Chapter 10 : Cora vs Metal Elf, Pertarungan Prajurit Muda dan Bangkitnya Penghuni Pulau
"Semuanya, fokus ke Pitt Boss. Biar Kaltran Kuhadapi sendiri." Kataku setelah bangkit dari berlutut.
"Tidak, Slask. Rasanya dia itu kuat. Mustahil bisa kau hadapi seorang diri. Biar aku membantumu. Mulai sekarang ini adalah pertarungan kita berdua" kata Milia berdiri disampingku.
"Tidak apa-apa, Milia. Misi kita lebih penting. Semakin banyak personil maka semakin cepat pula Pitt Boss bisa dikalahkan. Dia sendiri menurutku kekuatannya seimbang denganku."
"Tapi..."
Sebelum Milia selesai bicara aku mengacungkan jempol kananku untuk meyakinkan semua berjalan sesuai rencana. Tidak punya pilihan, Milia mundur perlahan dan bergabung dengan lainnya. "Sementara kau yang memimpin grup, Milia"
"Hahaha, pede banget mau sendirian melawanku. Tadi kudengar kau dan aku seimbang? Lucu banget kalimatmu seperti kau sudah melawanku sebelumnya. Hahaha." Kaltran tidak tahan tertawa terpingkal-pingkal. "Tapi bersiaplah menyesali perkataanmu. Akan kubantai kau tanpa ampun." Kata Kaltran mulai serius.
.
.
.
"Semuanya, GOOOO!" Teriak Milia memberi komando.
"Jangan kasih lolos. Hadang mereka." Para prajurit Metal Elf berusaha menghalangi mereka. Bentrok pun tak terhindarkan. Milia yang berdiri paling depan membuka jalan.
"Uwaa!"
Satu sleding tekel dilakukan Milia berhasil mengenai salah satu prajurit. Milia lalu bangkit dan melakukan dua buah pukulan secara acak. Setelah melumpuhkan dua prajurit, Milia menginjak salah satu prajurit dan lompat tinggi.
"Yuuki. Sekarang!"
"Langsung!"
"DOUBLE PRINCESS KICK!" teriak Milia dan Yuuki bersamaan.
Prajurit Metal Elf yang sial menerima tendangan dua gadis terkapar dengan rahang patah. Setelah mendarat kembali Milia melakukan tendangan berputar dengan dialiri Dark Force.
"Darkness Kick Dystopia." Kuatnya aliran force Milia membuat banyak Metal Elf berjatuhan. Lawan mulai mundur perlahan. Milia nampak berdiri mengangkat kedua tangannya setinggi dada. Matanya terpejam dan aura putih mulai mengelilinginya.
"Psionic Storm!"
GLEDARR!
"ARGH!"
Milia mengarahkan kedua tangannya ke para prajurit Metal Elf yang mulai ketakutan. Badai energi listrik membuat mereka yang lemah tewas tersengat petir.
'Selama aku berteman dengan Milia, baru kali ini aku melihat kekuatan sebenarnya. Tidak salah jika banyak yang menyebut dia ratu pembawa bencana.' Batin Celica yang saat ini tidak banyak berkontribusi.
"Celica ayo kita juga jangan mau kalah." Sonsane yang mendampingi Celica coba memberi semangat. Mereka berdua melakukan serangan bersamaan.
"Explosive Shot!" Celica dan Sonsane melakukan tembakan secara bersamaan dan berhasil mengacaukan barisan tengah lawan.
"Bukan main. Kupikir mereka hanya kumpulan remaja emosional yang berpikiran pendek. Ternyata kalian kuat juga." Kata Kaltran setelah melihat kekuatan Milia. "Mungkin aku harus bersyukur jika..."
"Thrust!" serangan tiba-tibaku hampir saja menusuk Kaltran. Dia menghindarinya di detik-deik terakhir. "Sial. Hampir saja." Gerutuku
"Lumayan juga bisa memanfaatkan situasi. Tapi aku tidak bisa kalah secepat itu."
"Dance of the Warrior. Dance of Fury." Kaltran mengaktifkan dua buah buff skill. Pertarungan kamipun tak terhindarkan.
"Pressure Bomb!" hentakkan pedangku hanya menghantam tanah saja. Kaltran berlari didepanku dan mengangkat pedang kembarnya.
"Dual Slasher!" dua tebasan kilat berhasil aku tangkis. Setelah itu Kaltran melompat dan melakukan tendangan mengenai dadaku.
"Sial. Fury Swipe!"
DUARR!
Kembali seranganku tanpa ada hasil. "Hahaha kau terlalu lambat. Kecepatan bukanlah lawanmu. Sekarang saatnya memberi neraka dunia kepadamu."
"Speed of Dual Sword." Kaltran mengaktifkan buff ketiga dan menyerangku secara membabi buta. Dalam situasi ini aku hanya bisa bertahan.
"Dual Slasher." Skill tebasan keduanya masih bisa kutahan namun keseimbanganku mulai goyah.
"Rapid Strike."
WUSSHH!
Serangan frontal berkecepatan kilat sukses membuatku bertekuk lutut. Armor sobek dan kedua lenganku terluka parah hingga sulit buatku menggenggam pedang.
"ARGGHH." Darah keluar cukup banyak dari mulutku. Sepertinya aku juga kena serangan dalam.
"Ini masih belum ada apa-apanya, bodoh! HEYAHH!" Kaltran melompat dan mengayunkan pedang kanannya kearahku.
TANG!
Reflek aku menangkisnya. Namun tekanan yang diberikannya sangat kuat hingga sulit untuk menyerang balik.
"Ada apa? Apa Cuma segini saja kemampuanmu!?"
"Berisik! Power Cle..."
"PAYAH!" Kaltran mementalkan pedangku kebelakang sebelum aku selesai mengeluarkan jurus. Tubuhku tersungkur karena hilang keseimbangan dan berlutut di depannya.
"Hehehe! Sudah selesai kan? Perbedaan level kita terlalu jauh." Kaltran tersenyum remeh sambil memainkan pedang ditangan kanannya.
'Sial. Aku tak punya peluang kabur. Apa aku akan habis sekarang' batinku dalam keputusasaan.
"Well, sedikit kuakui kekuatanmu lumayan juga. Tapi maaf kemampuanmu tidak cukup untuk menghiburku. Ya gimanapun aku akan tetap memberimu hadiah. Hehehe." Kaltran menempelkan pedang kanannya dileherku. Sepertinya dia ingin memenggalku.
"Selamat tidur, patriot."
'Sekarang.'
TAP
"HEAH!"
BUAGH!
Sebelum pedangnya memutus leherku, aku menangkap tangannya dan segera memukul perutnya. Setelah itu menyikut punggungnya dan kuakhiri dengan pukulan uppercut tepat didagunya. Kaltran tergeletak dengan mulut berdarah dan amarah memuncak.
"SIALAN! BANGSAT! MAKHLUK JALANG! Berani-beraninya kau menghajarku! Tak akan kuberi ampun walaupun kau bersujud seribu tahun! TIDAK ADA KATA MAAF BUATMU!"
"Satu pelajaran untukmu. Jangan pernah meremehkan keadaan seperti apapun." Ucapku berlagak seperti pahlawan. Setelah itu aku mengambil pedang Pain Intense Hora Swordku yang tadi menancap dibelakang.
"Active Buff, Art of Templar!"
"JANGAN MAIN-MAIN DENGANKU! WAHAI PEDANG, MINUMLAH DARAH DI KEDUA TANGANKU LEBIH BANYAK LAGI!"
WUSH!
Aura kebiruan yang bersinar dibadanku menambah kelihaianku dalam menyerangku. Secepat kilat aku sudah berada dibelakang Kaltran. "Fury Swipe!" gerakan berputar dengan diakhiri tebasan vertikal masih mampu ditahan Kaltran.
"Power Cleave!" Skill tebasan membelah angin kugunakan untuk membuat jarak pandang menjadi terbatas. Meski begitu bukan masalah buatku karena memang itu tujuanku.
"Hurricane Storm!" Skill berputar mirip Tornado namun lebih kuat dan cepat digunakan Kaltran untuk menyibak debu.
"Huh, caramu menyerangku seperti anak kecil! Berani menyerang pakai pasir!" Kaltran masih saja emosian.
"Ini masih belum selesai. Pressure Bomb!" serangan berputar memukul tanah menghancurkan area sekitar sampai membentuk kawah kecil.
"Saatnya kuakhiri. Infinity Superfall!"
"Satu-satunya kesempatan hanya ini. Dance of Sword : Deadly Black Strike!"
Masing-masing dari kami saling mengeluarkan skill pamungkas. Bentrokan tak dapat dihindari.
JEGERRRR!
"UAGH! OHOK-OHOK! CIH!" Kaltran terpelanting hingga menabrak tembok. Sementara aku yang berhasil menghindari final skillnya sukses berdiri dengan kokoh.
"Kutarik kata-kataku. Sebagai pemula kekuatanmu oke juga. Tapi ini masih..." kata-katanya terputus saat dia melihat satu pedangnya patah.
"Kau... kau apakan pedang kesayanganku ini!?"
"Entahlah mungkin memang pedangmu sudah..."
GROARRR!
Tiba-tiba terdengar suara raungan yang memekakkan telinga. Firasatku berkata sesuatu yang buruk telah hadir dan benar saja, dua monster raksasa telah mengamuk setelah tertidur lama.
.
.
.
Sementara itu ditempat pertarungan Cosmin & Darko vs Charles
"Hmm, kalian masih kuat bertarung?" Charles berdiri santai walaupun sedang melawan dua orang. "Biasanya aku suka tidak terlalu serius saat bertarung. Tapi khusus untuk kalian aku akan sedikit serius. Nah sekarang ayo maju." Charles menantang Cosmin dan Darko sambil memainkan jarinya.
"Cosmin, aku yang maju pertama duluan. Giliranmu nanti kuberi kode khusus." Bisik Darko disamping Cosmin.
"Sip." Jawab Cosmin singkat.
"Oke aku akan maju. Intruder!"
WUSHH!
DUAGH!
Skill Buff Intruder meningkatkan kecepatan kaki Darko seperti mengejar maling dan diakhiri dengan tinju yang menghajar Charles. Charles yang tidak siap terpental hingga jatuh. Darko tidak menyia-nyiakan situasi Charles yang belum berdiri sempurna.
"Dada! Perut! Wajah dan Upper cut!" Darko terus memukul Charles sesuai urutan tersebut.
"Masih ada lagi..."
"Red Bat!" Skill tebasan energi merah menghempaskan tubuh Darko.
"Darko!" Cosmin mengeluarkan satu lagi Hora Axe bertipe sama. Kini ia memakai dua Strong Intense Hora Axe Limited Edition.
"Active buff, Super Lightweight!" Aura hijau daun memancar dari tubuh Cosmin. Skill buff Super Lightweight milik Cosmin memungkinkan ia memakai dua kapak tanpa mengurangi manuvernya.
"Menarik juga. Hehehe."
"HEAHH! Bash Explosion! Hyteria! Slasher!" Cosmin menyerang Charles dengan kombinasi tiga skill tanpa jeda. Namun serangannya masih belum berdampak apa-apa.
"Death Blow!" Cosmin menghantam area berdiri Charles tapi Charles melompat ke udara dan melancarkan skill balasan. "Blood Thunder!" tebasan pedang merah dengan dialiri listrik berhasil memukul mundur Cosmin. Namun dengan gerakan cepat Charles melesat tepat didepan Cosmin.
"Shining Cut!" Serangan Cosmin tidak mengenai apa-apa dan Charles tiba-tiba sudah dibelakang Cosmin.
"Stab Slash!" Charles menebas dan menusuk Cosmin dari belakang.
"UGH!" Cosmin berlutut dengan tatapan tidak percaya kalau dirinya dikalahkan dengan begitu singkatnya. Latihan yang selama ini dijalankannya masih belum cukup untuk membuatnya menjadi kuat. Perlahan Cosmin menutup kedua matanya.
"COSMINNN...!" Darko yang mulai bisa berdiri tak mengira rekannya sudah dikalahkan oleh Charles. "Sial. Akan kubalas kau, Charles!"
Charles tersenyum sambil menatap Darko dan berkata "Tenang saja. Sebentar lagi kau akan menyusul sahabatmu ini." Charles melempar pedangnya dan menancap perut bagian atas Darko hingga tembus kebelakang. Darah mengucur deras dari perut dan mulutnya. Darko pun terduduk memegangi pedang yang menancap sambil berusaha melepaskannya. Namun tenaganya tidak cukup hingga akhirnya ia meringkuk dan menutup matanya.
.
.
.
"Huhuhu. Lihat itu. Sang dewa pulau akhirnya bagkit dari tidurnya. Inilah pesta sesungguhnya." Ucap Charles setelah mencabut pedangnya. Dia menyeret tubuh Cosmin dan Darko untuk diserahkan ke kedua anak buahnya. Namun saat berjalan dia merasa heran melihat rekannya si Kaltran "Lho si Kaltran tumben masih belum selesai. Sepertinya orang bernama Slask itu cukup lumayan. Oh wanita yang disana juga cukup hebat. Mantap nih, hari ini pasti bakalan menarik banget. Hahahaha."
To Be Continued
"Mulai sekarang ini adalah pertarungan kita berdua." Milia Aldren
A/N: Halo, semunya. Akhirnya setelah dua tahun tidak menulis, chapter ini bisa kelar juga. Saya mohon maaf apabila para pembaca sudah menunggu terlalu lama. Ada beberapa hambatan yang terjadi seperti misalnya flashdisk saya yang ada data kasarnya harus saya relakan hilang entah kemana. Dan lagi sebelumnya saya menganggur tidak punya pekerjaan dan memaksa saya untuk memprioritaskan mencari kerja dulu. Tapi sedikit demi sedikit saya mulai menulis lagi. Habisnya gak enak juga lagi chapter action masa iya harus berhenti? Ok next chapter kita akan mulai melawan dua Pitt Boss sekaligus dan mungkin waktunya untuk Sibirsk untuk menunjukkan kemampuannya. Ok see you next time.
Regard's
Leczna Szczecin
Milia terpaku akan apa yang ada didepannya. Dua sosok monster tinggi besar memiliki sayap dan pedang nampak tidak senang melihat rumahnya didatangi tamu tak diundang. Kini mereka siap untuk memberikan terror yang tak terbayangkan.
"Baalmon dan... isabelle." Gumamnya pelan.
"Cosmin, Darko!" pekik Celica ketika melihat Charles menyeret tubuh Cosmin dan Darko.
Milia yang tersadar akan lamunannya turut melihat arah tatapan Celica. Apa yang dilihatnya lebih buruk dari dua monster tadi. Pemandangan yang mungkin tidak akan dilupakannya untuk waktu kedepannya.
"Kau.. kau apakan teman kami!" teriak Milia.
"Hm? Duo tiang listrik ini? Mereka akan kujadikan makanan untuk anak buahku." Jawab Charles dengan senyuman tanpa dosa. Setelah itu Charles melempar tubuh keduanya dengan posisi menumpuk.
Tak lama setelahnya, Charles menarik pedangnya dan menodongkannya ke arah Milia dan berkata "Nah, sekarang giliran kalian yang akan bernasih seperti duo tiang listrik ini. Jika tidak ingin merasakan sakit kalian cukup menyerahkan diri saja. Tapi jika melawan, bisa jadi hal yang jauh lebih buruk. Gimana?"
Namun, meski diancam seperti itu Milia tak gentar dan maju paling depan diantara yang lainnya.
