The Student

A Jaemren Story

BoyxBoy

Bagian 15

.

Jaemin membuka matanya perlahan. Tubuhnya terasa bertenaga, lebih enakan dan sangat relaks. Mengingat tentang apa yang baru ia lakukan beberapa jam tadi bersama Renjun, siswa itu tersenyum sendiri. Bayangan suara desahan dan erangan Renjun karena ulahnya masih sangat jelas. Apalagi bentuk tubuh Renjun ketika telanjang bulat dan menggelinjang menerima seluruh hujaman yang ia berikan pada siswa yang lebih tua itu, membuat Jaemin ketagihan untuk bercinta dengan Renjun.

Diliriknya sosok Renjun yang masih terlelap di sampingnya, terbalut selimut yang menutupi tubuhnya sampai bagian leher. "Bagaimana ini? Aku ketagihan bercinta denganmu." ucap Jaemin pelan sambil jemarinya mengelus pipi halus Renjun, membuat siswa yang lebih tua menyamankan posisi tidurnya.

Meninggalkan Renjun terlelap sendiri, Jaemin bangkit dari ranjang, mengambil kaos dan celana Winwin yang dipinjamnya untuk dipakai kembali. Setelah beres, pandangannya mengedar ke seluruh sudut kamar Renjun, ia melihat beberapa koleksi boneka Moomin yang terpajang di rak pojok kamar, jumlahnya puluhan mulai dari yang berukuran kecil hingga yang paling besar seukuran setengah tubuh Jaemin.

"Sudah 17 tahun masih suka Moomin saja," ucap Jaemin, ia ingat betul Renjun sejak kecil sangat suka mengoleksi merchandise dan boneka Moomin. Orang tua Renjun pun begitu memanjakan anak itu hingga membelikannya banyak boneka Moomin yang sekarang sedang ia lihat tertata rapi di rak.

Meninggalkan tumpukan boneka Moomin, pandangan Jaemin tersita pada sebuah bingkai foto kecil yang ada di meja belajar Renjun. "Jisung?" panggil Jaemin. Disana, terpajang bingkai foto yang di dalamnya berisi sosok Jeno, Renjun dan Jisung saat mereka masih kecil.

Jaemin tak tahu pasti kapan foto itu diambil, tapi terlihat jelas bahwa foto tersebut sengaja digunting di sisi paling kanan dan yang digunting itu adalah fotonya saat masih kecil. 'Kenapa aku dipotong?' tanya Jaemin dalam hati. Ia jadi teringat pertama kali ketiganya bertemu dulu.

"Kau mau mengajakku kemana, Jisungaa?" tanya Jaemin kecil, malas-malasan. Umurnya saat itu masih 9 tahun. Jisung kecil yang dua tahun lebih muda darinya terus menarik tangan Jaemin, mengajak anak yang lebih tua untuk mengikutinya, padahal Jaemin baru saja sampai di China beberapa jam lalu bersama dengan ayahnya.

"Hyung pasti lelah training bersama Taeyong hyung di Amerika. Sekarang, ku kenalkan hyung pada temanku dan Jeno hyung, dia baik sekali hyung."

Jaemin hanya bisa menurut. Jisung adalah adik kecil favoritnya. Jaemin yang notabene anak tunggal dan tidak mempunyai saudara sudah menganggap Jisung sebagai adik kandungnya. Ia bertingkah selayaknya hyung dengan menuruti keinginan Jisung dan melindungi anak itu sekuat yang ia mampu.

"Hey, maknae, kau jangan lupakan alasan berada disini bersama Jeno. Kalian ini malah bermain-main terus," peringat Jaemin.

Jisung terkekeh. "Iya, iya hyung. Tembakanku tak pernah meleset sejauh ini, kemarin aku berhasil menembak burung yang terbang sebanyak 15 ekor. Johny langsung membelikanku ayam goreng 3 potong. Keren kan?" pamer Jisung menaik turunkan kedua alisnya.

Jaemin merasa bangga. Tembakan Jisung jauh lebih hebat dibandingkan dengannya ataupun Jeno. Padahal umur anak itu masih 7 tahun. "Bagaimana Jeno?"

"Ah, kalau Jeno hyung masih belajar boxing dengan ayahnya. Tapi kemarin dia berhasil mematahkan tulang kambing hidup. Jinjja, tenaganya kuat sekali." Jisung menggeleng-geleng mengingat masa training Jeno.

"Ah, araseo." Jaemin hanya mengangguk.

Jisung dan Jeno memang berasal dari keluarga pembunuh juga. Ayah dan ibu Jeno sudah berpisah lama karena ibu Jeno bukan pembunuh, sedangkan ayah dan ibu Jisung sering sekali berkelana keliling dunia sebagai pembunuh bayaran professional, meninggalkan Jisung diasuh oleh Johny. Dia adalah kepala pelayan keluarga Na yang merangkap pekerjaan menjadi pengasuh Jeno, Jaemin dan Jisung.

"Ah, itu dia orangnya. Dia teman baikku dan Jeno hyung." Mata Jisung berbinar ketika mendapati sosok yang dicarinya dari tadi. Jaemin mengikuti arah pandang Jisung.

Untuk pertama kali, Jaemin bertemu dengan Renjun kecil. Umur mereka sepantaran kala itu. Saat Jaemin melihat sosok Renjun yang sedang bermain dengan anjing Samoyednya, Jwi, di halaman rumah anak berdarah China itu, kesan pertama yang muncul dalam hati Jaemin adalah, 'Dia cantik..'

"Renjun hyung! Sini!" Jisung melambai, membuat Jwi menggonggong dan berlari ke arahnya diikuti Renjun kecil yang mengejar anjing kesayangannya itu.

"Ada apa Jisungaa?" tanya Renjun antusias. Matanya mencuri pandangan pada sosok Jaemin yang masih memperhatikannya dari tadi. Sedangkan Jisung sudah berlutut mengelus Jwi.

"Ini temanku dan Jeno hyung, namanya Ja—Nana Park," ucap Jisung hampir keceplosan menyebut nama asli Jaemin.

Renjun menatap Jaemin dari ats sampai bawah. "Ni hao, wo jiao Lon Jin jieshao. Ni jiao shenme mingzi?" tanya Renjun usil menggunakan Bahasa pertamanya, Mandarin.

"Ni hao, Lon Jin. Wo jiao Na Na. Ni hao ma?" balas Jaemin tak mau kalah. Anak itu memang sudah bisa 3 bahasa sejak kecil. Inggris, Korea dan Mandarin. *) anggap aja cerita ini ditulis pakai Bahasa Korea gitu ya guys, lmfao

"Wo hen hao, xie xie Na Na." Renjun tersenyum lebar karena Jaemin bisa Bahasa Mandarin sama sepertinya. "Aku tidak menyangka kau bisa Mandarin, Nana. Mandarinmu bagus," lanjut Renjun. Ia sendiri bisa berbahasa Korea karena ibunya orang Korea.

Jaemin tertawa. "Terima kasih pujiannya Renjun. Teman?" Jaemin mengulurkan tangannya mengajak Renjun berjabat tangan.

Dengan senang hati, anak yang lebih tua menerima uluran tangannya. "Teman," ucapnya sambil tersenyum begitu manis, membuat Jaemin kecil ikut tersenyum ketika melihatnya. Mereka tidak mempedulikan Jisung yang masih memasang wajah bingung mendengar obrolan Bahasa Mandarin keduanya.

"Hyung! Jangan pakai Bahasa Mandarin! Aku tidak mengerti!" geram Jisung yang malah membuat kedua hyungnya gemas. "Kalian bicara apa tadi? Tidak membicarakanku kan?!" tanya si maknae penuh selidik.

Renjun dan Jaemin saling melempar pandangan usil. "Rahasia!" goda mereka bersamaan. Renjun bahkan menjulurkan lidahnya di depan wajah Jisung yang langsung membuat anak yang lebih muda menggembungkan pipinya.

"Renjun, kenapa teman-temanmu kau biarkan di luar? Sini ajak mereka masuk sayang!" Sosok ibu Renjun berdiri di depan pintu, melihat anak semata wayangnya berkumpul dengan Jisung di depan rumah dan sangat mepet dengan jalan raya.

"Kalian sudah makan?" tanya Renjun.

Jaemin kecil menggeleng. "Aku panggil Jeno hyung dulu ya? Tidak papa kan kalau kita makan bersama?" usul Jisung.

"Ide bagus, aku dan Nana masuk rumah dulu ya Jisungaa. Kami akan menunggu kalian!" Renjun pun berbalik, menggerakkan tangannya menyuruh Jwi untuk mengikutinya. "Ayo Nana." Tak lupa mengajak teman barunya untuk makan bersama di dalam rumah.

X

X

"Renjun, punya teman baru kok belum dikenalkan pada mama?" tanya ibu Renjun melirik Jaemin. Saat ini Jaemin, Renjun, Jeno dan Jisung sudah duduk melingkar di ruang makan keluarga Huang dan siap menyantap makan siang masakan ibu Renjun.

"Ah, iya ma, ini teman baruku namanya Nana. Jisung tadi yang mengenalkannya padaku."

"Benarkah, Jisungaa? Kalian teman apa? Teman satu sekolah?" tanya ibu Renjun pada Jisung.

Jisung masih kesulitan untuk berbohong, mengingat masa trainingnya untuk menjadi pembunuh masih lebih sebentar daripada Jeno dan Jaemin. "A—anu tante—"

"Aku teman Jisung dan Jeno saat TK tante. Aku baru pindah kesini hari ini," ucap Jaemin begitu natural, membuat Jisung dan Jeno kagum dengan kemampuan berbohong anak itu.

"Ah, araseo. Selamat datang di rumah kami ya Nana. Semoga kamu dan Renjun bisa berteman baik juga." Ibu Renjun tersenyum pada Jaemin, menuangkan jus jeruk ke dalam gelasnya. Yang diajak bicara hanya bisa tersenyum dan mengangguk lugu. "Jeno dan Jisung juga ya, kalau main, tolong Renjun dijaga ya. Dia kan cengeng."

"Mama!" Renjun merengek, malu pada Jaemin. Mereka baru saja bertemu, ibu Renjun malah mengumbar aib anaknya.

Selesai makan bersama, ibu Renjun menyuruh keempat anak tersebut berfoto bersama. "Buat kenang-kenangan ya! Biar besok kalau sudah besar kalian tidak saling lupa," ujar ibu Renjun, bersiap mengambil gambar Jeno, Renjun, Jisung dan Jaemin kecil.

"Aku mau berdiri di samping Renjun!" seru Jeno yang langsung memposisikan dirinya.

"Aku juga!" Jisung antusias mendekatkan dirinya di samping Renjun yang lain.

"Aku di samping Jisung saja," ujar Jaemin pasrah. Ia sebenarnya ingin berdiri di samping Renjun juga, tapi Jeno dan Jisung berteman lebih lama dengan Renjun dibandingkan dirinya, jadi ia mengalah. Tanpa Jaemin tahu, Renjun sebenarnya juga ingin berpose di sampingnya.

"Tante foto ya! Satu, dua, tiga!"

Renjun sudah bangun, tapi ia masih memejamkan matanya. Tangannya mencoba mencari sosok Jaemin yang tidur di sampingnya tapi tidak ada siapa-siapa disana. Matanya pelan-pelan membuka, mendapati punggung Jaemin yang berdiri membelakanginya. "Jaemin, sedang apa?"

Jaemin yang masih memegang bingkai foto berisi Jeno, Jisung dan Renjun langsung berbalik. Didapatinya wajah bangun tidur Renjun yang begitu menggoda. "Argh, sakit," desis Renjun saat berusaha duduk.

Refleks mencemaskan keadaannya, Jaemin mendekat ke sisi ranjang. "Kau berbaring saja, Injunnie. Maaf ya," ujar Jaemin penuh empati. Ia tahu betul Renjun merasakan sakit di bagian bawahnya. Ia bahkan tidak yakin jika Renjun bisa berjalan dengan benar besok ke sekolah.

Renjun tersenyum menerima perhatian Jaemin padanya. "Kau sedang apa disitu?" tanya Renjun, mengalihkan topik pembicaraan. Ia melihat Jaemin masih memegang bingkai foto yang berisi dirinya, Jeno dan Jisung.

"Ini, siapa?" tanya Jaemin dengan wajah polos, mengangkat bingkai foto di tangannya.

"Ah, itu Nono dan Jisung. Teman masa kecilku," jawab Renjun. "Aku sudah berjanji menceritakan tentang mereka ya?" tanyanya lagi. Ia ingat saat di rumah Mark, Jaemin bertanya tentang Nono dan Renjun belum bercerita padanya sama sekali.

Jaemin tidak menjawab, ia tidak mau mendengar cerita Renjun karena malam sudah semakin larut dan anak itu harus istirahat. Jaemin sangat peduli dengan kesehatan Renjun. Mengeluarkan ponselnya, ia bersiap menelfon Mark untuk menjemputnya di apartemen Renjun.

"Injunnie, kau istirahat saja," perintah Jaemin, menatap tegas Renjun untuk mematuhinya. "Jika besok masih sakit, tak perlu berangkat ke sekolah. Aku akan menelfon Mark untuk menjemputku. Ini juga sudah terlalu malam. Aku ingin kau istirahat," lanjut Jaemin.

"Jaemin.." panggil Renjun ragu. Ia ingin bercerita tapi Jaemin sedang tidak mood untuk mendengarkannya.

Jaemin tersenyum menenangkan ke arah anak itu. "Kalau kau belum siap tak usah cerita dulu, Injunnie," ujarnya ketika menangkap ekspresi ragu-ragu di wajah Renjun.

Sebenarnya Renjun tidak ragu-ragu, hanya saja ia takut membohongi Jaemin bahwa Jeno sebenarnya memang Nono, teman masa kecilnya. Ditambah lagi, ia bahkan belum jujur tentang perasaannya yang masih terbagi.

'Memang benar aku mencintai Jaemin tapi apakah aku juga harus jujur padanya tentang Nana?' batin Renjun bimbang.

.

.

To be continued.

*) yang Bahasa Mandarin itu Cuma kenalan doang.

Renjun: halo, aku Lon Jin, namamu siapa?

Jaemin: halo, aku Na Na, apa kabar?

Renjun: baik Na Na, terima kasih.

Udah gitu doang. Jangan bingung ya