Hujan masih mengguyur Seoul ketika Chanyeol mendengar suara motor Sehun di pelataran rumahnya. Tubuh keponakannya itu basah kuyup dan air mukanya terlihat keruh. Namun itu tidak menjadi fokus Chanyeol saat ini. Adalah ketika Baekhyun pergi dari sana tanpa alasan yang jelas yang sedari tadi berputar dalam benak Chanyeol.

Frustrasi rasanya, terlebih jika teringat Baekhyun berlari pada Sehun seolah pria mungil itu tak menginginkan kehadirannya. Jujur, terselip kecemburuan dalam hati Chanyeol, namun yang lebih mendominasi adalah rasa penasaran. Pikirnya, apa ia sudah melakukan kesalahan sampai Baekhyun sebegitu marah padanya? Atau Baekhyun pergi karena tahu Sehun akan pulang? Atau apa?

"Apa yang kau lakukan pada Baekhyun?"

Ada keheningan tercipta saat pertanyaan itu meluncur dari mulut Sehun. Tatapannya menusuk lurus ke arah Chanyeol, menunggu jawaban yang sedari tadi mengusik pikirannya.

"Kau mengantarnya sampai rumah, kan?"

Kesal pertanyaannya diabaikan, tanpa pikir panjang Sehun mencengkeram kerah baju Chanyeol. Sorot matanya menunjukkan amarah yang nyaris meledak. Sehun tak peduli lagi dengan siapa ia berhadapan, pelajaran sopan santun tak berlaku dalam hal ini.

"Jawab aku, Park! Apa yang telah kau lakukan pada Baekhyun sampai dia menangis begitu?!"

"Itu bukan urusanmu, Sehun." tandas Chanyeol sambil melepas paksa cengkeraman Sehun dari bajunya. "Dan jangan coba-coba mendekati Baekhyun. Dia milikku."

Itu adalah ancaman eksplisit, Sehun tentu sangat menyadarinya. Namun daripada peduli, Sehun justru melemparkan dengusan keras, membuat langkah Chanyeol yang hendak pergi ke kamarnya sontak terhenti.

"Jangan terlalu berharap, Park."

Chanyeol mendelik Sehun, alisnya menukik tajam.

"Aku takkan memaafkan siapa pun yang sudah membuat Baekhyun menangis, termasuk kau."

Kepalan tangan itu Chanyeol eratkan. Giginya mengertak keras menahan emosi. Pria bersurai ash grey itu tidak melontarkan kalimat balasan untuk sesaat. Namun ketika Sehun hendak berjalan melewatinya, barulah suara husky Chanyeol terdengar.

"Dan aku takkan membiarkanmu mendekati Baekhyun, Oh Sehun."

Dalam sedetik, aura persaingan antara paman dan keponakan itu menguar kuat. Suara debum pintu yang dibanting Chanyeol kemudian menjadi penutup dari tatapan tajam yang saling mereka lemparkan.

.

.

.

###

AEIPATHY (BL VERSION)

Chapter 16 – All About Timing

Main Casts : Park Chanyeol & Byun Baekhyun

###

.

.

.

Baekhyun sebenarnya tidak marah pada Chanyeol. Ia hanya terkejut dan kecewa karena Chanyeol tetap diam meski ia sudah menceritakan tentang pria berinisial 'Y' itu. Entah kenapa Baekhyun merasa itu tidak adil, ia seperti dibohongi sejak awal. Pikirnya, apakah begitu sulit bagi Chanyeol untuk bersikap jujur padanya? Toh jika Chanyeol sendiri yang mengaku, Baekhyun mungkin tidak akan bersikap sedingin padanya.

Katakanlah Baekhyun terlalu mendramatisir situasi karena waktu itu ia terlalu terkejut. Tapi—hell, siapa yang tidak akan terkejut ketika pria yang selama ini ia sebut stalker ternyata adalah kekasihnya sendiri? Sebagian orang mungkin menganggapnya manis, tapi jujur, Baekhyun justru merasa takut, terlebih ia tahu semuanya tepat setelah memberikan pengalaman pertamanya.

"Hyung, kau baik-baik saja?" Samuel mengetuk pintu kamar Baekhyun. Intonasinya terdengar khawatir. Mungkin karena tadi Baekhyun pulang dalam keadaan basah kuyup dan mata merah.

"Aku baik, Sam."

Tapi Samuel masih khawatir. Ia yakin sesuatu terjadi antara Baekhyun dan Chanyeol, melihat tadi Hyung-nya diantar pulang oleh Sehun.

"Boleh aku masuk?" pinta Samuel kemudian. Senyumannya terkembang tipis ketika Baekhyun membuka pintu kamarnya. Ia duduk di kursi, berseberangan dengan Baekhyun yang duduk di atas ranjang. "Sebenarnya ada apa, Hyung?"

"Tidak ada apa-apa."

Samuel tahu Baekhyun berbohong. Dari raut mukanya saja sudah kelihatan bahwa Baekhyun tidak baik-baik saja.

"Apa ini karena pesanku soal Chanyeol Hyung?"

Tidak ada respon. Samuel menganggapnya sebagai 'ya'.

"Maaf jika pesanku membuatmu kaget. Jujur, aku sangat bersemangat ketika mengetahui semuanya. Aku sama sekali tak mengira kau akan sekaget ini." Jeda sejenak. Samuel menggenggam tangan Baekhyun. "Jangan terlalu lama berdiam-diaman dengan Chanyeol Hyung ya? Aku yakin dia memiliki alasan sendiri kenapa sampai tidak memberitahumu soal ini."

Mendesah lelah, Baekhyun balas menggenggam tangan Samuel. "Aku tahu. Aku akui aku juga salah karena tak mendengar penjelasannya terlebih dahulu. Chanyeol bukan lagi remaja, begitu pula aku. Hanya saja..aku masih kecewa padanya. Padahal aku sudah memberitahunya soal pria berinisial 'Y' itu, tapi kenapa dia masih diam saja?"

"Well, kupikir kau kecewa itu hal yang wajar. Kejujuran adalah dasar utama sebuah hubungan, iya kan?" Samuel tersenyum lembut, lalu melanjutkan, "Begitu pula dengan saling memaafkan."

"Eh?"

"Tolong jangan berpikir aku sedang memihak Chanyeol Hyung, tapi bukankah kau juga pernah berbohong pada Chanyeol Hyung sebelumnya? Apa kau ingat kenapa kau melakukan itu?"

Benar juga. Dulu Baekhyun pernah berbohong pada Chanyeol tentang bertemu Sehun diam-diam. Baekhyun ingat ia melakukannya karena tak mau Chanyeol cemburu dan ia juga ingat betapa Chanyeol marah padanya setelah mengetahui semuanya. Namun pada akhirnya Chanyeol tetap memaafkannya dan mereka kembali berbaikan.

"Nah," Samuel menyalakan ponsel Baekhyun. Terdengar beberapa kali nada pesan masuk ke nomornya, itu semua dari Chanyeol. "Bukankah sekarang adalah waktu yang tepat untuk saling memaafkan?"

Mengemut bibir bawahnya sesaat, Baekhyun ambil ponselnya dari tangan Samuel. Dibacanya sederet pesan dari Chanyeol yang memintanya untuk mengangkat panggilannya dan bertanya ada apa. Chanyeol pasti bingung juga khawatir karena Baekhyun pergi tanpa alasan yang jelas.

"Ingat pesanku ya, Hyung. Aku ke dapur dulu."

Begitu Samuel keluar dari kamar, Baekhyun kembali termangu. Otaknya berpikir keras, menimbang-nimbang apa yang sekiranya harus dilakukannya untuk mengambil jalan tengah.

"Haruskah aku meneleponnya?" gumam Baekhyun, tapi kemudian dia menggeleng tak setuju. "Lebih baik bicara langsung saja."

Dan keputusan itu telah diambil. Baekhyun mengetikkan pesan pada Chanyeol untuk bicara empat mata besok pagi.

"Semoga ini berhasil." Baekhyun berharap.

###

Baekhyun sudah mengharapkan kedatangan Chanyeol pagi ini, namun yang pertama memencet bel pintu rumahnya justru seseorang yang tak diduga-duga.

"S–Sehun? Apa yang kau lakukan di sini?"

Mengembangkan senyum, Sehun mengusuk gemas surai brunette Baekhyun. "Menemuimu. Apalagi?"

Well, itu sudah jelas. Kenapa pula Baekhyun harus bertanya segala? Padahal baru kemarin ia meminta Sehun mengantarnya pulang ke rumah. Tadi itu benar-benar pertanyaan bodoh.

"O–oh, begitu." Baekhyun menggaruk pipinya kikuk, merasa agak canggung dengan situasi ini. "Um..kau tidak ada kelas pagi ini?"

Tawa Sehun pun meledak karena pertanyaan itu. "Tentu saja tidak ada, Bee. Ini kan hari Minggu."

Hebat, kau baru saja membuat situasi semakin canggung! Kenapa kau bodoh sekali, Byun Baekhyun?!—Baekhyun merutuki dirinya sendiri dalam hati. Sebisa mungkin ia usir kecanggungan itu dengan kekehan kecil, tapi sepertinya Sehun menyadarinya.

"Kau sudah baikan sekarang?"

"Hm? Y–ya, sudah lumayan. Terima kasih." Baekhyun mengusap lengannya sebentar. "Anu..untuk yang kemarin, maaf sudah merepotkanmu. Waktu itu pikiranku sedang kalut, jadi aku.."

"Aku sama sekali tak berpikir kau merepotkanku, Bee. Sebaliknya, aku justru khawatir padamu. Apa yang sebenarnya terjadi kemarin? Apa kau terluka?"

Ditanya begitu, Baekhyun hanya terdiam sambil memandang ke arah lain. Ia tak bisa mengatakan hal yang sebenarnya pada Sehun. Ini adalah masalahnya dengan Chanyeol, ia tak mau melibatkan siapa pun ke dalamnya, terutama Sehun.

"Tidak apa kalau kau tak mau cerita. Aku mengerti. Tapi sebagai gantinya, aku ingin kau mengingat ini." Sehun menggenggam tangan Baekhyun, satu senyuman tulus terukir di bibir tipisnya. "Aku akan selalu berada di sampingmu, Bee. Kapan pun kau membutuhkanku, kau tak perlu ragu untuk menghubungiku, oke?"

Baekhyun tertegun dibuatnya. Sekali pun tak terlintas dalam benaknya Sehun akan sebegitu mengkhawatirkannya. Dia sungguh teman yang pengertian.

"Hm." Membalas genggaman tangan Sehun, Baekhyun mengangguk diiringi senyuman sama tulus. "Terima kasih banyak, Hun-ah.."

"Nah, begitu. Kau lebih cocok kalau tersenyum, Bee."

"Hahaha~"

Sedang asyik berbincang, Samuel tiba-tiba datang menghampiri Baekhyun dengan senyum lebar.

"Hyung, apa itu Chanyeol—" Suara Samuel seakan tertelan lagi karena ternyata sosok Sehun-lah yang datang ke sana dan bukannya Chanyeol. "Oh, kupikir siapa yang datang." ucapnya agak kecewa.

"Hai, Sam." sapa Sehun. Samuel hanya membalas dengan senyum simpul.

"Oh? Kalian sudah saling kenal?" tanya Baekhyun.

"Ya, kami pernah bertemu di Café Baristas. Iya kan, Sam?"

Samuel hanya mengangguk seadanya. Ia sebenarnya tidak mengharapkan kedatangan Sehun saat ini. Entah kenapa bertemu dengan Sehun membuat perasaannya tidak enak. Samuel merasa ada yang berbeda dari cara Sehun menatap Baekhyun. Seperti ia memiliki perasaan khusus, melebihi rasa sayang terhadap teman.

"Kau mau masuk?" tawar Baekhyun pada Sehun.

"Ya, tentu. Aku—"

Suara deru mobil yang berhenti di depan gerbang kediaman Byun lantas memotong ucapan Sehun. Seluruh atensi tertuju seutuhnya pada mobil tersebut. Itu mobil Tesla berwarna silver milik Chanyeol.

"Chanyeol Hyung!" seru Samuel, kelewat semangat. Cepat-cepat ia dorong Baekhyun yang malah terdiam di tempatnya, menuju Chanyeol yang menunggu di depan gerbang. "Sebaiknya kau pergi, Hyung. Bukankah kalian mau bicara berdua?"

"Uh..i–iya, tapi Sehun—"

"Tidak apa, aku akan mengurusnya. Kau pergi saja cepat, Chanyeol Hyung menunggumu."

"Baiklah." Baekhyun menoleh pada Sehun dengan raut tak enak hati. "Hun-ah, maaf, aku harus pergi. Kita lanjutkan obrolan kita lain kali ya?"

Sehun tak memberikan respon berarti. Tatapannya terus bergeming pada Baekhyun sampai ia masuk ke dalam mobil. Tak seorang pun sadar bahwa sedari tadi Sehun dan Chanyeol tengah bertukar tatapan tajam, saling menyalurkan amarah melalui sorot mata.

.

.

Atmosfer kecanggungan yang bercampur dengan ketegangan di dalam mobil Tesla itu terasa begitu kental. Baik Baekhyun, maupun Chanyeol, sama-sama tak mengeluarkan suara. Sebagian besar karena keduanya terlalu disibukkan dengan pikiran masing-masing. Ingin sekali Baekhyun mengakhiri kesunyian ini, tapi ia tak tahu harus berkata apa. Ekspresi Chanyeol yang keruh membuatnya agak takut.

"Kita bicara di sini saja." ucap Chanyeol setelah memarkirkan mobilnya di pinggiran sungai Han. Tatapannya masih mengarah ke depan. "Apa ini tentang Sehun? Itu sebabnya kau pergi kemarin?"

Alis Baekhyun tak elak menukik tajam. Ia tak percaya pertanyaan pertama yang Chanyeol lontarkan justru tersirat kecurigaan terhadapnya.

"Ini sama sekali tak ada hubungannya dengan Sehun, Chanyeol."

"Lalu, yang tadi apa?" Chanyeol menyudutkan. Dingin maniknya menusuk Baekhyun. "Kalian bahkan berbincang dan tertawa bersama, bagaimana mungkin aku tak berpikir macam-macam?"

"Kenapa kau selalu menyangkutpautkan semuanya dengan Sehun? Kau pikir aku berselingkuh?" Emosi Baekhyun pun mulai terpancing.

"Kau tahu aku tak pernah suka kau berdekatan dengan Sehun. Bukankah kau sendiri yang bilang akan menjaga jarak dengan bocah itu?"

"Dan bukankah kau juga bilang akan mengontrol kadar kecemburuanmu itu?"

"Kecemburuanku ini beralasan, Baekhyun. Ini tidak muncul kecuali kau menepati janjimu."

Baekhyun mendengus keras, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia sungguh tak mengerti jalan pikiran Chanyeol. Kecemburuannya ini benar-benar seperti remaja labil, padahal Sehun itu keponakannya sendiri. Alih-alih membahas hal yang sebenarnya terjadi, kecemburuan Chanyeol justru lebih dulu menggerogoti emosi Baekhyun.

"Asal kau tahu, Chanyeol, Sehun justru berusaha menghiburku. Dia bahkan tak tahu apa masalah kita."

"Jika bukan karena Sehun, lalu apa?"

Chanyeol belum sadar rupanya. Ini bahkan semakin meningkatkan emosi Baekhyun.

"Kenapa kau tidak tanya pada dirimu sendiri," Baekhyun sengaja mengambil jeda di antara kalimatnya, lalu memberikan penekanan di kata berikutnya, "Tuan 'Y'?"

Dalam satu nanodetik, bola mata Chanyeol membulat utuh. Tubuhnya membeku dan kilas balik kejadian kemarin mulai terasa masuk akal di benaknya.

"Apa sekarang kau masih berpikir aku berselingkuh dengan keponakanmu?" Baekhyun menyindir. Tak menunggu respon Chanyeol, ia pun keluar dari mobil itu dan pulang sendiri dengan taksi.

###

Hari telah berlalu, namun tidak dengan pertengkaran Baekhyun dan Chanyeol. Setelah perdebatan mereka kemarin di pinggir sungai Han, Baekhyun malah semakin enggan bertemu Chanyeol. Ia bahkan berakhir dengan mengabaikan telepon dan pesan kekasihnya. Pikirnya, bicara dengan Chanyeol hanya akan memancing lebih banyak emosinya dan ia tak mau hubungan mereka menjadi lebih buruk dari ini. Mungkin yang saat ini mereka butuhkan adalah waktu, setidaknya sampai kepala mereka sama-sama dingin untuk menyelesaikan masalah ini.

Dengan niatan ingin melupakan sejenak permasalahannya dengan Chanyeol, Baekhyun pun mengajak Kyungsoo makan es krim, sekalian meminta sarannya tentang masalah ini. Mereka akan pergi setelah Kyungsoo selesai melakukan bimbingan skripsi. Baekhyun sungguh berharap Chanyeol terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga kecil kemungkinannya mereka bertemu di kampus.

"Bee?"

Baekhyun refleks menoleh pada si pemilik suara itu. Siapa lagi jika bukan Sehun? Lagipula tak ada yang memanggilnya 'Bee' di kampus itu selain Sehun.

"Oh, halo, Hun-ah."

"Sedang apa kau di sini?"

"Menunggu Kyungsoo, kami ada janji setelah dia selesai bimbingan skripsi."

Sehun mengangguk paham. "Apa masih lama?"

"Kurasa begitu. Dia baru masuk enam menit yang lalu."

Senyum Sehun pun terkembang sampai ke telinga. "Bagaimana kalau kita minum kopi dulu di Café Lava Java? Kemarin kau berhutang waktu padaku, ingat?"

"Ah, benar juga." Baekhyun berpikir sejenak, sebelum akhrinya mengangguk setuju. "Baiklah, tapi tidak apa kan jika hanya sampai Kyungsoo selesai bimbingan skripsi?"

"Tentu saja, lagipula aku ada kelas sebentar lagi." Sehun mengulurkan tangannya pada Baekhyun. "Then, shall we?"

Tersenyum manis, Baekhyun menyambut uluran tangan Sehun. "Let's go~"

.

.

Chanyeol bisa memastikan kepalanya akan meledak jika hubungannya dengan Baekhyun tetap buruk seperti ini. Pria mungil itu tidak membalas pesannya, juga mengabaikan panggilannya. Sebanyak apa pun Chanyeol mencoba, Baekhyun malah terkesan seperti sedang menghindarinya. Ini pasti karena tuduhan tak berdasar itu. Dan lagi, kenapa pula ia sampai kepikiran Baekhyun berselingkuh dengan Sehun? Tidak aneh jika kekasihnya itu semakin marah padanya.

"Aku butuh kopi." Satu helaan napas yang terasa berat itu Chanyeol hembuskan. Ia membelokkan mobilnya ke Café Lava Java, berniat membeli secangkir kopi. Mungkin itu akan menghilangkan sedikit pening di kepalanya.

Chanyeol sudah bersiap memesan ke kasir, namun eksistensi dua pria di hadapannya justru melenyapkan niatan itu. Bisa ia rasakan darahnya bergejolak marah, menghentakkan jantungnya begitu keras karena dua pasang mata sipit tak asing itu—Sehun dan Baekhyun.

"Apa yang kalian lakukan di sini?"

Baekhyun seharusnya bisa menjawab dengan kasual jika saja Chanyeol tak mendeliknya seolah ia tengah ketahuan berselingkuh.

"Memang apalagi? Tentu saja minum kopi."

Pertanyaan retorik Chanyeol dibalas dengan enteng oleh Sehun. Tapi itu sama sekali tidak berpengaruh pada Chanyeol. Pria bersurai ash grey itu justru memasukkan kedua tangannya ke saku celana, memasang ekspresi angkuh.

"Jadi, kau bolos kelas?"

"Tentu saja tidak." Sehun tersenyum miring, satu tangannya sengaja merangkul bahu Baekhyun untuk memancing kecemburuan Chanyeol. "Kelas berikutnya akan dimulai satu jam lagi, jadi kami putuskan untuk minum kopi bersama di sini. Iya kan, Bee?"

Dan itu berhasil. Terlihat jelas dari rahang Chanyeol yang mengeras, juga kepalan tangan di sisi tubuhnya. Pamannya itu benar-benar dilanda api cemburu.

"Lepaskan tangan kotormu darinya, Oh Sehun."

"Chanyeol!"

"Kalau aku tidak mau, memang kau mau apa? Memukulku?" Sehun balik mengancam. Sedikit pun ia tidak takut pada Chanyeol. "Pergilah, bukankah kau ada jadwal mengajar pagi ini?"

"Oh, aku akan pergi." Chanyeol menarik Baekhyun ke sisinya. "Bersama kekasihku." lanjutnya pernuh penekanan, lalu pergi dari sana, seutuhnya mengabaikan Sehun yang dongkol setengah mati di belakang sana.

"Kau lihat saja, Park." Sehun mendesis, tak meninggalkan lekat tajam matanya dari sosok Chanyeol. "Ini belum berakhir."

Keputusan akhir telah Sehun ambil.

.

.

"Apa-apaan sikapmu ini, Chanyeol?! Kau sudah keterlaluan, kau tahu?!" Baekhyun menghempaskan tangan Chanyeol dengan kasar begitu mereka menginjakkan kaki di basement fakultas bahasa. Pikirnya, sudah cukup dengan sifat cemburuan Chanyeol yang mendarah daging ini. Baekhyun benar-benar muak.

"Setelah kau mengabaikan semua pesan dan panggilanku, ini yang kudapat darimu?"

"Apa maksudmu, hah? Aku dan Sehun hanya minum kopi bersama!"

"Cih, hanya minum kopi." Chanyeol mendengus keras. "Aku juga akan beralasan sama dengan Sehun jika sedang mendekatimu, Baek. Apa perlu kubuktikan agar kau percaya?"

"Sehun tidak sedang mendekatiku, Chanyeol. Kami hanya berteman. Sudah berapa kali kita membahas ini, hah?"

"Apa kau sungguh akan terus menyangkal bahwa Oh Sehun tidak memiliki perasaan khusus padamu?! Sadarlah, Baekhyun! Dia tidak pernah melihatmu sebagai teman!" Suara Chanyeol kian meninggi. Ia sungguh tak tahan dengan sifat naif Baekhyun.

"Yang seharusnya segera sadar itu kau, Chanyeol!" Suara Baekhyun turut meninggi, merasa frustrasi karena Chanyeol terus berpikiran dangkal terhadapnya juga Sehun. "Kau terus saja menuduhku yang tidak-tidak! Bahkan masalah kemarin tidak menjadi beban bagimu dan sekarang kau malah bertingkah seolah aku yang paling salah di sini!"

"Kau pikir siapa yang terus mengabaikan pesan dan panggilanku?! Masalah kemarin pasti selesai jika kau memberiku kesempatan untuk menjelaskan!"

"Kalau begitu, jelaskan sekarang!" tantang Baekhyun dengan lantang. "Jelaskan kenapa kau berbohong padaku, padahal aku sudah menceritakanmu tentang pria berinisial 'Y' itu!"

"Aku tidak bermaksud berbohong padamu, Baek! Itu semua adalah kesalahpahaman!"

Berbalik Baekhyun yang mendengus keras. "Bagian mana yang kau sebut 'kesalahpahaman', hah?"

"Aku berniat memberitahumu semuanya nanti. Aku hanya sedang mencari waktu yang tepat."

"Dan kapan tepatnya 'waktu yang tepat' itu?"

Chanyeol terdiam tak menjawab. Meski sudah berniat akan memberitahu Baekhyun tentang identitasnya, Chanyeol sendiri sebenarnya belum tahu pasti kapan tepatnya.

"See? Kau bahkan tidak tahu. Sudah jelas tak ada kesalahpahaman di sini, kau memang tak pernah ada niatan memberitahuku, kan?"

"Baek, percayalah padaku! Aku ini mengatakan yang sejujurnya padamu!"

"Lalu, bagaimana denganku? Kau percaya padaku?" Lagi, Baekhyun menantang Chanyeol. "Apa kau percaya bahwa tak ada hubungan apa pun di antara aku dan Sehun?"

Chanyeol membuang napas sejenak, lalu maju selangkah untuk mengelus surai brunette Baekhyun. "Tentu saja aku percaya padamu, Baek. Aku hanya tidak percaya pada Oh Sehun, dia pasti merencanakan sesuatu untuk merebutmu dariku."

Menggeram kesal, Baekhyun menepis tangan Chanyeol dari kepalanya. "Demi Tuhan, Chanyeol, jangan terus berperasangka buruk pada Sehun! Dia itu keponakanmu dan kami hanya berteman, tidak lebih! Kenapa kau—"

"BERHENTI MEMBELANYA, BYUN BAEKHYUN!" Teriakan Chanyeol sontak membungkam mulut Baekhyun. Napasnya memburu karena emosi yang mencapai batas tertinggi. "Aku muak dengan segala pembelaanmu pada bocah sialan itu! Memang apa yang kau tahu tentangnya, hah?! Kau bahkan tak sadar bahwa selama ini dia menyukaimu!"

Susah payah Baekhyun menelan ludahnya di antara geming maniknya pada obsidian Chanyeol. Ini adalah kali pertama ia melihat Chanyeol semarah ini padanya. Dan itu karena Sehun.

"Aku membelanya karena dia temanku, Chanyeol. Kami—"

"Cukup, Baekhyun." Chanyeol menekankan intonasinya. "Kalau kau terus seperti ini, aku bersumpah akan menghambat skripsimu. Kau paham itu?"

Lalu hening.

Baekhyun membatu menatap Chanyeol dengan raut terkejut. Untuk sesaat, ia menolak percaya ucapan Chanyeol dan berharap bisa menemukan setitik kebohongan dalam manik kelam kekasihnya. Namun tidak ada. Baekhyun harus menelan bulat-bulat kekecewaannya karena hanya ada kesungguhan dalam sorot mata Chanyeol.

Tawa hambar keluar dari celah bibir Baekhyun, bersamaan dengan perih di matanya. Ia tak tahu harus berkata apa lagi. Semuanya terasa menyakitkan sampai menyiksanya dalam setiap tarikan napas. Padahal yang Baekhyun inginkan adalah Chanyeol percaya padanya, bukannya mengancam akan menghambat skripsinya jika ia tak mau menjauhi Sehun. Kalau sudah tak ada rasa saling percaya di hati, bagaimana cara mereka mempertahankan hubungan ini?

Tidak.

Baekhyun sudah tak bisa lagi menolerir semua ini, terutama sifat cemburu Chanyeol. Ini terlalu berlebihan.

"Kita putus saja."

Satu kalimat itu menyentakkan Chanyeol dengan telak. Gebu emosi yang tadi menguasai dirinya, berubah menjadi kekalutan.

"A–apa maksudmu dengan 'putus', Baek?" tanya Chanyeol hati-hati. "Kau bercanda—"

"Hubungan kita tidak akan berhasil jika terus seperti ini, Chanyeol.." Baekhyun menyela dengan suara bergetar. Tak terbendung lagi airmata di pelupuk matanya. "Karenanya, kita akhiri saja sampai di sini."

Panik menguasai Chanyeol. Bola matanya bergerak gelisah karena Baekhyun mulai berbalik meninggalkannya.

Tidak! Chanyeol tak mau mengakhiri hubungan ini! Bagaimana ia bisa melepaskan pria yang begitu dicintainya? Ia harus melakukan sesuatu!

"Baekhyun, kumohon dengarkan aku—"

Secepat Chanyeol menahan tangan Baekhyun, secepat itu pula tepisannya bersambut. Baekhyun menolaknya. Tubuh mungil itu bergerak kembali tanpa menoleh sedikit pun, menyisakan sakit dan penyesalan dalam hati keduanya.

.

.

Sehun tak bisa lebih bersyukur karena kelasnya hari ini sudah selesai. Sedari tadi, pikirannya terus melayang pada Baekhyun; menerka-nerka apa yang terjadi padanya setelah ditarik pergi oleh Chanyeol. Mengingat watak Chanyeol yang pencemburu, Sehun yakin pamannya itu takkan bersikap tenang ketika ada orang lain yang ingin merebut pria yang dicintainya. Terlebih setelah kejadian di Lava Java tadi pagi, sepertinya Chanyeol akan mengekang Baekhyun lebih jauh.

Membuang napas, Sehun mengerem motornya di pinggir taman. Ia meraih ponselnya di dalam saku celana dan mencari kontak Baekhyun di sana. Sehun pikir setidaknya ia harus memastikan sendiri bahwa Baekhyun baik-baik saja. Walau bagaimanapun, ia juga salah karena malah memancing emosi Chanyeol di depan Baekhyun. Hatinya tidak akan tenang jika hanya berdiam diri dan menunggu Baekhyun mengabarinya.

"Oh?" Sehun melihat ke atas saat beberapa bulir bening jatuh mengenai tangannya. Tampak sekumpulan awan hitam menutupi langit Seoul dan mulai menitikkan hujan. "Shit!"

Sehun menyimpan kembali ponselnya, lalu memarkirkan motornya di bawah pohon rindang dalam taman itu. Baru saja ia berpikir untuk melanjutkan niatannya menghubungi Baekhyun, maniknya sudah lebih dulu menangkap siluet Baekhyun tak jauh dari tempatnya berdiri. Si mungil bersurai brunette itu hanya bergeming di sana, membiarkan tubuhnya terguyur hujan.

"Astaga, Bee!" Sehun berlari menghampiri Baekhyun dan menyampirkan jaket di kepalanya. "Apa yang kau lakukan di tengah hujan begini? Kau bisa—"

Lidah Sehun mendadak kaku saat Baekhyun tiba-tiba memeluknya. Samar-samar ia mendengar isak di antara deru hujan. Itu berasal dari Baekhyun.

Tak membutuhkan waktu lama bagi Sehun untuk menyadari alasan di balik tangis pilu Baekhyun, sebelum akhirnya ia membalas pelukan itu. Diusapnya lembut punggung Baekhyun yang gemetaran, mencoba menyalurkan kehangatan padanya.

"Kau baik-baik saja?"

Bukan kata-kata, melainkan rematan penuh di kemejanya yang Sehun dapatkan.

Baekhyun tidak baik-baik saja.

.

.

Ekor mata Kyungsoo bergerak ke kiri dan ke kanan, mencari sosok Baekhyun yang belum ditemukannya sampai sekarang. Padahal mereka sudah janjian akan makan es krim bersama setelah bimbingan skripsinya selesai, tapi kenapa justru Baekhyun sendiri yang menghilang?

"Jangan-jangan dia pergi duluan?" Kyungsoo hendak menghubungi Baekhyun, namun tertahan karena Chanyeol yang berlari ke arahnya. "Selamat siang, Seonsaeng—"

"Apa kau melihat Baekhyun?" Chanyeol langsung memotong sapaan Kyungsoo dan meluncurkan pertanyaan di antara napasnya yang tidak teratur.

"Eh? Baekhyun? Saya juga sedang mencarinya, Saem. Padahal tadi dia bilang mau menunggu saya di sini."

Tak mengatakan apa pun lagi, Chanyeol berlalu bergitu saja dari sana. Kyungsoo di belakangnya hanya mampu terheran-heran. Ini sungguh tidak biasa.

"Ada apa ya dengan mereka?"

.

.

"Kami sudah putus."

Belalak mata Sehun menjadi respon dari satu kalimat yang Baekhyun lontarkan setelah tangisnya berhenti. Sehun memang sudah menduga tangis Baekhyun ada hubungannya dengan Chanyeol, tapi ini sungguh di luar dugaannya. Apakah Chanyeol yang memutuskan Baekhyun duluan? Ataukah sebaliknya?

"Tolong jangan berperasangka buruk padanya, aku yang mengambil keputusan ini." imbuh Baekhyun, seolah ia baru saja membaca pikiran Sehun. Jemari-jemarinya yang kedinginan bermain satu sama lain sebagai pengalihan atensi dari kesedihannya. "Kupikir..ini adalah yang terbaik untuk kami."

Sehun tak memberikan komentar apa pun, hanya terdiam dengan ekspresi yang sulit dibaca. Tak bisa dipungkiri ada perasaan senang mengetahui akhirnya Baekhyun dan Chanyeol putus, namun raut gundah di wajah Baekhyun justru lebih mengusik pikiran Sehun. Hatinya sakit sekali, terlebih Baekhyun seperti ini karena Chanyeol.

Cemburu? Tentu saja. Ketika seseorang menangis demi orang lain, sudah pasti itu mengindikasikan cinta yang besar. Baekhyun adalah salah satu contoh. Bulir airmata yang ia keluarkan merupakan pertanda bahwa cintanya pada Chanyeol belum padam. Dan Sehun tak suka itu.

"Kau tidak apa?" Sehun akhirnya memecahkan keheningan. Untuk saat ini, yang terpenting baginya adalah menghibur Baekhyun.

"Kurasa.."

Sehun menghela napas panjang mendengar keraguan dalam intonasi Baekhyun. Digenggamnya tangan si mungil, menangkupnya agar tidak kedinginan. "Seharusnya kau menghubungiku, Bee, bukannya membiarkan tubuhmu terguyur hujan. Kau bisa sakit nantinya, hm?"

Baekhyun tak merespon, juga tak membalas tautan mata Sehun. Tatapannya terlihat kosong seperti tenggelam dalam lamunan. Binar yang selalu terpancar dalam matanya pun kini meredup, hanya kesedihan yang Sehun tangkap.

"Bee.." Baekhyun menoleh pada Sehun. Pria bersurai blonde itu tersenyum lembut padanya, dengan jemari mengusap pipinya. "Tidak apa, semuanya akan baik-baik saja. Aku akan selalu berada di sisimu.."

Perlahan, pupil Baekhyun bergerak memandang Sehun. Tampak ketulusan dalam hazel-nya. Baekhyun tahu itu nyata, ia percaya Sehun akan selalu berada di sisinya dan fase berat yang tengah dialaminya akan berakhir—cepat atau lambat. Namun kembali lagi, Sehun bukanlah Chanyeol. Mereka tidak sama. Kehadiran Sehun takkan bisa menggantikan posisi Chanyeol di hatinya. Dan kenyataan itu akan tetap berdiri di sana, menorehkan luka yang lebih dalam.

"Aku.." Lelehan bening lagi-lagi menggenang di pelupuk mata Baekhyun kala benaknya kembali menampilkan wajah Chanyeol. Bagaimana si jangkung menyebut namanya, mengecup bibirnya, dan mengucapkan kata cinta padanya. Kenangan indah yang mereka ukir bersama terasa sulit Baekhyun singkirkan sampai itu meremas kuat jantungnya. "Aku..harus bagaimana, Hun-ah?"

Baekhyun tahu ia telah membuat keputusan bodoh dengan memutuskan Chanyeol. Pada kenyataannya, jantungnya masih berdebar cepat untuk Chanyeol, darahnya masih berdesir kuat karena gema suara Chanyeol, dan airmatanya masih mengalir bahkan setelah kehilangan Chanyeol. Perasaan ini sungguh menyiksanya.

"Aku..tak tahu cara melupakannya.."

Tangan Sehun mengepal kuat mendengar tangis pilu Baekhyun. Ia benci melihat ini. Tidak seharusnya Baekhyun menangisi Chanyeol. Airmatanya terlalu berharga hanya untuk pria macam Park Chanyeol.

"Jangan menangis, Bee. Masih ada aku di sini." Menghapus airmata Baekhyun, Sehun menangkup wajah si brunette agar membalas tatapannya. "Aku akan membantumu melupakannya."

.

.

Timing.

Chanyeol selalu percaya tak ada yang namanya 'kebetulan' di dunia ini. Semuanya hanya tentang timing yang telah Tuhan atur sedemikian rupa, yang kemudian membentuk sesuatu bernama 'takdir'.

Termasuk detik ini.

Ketika mobilnya harus berhenti mendadak karena seekor kucing yang tiba-tiba berlari menyeberang jalan. Juga ketika ekor matanya refleks menengok ke arah taman dan menyaksikan sendiri hal yang menyulut amarahnya sampai ke ubun-ubun.

Di sana, tepat di bawah pohon rindang itu, Sehun mencium Baekhyun.

TBC