Disclaimer:

Naruto: Masashi Kishimoto

High School DxD: Ichiei Ishibumi

.

.

.

Unexpected Ring

By Hikasya

.

.

.

Chapter 4. Hanya teman biasa

.

.

.

Hela napas berat terdengar dari mulut Koneko saat berada di kereta. Ia duduk bersama para penumpang lain. Tidak ada Naruto terlihat ikut dengannya.

Kenapa aku harus pergi sendirian ke kampus, sedangkan Naruto juga pergi sendiri naik sepeda? Padahal kita ini sudah menikah, batin Koneko. Hatinya sangat kecewa karena Naruto memintanya untuk merahasiakan pernikahan mereka agar tidak diketahui teman-teman kampus. Mereka harus bersikap biasa layaknya teman sebelum menikah. Tentu hal itu sangat sulit dilakukan, tetapi Koneko akan berusaha menjalaninya demi mematuhi perintah Naruto.

Tanpa terasa kereta yang ditumpangi Koneko berhenti di stasiun. Pintu kereta terbuka otomatis sehingga Koneko dan para penumpang lainnya keluar secara tertib. Koneko berjalan menuju keluar stasiun karena kampus terletak tak jauh dari sana. Ia memilih jalan kaki agar bisa sekalian berolahraga.

Tiba-tiba, terdengar suara pemuda yang memanggil, "Koneko-chan!"

Koneko berhenti berjalan dan menoleh ke arah pria berambut merah. "Sasori-san."

"Selamat pagi."

"Selamat pagi."

"Kita pergi ke kampus sama-sama, ya."

"Ya."

Koneko mengangguk seraya tersenyum. Akasuna Sasori juga tersenyum. Mereka berjalan beriringan sambil berbicara akrab tentang apa saja. Sesekali mereka tertawa jika ada yang lucu. Beberapa orang yang lewat di sekitar, memperhatikan mereka sekilas saja.

Sasori dan Koneko tiba di kampus. Mereka berjalan di koridor lantai satu dan berpisah saat menemukan koridor bercabang tiga yang menyerupai huruf T. Banyak orang yang hilir-mudik di dekat mereka, tidak memperhatikan mereka.

"Ya, kita harus berpisah. Aku harus masuk ke kelasku karena ada jadwal kuliah hari ini," ucap Sasori dengan wajah kusut, "tapi, sebelum aku pergi, ada sesuatu yang ingin kuberitahu padamu."

"Sesuatu apa?" tanya Koneko mengerutkan kening. Penasaran.

"Aku suka padamu. Maukah kau menjadi pacarku, Koneko-chan?"

Sasori mengatakan itu dengan tampang yang serius. Rona merah tipis terukir di dua pipinya. Koneko membulatkan matanya sempurna, lalu menggeleng cepat.

"Maaf, aku menyukai orang lain." Koneko menunduk, tidak berani menatap Sasori.

Sasori terdiam sesaat, lalu tersenyum dengan wajah semringah. "Oh."

"Apa kau tidak marah, Sasori-san?"

"Tidak."

"Syukurlah."

"Kalau aku boleh tahu, siapa orang yang kamu sukai itu?"

"Dia..."

Koneko memutuskan perkataannya saat melihat Naruto yang muncul di balik sudut leher kiri Sasori. Naruto berdiri tak jauh darinya, sempat mendengarkan percakapan antara mereka. Sasori menunggu kelanjutan jawaban Koneko dengan tidak sabar, mendesak Koneko untuk mengungkapkannya secara jujur.

"Dia siapa, Koneko-chan?" Giliran Sasori yang mengerutkan kening.

"Dia ... Namikaze Naruto." Koneko menyipitkan kedua mata sayu saat menyebut nama suaminya sendiri. Naruto yang mendengarnya, terdiam.

"Oh, Naruto, ya. Ternyata teman dekatmu itu. Beruntung sekali dirinya dicintai oleh gadis semanis kamu, Koneko-chan."

"Ya, aku sudah menyatakan cinta padanya, tetapi ... dia menolakku."

"Hah? Kenapa dia menolakmu?"

"Karena dia mencintai orang lain."

Koneko memandang Naruto lagi. Naruto tidak mempedulikan perkataan Koneko tadi, memutuskan pergi dari sana. Ia berbelok ke kiri karena kelasnya berada di sana. Koneko ingin mengejarnya, buru-buru menyudahi obrolan dengan Sasori.

"Sudah, ya, Sasori-san. Aku harus pergi karena jam kuliah mau dimulai," ujar Koneko segera berlari ke arah Naruto pergi tadi. Sasori memandang kepergiannya, menampilkan senyum getir. Menahan gejolak nelangsa yang sangat mengguncang hatinya.

Koneko tergesa berlari menyusuri koridor yang dipenuhi orang-orang. Mengejar Naruto yang hampir mencapai kelas jurusan Bahasa Inggris. Beberapa orang sudah masuk ke kelas itu.

"Tunggu, Naruto-kun!" pekik Koneko dengan suara yang keras ketika Naruto masuk ke kelas. Naruto melototinya dengan tampang sewot.

"Jangan panggil aku seperti itu!" tandas Naruto bernada dingin.

"Tapi..."

"Ingat, ini kampus. Mengerti?"

Naruto menunjuk muka Koneko lantang. Cukup membuat Koneko terperanjat dengan mata yang melebar. Seketika paras Koneko menjadi kusam dengan sorot mata yang sayu. Naruto pun tidak tega melihatnya seperti itu.

"Maaf," tutur Koneko menunduk kecewa.

"Ya," timpal Naruto berwajah datar, "ayo, masuk! Sekarang giliran kita yang menjelaskan tentang cerita dongeng itu."

"Baiklah."

Koneko mengangguk patuh. Naruto berjalan duluan dan diikuti Koneko dari belakang. Mereka duduk agak berjauhan bersama penghuni kelas lainnya. Dosen pun datang dan memulai jadwal mata kuliah hari ini. Aktivitas belajar berlangsung aman tanpa kendala.

.

.

.

Presentasi makalah Bahasa Inggris kelompok Naruto dan Koneko sukses ditampilkan. Semua orang puas dengan hasil presentasi itu, keluar dari kelas bersama Naruto. Mereka berbincang-bincang hangat seputar dongeng Sleeping Beauty yang menjadi pembahasan hari ini. Koneko yang tinggal sendirian di kelas, merasa semakin sedih karena diabaikan Naruto.

"Saat presentasi tadi, Naruto terpaksa akrab denganku karena banyak temannya di kelas ini," gumam Koneko sambil memegang cincin emas yang tersemat di jari manis kirinya, "cincin ini seharusnya di jari Kuroka-nee, bukan aku yang memakainya sekarang. Karena aku bukanlah orang yang diinginkan untuk memakai cincin ini."

Koneko hendak menangis, tetapi ditahannya, mengingat masih di kampus. Ini baru dua hari, ia menikah dengan Naruto. Putus asa sesaat membuat pikirannya sempit yang ingin memberikan cincin itu pada Naruto lagi. Berniat memutuskan hubungan pernikahan yang dilandasi sebagai pelampiasan cinta.

"Aku mencintai Naruto, dan tidak ingin melepaskannya," bisik Koneko yang mengurungkan niat buruk itu, "tidak. Aku tidak akan minta hubungan pernikahan ini berakhir. Aku akan berusaha keras sekali lagi agar Naruto jatuh cinta padaku."

Tekad semangat Koneko berkobar besar. Membangkitkannya dari keterpurukan untuk berjalan kembali menggapai cinta Naruto. Pikirannya pun mengarah pada sesuatu yang menggetarkan jiwa dan segera keluar kelas. Tidak berniat mengejar Naruto karena mengetahui Naruto sedang pergi makan bersama teman-teman di kantin.

Jam kuliah tidak ada lagi. Koneko memutuskan untuk pulang ke rumah terlebih dahulu. Ia berencana membereskan rumah yang berantakan sejak tadi pagi. Hal itu dilakukannya atas inisiatif sendiri tanpa disuruh Naruto.

Naruto tidak peduli di mana Koneko berada sekarang. Kini ia tertawa dengan teman-teman sesama jurusan Bahasa Inggris. Laki-laki dan perempuan berkumpul di dekat meja yang sama. Mereka melahap makanan yang dipesan masing-masing dengan keceriaan sejati. Salah satu dari mereka yaitu Yamanaka Ino, membeberkan sebuah rahasia yang mengejutkan semua orang kecuali Naruto.

"Hei, Sasori-senpai, salah satu senior yang tertampan di kampus ini menembak Koneko tadi pagi di koridor lho," ungkap Ino dengan muka yang serius, "tapi, Koneko menolaknya karena menyukai Naruto."

"Yang benar?" sahut Haruno Sakura yang duduk di samping Ino. Matanya terbelalak disertai mulut yang terbuka lebar.

"Iya. Kasihan Sasori-senpai. Dia sangat sedih karena ditolak Koneko."

"Lalu bagaimana denganmu, Naruto?" tanya Nara Shikamaru yang duduk berhadapan dengan Naruto, "apa kau juga menyukai Koneko?"

"Tidak," jawab Naruto cepat seraya menghabiskan ramennya.

"Kenapa? Koneko itu manis dan imut lho, Naruto," timpal Ten Ten.

"Sudahlah. Jangan dibahas lagi. Aku mau pergi kerja dulu. Sampai besok, teman-teman."

Naruto sempat menghabiskan minuman sodanya sebelum pergi. Teman-temannya terdiam saat menyaksikannya yang buru-buru meninggalkan kantin itu. Suasana yang sangat ramai, dilalui Naruto dengan langkah yang santai. Hiruk pikuk suara orang-orang di kantin tadi, berangsur menghilang tatkala Naruto sudah keluar dari sana. Tujuan pria berambut pirang itu adalah bekerja part time di sebuah toko kue yang sangat terkenal di kota Konoha.

.

.

.

Seperti biasa, toko kue milik keluarga Senju ramai dikunjungi orang-orang. Naruto bersama beberapa pegawai lainnya, tampak sibuk melayani para pembeli. Suasana cukup ribut karena suara orang-orang yang saling mengobrol hingga pintu utama toko berbunyi nyaring. Seorang wanita berambut hitam yang mendorong pintu tersebut, masuk bersama seorang pria berambut hitam.

"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?" sambut seorang gadis berambut pirang dan bermata hijau. Argento Asia membungkukkan badan untuk memberi hormat pada dua tamu itu.

"Aku ingin membeli kue yang paling enak di sini, Asia," sahut Itachi yang ternyata mengenal Asia karena ia dan Kuroka selalu berkunjung ke sini jika ingin membeli kue sewaktu masih berpacaran.

"Baiklah. Aku akan mengambilnya untuk kalian. Tunggu sebentar, ya."

Asia membungkukkan badan sekali lagi. Itachi dan Kuroka tersenyum saat menyaksikan kepergian Asia. Mereka pun bergandengan tangan saat menyusuri gang kecil yang diapit dua lemari kaca. Banyak kue berderetan dipajang di lemari kaca itu, beraneka bentuk dan menggoda selera para pengunjung sehingga tertarik untuk membelinya.

"Bagaimana keadaan toko kue milik keluargamu, Kuroka?" tanya Itachi sembari menatap lembut wajah Kuroka.

"Aku menyuruh Koneko yang mengurusnya karena aku harus fokus mengurus dirimu, Itachi-kun," jawab Kuroka dengan tampang semringah. Kedua pipinya merona merah.

"Termasuk berhenti kuliah juga?"

"Iya."

"Sia-sia saja selama tiga tahun ini kau kuliah."

"Itu tidak masalah bagiku."

Sekali lagi Kuroka tersenyum. Gadis berumur dua puluh satu tahun itu, merangkul lengan Itachi mesra sekali. Tingkah mereka menarik perhatian beberapa orang yang ada di gang itu, termasuk Naruto.

Kuroka dan Kak Itachi, batin Naruto. Pria berambut pirang itu berdiri tak jauh dari Itachi dan Kuroka. Parasnya kusam dengan kedua netra meredup karena hatinya menangis saat melihat gadis yang dicintainya bersama orang lain. Mengiris jiwa yang seakan lepas dari raganya. Tidak bisa membendung semua itu, menggerakkan dirinya untuk pergi menjauh dari sana.

"Naruto!" panggil Kuroka yang ternyata melihat Naruto. Ia berjalan bersama Itachi, menghampiri Naruto.

Naruto berhenti berjalan dan menoleh ke arah Itachi dan Kuroka. "Ada apa?"

"Kau kerja di sini?"

"Ya. Aku baru sehari ini kerja paruh waktu di sini."

"Kenapa kau tidak urus toko kue saja dengan Koneko? Itu lebih baik, 'kan?"

"Itu ... benar juga."

Naruto tersenyum sembari mengangguk meski pun kenyataan di hatinya sedang nelangsa. Kuroka juga tersenyum, sementara Itachi memilih diam mendengarkan mereka. Hingga Asia datang membawakan kue yang paling enak dan terlaris di toko itu, menuju Itachi dan Kuroka.

"Ini kue pesanan kalian berdua," ujar Asia tersenyum sambil menyodorkan kue pada Itachi.

"Terima kasih," balas Itachi menerima kue itu.

"Ya. Sama-sama. Kalau begitu, aku pergi dulu."

Asia membungkukkan badan dengan hormat pada Itachi dan Kuroka. Ia melangkah menuju tempat dirinya bertugas. Keheningan terjadi selama beberapa detik, lalu lenyap karena Kuroka yang terlebih dahulu berbicara.

"Bagaimana? Apa kau mau berhenti kerja sekarang dan ikut membantu Koneko di toko kue keluargaku?" Kuroka mengulang perkataan yang sama. "Karena aku sudah menjadi bagian keluarga Uchiha. Aku tidak bisa membantu Koneko untuk mengurus toko keluarga kami. Aku harus fokus mengurus keluargaku sendiri. Lalu kau sudah menjadi suami Koneko, jadi aku mohon padamu, tolong jaga dan bahagiakan adikku."

Naruto tertegun mendengarkan permintaan Kuroka, lantas mengangguk pelan. Kuroka tersenyum dengan alis yang melengkung ke atas. Itachi menambahkan, "kami berdua akan pindah ke New Zealand. Kami titip Koneko padamu."

"Baiklah." Naruto mengangguk pelan.

"Baguslah. Kami permisi dulu. Ayo, Kuroka, kita pulang!"

Giliran Kuroka yang mengangguk. Itachi berjalan duluan dan diikuti oleh Kuroka dari belakang. Meninggalkan Naruto yang terpaku, teringat dengan perkataan Kuroka barusan.

"Bagaimana? Apa kau mau berhenti kerja sekarang dan ikut membantu Koneko di toko kue keluargaku?" Kuroka mengulang perkataan yang sama. "Karena aku sudah menjadi bagian keluarga Uchiha. Aku tidak bisa membantu Koneko untuk mengurus toko keluarga kami. Aku harus fokus mengurus keluargaku sendiri. Lalu kau sudah menjadi suami Koneko, jadi aku mohon padamu, tolong jaga dan bahagiakan adikku."

Atas permintaan Kuroka, menuntun Naruto untuk mewujudkannya. Kedua tangan Naruto terkepal kuat dengan wajah yang serius seiring hatinya membisikkan sesuatu padanya.

Kuroka, aku akan berusaha keras untuk memenuhi permintaanmu ini. Aku melakukan ini demimu, bukan demi Koneko.

Senyuman tulus pun terpatri di wajah Naruto yang berseri-seri. Pria berambut pirang itu memutuskan pergi menemui pemilik toko kue untuk menyampaikan niatnya yang ingin berhenti kerja.

.

.

.

Koneko sudah selesai membereskan apartemen milik Naruto. Kini ia berada di toko kue keluarganya yang bernama Toujou Pastry and Bakery. Toko itu terletak di tempat strategis yaitu di pusat kota dan cukup jauh dari apartemen Naruto.

Koneko membuka toko pada pukul empat sore dan mulai sibuk membuat kue di dapur. Karena tidak ada Kuroka yang membantunya, membuatnya kerepotan sekali. Ia harus membuat kue sejumlah target yang biasa dijual selama bersama sang kakak.

Ada daftar kue yang wajib dijual di bulan ini, tertera di kertas putih di dinding. Setiap bulan, kue-kue yang dijual berbeda sesuai dengan selera pembeli yang biasa berkunjung ke toko Toujou Pastry and Bakery. Koneko baru membuat dua jenis kue, tiba-tiba mendengar suara pintu yang terbuka bersama bel bergemerincing yang terletak di atas pintu. Menandakan ada seseorang yang datang untuk membeli kue.

"Tunggu sebentar!" seru Koneko buru-buru berjalan ke dalam toko. Pakaiannya sedikit kotor karena terkena tepung dan telur. Kemudian berhenti berjalan saat di ambang pintu karena menemukan seseorang yang dikenalnya berdiri di dekat pintu utama.

"Aku datang," sahut Naruto berwajah datar seraya menutup pintu utama, "aku berhenti kerja dan memilih membantumu untuk mengurus toko ini."

"Se ... selamat datang, Naruto-kun."

"Apa ada yang bisa kubantu?"

"Hah? Di ... dibantu, ya? Tunggu, aku pikir dulu."

Koneko gugup setengah mati ketika Naruto datang menghampirinya. Jarak mereka sekitar beberapa meter. Koneko menunduk seraya meremas celemek putih yang dipakainya. Naruto memperhatikannya saksama.

Lama sekali Naruto dan Koneko terdiam. Keheningan menyusup di antara mereka, lalu suara Koneko mengusirnya pergi dari sana.

"Apa kau bisa membuat kue brownis dan apple pie?" tanya Koneko menengadah untuk menatap wajah Naruto.

"Bisa," jawab Naruto tersenyum tulus, "aku akan membantumu sekarang."

Koneko terpana dengan kedua mata yang membulat. Hatinya menari gembira karena bisa melihat senyuman Naruto yang biasa ditunjukkan selama berteman dengannya. Naruto memegang bahunya erat, mengukir senyum di wajahnya.

"Aku melakukan ini karena disuruh kakakmu, Koneko-chan. Karena aku bertemu dengannya dan kak Itachi tadi di tempat kerjaku yang baru," ungkap Naruto jujur dengan muka yang datar lagi, "jangan harap kita berhubungan lebih jauh seperti suami-istri. Status kita saat ini hanya ... teman biasa."

Usai mengatakan itu, Naruto langsung pergi meninggalkan Koneko. Netra emas gadis itu melebar dengan mulut yang ternganga. Jiwanya luluh lantak. Ingin rasanya pingsan sekarang juga.

Teman biasa, itu tidak mungkin, batin Koneko syok. Tanpa sadar, air bening pun berjatuhan dari sudut matanya dan membasahi pipinya. Sukma tidak tahan lagi membendung kesedihan yang selalu tertoreh ketika di dekat Naruto.

.

.

.

Bersambung

.

.

.

A/N:

Terima kasih.

Rabu, 26 Februari 2020