The Student
A Jaemren Story
BoyxBoy
Bagian 14
.
Warning [!] 18+
Meninggalkan sekolah dan sorakan teman-teman mereka, Renjun dan Jaemin menumpang pada bus yang sama. Siswa berambut pink yang benci naik bus dan benci air hujan itu bersikeras ingin mengantar Renjun pulang sebagai bentuk perhatiannya setelah seminggu lebih tidak bertatap muka sama sekali.
Renjun suka sekali dengan perhatian yang Jaemin berikan padanya. Ia dan Jaemin terus mengeratkan genggaman tangan mereka satu sama lain, tak lupa dengan senyuman teduh Jaemin yang selalu berhasil membuat pipi Renjun merona. Sepanjang perjalanan dalam bus, karena keduanya basah kuyup, sang supir menyuruh mereka duduk di kursi paling depan agar mudah keluar.
Setelah sampai di apartemen Renjun, seperti biasa Winwin tidak ada disana. Kakak sepupunya itu memang sibuk bekerja dan sering sekali pulang tengah malam atau bahkan keesokan paginya, membuat Renjun sering merasa kesepian.
Biasanya ada Jwi, anjing kesayangannya sejak kecil yang setia menemani Renjun, tapi Jwi sudah mati, dibunuh oleh Jaemin dan Renjun tak tahu itu. Ia sudah tenggelam dalam ilusi kebohongan yang sejak awal disuguhkan Jaemin padanya.
Sudah berganti dengan kaos dan celana Winwin, siswa yang lebih muda menggelengkan kepalanya dalam tempo cepat, membuat percikan air meloncat kesana kemari dari rambutnya yang basah. Tanpa disadarinya, siswa yang lebih tua memperhatikan kegiatannya yang terlihat sangat manly itu. "Kenapa, Renjun?" tanya Jaemin saat sadar Renjun memperhatikannya.
Renjun terlalu terpesona pada sosok Jaemin yang berusaha mengeringkan rambut tersebut. Anak itu tak sadar bahwa ia menggigit bibir bawahnya. Dia sendiri sudah siap berganti pakaian dan kini memegang secangkir teh hangat yang dibuatnya untuk Jaemin. "Ah, tidak papa, Jaeminaa," balas Renjun.
'Jaeminaa.'
Hmm, betapa Jaemin menyukai panggilan Renjun padanya itu. Suaranya yang lembut semanis madu tak bisa membuat Jaemin untuk tak merindukannya. "Aku suka kau memanggilku begitu," ujar Jaemin mendekat ke arah Renjun untuk mengambil cangkir teh yang dibawa anak itu kemudian meminumnya.
Pandangan mereka terkunci pada mata satu sama lain. Tak ada suara yang keluar dari mulut masing-masing. Jaemin dengan rambut yang masih setengah basah dan berwarna pink itu benar-benar membuat Renjun bungkam karena terpesona.
Sosok di depannya benar-benar luar biasa indah. Apalagi, tadi di sekolah, Jaemin sudah menyatakan bahwa anak itu menyukainya. Apa lagi yang bisa membuatnya lebih bahagia?
"Boleh aku menciummu?" tanya Jaemin lembut, jemarinya menyusup dari leher belakang Renjun, diantara rambut hitam Renjun yang juga belum sepenuhnya kering. Tangannya yang lain meletakkan cangkir teh yang dibawanya ke meja di samping kanan Renjun.
Mendengar Jaemin meminta izin untuk menciumnya, Renjun mengangguk begitu saja. Pelan-pelan dirasakannya jemari besar dan kuat dari tangan Jaemin mulai menelusuri leher bagian belakangnya, menarik wajah Renjun semakin dekat dengan wajah Jaemin.
Renjun bisa menghirup aroma nafas Jaemin yang segar itu. Aroma mint yang memabukkan, membuat Renjun menyerah akan gairah yang diberikan ketika nafas Jaemin sudah berhembus sangat dekat menerpa wajahnya.
Pelan tapi pasti, bibir Jaemin sudah bersentuhan dengan bibir Renjun, menghadirkan kecupan kecil yang perlahan menjadi pagutan. Oh, sungguh betapa Renjun menyukai ciuman Jaemin yang tegas, lembut namun menggairahkan itu.
Renjun menerima ciumannya, bahkan mulai membalas dan mengikuti irama pagutan bibir lembut dan hangat Jaemin pada bibir kecilnya. Pagutan itu berlangsung lama, lembut dan sangat posesif. Ia bisa merasakan bahwa Jaemin tidak membiarkan Renjun menarik nafas hanya sebentar saja. Saat Renjun mencoba melepaskan ciuman mereka, tangan besar Jaemin yang ada di tengkuk lehernya mempertahankan posisi mereka, tak membiarkan Renjun melepas menarik wajah dari Jaemin.
Pelan-pelan tangan Jaemin yang bebas kini mengarah ke wajah Renjun. Tangan Jaemin yang tadinya bertahan di tengkuk anak itu pun perlahan berpindah maju hingga kedua tangan Jaemin kini merangkum wajah Renjun, memperdalam ciuman dan mempercepat pagutannya pada bibir Renjun sesekali lidahnya keluar menjilat bibir anak itu.
"Mmmph—Ahh—" erangan dan desahan Renjun tak tertahankan lagi, ia meletakkan kedua tangannya di depan dada Jaemin, berusaha membuat jarak tapi tak ada sedikitpun ada niat Jaemin untuk melepaskan ciumannya.
Pagutan Jaemin semakin cepat bahkan sedikit kasar setelah mendengar desahan kenikmatan keluar dari bibir kecil Renjun. "Ahh—Jaemin, jangan disini—Nggh—" erang Renjun di sela ciuman Jaemin yang sudah menyapu basah lehernya.
Akhirnya Jaemin menarik wajahnya, menatap dalam-dalam mata Renjun. Wajah siswa asal China itu sudah kacau karena menahan gairah yang meronta. "Injunie, aku menginginkanmu," ucap Jaemin pelan, dengan wajah sayu penuh harap.
Bagaimana Renjun bisa menolak kharismanya itu. Wajah Jaemin yang merajuk dan kelihatan lelah itu sangat sexy dan begitu berkharisma, membuat wajah Renjun semakin memerah karena merasakan hal yang sama. Ia juga menginginkan Jaemin.
"A—ayo kita pindah ke kamarku," ucap Renjun pelan.
Mendapatkan lampu hijau dari Renjun, Jaemin menabrakkan kembali bibirnya dengan bibir Renjun, memagutnya penuh sayang hingga kedua tangan Renjun mengalung di leher jenjang Jaemin, menerima segala perlakuan siswa itu padanya.
Setelahnya ia lepas tautan bibir mereka sebentar, memperlihatkan saliva keduanya yang sudah menyatu membentuk jembatan antara bibir mereka. Jaemin membawa kepalanya ke telinga kanan Renjun dan berbisik pada anak itu. "Lompat, sayang."
Renjun langsung menurut begitu saja. Ia melompat dan melingkarkan kedua kaki kecilnya ke pinggang Jaemin, membiarkan siswa yang lebih muda itu berjalan sambil menggendongnya menuju ke kamar Renjun.
Jaemin hanya perlu berjalan sebentar sampai akhirnya ia menjatuhkan tubuh Renjun begitu saja, sedikit kasar hingga punggung Renjun memantul dengan posisi terlentang di hadapan Na Jaemin karena membentur kasur empuknya sendiri.
Jaemin berdiri bertumpu pada kedua lututnya di atas Renjun, tangannya sibuk melepaskan kaos yang dipakainya. Renjun menggigit bibir bawahnya menahan rasa kagum melihat tubuh Jaemin yang begitu indah dan proporsional. Otot-ototnya terlihat sangat manly dan perutnya yang kotak-kotak membuat Jaemin terlihat sangat sexy di mata Renjun.
Wajah Jaemin semakin ia dekatkan pada bibir Renjun tapi anak yang terlentang di bawahnya itu menahan dada bidang Jaemin yang sudah condong hampir bersentuhan dengan dadanya. "J—Jaemin, ini yang pertama buatku. J—jangan terlalu kasar," lirih Renjun. Ia sangat malu dan hal itu berhasil membuat Jaemin tersenyum sangat lebar.
Renjun terlihat sangat imut di bawahnya.
"Tidak papa, ini juga yang pertama untukku. Aku akan lembut."
Belum sempat Renjun menjawab, Jaemin sudah menembus pertahanan Renjun hingga kedua tangan Renjun lepas dari dada bidang Jaemin. Siswa berambut pink itu menindihnya. Bibir Jaemin menyerang bibir Renjun lagi, bedanya tangan Jaemin yang besar itu perlahan masuk di balik kaos Renjun dan menggerayangi perut siswa yang lebih tua.
"Aa—nggh—" erangan Renjun tertahan tapi ia sangat menikmati setiap sentuhan tangan Jaemin pada kulitnya. Kedua tangannya memeluk leher Jaemin, jemari kecilnya menyelinap diantara helaian-helaian merah muda milik siswa itu, meremasnya menahan kenikmatan.
Jaemin mengangkat wajahnya, melepaskan ciumannya pada bibir Renjun dan berpaling ke telinga Renjun. "Aku suka suaramu. Jangan ragu-ragu jika ingin mendesah," bisik Jaemin, membuat suhu tubuh Renjun langsung naik dan bulu kuduknya berdiri karena berharap lebih.
Tak memberikan kesempatan Renjun untuk beristirahat dari hujaman gairah dan kenikmatan yang diberikan Jaemin, siswa itu kini menyerang lekukan leher Renjun dan menciuminya. Ciuman yang basah dan posesif, membuat Renjun tak bisa menahan desahannya. "Aa—aahhh—Jaemin—ahh—"
Jaemin pun menarik kepalanya dari lekukan leher Renjun lalu mengelap bibirnya yang basah karena salivanya sendiri. "Angkat tanganmu," interuksi Jaemin lembut pada Renjun.
Siswa yang bertubuh lebih kecil dari Jaemin itu langsung melaksanakan perintahnya tanpa melepas pandangannya pada Jaemin yang saat ini mengangkat kaos Renjun, melepaskannya dari tubuh bagian atas Renjun dan menyisakan tubuh Renjun yang bertelanjang dada sama sepertinya sekarang.
Dipandanginya tubuh kecil Renjun yang tak punya otot sama sekali. Tubuhnya kecil dan kurus, membuat Jaemin ingin melindungi anak itu setiap waktu.
"Aku suka tubuhmu, Injunnie," ucap Jaemin dengan wajahnya yang kacau. Rambutnya berantakan karena ulah Renjun yang meremasnya seraya mereka berciuman tadi. Pun Jaemin menyerang bibir Renjun kembali. Kali ini tak selembut sebelumnya, ia melumatnya sedikit kasar.
Setelahnya, lidahnya turun lagi ke leher Renjun, menciumi setiap inci kulitnya dan berpindah ke daun telinga Renjun, bagian tubuh yang paling sensitif diantara semuanya. Jaemin menciumi dan menggigit main-main menggunakan bibir atas dan bawahnya, membuat Renjun menggelinjang nikmat dengan desahan-desahannya.
Tangan Jaemin meraba masuk ke dalam celana bokser Renjun, merasakan betapa kejantanan Renjun sudah menegang akibat ulahnya dari tadi. Jaemin tersenyum dan masih menciumi leher Renjun. Yang lebih tua sudah tidak bisa berkata-kata saat Jaemin melepaskan celananya, membuatnya telanjang bulat.
Renjun mengerang, tubuhnya menggelinjang hebat saat Jaemin mengelus kejantanan Renjun yang sudah menegak dengan sempurna. "Aaa—aahhh—Jaemin—ahhh" desahan Renjun tak tertahankan. Dengan perlahan, Jaemin memasukkan kejantanan Renjun ke dalam mulutnya, memijat dan mengulumnya keluar masuk dalam mulutnya, membuat erangan dan desahan bersahut-sahutan dari mulut Renjun.
Beberapa detik kemudian, Renjun mendesah lumayan keras, hingga mungkin terdengar oleh tetangga apartemennya. "Aaahhh—Jaemin!" Ia klimaks, membuncahkan seluruh cairannya ke dalam mulut Jaemin. Dengan senang hati, anak itu menelan cairan Renjun tanpa merasa jijik, membuat Renjun menjadi manusia paling berharga di dunia.
Belum sempat mengendalikan nafasnya dengan normal, wajah Jaemin sudah berada tepat di atas wajah Renjun lagi. Anak itu menyeringai mesum sambil tangannya mengelus nipple Renjun, membuat siswa yang lebih tua mengerang untuk kesekian kalinya.
Renjun menyerah, matanya yang setengah terbuka tak bisa melepaskan pandangannya dari tubuh indah Jaemin. Kulitnya yang putih, lekukan tubuhnya yang berotot, matanya yang indah, bulu mata yang lentik dan panjang, garis wajah yang tegas, semua yang ada pada diri Jaemin menyiratkan pesona kejantanan seorang pria. Ditambah sikap Jaemin yang selalu lembut dan menunjukkan kasih sayangnya untuk Renjun.
Renjun sudah benar-benar jatuh cinta pada laki-laki ini. Na Jaemin sangat sempurna di matanya.
Jaemin berlutut di atas Renjun, melepaskan celananya dengan mudah, menyusul Renjun bertelanjang bulat. Saat celana Jaemin sudah terlepas, Renjun bisa melihat besarnya kejantanan Jaemin yang sudah menegak sempurna, membuatnya sedikit meringis apakah 'itu' bisa masuk sepenuhnya ke dalam lubang kecilnya?
"Lebarkan kakimu, Renjun," perintah Jaemin yang langsung dilakukan oleh Renjun dengan wajah tersipu.
Renjun melebarkan kakinya, membuat Jaemin memandang dengan bebas lubang Renjun secara jelas. Bersiap memprep Renjun, Jaemin menjilati ketiga jarinya, telunjuk, jari tengah dan jari manis, membasahinya lalu membawanya ke lubang Renjun. "A—arghh—" erang Renjun menahan sakit saat Jaemin memasukkan satu jari ke dalam lubang kecilnya.
Jaemin terus menggerakkan jarinya dalam lubang Renjun, membuat anak itu menggelinjang hingga kejantanannya pelan-pelan menegak lagi. Setelahnya, satu jari lain menyusul masuk. Jaemin melakukan gerakan seperti menggunting di dalam sana. "A—aahh—Jaemin—" desah Renjun menahan sakit dan nikmat yang dirasakannya secara bersamaan.
"Aa—argh!" Suara jeritan terdengar dari mulut Renjun saat jari ketiga Jaemin suadah masuk sepenuhnya ke dalam lubang kecil itu. Digerakkannya ketiganya searah jarum jam, membuat tubuh kecil Renjun tak tenang dan terus menggeliat asal, menerima segala perlakuan Jaemin padanya.
Saat dipikirnya Renjun tak lagi merasa sakit, Jaemin membawa kejantannya tepat ke depan lubang Renjun. "Injunnie, aku masukkan ya?" tanya Jaemin meminta izin. Nafas Renjun sudah terengah-engah, keringat bercucuran dari seluruh bagian tubuhnya. Anak itu hanya mengangguk, siap menerima kenikmatan yang lain.
Jaemin mencondongkan tubuhnya di atas Renjun, membiarkan kedua tangan Renjun memeluk lehernya. "Hmmph.." Perlahan kejantanan Jaemin masuk ke dalam lubang Renjun, anak itu harus mendorongnya pelan-pelan agar Renjun tak merasa sakit.
"Aaargh!" Renjun menjerit hebat, kesakitan, milik Jaemin terlalu besar memenuhinya. Air matanya menumpuk di kelopak mata menahan rasa sakit. Rasanya seperti tubuhnya dirobek, sakit sekali. Renjun tak tahan dengan rasa sakitnya.
Melihat Renjun menahan sakit hingga menangis, Jaemin hanya mendiamkan kejantanannya di dalam lubang Renjun, menyesuaikan hingga Renjun merasa nyaman. Jemarinya dengan lembut menghapus air mata yang menumpuk di kelopak Renjun. Setelah wajah Renjun lebih tenang, Jaemin meminta izin lagi. "Boleh aku gerakkan?" Renjun mengangguk lemah.
Perlahan Jaemin mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur. "Ahh—Hahhh.." suaranya yang berat membuat desahan Jaemin terdengar begitu sexy di telinga Renjun hingga kejantannya menegang sempurna. Tempo yang tadinya lambat itu berubah semakin cepat, membuat Renjun hampir mencakar punggung Jaemin dengan kukunya. "Ahhhh.. Injunnie—"
"Jaemin—aahh—" Renjun pasrah, perlakuan Jaemin padanya begitu nikmat. Tempo yang melambat dan cepat kembali membuat akal sehatnya tak dapat berpikir lagi. "J—Jaemin, aku mau keluar lagi," lirih Renjun di sela-sela desahannya.
Jaemin masih terus menggerakkan pinggulnya, menghujamkan kejantanannya berkali-kali dalam lubang Renjun tanpa istirahat. "Tunggu sebentar Renjun—ahhh.. sedikit lagi—aah," tegas Jaemin. Ia mempercepat temponya, hampir mencapai klimaksnya sebentar lagi. Gerakannya yang cepat tak memberi ampun pada Renjun yang sudah ingin menangis karena menahan kenikmatan.
Akhirnya Jaemin mencapai klimaksnya, begitu pula Renjun. Siswa berambut pink itu mendongakkan kepalanya ke atas, membiarkan seluruh cairannya keluar membasahi lubang Renjun. Tangannya yang besar memijat dan mengelus kejantanan Renjun yang juga sudah klimaks untuk kedua kalinya, membasahi tangan Jaemin.
Pelan-pelan, Jaemin menarik keluar kejantanannya dari lubang Renjun. Bersamaan dengan itu, cairannya yang terlalu banyak juga ikut keluar sebagian dari sana. Pun beberapa bercak darah juga terlihat jelas di atas sprei putih Renjun, tanda bahwa keperjakaan Renjun sudah direnggut oleh seorang pembunuh bayaran bernama Na Jaemin.
Jaemin meraih tisu di atas nakas samping Renjun, membereskan kekacauan mereka lalu kemudian siswa berambut pink itu menjatuhkan tubuhnya di samping Renjun, memeluk Renjun dengan begitu sayangnya. Keduanya berkeringat dan lelah. Masih mengatur nafasnya, Renjun pun menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka dan bersiap tidur.
"Aku mencintaimu Injunnie," ucap Jaemin dengan mata terpejam, menarik tubuh kecil Renjun dalam pelukannya.
"Aku juga mencintaimu, Jaemin.."
.
.
.
To be continued.
Jesus Christ, nulis apaan gue?! LMFAO
