Sepanjang perjalanan ke rumahnya, Chanyeol tak bisa berhenti menggumamkan kata 'sial'. Kepalanya tak henti dipenuhi oleh kata-kata Baekhyun, ketika kekasihnya secara eksplisit mengatakan bahwa ia takut pada pria berinisial 'Y' yang suka meneleponnya ke XOXO Radio.
Masalahnya di sini Baekhyun tidak benar-benar tahu siapa sebenarnya si 'Y' ini, sementara Chanyeol ragu untuk mengaku karena ini mungkin akan mengancam hubungan mereka. Katakanlah Chanyeol beruntung karena Baekhyun belum pernah mendengar suaranya di telepon. Bisa dipastikan identitas Chanyeol ketahuan jika Baekhyun sadar bahwa suaranya dan suara si 'Y' sama persis.
Meski belum bisa dipastikan apa yang akan terjadi, entah kenapa Chanyeol merasa Baekhyun akan marah besar padanya jika sampai tahu siapa sebenarnya si 'Y' yang ia sebut stalker ini. Dan Chanyeol tak mau itu sampai terjadi, terlebih dengan kehadiran Sehun yang kemungkinan besar akan mengambil kesempatan itu untuk merebut Baekhyun darinya.
"Apa boleh buat."
Chanyeol akhirnya mengambil keputusan. Meski berat, sebisa mungkin ia harus menahan diri untuk tidak menelepon Baekhyun juga tidak menjawab telepon darinya.
Hanya saja, sekarang yang menjadi pertanyaan adalah—sampai kapan ia harus bersembunyi?
.
.
.
###
AEIPATHY (BL VERSION)
Chapter 15 – Stupid Action
Main Casts : Park Chanyeol & Byun Baekhyun
###
.
.
.
Pagi yang cerah di hari Sabtu ini Chanyeol mendapati Sehun berdebat dengan Yoora di telepon. Suaranya cukup keras sampai Chanyeol bisa mencuri dengar. Itu sesuatu tentang pesta bisnis yang harus dihadiri keluarga Oh dan melihat dari kerutan di dahi Sehun, sepertinya Yoora memaksanya untuk hadir.
"Ayolah, Sehun-ah. Lagipula ini hari Sabtu, kau tidak ada kuliah, kan? Ini hanya jamuan makan siang, kau bisa pulang nanti malam. Hm?"
Sehun mengacak rambutnya frustrasi. Bukannya dia tidak mau hadir, tapi ini sungguh bukan waktu yang tepat untuk berjauhan dengan Baekhyun. Meski tidak sampai dua puluh empat jam, tapi siapa yang tahu apa yang akan dilakukan Chanyeol dan Baekhyun selagi dirinya tidak ada?
"Your Dad really expects you to come. So come over, okay? Don't disappoint him."
Mendengus kasar, Sehun mau tidak mau mengiyakannya. "Fine. But I'm going home before dinner."
"Great! We'll see you, then~"
Sehun menghempaskan tubuhnya di sofa begitu sambungan telepon diputus. Benaknya mulai memikirkan berbagai alasan agar ia bisa pulang lebih cepat dari pesta jamuan itu, sebisa mungkin sebelum jam enam sore. Alasan yang tentunya bisa diterima orangtuanya.
"Kau mau pergi?" Suara Chanyeol yang muncul dari arah dapur lantas menyentakkan Sehun dari lamunannya. Pamannya itu duduk tak jauh darinya, lalu menyalakan TV.
"Ya, tapi tidak akan lama. Aku akan pulang sebelum jam makan malam."
"Oh, oke."
Dan hening.
Sehun memicing curiga pada Chanyeol. Pamannya itu tampak tidak tertarik untuk bertanya lebih lanjut dan ini membuat perasaan Sehun tidak enak.
"Kau tidak ada rencana apa pun hari ini, Uncle?"
"Hanya menjenguk Baekhyun nanti siang."
"Setelah itu?"
Berbalik Chanyeol yang memicing curiga pada Sehun. "Kenapa kau tanya-tanya? Bukankah kau seharusnya berangkat sekarang?"
Sehun tahu Chanyeol memiliki rencana lain selain menjenguk Baekhyun, entah itu pergi berkencan dengan Baekhyun atau mengundang Baekhyun ke rumahnya. Bodoh sekali ia berharap pamannya itu akan memberitahu rencananya.
"Baiklah, aku pergi." Sehun bangkit dari duduknya. Sempat ia lemparkan tatapan menusuk pada Chanyeol, sebelum masuk ke dalam kamarnya. Pria bersurai blonde itu sama sekali tidak melihat ketika Chanyeol menyunggingkan seringaian mencurigakan setelahnya.
.
.
Baekhyun tersenyum puas melihat penampilannya hari ini. Balutan celana jeans biru di sepasang kakinya, dipadukan dengan kaos kuning dan jaket coklat tua. Pria mungil itu menambahkan sentuhan kecil kacamata bulat di hidung mancungnya, yang mana membuat parasnya bertambah manis.
Setengah jam yang lalu, Chanyeol mengundangnya berkunjung ke rumah untuk melakukan bimbingan skripsi yang waktu itu Chanyeol janjikan. Baekhyun sempat khawatir karena Sehun pasti ada di sana, tapi beruntung Chanyeol mengatakan bahwa Sehun sedang ada urusan keluarga sampai malam, jadi mereka bisa berduaan saja di rumah itu. Sekarang Chanyeol sedang dalam perjalanan untuk menjemput Baekhyun.
"Yosh! Waktunya berangkat!" seru Baekhyun bersemangat. Ia ambil ranselnya di atas meja, lalu berjalan menuju pintu keluar.
"Kau mau ke mana, Hyung?" Samuel tiba-tiba muncul ketika Baekhyun sedang mengikat tali sepatu.
"Aku mau bimbingan skripsi."
Alis Samuel terangkat sebelah mendengarnya. "Di hari Sabtu?"
"Ya, kau tidak lupa kan dosen pembimbingku itu kekasihku sendiri? Katanya mumpung sedang senggang, jadi aku bisa bimbingan hari ini."
Samuel tentu saja tidak langsung percaya. Entah kenapa, ia merasa ada yang janggal. "Lalu, di mana kalian akan melakukan bimbingan? Bukankah SNU tutup di hari Sabtu dan Minggu?"
"Eh? Uh..itu.." Baekhyun memutar otaknya dengan cepat. Ia tidak mungkin mengatakan akan melakukan bimbingan di rumah Chanyeol, bisa-bisa Samuel melarangnya pergi. "Di café dekat kampus."
"Café?"
"Mm-hm, sekalian makan siang. Sudah ya, aku berangkat dulu, Chanyeol sudah menunggu di depan gerbang. Bye, Sam!"
Alis Samuel bertautan sempurna begitu sosok Baekhyun menghilang di balik pintu. Ia menoleh ke kiri, di mana jam dinding berada. Sekarang masih pukul delapan lewat empat puluh lima menit.
"Bukankah ini masih lama menuju jam makan siang?"
.
.
"Selamat pagi, Muffin~" Chanyeol menyapa dengan senyuman cerah begitu Baekhyun duduk di kursi penumpang tepat di sampingnya. Pria mungil bersurai brunette itu membalas dengan cengiran lucu.
"Selamat pagi juga, Seonsaengnim~"
"Oh? Kenapa tiba-tiba kau memanggilku 'Seonsaengnim' lagi, hm?"
"Tentu saja karena hari ini aku akan bimbingan skripsi dengan Saem, hehe~"
"Dasar kau ini." Chanyeol mencubit gemas hidung Baekhyun, yang hanya ditanggapi dengan kekehan renyah dari si mungil. "Omong-omong, kau sudah sarapan, Baek?" tanya Chanyeol sambil menyalakan mesin mobil.
Baekhyun menggeleng sebentar, sebelum kembali sibuk memeriksa isi ranselnya. "Hanya minum susu, aku tidak sempat masak tadi."
"Eyy~ seharusnya kau sarapan dulu, bocah nakal." Chanyeol kembali mencubit hidung Baekhyun, membuat yang lebih muda meringis kecil. "Pokoknya kau harus sarapan sebelum kita mulai bimbingan, paham?"
Tersenyum lebar, Baekhyun memberikan anggukan patuh pada Chanyeol. Sebenarnya Baekhyun memang sengaja tidak sarapan. Pikirnya, daripada memakan masakan sendiri, ia lebih ingin Chanyeol memasak untuknya. Well, Baekhyun suka pria yang pintar memasak, ingat?
"Kau mau sarapan apa?"
"Um..itu..sebenarnya aku ingin kau memasakkanku strawberry pancake, hehe~"
Chanyeol terkekeh melihat tingkah menggemaskan kekasih mungilnya. Ah, ia memang tidak bisa melawan Baekhyun.
"Baiklah, tapi kita mampir ke toko buah dulu, oke? Persediaan strawberry di lemari es-ku sudah menipis."
"Siap, Seonsaengnim~"
.
.
"Kau sendirian di rumah? Baekhyun Hyung mana?" Itu Jihoon ketika duduk di ruang keluarga kediaman Byun. Hari ini, ia dan Samuel janjian untuk bermain game yang baru dibelinya kemarin.
"Baekhyun Hyung pergi bimbingan skripsi." sahut Samuel seraya meletakkan dua gelas jus jeruk di atas meja.
"Bimbingan skripsi? Bukankah SNU tutup di hari Sabtu?"
"Itulah yang kukatakan padanya, tapi kemudian dia bilang akan bimbingan di café dekat kampus. Dasar, mentang-mentang dosennya adalah kekasihnya."
"Eh? Baekhyun Hyung pacaran dengan dosennya?"
"Ya, namanya Park Chanyeol. Dia pria yang pernah membentak Baekhyun Hyung saat tidak sengaja menumpahkan kopi ke bajunya. Aish, kalau diingat-ingat aku jadi kesal sendiri. Rasanya masih sulit dipercaya Baekhyun Hyung pacaran dengan pria itu."
"P–Park Chanyeol, kau bilang? Yang mengajar di SNU, bertubuh tinggi, dan berambut abu?" Setengah kaget Jihoon mengonfirmasi. Ia hanya takut salah orang. Siapa tahu kan Park Chanyeol yang dimaksud Samuel bukanlah Park Chanyeol si tetangganya.
"Ya, yang itu. Kau mengenalnya, Hyung?"
Tidak merespon Samuel, Jihoon malah menganga di tempat. Ia sungguh tidak menyangka kekasih Baekhyun adalah sungguh Park Chanyeol yang tinggal di sebelah rumahnya.
"Kau serius? Sejak kapan mereka pacaran? Maksudku, bagaimana bisa mereka pacaran?"
"Aku tidak begitu tahu bagaimana, tapi yang kutahu mereka pacaran belum lama ini. Kenapa kau begitu kaget, Hyung?" Samuel memicing curiga. Ia merasa ada yang aneh dari reaksi Jihoon.
"Tidak, hanya saja.." Jihoon tak melanjutkan kalimatnya. Ada sesuatu yang membuatnya penasaran. "Apa Baekhyun Hyung tahu bahwa Chanyeol Hyung itu pria berinisial 'Y' yang sering meneleponnya ke XOXO Radio?"
Giliran Samuel yang dibuat menganga kaget. Alisnya menukik tajam. "A–apa kau bilang?"
.
.
Sehun tak bisa untuk tenang selama pesta jamuan makan siang berlangsung. Pikirannya terus melayang pada Baekhyun dan Chanyeol; membayangkan berbagai kemungkinan buruk selama ia tak ada di sana. Belum pernah Sehun segelisah ini, ia bahkan terus-terusan mengecek ponselnya—hampir di setiap menit. Perasaannya sungguh tak enak, seolah akan terjadi sesuatu yang buruk.
"Aku harus segera pergi." tandas Sehun. Ia melirik jam tangannya, lalu beralih pada orangtuanya yang masih sibuk berbincang dengan beberapa kolega bisnis mereka.
Dilihat dari situasinya, sepertinya pesta jamuan ini masih jauh dari kata selesai dan Sehun tak bisa sembarang pergi. Jika ia nekat, Yeonseok pasti takkan repot-repot mendengar alasan apa pun dan langsung mengirimnya ke kampus asrama di Inggris. Itu hanya akan membuatnya berjauhan dengan Baekhyun. Sehun mana mau memberikan celah pada Chanyeol, tidak jika itu menyakut Baekhyun. Karenanya Sehun harus memberikan alasan yang bagus.
Melihat layar ponselnya sebentar, seringaian Sehun kemudian terkembang sempurna. Ia mendapatkan ide.
.
.
Chanyeol melempar asal ponselnya ke sofa saat game yang dimainkannya menampilkan tulisan 'GAME OVER'. Untuk yang kesepuluh kalinya, tatapan Chanyeol tertuju pada Baekhyun yang masih sibuk mengetik revisi skripsi. Pria mungil itu tampak tak terusik sama sekali, malah asyik memainkan jemari-jemari lentiknya di atas keyboard laptop.
Bimbingan skripsi mereka sudah selesai sekitar dua belas menit yang lalu, tapi daripada menghabiskan waktu dengan Chanyeol, Baekhyun justru lebih memilih untuk langsung mengerjakan revisi skripsinya di sana. Pria mungil itu bahkan tak mendengarkan ketika Chanyeol memintanya untuk mematikan laptop. Ini sungguh membuat Chanyeol kesal.
"Byun Baekhyun?"
"Hm?"
"Kau belum selesai juga?"
"Belum."
"Tak bisakah kau melanjutkannya nanti di rumah?"
"Tanggung."
"Maukah kau melanjutkannya nanti jika kuberikan buku referensi?"
Baekhyun sontak berhenti mengetik. Mata puppy-nya berbinar-binar menatap Chanyeol. "Berikan bukunya padaku sekarang~"
Mendengus keras, Chanyeol mengambil alih laptop Baekhyun, lalu mematikannya tanpa izin.
"Apa yang kau lakukan?! Aku belum selesai mengetik, Chanyeol!" Baekhyun meluncurkan protes. Tapi Chanyeol sama sekali tidak memedulikannya. Pria bersurai ash grey itu justru mendekati si mungil, memenjarakannya di pinggiran sofa. "K–kau mau apa?" tanyanya setengah gugup.
"Aku tidak memintamu datang kemari hanya untuk bimbingan skripsi, kau tahu?"
"L–lalu?"
"Kau belum mengerti juga?" Chanyeol mendekati telinga Baekhyun, lalu berisik di sana, "Aku ingin berduaan saja denganmu, Baekhyunnie."
Lamat-lamat Baekhyun menelan ludahnya. Bisa ia rasakan hentakan keras di balik rongga dadanya yang berlomba-lomba dengan desiran darahnya, menghasilkan efek rona memalukan di kedua pipinya.
Astaga, Baekhyun benar-benar salah tingkah. Kenapa pula ia malah membayangkan yang tidak-tidak hanya ketika suara husky Chanyeol berdengung di telinganya?
"Sekarang kau mengerti, kan?" Chanyeol kembali berbisik. Satu tangannya mengelus pipi Baekhyun, lalu menuntun dagu si mungil agar balik menatap irisnya. "Kau manis sekali saat sedang merona, Sweet Muffin~" kekehnya di ujung kalimat.
"J–jangan menggodaku, Chanyeol!" Baekhyun merengek lucu. Namun detik berikutnya ia tak melakukan perlawanan saat Chanyeol mengeliminasi jarak bibir mereka. Alih-alih, mata sipitnya terpejam, menikmati pergerakan bibir Chanyeol di atas bibirnya.
Rasanya masih manis, juga memabukkan. Seperti madu yang dipadukan dengan wiski. Baekhyun tak bisa berhenti mengecapnya. Daripada melepaskan tautan itu, kedua tangan Baekhyun justru beringsut melingkari leher Chanyeol, memintanya menambah intensitas bibir mereka. Dan Chanyeol tentu saja tak menolak. Ia balas mendekap pinggang ramping Baekhyun sambil menelusupkan lidahnya ke dalam rongga mulut si mungil untuk memulai pertarungan lidah.
Mereka saling kecup, saling berbagi saliva, dan sesekali menggigit gemas bibir bawah lawannya.
Tautan bibir itu berakhir ketika yang lebih muda mulai kehabisan napas. Sedikit terburu-buru Baekhyun mengais udara, sementara Chanyeol melanjutkan serangannya di leher jenjang si mungil. Bibir tebalnya mengecup, menjilat, dan menggigit kecil di sana. Jika tadi Baekhyun yang tak menghiraukan perkataan Chanyeol, kini giliran Chanyeol yang mengabaikan cicitan Baekhyun dengan menghisap kuat lehernya.
"Y–Yeol, kenapa kau malah meninggalkan kiss—mppph!"
Lagi, Chanyeol tak membiarkan Baekhyun melontarkan protes atau setidaknya menyelesaikan kalimatnya. Pria tinggi itu lebih suka membombardir si mungil dengan lumatan memabukkan sampai lenguhan manja keluar dari celah bibir tipis itu.
Well, tentu saja Chanyeol berhasil.
Kurang dari satu menit, lenguhan Baekhyun terdengar di bawah kungkungan Chanyeol. Si mungil bahkan dibuat terlena dengan pergerakan tangan si jangkung di dalam kaosnya, memainkan dua tonjolan berwarna pink yang sudah mengeras.
"Anhh..Yeolhh.."
Tubuh Baekhyun melengkung sempurna kala Chanyeol mengemut nipple-nya secara bergantian. Tak lupa ia menambahkan jilatan sebagai sentuhan terakhir, sebelum bergerak melepaskan celana jeans Baekhyun, menyisakan celana dalam hitam dan gundukan di antara kaki pendek itu.
"Yours got hard, Muffin~" Chanyeol menyeringai tampan. Tangannya bermain nakal di bongkahan kenyal Baekhyun, memberikan remasan yang cukup kuat.
"Mnhh..j–jangan dilihat, Chanyeolhh.." Baekhyun mengemut bibir bawahnya agar suara desahan itu terderam, tapi sepertinya itu sia-sia saja. Chanyeol terlalu pintar memanjakan titik-titik sensitifinya sampai mendesah pun rasanya tidak cukup untuk menyalurkan nikmat yang tercipta.
"Boleh aku berbuat lebih jauh, Baek?"
Ada sedikit keterkejutan ketika Chanyeol melontarkan pertanyaan itu. Baekhyun tentu saja tahu apa maksud Chanyeol dan ia sesungguhnya terharu bagaimana kekasihnya lebih mementingkan perasaannya daripada libido yang sama-sama memuncak.
"Hanya..berjanjilah kau tidak akan melakukannya dengan kasar." ucap Baekhyun malu-malu. "Ini adalah yang pertama bagiku, Yeol.."
Jika ada yang membuat Chanyeol lupa diri, maka 'Baekhyun' adalah jawabannya. Segala yang ada dalam diri pria mungil itu, tak terkecuali, pasti bisa mengacaubalaukan pikiran Chanyeol dan mungkin membuatnya melakukan hal gila. Namun ada suatu perbedaan yang kontras jika itu menyangkut sesi intim. Chanyeol takkan mengambil jalan terburu-buru dan lebih memilih menunggu Baekhyun benar-benar siap. Walau bagaimanapun, ia tak ingin menjadi satu-satunya yang merasakan nikmat.
"Tentu saja, Muffin." Chanyeol mengecup lembut bibir Baekhyun, jemarinya mengelus pipi yang merona itu. "Bahkan jika nanti kau berubah pikiran, kau hanya tinggal mengatakannya, oke?"
Tersenyum manis, Baekhyun pun mengangguk sebagai jawaban. Kedua tangannya kembali menarik leher Chanyeol, memagut bibir tebal itu dalam lumatan intens. Gerakannya tidak tergesa-gesa dan cukup untuk membuat Chanyeol ketagihan. Meski samar-samar masih terasa sedikit kaku, untuk saat ini Chanyeol akan membiarkan Baekhyun memimpin tautan bibir mereka.
Asyik dengan kegiatannya, Baekhyun sama sekali tak sadar Chanyeol sedang melancarkan serangan balasan di bawah sana. Tangan kanannya meremas gundukan di antara kaki Baekhyun, sementara tangan kirinya memilin nipple Baekhyun. Sesekali ekor mata Chanyeol melirik hanya untuk menyaksikan wajah Baekhyun yang memerah sempurna. Well, jelas pria tinggi itu menang telak. Baekhyun bahkan tampak sangat menikmati perlakuannya.
Chanyeol kemudian mencoba melangkah lebih jauh. Ia memasukkan satu jarinya ke dalam cincin berkedut Baekhyun, menusuk dengan gerakan acak sambil perlahan menelusupkan dua jari lainnya. Ketika Baekhyun menyuarakan lenguhan panjang dan lubangnya merapat secara tiba-tiba, Chanyeol lantas menambahkan intensitas kecepatan ketiga jemarinya.
"MNHH!"
Itu adalah pelepasan pertama Baekhyun yang cukup banyak. Namun semuanya barulah pemanasan. Permainan sebenarnya justru dimulai ketika Chanyeol membopong Baekhyun ke kamar. Tubuh mungil itu dihempaskan ke ranjang, lalu dihimpit di antara lengan kokoh sang dominan.
"Kau siap?"
Meski gugup setengah mati, Baekhyun tetap menganggukkan kepalanya. Dipejamkannya matanya rapat-rapat saat Chanyeol menorehkan kecupan lembut di bagian paha dalam. Mati-matian pria mungil itu menahan lenguhannya agar tak keluar, tapi sialnya semua usahanya sia-sia karena Chanyeol tak henti menggoda titik-titik sensitifnya. Tak sekali-dua kali, melainkan berkali-kali.
Sensasi menggelitik yang bercampur dengan kegugupan itu menghasilkan euforia tertentu sampai kepala Baekhyun terasa berkunang. Anehnya, itu bukan pertanda buruk, Baekhyun justru cenderung menyukainya. Entah remasan tangan Chanyeol di bokongnya atau kuluman basah di kejantanannya yang masih terbungkus celana dalam. Permainan pria bermarga Park itu benar-benar membuatnya kepayang. Baekhyun bahkan tak bisa untuk tak menekan kepala Chanyeol ketika lidah sang kekasih bermain di lubang senggamanya.
"Anghh..Chanyeolhh..aku mau—"
"Jangan keluar dulu, Baekhyunnie." bisik Chanyeol sambil menutup lubang kencing Baekhyun. "Kita keluar bersama, oke?"
Belum sempat Baekhyun merespon, Chanyeol sudah lebih dulu memasukkan kejantanannya ke dalam lubang anus kekasihnya. Sedikit sulit karena ini adalah pertama kalinya bagi Baekhyun, tapi Chanyeol bersyukur kekasihnya itu tak merubah pikirannya.
"Maaf jika ini terasa menyakitkan bagimu." Chanyeol mengusap pelipis Baekhyun begitu tubuh mereka bersatu sempurna. Pria tinggi itu belum bergerak. Ia ingin memberi Baekhyun sedikit waktu agar terbiasa dulu.
"Aku tidak apa, sungguh. Hanya..merasa sedikit aneh di bawah sana."
Chanyeol terkekeh renyah mendengarnya. Itu memang bukan perkataan yang aneh bagi seseorang yang baru melakukan hubungan badan, tapi cara Baekhyun mengatakannya benar-benar menggemaskan.
"Nanti juga enak kok, sabar sedikit ya?"
"Y–yak! Jangan mengatakan hal yang aneh-aneh!" protes Baekhyun, wajahnya memerah seperti tomat siap panen.
"Aigoo~ tak bisakah kau berhenti bersikap manis, hm? Kau bisa membuatku kehilangan kontrol, Sweet Muffin~"
"K–kalau begitu, jangan diam saja. Cepatlah bergerak."
"Seseorang tampaknya sangat tidak sabaran, hm?
"A–aku tidak—nghhh~" Baekhyun refleks mendesah karena pergerakan Chanyeol yang tiba-tiba. Tangannya meremat bahu pria tinggi itu, melampiaskan rasa perih yang bercampur nikmat.
Semula hentakan Chanyeol memang konstan, namun seiring dengan banyaknya desahan erotis yang Baekhyun kumandangkan, semakin cepat pula Chanyeol menyentuh titik nikmat Baekhyun. Well, salahkan saja tangan nakal Chanyeol yang bermain di sekitar bokong Baekhyun, juga mulutnya yang menghisap kuat nipple Baekhyun. Mana mungkin tubuh mungil itu tidak bereaksi?
Di lain sisi, Baekhyun tampak tidak keberatan dengan tempo hentakan Chanyeol yang kian meningkat. Tidak seperti permintaannya sebelum mereka melakukan adegan intim, Baekhyun malah melingkarkan kedua kakinya di pinggang Chanyeol, seolah memintanya untuk tak membentuk jarak di antara tubuh mereka atau menurunkan tempo hentakannya.
"A–apa yang kau lakukan?" Baekhyun mengerutkan dahinya saat Chanyeol tiba-tiba merubah posisi mereka. Kini justru ia yang berada di atas Chanyeol.
"Aku ingin kau mengambil alih."
"M–maksudmu kau ingin aku memasukimu?"
Tawa Chanyeol meledak karena pertanyaan konyol Baekhyun. "Tidak, Baekhyunnie. Maksudku, aku ingin kau melakukan posisi uke on top. Kau tahu caranya, kan?"
Baekhyun tentu tidak sepolos itu untuk tidak tahu posisi uke on top. Hanya saja ia tak mengira Chanyeol menyukai posisi ini.
"A–aku tahu, tapi.."
"Tapi apa, hm?"
"A–aku belum pernah melakukannya. Bagaimana kalau aku tidak bisa memuaskanmu?"
Tersenyum kecil, Chanyeol membawa jemarinya mengusap pipi Baekhyun yang bersemu. "Aku tidak peduli, Muffin. Aku suka aksi canggungmu, menandakan bahwa kau memang belum berpengalaman soal ini. Bukankah itu artinya aku benar-benar menjadi yang pertama bagimu?"
Seperti terbang bersama ribuan kupu-kupu di taman bunga yang cantik, Baekhyun tak bisa menahan senyumannya agar tak terkembang lebar. Ia senang—sangat senang, bahwa Chanyeol tak mengolok pengalaman pertamanya, justru merasa bangga padanya.
"Jangan mengeluh jika aku payah melakukannya, oke?"
Suasana di kamar Chanyeol pun dipenuhi lenguhan kenikmatan begitu anggukan menjadi jawaban. Tentu saja Baekhyun menjadi yang paling berisik dan Chanyeol menjadi penikmat utamanya. Melihat Baekhyun yang menaik-turunkan tubuhnya sambil mendesah manja tanpa henti, sontak menyulut libido Chanyeol sampai ke tingkat tertinggi.
"Nyahh~ jangan meremas bokongku terus, Chanyeolhh.."
Jika Baekhyun berpikir Chanyeol akan berhenti setelah reaksi menggemaskan itu, maka si mungil salah besar. Yang ada, Chanyeol malah memperkuat remasannya pada bongkahan kenyal itu.
"Ahh..mnhhh..a–aku..hampir sampai, Yeolhh.."
Mendengar itu, Chanyeol segera memutar kembali posisi mereka. Ia hentakkan kejantanannya ke titik manis Baekhyun hingga beberapa kali, sebelum akhirnya mereka mencapai klimaks bersama.
"Terima kasih banyak, Baekhyunnie.." Chanyeol membawa tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Satu kecupan lembut kemudian ia daratkan di dahi Baekhyun sebelum mereka terlelap bersama.
.
.
"Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan—"
"Aish! Kenapa ponselnya tidak aktif terus?" Samuel berdecak kesal untuk yang ke-sekian kali sambil melempar asal ponselnya ke ranjang. Atensinya bergeser pada langit luar yang mendung, kemudian beralih pada jam dinding. Sekarang sudah pukul dua siang dan Baekhyun belum pulang. Samuel pikir ini agak aneh. Rasanya tidak mungkin juga bimbingan skripsi sampai begini lama, terlebih jika itu dilakukan di café.
"Jangan-jangan..bimbingan skripsinya memang sudah selesai dan mereka sedang berkencan sekarang?"
Memikirkan itu, tanpa sadar Samuel tersenyum lebar. Ia tak bisa lebih bersemangat lagi dari ini. Setelah semua yang diceritakan Jihoon mengenai Chanyeol, entah kenapa Samuel malah mendukung Chanyeol.
Memang kesan pertama Chanyeol itu buruk di matanya, tapi jika benar dia adalah pria berinisial 'Y' itu, maka Samuel takkan ragu untuk memberi restu pada hubungan Baekhyun dan Chanyeol. Setelah sekian lama bertanya-tanya, akhirnya Samuel tahu siapa sebenarnya pria berinisial 'Y' itu dan ia senang ternyata pria itu adalah kekasih Hyung-nya sendiri.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah Baekhyun sudah mengetahui soal ini atau belum?
"Kuberi tahu lewat pesan saja." Samuel pun meraih kembali ponselnya, mengetikkan berita mengejutkan ini untuk dikirim pada Baekhyun.
.
.
Sehun melajukan motornya cukup kencang begitu mendapatkan izin pulang dari orangtuanya. Tak dihiraukannya beberapa bulir langit yang mulai berjatuhan, Sehun hanya ingin segera sampai di rumah Chanyeol dan mengecek sendiri firasat buruknya ini. Ia sungguh berharap tak terjadi apa pun pada Baekhyun tanpa sepengetahuannya.
"Shit!" Umpatan keras itu Sehun layangkan tepat ketika macet terjadi di perempatan jalan. Sepertinya ada kecelakaan di depan sana.
Tak kehilangan akal, Sehun pun mengedarkan pandangannya untuk mencari jalan lain. Dan ia menemukannya; sebuah gang di sebelah kiri jalan. Lebarnya tidak terlalu sempit dan tampaknya ujung gang itu menembus ke jalan raya.
"Baiklah!" Sehun langsung memutar setang motor, berbelok masuk ke dalam gang itu.
.
.
Suara rintik hujan di luar sana tiba-tiba membangunkan Chanyeol dari tidurnya. Pria bersurai ash grey itu mengucek matanya sebentar, lalu menoleh pada Baekhyun yang masih terlelap di sampingnya. Si mungil bersurai brunette itu terlihat manis sekali, bahkan ketika sedang tidur. Bibir tipisnya sesekali mengingau kecil dan dengkurannya yang halus entah bagaimana mengingatkan Chanyeol pada anak anjing milik Jihoon. Rasanya masih sulit dipercaya sekarang Baekhyun adalah kekasihnya.
Pandangan Chanyeol kemudian bergeser pada keadaan kamarnya yang lumayan berantakan. Baju dan celana berserakan di lantai, juga seprai kusut dengan noda kental berwarna putih yang mengotorinya. Jika dipikir-pikir lagi, sesi intim pertama mereka tadi tergolong cukup panas. Bagaimana Chanyeol menggagahi Baekhyun di bawah kungkungannya dan bukti kenikmatan mereka yang tak henti bersahut-sahutan. Ah, Chanyeol jadi tak bisa menahan senyumannya kalau mengingat hal itu.
Namun ada satu hal yang mengganggu pikiran Chanyeol; tentang identitasnya sebagai pria berinisial 'Y'. Ia masih ragu untuk mengatakannya pada Baekhyun. Segala pikiran tentang ini mungkin akan memengaruhi hubungan mereka membuatnya berpikir berkali-kali. Chanyeol tahu tindakannya ini salah, tapi ia juga tak berani ambil resiko. Chanyeol terlalu menyayangi Baekhyun, ia takut kehilangannya. Tak mungkin Chanyeol membiarkan hal seperti ini merusak hubungan mereka dan membiarkan Sehun memasuki celah itu.
"Ngh.." Baekhyun menggeliat pelan kala sentuhan jemari Chanyeol di pipinya mengusik tidurnya. Kelopak matanya terbuka perlahan, senyum manis menghiasi parasnya untuk membalas senyuman Chanyeol. "Sejak kapan kau bangun, Yeol?"
Chanyeol suka sekali saat Baekhyun memanggilnya dengan 'Yeol' atau 'Chanyeollie', terutama dengan suara serak seperti ini. Terdengar begitu manis juga seksi.
"Baru saja, Muffin. Oh ya, kau mau cocoa hangat, tidak?"
Baekhyun mengangguk semangat. "Aku mau~"
Terkekeh renyah, Chanyeol mengecup bibir Baekhyun sekilas, lalu beranjak dari tempat tidur. "Baiklah, satu gelas cocoa hangat untuk Pangeran Cantik segera datang."
Baekhyun tertawa mendengar gombalan itu. Pandangannya terus terpaku pada punggung telanjang Chanyeol sampai ia benar-benar keluar dari kamar.
"Omooo~ apa yang baru saja kami lakukan?" Pekikan tertahan Baekhyun terdengar tak lama kemudian, bersamaan dengan munculnya semburat menggemaskan di pipinya yang ia tutupi menggunakan selimut. Teringat sesi intim yang baru dilakukannya dengan Chanyeol, mana mungkin Baekhyun tidak malu, terlebih desahannya yang paling keras saat itu. Ugh, ingin rasanya Baekhyun menggelamkan diri di laut terdalam. Wajahnya sudah seperti rumah kebakaran saja.
"Sudahlah, Baek, tidak perlu dipikirkan lagi. Lagipula, Chanyeol tidak mengolok pengalaman pertamamu, iya kan?" Berusaha melupakan rasa malunya, Baekhyun pun mengecek ponselnya yang sejak bimbingan skripsi dimulai ia matikan dan lupa belum menghidupkannya lagi sampai sekarang. Bukannya apa-apa, Baekhyun hanya tak ingin ada yang mengganggu waktunya bersama Chanyeol.
"Hm? Apa ini?" Baekhyun mengerutkan dahinya mendapati beberapa pesan dari Samuel dan deretan notifikasi bahwa Samuel menghubunginya pada jam tertentu. Penasaran, Baekhyun pun membuka pesan itu satu persatu. Isinya hampir sama; meminta Baekhyun untuk mengangkat panggilannya, tapi ada satu pesan yang isinya berbeda dan cukup panjang.
From: Sammy
Hyung, kenapa kau tidak mengangkat panggilanku? Aku punya berita mengejutkan untukmu. Kau ingat pria berinisial 'Y' yang sering meneleponmu ke XOXO Radio? Ternyata dia adalah Park Chanyeol! Aku mengetahuinya dari Jihoon Hyung, dia menceritakan semuanya padaku. Aku sendiri masih sulit percaya, tapi itu memang benar-benar dia. Woah~ bukankah ini hebat? Pantas saja saat mendengar suara Park Chanyeol di telepon, aku merasa tidak asing. Ah, pokoknya hubungi aku begitu kau membaca pesan ini ya!
"Tidak..mungkin.." Tangan Baekhyun meremat ponselnya kuat. Maniknya masih terpaku pada pesan Samuel. Kata per kata ia baca kembali, siapa tahu ia salah baca atau semacamnya, tapi tidak. Pesan Samuel benar-benar mengatakan bahwa pria berinisial 'Y' itu adalah kekasihnya sendiri—Park Chanyeol.
"Baek, apa kau juga mau red velvet cake?"
Seruan Chanyeol dari arah dapur tiba-tiba menyentakkan Baekhyun. Atensinya berpindah pada pintu kamar yang terbuka, menusuk sosok Chanyeol dari kejauhan. Lamat-lamat Baekhyun merasakan darahnya mendidih sampai ke kepala. Hatinya sakit bagaikan ditusuk ribuan jarum dan satu-satunya pertanyaan yang bersarang dalam benaknya adalah kenapa Chanyeol tak memberitahunya soal ini di saat ia sudah menceritakan tentang pria berinisial 'Y' yang sering meneleponnya saat sedang siaran radio?
"Baek, kau tidur lagi?"
Mengabaikan panggilan Chanyeol, Baekhyun segera memakai kembali bajunya. Pikirannya terlalu kacau untuk peduli pada sekitar, ia hanya ingin pergi dari sana secepat yang ia bisa.
Namun baru saja Baekhyun sampai di ambang pintu, Chanyeol muncul dengan segelas cocoa hangat. Pria tinggi itu menilik Baekhyun dari atas hingga bawah, alisnya bertautan sempurna.
"Kau mau ke mana, Baek?"
Lidah Baekhyun kelu dibuatnya. Ia menolak menatap balik obsidian Chanyeol dan lebih memilih diam sambil memandang ke arah lain.
"Di luar sudah mulai hujan, sebaiknya kau kembali—"
PLAK!
Satu tamparan itu Baekhyun layangkan pada tangan Chanyeol yang hendak meraih tangannya. Itu adalah refleks, Baekhyun sendiri kaget dengan aksinya sendiri. Namun daripada memikirkan itu, keinginannya untuk pergi dari sana malah semakin besar.
"Aku harus pergi." kata Baekhyun lirih, lalu berjalan cepat melewati Chanyeol. Tak diindahkannya Chanyeol yang menyerukan namanya di belakang sana, Baekhyun justru mempercepat langkahnya keluar dari rumah itu.
Bersamaan dengan Baekhyun yang hampir mencapai pintu gerbang, motor Sehun muncul di seberang jalan. Chanyeol yang mengejar Baekhyun di belakang juga sama-sama kaget dengan kehadiran Sehun pada jam seperti ini. Akan tetapi, yang lebih membuatnya terpaku dengan napas tertahan adalah ketika Baekhyun berlari ke arah Sehun dan memegang tangannya erat.
"Baekhyun? Apa yang terjadi? Kau kenapa?"
Baekhyun hanya bisa menggeleng berkali-kali tanpa menjawab. Rematannya pada tangan Sehun menguat dan bola matanya memanas dalam hitungan detik. Baekhyun sendiri sebenarnya tak tahu kenapa ia berlari pada Sehun. Berhadapan dengan Chanyeol hanya membuat sesak jantungnya dan Baekhyun ingin pergi sejauh mungkin.
"Aku ingin pulang, Hun-ah. Kumohon.."
Tajam manik Sehun sontak tertuju pada Chanyeol yang membeku di pelataran rumah. Ia tidak tahu ada apa, tapi ia bisa pastikan Baekhyun begini karena Chanyeol.
Balas menggenggam tangan Baekhyun, Sehun kemudian memasangkan helm-nya pada si mungil. "Naiklah, aku akan mengantarmu pulang."
Setelah memastikan Baekhyun duduk nyaman di belakangnya, Sehun pun melajukan motor itu meninggalkan Chanyeol yang bergeming di tempatnya. Tak ada yang mengucapkan sepatah kata, hanya deru ribuan bulir langit yang memecah keheningan.
TBC
Mohon review kalian dan SALAM BOKONG BAEKHYUN~
