Baekhyun hanya bisa menganga dengan pipi merona melihat kenjantanan Chanyeol keluar dari tempatnya bersarang. Itu besar dan mengacung tegak menghadapnya seolah sedang menantangnya. Dan Baekhyun tidak bercanda ketika mengatakan bahwa kejantanan Chanyeol dua kali ukuran miliknya. Ugh, sebagai pria, ia cukup iri.

"Kenapa?" Suara bass itu menyentakkan Baekhyun dari lamunannya. Pria mungil itu mendapati si jangkung sedang memamerkan seringaiannya. "Kau tidak menyangka akan melihat kejantanan milik dosenmu sendiri, hm?"

Dalam satu detik, Baekhyun merasakan pipinya seolah terbakar. Itu panas sekali, terlebih setelah diingatkan bahwa kekasihnya masihlah dosennya.

"J–jangan ingatkan aku, Chanyeol! Itu memalukan!"

"Kenapa memalukan?" Chanyeol menarik pinggang Baekhyun agar merapat ke tubuhnya, lalu menuntun dagu si mungil untuk mempertemukan manik mereka. "Kau tidak menyukainya?"

"B–bukan begitu.." cicit Baekhyun. Ia memberanikan diri untuk memeluk leher Chanyeol, sebelum akhirnya membenamkan wajahnya di sana. "Aku hanya..merasa malu juga canggung.."

Kekehan renyah Chanyeol pun terdengar. Tangannya yang mengusap belakang leher Baekhyun, tak sengaja melihat kissmark yang dulu ia torehkan. Itu sudah tidak terlalu merah, hanya ada sedikit bekas tersisa.

"Begitukah? Tapi kenapa aku mengartikan aksimu sebagai kebalikannya ya?"

"PARK CHANYEOL!" Baekhyun memukul dada Chanyeol kesal. Ia sudah sangat malu, tapi kekasihnya itu malah meledeknya dan tertawa puas.

"Aigoo~ coba lihat siapa yang mulai berani membentakku, hm?"

"E–eh? M–maaf, aku tidak bermaksud—AKH!" Baekhyun refleks memekik ketika Chanyeol menggigit lehernya. Tak hanya itu, tangan Chanyeol bahkan mulai bergerak merambat masuk ke dalam celana jeans Baekhyun, meremas bongkahan kenyal itu dengan gerakan konstan. "C–Chanyeolhh.."

Mendengar Baekhyun yang mati-matian meredam lenguhannya, senyum penuh kemenangan Chanyeol pun tak elak semakin lebar terbentang. Ia jadi semakin bersemangat untuk menggoda kekasih mungilnya ini.

"Kau sudah bersikap tidak sopan pada dosenmu, Baekhyunnie." Chanyeol berbisik seduktif di telinga Baekhyun, tangannya dengan lihai membuka retsleting jeans si mungil. "Bersiaplah untuk menerima hukumanmu~"

"A–apa?"

Belum sempat berpikir, Chanyeol sudah lebih dulu mengeluarkan kejantanan Baekhyun dari dalam celananya. Baekhyun terkejut tentu saja, tapi di saat bersamaan juga tak bisa menghentikan pergerakan Chanyeol yang tengah memberinya pijatan pada kejantanannya. Dan demi apa pun, rasanya sangat memabukkan. Bohong jika Baekhyun berkata ia tidak menikmatinya. Bahkan beberapa desahan tertahan pun lolos begitu saja dari celah bibir pria mungil itu.

"Kita keluar bersama, oke?" Chanyeol mengecup bibir Baekhyun sesaat, kemudian mengapit kejantanannya dengan kejantanan Baekhyun untuk dikocok bersama-sama.

Keduanya pun larut dalam kenikmatan yang tercipta akibat kejantanan mereka yang saling bergesekkan itu. Semakin lama, tempo kocokannya semakin cepat. Libido mereka pun naik seiring dengan desahan yang pasangannya kumandangkan, terutama Chanyeol. Pria tinggi itu benar-benar kecanduan oleh desahan kekasih mungilnya.

"Chanhh, a–aku..hampir—"

Tanpa peringatan apa pun, perkataan Baekhyun dipotong Chanyeol dengan ciuman intens. Pria tinggi itu meraup habis bibirnya, tak melewatkan satu celah untuk tak ia kecup. Gerakannya begitu tergesa-gesa, sama seperti kocokannya di bawah sana.

Namun keduanya sama-sama tidak sadar, bahwa ada Samuel di bawah sana, sedang berjalan memasuki rumah.

.

.

.

###

AEIPATHY (BL VERSION)

Chapter 14 – It's Not the Right Time

Main Casts : Park Chanyeol & Byun Baekhyun

###

.

.

.

Alis Samuel bertautan sempurna mendapati Chanyeol duduk di kamar Baekhyun. Posisi mereka sama sekali tidak mencurigakan, hanya saja rona di wajah Baekhyun membuatnya merasakan firasat aneh.

"Sedang apa kalian?" Alih-alih bertanya pada salah satunya, Samuel bertanya pada keduanya.

"T–tidak sedang apa-apa kok!"

Menyaksikan suara Baekhyun yang tergagap dan langsung mengalihkan wajahnya, tentu saja mengundang kecurigaan Samuel. Pikirnya, sesuatu pasti terjadi di antara Baekhyun dan Chanyeol selagi ia tidak ada di rumah. Tapi, apa?

"Tadi di kampus Baekhyun terjatuh saat menuruni tangga, jadi aku mengantarnya kemari." ungkap Chanyeol, menjelaskan situasi.

"Apa?" Samuel terkejut, lalu menghampiri Baekhyun. "Bagaimana bisa? Kau baik-baik saja, Hyung?"

"Uh..ya, aku baik-baik saja. Tadi aku.." Baekhyun melirik Chanyeol, mendapati kekasihnya tengah menahan tawa. Ah, sial. Baekhyun jadi teringat kejadian memalukan saat ia ketahuan mengintip Chanyeol dan malah berakhir dengan terjatuh dari tangga. "A–aku hanya kurang hati-hati saja, Sam. Tidak perlu khawatir."

"Kau yakin? Sudah diperiksa ke dokter?"

"Sudah, tadi aku mengantarnya. Dokter bilang Baekhyun hanya perlu beristirahat."

Samuel menghela napas lega mendengarnya. "Ck, kenapa bisa sampai terjatuh begitu, Hyung? Ceroboh sekali kau ini."

Baekhyun memukul lengan Samuel. "Yak, berani sekali kau mengatai Hyung-mu 'ceroboh', hah?"

"Well, Sam tidak salah, Baek." Chanyeol menyela. Menyindir Baekhyun—sebenarnya, dan mendapati bibir sang kekasih mengerucut lucu setelahnya.

"Ya sudah, beristirahatlah." Samuel menoleh pada Chanyeol. "Terima kasih sudah mengantarnya ke dokter dan menemaninya di sini. Kurasa kau boleh pulang sekarang."

"Sam, jangan kasar begitu!"

"Aku tidak bersikap kasar. Bukankah dokter juga berpesan bahwa kau harus beristirahat, Hyung?"

"Sam benar, Baek. Kau butuh istirahat." Chanyeol bangkit dari duduknya, lalu mengecup puncak kepala Baekhyun. "Aku akan menjengukmu lagi besok, oke?"

Mencebik kesal, Baekhyun mau tidak mau menganggukkan kepalanya. "Baiklah, hati-hati pulangnya ya?"

"Pasti."

"EKHEM!" Samuel menginterupsi. Raut mukanya tampak jengkel. "Ayo, aku akan mengantarmu sampai ke depan gerbang."

"Ck, dasar adik menyebalkan!" gerutu Baekhyun begitu sosok Samuel keluar dari kamarnya. "Tolong maafkan dia ya?"

"Tidak apa-apa, sungguh. Daripada itu," Jemari Chanyeol mengusap anak rambut Baekhyun, kemudian berbisik tepat di depan telinganya, "Kau harus melatih kemampuan akting-mu, Sweet Muffin. Kita hampir saja ketahuan tadi."

BLUSH!

Hebat. Lagi-lagi Chanyeol membuat wajah Baekhyun merona sampai ke telinga. Pria mungil itu bahkan tak bisa mengelak dan malah membiarkan kekasihnya terbahak puas.

"Aish, kau benar-benar bodoh, Byun Baekhyun!" Baekhyun mengumpat malu sambil mengacak-acak rambutnya. Bisa ia rasakan suhu panas di wajahnya bertambah saat melihat hasil hasrat dirinya dan Chanyeol yang ia tutupi di bawah selimut.

Kejadian tadi memang di luar dugaan. Baekhyun bahkan masih belum percaya apa yang baru saja mereka lakukan, terutama dirinya sendiri. Kenapa dia bisa-bisanya melakukan hal seberani itu pada Chanyeol? Meski Chanyeol adalah kekasihnya, pria jangkung itu juga tetaplah dosennya. Beruntung Samuel datang setelah hasrat mereka selesai. Kalau tidak, entah apa yang mungkin terjadi.

.

.

Sudah hampir satu jam lamanya Kyungsoo berdiam diri di depan cermin wastafel, menatap lurus ke arah lehernya yang dikecup Sehun. Ia tak bisa berhenti memikirkan kejadian tadi di kampus. Sehun memang tidak meninggalkan bekas apa pun di lehernya, tapi tetap saja itu mengganggu pikiran Kyungsoo. Dan sialnya, setiap kali ia mengingatnya, leher dan wajahnya menjadi panas. Ia merona hebat.

"AISH!" Kyungsoo mengumpat. "Sialan kau, Oh Sehun! Dasar brengsek!"

"Lain kali, aku akan meninggalkan jejak kalau kau berniat menghalangiku lagi, Owl."

"Lain kali jika kau berani menyentuhku lagi, aku akan meremukkan testikelmu, Muka Tembok." Kyungsoo mengepalkan kedua tangannya, membayangkan hal yang kemungkinan besar akan dilakukannya jika bertemu Sehun lagi.

Tersentak oleh suara ponselnya yang berdering, Kyungsoo pun melangkah keluar dari kamar mandi. Nama Baekhyun tertera di layar ponselnya.

"Tentu saja. Tepat pada waktunya." Kyungsoo mengangkat panggilan itu, bersiap untuk mengumpati Baekhyun atas apa yang terjadi padanya. "Yak, kau—"

"KYAAAAAAAAAAAAAAA!"

Tapi pekikan nyaring itu lebih dulu membuat Kyungsoo terperanjat. Hampir saja ia menjatuhkan ponselnya jika tak segera menahannya.

"Damn it, Byun! Ada apa denganmu?!" Kyungsoo mendamprat habis-habisan.

"Oh, Kyungsoo sahabatku, kau takkan percaya apa yang baru saja terjadi! It's the best day of my life~"

Kyungsoo yang tak mengerti pun menautkan alisnya. "Ada apa?"

"Tadi saat Chanyeol mengantarku pulang ke rumah, dia..kami.." Baekhyun tiba-tiba memekik tertahan, membuat Kyungsoo semakin kebingungan.

"Kalian kenapa, Baek?"

"Kami.." Baekhyun mengulum senyumannya di seberang sana, berusaha untuk tak kembali memekik. "Kami hampir melakukannya.."

"Melakukan ap—" Belum sempat Kyungsoo bertanya lebih lanjut, matanya tiba-tiba melotot. Ia baru sadar apa yang dimaksud Baekhyun. "KAU MELAKUKAN SEKS DENGAN PCY SEONSAENGNIM?!"

"Hampir, Kyung! Hampir!" Baekhyun mengoreksi. Kyungsoo merotasikan bola matanya.

"Apa yang kau pikirkan?! Apa kau gila, hah?!"

"Itu terjadi begitu saja, Kyung! Aku sendiri tidak—"

"Apa itu membuat perbedaan? Kalian tetap saja hampir melakukannya di rumahmu sendiri! Bagaimana jika orangtuamu atau Samuel memergoki kalian, hah?!"

"Well, sebenarnya Sam hampir saja memergoki kami, jadi.."

Kyungsoo memijat pelipisnya. Ia benar-benar tak habis pikir dengan kelakukan sahabatnya yang dimabuk asmara ini. "Astaga."

"Tapi ini bukan berarti kami tidak boleh melakukannya, bukan? Secara teknis, Chanyeol adalah kekasihku."

"Wow." Kyungsoo mencibir. "Kau dengar dirimu sendiri, Baek? Sangat protektif."

"A–aku hanya mengatakan kebenaran!"

"Ya, kebenaran bahwa kau sangat mencintainya."

Mendengar itu, Baekhyun tak bisa menahan dirinya untuk tak tersenyum. Sesuatu terasa menggelitiki perutnya ketika semuanya berhubungan dengan Chanyeol dan Baekhyun menyukainya. Sangat menyukainya.

"Sebelumnya kami sempat berselisih, tapi untunglah kami sudah berbaikan. Ada hikmahnya juga aku terjatuh dari tangga."

Dahi Kyungsoo sontak mengerut mendengar itu. "Kau jatuh dari tangga? Kapan?"

"Tadi siang, saat aku mengintip Chanyeol sedang mengajar. Tapi Chanyeol sudah mengantarku ke dokter, jadi aku baik-baik saja sekarang."

Kyungsoo geleng-geleng kepala oleh perkataan aneh Baekhyun. Ternyata cinta tak hanya membuat tingkah Baekhyun menjadi aneh, tapi pikirannya juga ikut-ikutan aneh. "Aku tak percaya kau benar-benar jatuh cinta pada dosen kita."

"Hehe~" Baekhyun menggaruk pipinya malu. "Oh ya, sepertinya kau mau mengatakan sesuatu sebelum aku memekik tadi? Ada apa?"

Kejadian saat Sehun mencium lehernya kembali memenuhi benak Kyungsoo. Mendadak wajahnya terasa panas. Tapi dengan cepat ia kontrol dirinya sendiri.

"T–tidak ada. Hanya saja..uh..kupikir kau harus lebih berhati-hati pada Oh Sehun."

"Sehun?"

"Ya, maksudku dia sepertinya menyukaimu."

Beberapa detik Baekhyun terdiam, sebelum akhirnya meledakkan tawanya. "Astaga, Kyung. Dari mana kau mendapat pemikiran seperti itu? Sehun tidak menyukaiku. Kami hanya berteman."

"Yeah? Karena dia berusaha kabur dari kejaran Jieqiong demi menemuimu."

"Lalu? Itu tak membuktikan bahwa Sehun menyukaiku, Kyung."

"Ayolah! Dari caranya menatapmu saja sudah ketahuan dia tidak melihatmu sebagai teman. Kau saja yang tidak peka!"

"Hey, aku ini peka, tahu!"

Kyungsoo merotasikan bola matanya bosan. "Kau bahkan telat menyadari perasaanmu sendiri pada PCY Seonsaengnim, apanya yang peka?"

Baekhyun membalas dengan dengusan. "Bagaimana bisa itu dibandingkan dengan hal ini?"

Kyungsoo menghela napas sejenak. Susah memang bicara dengan Baekhyun mode keras kepala. "Kau ingat saat aku mengatakan bahwa PCY Seonsaengnim menyukaimu?"

"Yeah?"

"Itu dia!" Kyungsoo menekankan. "Itu yang kulihat di mata Oh Sehun ketika menatapmu, sama seperti ketika PCY Seonsaengnim menatapmu, Byun Baekhyun."

Lamat-lamat Baekhyun memikirkan perkataan Kyungsoo. Tentang bagaimana sikap Sehun yang berubah seratus delapan puluh derajat ketika tahu bahwa mereka dulu pernah bertemu, juga bagaimana cara Sehun menatap matanya sekarang. Dan ya, memang ada sesuatu yang berbeda dalam sorot manik hazel itu.

"Entahlah, Kyungsoo-ya. Aku masih tidak mau banyak berspekulasi. Bisa saja itu karena efek kami bertemu lagi setelah sekian lama?"

Kyungsoo menggeram tertahan. "Ya sudah, terserah kau saja. Aku mau tidur. Bye."

Bibir Baekhyun mengerucut setelah Kyungsoo menutup telepon mereka secara sepihak. Memeluk gulingnya erat, pria mungil itu kemudian menghela napas panjang. Benaknya tiba-tiba dipenuhi sosok Sehun, membuat hatinya gelisah untuk alasan yang ia khawatirkan.

"Itu tidak benar, kan, Hun-ah?" bisiknya lirih. "Kita..hanya akan tetap menjadi teman, kan?"

Itu adalah harapan Baekhyun.

.

.

Chanyeol berjalan riang memasuki rumahnya sambil sesekali bersenandung kecil. Diabaikannya Sehun yang memandangnya dengan raut datar, Chanyeol hanya terlalu bahagia. Senyumannya bahkan terlampau lebar sampai itu menyamai tinggi telinga lebarnya. Ah, ia jadi ingin cepat-cepat bertemu Baekhyun besok.

"Hey, kau sudah makan? Ayo kita pesan pizza." ajak Chanyeol seraya men-charge ponselnya yang habis baterai. Mood-nya benar-benar bagus sampai lupa dengan kekesalannya pada Sehun tadi pagi. Namun berbeda dengan Chanyeol, Sehun justru masih mempertahankan raut datarnya di depan TV. "Yak, kenapa tidak menjawab? Tidak mau?"

"Dad tadi menelepon." Sehun membelokkan topik pembicaraan. "Katanya ingin bicara denganmu besok."

"Yeonseok Hyung?" Chanyeol menghidupkan ponselnya untuk mengecek. Ada pesan masuk dari Yeonseok di sana, isinya sama dengan ucapan Sehun. "Aish, kenapa harus besok?"

Sehun yang mendengar gerutuan Chanyeol, diam-diam tersenyum penuh makna. Hell, tentu saja ia sudah menduga respon itu, terlebih setelah drama Chanyeol dan Baekhyun tadi di kampus.

"Sepertinya itu hal yang penting. Dad biasanya tidak menyuruh seseorang menemuinya secara langsung jika itu tidak terlalu penting." Sehun menambahkan, ekor matanya melirik Chanyeol.

"Paling 'hal yang penting' itu adalah laporan perkembanganmu."

"Maybe." Sehun mengedikkan bahu, tak peduli.

Chanyeol menghela napas pasrah. Sepertinya ia tak punya pilihan lain. "Besok kau masuk kelas seperti biasa, oke? Awas kalau kau membolos lagi, aku punya mata-mata. Kau paham?"

"Mm-hm."

Begitu Chanyeol memasuki kamarnya, barulah seringaian Sehun terkembang sempurna.

###

Baekhyun akhirnya bisa menghembuskan napas lega begitu Samuel berangkat ke sekolah. Adiknya itu terlampau khawatir dengan keadaan kakinya sampai-sampai mengulangi pertanyaan yang intinya sama—bahwa ia akan tinggal di rumah jika Baekhyun tidak baik-baik saja. Tapi beruntung Samuel bisa diyakinkan dua menit yang lalu.

Sekarang, tinggal Baekhyun sendirian di rumah itu. Pria mungil itu sengaja duduk santai di ruang keluarga kalau-kalau ada yang memencet bel, jadi ia tak perlu naik-turun tangga. Sebenarnya yang terpenting dari itu semua adalah Baekhyun sedang menanti kedatangan Chanyeol. Kekasihnya itu sudah berjanji akan menengoknya hari ini, meski belum bisa dipastikan jam berapa.

Ingin sekali Baekhyun mengirim pesan pada Chanyeol untuk bertanya jam berapa ia akan menengoknya, tapi Baekhyun takut mengganggu karena seingatnya Chanyeol ada jadwal mengajar pagi ini. Jadi ia putuskan untuk menunggu saja.

TING TONG.

"Oh?" Wajah Baekhyun tiba-tiba berseri. Benaknya tak memikirkan siapa pun kecuali Chanyeol. "Ya, sebentar!" Sedikit tertatih, Baekhyun berjalan menuju pintu untuk membukanya. Ia sudah sedikit ini untuk menerjang kekasihnya dengan pelukan erat, namun ternyata sosok yang berdiri di hadapannya bukanlah si jangkung bersurai ash grey.

"Hey."

Itu Oh Sehun.

"H–Hun-ah?" Bola mata Baekhyun bergerak gelisah. Ia sungguh tak menyangka Sehun datang ke rumahnya. "A–ada perlu apa kau datang kemari?"

"Apa lagi?" Sehun menyamakan tinggi badannya dengan Baekhyun, tersenyum manis pada si mungil. "Tentu saja untuk menengokmu. Kemarin kakimu terkilir, kan?"

"Eh?"

"Apa aku boleh masuk?"

"Uh..i–itu.." Baekhyun menggigit bibir bawahnya ragu, tak tahu harus menjawab apa. Janji yang kemarin ia buat dengan Chanyeol terus berputar dalam benaknya, membuatnya merasa tak enak hati pada Sehun. "M–maaf, Hun-ah, kupikir kau sebaiknya pulang."

"Kenapa?"

"Aku.." Baekhyun menundukkan kepalanya, tak berani menatap balik manik Sehun. "Chanyeol akan datang sebentar lagi, aku tak ingin dia berpikiran yang tidak-tidak tentang kita."

Lalu hening. Keadaan seketika menjadi serba canggung dan Baekhyun tak ingin menerka-nerka raut muka Sehun saat ini.

"Kau tidak perlu khawatir." Sehun mendaratkan satu usapan lembut di puncak kepala Baekhyun, membuat kepalanya mendongak perlahan. "Uncle-ku sedang ada urusan dengan orangtuaku, jadi dia tidak akan datang pagi ini. Mungkin nanti siang atau sore."

"Eh? Sungguh?" Sehun mengangguk yakin. "Kau..tidak bohong, kan?"

"Kau boleh meneleponnya untuk memastikan."

Merasa Sehun berkata jujur, Baekhyun refleks melengkungkan bibirnya ke bawah. Padahal ia sudah berharap Chanyeol akan datang pagi ini, tapi ternyata ia masih harus menunggu untuk beberapa jam lagi.

"Jadi, apa aku boleh masuk?"

Pertanyaan itu sontak meleburkan lamunan Baekhyun. Ia mengerjap untuk beberapa saat, sebelum akhirnya memberi Sehun jalan untuk masuk ke dalam rumahnya. Well, ia tak punya alasan lain untuk menolak.

"Bagaimana keadaan kakimu?" tanya Sehun, begitu mereka duduk di ruang tamu.

"Sudah baikan. Kemarin Chanyeol membawaku ke dokter."

"Syukurlah, kalau begitu. Oh ya, kau sudah sarapan? Aku membawa beberapa macam makanan. Kau mau yang—"

"Tidak usah repot-repot, Hun-ah, aku sudah sarapan kok."

Sehun menghela napas panjang mendapatkan respon begitu. Ia tatap lekat Baekhyun yang duduk tak nyaman di tempatnya. Sepertinya pria mungil itu sedang menjaga jarak dengannya.

"Kenapa kau begitu canggung, hm? Terakhir kali kita bertemu kau masih bisa bicara santai denganku."

"T–tidak apa-apa."

Sehun tidak bodoh untuk mengartikan gelagat Baekhyun sebagai kebohongan. Ia tahu pasti bahwa Chanyeol-lah penyebab di balik kecanggungan Baekhyun.

"Apa Uncle-ku mengatakan sesuatu padamu?"

"Eh?"

"Apa dia memberimu peringatan atau semacamnya? Tidak mungkin kan sikapmu padaku tiba-tiba berubah jika dia tak mengatakan sesuatu?"

Baekhyun terdiam. Ia tak mengelak karena itu memang benar. Chanyeol memang memperingatkannya untuk tak dekat-dekat Sehun. Meski Baekhyun tak begitu yakin 'cemburu' menjadi satu-satunya alasan di balik peringatan itu. Ia hanya tak ingin hubungannya dengan Chanyeol kembali renggang.

"Atau jangan-jangan.." Alis Sehun bertautan sempurna, mencurigai sesuatu. "Dia menceritakan kejadian empat tahun yang lalu?"

"Kejadian empat tahun yang lalu?" Gantian Baekhyun yang menautkan alisnya. "Kejadian apa?"

"O–oh? Bukan itu?" Sehun menggaruk pipinya kikuk. "Kalau begitu, lupakan saja."

"Tidak, aku ingin mendengarnya. Apa yang terjadi empat tahun yang lalu di antara kalian?"

Cukup lama Sehun terdiam. Sedikit banyak ia berharap Baekhyun akan berubah pikiran, namun pria mungil itu masih saja menatapnya lekat. Bukannya apa-apa, tapi Sehun sebenarnya enggan untuk menceritakan hal ini karena kemungkinan besar akan memengaruhi pandangan Baekhyun terhadapnya. Dan itu tidak bagus untuk acara pendekatannya.

"Entahlah, sebaiknya kau tidak perlu tahu, Bee. Lagipula, itu hanyalah kesalahpahaman dan sudah lama berlalu."

Bibir Baekhyun langsung mengerucut. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, merasa diperlakukan tidak adil. "Kenapa aku tidak perlu tahu?" protesnya.

"Karena itu tidak penting lagi, Bee. Sudahlah, tidak perlu dipikirkan." Sehun mencubit gemas pipi Baekhyun dan kembali mengembangkan senyuman manisnya. "Justru yang terpenting saat ini adalah dirimu."

"Aku?"

Sehun mengangguk tegas. "Aku senang kau bisa bicara santai lagi denganku, Bee."

Rona kemerahan sontak menyapu permukaan pipi Baekhyun. Dan sialnya, ia tidak sempat menyembunyikannya.

"K–kau mau minum sesuatu?" Baekhyun cepat-cepat mengubah topik pembicaraan.

"Tidak usah, aku tak ingin kau menggerakkan kakimu terlalu sering."

"Tapi kan kau tamu?"

"Aku bukan sekedar 'tamu', aku ini temanmu dan aku datang untuk menjengukmu. Sekarang, bersantailah. Aku akan memindahkan makanan ini ke piring. Kau duduk saja, oke?"

Berikutnya, Baekhyun tak bisa melawan lagi.

.

.

Pukul satu siang, Chanyeol sedang dalam perjalanan menuju kediaman Byun. Ia baru saja menyelesaikan urusannya dengan Yeonseok, yang ternyata hanya ingin membicarakan perkembangan sikap Sehun selama tinggal bersamanya. Begitu urusan itu selesai, Chanyeol tak membuang waktu lebih lama lagi untuk segera pamit pulang. Ia ingin cepat-cepat bertemu Baekhyun-nya.

Laju mobil Tesla milik Chanyeol sedikit lebih cepat daripada ketika ia berangkat ke kediaman Oh, saking tak sabarnya ingin bertemu Baekhyun. Ketika lampu lalu lintas di perempatan jalan berubah menjadi merah, Chanyeol memanfaatkan waktu untuk sekedar mengecek ponselnya. Di sana ada sebuah pesan dari Baekhyun.

From: My Sweet Muffin

Kau masih di mana? Kenapa lama sekali? -_-

Chanyeol terkekeh membaca pesan itu. Senyumannya pun terkembang lebar sampai ke telinga hanya dengan membayangkan ekspresi Baekhyun saat mengetik pesan itu. Pikirnya, itu pastilah sangat menggemaskan.

To: My Sweet Muffin

Sebentar lagi, Muffin. Kau mau kubawakan sesuatu?

Dikirim.

Selagi menunggu pesan balasan, Chanyeol mengalihkan padangannya ke arah jalanan lagi. Sebuah ide tiba-tiba muncul dalam benaknya ketika tak sengaja melihat toko bunga yang tak jauh dari posisinya saat ini. Mungkin memberikan 'kejutan kecil' untuk Baekhyun bukanlah ide yang buruk—batinnya.

Di saat sedang asyik memikirkan bunga apa yang akan dibeli, ponsel Chanyeol kembali bergetar, menampilkan sebuah pesan masuk dari Baekhyun. Isinya memang singkat, tapi mampu memberikan efek yang besar pada degup jantung Chanyeol.

From: My Sweet Muffin

Hanya kau /

.

.

Baekhyun menggigit bibir bawahnya gelisah. Sesekali ekor matanya melirik ponselnya, memastikan kalau Chanyeol membalas pesannya. Tapi sayang, tidak ada pesan yang masuk. Ponselnya masih berlayar hitam dan ini sudah setengah jam berlalu semenjak Baekhyun mengirim pesan cheesy itu padahal dilihat dari notifikasinya, Chanyeol sudah membaca pesan itu.

Jadi, kenapa masih belum ada pesan balasan?

Raut muka Baekhyun tiba-tiba berubah panik. Lamat-lamat, ia merutuki tindakan konyolnya. "Astaga, bagaimana ini? Apa dia marah ya? Aish, seharusnya aku tak mengirim pesan cheesy itu! Kenapa kau bodoh sekali, Byun Baekhyun?! Bagaimana jika dia menganggapmu lancang? Atau yang lebih buruknya lagi, dia tak mau—"

Ucapan Baekhyun seketika terhenti kala suara mobil yang tak asing memasuki indra pendengarannya. Tubuhnya refleks menegak. Sedikit tergopoh-gopoh ia berjalan menuju jendela, ingin memastikan bahwa ia tak sedang berhalusinasi.

Dan benar saja. Itu memang mobil Tesla milik Chanyeol.

"Astaga, astaga, dia di sini! Bagaimana ini?!" Baekhyun menjadi lebih panik daripada sebelumnya. Cepat-cepat ia rapikan penampilannya, lalu membukakan pintu itu untuk Chanyeol.

"Oh hey, Muffin, kebetulan sekali? Aku baru saja mau memencet bel." kata Chanyeol, lengkap dengan senyuman khas yang memperlihatkan lesung pipinya.

"K–kau datang?" Baekhyun malah terkejut dengan kehadiran kekasihnya itu.

"Tentu saja aku datang, kenapa pertanyaanmu aneh begitu?"

"Tapi, kau tak membalas pesanku. Kupikir kau marah?"

Chanyeol mengerutkan dahi mendengar pertanyaan itu. "Marah? Kenapa pula aku harus marah padamu? Aku tidak membalas pesanmu karena sedang menyetir, Baekhyunnie."

"E–eh? Sungguh? Jadi bukan karena kau marah padaku?"

"Aigoo~ kau ini sebenarnya memikirkan apa, hm? Lagipula, kenapa kau pikir aku marah padamu?"

"I–itu.." Baekhyun menundukkan kepalanya. Ia jadi malu sendiri. "Karena..pesan terakhir yang kukirim.."

"Pesan terakhir?" Chanyeol merogoh ponselnya dan membaca kembali isi percakapannya dengan Baekhyun. Tapi tak ada yang aneh di sana. Pesan terakhir yang Baekhyun kirim justru terkesan sangat manis baginya. Jadi, kenapa ia harus marah karena pesan itu?

"Aku tidak mengerti, Baek. Kupikir pesanmu normal-normal saja." kata Chanyeol sambil menunjukkan pesan yang terakhir kali Baekhyun kirimkan padanya.

"Kau..tidak merasa kesal atau apa pun?"

Merasa gemas sendiri, Chanyeol pun mencubit hidung Baekhyun. "Sama sekali tidak, my Sweet Muffin. Tidak ada yang salah dari isi pesanmu kok. Oh ya, ini untukmu." ucapnya seraya memberikan buket bunga tulip berwarna merah ke hadapan Baekhyun. "Aku ingin memberimu sedikit kejutan, tapi karena aku tidak tahu kau suka bunga apa, jadi kubelikan saja bunga kesukaanku."

"Eh? Kau suka bunga tulip?" Baekhyun balik bertanya.

"Begitulah. Apa kau juga suka?"

Baekhyun menerima buket itu. Satu senyuman manis terkembang di sudut bibirnya kala wangi bunga tulip meruak ke indra penciumannya. "Aku sangat menyukainya. Terima kasih, Yeol~"

"Sama-sama, Muffin. Aku senang kau menyukainya."

"Hm. Masuklah, kita mengobrol di dalam~" Baekhyun memberikan ruang agar Chanyeol bisa masuk ke dalam. Keduanya kemudian duduk berdampingan di ruang keluarga.

"Kakimu sudah baikan?"

Baekhyun mengangguk. "Sudah jauh lebih baik, aku bahkan bisa naik-turun tangga sendiri."

"Sungguh? Syukurlah, kalau begitu."

"Oh ya, kau mau minum sesuatu? Biar kubuatkan."

Chanyeol menggeleng tegas menjawabnya. Dan sebagai gantinya, ia menarik tubuh Baekhyun untuk dipeluk, kemudian menyandarkan dagunya dengan nyaman di pundak si mungil. "Aku hanya ingin memelukmu, boleh kan?"

Seiring dengan senyuman yang tak bisa ditahan, Baekhyun membalas pelukan itu. "Kenapa kau bertanya segala?"

Chanyeol terkekeh dibuatnya. "Kau sudah makan?"

"Hm, aku bahkan mengemil tanpa henti saking bosannya menunggumu."

"Ah~ pantas saja perutmu agak buncit—AUW!" Chanyeol meringis keras merasakan jemari lentik Baekhyun mencubit perutnya. Tapi tak lama kemudian, mereka terkekeh bersama. "Aku merindukanmu, kau tahu?" Chanyeol mengayun-ayunkan tubuh Baekhyun dalam pelukannya.

"Aku juga merindukanmu, Chanyeollie~"

"Dan aku suka setiap kali kau memanggilku 'Chanyeollie'."

Baekhyun terkekeh kembali. Dilepaskannya pelukan itu dan menggantinya dengan kecupan singkat di bibir Chanyeol. "Kau pasti lelah ya? Dari kediaman Oh langsung menuju rumahku."

"Aku naik mobil, Muffin, bukan berjalan kaki."

"Tapi kan tetap saja melelahkan, terutama jika terjadi kemacetan. Padahal kau tidak perlu memaksakan diri datang kemari, aku bisa mengerti kalau kau ingin beristirahat."

Chanyeol balas mengecup lembut bibir Baekhyun. Wajah si mungil yang menggemaskan itu ia tangkup kemudian. "Aku mana tahan tak bertemu denganmu sehari saja, Baekhyunnie. Bisa-bisa aku kesulitan bernapas."

"Berhenti menggombal, Chanyeol!" seru Baekhyun sambil memukul pelan lengan Chanyeol.

"Lho? Bukannya kau yang menggombaliku duluan?"

"Aku? Kapan?"

"Saat aku bertanya 'kau ingin kubawakan sesuatu?' dan kau menjawab 'hanya kau'. Oh, dan jangan lupakan emoji malu-malu kucing itu."

Sekakmat.

Wajah Baekhyun benar-benar menyerupai kepiting rebus sekarang.

"Kau sedang malu ya?" goda Chanyeol, mati-matian menahan tawanya.

"A–aku tidak!"

"Lalu kenapa wajahmu memerah begitu?"

"A–aku hanya merasa kepanasan!"

"Aigoo~ kau manis sekali saat sedang berkelit, Baekhyunnie~"

"AKU TIDAK SEDANG BERKELIT!"

Tawa Chanyeol pun meledak. Cepat-cepat ia kurung Baekhyun dalam pelukannya sebelum si mungil memukulnya lebih keras.

"Ck, menyebalkan! Kenapa kau suka sekali menggodaku?" gerutu Baekhyun. Meski bibirnya mengerucut kesal, tapi tangannya tetap saja melingkar di tubuh Chanyeol.

"Karena reaksimu itu sangat menggemaskan, haha~"

"Alasan macam apa itu? Dasar!"

"Haha, maaf, maaf. Omong-omong, minggu ini kau tidak siaran radio?"

Baekhyun menggeleng. "Aku izin tidak siaran minggu ini. Jarak dari terminal bus ke XOXO Radio lumayan jauh dan aku belum kuat kalau harus berjalan terlalu lama. Memang kenapa?"

"Tidak apa, aku hanya rindu suaramu saat sedang siaran."

"Eyy~ kita kan bertemu setiap hari? Masa kau rindu suaraku?"

"Entahlah, kupikir sensasinya berbeda saja. Tapi kali ini, aku mendukung keputusanmu untuk tidak siaran. Kakimu harus sembuh dulu."

"Hm. Oh ya, kapan aku bisa bimbingan skripsi lagi?"

"Nanti setelah kakimu sembuh benar."

"Sungguh?"

"Mm-hm. Aku bahkan akan memberikan jadwal khusus untukmu, jadi kau bisa bimbingan skripsi denganku kapan pun kau mau. Hanya beri tahu saja aku sehari sebelumnya, jadi aku bisa mengosongkan jadwalku dulu."

"Woah~ kau serius? Meski itu akhir pekan, aku tetap boleh bimbingan skripsi denganmu?"

"Yup. Tapi setelahnya," Chanyeol mengerling nakal pada Baekhyun. "Kita pergi berkencan, oke?"

Tersenyum senang, Baekhyun pun mengangguk semangat. "CALL!" Dipeluknya kembali Chanyeol, lebih erat daripada sebelumnya. "Terima kasih banyak, Chanyeollie! Kau memang yang terbaik, hehe~"

"Sama-sama, Baekhyunnie." Chanyeol mengecup pucuk kepala Baekhyun.

"Ah, ada untungnya juga aku tidak siaran minggu ini. Selain tidak perlu khawatir stalker sialan itu akan muncul lagi, jam istirahatku bisa kugunakan untuk bimbingan skripsi denganmu di akhir pekan."

"Eh? Stalker?"

"Ya, stalker. Aku belum pernah cerita ya? Beberapa minggu ini ada pria berinisial 'Y' yang sering menelepon ke XOXO Radio, menanyakan ini-itu padaku. Yang paling aneh adalah dia tahu beberapa hal tentangku, seolah dia tinggal di dekatku dan memerhatikanku diam-diam."

Mendadak lidah Chanyeol tak bisa memproduksi kata-kata. Ia membeku di tempatnya, dengan mata bergerak gelisah dan dentuman jantung yang mengganggu kinerja otaknya. Baekhyun memang tidak menyadarinya, tapi itu tetap tak membuat Chanyeol tenang. Semua perkataan Baekhyun terus bergema di dalam kepalanya bagaikan sebuah ancaman.

Ancaman retaknya hubungan mereka.

"K–kau tahu siapa pria itu?" tanya Chanyeol was-was. Gelengan kepala Baekhyun menjadi jawaban.

"Aku tidak yakin, tapi sepertinya dia satu fakultas denganku. Dan jika didengar dari suaranya, kemungkinan besar dia lebih tua dariku."

S-H-I-T.

Chanyeol menelan paksa ludahnya. Tebakan Baekhyun benar-benar sangat dekat.

"Jujur, dia membuatku agak takut. Bahkan sampai detik ini, aku tidak tahu siapa pria itu sebenarnya. Itu sebabnya kusebut dia 'stalker'. Aih, memikirkannya saja sudah membuatku merinding!" Menoleh pada Chanyeol, Baekhyun tersenyum begitu manis. "Tapi untungnya ada kau di sampingku, jadi setidaknya aku bisa lebih tenang. Bukankah begitu, Chanyeol?"

DOUBLE SHIT.

Chanyeol mati kutu sekarang. Dalam hati, pria tinggi itu merutuki dirinya sendiri. Maksudnya, bagaimana mungkin ia lupa tentang identitasnya sebagai 'Y' dan sampai sekarang masih belum memberitahu Baekhyun soal ini? Lalu setelah perkataan Baekhyun barusan, bagaimana caranya ia bisa mengatakan hal yang sejujurnya pada Baekhyun? Pria mungil itu pasti marah sekali padanya kalau sampai tahu bahwa ialah si stalker berinisial 'Y' itu.

"Lain kali, kalau dia menelepon lagi, aku akan katakan bahwa kekasihku itu pria yang protektif. Siapa tahu kan setelah dia tahu aku punya kekasih, dia akan berhenti menggangguku?"

Chanyeol berusaha menarik senyum, sebisa mungkin terlihat natural. "Y–ya, kupikir juga begitu."

Apa yang harus dilakukannya?

TBC