oOo
Disclaimer
Naruto © Masashi Kishimoto
.
tomorrow, at sunrise...
oleh oreoivory
oOo
Kafetaria sekolah hampir sepenuhnya kosong. Dulu, walaupun sekolah sudah berakhir, beberapa orang akan tetap tinggal, entah untuk sekedar berciuman dengan pacar di sudut ruangan, atau mengerjakan tugas, atau bahkan hanya untuk sekedar menghindari pulang ke rumah. Sekarang, tempat itu hanya disesaki orang-orang yang berkepentingan, dalam kasus ini mereka sedang dihukum untuk membersihkan kafetaria dan mencuci peralatan makan di dapur. Karena detensi ini melibatkan seluruh kelompok elit Konoha High, sudah jadi peringatan tak tertulis bagi siapa saja untuk menghindari tempat itu seusai bel pelajaran terakhir berbunyi.
"Kudengar Sakura akan ke sini," kata Kiba.
Sasuke tersentak, sekilas, walaupun tidak terlihat, bagi yang benar-benar mengenalnya, perubahan emosinya cukup kentara. "Kenapa?" Naruto yang mengetahui hal itu menggantikan Sasuke untuk bertanya. Selama enam hari kemarin, Sakura sama sekali tidak peduli.
"Apalagi? Mungkin karena gosip." kata Suigetsu yang menaikan kursi-kursi ke atas meja.
Detensi mereka berjalan dalam tujuh hari. Selama itu, murid-murid tidak diijinkan masuk toilet dan harus mengosongkan kafetaria sepulang sekolah. Tidak ada yang mengumumkan peraturan itu ataupun mengancam setiap jiwa yang berada di Konoha High. Murid-murid melakukannya hanya untuk menghindari masalah. Peringatan-peringatan yang datang justru berasal dari satu kepala ke kepala yang lain. Awalnya nasehat agar tidak mendekati toilet dan menjauhi kafetaria, lambat laun kata-katanya mulai berimprovisasi menjadi sebuah peringatan, dan akhirnya beralih menjadi sebuah kalimat yang mengandung bahaya; 'Sebaiknya jangan ke toilet.' 'Jangan kesana! Nanti malah kita kena masalah.' dan akhirnya menjadi 'Tahu tidak, mereka akan membuat bonyok siapa saja yang mengotori hasil pekerjaan mereka!'.
"Tapi itu tidak benar." Suara Sasuke begitu pelan, tapi sorot matanya mengintimidasi seperti biasanya. Dia ingin membuat siapa saja yang menyebarkan rumor-rumor itu menyesal telah memiliki mulut untuk bicara.
"Jangan khawatir, kita beritahu saja kalau itu tidak benar." Naruto menenangkan sahabatnya, lebih seperti upaya untuk menyelamatkan orang-orang daripada bentuk kepeduliannya pada Sasuke.
"Bagaimana jika dia tidak percaya?" Lagipula mereka berandalan, pikirnya. Lebih mudah menimpalkan segala kesalahan kepada orang yang munkin melakukannya.
"Ada Ino di sini, dihukum bersama kita." Sai menatap dapur di mana para cewek melakukan tugas mencuci piring. "Ino masih temannya Sakura, dan pacarku satu-satunya yang tidak akan berbohong kepadanya di antara kita."
Percakapan itu akhirnya berakhir dan mereka melanjutkan kembali pekerjaan mereka. Para laki-laki lebih dulu selesai, kemudian menunggu para gadis di kursi-kursi yang sudah kembali di turunkan dari atas meja. Mereka keluar dari dapur tak lama setelah para laki-laki selesai. Sakura yang tadi sempat jadi topik perbincangan pun mucul bersamaan dengan para gadis yang keluar dari dapur.
"Kelihatannya sudah selesai." Sakura tidak kelihatan bertanya, lebih kepada memberi pernyataan. Matanya melihat sekeliling, memancang setiap orang di tempat, mengabsen setiap kepala, menghitung jumlah yang harusnya ada di sana. "Aku dengar beberapa hal, kuharap itu tidak benar. Aku juga tidak suka memperpanjang masa detensi," katanya selunak mentega yang telah mencair.
"Semua orang juga dengar banyak hal, mereka punya telinga." Karin bersikap sarkastik secara terang-terangan, membuat teman-temannya ingin menyumpal mulutnya.
Sudut alis kiri Sakura naik ke atas, dia menahan senyum. Sepertinya Karin tidak lagi menahan diri. Percakapan mereka tempo hari tampak mempengaruhi perubahan sikapnya. Mungkin orang lain akan menganggap Karin tidak berotak, tapi bagi Sakura inilah Karin yang paling normal. Yang tidak berpura-pura. "Jadi, apa itu benar? Kalian semua melarang murid-murid menggunakan fasilitas sekolah?"
"Tidak," ujar Sasuke tegas tapi masih ada kelembutan dalam suaranya.
Sakura menatap Sasuke lama sebelum beralih pada Ino. Ino menggelengkan kepalanya. "Baiklah, aku percaya. Kuharap kalian menyadari kesalahan kalian setelah hukuman ini dan tidak akan mengulanginya lagi." Semua kepala mengangguk kecuali Karin.
"Oke, ngomong-ngomong kalian sudah boleh pulang," kata Sakura ketika melihat mereka tidak beranjak dari tempat mereka. Sakura tidak mengerti apa dirinya semenakutkan itu untuk orang lain.
Semua orang bergerak kikuk untuk membubarkan diri. Gerakan mereka sepertinya tidak koheren. Sakura menatap mereka saja dengan geli.
"Karena kita sudah bekerja keras, aku mengadakan pesta malam minggu nanti." Suara Karin merobek kegaduhan dan menjadikannya keheningan kilat. Oksigen seolah-olah disedot dari tempat itu, membuat setiap orang terkesiap.
Detik itu juga, Sasuke ingin melenyapkan Karin. Dia ingin entitasnya hilang dari bumi. Bisa-bisanya dia— Sasuke seperti kehilangan pijakan, dia bahkan takut melihat reaksi Sakura.
"Dasar jalang!" desis Ino. Meskipun suaranya sangat lirih, Sasuke masih bisa mendengarnya.
Sasuke melirik Naruto, mengirimkan peringatan padanya. Naruto yang mengerti segera membuka suara. "Kita tidak bisa mengadakan pesta. Ibu ada di rumah." Naruto selalu bersikap lucu, ketika dia berbicara seperti dunia adalah hal yang sangat menyenangkan. Kali ini suaranya rendah dan dalam seperti dia baru memasuki jurang yang gelap.
Karin memamerkan giginya yang putih, tersenyum cerah karena dia bisa mematahkan argumen sepupunya. "Bibi Kushina akan pergi akhir pekan ini mengunjungi nenek." Suaranya riang.
"Kami semua lelah, kelihatannya tidak bakal banyak yang datang." Shikamaru turun tangan, perkataannya langsung diamini kawan-kawannya. Bisa jadi perang dunia ke tiga kalau Karin masih bersikap seperti itu.
Karin memutar matanya, mendengus dengan sikap berlebihan semua orang. Dia merasakan tatapan tajam Sasuke menembus kulitnya.
Akhirnya Karin menggambil sikap. "Kau juga harus datang," kata Karin melanjutkan, "Sakura." Karin menggumamkan nama Sakura dengan cara menantang di setiap konsonan kata yang dia ucapkan, mengabaikan ketegangan yang berada di sekitarnya.
Nah, yang terakhir lebih seperti sajak-sajak kematian. Dibanding pernyataannya soal pesta, undangannya justru hal yang paling tidak terduga, paling berbahaya. Mungkin gadis itu sudah benar-benar sakit jiwa, pikir semuanya.
Sakura tersenyum elegan, hampir geli, separuhnya menahan tawa. "Oke, aku akan datang."
Kalau mereka punya penyakit jantung, mungkin sekarang mereka sudah jatuh menghantam lantai megap-megap karena serangan jantung. Ino yang paling mengenal Sakura pun menganga tidak percaya. Sakura tidak suka pesta. Tidak, Sakura benci pesta. Dan Sakura benci Karin. Dua kombinasi yang harusnya dihindari bukan di sambut dengan kikikan.
"Sampai jumpa nanti kalau begitu." Kata Karin saat melewati Sakura dan satu-satunya orang yang mengambil inisiatif untuk pulang. "Hei, kalian tunggu apa? Ayo pulang." Teriaknya pada kawan-kawannya yang masih membeku di tempat. Tim pemandu sorak mengikutinya seperti bayi-bayi bebek di kolam taman kota mengikuti induknya.
"Kau tidak perlu pergi." Sasuke harus memberi standing applause pada dirinya sendiri karena masih bisa membuat suara dan pikirannya tetap stabil.
"Kenapa aku sepertinya merasa kau tidak senang aku ikut pesta?" Kata Sakura tidak senang, dia kelihatan tersinggung. "Aku tahu aku tidak keren untuk melakukan sesuatu semacam itu, kan?"
Oh, Sasuke mau mati saja sekarang.
"Bukan begitu maksudku. Karin bukan orang baik dan dia tidak suka padamu. Bisa saja dia merencanakan sesuatu. Aku cuma khawatir." Aku takut dia mengatakan yang bukan-bukan. Aku takut dia menunjukkan sesuatu atau mengatakan yang tidak seharusnya. Aku takut dia memancingmu dan menghancurkan semua yang kita miliki.
Sakura melipat tangannya di depan dada, ada sikap tak gentar di sana dan sedikit merajuk. "Dia tidak akan berani. Lagipula aku akan tetap datang meskipun kau tidak datang."
Sasuke tidak mau lagi pergi ke pesta dalam masa-masa sulit ini, apalagi pestanya Karin. Tapi membiarkan Sakura sendiri berada di sana dengan orang yang membuatnya berstatus 'selingkuh secara tidak sengaja' adalah tindakan bunuh diri.
"Nah kau pulang duluan saja. Aku dan Ino mau beli baju pesta." Sakura mengalihkan topik pembicaraan dan mengedipkan mata secara ganjil kepada Ino. Ada pesan tersirat yang hanya Ino yang tahu maksudnya.
"Cambio de plans," kata Sakura dalam bahasa spanyol. Karena Ino juga berada di kelas bahasa, dia tahu apa artinya kemudian ikut tersenyum dan merangkul lengan sahabatnya. Mereka meninggalkan kafetaria dengan sukacita, meninggalkan Sasuke dalam badai yang akan menyongsongnya malam minggu nanti.
oOo
~bersambung
oOo
Catatan Cerita :
Cambio de plans : perubahan rencana (aku pake gugel translet jadi gatau vener apa enggak.)
Catatan penulis :
Lama gak up, efek di rumah aja dengan baca novel seabrek. Aku lagi ngehype series novel The Mortal Instrument, The Infernal Device sama sekarang lagi baca The Dark Artifices. Dari dulu jatuh cinta sama Sebastian terus sekarang fallin love sm Jem. Yang suka juga mau nyari temen buat ngehype. Dm yah^^ Betewe makasih dukungannya, dan saran dan kritik selalu diterima. ~Reo
