, jadi ucapan Yang mulia raja Fugaku, saya anggap tidak pernah di katakannya." Ucapnya.
Ini tidak baik, aku sudah berharap jika pangeran Sasuke akan bersama dengan putri Sakura, dua kerajaan hebat akan bersatu dan hal ini sangat menguntungkan, tapi mendengar ucapan putri Sakura, mereka mungkin akan sulit bersatu.
Dan hal itu terbukti.
Tentang kabar aku membawa putri Sakura menjadi rumor buruk untukku, mereka terus beranggapan jika aku akan menjadikannya seorang ratu, hal ini membuat pangeran Sasuke sangat marah, dia tidak mendengarkanku dengan baik, tapi aku juga tidak bisa menjelaskan segalanya lebih rinci, untuk sementara, aku mencoba menolong putri Sakura dan menyembunyikannya untuk sementara waktu.
Beberapa kali pangeran Sasuke protes padaku, dia tidak suka dengan putri Sakura yang menetap di istana dan menjadi bahan cibiran para bangsawan, aku akan menanggapinya dengan santai dan tidak perlu mendengarkan mereka.
Aku harap pangeran tidak punya niat buruk lain untuk mengusir putri Sakura, kami cukup berutang pada kerajaannya dan tumbuhan yang kami bawa dari kerajaannya.
Hingga saat rencana ini selesai, aku akan tetap diam dan semoga putri Sakura tetap menahan dirinya untuk tidak mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya.
.
.
TBC
.
.
updatee...
di chapter ini mengambil sudut pandang raja Itachi, keadaan putri Sakura atau nona SUmire masih simpang siur, nanti di buat flashbacnknya, nanti, sabar yaa. =w= kisah ini akan cukup panjang dan semoga tidak membosan.'
