Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
.
Fic ini mengandung unsur yang tidak begitu di terima oleh publik, harap memikirkan segala aspek tanpa fokus hanya pada satu bagian saja.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
.
.
[Blossom In The Winter ]
( Chapter 16 )
.
.
.
Sasuke memintaku kembali ke kamarku, aku melakukannya, aku juga tidak ingin tidur bersamanya jika dia hanya mengusirku.
Tidak ada yang membangunkanku di pagi hari, aku harus bangun sendiri, melakukan segalanya sendirian dan yang lainnya.
"Mulai hari ini gunakanlah bus untuk pergi ke sekolah." Ucap Sasuke dan menatap dingin padaku.
Ada apa dengannya?
Kemarin mengatakan aku ini akan menjadi pasangan sempurnanya, sekarang dia mengabaikanku begitu saja, sampaikan kapan dia akan marah padaku?
Aku harus naik bus ke sekolah, setiap kak Itachi dan kak Izuna menawarkan tumpangan, aku menolaknya, aku akan melakukan apa yang Sasuke inginkan, jika dia ingin aku naik bus, aku akan naik bus! Aku juga akan jalan-jalan bersama Ino dan pulang hingga malam, aku juga akan memasak untuk kak Itachi dan kak Izuna! Aku akan melakukan segalanya yang aku inginkan!
Belum lagi, aku harus menghadapi masalah di sekolah, mereka terus menyindirku, mengatakan aku gadis yang terlalu beruntung, mereka terus membuat cerita-cerita buruk tentangku, mereka bahkan tidak tahu asal-usulku, keluargaku bukan orang yang biasa-biasa saja, seluruh harta masih atas namaku, tapi aku tidak bisa memiliki jika aku belum memenuhi usia dewasa dan berhak untuk mengatur segalanya, selama ini ayah Fugaku dan ibu Mikoto yang mengawasi segala milikku, aku juga tidak keberatan jika harta itu akan investasikan, lagi pula selama ini aku hidup enak dan memiliki segalanya dari ayah Fugaku dan ibu Mikoto.
Ini bukan masalah, aku bisa hadapi segalanya, selama Ino masih ada bersamaku.
"Sasuke sudah pulang dan dia marah besar padaku." Ucapku, aku jadi menceritakannya pada Ino.
"Apa? Dia marah padamu? Padahal kau tidak melakukan hal yang salah, dia benar-benar berlebihan padamu."
"Aku tidak tahu lagi. Dia sangat marah, sekarang aku melakukan segalanya sesuka hatiku, dia tidak akan menegurku dan melarangku lagi."
"Itu jauh lebih baik, kau akhirnya mendapat hidup normalmu. Berpikirlah lebih positif dari apa yang terjadi sekarang."
Ino benar, seharusnya aku menikmati kebebasan yang bukan sementara ini, tapi selama-lamanya, Sasuke tidak akan menegur ini dan itu lagi.
Aku jadi menghabiskan waktu dengan Ino hingga pulang lebih lama. Membuka pintu rumah dan di dalam sangat sepi, mereka belum pulang, wajar saja, mereka adalah pria-pria yang sibuk bekerja, mengganti pakaianku dan hari ini aku akan masak makan malam.
Aku sampai mengirim pesan pada kak Itachi dan kak Izuna jika mereka tidak boleh makan di luar, aku sudah menyiapkan segalanya.
Tepat jam 8 malam, mereka baru akan pulang, hanya kak Itachi dan kak Izuna yang pulang. Apa Sasuke tidak pulang?
"Seperti biasa, masakan Sakura memang sangat enak." Puji kak Izuna.
"Terima kasih kakak." Ucapku, senang.
"Mungkin kita mulai mengatur segalanya, bagaimana jika sarapan serahkan padaku dan Sakura akan memasak makan malam, itu tidak memberatkanmu?" Ucap kak Itachi.
"Tentu saja tidak. Aku setuju." Ucapku, aku juga senang bisa membantu kak Itachi. "Lalu, Sasuke dimana? Apa dia tidak pulang?" Tanyaku, aku sedikit khawatir. Akhir-akhir ini dia terus mengabaikanku dan rasanya tidak enak.
"Dia lembur, entahlah, katanya banyak yang perlu di urus, padahal aku tidak begitu memberinya banyak pekerjaan." Ucap kak Itachi.
"Biarkan saja, selamat Sakura, akhirnya kau bebas dari brother-con itu." Ucap kak Izuna.
Terdiam, aku tak tahu harus menanggapinya seperti apa, meskipun kak Itachi dan kak Izuna ada bersamaku, rasanya masih ada yang kurang.
.
.
.
.
.
Pagi harinya, aku tak tahu Sasuke pulang jam berapa, mungkin sangat malam, dan pagi ini dia sudah rapi lagi dan akan berangkat kerja, menatapnya, dia tak pernah menatapku lagi, berbicara padaku, atau menegur, aku tahu dia marah, tapi ini sudah berhari-hari dan sikapnya begitu saja terus, apa dia tidak bosan marah padaku?
Sedikit timbul ide jahil, apa benar dia akan terus mengabaikanku?
"Aduh! Perutku sakit!" Rintihku dan berusaha berakting jika aku kesakitan, aku sampai berjongkok dan memegang perutku, seakan-akan tengah menahan rasa sakit.
Sasuke sempat melirik ke arahku, gerakan tubuhnya terhenti, kak Itachi dan kak Izuna lebih dulu menghampiriku.
"Ada apa dengan perutmu? Apa mau ke dokter?" Ucap kak Itachi padaku.
"Kita ke dokter saja." Ucap kak Izuna, mereka sangat khawatir.
Ini tidak berhasil, Sasuke hanya bergerak sedikit saja, dia sungguh tidak peduli lagi padaku.
"Ti-tidak apa-apa, aku masih bisa menahannya, mungkin minum obat akan sembuh." Ucapku dan segera berhenti berakting.
Mungkin jika aku mati pun dia tidak akan peduli.
Ke sekolah dengan bus lagi, ya ini yang aku harapkan! Aku senang naik bus! Tapi tidak dengan sikapnya yang mengabaikanku, sejujurnya aku sangat sedih, dia tidak memperhatikanku lagi, jadi kata-katanya yang dulu semua hanya kebohongan saja, aku juga tidak mungkin menjadi pasangannya, sekarang aku sudah menjadi Uchiha Sakura, bukan Haruno Sakura lagi.
Di saat seperti ini, aku jadi bimbang sendiri, mungkin ada baiknya hubungan kami seperti ini, ya selayaknya saudara saja, tidak perlu ada hubungan lebih. Menatap halte pemberhentianku, aku tidak turun di sana dan melanjutkan perjalanan, bolos sehari mungkin tidak apa-apa.
Membeli dua ikat bunga dan datang di sebuah makam. Mungkin aku anak yang sangat durhaka, aku terus menikmati kehidupan baikku ini, tapi tidak pernah mengunjungi orang tuaku, aku hanya masih takut, masih takut untuk menerima jika mereka akhirnya lebih dulu pergi dan meninggalkanku.
"Maaf, ayah, ibu, aku baru saja mengunjungi kalian." Ucapku.
Ada begitu banyak hal ingin aku ceritakan, termasuk hubunganku dengan Sasuke yang tidak pantas, masalah di sekolah yang sibuk mengurus kehidupan baru dengan kedua orang tua yang cukup terkenal, sikap kakak-kakakku yang oveprotektif, tapi mereka sangat baik dan kedua orang tua baruku yang sangat-sangat-sangat sayang padaku.
Tapi,
Aku merasa sedikit hilang arah hari ini, aku pikir semuanya akan baik-baik saja, aku jadi merenungkan segalanya jika selama ini aku sangat-sangat egois.
Mungkin kata-kata teman-temanku sekolah benar, aku tidak pantas untuk sebuah keluarga yang sangat sempurna, apalagi mendapatkan perhatian dari ketiga pria itu sekaligus, aku ini apa? Aku bukan orang yang perlu di khususkan, memikirkannya lagi dan membuatku sakit kepala.
Aku juga tidak memiliki kepintaran yang bagus, aku bahkan tidak bisa jadi ketua kelas, selalu saja mendapat kenyamanan dan perhatian lebih, sekarang aku juga menjadi anak yang sedikit buruk dengan lari dari sekolah dan bolos, lagi pula Sasuke juga tidak akan peduli, aku sudah bukan apa-apa untuknya lagi.
Aku jadi merasa tidak punya siapa-siapa lagi. Apa aku harus mengikuti ayah dan ibu?
Ending Sakura pov.
.
.
TBC
.
.
HAAHAHAHAHA!
GIla! efek apa update tengah malam salah naruh lanjut...! sorry, ini author udah ralat, terima kasih IKUTO! maaf atas gagal paham ini!
