Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

.

Catatan :

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

.

Fic ini mengandung unsur yang tidak begitu di terima oleh publik, harap memikirkan segala aspek tanpa fokus hanya pada satu bagian saja.

.

= Enjoy for read =

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

.

.

[Blossom In The Winter ]

( Chapter 18 )

.

.

.

Sakura pov.

Menatap pipiku di depan cermin, ini membekas, rasanya sangat sakit, dia berani sekali menamparku seperti itu, tapi apa dia sangat-sangat marah padaku? Aku sudah banyak berbohong padanya, tidak mendengar ucapannya lagi dan juga, aku membuat masalah, Sasuke pasti sangat khawatir.

Pintu kamarku terbuka dan membuatku terkejut, aku bisa melihat Sasuke yang terlihat seperti baru bangun tidur, tatapan matanya terlihat lelah, pria itu berjalan menghampiriku dan aku jadi spontan bergerak seperti menghalangi wajahku jika saja dia akan menamparku lagi.

"Kau tidak mengompres pipimu dengan baik, lakukan dengan benar." Ucapnya, menaruh semangkuk air hangat dan juga handuk kering di atas meja riasku.

"Maaf sudah membuatmu khawatir." Ucapku.

Tidak ada jawaban apa-apa dari Sasuke, setelah dia menaruh dua benda itu, Sasuke beranjak dari kamarku dan menutup pintu kamarku.

Hari ini, aku juga harus masuk sekolah, kemarin aku bolos dan seperti menambah rasa marah Sasuke padaku.

"Selamat pagi." Ucapku, aku jadi tidak bersemangat pagi ini.

Di meja makan aku hanya melihat kak Izuna dan kak Itachi yang sibuk menata sarapan, Sasuke masih tidak ingin menemuiku, rasanya jadi semakin menyebalkan, padahal dialah termasuk orang yang lebih tua.

"Selamat pagi Niichan." Ucapku dan memeluk pinggang pria itu, Kak Itachi jauh lebih tinggi dari mereka.

"Selamat pagi, Sakura, sarapan dan bekalmu sudah ada di meja." Ucapnya.

"Selamat pagi." Ucap semangat kak Izuna padaku, sebuah usapan lembut darinya.

Saat ini mereka jadi semakin dekat denganku di saat Sasuke mulai tidak peduli padaku lagi.

"Hari ini biarkan Izuna mengantarmu." Ucap kak Itachi.

"Tidak usah, aku tidak akan bolos lagi, aku janji." Ucapku. Aku pikir mereka masih mengkhawatirkanku. "Maaf sudah membuat masalah kemarin." Ucapku, lagi.

"Itu bukan sebuah masalah, aku juga pernah membolos hingga kakak sibuk mencariku." Ucap kak Izuna.

"Aku sampai berpikir akan mematahkan kakimu jika menemukanmu." Ucap kak Itachi.

Aku jadi tertawa mendengar ucapan mereka, hingga sarapan kami selesai dan aku harus berangkat, Sasuke tak kunjung terlihat.

"Dimana Sasuke?" Tanyaku pada kakak Itachi sebelum berangkat.

"Dia masih tidur, mungkin dia perlu istirahat, dan ini-" Ucapnya dan mengusap pelan pipiku. "Sebaiknya kau kompres lagi saat pulang sekolah." Lanjutnya.

"Uhm, akan aku lakukan." Ucapku.

Aku harus mengarang cerita apapun jika bertemu Ino.

Setelah bersekolah lagi, walaupun hanya kabur sehari, aku mendapat teguran dari wali kelasku, aku sudah meminta maaf dan berjanji tidak akan melakukannya lagi, kata Ino, Sasuke sampai datang ke sekolah hanya untuk menanyakan tempat yang mungkin aku kunjungi pada Ino.

"Tidak mungkin kau jatuh dan pipimu seperti ini." Ucap Ino.

"Anggap saja, Sasuke sangat marah kemarin." Ucapku dan membaringkan kepalaku di meja.

"Padahal aku sudah memberinya saran agar tidak marah padamu, apa dia tidak bertanya apa-apa padamu?"

"Tidak, kami hanya bertemu sebentar, dia seperti tidak ingin melihatku."

"Aku tidak memahami akan sikap kakakmu itu."

Kau benar Ino, kau tidak akan memahaminya, tapi aku sangat mengerti akan tindakan Sasuke, dia sedang berusaha menjadi pasangan yang terlalu sempurna hingga aku harus mematuhinya, sejujurnya aku mulai tidak suka dengan cara Sasuke, apa dia lupa jika aku juga memiliki hakku sendiri? Apa lagi dia tidak memikirkan bagaimana jika ayah Fugaku dan ibu Mikoto mengetahui hal ini, aku yang pusing memikirkannya.

Walaupun kak Itachi sudah menasehatiku, aku juga bisa memilih apapun, tapi tidak dengan tanggapan Sasuke, dia seperti tidak akan berhenti marah jika aku terus membangkang.

"Bagaimana dengan kedua kakakmu itu?" Tanyanya.

"Mereka ada di pihakku, walaupun begitu aku rindu setiap kami bersamanya, hanya saja setiap mengingat sikapnya, aku menjadi sangat-sangat kesal." Ucapku.

"Sakura, akhirnya kau masuk sekolah lagi, apa kakakmu yang datang kemarin?" Ucap salah seorang murid di kelasku.

Menatap mereka dan aku tidak mengerti kenapa mereka jadi ramai menghampiri kursiku.

"Dia bukan kakakku, dia pacarku, apa yang ingin kalian tahu?" Ucapku dan menatap sinis pada mereka.

Mereka pun menatapku dengan tatapan tidak senang, padahal beberapa detik yang lalu mereka berusaha terlihat baik di hadapanku, sekarang mereka pergi dengan mengatakan aku gadis aneh yang menyukai kakaknya sendiri.

Ya, katakan apapun yang kalian suka, lagi pula aku tidak akan peduli!

"Mereka akan terus seperti itu, Kau tidak perlu memikirkan mereka." Ucap Ino.

"Aku hanya percaya padamu Ino." Ucapku dan memeluknya, siapa lagi yang menjadi orang terdekatku, aku hanya memiliki Ino di sekolah ini, walaupun kabar aku anak angkat terbongkar, aku belum mengetahui siapa pelakunya, aku tidak mungkin menuduh Ino, dia sudah mengatakan jika bukan dia pelakunya.

"Sebaiknya jalan-jalan setelah sepulang sekolah, bagaimana?" Ajak Ino.

"Ide yang bagus." Ucapku, dan seketika aku mengingat kembali wajah marah Sasuke. "Mungkin lain kali saja, aku harus pulang cepat, kemarin aku sudah membuat mereka khawatir." Ucapku.

"Baiklah, tidak apa-apa, kita pergi lain kali saja."

.

.

.

.

.

Sepulang sekolah, hari ini jadi lebih berat dari biasanya dan sangat lelah, duduk di sofa ruang tamu, di jam seperti ini, semuanya masih berada di kantor, padahal aku ingin bermanja-manja dengan mereka.

"Kau sudah pulang?"

Terkejut dan menolah ke belakang. Sasuke ada di rumah! Aku pikir dia sedang bekerja juga, suasananya jadi sangat-sangat canggung.

"Uhm, aku pulang, maaf aku tidak mengatakannya tadi, aku pikir semua sedang bekerja." Ucapku.

Sasuke lagi-lagi pergi setelah mendengar ucapanku, apa-apaan dia? Bikin kesal saja, dasar pak tua!

Kembali merebahkan diri di sofa ruang tamu, aku sedang tidak ada tenaga untuk naik ke kamarku.

Kembali terkejut dan segera duduk dengan baik, Sasuke datang membawa semangkuk air hangat dan handuk kering lagi, jadi terasa seperti dejavu, tapi ini bukan dejavu.

"Kompres kembali pipimu." Ucapnya, walaupun dia sedang marah padaku, Sasuke masih mengkhawatirkanku.

"Aku sedang malas." Ucapku dan kembali merebahkan diri.

Suasana jadi begitu tenang.

"Jangan banyak bergerak." Ucap Sasuke, dia melakukannya untukku.

Mengompres perlahan pipiku dan menatap pria itu, tatapan yang sangat menusuk.

"Kau masih marah padaku?" Tanyaku, aku tidak suka jika dia terus bersikap dingin padaku.

"Pikirkan sendiri apa yang sudah kau lakukan." Ucapnya, seperti tengah menegurku.

"Aku sudah minta maaf, apa kau akan terus seperti ini padaku? Katanya akan menjadi pasangan di masa depan, tapi kau sudah berani menamparku, aku tidak mau hidup bersama pria yang kasar." Tegasku.

Kegiatannya terhenti dan saat ini dia terus menatapku.

Cup!

Apa yang di lakukannya! Bergegas bangun dan menjauh darinya, aku sampai duduk di pinggir sofa.

"Kenapa menciumku!" Panikku. Sasuke mencium bibirku lagi!

"Aku tidak akan melakukan tindakan kasar padamu lagi, aku minta maaf." Ucapnya.

"Aku tidak percaya padamu." Ucapku dan wajahku benar-benar merona, aku bahkan tidak bisa menenangkan detak jantungku ini.

"Kemarilah, pipimu masih belum selesai di kompres."

"Tidak, kau akan melakukan hal itu lagi!" Kesalku.

"Kenapa? Aku tidak boleh melakukannya? Apa kau lupa kita adalah pasangan." Ucapnya, bahkan dengan nada suara yang terdengar sangat enteng itu.

Bagaimana aku bisa meyakinkan jika kita adalah saudara secara hukum? Sasuke seperti tidak mendengarkanku.

"Kau mulai benci padaku?" Tanyanya.

"Ti-tidak, aku tidak membencimu, aku hanya kesal setiap kau marah padaku."

"Aku janji, aku tidak akan marah lagi." Ucapnya.

Menatap pria itu, aku masih tidak percaya padanya, dulunya aku selalu berpikir jika Sasuke itu adalah pria yang hebat, dia bahkan mampu mengurusku, padahal dia bukan seorang ayah atau seorang pria yang memiliki wanita, dia bisa dengan mudah menangani setiap keperluanku, aku selalu kagum padanya, tapi apa rasa cinta itu akan muncul juga? Selama ini aku tidak pernah memikirkan jika kami benar akan menjadi pasangan, bahkan hingga menikah seperti yang katakannya dulu, dia terus mengulang kalimat itu padaku.

Aku masih belum mengerti apapun tentang hubungan ini dengannya, apa aku juga mencintainya? Cinta itu rumit, aku bahkan masih pusing memikirkan pelajaran, bagaimana memikirkan cinta di usiaku sekarang?

"Sasuke, apa kau mencintaiku?" Tanyaku, aku tidak percaya menanyakan hal ini padanya, apa dia mencintaiku hingga menginginkanku menjadi pasangannya?

Sasuke terdiam, bahkan tidak ada ucapan yang di keluarkannya, nah, Sasuke, katakan, apa kau mencintaiku? Aku juga ingin tahu, apa benar cinta yang melebihi seorang saudara sedang kau tanamkan padaku?

"Aku tidak bisa menjawabnya." Ucap Sasuke, bahkan tidak menatapku.

.

.

TBC

.

.


updatee...~