Hm, mau ngomong apa ya.

Well, halo, ini Chocochino! Setelah update terakhir, yakni 6 tahun lalu ... (drumroll intensifies) akhirnya saya kembali!

Lho, kok bisa? Nah itu dia. Aku juga enggak tahu mengapa bisa kembali pada fanfic ini. Apa karena saya kangen? Apa karena terlalu lama menulis dalam bahasa Inggris terus? Mungkin ya.

Namun suatu hari aku melihat tanggalan, oh shoot sudah 2020! Akhir bulan ini, aku merayakan perayaan 10 tahun aku punya cita-cita sebagai seorang penulis. Karya yang kamu buat dalam 10 tahun ini apa saja? Um, fanfic? Dan lebih banyak fanfic? Sekalipun frekuensinya juga sudah sangat berkurang akibat kuliah dan kerja :( Oh, dan sebuah visual novel! Iya, aku pernah membuat visual novel ... akibat tugas kuliah. Panjangnya 40k, bahasa Inggris, jadi hampir setebal SPiCa juga! Uwaw, kerennya diriku waktu itu, asal ada motivasinya!

Ehem. Sudah cukup.

Mari kembali pada SPiCa dan jarak 6 tahun sejak update terakhir ini. Apa saja yang terjadi?

Well, aku lulus SMA. Nilainya cukup bagus untuk seorang siswa yang kerjaannya bukan belajar demi persiapan UN, malah terjebak dengan paper agama dan filsafat. Aku masih ingat jelas topiknya: cryonics. Apakah orang-orang yang otaknya dibekukan agar bisa dihidupkan kembali saat sains sudah siap mewujudkannya ... benar-benar hidup? Jawabannya menurut Kekristenan, tidak.

Dari situ, aku mulai meragukan tulisanku sendiri. Apa menghidupkan manusia dari potongan kode itu masuk akal? Bagaimana dengan akhir kisah Alyss dan Alde yang kutulis? Sejak saat itu, SPiCa beserta revisinya kutinggalkan pelan-pelan, namun premisnya selalu ada di otak. Cyberpunk wonderland. Menghantui pikiranku selama 7 tahun, sampai hari ini.

Dan seperti akhir yang kalian baca barusan, kuputuskan untuk tetap menghidupkan Alyss dan Alde, karena bukankah kalian pantas mendapatkan akhir hidup bahagia selama-lamanya? Ya, untuk fanfic ini, kita semua pantas. Namun kalau aku benar-benar menjadikan kisah ini sebagai novel sungguhan, sepertinya aku tidak bisa menjadikan mereka manusia sungguhan, karena dari awal, mereka bukan makhluk hidup. Jadi beruntunglah kalian yang bisa melihat Alyss dan Alde hidup di dunia nyata! Hore!

Astaga, pergumulanku selama 6 tahun, ternyata jawabannya cuma itu. Sedih juga ya.

Lalu aku sendiri bagaimana?

Aku ... akhirnya kuliah di jurusan Ilmu Komputer.

Apa karena faktor SPiCa? Bisa iya, bisa tidak. Sejak Code Lyoko muncul, aku jadi tertarik dengan kecerdasan artifisial. Lalu aku tertarik dengan praktikum kimia. Lalu aku mendaftar kuliah dan Tuhan malah membawaku pada beasiswa untuk kuliah di jurusan komputer. Apa boleh buat? Sebagai penerima beasiswa penuh, yang dapat kulakukan adalah berjuang untuk menikmati segala jenis persoalan logika.

Yang ternyata membuatku jatuh cinta.

Aku tidak menyesal mengambil jurusan ini. Aku sukaaa sekali! Aku belajar tentang luasnya bidang ini, bagaimana aku dapat menjadi apa pun yang aku mau, di bidang apa pun yang aku minati, selama aku masih bisa menggunakan logika untuk merancang algoritma. Aku suka dengan UI/UX, seni mendesain program ataupun barang yang mudah digunakan konsumen. Aku suka menuliskan kode-kode Kotlin untuk membuat aplikasi Android. Aku suka mengajar analisis algoritma. Aku suka dengan data science! Machine learning! Artificial neural network! Walaupun aku masih tidak suka kalkulus di dalamnya, hahaha :D

Aku ingin mengambil S2 di bidang artificial intelligence. Tapi itu masih panjang. Sekarang ini, aku harus bekerja, mengumpulkan uang untuk membayar tes IELTS yang harganya selangit, lalu mencari beasiswa (lagi). Doakan aku, ya!

Setelah merefleksikan ulang kehidupanku sejauh ini, aku tidak bisa tidak berterima kasih pada kalian, pembaca dari era tahun 2012. Tanpa kalian yang mendukung SPiCa sejauh ini, aku sepertinya tidak akan dihantui oleh cerita ini bertahun-tahun lamanya. Ah, malah harusnya aku berterima kasih pada pembaca EEMBK juga! Terima kasih atas segala dukungan kalian! Doa kalian terwujud; aku akhirnya berhasil menyelesaikan cerita ini!

Aku minta maaf kalau kelihatannya gaya penulisanku berubah, dan perubahannya malah ke arah yang kalian tidak suka. Rasanya sulit untuk membiasakan diri menulis dalam Bahasa Indonesia lagi, setelah beberapa tahun belakangan selalu menulis dan membaca fanfiksi dalam Bahasa Inggris. Beda sekali rasanya. Aku harus bolak-balik membuka kamus karena ada frase yang aku lupa padanannya dalam Bahasa Indonesia, lalu bolak-balik membuka KBBI juga agar memastikan kalau kosakata yang kupakai memang kosakata yang baku. Ah, aku jadi rindu menulis lebih banyak lagi! Dengan adanya ancaman Covid-19 seperti ini, mungkin aku bisa menyelesaikan fanfic lain. Siapa yang tahu?

Dan aku juga minta maaf kalau penyelesaiannya tidak sesuai keinginan kalian. Akhir cerita masih sesuai dengan rancanganku sendiri, namun sepertinya ada beberapa hal yang mengejutkan. Seperti kepribadian Alde yang sebenarnya sangat dingin, kekuatan Jack of Clubs yang muncul entah dari mana, dan adegan aksi yang sepertinya ... kok hanya segitu saja? Aku memang selalu kesulitan menulis adegan aksi, dan sepertinya terlihat di sini. Atau mungkin ada beberapa momen sedih yang ... sepertinya tidak terasa sedih sama sekali.

( jujur, aku mencoba membaca ulang EEMBK. Aku meringis. Dulu aku menulis dengan kata-kata selebay dan sereceh ini? Astaga, diriku :') )

Semoga dengan menulis bab terakhir SPiCa, aku bisa belajar untuk menulis lagi. Mencari gaya menulisku yang sempat hilang. Dan kalau ada yang berniat untuk memberi kritik membangun, tolong disampaikan di kolom komentar ya! Pasti aku baca, kok!

Akhir kata, terima kasih sudah mengikuti petualangan Yumi dkk selama hampir delapan tahun belakangan ini. Semoga kalian hidup bahagia, sama seperti Alyss dan Alde yang akhirnya menjejakkan kaki ke dunia nyata!

Dream out Loud! =)