We Love You, hyung..
.
Kim Tae Hyung-BTS,
Byun Baek Hyun-EXO (GS),
Park Chan Yeol-EXO,.
And other cast
(nama tokoh bisa berubah sebagaimana alur cerita)
.
.
EXO - BTS
.
Hari ini jadwal operasi untuk Seokjin tidak begitu padat karena ada dokter lain di rumah sakit yang bisa menggantikan jadwalnya jadi Seokjin bisa sedikit leluasa mengisi waktu luang meski hanya untuk berkeliling kota dengan mobil mewahnya dan kembali ke rumah sakit jika waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore.
Seokjin bisa termasuk sosok wanita yang sedikit royal mengingat segala barang yang ia gunakan selalu memiliki brand ternama. Tapi bukan berarti ia harus terus berada bersama petinggi elite dan makan di restaurant bintang lima.
Dalam fashion mungkin Seokjin sedikit pilih-pilih. Tapi tidak dengan makanan. Ia tidak segan memarkirkan mobil mewahnya untuk sekedar membeli jajanan di pinggir jalan. Meski dia seorang dokter, Seokjin tidak membantah jika rasa makanan di pinggir jalan lebih lezat daripada di restauran. Bukan berarti segala jajanan bisa ia beli begitu saja, tentu saja ia harus memilih jajanan yang tidak berbahaya untuknya.
Tapi kali ini Seokjin menunda keinginannya untuk jajan makanan khas Korea. Hari ini ia memilih mampir ke toko kue dan membeli beberapa kue dan roti. Untuk bekal di rumah sakit nanti karena kemungkinan ia akan bermalam di rumah sakit setelah mengetahui jadwal bedah disana.
Setelah membayar beberapa kue yang ia beli, Seokjin terdiam sejenak ketika akan keluar dari toko itu. Melalui dinding kaca itu ia melihat seseorang lewat tepat di depannya, seorang pria berpakaian rapih sedang berjalan di trotoar sambil menjinjing tas kertas dari sebuah toko souvenir.
Pria itu sangat gagah dan tampan. Ya cukup di akui setelah beberapa wanita lain yang berada disana sempat terdiam ketika pria itu lewat karena mereka mengira orang itu adalah seorang artis. Dan sampai sosok itu sudah menjauh pun Seokjin masih diam mematung di depan pintu kaca, sampai karyawan disana membantu membuka pintu kaca karena mengira Seokjin tidak dapat membuka pintu toko tersebut.
Seokjin yang tersadar langsung membungkuk terimakasih lalu keluar dan segera berjalan menuju mobilnya. Namun muncul sikap aneh dari Seokjin, wanita itu tidak dapat fokus. Terlihat saat ia hendak membuka pintu mobil, kunci mobilnya seolah tidak bisa masuk padahal hanya ada satu dan tidak mungkin bisa salah. Kegugupannya itu bertambah ketika kuenya jatuh ke jalan, beruntung karena setiap kue itu terbungkus plastik dan orang-orang sekitar membantu mengambilkan kue yang berhamburan di atas jalan dan membuka pintu mobil Seokjin.
Seokjin segera masuk dan duduk di kursi kemudi, mobil dan pendingin sudah di nyalakan namun entah kenapa ia merasa panas dan menjadi gelisah.
Orang tadi, benar-benar membuatnya tidak bisa bernafas dengan lancar. Jantungnya seakan berdebar begitu cepat dan perasaan gelisah menyusul kemudian. Lalu Seokjin menunduk dan menyender kan kepalanya ke setir mobil.
Bukan tanpa alasan. Sosok tadi benar-benar membuat Seokjin mengingat kembali ke belasan tahun yang lalu. Yang membuat hidupnya terpuruk dan Seokjin tidak akan pernah melupakan sosok itu.
.
We Love You, Hyung...
.
Kepulan asap tipis keluar dari mulut seorang anak muda yang berjalan di atas rel kereta. Tubuhnya berjalan gontai dengan langkah terseok dan wajahnya menunjukkan seakan ia sudah tidak memiliki semangat untuk menjalani hidup.
Kejadian satu jam yang lalu, tepatnya di sebuah kafe yang menjajakan kue manis dan kopi, anak itu yang semula ingin memberi kejutan namun kenyataannya justru ia yang balik terkejut.
"apakah kau pernah merasakan hidup terasingkan karena mengandung di saat kau masih menggunakan seragam SMA? Apakah kau pernah merasakan bagaimana kau bersembunyi dan hidup merana agar kau tidak di benci oleh keluargamu? Apakah kau merasakan sulitnya mencari pekerjaan karena di ketahui kau sudah memiliki anak di umur 20th lalu memalsukan identitasmu agar bisa mencari pekerjaan karena kau punya satu tanggungan? Apakah kau pernah merasakan sebuah tekanan karena harus kehilangan orang yang kau cintai dan bersusah-susah mencari uang agar anak-anakmu bisa terus merasakan duduk di bangku sekolah dan gizi mereka tercukupi sedangkan orang yang membuat orang yang kau cintai hidup lebih mudah dan tanpa beban sedikit pun karena masih memiliki ayahnya?"
Serangkaian kalimat itu terdengar jelas dan terucap dari seorang wanita yang sudah melahirkannya dan membuat Taehyung merasakan sesuatu yang teramat sakit tepat di bagian dadanya.
Bagaimana tidak, selama ini ibunya telah memendam rasa sakit akan dirinya dan berpura-pura seakan kehidupan dia baik-baik saja. Siapa anak yang tega ketika melihat jelas bagaimana rasa sakit itu menekan perasaan orang tuanya dan mereka justru menyembunyikan perasan sakit itu?
Selama ini, atau sejak ia lahir, ibunya selalu menyimpan rasa ego nya dan tidak pernah di tunjukkan. Hingga kematian ayah tirinya yang menjadi puncak sedalam apa rasa sakit yang di simpan. Bahkan ibunya harus menyimpan perasaan itu kembali ketika ia menginap berhari-hari di rumah ibu kandungnya. Bagaimana mungkin ibunya bisa menahan rasa sakit itu tanpa Taehyung sadari.
Pertanyaan yang selalu menggelayuti dalam hatinya pun akhirnya terjawab dan sudah sangat jelas. Lalu apakah Taehyung sekarang harus kembali ke rumah ibunya sementara ibunya ternyata tidak menyukai keberadaannya?
Lalu bagaimana dengan kehidupannya kini hingga seterusnya di saat dirinya sudah melukai perasaan ibunya sejak ia lahir? Apakah sekarang ia harus kembali ke rumah ibunya?
Taehyung tidak tahu. Ia terus mengikuti kemana kakinya berjalan sambil menghisap sebatang rokok yang sudah tersisa setengahnya.
Mengenai rokok yang sekarang entah kenapa bisa ia mencobanya, Setelah mendengar ucapan yang menyakitkan itu membuat Taehyung hancur dan bingung apa yang akan ia lakukan. Maka ketika melihat seorang dewasa yang tengah duduk santai sambil menghisap tembakau kering membuat Taehyung terbujuk dan akhirnya ia membelinya.
Dan seperti ini lah penampilan remaja yang akan mendekati usia dewasa ketika dalam fase cobaan berat datang mengujinya. Jaket yang menutupi kaosnya dan celana jeans. Di tambah sebatang rokok yang berada di antara bibirnya. Hanya itu yang menempel pada tubuhnya di saat cuaca dingin sedang melanda kota.
Setapak demi setapak langkah kakinya menginjak potongan kayu di antara ratusan batu kerikil dan besi dengan ukuran panjang dan meninggalkan jejak sepatu pada tumpukkan salju yang mulai menebal. Tubuhnya gontai di akibatkan suhu dingin yang menusuk di saat tubuhnya minim akan asupan nutrisi sejak siang hari.
Kemana kah ia akan pergi? Tidak ada jawaban.
Taehyung mengadahkan wajahnya ke depan, merasakan suhu udara dingin yang sengaja menyentuh permukaan wajahnya. Jalanan di depannya tampak berkabut. Hanya bayang gelap yang di buat oleh pohon-pohon besar di sepanjang jalan rel kereta.
Samar-samar ia mendengar sebuah suara asing yang membuat ia menolehkan wajahnya ke belakang dan terlihat tiga buah cahaya dari kejauhan. Jaraknya tidak begitu jauh, sekitar 100 meter namun cahaya itu terlihat begitu cepat berjalan mendekati. Apakah itu sosok malaikat? Malaikat yang akan membawanya pergi dari dunia yang pahit ini?
"Taehyung awas!"
Cahaya itu semakin mendekat dan juga melewatinya ketika tubuhnya terhempas ke daratan yang di penuhi batu kerikil sehingga membuat beberapa bagian tubuh yang tak tertutup mengeluarkan sedikit darah.
Tiga cahaya yang di ikuti rangkaian besi panjang dan besar dengan kecepatan cukup tinggi.
Taehyung menatap kosong meski wajahnya terlihat terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Apakah yang baru saja lewat itu adalah sebuah kereta cepat?
Sampai sebuah pukulan-pukulan kecil di bahunya menyadarkan segalanya. Taehyung menoleh ke samping dan mendapati seorang gadis juga ikut terduduk di atas kerikil.
"Apa kau gila? Kau ingin mati muda hah?!" Omel gadis itu sembari menepuk sikunya yang terasa sakit karena terkena kerikil kecil.
Taehyung masih belum mengerti, ia hanya sadar ketika dia sudah jatuh dan kereta cepat itu lewat di hadapannya.
"Aku sudah memanggilmu dari sana berkali-kali, bahkan masinis sudah menyalakan klakson berkali-kali tapi kau malah diam berdiri disana. Sebenarnya ada masalah apa sampai kau ingin mengakhiri hidupmu?!" tanya gadis itu lagi. Dengan nada yang cukup tinggi tentunya sampai membuat Taehyung terpaksa menutup matanya untuk menahan lengkingan suara yang berada tepat di samping telinganya.
Namun dalam sekejap, amarah yang sempat menyelimuti perasaan gadis itu mulai mereda dan perlahan menghilang. Ia juga mencoba mengatur nafasnya sebaik mungkin agar tetap tenang.
Kemudian ia melirik Taehyung yang masih menunduk menatap kerikil-kerikil di bawahnya tanpa minat. Dari wajahnya bisa di pastikan sesuatu yang buruk terjadi pada remaja laki-laki itu.
"Jika kau ada masalah, cerita lah, aku ke ibukota bukan berarti kita tidak bisa bercerita lagi. Aku tidak mau menyebut diriku malaikat, tapi apa jadinya jika tidak ada orang yang melihatmu dan menolongmu? Dan Jika kau pergi, bagaimana dengan ibu dan adik-adikmu, bagaimana jika mereka mendapat kabar bahwa kau sudah meninggalkan mereka untuk selama-lamanya? Apakah kau tidak tahu bagaimana perasaan keluargamu jika kehilanganmu?" sambungnya, namun kali ini gadis itu bertanya dengan suara yang lebih lembut.
Tapi bukan sebuah kalimat yang terlontar sebagai jawaban, justru sebuah tawa kecil yang terdengar hingga membuat dahi gadis itu mengerut dalam dan menatapnya heran.
"Tae?"
"Kehilanganku? Sepertinya itu bagus" ucapnya sambil tertawa mengejek.
"Kau kerasukan?. Sadarlah" tukas gadis itu yang tanpa di sadari ia mencoba mundur perlahan.
"Kehilanganku...apa peduli mereka jika kehilanganku? Seperti nya tidak ada" Taehyung bergumam, anak itu menatap langit yang sebentar lagi akan berubah senja.
"Kau memiliki masalah dengan keluargamu?" Gadis itu menatap lembut sekaligus prihatin "jika kau ada masalah dengan mereka, jangan seperti ini. Ini akan membuatmu tersiksa. Lagipula...tidak ada orang tua yang tidak peduli jika kehilangan anak-"
"APA URUSANMU?!" sentak Taehyung, ia mulai muak, dan emosinya tiba-tiba meledak, menatap gadis di sampingnya dengan tatapan penuh amarah karena dirasa seolah mengetahui dan merasakan segala rasa pahit dalam kehidupannya "Kau anak orang kaya dengan orang tua yang masih lengkap tidak tahu bagaimana rasanya hidup sendiri, melihat kedua orang tua berpisah, di tinggal orang yang kau sayangi, tidak tau bagaimana di benci orang yang kau cintai. ANAK MANJA SEPERTIMU TIDAK PERNAH MERASAKANNYA!"
Gadis itu terhenyak. Ia menatap penuh kejut sekaligus rasa takut menyelimuti dirinya ketika mendapat tatapan menyeramkan penuh amarah dan rasa intimidasi yang membuat tubuhnya seolah tak dapat bergerak.
Taehyung masih menatap tajam, kondisinya saat ini tidak dapat di jelaskan. Amarah, kecewa, sedih, takut dan sakit hati seakan berbaur dalam dirinya dalam satu waktu. Sampai sebuah air mata muncul dari balik kelopak matanya hingga akhirnya ia memilih untuk segera bangkit lalu segera berlalu tanpa mempedulikan gadis yang masih duduk diam terpaku disana.
.
-0-
.
Taehyung terus melangkah cepat bersama air mata yang keluar. Di antara langkahnya ia merasakan rasa sakit di dadanya sehingga terlihat kembang kempis dan ketika ia berjalan, perasaan emosinya itu perlahan mulai memudar dan mungkin akan menghilang namun terganti menjadi penyesalan.
Taehyung masih mengingat kejadian saat ia berjalan di rel dan hampir tertabrak kereta cepat. Namun bukan itu yang terus menghantui dirinya saat ini, melainkan ketika ia melampiaskan amarahnya pada orang yang tidak pernah menyakitinya. Justru yang menyelamatkannya.
Seperti di temani malaikat pelindung, Jungkook menyelamatkannya dari maut. Tapi Taehyung justru balik menyakitinya dengan melampiaskan seluruh emosinya pada gadis polos itu.
Taehyung meremas rambutnya dan mengacak asal penuh emosi. Bagaimana bisa ia dalam satu hari ini sudah menyakiti perasaan dua wanita yang ia sayangi?
Masalah dengan ibunya belum selesai dan sekarang ia harus berurusan dengan Jungkook. Bagaimana jika sikap Jungkook akan berbeda dan tidak ingin mengenal dirinya lagi? Taehyung menunduk pasrah .
Kali ini Taehyung benar-benar sangat bingung, menatap ke sekeliling di tengah jalanan yang sepi. Dia tidak tersesat, dia masih tahu dimana ia berada, tapi dia hanya bingung harus kemanakah ia sekarang. Apakah ke rumah ibunya? Apakah yakin jika ibunya masih menerima setelah Taehyung mengetahui apa yang ada di dalam benak ibunya? Atau ke rumah ayahnya? Bagaimana jika ayahnya nanti marah dan akhirnya kedua orang tua kandungnya bertengkar?
Taehyung merasa putus asa. Ia menjatuhkan bokongnya ke sisi trotoar yang di selimuti salju. Lalu memandang jalanan sekitar yang sudah mulai sepi. Hanya ada dirinya yang tersisa di tempat ini. Ia kesepian.
Taehyung menekuk kedua lututnya, lalu menutup wajahnya di atas kedua tangan yang di topang di atas lututnya. Merasakan hawa hangat yang keluar dari mulutnya di saat suhu udara malam yang begitu terasa dingin.
Kenapa dunia begitu kejam padanya? Apakah salah jika dia lahir ke dunia? Jika pada akhirnya keadaan akan seperti ini, Taehyung tidak keberatan jika dulu ibunya melenyapkannya sebelum lahir.
Tapi kepahitan itu sedikit berkurang ketika seseorang mencoba menepuk bahunya. Taehyung mendongak dan mendapati sahabat dekatnya membungkuk di sampingnya sambil memandang dengan wajah bingung.
"Jimin"
"Apa yang kau lakukan? Kau ingin sakit? Bangun" Jimin menarik lengan Taehyung dan membantunya berdiri. Ia juga tak segan membersihkan salju yang menempel pada bokong sahabatnya itu. "Sekarang musim dingin dan salju terus turun, kenapa kau menggunakan pakaian seperti ini? Ada apa denganmu?"
"Maaf" ucap Taehyung sungkan.
Jimin menyernyit, tiba-tiba ia menggerakkan hidungnya dan mengusaknya "kau merokok? Kenapa bau asap dan seperti..."
"Maafkan aku" Taehyung menunduk dalam. Tiba-tiba ia takut jika sahabatnya itu akan menghajarnya.
Namun yang terjadi hanya terdengar helaan nafas dari Jimin. Kemudian Jimin menepuk bahu Taehyung lalu merangkulnya.
"Ayo kita bicara. Ada kedai ramen yang baru buka, rasanya juga lumayan. Ayo"
.
-0-
.
Di sebuah kedai ramen kedua remaja itu duduk dan menyantap semangkuk ramen hangat. Jimin menatap Taehyung yang sedang menyantap toping ramen begitu lahap. Ia tersenyum karena sahabatnya itu memiliki nafsu makan yang baik. Bahkan ini adalah mangkuk yang kedua yang sedang di nikmati Taehyung.
Usai menyeruput kuah terakhir, Taehyung segera mengambil segelas air mineral dan menghabiskannya hanya dalam beberapa tegukan saja. Setelah itu ia mengusap bibirnya dengan ujung lengan jaketnya.
"Sudah lebih baik?"
Taehyung mengangguk malu, karena sejak tadi dia hanya menunduk dan enggan memperlihatkan wajahnya. Malu karena Jimin terlalu banyak mengetahui permasalahan yang sedang di hadapi Taehyung dan mirisnya juga sudah mengetahui bahwa Taehyung sudah berani merokok walau sebenarnya Taehyung tidak ada niatan untuk menjadi seorang perokok hanya karena masalah hidup.
"Ceritalah, aku mungkin tidak bisa memberi saran yang baik, tapi setidaknya aku mau mendengarkan masalahmu" ucap Jimin lembut.
Tawaran yang cukup baik jika Taehyung menoleh ke waktu belakangan ini. Seperti masalah yang baru saja di hadapinya, menyakiti dua wanita sekaligus.
Taehyung menatap mangkok kosong yang ada di hadapannya. Ia berpikir sejenak, Apakah ia harus bercerita kembali mengenai masalah dirinya dan ibunya? Belum lagi dengan sikap impulsif nya kepada Jungkook yang tidak tahu permasalahannya.
Mungkin Taehyung akan sedikit menceritakan namun tidak pada topik utama. Dan mungkin juga Jimin bisa memberi sedikit saran.
"Apakah kau pernah patah hati?"
Jimin terbelalak, pikirnya bahwa saat ini Taehyung sedang menyukai seorang wanita "aku tidak tahu kau sudah puber" ucapnya dengan nada meledek.
"Ishh aku serius"
Jimin mencoba menahan rona merah di wajahnya karena tak kuat menahan humornya akan kondisi sahabatnya saat ini. Baiklah, mungkin dia jahat pada detik ini, tapi sungguh jika mengetahui kata patah hati di lontarkan oleh remaja yang jarang berdekatan dengan wanita adalah sebuah moment yang amat langka.
Lalu Jimin mencoba bersikap santai, menegakkan tubuhnya lalu mengambil segelas berisi teh hangat dan meneguknya.
"Jika aku patah hati, maka aku akan pergi" ucapnya pelan dengan jeda yang begitu jelas.
Taehyung menoleh dengan wajah bingung. Lalu ia kembali menatap mangkuk kosongnya seolah sedang berfikir.
"Patah hati, seseorang sudah mematahkan hati kita, lalu untuk apa kita tetap bersamanya? Apakah menunggu hati kita menjadi hancur? Aku memilih pergi dan mencari yang bisa mengembalikan bentuk hatiku walau tidak seperti dulu"
'APA URUSANMU?! Kau anak orang kaya dengan orang tua yang masih lengkap tidak tahu bagaimana rasanya hidup sendiri, melihat kedua orang tua berpisah, di tinggal orang yang kau sayangi, tidak tau bagaimana di benci orang yang kau cintai. ANAK MANJA SEPERTIMU TIDAK PERNAH MERASAKANNYA!"
Suara itu masih terngiang jelas di telinga Jungkook. Setiap kata itu terdengar, maka air matanya lolos dan jatuh membasahi wajahnya. Tidak aneh jika sekarang mata gadis itu sedikit atau mungkin terlihat bengkak.
Dia memang belum pernah di marahi sekeras itu, wajar jika Jungkook merasa takut dan akhirnya ia menangis. Tapi Jungkook tidak menyangka jika orang yang melakukan itu adalah orang yang sudah cukup lama ia sukai.
Taehyung, sejak awal Jungkook melihatnya, ia merasa sesuatu berdesir pada hatinya, orang asing pertama yang mengagumi karyanya dan membuat gadis itu jatuh hati, namun sekarang justru menghancurkan hatinya.
'Kau tidak tau bagaimana di benci orang yang kau cintai'
Kalimat itu terus saja berputar di pikirannya. Tidak pernah di benci orang yang kita cintai. Apakah itu benar?
Jungkook yang saat itu berjalan di tengah malam sendirian menghentikan langkah kakinya ketika berada di sebuah toko kue. Kue-kue cantik itu terpajang di dalam lemari kaca seolah sedang menghibur dirinya yang sedang patah hati dan mengajaknya untuk mampir sejenak. Dan Jungkook menurut.
Gadis itu masuk ke dalam toko kue, melihat bagaimana kue itu terhias memanjakan mata pengunjung. Lalu pandangan mata Jungkook terhenti pada sebuah kue dengan warna putih dan merah muda yang mendominasi. Dengan ukuran yang tidak terlalu besar dan hiasan permen berbentuk kelinci.
"Kau mau membeli kue itu?" tanya pemilik toko yang memperhatikan Jungkook dan mendekatinya.
Jungkook menoleh, lalu ia melihat kue itu lagi dan kemudian ia mengangguk "aku mau beli satu"
Taehyung kembali ke rumah pukul 10 malam, tentu saja keadaan rumah sudah sepi. Mungkin ketiga adiknya sudah tidur karena keadaan di dalam rumahnya tampak gelap.
Meski ia pulang terlambat, Taehyung tetap bersikap santai seperti biasa. Seperti tidak ada rasa bersalah sama sekali walau sudah berani pulang terlambat. Karena ia yakin ibunya tidak akan memarahinya, ya mungkin saja setelah Taehyung sudah mengetahui apa yang sebenarnya di rasakan ibu kandung padanya.
Taehyung melangkahkan kakinya menuju tangga, namun sebelum menuju tangga itu ia harus melewati bagian dapur dan pada malam itu lampu di dapur masih terlihat menyala. Dan ternyata ibunya masih berkutat dengan pekerjaan barunya.
Meski sebenarnya Taehyung melewati meja makan dan seharunya terlihat juga oleh ibunya, namun tidak ada tanda-tanda suara yang akan memanggil diirnya. Taehyung hanya menyunggingkan bibirnya. Dugaannya benar, bahwa ibunya tidak akan mempedulikannya.
.
We Love You, Hyung...
.
Seokjin merasa ia dalam kondisi psikis yang kurang baik hari ini. Orang itu, yang ia lihat tepat di depan matanya, setelah menghilang belasan tahun kini muncul kembali. Kenangan pahit yang belum hilang dan masih teringat sampai saat ini tapi ternyata orang itu lewat di hadapannya. Sungguh sebuah mimpi buruk baginya.
Selama satu hari ini ia tidak keluar dari ruangannya. Seokjin memberi tahu pada perawat di rumah sakit bahwa ia cuti dalam beberapa hari dan perintahnya adalah mutlak. Ia ingin menenangkan diri dari siapapun. Melenyapkan perasaan takut dan benci itu.
Seokjin menenggelamkan kembali wajahnya di atas kedua lengan yang di lipat di atas meja untuk menghalau air matanya agar tidak keluar.
Hingga seseorang datang ke dalam ruangannya, suara engsel pintu itu membuat Seokjin mengangkat wajahnya dan menegakkan tubuhnya. Anak itu datang lagi, gumamnya dalam hati.
Dia, Jungkook masuk ke dalam sambil membawa sebuah kotak di antara kedua tangannya. Sebelumnya Jungkook sudah mengetuk namun sengaja tidak Seokjin hiraukan.
Gadis itu masuk dengan langkah pelan dan senyum dari bibir tipis merahnya menghiasi wajahnya sekaligus menutupi perasaan gugupnya saat itu. Karena merasa tidak ada penolakan, maka Jungkook terus berjalan mendekati Seokjin yang sedang duduk dan menatapnya darisana.
Tidak ada ekspresi apapun yang di tunjukan, wanita itu hanya melihat seorang gadis masih dengan seragamnya masuk ke dalam sambil membawa sebuah kotak berukuran sedang dan berjalan ke arahnya.
Lalu dengan perlahan Jungkook mengambil duduk di kursi depan Seokjin, kini mereka hanya di batasi oleh sebuah meja. Kemudian Jungkook pun membuka kotak itu dan mengeluarkan sebuah kue dari dalam kotak.
Seokjin hanya menyaksikan apa yang sedang di lakukan Jungkook, tanpa berkata apapun. Menunggu apa yang akan di lakukan oleh gadis itu.
"Hari ini...hari spesial untuk seluruh ibu yang ada di bumi" Jungkook memulai percakapan. Dengan hati-hati ia meletakan kue itu di atas kotak dan menunjukkan kue yang cantik itu pada Seokjin. "aku...ingin mengucapkan, selamat hari ibu, untuk ibu" sambungnya di sertai sebuah senyuman.
Seokjin sendiri tidak bereaksi apapun. Ia hanya terus menatap dingin Jungkook di hadapannya tanpa mempedulikan sebuah kue dengan hiasan yang begitu apik.
Jungkook sendiri tahu sebenarnya Seokjin, wanita yang telah membuatnya lahir dan melihat dunia, tidak menyukai keberadaannya disini. Tapi mengingat akhir-akhir ini sikap ibu kandungnya yang mulai peduli dengan kondisinya membuat Jungkook merasa bahwa ibunya mulai menerimanya, seperti waktu Jungkook pingsan di stasiun dan itu pertama kalinya ia bertemu dengan Taehyung, ibu angkatnya, Yixing, diam-diam mengatakan bahwa ibu kandung nya, Seokjin, yang langsung menjemput ke ibu kota dan menangani orang-orang yang menjadi korban kecerobohan Jungkook, termasuk Jungkook sendiri, namun Seokjin tidak bicara apapun dan bersikap dingin seperti biasa, mungkin butuh waktu untuk dapat membuka hati sepenuhnya.
Jungkook menatap wajah ibunya yang lama ia kagumi. Banyak yang bilang bahwa wajah cantik Jungkook menurun dari Seokjin. Termasuk ibu angkatnya, Yixing yang mengatakan bahwa Jungkook bisa menjadi seorang idol atau model, tapi ayah angkatnya Junmyeon lebih memilih agar Jungkook menjadi seorang dokter demi kemanusiaan ketimbang menjadi orang terkenal untuk memamerkan tubuh indahnya . Junmyeon tidak mau gadis kecil yang sudah ia rawat sejak bayi harus menjadi bulan-bulanan komentar jahat atau sekedar penyalur bayangan untuk memuaskan nafsu para bajingan di luar sana. Dan ibu angkatnya sering mengatakan bahwa Seokjin selalu menurut apa yang di perintahkan oleh Junmyeon dan biaya pendidikan Jungkook selama ini juga berasal dari hasil kerja keras Seokjin.
Maka dari itu Jungkook selalu beranggapan bahwa ibu kandungnya itu masih malu untuk dekat dengannya, jadi disini lah Jungkook mulai memberanikan diri untuk berbicara dengannya.
"Ibu, ada harapan yang ingin ibu sampaikan?" tanya Jungkook dengan suara lembutnya. Masih menunggu respon dari ibu yang sangat ia cintai.
Sayangnya keinginan Jungkook untuk berbincang dengan ibu kandungnya untuk pertama kali, atau respon positif dari ibunya dengan apa yang ia bawa harus Jungkook kubur dalam-dalam.
Dengan suara pelan Seokjin berucap "pergi, dan jangan-pernah-muncul-di hadapanku-lagi" dengan intonasi dan pengucapan yang begitu dalam dan jelas, di lanjutkan dengan sikap Seokjin yang berdiri secara tiba-tiba.
Tanpa aba-aba Seokjin mendorong dan menyingkirkan kue itu dengan tangannya sehingga membuat kue cantik itu kini hancur tak berbentuk di atas lantai. Lalu ia mengambil tasnya tidak peduli tasnya itu mengenai tubuh Jungkook dan pergi meninggalkan ruangannya.
Jungkook terdiam mematung. Perasaan terkejutnya membuat ia tidak bisa berbicara.
"Pergi dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi"
Kalimat itu terdengar jelas di telinga Jungkook meski dengan suara pelan. Gadis itu melirik pelan ke lantai dan melihat betapa mirisnya kue yang cantik menjadi hancur dalam sekejap.
Jungkook mencoba turun dari kursinya, dengan tangan bergetar ia mencoba meraih kotak kue tersebut, lalu memungut potongan kue yang hancur dengan tangan kosong.
"Pergi...pergi...pergi" kata itu terus terucap pada bibirnya saat mengambil setiap potongan kue dan memasukannya ke dalam kotak.
Tangannya terus membersihkan lantai itu tanpa bantuan kain lap atau sekedar tisu dan tanpa mempedulikan air matanya keluar begitu banyak dan menghalangi pandangan matanya.
"Jangan...pernah...hiks, jangan pernah...muncul" Jungkook membersihkan tangannya dengan rok sekolahnya yang bersih. Lalu ia mencoba bangkit dan berdiri, mencoba melangkah untuk membuang kue yang hancur itu, tanpa mempedulikan hatinya yang lebih hancur atau mungkin sudah tidak berbentuk.
.
We Love You, Hyung...
.
"Hyungg ayo bangun..."
"Hyung ini sudah siang..."
"Hyunggg..."
Suara itu saling bersahutan tanpa jeda di tambahi dengan tangan kecil mereka yang berusaha menggoyangkan tubuh besar kakaknya yang masih terbaring di atas tempat tidur.
Taehyung tentu tahu siapa para pelaku kecil yang mengganggu tidurnya. Ia hanya membuka sedikit matanya lalu merubah posisi wajah ke arah lain.
"Hyung! Mana kue nya?! Kemarin hyung janji mau pulang cepat dan memberi kejutan untuk ibu. Sampai kami tidur hyung belum juga pulang. Sekarang mana kuenya...?"
Ah ya! Taehyung baru ingat. Kemarin kedua adiknya menitipkan uang dan meminta untuk membelikan kue untuk ibu di hari ibu. Tapi ketika ia ke pusat kota dan mampir ke sebuah kedai untuk mengisi perut, Taehyung tidak sengaja melihat ibunya dan bibi Kim sedang bersama.
Awalnya Taehyung yang berniat ingin memberikan kejutan justru ia yang terkejut dengan apa yang di ucapkan ibunya, hingga akhirnya Taehyung lupa dengan titipan adik-adiknya karena perasaannya yang sudah luluh lantak.
Taehyung menoleh dan menatap kedua adiknya secara bergantian.
"Hyung lupa"
Jesper melebarkan kedua bola matanya "lupa?! Kenapa bisa lupa, hyung?!
"Karena hyung manusia" sahut Taehyung begitu santai.
"Hyuuungggg..." kedua adiknya merengek kesal.
Taehyung memejam matanya mencoba bersabar "Baiklah baiklah. Hyung minta maaf. hyung beli kuenya sekarang. Kalian keluar lah, dan bantu ibu bersihkan rumah"
"Ayay captain!"
Layaknya seperti idola yang di puja, kedua adiknya yang semua kesal dengan kakaknya kini justru patuh dan menuruti perintah Taehyung. Tanpa aba-aba kedua anak kecil itu langsung beranjak dari kamar Taehyung dan entah menuju kemana, Taehyung tidak peduli.
Anak muda itu kembali merebahkan tubuhnya dan sedikit terpejam. Jujur kali ini semua semangat yang ingin di lakukan untuk keluarganya seakan telah berkurang. Perasaan sakit dan kecewa itu membuat perasaan sayang pada adik dan juga ibunya seolah pudar.
Tapi kedua adiknya masih begitu menyayanginya, terlihat dari bagaimana mereka menurut dengan apa yang di perintahkan olehnya. Mereka masih kecil dan mereka tidak tahu, tentu saja. Taehyung tidak bisa menyalahkan adik-adiknya karena mendapat bahkan mengalihkan perasaan ibu darinya.
Taehyung akhirnya bangun dan duduk di atas tempat tidurnya. Taehyung ingat dengan perkataan adiknya yang ingin memberikan hadiah untuk ibu, mereka tidak ingin hanya memberikan kue saja. Mereka juga ingin memberikan sesuatu dan Taehyung juga harus mengikuti apa yang di pinta adiknya.
Namun Taehyung bingung apa yang harus ia berikan karena ia tidak memiliki banyak waktu untuk membeli sesuatu. Lalu ia hanya Memandang suasana kamar yang sudah di tempati selama belasan tahun sampai sorot matanya berhenti pada suatu benda.
.
-0-
.
"Aku pulang"
Taehyung sudah membeli kue dari toko yang jaraknya terlalu jauh setelah melawan rasa malas demi melihat kebahagiaan adik-adiknya.
Anak itu langsung duduk di dekat meja penghangat dan membuka kotak kue dengan hati-hati.
Tak lama Jesper datang sambil menuntun Jiwon yang sudah bisa berjalan. Mendengar suara kakaknya datang langsung membuatnya bergegas ke ruang keluarga bersama wajah girang tak sabar. Begitu juga Jiwon yang berjalan cepat meski langkah kakinya belum menapak dengan baik.
Taehyung yang melihat itu tersenyum gemas, belum lagi saat Jiwon langsung menghampiri dan duduk di pangkuannya lalu menyender seolah tubuh Taehyung seperti sebuah kursi.
Namun senyum Taehyung perlahan memudar ketika Jackson datang sambil menarik seseorang dari tempat lain. Jackson terus menarik tangan sang ibu yang masih ada sisa tepung dan lelehan coklat di salah satu jarinya menandakan putranya itu antusias terhadap sesuatu hingga membuat sang ibu penasaran.
Tapi tidak hanya Taehyung saja yang memasang wajah datar. Ibunya, Baekhyun langsung berubah dingin saat sudah berada di ruang keluarga. Taehyung melihat betul perubahan wajah itu.
"Ibu ayo duduk" Jackson menepuk tempat kosong di sampingnya.
Perintah itu langsung di sambut dengan senyuman melihat sikap anaknya yang menggemaskan. Baekhyun menaikkan salah satu alisnya ketika melihat ada sebuah kue di atas meja.
"Wow kue? Siapa yang ulang tahun? Sepertinya tidak ada putra ibu yang berulang tahun hari ini"
"Ini bukan kue ulang tahun, ibu. Tapi kue untuk hari ibu" ujar Jesper memberitahu.
Mendengar itu langsung muncul sebuah senyuman hangat dan tatapan penuh haru terhadap putra-putranya. Memang Baekhyun tidak peduli apa itu hari ibu, hari ibu bukan sebuah perayaan karena tentu saja ibu tidak muncul sehari dalam setahun. Lagipula hari ibu sudah lewat beberapa hari yang lalu, tapi yang membuat Baekhyun terharu adalah rasa cinta yang di tunjukkan oleh putra-putranya terhadap dirinya dengan membuat moment yang mungkin akan sulit terjadi di kemudian hari.
"Ibu ini kado-kado dari kami. Ayo buka sekarang"
Masih belum pudar perasaan haru nya, kini senyum Baekhyun merekah saat Jackson memindahkan kotak kado yang berjumlah tiga itu tepat di hadapannya.
Wanita itu memasang wajah bingung seolah penasaran dengan apa yang di berikan oleh anak-anaknya. Ia akhirnya mengambil salah satu lalu membukanya dengan hati-hati.
"Kenapa ini seperti ulang tahun harus ada kue dan hadiah?" Gumam Baekhyun di sertai tawa kecil.
Hadiah yang di buka paling pertama adalah hadiah dari Jackson. Terlihat dari tulisan dengan warna berbeda di setiap kata, khas seperti tulisan anak kecil pada umumnya.
Pada kertas yang di gulung itu bertuliskan "selamat hari ibu, ibu ku yang selalu cantik. Perhatikan kami, jangan kue terus. Aku sayang ibu" di sertai dengan coretan gambar keluarga lengkap dengan sang ayah.
Baekhyun melirik putranya yang duduk tepat di sebelahnya. Menatap jahil pada putra yang memiliki paras begitu mirip dengan mendiang suaminya. "Jadi Jackie cemburu dengan kue buatan ibu?"
Jackson menggeleng "tidak, mereka mudah hancur saat di siram susu dan Jackie tidak. Jackie tidak cemburu"
"Lalu?"
"Jackie hanya ingin melihat ibu duduk dan bersantai dengan kami. Jackie tidak mau ibu cepat sakit nanti"
Baekhyun tersenyum lalu memegang kedua pipi berisi berwarna merah muda itu dengan kedua tangannya. Ia mendekatkan wajahnya dan menempelkan hidungnya dengan ujung hidung putranya begitu gemas.
"Baik, ibu akan coba mengurangi perhatian ibu pada kue-kue kecil itu. Oke?"
Jackson mengangguk menyahut lalu tersenyum lebar karena ibunya mau mendengarkannya.
Setelah itu Baekhyun kembali menegakkan tubuhnya dan melihat hadiah yang sudah menanti untuk di buka.
Ia mengambil salah satu kado berbentuk persegi dengan ukuran yang lebih besar. Kemudian Baekhyun membukanya dan tampak sebuah kreasi bunga yang terbuat dari kertas di dalam sebuah figura dengan tulisan "Mom" yang berada di tengahnya.
"Aku membuatnya minggu kemarin saat pelajaran seni rupa, apakah bagus ibu?" tanya Jesper yang tampak segan. Anak itu merasa hadiahnya tidak begitu bagus setelah melihat karya teman sekelasnya yang lain.
Bentuknya memang tidak rapih, namun untuk seusia Jesper karya seni rupa ini cukup mengagumkan terutama bagi Baekhyun sebagai ibunya.
"Ini sangat bagus sayang. Kau belajar sangat baik" sahut Baekhyun tidak lupa ia mengusap kepala Jesper yang duduk di seberang tepat di hadapannya.
'ditt ditt ditt'
Baekhyun menoleh, ia ingat bahwa ia sedang membuat kue pesanan. Wanita itu segera bangkit dari tempat duduknya. Namun sebelum ia pergi ia menyempatkan untuk memotong kue yang di beli anak-anaknya mengantisipasi teriakan kecil saling bersahutan karena ingin mencicipi kue cantik itu.
Setelah itu Baekhyun bergegas ke dapur, mengabaikan satu hadiah yang tersisa yang padahal sudah di nanti oleh si pemberi.
*to be continued*
