14

Charade

.

.

.

Butuh tiga bulan penuh bagi Luhan untuk bisa melihat vonis dijatuhkan.

Lebih lama dari yang ia harapkan, tetapi ia tak bisa memprotes apapun. Luhan hanya mengikuti perkembangan kasus dari apa yang Baekhyun atau Kyungsoo katakan padanya. Beberapa kali Detektif Kim berkunjung membicarakan sesuatu dengan Sehun bersama Luhan yang hanya duduk diam di sisinya. Luhan tidak ingin mengetahui terlalu banyak hal, yang ada dalam pikirannya hanyalah Shia.

Jadi, saat Sehun datang saat senja, membawa laptop yang berisi rekaman langsung dari persidangan yang enggan ia hadiri, Luhan hanya mengangguk. Luhan menatap itu dengan mata memerah dan hati campur aduk. Berbagai perasaan membludak tak terkendali hingga ia hanya bisa terdiam.

"Kau bisa sepenuhnya tenang, Luhan. Tak ada yang bisa menyakiti kalian lagi." Bisik Sehun di dekat telinganya.

Luhan tak mampu mengangguk, emosi yang tumpah membuatnya kelelahan.

"…Terdakwa Yoo Seung Ho terbukti menjadi otak dalam penculikan dan pembunuhan terhadap dua korban yang merupakan anak perempuan di bawah umur dengan menyewa dua terdakwa lain yaitu Kris Wu dan Tsalia Vern. Terdakwa Yoo Seung Ho melakukan perbuatan tersebut atas dasar motif pribadi yang tidak dapat dibenarkan oleh hukum. Terdakwa terbukti menyekap dua korban secara tidak manusiawi. Terdakwa Yoo Seung Ho terbukti membunuh korban penculikan pertama, yaitu Kim Na Ra sebagai bentuk ancaman kepada Ny. Luhan, ibu dari korban selamat yaitu Shia. Tindakan amoral tersebut telah menyebarkan terror dan membuat keresahan di dalam masyarakat, serta memberikan trauma berat bagi korban dan keluarga korban. Kejahatan terdakwa sudah jelas dan tak dapat ditoleransi. Berdasarkan motif, cara serta sikap terdakwa selama proses pengadilan berlangsung, Departemen Pengadilan memutuskan untuk menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada terdakwa Yoo Seung Ho untuk memisahkannya dari tatanan masyarakat. Pembacaan putusan untuk dua terdakwa lainnya…"

Luhan memalingkan wajah, dan Sehun begitu mengerti dengan mematikan rekaman langsung itu.

Luhan tidak berkata apapun, hanya genggaman yang ia terima dengan erat di atas kepalan tangannya yang menghubungkan mereka.

"Luhan?"

"Bagaimana dengan media?"

Sehun tersenyum lembut. "Paman Seo menjamin tak akan ada yang bisa menyentuh Shia, jika itu yang sebenarnya ingin kau tanyakan."

Luhan mau tak mau ikut tersenyum. Lalu tiba-tiba senyum tipisnya itu langsung pudar.

Selama ini yang menjadi prioritasnya adalah Shia, sehingga ia berusaha menyingkirkan hal-hal lain di luar putri kecilnya. Dan kini ia bisa memikirkan dengan benar tentang hal-hal lain yang berusaha ia singkirkan itu.

"Bagaimana dengan Nyonya Kim?"

Sehun terdiam sebentar.

"Luhan…" Suara Sehun terdengar tidak nyaman di telinganya; Luhan tahu Sehun tengah memohon padanya untuk tidak membahasnya. Tapi Luhan ingin keras kepala.

"Selama ini kau selalu menghindari topik itu, dan aku tak berusaha mengangkatnya karena aku menahan diri; tapi sekarang aku tak bisa."

Sehun menghela nafas, melepaskan genggamannya pada Luhan dan mengalihkan pandangan. "Tak ada yang bisa kau lakukan Luhan. Pengacara keluarga Kim berkata mereka akan pindah ke luar negeri bulan ini, kesehatan Nyonya Kim Na Young sudah membaik tetapi trauma psikisnya masih sangat melekat."

Luhan menarik nafas. Tak bisa menampik pikiran bahwa kematian Nara adalah karena dirinya. Luhan terus menerus sakit memikirkan ini, bertambah perih ketika ia menemukan dirinya sendiri juga tersembuhkan di saat yang sama ketika melihat Shia mulai membaik dan pulih perlahan. Batinnya masih remuk dengan perasaan kontradiksi itu.

"Seharusnya aku mendapat banyak sekali tamparan, caci maki, amarah dan juga kebencian." Luhan berucap lirih, memejamkan matanya pedih. Merasa terhimpit sesak luar biasa.

"Luhan, kita sudah bicarakan ini." Suara Sehun sedikit meninggi. "Kau tak bisa lakukan apapun karena bajingan itu yang bertanggung jawab atas semua bencana mengerikan ini. Kau pun menderita, kau pun putus asa. Apa yang bisa kau lakukan? Merasa terus tertekan tidak akan membantu keadaan atau siapapun itu. Shia sudah ada di sisimu, Luhan. Bukankah itu yang kau inginkan?"

Luhan tertegun mendengarnya, lantas mendesah teramat pelan.

"Sehun, maafkan aku."

"Jangan meminta maaf, Luhan. Jangan pernah meminta maaf untuk sesuatu yang terjadi di luar kendalimu. Permintaan maaf hanya akan membuat semuanya lebih buruk."

Luhan terdiam, mencoba menghindar dari bagaimana Sehun menatapnya dengan tatapan lelah luar biasa. Pria itu menghela nafas perlahan, dan meraih Luhan kedalam pelukannya.

"Kau sangat kelelahan, istirahatlah Luhan. Shia ada disisimu, bukankah itu yang selama ini kau inginkan?"

.

.

.

Shia mulai pulih, meski masih memiliki kepanikan luar biasa saat berinteraksi dengan orang asing, genangan air dan ruang-ruang sempit juga warna merah pekat. Tapi perkembangannya terbilang melegakan, meski tak membuat Luhan sepenuhnya bisa memejamkan mata saat malam menjelang.

Luhan turun dari mobil dengan Shia dalam pelukan, diikuti Paman Seo yang berjalan di sampingnya. Shia tak lagi menyembunyikan wajahnya saat berada di tempat umum, tetapi masih tak bisa melepaskan pelukannya. Gadis manis itu mulai banyak bertanya penasaran, membuat Luhan seperti berhadapan dengan Shia di masa lalu, Shia yang masih begitu polos tanpa pernah mengecap rasa pahit trauma.

"Nona Baekhyun masih memiliki pasien, dia meminta untuk menunggu sebentar. Apakah Anda keberatan?" Paman Seo berkata setelah memasukkan ponselnya.

"Tolong jangan memanggilku dengan sebutan Anda, Paman." Luhan melempar senyum tipis yang membuat Paman Seo tertular. "Tidak apa-apa. Shia," Luhan beralih ke Shia, sedikit melonggarkan pelukan. "Apakah Shia mau makan siang dulu? Nona Baekhyun masih memiliki sedikit pekerjaan jadi belum bisa bertemu dengan Shia."

Shia menimbang sesuatu, masih selalu seperti itu saat ia diberi pertanyaan. Gadis kecil itu mengangguk dengan senyum kecil. "Eum, tidak apa-apa."

Mereka menuju kafetaria rumah sakit, dan saat itu Luhan tidak menyadari Shia mulai mengangkat wajahnya memperhatikan sekeliling.

"Shia ingin apa?" Paman Seo berlutut menyejajarkan diri dengan Nona Muda yang duduk manis itu. Shia tersenyum ceria.

"Apapun yang Paman Seo pilihkan untuk Shia."

Kafetaria rumah sakit selalu menampakkan suasana yang sama. Lalu lalang para dokter dan perawat yang memasuki jam istirahat, beberapa keluarga pasien juga ada di ruang besar dengan jendela-jendela hampir di setengah dinding ruang itu.

Luhan memilih tempat duduk yang agak jauh dari jendela, mencegah Shia memperhatikan kolam air di sampingnya. Luhan tak memperhatikan apapun selain Shia yang tangannya ia genggam, lalu berkas hasil terapi yang Baekhyun berikan padanya.

Gadis kecil itu mengedarkan pandang, mulai dari cahaya terang dari jendela besar yang bergerak-gerak. Dalam pikirannya, hal itu langsung terhubung dengan air.

"Apakah Shia menyukai cahaya terang? Jika begitu, Shia harus melihat cahaya terang yang sangat indah, bergerak menari-nari."

"Bergerak dan menari?"

Senyum tipis terlintas dalam ingatan, berbalut warna merah. "Ya, cahaya itu berasal dari air dalam yang bergelombang."

Gadis kecil itu mulai kehilangan fokus.

Saat matanya mulai mengabur, sesuatu yang sangat mencolok masuk ke pandangannya. Seorang gadis muda yang semampai berjalan di dekatnya dengan rambut merah menyala. Shia mengeluarkan suara tercekik ketika gadis semampai itu melirik dengan tatapan dingin.

Nafasnya tercekat.

"Jadi, apakah Shia mau memberitahu siapa yang Shia ingat saat Shia kedinginan?"

"Nona Bee… Dan warna merah, Shia sangat takut."

"Apakah dia menyakiti Shia?"

"Dingin sekali, Shia tidak bisa bernafas. Sakit… Sakit sekali."

Riuh rendah di kerumunan berubah hening, berubah menjadi dengingan di telinganya. Pendengaran hanya menangkap suara-suara yang selalu terekam jelas, yang selalu ada dalam mimpi buruknya. Seseorang menuang air dari dispenser, suara gelembung sederhana itu mengingatkan akan kecipak air juga nafasnya sendiri yang terenggut.

Semua warna merah tersembunyi yang ada di ruang itu tiba-tiba muncul jelas, merah merah dan merah…

Harmoni mengerikan itu kembali datang.

"Tidak… Jangan… Shia bukan anak nakal… Tidak…" Gumaman itu terdengar seperti mantra lirih berulang-ulang.

Ketakutan itu muncul, mengirim sengatan beku. Gadis kecil itu merasakan dingin yang menusuk, pandangannya mengabur tetapi ia menangkap warna merah dengan sangat jelas, pendengarannya samar berdenging, tetapi suara air terdengar sangat dekat.

Gadis kecil itu menangis ketakutan, tak bisa lagi menanggung semua rasa sakit itu.

Tercekat nafasnya sendiri saat ia berteriak ketakutan membuat Luhan sepenuhnya tersadar. Wanita itu panik setengah mati, ketakutan melihat Shia yang nyaris kejang dan terjatuh dari kursinya.

"Shia!"

Luhan tercekat, tangan gemetar mencoba menenangkan gadis kecilnya yang kembali menderita. Batinnya bergumam jangan, tolong jangan lagi… Tuhan jangan lagi…

Kerumunan yang ikut panik menambah riuh, Shia menjerit makin keras dan itu hanya memberi jalan untuknya makin tercekik.

Shia terenggut darinya, Luhan menatap nanar punggung pria baya yang menggendong putri kecilnya dan disentak suara keras. "Luhan kendalikan dirimu!"

Semuanya berjalan sangat cepat, dan begitu mengerikan.

Luhan menggigil di sudut ruang, menatap Shia yang memberontak lemah saat Baekhyun kembali menenangkannya. Ia tak memiliki keberanian untuk mendekat, semua itu mengerikan. Ia benar-benar tak kuat menanggung rasa takut, takut Shia akan kembali seperti semula. Dengan trauma dan semua hal mengerikan itu.

Baru saja dia mulai pulih… Baru saja dia bisa tersenyum dan mulai kehilangan mimpi buruk…

Matanya memejam pedih melihat Shia harus kembali menatap kosong ke langit-langit ruang. Kulit tipisnya harus bertemu sapa dengan jarum suntik berisi obat penenang. Luhan runtuh saat mata redup itu perlahan menutup.

"Luhan!" Baekhyun menopangnya yang sudah terduduk di lantai.

"Mengapa Shia harus mengalaminya lagi? Tidak bisakah aku yang menggantikannya? Tidak bisakah?" Isaknya lemah.

Baekhyun kaku. Tangannya gemetar samar saat menenangkan Luhan. "Dia terkena shock, membuat semua traumanya muncul ke permukaan dalam satu waktu. Itu sangat berat dan menakutkan bagi gadis manis itu. Dia akan tertidur sebelum kita menanganinya. Bertahanlah sebentar lagi, Shia akan segera pulih. Aku yakin itu, kau tidak boleh kehilangan harapan, oke?"

"Ini sangat berat…" Luhan berucap dengan nafas tercekat. "Melihatnya menderita seperti ini lagi membuatku… Membuatku…" Luhan tak bisa melanjutkannya.

Baekhyun hanya bisa terdiam dan mengelus Luhan dengan hati gemetar dan takut. Dokter itu menatap Paman Seo yang berdiri mematung dengan tatapan tak dapat diartikan.

"Paman Seo… Kapan Sehun akan datang?"

"Dia akan kembali petang nanti."

Baekhyun mengangguk pelan. Memejamkan mata sejenak, dadanya seperti hancur karena detak menggila ini.

.

.

.

Baekhyun terdiam menatap komputer lipatnya yang menampakkan data menyakitkan mata, data perkembangan kesehatan psikologis milik gadis kecil kesayangannya, Shia. Matanya bergerak awas menganalisis data entah untuk keberapa kali, ia hanya tak ingin ada satupun yang meleset. Karena jika ini gagal, maka tak ada jalan lain selain bunuh diri. Beban moral yang ia terima sungguh menyakitkan, beban yang tak pernah ia rasakan sebelum ia bertemu dengan malaikat manis itu.

Baekhyun menghela nafas, memejamkan mata sejenak dan bergumam. "Sedikit lagi, hanya tinggal sedikit lagi dan kamu akan kehilangan semua memori mengerikan itu. Aku berjanji…" Lirihnya pahit.

Pikirannya menerawang, kembali ke semua terapi yang ia berikan pada Shia. Semua itu berkilas satu demi satu. Sesekali melirik dan menggeser data di layar komputernya, mengumpulkan semua premis untuk menuju kesimpulan yang ia harap tak akan meleset.

"Empat bulan, sebenarnya itu waktu yang sangat riskan… Tetapi membuatnya menderita lebih lama sangat menyakitkan, juga memperbesar kemungkinan semuanya akan terbongkar. Sial, benar-benar tak ada jalan keluar di sini." Baekhyun menggeretakkan gigi penuh emosi.

Ponselnya bergetar, dan begitu ia membaca pesan di sana. Pandangannya berubah datar dan dingin.

Today, 10.15 PM

Kita hanya memiliki waktu setengah jam.

Baekhyun bangkit dan menyambar tas hitam di samping meja.

Ketukan sepatu membawanya melintasi lorong dingin rumah sakit menuju kamar rawat Shia, sesekali melirik pada kamera keamanan yang tak memiliki kedipan merah kecil. Di sana ia menemukan Chanyeol bersandar di dinding ruangan dengan tangan terlipat, tak ada snelli putih di tubuh jangkungnya, semuanya berbalut hitam.

Pintu terbuka pelan dan Chanyeol menoleh, melempar senyum miring.

"Hanya setengah jam?" Decihnya sebal.

Chanyeol mengedikkan bahu. "Aku bukan Kris, oke?"

Baekhyun mendengus dan melepas snellinya sendiri, menggantinya dengan coat hitam panjang. Sejenak terdiam melihat onggokan rambut merah pekat di dalam tas, menguatkan diri dan memasangnya dengan apik.

"Demi tuhan ini terakhir kalinya aku bersua dengan warna merah." Gumamnya sambil memasang masker.

Chanyeol menyeringai tipis. "Senang mendengarnya, Sayang."

Kalimat itu seperti penghiburan diri yang berisi bualan, karena sejak awal merah adalah warna takdir yang melekat di tubuhnya.

Mereka menunggu dengan tenang gadis kecil yang terbaring lemah itu membuka mata, perhitungan Baekhyun tak akan meleset—dan tak akan ia biarkan meleset sedikitpun.

Dan benar, baru lima menit terlewat ketika Shia membuka matanya perlahan.

Baekhyun mendekat dengan debaran menggila walau wajahnya sedatar dan sedingin es. Ia duduk di sisi ranjang, memerangkap Shia dengan lengannya. Membiarkan juntaian wambut merah mengisi vista sempit gadis kecil itu.

"Shia sudah bangun?"

Tatapan itu masih tak fokus, masih mencari seberkas cahaya yang tak mungkin ia dapatkan lebih.

"Mama…" Pedih, hanya itu yang Baekhyun rasakan menyadari selalu Luhan yang Shia sebut.

"Mama tidak ada, Sayang. Sekarang Shia bersama Nona Bee… Masih mengingatku?"

Shia mulai mendapatkan kesadaran dan saat itu pula matanya melebar penuh horror. "T-tidak…"

Baekhyun membekap lembut, dan mendekatkan wajahnya. "Kenapa? Apakah aku sangat menakutkan? Apakah Shia tidak menyukai ini semua?"

Shia mulai menangis. Gadis kecil itu tercekat, tangan lemahnya hanya mampu mendorong sia-sia.

"Apakah Shia ingat saat Shia tenggelam? Apakah itu sangat menyakitkan? Apakah itu sangat dingin? Tidak ada Mama di sana, tidak ada yang menyelamatkan Shia saat itu. Apakah itu sangat menyakitkan? Apakah Shia merasa sangat takut?"

Baekhyun merendahkan suaranya. "Shia melihat Mama menangis kan? Begitu banyak menangis karena Shia, begitu juga dengan Papa. Semuanya merasa sakit, semuanya menderita karena Shia terus ketakutan dan bersedih. Apakah Shia merasa bersalah?"

Tangisan itu memilukan, dan saat itu Baekhyun menggunakan suaranya yang paling lembut. Baekhyun tersenyum sampai matanya menyipit, begitu cantik seperti bulan sabit.

"Bukankah Shia bisa melupakannya? Tidak apa-apa, lupakan saja. Shia bisa melupakannya, tidak akan ada yang memarahi Shia. Shia tidak akan mendapat mimpi buruk lagi, Shia tidak perlu ketakutan lagi. Bukankah cahaya terang yang menari dan bergerak sangat indah? Bukankah warna merah sangat menarik?"

Mata berair itu masih ketakutan, air mata masih mengalir tanpa henti. Suara nafas tercekat itu begitu menyedihkan.

Baekhyun terus mengulanginya, berganti-gantian. Di antara itu ia mendengar gumaman rendah Chanyeol, sedikit humor di sana. "Tongkat dan wortel."

Baekhyun tersenyum kecut.

Saat Shia mulai kehilangan kesadaran, Baekhyun mengeratkan bekapannya. "Lupakan, lupakan saja. Shia bisa melupakannya. Tidak akan ada lagi mimpi buruk. Shia tidak perlu mendapat mimpi buruk lagi, hmm?"

Baekhyun bangkit saat pandangan Shia nanar, mengambil jarum suntik dari saku coat dan menyuntikkannya pada pembuluh tipis di lipatan siku dalam.

.

.

.

Pagi musim Gugur itu masih dihiasi keheningan saat Shia terbangun dengan perlahan. Menatap satu persatu orang di ruangan itu dengan tatapan tak fokus juga kebingungan, masih ada sedikit kekosongan di sana. Tatapan Shia berhenti di Luhan, lirihannya membuat lega juga khawatir bersamaan.

"Mama, ada apa? Kenapa Shia tidur di sini? Apakah Shia sakit?"

Luhan lega Shia tak terbangun dengan jerit ketakutan seperti sebelumnya, tetapi rasa khawatir menggantung tentang apa yang sebenarnya terjadi.

"Shia kelelahan, jadi Shia tidur di sini." Sehun yang menjawab, dengan usapan hati-hati pada rambut lepek Shia. Shia berganti menatapnya.

"Kenapa semua orang ada di sini?"

"Apa yang Shia rasakan?" Luhan bertanya cepat tanpa mampu menahan diri.

"Eung? Shia … lelah. Bolehkah Shia tidur lagi, Mama?"

"Shia, Sayang… Apakah Shia mau berbicara sebentar denganku? Nona Baekhyun ingin menceritakan sesuatu."

Kalimat itu kode, semua orang meninggalkan kamar rawat dan membiarkan Baekhyun memeriksa kondisi Shia.

Kekhawatiran Luhan terjawab setelah semua sesi berkala yang Baekhyun lakukan selama dua hari setelahnya. Menjawab mengapa Shia terlihat sedikit kosong, tanpa sirat ketakutan dan panik di netra jernih itu, juga suaranya yang perlahan kembali seperti dulu. Luhan ibunya, perbedaan kecil itu sangat terasa.

Shia bermain dengan Kyungsoo di taman rumah sakit saat Baekhyun mengajak Luhan dan Sehun berbicara di salah satu bangku. Baekhyun menatap Shia sejenak, senyum lega terulas saat melihat Shia mulai tertawa.

"Aku pernah membicarakannya padamu, PTSD yang ia miliki mencapai tahap kritisnya saat Shia pingsan dua hari lalu. Saat ia mulai membaik perlahan, dihadapkan dengan semua traumanya secara bersamaan membuatnya mengalami shock luar biasa. Daripada distorsi ingatan, apa yang Shia alami saat ini lebih mengarah ke amnesia psikologis. Amnesia disosiatif, gejala utamanya adalah ketidakmampuan secara tiba-tiba untuk mengingat kejadian masa lalu. Seharusnya dia merasa kecemasan berlebih, tetapi kurasa…" Baekhyun terhenti sejenak. "Kurasa kecemasan itu tidak terlalu Shia rasakan karena ingatan yang hilang itu adalah ingatan terburuknya, yang bisa aku katakan ingin dia lupakan. Shia memblokir ingatan itu."

Luhan tercekat, merasakan genggaman Sehun mengerat pada tangannya. Luhan memiliki banyak sekali pertanyaan, tapi ia kelu.

"Amnesia disosiatif? Berarti masih ada kemungkinan dia akan mengingatnya lagi suatu saat?" Tanya Sehun. Luhan terbelalak mendengarnya.

"Ya, ingatannya masih ada, tetapi tidak dapat diingat karena tersimpan sangat dalam di pikiran. Ingatan itu mungkin muncul kembali jika dipicu sesuatu di sekitarnya."

"Bagaimana dengan genangan air dalam? Warna merah dan… dan semua hal yang berkaitan dengan trauma Shia?" Luhan berhasil mendapatkan suaranya, lalu menatap sedih pada Shia yang berada dalam gendongan Kyungsoo.

Baekhyun membuka lembaran datanya. "Amnesia disosiatif yang menimpa Shia membuatnya melupakan ingatannya secara selektif, hal yang tak dapat aku jelaskan secara sangat detail. Mudahnya, dia memblokir semua ingatan yang tidak ia inginkan. Terdapat kekosongan besar dalam kepalanya, yang akan membuatnya merasa kebingungan. Tetapi, melihat perkembangan Shia selama dua hari ini—yang mana masih sangat singkat, dan kita memerlukan waktu yang lebih banyak, dia akan mulai membaik. Aku pernah mengatakan kepadamu, bahwa salah satu hal yang menyebabkan trauma Shia begitu dalam adalah masa lalunya, di mana keluarga tidak berfungsi semestinya. Shia sangat menginginkannya, dan akan mengisi kekosongan itu secara perlahan, sedikit demi sedikit."

"Aku … belum bisa mengerti." Desah Luhan, matanya mulai basah.

"Ego yang Shia miliki membuatnya melindungi dirinya sendiri dari kecemasan dengan mengeluarkan ingatan yang mengganggu, ingatan buruk dan traumatisnya."

"Apakah ini akan mengganggu perkembangannya?"

"Shia masih sangat kecil, dan itu berkemungkinan besar. Tetapi selama ia mendapatkan lingkungan aman, kurasa itu tidak akan mengganggu perkembangan integritasnya. Dia masih mengenali dirinya sendiri, begitu juga dengan orang-orang terdekatnya, khususnya dirimu, Luhan. Kemampuan kognitifnya mulai membaik, kecemasan berlebih mulai berkurang dan orang yang awam dengan pengetahuan ini akan mengatakan bahwa dia baik-baik saja."

Sehun tampak ingin menanyakan sesuatu, tapi ia tak mampu melanjutkannya. Dia seperti menemukan pertanyaan pengganti ketika membuka mulut. "Apakah pengobatannya sama seperti terapi untuk PTSD-nya?"

"Beberapa dari terapi itu, tetapi itu akan menjadi lebih riskan dari sebelumnya. Kita tidak bisa mengambil resiko dengan hypnosis dan farmakoterapi, jadi yang bisa aku katakan adalah terapi keluarga, itu akan membantunya."

"Mama!"

Shia datang menubruk tubuh Luhan, memeluknya sangat erat dengan senyum secerah mentari yang membuat Luhan meleleh.

"Apakah Shia bersenang-senang dengan Nona Kyungsoo?"

Shia mengangguk semangat, menurut saat Sehun memangkunya. "Nona Kyungsoo tidak berhenti membuat wajah lucu dan itu menggemaskan sekali. Oh oh! Nona Kyungsoo juga berjanji akan membuat kari yang pedas untuk Shia."

"Apapun untukmu, gadis manis." Kyungsoo tersenyum dengan mata berkilau basah.

"Nona Kyungsoo sangat baik hati." Cengiran itu muncul, dan Luhan tak tahan untuk tidak mengusak pipi yang masih tirus itu.

Baekhyun bangkit dari tempat duduknya, bersimpuh di depan Shia dan menyentuh wajahnya dengan hati-hati.

"Apakah Shia pusing?"

Gadis itu menggeleng. "Tidak, Shia baik-baik saja."

"Apakah Shia ingin melihat kolam di taman nanti? Sepertinya ada ikan yang berenang lucu di sana." Semua orang dewasa di sana menahan nafas, sementara Shia terdiam sebentar, tampak mengingat sesuatu di kepala kecilnya sebelum menyerah. Ada kebingungan sesaat, tapi itu hanya sesaat. Langsung terganti dengan senyum manis.

"Boleh, apakah Nona Baekhyun yang akan menemani Shia?"

"Tentu. Kita bertemu nanti Shia, masih ada pasien yang menunggu, oke?" Baekhyun bangkit, mengusak rambut Shia sekilas. Bersamaan dengan itu, Kyungsoo juga berpamitan.

"Yaah… Kenapa semuanya harus pergi?" Shia mencebik kecewa, Kyungsoo tertawa lembut.

"Jam istirahatku sudah habis, Sayang. Jangan marah, besok aku akan datang lagi."

Begitulah, dan kini Shia menyandar nyaman pada Sehun, menikmati senja.

"Mama…" Shia memanggil pelan. "Kapan kita akan pulang? Shia ingin bertemu dengan Nona Heeju dan Nona Miran, mereka berjanji akan mengelabang rambut Shia dan menyematnya dengan jepitan mutiara."

Luhan tersenyum lembut, di sisi lain Sehun mencoba mendapatkan perhatian gadis manis itu. "Dari tadi hanya Mama yang Shia panggil, bagaimana dengan Papa? Papa sedang memelukmu sekarang, tapi hanya Mama yang selalu Shia tanyakan."

Shia tergelak, berbalik dan memegang wajah Sehun dengan senyum geli. "Apakah Papa sedang cemburu?"

Sehun menahan senyum, mencoba mempertahankan raut tertekuknya meski siapapun di sana akan tahu, mata itu ingin menangis. "Papa sangat cemburu."

Shia tergelak lagi, memeluk leher Sehun dan tertawa di sana.

Sehun menatap Luhan yang diam-diam mengusap air matanya, semua ini masih terasa begitu berat, tetapi semuanya akan membaik perlahan.

.

.

.

Shia menatap jendela besar di depannya, menampilkan pemandangan kota yang sibuk dan menyilaukan. Ruang ini cukup besar, mungkin berfungsi sebagai selasar lantai ini, tepat di bagian depan departemen milik Nona Baekhyun. Ia merasa sangat sering mengunjungi lantai ini, mungkin sampai hafal. Ia selalu kemari untuk berbicara dengan Nona Baekhyun, pembicaraan yang lebih seperti menjawab pertanyaan. Tidak sesulit mengerjakan PR, tetapi pertanyaannya sedikit aneh. Selalu berkaitan dengan apa yang ia rasakan, apakah ia mendapat mimpi buruk.

Nona Baekhyun juga sering menanyakan apa yang ia inginkan.

Namun ia menyukainya, tidak apa-apa. Karena Nona Baekhyun selalu tersenyum manis dan menyenangkan. Mamanya sedang berbicara di dalam, sementara ia di sini menunggu dengan Paman Seo. Tetapi Paman Seo sedang pergi menepi untuk menerima telefon.

Shia mengayunkan kakinya yang sedikit menggantung, menunggu Mamanya selesai untuk pulang ke rumah. Atau mungkin menemui Papa kemudian pulang bersama?

Gadis kecil itu tersenyum dengan pemikirannya sendiri.

Lalu tiba-tiba saja, ia melihat dua pasang sepatu di depannya. Uhh… Seperti sepatu Papa dan Mama, tapi Shia tidak mengingat sepatu-sepatu ini. Ia mendongak, lalu mengerjap mendapati pasangan baya menatapnya dengan senyum kecil. Tidak, hanya wanita dengan mata mengerut indah itu yang tersenyum. Pria di sebelahnya hanya terdiam kaku.

Siapa mereka?

Sedikit banyak khawatir, mengingat Mamanya melarang untuk berbicara dengan orang asing. Tetapi sopan santun yang tertanam membuatnya tak bisa lari begitu saja mencari Mamanya.

"Uung… Apakah ada yang bisa Shia bantu? Apakah Anda mencari ruangan di lantai ini? Shia hafal semuanya." Kalimatnya dihiasi senyum ramah, ia tak mengerti mengapa mata wanita di depannya ini berkaca-kaca sementara pria itu makin kaku.

"Tidak. Kami ingin menemuimu, Anak Manis. Ah tidak, Shia, kami ingin menemui Shia."

"Apakah Shia mengenal Anda? Apakah Anda mengenal Mama, atau Papa?"

Pria di depannya terkesiap, tapi tak bicara apapun.

"Apakah Shia baik-baik saja?"

Shia mengerjap ketika wanita ini bertanya balik, tetapi ia tetap tersenyum. "Shia baik-baik saja, terimakasih telah bertanya."

Mereka terdiam untuk beberapa saat. Sampai ia mendengar suara pria yang sedikit menakutkan itu.

"Apa kau tidak mengenal suaraku?"

Shia tertegun, mendongak, menatap pria tua itu dengan ingatan berkeliaran. Ia merasa pernah mendengar suara ini, tetapi ia tak bisa mengingatnya sama sekali. Dahinya berkerut.

"Shia, Sayang… Apakah Shia menunggu … lama…"

Shia menoleh pada Mamanya yang tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Menatapnya—tidak, menatap pasangan di depannya dengan mata membulat, terkejut, lalu berubah berkaca-kaca. Sebenarnya … ada apa?

"Ibu…" Shia bisa mendengar suara lirih Mamanya. "Ayah…" Ia mendengar suara yang lebih lirih lagi. Kemudian terkesiap.

Jika Mama memanggilnya seperti itu… Apakah mereka Nenek dan Kakek?

Wanita di depannya—tidak, nenek, dia nenek, berjalan mendekati Mamanya yang tampak seperti akan terjatuh. Sementara ia sendiri mengingat semua kenangan lama, yang sudah begitu lama tidak ia ingat. Mamanya yang menangis di telefon, mendengar kata-kata yang diucapkan dengan nada meninggi marah.

Matanya tiba-tiba basah.

"Apakah … Anda sudah tidak marah lagi dengan Mama?"

Shia bisa mendengar Mamanya menangis tersedu, sedikit teredam sesuatu. Sama seperti saat ia menangis di pelukan seseorang.

Shia ingin menangis ketika kepalanya di usap pelan. "Maafkan aku baru menemuimu sekarang."

Shia menggeleng keras. "Apakah Anda sudah tidak marah lagi dengan Mama? Apakah Anda sudah memaafkan Mama? Jika belum, Shia akan meminta maaf… Shia minta maaf…"

Kenangan lama menyeruak dan menyesakkan dada kecilnya. "S-shia… Shia…" Nafasnya tercekat di tenggorokan, tetapi ia tak perlu melanjutkannya.

Karena pria ini sudah bersimpuh di depannya, memegang kepalanya dengan sayang. Memperlihatkan mata tajam yang teduh dan mulai senja.

"Aku akan menjawabnya setelah kau memanggilku Kakek, apakah itu terdengar sangat egois?"

Shia terisak makin keras, air matanya berderai meski ia keras kepala ingin menahan tangis. "Apakah … Apakah Kakek tidak membenci Shia lagi?"

Shia masih merasakan ketakutan, tubuhnya gemetar dan berdeguk.

"Aku sama sekali tak pernah membencimu."

Pria tua itu memeluk Shia, mengusap punggungnya menenangkan. Shia ragu, tetapi mendapatkan jalan untuk balas memeluk ketika pria itu bercanda. "Apakah Shia tidak ingin memeluk kakek?"

Shia benar-benar melepaskan tangisannya, mengusak dan menyembunyikan wajahnya dalam-dalam. Semua ini terlalu banyak, terlalu banyak.

"Mama… Tolong peluk Mama… Mama selalu menangis saat mengingat Kakek…" Isakan lirih itu menghancurkan hati.

Luhan melihatnya, bagaimana sang Ayah datang dan memeluk putri kecilnya dengan penuh kasih sayang. Perasaannya campur aduk, ia tak menyangka akan ada hari di mana Shia dapat bertemu, bahkan sedekat itu dengan orang yang dulu tidak menginginkannya.

Luhan tidak siap ketika Ayahnya melepas pelukan itu, berdiri dan menatapnya dengan senyum lirih di bibirnya. Luhan ketakutan saat ibunya berkata ia harus mendekat, ia setengah tak percaya saat ibunya berkata bahwa ayahnya begitu rindu. Tetapi senyum manis Shia di antara tangisnya itu membuat ia melangkah pelan.

Masih tertunduk, tak berani menatap ke atas. Bahkan setelah tahun-tahun berlalu, mungkin ia hanya mencapai leher figure pria di depannya ini.

"Luhan…" Isakannya makin deras. "Shia berkata aku harus memelukmu."

Luhan tak bisa mengatakan apa-apa saat tubuhnya ditarik, ia tenggelam dalam pelukan yang mengirimkan rindu juga rasa sakit. Luhan terdiam ketika merasakan bahunya basah, jemarinya refleks terangkat untuk mencengkram punggung yang masih kokoh itu.

.

.

.

Luhan duduk diam di samping Sehun, terus menundukkan wajah selama kekasihnya berbagi sapa dengan Ayah dan Ibunya. Sesekali ia melirik Ibunya yang memangku Shia dengan bahagia, mencium rambut dan pipinya. Hal kecil itu mengirimkan kebahagiaan, tetapi ia masih beku di sini, tanpa bisa mengatakan apapun.

"Terimakasih sudah datang, Tuan Xi. Maaf saya tidak menyiapkan hal yang layak untuk Anda dan Nyonya Xi." Kata Sehun.

"Jangan merendah, Sehun-ssi. Kami sudah sangat berterimakasih." Semuanya tahu, kalimat Nyonya Xi itu memiliki arti begitu dalam.

Sehun tersenyum, dengan pengertian menggenggam tangan Luhan yang makin kentara gemetar. "Apakah Anda keberatan untuk makan malam dengan kami nanti? Kita bisa menunggu waktu itu dengan mengobrol."

"Eum! Apakah Nenek mau makan malam dengan Shia?" Shia berkata dengan antusias.

Nyonya Xi tersenyum lembut, sejenak melirik putrinya yang masih menundukkan pandangan. "Kami akan sangat senang, Shia. Ah, bagaimana kalau Shia menunjukkan pada Nenek soal rumah sakit ini? Bukankah Shia berkata Shia sudah hafal?"

Shia mengerjap, merasa permintaan itu terlalu ganjil. Tapi gadis kecil itu cepat mengerti keadaan, lalu mengangguk. "Eum!"

"Aku akan menemani—" Ucapan Sehun terhenti ketika Luhan menarik tangannya, menggenggamnya lebih erat. "Luhan…" Panggilnya, mencoba memberi pengertian bahwa Luhan membutuhkan waktu untuk bicara berdua dengan Tuan Xi.

"Sehun-ssi, tetaplah di sini. Kau bukan orang lain untuk Luhan, dan kurasa dia membutuhkanmu saat ini. Dia masih ketakutan denganku." Kekehan di akhir kalimat terdengar begitu pahit.

Sehun hanya tersenyum kecil. "Luhan, angkat wajahmu. Kau perlu menatap Tuan Xi." Tetapi Luhan menggeleng, keras kepala tetap menundukkan pandangan.

Tuan Xi menghela nafas berat.

"Aku sadar aku telah menyakitimu begitu dalam. Aku tahu delapan tahun tak akan menghapus rasa sakit yang aku berikan padamu. Meskipun selama ini yang aku katakan hanya berisi amarah dan caci maki, kau tetap berbakti, kau tetap menghubungi rumah meski kau tahu itu hanya membuatmu makin terluka. Shia berkata kau selalu menangis." Mata pria tua itu memerah. Untuk pertama kalinya Sehun melihat punggung kokoh itu melemah, menampakkan sisi senjanya.

"Aku … tak tahu harus merasakan apa saat melihat berita Shia menghilang. Aku merasa kehilangan topangan, tetapi di saat yang sama egoku masih begitu keras. Aku masih keras kepala meski aku tahu kau sangat menderita. Kurasa aku menurunkan sifat keras kepalaku padamu, hmm?" Pria tua itu terkekeh pelan. Matanya menatap Luhan, memperhatikan air mata yang menetes ke pangkuan. Senyum pedih terlukis.

"Apa yang aku lakukan padamu tak bisa dimaafkan, tapi …tolong biarkan pria tua tak tahu malu ini mendapatkan kesempatan untuk memeluk kalian. Hannie-ya,"

Luhan terkesiap mendengar panggilan kecil di masa lalunya itu. Mendongak sangat cepat dan mendapati sang Ayah menatapnya dengan tatapan kasih sayang, air matanya makin deras.

"Tolong maafkan ayahmu ini. Tolong biarkan aku memelukmu."

Luhan menggigit bibir kuat-kuat.

"Luhan, peluk ayahmu." Bisikan Sehun di sisinya membuatnya bangkit, menubruk tubuh tua itu dengan peluk dan tangisan keras.

"Ayah… Ayah…"

Tuan Xi memeluk Luhan sangat erat, mencium kepalanya dan mengelus punggungnya. Tampak masih keras kepala menahan tangis, tetapi gagal ketika Luhan terus memanggilnya. Sehun tersenyum lega, merasa ini waktunya untuk pergi.

Di luar ruangannya, ia mendapati Paman Seo menatapnya dengan senyum kecil. Sehun ikut tersenyum, bertanya di mana Shia dan Nyonya Xi. Sehun berjalan menuju ruang istirahat di lantai ini, mendapati Shia masih betah di gendongan Nyonya Xi. Tampak berbincang kecil dengan senyum manis.

"Apakah Papa mengganggu?" katanya.

Mereka menoleh, Shia tersenyum lebar sementara Nyonya Xi menggeleng pelan.

"Papa!"

"Apakah pria tua itu sudah menangis, Sehun-ssi?"

Sehun tertawa sopan, di sisi lain Shia mengerjap. "Kakek? Ada apa dengan kakek?"

"Kakekmu orang yang sangat keras kepala, jadi dia perlu menangis."

Sehun mendekat, mengusak poni Shia sekilas sebelum beralih pada Nyonya Xi. "Tolong jangan seformal itu dengan saya, Nyonya Xi."

"Jadi apakah aku harus memintamu memanggilku Ibu, Sehun-ah?"

Sehun terkejut dengan rona merah tipis, makin gugup ketika Shia terkikik ceria.

"Ah… Luhan membutuhkan waktu dengan Tuan Xi, jadi aku kemari. Dan sepertinya tidak perlu jawaban untuk pertanyaan itu, Nyonya Xi."

Sehun mengerti Nyonya Xi memiliki begitu banyak pertanyaan tentang kondisi Shia. Melihatnya begitu menahan diri untuk tidak memberondong pertanyaan meski kekhawatiran masih membayang di wajahnya membuat Sehun berterimakasih. Sehun mengatakan bahwa ia akan menceritakan semuanya saat keadaan memungkinkan lewat matanya.

Wanita baya itu tersenyum kecil.

"Kamu tumbuh sangat cantik. Mamamu pasti bekerja sangat keras. Mulai sekarang Nenek akan mulai merawatmu. Oke?" Suara itu gemetar di akhir kalimat.

Shia, dengan berkatnya sebagai gadis penuh pengertian, tersenyum sangat manis. "Eum! Tolong rawat Mama juga, karena Shia dan Mama adalah sepaket yang tidak bisa dipisahkan!"

Nyonya Xi tertawa. "Oh, siapa yang mengajari kalimat pintar itu, heum?"

"Rahasia." Shia membuat gestur menggemaskan dengan jemarinya, meliriknya sebentar dengan senyum penuh arti.

Membuat Sehun tersenyum lega, sejenak kehilangan rasa takut dan khawatir yang begitu membebani.

.

.

.

Ruangan itu remang-remang, Luhan sengaja mematikan lampu utama dan meninggalkan dua lampu tidur temaram yang menyinari. Luhan duduk di tepian ranjang, terdiam dengan pikiran berkeliaran. Semuanya masih seperti benang kusut, meski ia sudah menemukan ujungnya dan mulai memintal dengan rapi. Sedikit demi sedikit.

Sudut bibirnya tertarik menjadi seulas senyum mengingat semua interaksi manis Shia dan kedua orangtuanya beberapa hari lalu. Masih terasa seperti mimpi, tetapi Sehun selalu mengingatkan bahwa itu bukan bunga tidur semata.

Pintu kamarnya terbuka, Sehun datang dengan senyum tipis.

"Kau belum tidur?"

"Masih kesulitan memejamkan mata."

"Apakah itu kalimat lain dari 'aku menunggumu'?"

Luhan terkekeh.

Sehun mendekat, menumpukan wajahnya pada bahu sempit Luhan lalu melingkari pinggang kecil itu dengan lengan panjangnya. Sehun tersenyum kecil. "Pinggangmu lebih kecil dari yang aku ingat, apa kau kehilangan berat badan lagi?"

"Aku tidak apa-apa, Sehun. Aku baik-baik saja."

"Barusan aku tidak membacakan cerita apapun pada gadis kecil kita, dia yang bercerita sampai lelah dan jatuh tertidur. Dia sangat bersemangat."

Luhan terkekeh pelan, mengusak rambut lebat Sehun. "Apa yang Shia ceritakan?"

"Hampir semuanya tentang kakek neneknya, cardigan dan syal rajut yang diberikan Ibumu—yang cukup banyak, juga rencana makan makam di akhir pekan nanti. Luhan, apa kau bahagia?"

Luhan terdiam sejenak dengan senyum lirih. "Sangat, aku tidak bisa mengatakan bahwa aku harus melalui banyak kesulitan untuk mendapatkan semua kebahagiaanku saat ini, tetapi aku bersyukur. Terlepas dari bagaimana Shia masih memiliki trauma yang ia pendam dalam-dalam, aku berdoa agar semuanya membaik."

Sehun bergumam pelan, memeluknya lebih erat. Bibirnya menyentuh perpotongan leher Luhan, menciumnya pelan dan menghirup nafas dari sana. Luhan sedikit terkesiap, tetapi Sehun tidak membiarkannya menjauh. "Tolong, seperti ini untuk sebentar. Aku membutuhkan ini."

Luhan diam, membiarkan Sehun menetap di sana. Hembusan nafasnya panas dan sedikit cepat, apakah Sehun masih memiliki kekhawatiran?

"Sehunna…"

"Hmm?"

"Apakah Shia akan baik-baik saja?" Luhan bertanya. "Maksudku, apakah amnesianya perlu ditangani? Dalam artian, perlukah kita membuatnya ingat dengan semua itu? Lalu berusaha mendamaikannya dengan kenangan buruk itu?"

Sehun mengangkat wajahnya, menatap Luhan yang kembali mengeruh.

"Membiarkannya tumbuh dengan trauma terpendam dalam tak ubah seperti bom waktu, aku takut suatu saat sesuatu akan memicunya dengan memori itu dan membuatnya makin memburuk. Aku takut Shia harus menderita sekali lagi."

Sehun menghela nafas berat.

"Apa yang kau katakan benar, aku pun khawatir semuanya akan memburuk di masa depan. Tetapi jika kita membuatnya kembali ingat dengan memori itu, dia akan kembali kesakitan, berulang-ulang di usia yang masih sangat muda. Dia masih begitu kecil."

Luhan memejamkan mata menguatkan diri.

"Apakah apa yang Baekhyun katakan akan berhasil? Jika ia berada di lingkungan yang aman, maka ia akan baik-baik saja?"

"Luhan, aku tak begitu mengerti mendalam soal hal ini. Tapi jika memang itu dapat membuat Shia tersenyum seperti sedia kala, aku akan melakukannya. Aku rasa aku akan runtuh jika melihatnya histeris dan mendapatkan banyak mimpi buruk seperti dulu."

Luhan membenarkannya dalam hati.

Jika memang itu dapat membuat Shia tersenyum, apalagi yang harus ia khawatirkan?

.

.

.

Mungkin itu sebulan setelah Shia terbangun dan didiagnosis amnesia disosiatif. Terapi yang ia dapatkan masih terus berlanjut, yang selalu ia sebut dengan sesi bercerita. Luhan mengerti Shia merasakan kekosongan, lewat pertanyaan-pertanyaan mengapa ia selalu tinggal di rumah, dan bukankah liburan musim gugur sudah berakhir dan seharusnya ia mulai mengenakan mantel untuk ke sekolah?

"Shia ingin bertemu Nara."

Semua orang membeku mendengar kalimat yang dilontarkan dengan nada sedih itu, tetapi tak ada waktu untuk meratap lagi, biarkan mereka menjadi egois.

"Nara sudah pindah ke luar negeri bersama ayah ibunya, Sayang." Baekhyun melancarkan kebohongan dengan sangat mulus, bahkan menambahkan detail. "Sepertinya aku ingat Nara memberikan surat untuk Shia, aku akan mencarinya lagi, oke?"

Sekolah formal masih terlalu riskan, dan Luhan setuju saat Baekhyun menyarankan home schooling, untuk sementara. Ia menyematkan senyum ketika Sehun tak mengatakan apapun, tetapi sudah mereview sendiri calon tutor untuk Shia dengan keinginan yang cukup rewel, sejujurnya.

Luhan berdiri di daun pintu, menatap Shia yang tengah memperhatikan penjelasan tutornya, Mr. Lee, dengan dahi berkerut penuh konsentrasi. Sesekali bibirnya mengerucut atau menggerutu, mungkin sebal dengan pengucapannya yang masih sedikit kesulitan. Shia selalu mengeluh ia lebih suka berhitung ketimbang mempelajari bahasa asing, tetapi ia langsung terdiam penuh tekad ketika mengetahui Luhan dapat menggunakan tiga bahasa, sementara Sehun, mungkin sekitar empat bahasa. (Hal itu sejujurnya juga sangat mengejutkan untuk Luhan).

"Bukankah dia sangat menggemaskan?"

Luhan menoleh ke samping, mendapati Sehun menatap Shia dengan tatapan lembut. Luhan terkekeh. "Dia memang selalu menggemaskan. Mr. Lee cukup galak, tetapi dia penyayang. Sepertinya Shia menyukainya."

"Ya, terlepas dari rengekan mengapa Mr. Lee selalu mendoktrinnya dengan 'kau akan menjadi gadis hebat suatu saat nanti.'. Mungkin sedikit membebani, tapi kupikir Mr. Lee tidak bercanda ketika mengatakannya."

Luhan terkekeh lagi. "Mengapa kau belum berangkat? Ini sudah sangat terlewat dari jam masukmu."

"Bolehkah aku mengatakan pimpinan boleh masuk seenaknya? Lagipula rapat pertamaku masih setelah makan siang, aku akan berangkat nanti."

Luhan memicing lembut. Menangkup wajah tirus Sehun dan mencubitnya main-main. "Kurasa kau akan memberikan contoh tidak baik untuk Shia, Sehun. Kau tahu itu." Ucap Luhan galak.

Sehun tertawa. Meraih pinggang Luhan mendekat. "Tapi dia akan senang melihatku ada saat makan siang, jadi bukankah itu baik-baik saja?"

"Kalian mulai suka berkonspirasi, lama-lama aku khawatir dia akan lebih menyayangimu." Kalimat itu begitu kontradiksi dengan tatapan Luhan padanya, penuh afeksi dan kasih sayang.

Sehun mendekatkan wajah, mencuri satu kecupan kecil yang membuat Luhan terkesiap, menoleh gugup pada Shia dan tutornya, takut mereka menyadari keberadaannya. "Apa kau tahu kau sangat nekat?"

Sehun tidak mendengarkannya, mencium Luhan sekali lagi. "Shia terlihat sangat senang dengan keberadaanku, tetapi dia akan sedih ketika ia tidak mendapatkanmu di sisinya. Jangan terlalu khawatir, oke?"

Luhan mendengus geli.

Mereka menatap Shia sekali lagi kemudian beranjak menuju taman belakang, di sambut pohon dan semak perdu yang mulai gugur. Sehun duduk di salah satu kursi selasar, dan tidak membiarkan Luhan duduk selain di pangkuannya. Luhan merona, mencebik sebal tetapi tak bisa memprotes.

Luhan menyerah dengan keinginan Sehun, ia menyandarkan kepala ke bahu Sehun. Memejamkan mata sejenak sebelum membuka obrolan. "Apa kau sadar akhir-akhir ini kita sering sekali mengunjungi taman? Entah di sini atau di rumah sakit."

"Shia memerlukan banyak udara segar, dan gemericik kolam akan membantunya sedikit demi sedikit. Apa kau menyadari bahwa Shia terlihat sangat bahagia? Senyumannya tidak lagi menahan diri. Saat ia diberi pertanyaan, ia tidak terlalu banyak menimbang. Ia mengutarakan keinginannya dengan jelas, tetapi masih menjadi Shia yang sebaik dan sepengertian malaikat." Sehun mendesah. "Dia sangat manis sampai aku tidak ingin membiarkannya keluar dari rumah ini dan bertemu dengan orang-orang."

Luhan tertawa lembut. "Mengapa kau menjadi sangat posesif pada Shia?"

"Sebenarnya padamu juga, jika aku boleh jujur."

"Shia tidak bisa terus menerus home schooling, setidaknya tahun depan ia harus masuk sekolah formal. Kau tidak mau dia menjadi gadis yang canggung dengan interaksi sosial kan?"

Sehun menghela nafas, sedikit tak rela. "Kupikir dia tak akan tahan juga terus menerus belajar di rumah meski dia menyukai Mr. Lee, dia sangat ramah dan menyenangkan, dia akan memiliki banyak teman di masa depan. Ah, persetan, itu masih lama. Saat ini aku masih belum rela, aku belum bisa melepaskan rasa khawatirku."

Luhan mengangguk. "Aku mengerti, aku juga merasakannya. Mari kita berjalan perlahan, semuanya akan datang tepat pada tempat dan waktunya."

Mereka menikmati keheningan selama beberapa saat. Sehun mengangkat beberapa topik ringan, tentang hari-hari mereka dan perkembangan Shia. Juga hal yang Baekhyun sarankan untuk membantu Shia. Luhan menanggapi cukup kooperatif, sampai matanya mulai sayu dan tak fokus.

Sehun terkekeh tak tahan ketika Luhan hanya menjawabnya dengan gumaman rendah, lalu jatuh tertidur. Sehun menatap fitur wajah Luhan yang terbingkai untaian rambut, Luhan tak begitu suka mengikat rambutnya akhir-akhir ini. Sehun menyelipkannya ke belakang telinga, memperlihatkan wajah Luhan lebih jelas lagi. Masih sedikit pucat, tetapi rona hidup sudah mulai kembali.

Luhan terbilang ringan untuknya, dan ia akan memastikan Luhan mendapatkan tambahan berat badan bulan ini. Sehun menyamankan posisi Luhan, sesekali menciuminya.

"Papa?"

Panggilan lembut itu membuatnya menoleh.

Shia datang dengan senyum lucu, duduk di kursi satunya sambil memandangi Luhan yang masih tertidur. "Mama tertidur, apakah Mama kelelahan?"

Sehun memilah pilihan katanya dengan hati-hati. "Mama mengantuk, berkata udara sangat menyenangkan dan pelukan Papa sangat nyaman." Katanya dengan nada bercanda.

Shia tertawa kecil. "Padahal Shia ingin menunjukkan apa yang baru saja Shia pelajari dengan Mr. Lee."

"Shia bisa menunjukkannya pada Papa, tetapi pelan-pelan, oke?" Sehun membuat gestur dengan jemarinya, melirik jenaka pada Luhan. Shia terkikik, mengangguk antusias.

"Kata Mr. Lee ini perkenalan singkat dalam bahasa Inggris, Shia membutuhkannya saat berkenalan dengan teman-teman Shia nanti. Setelah Shia menguasainya, Mr. Lee berkata akan ada pelajaran bahasa lain."

"Jadi, apa yang baru saja Shia pelajari?" Sehun menatap Shia penuh perhatian.

Shia menatap kedepan, seolah memiliki banyak pasang mata yang menatapnya.

"My name is Shia. I'm 7 years old. I have a beautiful mother named Luhan, I called her Mama. Mama loves me so much, as much as I love her. She's very—"

Sehun tertegun, bukan pada kemampuan Shia, tetapi apa yang ia ucapkan. Shia, ia hanya menyebutkan Shia, dan saat ia menyebut nama Ibunya, hanya sepotong nama sederhana. Sehun menatap Luhan, menyadari hal yang mungkin terlewat karena ia merasa sudah memiliki Luhan dan Shia dalam dekapannya.

Jika Luhan mendengar ini, mungkin ia juga akan tertegun dan berpikir.

Sehun menghela nafas berat.

Apakah aku sudah diperbolehkan untuk kembali egois?

.

Tbc

.

I shouldn't be here after all of shit I said before, but I found I need to write and realize what I did was just running like a coward. Here comes another chapter, for whoever wants to read.

I would erased everything in 2 weeks, I said once. But I have no time to handle the feeling, which was so damn hard and hurt. Call me hypocrite, but at least I try to fulfill my promise to continue this.

No sue between us, please. This ship's gonna drown, but I still can't help but love. I'm so sorry, but I thank ya'll to.

Stay healthy and safe, keep the social distancing, it's for ourself.

.

Anne, 2020-03-26