Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

.

Catatan :

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

.

= Enjoy for read =

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

.

.

[ Kagutsuchi(Dewa Api) ]

~ Chapter 16~

.

.

.

Sasuke pov.

Sakura sudah pulang, tingkahnya cukup lucu dan aku masih menatap pohon yang menjadi tempat favoritku, ini bukan sebuah pohon biasa, gadis itu dan segala tindakannya membuatku kembali ingat akan gadis di jaman dulu, keturunan Uzumaki di jaman kuno.

Sebelumnya, ini adalah makam gadis itu, dia di kubur tepat di bawah pohon ini, namun seiring berjalannya waktu, dengan berbagai keturunan yang hidup, mereka bahkan tidak ingat jika dulunya disini ada makam leluhur terdahulu mereka, pohon ini tumbuh beberapa bulan setelah kematian gadis itu, mereka berpikir jika gadis ini berubah menjadi sebuah pohon pelindung dan membuat keturunan di jaman berikutnya berpikiran jika ini hanya tempat tumbuh pohon itu, akhirnya mereka mengabaikannya.

Di jaman sekarang, keturunan yang baru kembali lahir dan berpikir jika pohon besar yang tumbuh dekat kuil adalah pohon keramat, mereka memberi pagar pembatas dan orang-orang di sekitar membenarkannya.

Berbalik dan melihat Sakura menuruni tangga dengan tingkah yang terlihat senang.

Tidak berubah, tapi di kehidupan ini dia tidak menjadi keturunan Uzumaki lagi, mungkin hal itu yang membuatnya seperti terbiasa dengan Naruto.

Sakura adalah keturunan leluhur Naruto di jaman Kuno dan berenkarnasi menjadi Haruno Sakura di jaman sekarang, semacam ada ikatan benang di antara mereka.

.

.

.

[FlashBack]

Zaman XXX SM

Menatap gadis berambut merah panjang hingga sebokong, dia memakai yukata kuning yang sangat cocok dengan rambut merah terangnya itu, tahun ini gadis itu sudah berusia 12 tahun, sebagai salah satu keturunan Uzumaki, tapi dia sangat benci akan namanya, katanya akan sangat sulit di sebut. Kahukura, Uzumaki Kahukura, itu memang nama yang rumit, tapi jika di artikan dengan marga Uzumaki akan berarti pelangi, kedua orang tuanya selalu ingin anak mereka menjadi sesuatu yang sangat istimewah.

Hari ini dia seperti kembali marah dan menggambar-gambar tidak jelas di tanah, dia akan selalu terlihat marah seperti itu.

Di jaman Kuno ini, keturunan Uzumaki masih menempati sebuah bangunan lain di sebelah kuil sebagai tempat tinggal mereka, dinding-dinding kuil akan dibiarkan terbuka lebar dan patung Izanami akan terlihat sangat jelas dari halaman kuil.

Orang-orang selalu rajin datang untuk berdoa, berdoa apapun hingga telingaku sakit untuk mendengar doa mereka, semua doa itu untuk dewi Izanami, tapi dia akan sulit mendengarnya jika Izanagi menghalangi apapun yang akan di dengar Izanami.

"Kenapa mereka terus mengejekku si Oni merah (setan merah)? Aku bukan Oni! Aku manusia! Warna rambut ini juga menyusahkan! Namaku juga jelek! Kenapa tidak ada yang baik dalam hidupku!" Keluhnya. Di umurnya yang sekarang dia begitu banyak mengeluh.

"Kau bukan Oni merah, namamu juga memiliki arti yang bagus, kau terlalu banyak mengeluh." Ucapku. Berdiri tidak jauh darinya dan melipat kedua tanganku ke dada.

Gadis ini mengangkat wajahnya dan menatapku, tatapan yang cukup lama, mata kami saling bertemu, tiba-tiba wajahnya terlihat aneh.

"Silumaaaan!" Teriaknya dan berlari menjauh.

Siluman? Kenapa dia mengatakan aku siluman? Menarik kerah yukatanya dan menahannya agar tidak berlari.

"Aku bukan siluman." Ucapku.

"Lalu kau apa! Aku adalah keturunan Uzumaki, aku bisa mengetahui apapun, kau bukan manusia!" Tegasnya. Sebuah kelebihan dari keturunan Uzumaki, mereka seperti orang-orang yang memiliki kekuatan lain untuk membedakan manusia dan yang bukan manusia.

"Aku dewa." Ucapku.

"Aku akan percaya jika kau melepaskanku." Ucapnya dan aku melepaskannya, tapi itu hanya ucapan bohong.

"Ayah! Ada silumaaan!" Teriaknya dan berlari ketakutan.

Aku tidak percaya, sebagai dewa, aku telah di bohonginya.

Tidak beberapa lama, ayahnya benar-benar datang, dia membawa sebuah tombak seperti siap melawanku, kegiatannya terhenti dan melihatku, tatapannya terlihat marah, tapi itu bukan di tujukan padaku.

"Segera bersujud dan minta ampun padanya!" Perintah ayah gadis ini.

"Kenapa aku harus bersujud pada seorang siluman!" Protesnya.

"Ma-maafkan dewa, dia masih kecil dan mungkin belum mengetahui anda, mohon terima maaf kami." Ucap ayahnya dan memaksa anak gadisnya itu untuk ikut bersujud.

"Aku tidak percaya jika dia dewa!" Gadis itu masih protes dan tetap keras kepala tidak ingin bersujud di hadapanku.

"Diam Kahukura! Dia adalah dewa Kagutsuchi! Apa kau mau mendapat kesialan? Cepat bersujud dan minta maaf padanya!" Perintah ayahnya. "Dewa maafkan dia dewa, tolong jangan membuat kami dalam musibah."

"Aku akan maafkannya." Ucapku, segera menghentikan ayahnya yang tidak berhenti meminta maaf padaku.

Gadis itu masih menatap tidak percaya padaku, bahkan meminta maaf dengan terpaksa.

Setelahnya, ayahnya memaksanya pergi, dan tatapannya masih mengarah padaku.

.

.

.

.

Esoknya, dia datang mengendap-ngendap dan memperhatikan sekitar, apa yang sedang di lakukannya? Saat ini aku hanya tengah duduk di teras kuil, suasana disini jauh lebih sejuk.

"Ayah menyuruhku membawakan persembahan untukmu." Ucapnya. Menyodorkan sepiring bakpaw isi kacang marah padaku.

Cara bicara yang tetap saja tidak sopan, apa gadis ini selalu bersikap seperti ini? Atau dia masih tidak percaya padaku.

"Kau bisa menaruhnya di sini." Ucapku dan menunjuk di sebelahku.

Setelahnya, dia tidak juga beranjak dari hadapanku dan masih menatapku.

"Ada apa lagi?" Tanyaku.

"Bagaimana kau membuktikan jika kau ini adalah dewa?" Ucapnya, dia masih penasaran akan jati diriku.

"Apa yang harus aku lakukan agar kau percaya?"

"Apa kau bisa terbang? Atau apa kau bisa menghilang? Apa kau bisa mengubah dan membuat sesuatu, mencipatkan sesuatu? Apa kau bisa menjadi seorang raksasa? Apa kau pernah bertemu dewi Izanami?" Ucapnya dengan berbagai pertanyaan yang di ajukannya.

Menatap gadis itu, aku tidak akan melakukan apa yang sangat ingin di lihatnya atau menjawab semua pertanyaannya.

"Kembalilah ke rumahmu." Ucapku.

"Kenapa tidak ingin menjawabnya?"

"Aku baru saja tahu jika ada manusia yang berani memerintah dewa." Ucapku dan menatapnya tajam, dia sempat terkejut dan mengalihkan tatapannya.

"A-aku tidak memerintahmu, aku hanya ingin bukti jika kau adalah dewa." Ucapnya, gugup.

"Kembalilah ke rumahmu." Perintahku padanya, aku tidak ingin berurusan dengan gadis ini lagi.

Tapi.

Setelahnya, dia rajin membawakan apapun padaku, dan akan selalu memperhatikanku lebih lama, hingga gadis ini beranjak dewasa. Aku tidak tahu apa sekarang dia percaya sepenuhnya jika aku adalah dewa Kagutsuchi.

"Hey dewa, aku penasaran, apa benar dewi Izanami seperti patungnya?" Tanyanya padaku.

"Salah seorang leluhurmu pernah melihatnya dulu, hanya sekali, dia segera membuat patung dewi Izanami agar tidak melupakan wajah dewi itu."

"Bagaimana dengan patungmu? Seharusnya mereka membuat patungmu juga." Ucapnya.

"Aku tidak peduli akan sebuah patung." Ucapku.

"Kau ini sangat aneh, setiap kuil akan memiliki patung, dan patung itu ada karena dewa itu mendiami kuil itu, tapi kenapa hanya ada patung dewi Izanami di dalam kuil? Dan sekarang yang berdiri di hadapanku adalah dewa Kagutsuchi, itu tidak adil."

Apa maksudmu dengan tidak adil? Kuil ini memang milik dewi Izanami, dia memintaku untuk tinggal disini agar tidak mendapat masalah lagi dengan dewa pemarah itu, aku terus berselisih dengan dewa Izanagi, dia bahkan mengatakan aku dewa kesialan hingga para penghuni langit berpikir jika benar aku adalah dewa kesialan.

"Kau terlalu cerewet untuk mengurus hal yang tidak perlu kau urus." Ucapku.

"Kenapa? Nantinya kuil ini akan di wariskan padaku."

"Sudahlah, jangan menggangguku." Ucapku dan berusaha agar tidak terlihat olehnya.

"Ha! Dewa macam apa kau! Kenapa kau lari dari pembicaraan ini! Aku benar-benar tidak mengerti sikapmu ini!" Protesnya.

Dia gadis yang cukup berisik dan terlalu bersemangat.

.

.

TBC

.

.


update...~

di chapter ini author akan memunculkan masa lalu Sasuke dan ada seorang karakter OC (renkarnasi Sakura), dia terlihat mirip Kushina, disini akan menceritakan sedikit masa lalu dewa kagutsuchi, dia sempat menyingung-nyinggung tentang hubungan manusia dan dewa, dan disni lah ada masalah yang terjadi.

singkatnya gitu.