Disclaimer : Touken Ranbu © DMM & Nitro+
Warning : Typo, OOC, OC, headcanon author, interpretasi sejarah dengan referensi seadanya.
Chapter 17: Gali Tanah Cari Emas Sampai Jam 3 Pagi
1626, tahun ketika menara utama yang kedua Kastil Osaka selesai dibangun.
Skenario terburuk jika mereka harus berada di atas tanah dan bertemu dengan orang lain adalah menyamar sebagai para buruh yang dipanggil untuk membawa bahan bangunan kastil.
Tentu saja setelah melepas topeng khusus yang ia pakai.
"Pakai itu untuk apa, shukun?"
Tangan sang saniwa bergerak membenahi letak topeng di wajahnya saat Akita bertanya.
"Jaga-jaga, siapa tahu ada gas aneh atau semacamnya." Jawab sang saniwa. "Dan tadi itu… kenapa bisa ada manusia lain di sini…"
Akita hanya bisa menggaruk kepala, "memang aneh, tapi tidak banyak. Apa mereka juga mencari emas?"
"Bisa jadi."
Lokasi misi kali ini bukan area yang unggul untuknya.
Karena itu, informasi yang dikumpulkan sebagai persiapan membutuhkan waktu lebih lama. Ia sudah membuka banyak forum diskusi para saniwa dan rapat video call dadakan, hingga satu ruangannya nyaris penuh dengan hologram di segala penjuru.
Ada beberapa kata kunci. Yang paling banyak muncul adalah 'emas' atau 'koban'- sebuah hal yang semakin membuatnya bingung sampai melihatnya sendiri saat turun lapangan.
Kesimpulan dan beberapa poin penting ia kumpulkan. Barulah sang saniwa memberi rapat kecil pada para toudanshi yang ia pilih untuk misi di bawah Kastil Osaka.
Mereka baru satu jam menyusuri lorong tanah ditopang rangka kayu. Mata mereka semua, termasuk sang saniwa, mulai menyesuaikan diri dengan cahaya temaram lilin.
Sang saniwa berdeham.
"Oke, kita di lantai 50. Briefing ulang."
"Jalan terus sampai bertemu bos musuh yang menghalangi tangga turun, kalahkan baru bisa lanjut!" Jawab Aizen cepat.
"Kalau, amit-amit, kita terpencar?"
"Langsung kembali ke titik awal kita di area sumur Kinmeisui!" Imanotsurugi menahan diri untuk tidak meloncat. Rambutnya masih berantakan gara-gara bertemu langit-langit terowongan saat berjingkrak penuh antusias.
"Aruji, kalau berbicara seperti itu, biasanya malah akan kejadian." Gumam Sayo.
"Tidak. Akan lebih lucu," Yagen bergumam, "kalau langit-langit terowongan ini runtuh, lalu air di parit luar—"
"Hei, kita akan tambah pekerjaan kalau itu terjadi."
"...Hm. Benar juga."
Yamanbagiri Kunihiro semakin sering menghela napas. Horikawa Kunihiro hanya tertawa kecil melihatnya.
"Kyoudai, kenapa kau malah tertawa…"
"Ah, karena kalau suasananya seperti ini, jadi lega melihat aruji ceria seperti biasa."
Sang uchigatana mau tak mau mengakui apa yang dikatakan saudaranya. Dalam hati, tentu saja. Setelah beberapa kejadian kemarin, rasanya apa yang mereka lakukan sekarang terasa seperti misi biasa.
Tapi...
"Hei, apa kita benar-benar harus ke lantai 100?"
Uchigatana itu memelankan suara dan bertanya. Posisinya dan sang saniwa ada di barisan akhir, menyerahkan pada para tantou untuk bergantian memeriksa setiap belokan terowongan.
"Dari informasi yang kau kumpulkan, ada yang melihat toudanshi tak dikenal di lantai 50. Kenapa kita harus ke lantai paling bawah?" Yamanbagiri Kunihiro melanjutkan pertanyaannya.
Salah satu informasi yang paling banyak beredar dari setiap saniwa adalah kemunculan seorang toudanshi baru— belum ada data lengkap dalam database mereka. Beberapa yang mencapai lantai 50 juga mengkonfirmasi hal tersebut.
"Aku tahu." Balas sang saniwa."Kalau sudah sampai sana saja baru aku lihat kita perlu lanjut atau tidak."
Ada sesuatu dalam nada sang saniwa yang membuat Yamanbagiri mengernyit. Mengingat perempuan ini kadang punya alasan tak terduga…
Ah, benar juga.
"Emas ya?"
Sang saniwa berdeham, bersyukur karena ekspresinya tersembunyi dibalik topeng.
"Jahat banget sih kamu. Bukan soal koban."
Yamanbagiri Kunihiro mengeluarkan suara 'hmm' datar.
"Lagi pula, emas yang kudapat di sini tidak bisa terpakai di—"
Gemuruh teredam membuat Aizen yang berjalan paling depan membuat gestur agar mereka semua berhenti.
"Aruji, apa ada sesuatu di hologram?" Tanya Aizen.
Layar kotak transparan muncul di samping lengan, sang saniwa menatap enam titik merah yang berjalan menjauh dari mereka.
"Mereka bergerak dan ada dua titik lain di depan mereka."
Tanpa perlu aba-aba, mereka semua mulai berlari. Tak ada belokan sama sekali, langkah kaki semua orang semakin cepat. Sang saniwa bisa merasakan napasnya memberat dibalik topeng.
Siluet yang juga berlari di depan mereka perlahan terlihat. Lalu, sepasang mata merah membara tiba-tiba berbalik ke arah mereka.
"Manba denganku. Yang lain, tolong ya."
Sang uchigatana tak perlu menghalau bilah pedang yang datang ke arah dirinya dan sang saniwa. Bilah Akita Toushirou sudah bertemu bilah wakizashi musuh, mendorongnya ke arah lain dan memberi jalan agar sang saniwa dapat lewat.
Yamanbagiri Kunihiro melirik ke arah hologram tadi sesaat sebelum benda itu menghilang.
"Siapa itu?"
"Yang satu sih toudanshi, yang satu lagi…."
.
.
Tangan Aguri bergetar hebat.
Selama perjalanan menuju ke tempat ini, ia hanya membayangkan rupa benda berkilau yang dapat ia pakai untuk mendapat makanan, juga kain.
Koban, para orang dewasa menyebutnya. Uang. Benda yang digunakan agar mereka bisa mendapat beras untuk dibuat nasi. Emas. Ia hanya pernah melihatnya satu kali, sebelum dipaksa menyingkir dari tengah jalan dan menunduk seperti semua orang lain saat seorang putri keluarga daimyou naik dalam tandu berkilau melewati pasar.
Dengan benda itu Aguri bisa membeli beberapa gantang beras. Mungkin juga beberapa mainan untuk adiknya. Kalau rumor yang ia dengar dari para tetangganya saat bekerja di sawah itu benar, mungkin ia bisa dapat lebih banyak lagi.
Oh, ia sangat berharap rumor itu benar.
Dan sekarang, karena ia hanya berpikir mengenai uang yang akan ia temukan, Aguri sampai melupakan satu hal lagi. Desas-desus yang bercampur dalam isi rumor itu.
Tarikan pelan dari orang yang menggenggam tangannya membuat Aguri memekik kecil.
"Kamu masih bisa lari kan?"
Aguri yang sudah pucat pasi hanya bisa menjawab dengan anggukan kepala.
Anak laki-laki yang berbicara kepadanya kelewat ceria dalam keadaan ini. Tinggi mereka sama, namun anak itu terlihat lebih sehat, mungkin ia selalu bisa makan setiap hari? Rambutnya berwarna sama seperti benda yang ia cari, ada benda merah aneh yang dipakai di matanya.
Anak itu juga bisa memakai pedang seperti orang berada, membawanya keluar dari kejaran para oni. Monster betulan, bukan yang diceritakan kepada anak-anak desa agar mereka pulang cepat setelah bantu kerja di sawah. Jadi, anak ini, pasti dari keluarga samurai dan sangat pintar. Tidak seperti Aguri.
Mungkin dia tahu letak harta karun yang ada di rumor…?
Kiri-kanan mereka masih tembok tanah. Hanya ada pilihan ke depan atau belakang, sampai mereka sampai di sebuah belokan. Tak ada tanda-tanda monster lagi.
Mengikuti posisi anak laki-laki itu dengan menempel di dinding terowongan, Aguri sibuk mengatur napas. Anak laki-laki itu sendiri memeriksa jalan di depan dan belakang mereka sebelum menghela napas lega.
"Sudah aman, yah, untuk saat ini."
Aguri baru menemukan suaranya kembali setelah mereka berjalan dalam diam beberapa saat.
"Apa… Apa kamu juga mencari harta karun itu…?"
Anak itu berhenti mendadak.
"Hah?"
Anak itu mendesis balik. Ekspresi awal seakan tak mengerti kenapa Aguri menanyakan hal itu, sebelum tampak menyadari sesuatu.
"...Apa itu sebabnya banyak orang datang ke sini? Mencari harta karun? Kamu juga?"
"Iya…"
"Sebentar. Dari mana kamu dengar cerita kayak gitu?"
"Dari tetanggaku... Di pasar juga… Semua orang membicarakan hal itu." Aguri mengernyit. "Kamu bukannya juga mencari harta karun?"
"Nggak tuh? Aku… tinggal di sini?"
Tampak tak mendengar nada bertanya yang diberikan dalam jawaban anak itu, Aguri menganga, mendapat kesimpulan terburuk dalam otaknya.
"Tinggal di sini— Berarti anda dari keluarga daimyou?!" Seketika itu juga Aguri menjadi pucat. "Maafkan saya, tuan! saya—!"
"Ssh! Ssh!"
Anak itu nyaris menutup mulut Aguri. Setelah Aguri akhirnya berhenti untuk berbicara, barulah anak laki-laki itu melepas tangannya.
"Aku, err… bukan dari keluarga daimyou, samurai— atau semacamnya!" Anak itu berkata cepat-cepat. "Pokoknya, aku sudah ada di sini cukup lama, makanya aku bilang gitu!"
Lalu anak itu menghela napas sambil membetulkan letak benda aneh yang bertengger di depan matanya.
"Jadi kamu nggak perlu minta maaf atau apa pun itu."
"...Benarkah?"
"Ya."
Anak berambut kuning itu mengangguk serius dan mengulurkan tangan kanannya, jari kelingking di arahkan pada Aguri. Anak perempuan itu mengigit bibir, menimbang resiko pergi sendirian atau mempercayai kata-kata anak itu. Dapat pergi pulang dengan membawa satu batang koban saja ia sudah bersyukur. Hal itu hanya dapat ia lakukan dengan anak yang sepertinya kenal betul daerah bawah tanah kastil ini...
Jari kelingking saling terkait.
"Baiklah." Rasa takut dari membayangkan tebasan pedang samurai hilang, Aguri mulai berbicara santai dengan anak itu. "aku nggak tahu tadi itu apa, tapi aku harus menemukan harta karun emas tempat ini."
Anak laki-laki itu mengernyit, "kupikir kamu mau langsung keluar dari sini!"
Aguri menggelengkan kepala. Ia sudah bertekad tidak akan kembali sampai menemukan emas. Persoalan mahluk seperti oni yang ia lihat tadi… Ada anak laki-laki ini kan? Dirinya bisa selamat karena bertemu anak ini…
"Kamu nggak mau emas juga? Nanti kalau ketemu, aku bagi dua deh! Kamu kan, sudah nolongin aku."
"Kenapa sih kamu ingin menemukan emas-emas itu…"
"Tentu saja bakal kupakai untuk beli banyak lauk dan beras!" Balas Aguri kelewat semangat. "Ah, lalu kain bagus untuk pakaian musim panas dan musim dingin. Lalu, lalu…"
Anak laki-laki itu berjalan dalam diam selama Aguri berbicara. Hal yang biasa cuma Aguri mimpikan dalam tidur. Yang tak pernah ia katakan di depan ayah dan ibu yang pergi subuh pulang petang demi makan malam mereka.
"Kalau kamu?"
Barulah anak laki-laki itu menoleh lagi ke arah Aguri.
"Ya? Aku kenapa?"
"Ih, maksudku, kalau kamu punya emas sebanyak itu, kamu bakal pakai buat apa?"
"Kan sudah kubilang aku tidak mencari emas…"
"Ya kan hanya 'misalnya' saja…"
"Hmm… Mungkin berdagang."
"O-oh."
"Kenapa?"
"Nggak… Jawaban kayak orang dewasa banget."
"O...Oh. Hm."
Akhirnya mereka sampai pada sebuah area yang cukup luas. Cahaya dari obor di sekeliling tempat itu tak terlalu membantu, membuat Aguri tak menyadari letak tangga kayu yang beberapa kaki dari dinding di seberang mereka.
Bersamaan dengan berubahnya lokasi, Aguri mulai memahami bagaimana tempat ini bekerja— lorong memiliki beberapa belokan, tempat luas ada tangga menuju tempat selanutnya, ulangi terus.
Aguri baru ingat kalau sedari tadi ia tak tahu nama anak laki-laki itu.
"Oh iya! Nama aku Aguri..."
"… Ah!" Anak berambut pirang itu tergagap, baru menyadari juga hal itu. "Namaku—"
Ketika anak laki-laki itu menoleh cepat ke belakang Aguri, ia reflek ikut menoleh ke arah asal mereka datang. Aguri hanya bisa melihat gelap lorong dan redup api di dinding.
Lalu ada sebuah getaran di udara.
Anak laki-laki itu mendorong pelan punggungnya.
"Cepat, kamu duluan!"
Tanpa bertanya lagi, Aguri segera memanjat turun. Setelah Aguri menjejak tanah lagi, baru anak laki-laki itu melompat turun.
Kembali mereka berlari seperti tadi. Anak laki-laki itu menggamit tangan Aguri dan memimpin jalan.
Suara-suara derapan kaki mengikuti mereka sepanjang jalan.
"Kenapa yang ini cepat sekali?!" Desis anak laki-laki itu.
"...!"
Anak laki-laki itu menahan Aguri dengan satu tangan, menghentikan langkah mereka tepat waktu sebelum berlari langsung pada tebasan pedang monster mengerikan di depan mereka.
"Di-di belakang kita juga…!" Pekik Aguri.
Aguri menyadari juga selama berada di bawah tanah ini, kalau semua lorong tidak memiliki jalan buntu. Meski ada belokan selalu saja mereka berjalan terus ke jalan lain.
Berarti jalan di depan mereka menyambung dengan lorong lain. Para mahluk yang mengejar mereka tampaknya juga mengetahui hal itu.
"Aguri, aku akan menahan musuh di depan kita. Kamu langsung lari ya." Ujar anak laki-laki itu.
Mata Aguri melebar.
"Kau liat sendiri kan kemampuanku tadi? Jangan khawatir!" Anak laki-laki itu menyeringai. Bilah pedangnya sudah bersiaga. "Tarung satu lawan satu itu sudah basi! Ayo sini, dua lawan satu!"
"Tapi…!"
"Sekarang!"
Aguri tahu ia harus berlari, anak laki-laki itu bahkan masih sempat mendorongnya maju dengan satu tangan menghalau tebasan pedang yang datang.
"Ah—!"
Ketika ia sudah melewati monster di depan mereka dan menoleh kebelakang, anak laki-laki itu sudah dikepung dari dua arah.
Ia harus apa? Lanjut berlari, meninggalkan anak laki-laki itu? Tapi, ia ingin membantu. Dengan cara apa? Kaki Aguri masih bergetar, sesaat ia tak tahu apa yang harus dilakukan.
Whoosh.
Satu monster menoleh ke arah Aguri, yang kembali membeku setelah melempar bongkahan batu besar.
"...!"
Ada suara dengung di udara, disusul sesuatu menancap daging. Anak laki-laki itu berhasil menebas monster di depannya, menghindar tepat waktu dari monster yang berdebum jatuh dari belakang.
Sebuah suara baru memotong.
"Tepat waktu!"
.
.
Yamanbagiri Kunihiro hanya bisa menggelengkan kepala. Baru beberapa menit ia mengingatkan agar mereka berhati-hati karena berada di bawah tanah, sang saniwa sudah mengambil langkah kaki panjang dan melempar bilah gendaitou miliknya seperti melempar tombak.
Setidaknya tepat sasaran dan menghancurkan satu jikansokougun.
Keheningan pecah oleh Jeritan dari kedua anak itu, membuat sang uchigatana itu tersentak. Meski berdiri beberapa kaki dari mereka, adrenalin dikejar jikansokougun tampaknya masih terasa.
"H-Hantu!"
Anak perempuan di depan mereka menjerit ke arah wajah sang saniwa. Yamanbagiri Kunihiro mengerti kenapa anak itu memucat; topeng kitsune yang dipakai tuannya terlalu menyatu dan tersembunyi pinggirannya oleh rambut yang dibiarkan tergerai. Sang aruji terlihat seperti mahluk astral dibanding manusia.
Satu-satunya yang menahan anak perempuan tadi untuk tidak kabur saat itu juga adalah tangannya yang menarik sosok anak laki-laki yang berdiri di depannya seperti tameng.
Toudanshi dalam rumor yang muncul di lokasi bawah tanah ini.
"Ah, bukan. Aku manusia kok."
Sang saniwa membuktikannya dengan menggenggam kembali gendaitou yang sudah menancap di tanah, uraian sisa jikansokougun menguap dalam remang cahaya obor.
Anak perempuan di belakang toudanshi yang mereka cari menghela napas lega.
"Selamat sore, ojou-chan dan Hakata Toushirou-kun." Sang saniwa melambaikan tangan. Yamanbagiri Kunihiro sudah berdiri di sampingnya. "Aku punya sedikit pertanyaan…"
Bilah tantou itu masih diacungkan ke arah sang saniwa.
"Kenapa kamu bisa tahu namaku?"
"Oh, itu…."
Yamanbagiri Kunihiro berdeham. Tangan sang saniwa berhenti dari posisi mencubit udara untuk mengeluarkan hologram, lupa ada seorang manusia dari alur waktu itu sedang melihat bingung dan takut pada mereka berdua.
"...Aku berhasil memindaimu selama beberapa saat tadi. Infomu baru saja keluar."
Hakata Toushirou tampaknya mengerti apa yang sang saniwa bicarakan. Akhirnya tantou itu menurunkan pedang dan membenahi letak kacamatanya.
"...Anda yang bernama 'saniwa' itu?"
"Benar." Jawab sang saniwa. "Kalau kamu tahu hal itu, berarti data aslimu memang ada di pusat, bukan dari sumber lain… Tapi kenapa kamu diam di bawah tanah seperti ini?"
Hakata Toushirou hanya balik menatap sang saniwa, hendak merangkai jawaban.
Lalu sang saniwa mendengar anak perempuan itu menyeletuk.
"Jadi namamu Hakata-kun?"
"Ah! Maaf tadi aku belum beri tahu namaku."
Sementara dua anak di depan mereka sibuk berbicara lagi, sang saniwa berbisik pada Yamanbagiri Kunihiro.
"Sedikit perubahan rencana," gumam sang saniwa, "kau benar, kita langsung kembali saja. Anak perempuan itu manusia biasa. Entah apa yang dia lakukan di sini."
Sementara itu, Yamanbagiri Kunihiro tertawa dalam hati. Dengan bayi kemarin saja sudah bingung, apa lagi dengan anak kecil sekarang. Ia seakan bisa melihat wajah canggung sang saniwa dibalik topeng.
"Baiklah, aruji."
.
.
Ketika keadaan sudah sangat tenang, barulah Hakata Toushirou menghela napas panjang.
Tak hanya tambahan manusia dengan sebutan saniwa tadi, ada enam toudanshi lain yang bergerak bersama mereka. Dua diantaranya ternyata sesama tantou Toushirou, sebuah percakapan sempat terjadi di antara mereka.
Namun, Hakata masih memposisikan diri tak jauh dari Aguri.
Saniwa berkata akan membawa mereka kembali ke permukaan. Karena tak ingin mengambil resiko akan terjadi sesuatu dengan Aguri jika mereka memakai benda yang disebut 'portal', mereka akan kembali berbalik arah. Menyusuri kembali terowongan bawah tanah yang mereka lewati.
Itu sebabnya mereka beristirahat di area terbuka di lantai 50 ini.
"Kita kembali besok pagi. Ojou-chan juga pasti lelah kan? Kita istirahat dulu."
Hakata hanya bisa tersenyum kecil dan angkat bahu ke arah Aguri yang tergagap. Perkataan sang saniwa ada benarnya. Sudah terlalu banyak hal terjadi hari ini.
Lagi pula, ia masih ada keperluan di tempat ini.
Sudah gilirannya untuk jaga malam. Baru beberapa menit berlalu sejak ia menggantikan Yagen dan Imanotsurugi.
Matanya mencari sosok Aguri. Anak itu bergelung di dekat sang saniwa, entah tidur dengan posisi duduk atau hanya memejamkan mata. Meski mereka baru saling kenal beberapa jam, rasanya tak masalah meninggalkan Aguri di bawah pengawasan orang-orang ini. Insting Hakata yang berkata seperti itu.
Hakata bangkit berdiri dengan pelan, menjauh dari tempatnya duduk di mulut lorong.
Di dekat cabang lorong tempat ia bertemu dengan saniwa tadi, ada mekanisme aneh dengan menarik obor membuat sebuah jalan baru terbuka. Dinding batu bergeser dengan suara dan getar pelan. Tak ada cahaya yang dapat masuk ke tempat itu, mata Hakata sudah terbiasa dalam kondisi bawah tanah ini. Ia juga ingat betul letak dan jumlah setiap kotak kayu berdebu yang ada di dalam sana.
Hanya Hakata Toushirou mengetahui tentang ini sejak awal...
"Boleh kusimpulkan kalau kamu menjaga tempat ini dari para musuh?"
…dan sekarang bertambah satu orang yang tahu.
Hakata Toushirou mengerjapkan mata dan berbalik Padahal Hakata sangat yakin kalau perempuan itu sudah tertidur karena ritme napasnya yang teratur di balik topeng.
"Kau sudah bekerja sangat keras, Hakata-kun." Sang saniwa lanjut berbicara, selangkah masuk ke dalam ruangan tersembunyi itu. "Melindungi emas-emas itu agar tidak diambil musuh, maksudku."
"...Kamu sudah tahu?"
"Tidak. Aku masih menerka saja."
Nada suara sang saniwa membuat Hakata berbalik sepenuhnya ke arah perempuan itu.
"Apa yang ingin kau tanyakan tadi?"
"Siapa yang memberimu misi untuk melindungi emas-emas ini?"
"Tidak ada."
Hakata tahu sang saniwa mengernyit di balik topeng. Jeda yang diberikan sangat terasa.
"Berarti kamu tahu para jikanshokougun itu ingin memakai emas itu untuk sesuatu yang merubah alur sejarah?"
"...Kamu benar."
"Oh? Hakata-kun, kau tampak ragu."
"Waktu aku mendapat kesadaran penuh, aku langsung tahu apa yang harus aku lakukan. Tapi aku tidak tahu kenapa."
Jawaban serius dari Hakata semakin membuat sang saniwa berpikir.
"Dan yang kamu temukan adalah…?"
"Pelabuhan di sebelah barat."
"...Apa yang mereka beli pakai emas-emas ini?"
Hakata mengetuk satu kotak kayu terdekat. Bunyi sedikit teredam. Lalu tangan ia naikkan sedikit, membuat ketukan yang kali ini bersuara ringan.
"Aku sempat kelewatan satu kali— tenang saja, sudah kuurus." Lalu tantou itu lanjut berbicara. "Harusnya sudah tidak tercium baunya. Semua sudah lama kubuang ke parit di atas sana."
Sang saniwa mengeluarkan suara terkejut.
"Mesiu? Mereka mau meledakkan kastil ini?"
Hakata mengangguk.
"Kurasa mereka ingin mengubah alur waktu dengan membuat kejadian besar seperti itu."
"Akan jadi kejadian yang sangat buruk." Gumam sang saniwa. "Kamu benar-benar tak tahu apa atau siapa yang membuatmu terbangun di bawah kastil ini?"
Hakata menggelengkan kepala.
"Hmm…"
"Apa Saniwa-san punya orang yang dicurigai?"
"Ha! Terlalu banyak orang aneh di pusat sana, tak mungkin aku curigai satu-satu." Sang saniwa terbahak. "Dan sebenarnya bukan tugasku untuk bertanya begitu."
"Lalu?"
"Penasaran saja. Kejadian akhir-akhir ini di tempatku aneh semua, kupikir ada unsur kesengajaan."
Hakata mengeluarkan gumaman tanda mengerti, kini sudah memunggunginya lagi dan sibuk menghitung jumlah kotak kayu yang ada.
"Apa Saniwa-san mau mengambil emas-emas ini?"
"Sangat menggoda. Tidak, tempat ini akan aku segel."
"Oh?"
"Begini-begini, energi spiritualku pas standar." Sang saniwa menggerakkan kedua tangannya seperti memperlihatkan otot. "Sebenarnya, aku termasuk dalam gelombang terakhir."
Hakata masih tak berbalik. Sang saniwa mengetuk topeng pada bagian pipi.
"Aku baru pergi ketempat ini sekarang karena mengumpulkan informasi. Diambil kesimpulan bahwa gelombang musuh tidak akan bertahan lama di semua alur waktu. Saniwa-saniwa lain sudah membabat habis barisan pertama mereka. Besok atau lusa pihak kita akan menang jumlah dan menghabisi mereka. Jadi, aku dapat tugas tambahan untuk menyegel semua emas yang tidak seharusnya ada di alur waktu ini."
Hakata berhenti bergerak.
"Jadi mereka tidak akan datang lagi?"
"Ya. Tak ada tambahan personil musuh lagi— meski orang pusat juga belum tahu penyebab pastinya." Jawab sang saniwa. "Tentu saja, aku akan tetap waspada sampai akhir. Nih, lihatlah sendiri."
Sang saniwa membuat gerakan mencubit udara lagi, kali ini ada hologram yang muncul dan digeser agar dapat terlihat jelas oleh Hakata.
Tantou itu mengernyit dan meneliti tampilan layar dengan saksama.
"...Anda benar. Sejak yang terakhir tadi, aku juga tidak merasakan kehadiran mereka mendekati tempat emas ini."
Namun, masih ada sebuah keraguan dalam diri Hakata. Tampaknya sang saniwa uga menyadarinya. Sampai sekarang, anak ini menghalau para jikanshokougun, bahkan semua orang yang mendengar rumor tentang emas ini. Hakata Toushirou yang muncul begitu saja di lokasi ini dengan sebuah misi terpatri dalam bentuk manusianya…
"Jadi, bagaimana?"
Sang saniwa dan Hakata sudah keluar dari ruangan tersembunyi itu. Setelah selesai merapal segel dan yakin tak ada bekas apapun pada alur waktu ruangan itu, barulah sang saniwa bersuara lagi.
Jemari sang saniwa menjentik hologram berisi laporan singkat, membuat mata Hakata hilang fokus pada benda melayang yang dikirim pergi dalam sekejap.
"Apa kamu berpikir untuk tetap tinggal? Kau tak akan ikut kami setelah ini?"
"Aku akan ikut mengantar Aguri sampai permukaan. Setelah itu, ya." Jawab Hakata. "...Masih ada rumor itu."
Sang saniwa meringis.
"Benar juga… Tapi kamu perlu ingat; terlalu riskan untuk mendekati area kastil ini untuk penduduk biasa."
Sang saniwa mulai memelankan suara ketika mendekati ruang terbuka tempat semuanya beristirahat.
"Percaya padaku, setelah beberapa waktu rumor itu akan reda sendiri."
"Selama ada kata 'emas', tidak akan ada manusia yang berhenti untuk mencarinya di sini." Balas Hakata. "Meski ada rumor tentang monster, tak akan menghentikan mereka."
"Eits, tak semua orang. Kecuali sudah sangat membutuhkan…. Seperti ojou-chan tadi, mungkin."
"Ya, ada orang seperti dia."
Dari arah lorong masuk, Hakata menangkap sosok Aguri. Yang lain tampak memejamkan mata untuk beristirahat. Hanya Aguri saja yang benar-benar tertidur pulas.
"Menjadi manusia, aku ngerti kalau uang sangat penting. Tetap saja... "
Mata sang saniwa menatap Aguri juga, sebelum bertemu dengan Yamanbagiri Kunihiro.
Sang saniwa hanya angkat bahu dan tersenyum kecil. Yamanbagiri Kunihiro masih memandang dengan 'jangan menghilang tiba-tiba begitu', sebelum memalingkan wajah dan helaan napas tanpa suara terlihat jelas dari gerakan bahunya.
"Hakata Toushirou."
Panggilan dengan nada tenang itu membuat sang tantou menoleh. Yang menyambutnya adalah cengiran lebar di wajah sang saniwa.
"Aku punya proposal."
.
.
Yagen menggerutu, lupa memalingkan wajah dari matahari yang bersinar terik ketika mereka keluar dari bawah tanah.
Mereka sudah mencapai misi utama mereka, tapi ia merasa tugas mereka masih belum selesai.
"Bukannya kita akan ke lantai paling dasar?"
Akita bertanya pada Yagen. Biasanya pertanyaan akan diajukan langsung pada tuan mereka, tapi sang saniwa dan Hakata berada di area dekat pepohonan yang mengelilingi parit. Membawa Aguri untuk berbicara jauh dari mereka.
"Setelah anak manusia itu pergi, sepertinya kita akan lanjut lagi." Jawab Yagen.
"Bersih-bersih?" Kali ini Imanotsurugi menyeletuk.
"Yep."
Para toudanshi yang membentuk lingkaran sendiri, semuanya menoleh saat mendengar napas lega dari Sayo.
"Sayo-kun, kenapa?"
"...Kupikir," Sayo tampak ragu untuk melanjutkan kata-katanya, "kupikir anak manusia itu yang harus kita…"
"Hei, hei, Aruji kita tak sejahat itu." Aizen tertawa. "Tapi kalau mereka lama, gimana kalau kita balik lagi duluan ke bawah sana?"
"Sabarlah." Barulah Yamanbagiri Kunihiro bersuara. "Aruji mengurus sebentar tentang masalah rumor di alur waktu yang ini, baru kita melanjutkan misi ini."
Baru saja kata-kata itu keluar, sang saniwa sudah bergerak ke arah mereka. Sendirian. Aguri masih mengatakan sesuatu pada Hakata yang memunggungi mereka. Tangan sang saniwa meraih ke arah wajahnya.
"Whew. Akhirnya bisa lepas topeng sebentar."
Yagen mengernyit, "Hakata bagaimana?"
"Aah. Ya, kita tunggu sebentar, beri dia waktu."
###
"Kamu ingat kan, apa yang harus dilakukan?"
Aguri menganggukkan kepala dengan penuh antusias sebagai jawaban.
"Inget kok!"
"Oh ya?"
Hakata merasa anak perempuan itu tak bisa berhenti tersenyum karena beberapa ikat emas yang didekap erat sekali, bukan karena berhasil keluar dari bawah tanah. Setengah menahan tawa, Hakata lanjut bertanya.
"Kalau orang tuamu tanya asal emas itu dari mana?"
"Aku bertemu nona daimyou baik hati yang tanya arah karena baru pertama kali mau ke kastil ini!"
"Lalu?"
"Jadi emasnya bukan dari bawah tanah. Yang ada malah penyusup yang ketangkep dan dihukum pemilik kastil!"
"Hm. Apa yang akan kamu lakukan dengan emas ini?"
"Jangan dipakai sekaligus," Aguri mengangguk pada dirinya sendiri, "pakai beli beras dan kain dulu, jangan ditukar di tempat yang sama. Sembunyikan sisanya sampai musim dingin berikutnya."
"Setelah itu?"
"Eh. Hmmm…" Aguri berusaha mengingat berbagai hal yang diulangi beberapa kali oleh Hakata dan orang bertopeng tadi. "Selain bertani, coba pakai untuk pekerjaan lain biar bisa dapat uang dari tempat lain?"
Barulah Hakata mengangguk puas. Tangannya otomatis menepuk-nepuk pelan kepala Aguri.
"?!"
"Semoga beruntung, Aguri."
Hal terakhir yang Aguri lihat setelah cengiran lebar dari Hakata adalah lambaian tangan orang bertopeng tadi.
Lalu saat ia mengedipkan mata, Aguri mendapati dirinya kembali berada di jalan kosong menuju desanya.
###
"Tidak terlalu buruk juga, kan?"
Hakata menaikkan alis saat mendengar kata-kata itu.
"Anda tidak bohong soal energi spiritual anda yang tidak terlalu buruk ya."
Memakai kekuatannya untuk membawa pergi Aguri dari tempat itu, selain menggunakan ilusi, menguras energi sang saniwa. Satu tangan sudah bertumpu pada lengan Yamanbagiri Kunihiro, satu tangan lain membuka topeng untuk mendapat udara segar.
Sang saniwa masih bisa menyeringai, "aku malah tak menyangka kamu setuju dengan rencana ini."
"Hanya koban sedikit saja sih tak masalah…"
"Kamu juga percaya kalau dia akan menyebarkan rumor barunya?"
"Aguri anak yang baik."
Sang saniwa tersenyum dan mengangguk setuju.
Mulut tanah yang terbuka menampilkan kembali tangga masuk menuju area bawah tanah. Para toudanshi menunggu lebih lanjut perintah dari sang saniwa.
"Jadi, setelah ini selesai,"
Topeng telah kembali sang saniwa kenakan. Tangan terulur pada Hakata.
"Kamu akan ikut denganku kan?"
Hakata tertawa.
"Baiklah."
.
.
.
