WHITE MARRIAGE

by Gyoulight

.

.

.

.

CHANBAEK FANFICTION

GENRE: Romance, Marriage Life/?

RATING: T/?

.

.

.

.

Sibuk meladeni ponselnya, Chanyeol lupa mengambil pesanannya sendiri di meja pesanan. Alhasil Jongin beranjak. Memenuhi panggilan di depan sana dengan segera─sebagai gantinya. Dan bodohnya pria tan itu tidak membawa nomor pesanan hingga berakhir ditahan. Chanyeol yang terlalu fokus bahkan tidak juga mengindahkan panggilan Jongin yang menyuruhnya membawa nomor pesanan.

Jongin yang ingin mengutuk lantas menepuk bahu pria tinggi yang menjabat sebagi temannya itu, lalu merampas potongan kertas yang berada di genggamannya. Belum merespon sebuah penerimaan pada impulsnya, Chanyeol malah melongo seperti orang bodoh. Terlanjur meladeni ponselnya yang hampir jatuh, bersama beberapa catatan di dalamnya.

Setengah menit kemudian Jongin sampai dengan beberapa menu seleranya. Dengan senang hati temannya itu meletakkannya dengan manis di atas meja. Menyajikan miliknya seperti pelayan resto terbaik, dan sisi buruknya adalah pria itu sambil mengomel buruk padanya.

"Nanti saja dilanjutkan kalau kita sudah makan."

Terdampar di sudut kota, dengan masalah di kepala adalah alasan mengapa mereka duduk disini. Melakukan break sejenak dari lelah perihal menaklukkan pekerjaan dengan makan sesuatu yang mengenyangkan─kata Jongin. Tapi bagi Chanyeol ini jauh lebih buruk dari dugaannya. Bagaimana ia bisa makan jika pekerjaannya saja masih berantakan?

"Mereka kehilangan minat," balas Chanyeol mengerutu. Ada banyak kecemasan yang nyatanya sudah lebih dahulu mengaitnya.

"Dengar, si macan tutul itu akan memikirkannya. Bukan membatalkannya." Jongin mengaduk-aduk bibimbapnya dengan segera. Menuang saus kental berwarna gelap pada potongan dagingnya, tanpa mau tahu Chanyeol yang mengabaikan makan siangnya. "Lagipula aku sudah bilang padamu kalau dia lebih suka malam hari. Untuk apa kau kejar dia siang bolong begini?"

"Aku tidak suka jika mereka melupakan etika berbisnis di Negara kita," jawab Chanyeol bersikeras. Menatap sekali lagi layar ponselnya dengan berbagai ide di kepala. Dan kali ini ia menyusuri dokumen penting yang ia simpan dalam drivenya. Membacanya tergesa seakan hendak mengikuti ujian nasional 10 menit lagi.

Jongin mengambil minumannya lebih dahulu. Sedikit melegakan tenggorokannya demi mengutuk panjang lebar soal Chanyeol yang tidak pernah mau mendengar sarannya. "Bukan Negara kita, tapi perusahaanmu. Perusahaan lain malah melakukan yang lebih buruk dengan membuat reservasi di salah satu kelab malam."

"Tapi dia orang yang penting."

Mendengar itu Jongin mengusap keningnya sebentar. Ia pun mendadak kehilangan selera makan setelah menghadapi pria tiang listrik di depannya ini. "Aku tahu. Kalau tidak, pamanmu tidak akan menugaskan ini pada kita."

Chanyeol berubah kusut. Pada akhirnya ia mulai meladeni minumannya yang berembun. Ya, sedikit tidak Jongin bisa lega. Tidak perlu diinterogasi Nyonya Park kalau anaknya tiba-tiba terkena penyakit asam lambung karena tidak mau makan teratur.

"Kenapa pula kau tidak mengambil kursimu? Dengan begitu macan tutul itu tidak akan semena-mena padamu." Suapan pertama memasuki perut Jongin. Begitu lega dirinya karena bisa menelan makanan dengan baik.

Namun Chanyeol berdecih kesal mendengarnya. Tepat seperti dugaan Jongin, mau bagaimanapun pria itu tidak akan pernah berminat pada ide 'menjadi atasan'.

"Aku penasaran, mengapa kau lebih tertarik berada di departemen kita dari pada duduk di kursi managerial?"

Tak mau dengar, Chanyeol kembali meladeni ponselnya. Kali ini ia membalas beberapa pesan dari ibunya. Ya, seperti anak kecil. Ia bahkan ditanyai perihal makan siang dan keberadaan. Lalu mau sampai kapan sebenarnya sang ibu mengurusi hidupnya? "Aku tidak mau saja."

"Dasar aneh─" Jongin sekali lagi mengutuk Chanyeol yang mengabaikan makan siangnya. "Aku bilang berhenti melihat ponselmu. Ibumu tidak akan perduli!"

Sedetik kemudian Chanyeol melempar ponselnya ke atas meja. "Aku sedang tidak mengadu pada ibuku!"

Jongin berubah terdiam. Mematung, tidak berani menyuap kembali makan siangnya. Karena jujur menurutnya, Chanyeol dalam mood marah seperti ini adalah wujud yang paling berbahaya.

Lantas kedua manik hitam Jongin tak sengaja mengedar pada jendela kaca di sampingnya. Menemukan sosok familiar berambut coklat dengan mantelnya, membuat Jongin sedikit teringat dengan seseorang.

Baekhyun?

"Begini, kau tetap harus lakukan itu walaupun Baekhyun sedang bersama pria lain, okay?"

Chanyeol berubah melongo. Rautnya yang mengeras segera hilang digantikan tolehannya yang ikut memaku pada jendela. Pria itu pada akhirnya sibuk mencari keberadaan orang yang disebut Jongin seperti orang linglung.

"Kau tidak lihat barusan?" Jongin menyadarkan Chanyeol kalau pria itu terlalu kentara bodoh. Mencari Baekhyun yang hampir hilang di ujung sana saja ia tidak bisa. "Itu, Baekhyun─mantel coklat. Kau bisa lihat dia berjalan dengan pria yang lebih keren darimu."

"Oh, kenapa dia bisa berada disini?" gumam pria tiang itu akhirnya menemukan Baekhyun yang nyaris hilang. Terakhir yang dilihatnya, ia menemukan pria tinggi dengan pakaian santai lalu berjalan akrab di samping suaminya. Normal saja sebenarnya, tapi kenapa diam-diam hatinya jadi merasa resah?

"Kau yakin tidak mau menyapa atau memukul wajah pria itu?" saran Jongin memberikan temannya itu pilihan inspirasi. Siapa tahu Chanyeol membutuhkan.

Tapi bagi otak Chanyeol yang bekerja, tidak ada yang salah soal itu. Baekhyun hanya menjalani hidup sepertinya. Bertemu dengan teman, rekan atau yang lainnya. Tidak berbeda dengannya yang bisa duduk disini dengan Jongin. Mengapa ia harus repot memukul orang? "Untuk apa?"

Jongin tercengang. Belum pernah ia menemukan orang yang sudah menikah membebaskan pasangannya untuk bertemu pria lain. Walaupun mereka menikah tanpa cinta, bukankah setidaknya menghindari perkataan buruk orang lain? Bisa saja ada yang berpikir buruk soal sikap salah satunya.

"Kau kan suaminya. Tidak wajar kalau kau biarkan suamimu bertemu dengan pria lain selain dirimu."

"Baekhyun hanya pergi dengan temannya. Dia harus menyelesaikan skripsinya bulan ini," balas Chanyeol santai. Tidak ingin ambil pusing. Jemarinya pun kini mulai menggeret makan siangnya lalu mengaduknya seperti yang sudah dilakukan Jongin. Bohong mungkin kalau dia baik-baik saja soal ini, dia jadi kepikiran.

Jongin membenarkan posisinya. Hendak mengubah atmosfir menjadi lebih serius. Karena kalau tidak, pembicaraannya ini bisa menjadi omong kosong bagi Chanyeol. "Ingatlah satu hal, Chanyeol, seseorang yang telah menikah lalu menemui pria lain, bisa rawan selingkuh."

Sungguh Chanyeol ingin tertawa mendengarnya. Sedikit lucu, ia mulai terkikik menatapi seluruh menu makan siangnya yang mendingin. Bukan apa-apa, mendengar kata menikah saja sudah tabu dalam hidupnya, apalagi selingkuh. Sungguh tidak ada kerjaan kalau takdir menambahkan definisi selingkuh dalam kamusnya.

"Jadi kita sedang berselingkuh di belakang Kyungsoo dan Baekhyun, begitu?"

"Berbeda konteks," sanggah Jongin kesal.

Namun Chanyeol segera mengubah atmosfir Jongin yang sempat jatuh. Pria itu menatap temannya yang menyimak. Meyakinkannya soal, "Baekhyun dan aku bukan burung peliharaan. Tidak ada satupun di antara kita yang berhak mengekang."

e)(o

Setelah menjadi peserta meeting selama dua jam lamanya, akhirnya Chanyeol tiba di depan kediamannya yang sunyi. Tak ragu ia memasukkan enam digit kode rumahnya, melepas sepatu dan menyampirkan jasnya. Tepat seperti rutinitas ketika ia pulang dengan segudang lelah. Pikirannya kini tak kalah jauh lepas landas, menebak bahwa ia tidak akan menemukan makanan hangat dan juga sambutan yang terkadang ia butuhkan.

Namun kali ini terasa begitu asing. Seolah rumahnya sedang ditawan oleh sekelompok pencuri berwujud alien. Lalu menginvasi kediamannya, lengkap dengan Baekhyun yang disembunyikan di lemari.

Sedangkan Baekhyun yang dikiranya palsu itu kini menghampirinya. Mengambil alih jas dan tasnya dengan sangat baik hati. Ditambah dengan senyuman tulus pasangan idaman kalau ia mau mengukur.

"Kau sudah makan?" tanya Baekhyun lembut. Penuh perhatian sampai mengekorinya masuk hingga ke kamar. Tak lupa menaruh barang-barangnya di tempat yang tepat. Seakan pemuda itu pernah mengurusnya bertahun-tahun lamanya.

"Belum," jawab Chanyeol meragu. Karena sungguh ia mulai takut sekarang. Bagaimana kalau benar rumahnya tengah diinvasi oleh alien? Bukankah ia harus menyelamatkan Baekhyun yang asli?

"Bagaimana dengan harimu?"

Chanyeol menyernyitkan dahi. Ia bahkan batal membuka kancing teratas kemejanya. Tentu butuh sedikit ruang untuk melakukannya. "Kau sakit?"

"Tidak," geleng si pemuda. Pun sosoknya tidak bertanya mengapa Chanyeol bisa bertanya demikian.

"Lalu?" tanya Chanyeol sekali lagi. Masih berdiri patung menyaksikan Baekhyun yang sibuk mengambil hanger untuk jas kusutnya. "Kau tidak pernah menyambutku seperti ini sebelumnya."

"Oh, benarkah?" kikiknya renyah. Entahlah, tapi itu aneh saja menurut Chanyeol. "Aku sudah menghangatkan makan malammu. Mau ku temani makan?"

Sosok itu berbalik. Menemukan maniknya yang penuh pertanyaan sambil mendekat begitu terang padanya. "Aku menyelesaikan revisiku hari ini," tuturnya penuh senyum.

Melihat senyum itu dada Chanyeol mendadak bergemuruh. Perasaan asing yang lain lantas mengitari hatinya. Membunuhnya telak dalam remang kamarnya, hingga tidak bisa bergerak bebas ketika Baekhyun berbicara.

"Jadi karena itu kau senang?"

Baekhyun menggapai bahu Chanyeol. Menarik sedikit kerah kemejanya agar ia menunduk. Dan dengan cekatan jemari kecil itu melepas ikatan dasinya. "Aku punya teman baru. Ini pertama kalinya aku punya teman."

Chanyeol menelan ludahnya sendiri. Mendapati wajah Baekhyun yang begitu dekat dengannya membuat sederet gravitasi dalam tubuhnya bekerja. Bukan karena gaya, hanya saja ada suatu energi aneh yang menghantamnya. Alih-alih memberi debaran yang berarti lebih, sampai ia sendiri kesulitan untuk menghadapi. "Oh, si tinggi itu?"

Baekhyun seketika mendongak. Sedikit penasaran dengan pertanyaan itu. "Darimana kau tahu?"

Nafas Chanyeol hendak terhenti. Nyaris ia membutuhkan tabung oksigen saat mendapati kedua sipit itu menawannya. Menatap kedua maniknya dengan tepat, tanpa terkecuali. "Aku melihatmu di jalan kemarin siang. Karena kau terlihat senang jadi aku─tidak menyapa."

Baekhyun mengangguk dengan mulutnya yang sibuk ber'o'ria. Melanjutkan melepas dasi suaminya hingga benar-benar selesai. "Lain kali, jika kita bertemu lagi, kita tidak perlu saling menyapa."

Selepas kepergian Baekhyun, Chanyeol menegakkan punggungnya. Beralih menatap punggung itu menjauh lalu memasukkan dasinya ke dalam rak cucian di bagian bawah lemarinya. "Kenapa?"

"Aku harus menemukan orang yang tepat. Kalau kau datang mengaku sebagai suamiku, ya tidak akan berhasil," jelasnya sedikit terkikik.

Chanyeol terdiam sebentar. Dadanya terasa sedikit sempit mendengarnya. Entah perasaan apa yang datang mengganggunya. Kemarin ia bahkan sempat memikirkan apa yang tengah ia pertanyakan perihal rasa tidak nyaman yang kembali datang ini.

"Jadi kau mau bilang bahwa orang itu adalah orang yang tepat?" tanya Chanyeol tanpa sadar. Lantas melirik jemari Baekhyun yang kini sudah tidak disemat cincin. Dan entah mengapa, dengan mendapati kekosongan jemari itu membuatnya meraba letak cincin yang pagi ini ia kenakan di salah satu jarinya.

Chanyeol bahkan tidak mengerti mengapa ia memasang kembali cincinnya pagi tadi.

"Kau benar-benar tidak pandai memilih. Bocah seumurannya hanya senang bermain-main dengan banyak orang."

"Aku tidak sedang membicarakan Sehun." Baekhyun berubah tersinggung. Kali ini Chanyeol tidak menyadari kalau ia sebenarnya kembali mengulangi kesalahannya dalam berbicara. Selalu seenaknya.

"Jadi namanya Sehun?" Diliriknya suami pendeknya itu. Kedua ekor mata indah Baekhyun bahkan sudah menajam. "Lihat, kali ini kau marah lagi."

Jadi salah siapa sebenarnya kalau Baekhyun tiba-tiba jadi pemarah?

"Bagaimana aku tidak marah? Kau itu selalu saja asal bicara!" jelas Baekhyun menghentakkan kakinya. Pergi dari sana sebelum tangannya ingin menyambar salah satu barang mudah pecah lalu melemparnya ke sembarangan arah.

e)(o

Hari terus berselang,tetapi Baekhyun kembali terbangun di atas sofa. Kepalanya mendadak berputar. Bergejolak perutnya yang tak terisi semalaman. Pemuda itu segera melarikan diri ke dalam kamar mandi, memuntahkan isi perutnya yang hanya terisi air. Rasa perih di kerongkongannya lalu menampar seluruh kesadarannya. Menatap bayangan pucatnya di depan cermin, ia mulai menimbang banyak jadwal aktivitasnya.

Baekhyun mungkin pernah muntah sebelumnya. Ia sedikit sensitif di bagian perut. Jika ia terlambat makan atau kekenyangan, ia bisa muntah tidak kenal waktu. Tapi yang lebih menyakitkan adalah ketika ia tidak menemukan kakak atau ibunya yang bisa begitu perhatian ketika ia muntah.

Ia mungkin serumah dengan Chanyeol, tapi ketegangan demi ketegangannya dengan pria itu─yang merembet tak kenal waktu, tidak perduli siang dan malam, bahkan ketika ketukan piring yang mereka suarakan di meja makan pun tidak cukup untuk membuat keduanya bicara dengan baik. Mungkin sudah lima hari lamanya sampai mereka mengadakan sarapan di hari kamis yang berat. Jadi Baekhyun tidak ingin berharap pada Chanyeol, perihal pria itu akan menemukan wajahnya yang pucat di meja makan atau bertanya tentang kondisinya.

Baekhyun terus berdiam diri. Tertarik untuk mengupas apel untuk dirinya sendiri daripada menghabiskan segelas susunya. Sedangkan Chanyeol tak kalah terdiam seribu bahasa menyaksikan piringnya kosong tak tersisa. Lebih memilih berjalan ke salah satu sudut dapurnya, menemukan tumpukan cucian piring yang kian menumpuk.

Bibi Gong tidak datang hari ini. Wanita paruh baya itu harus ke rumah sakit untuk beberapa pemeriksaan suaminya. Chanyeol yang memahami hal itu kini merengut dengan tidak berpikir. Ia harus bergegas ke kantor. Tidak memungkinkan baginya mencuci semua piring yang menggunung. Ditambah dengan fakta bahwa selalu ia yang mengurus cucian piring membuatnya sedikit keberatan.

Baekhyun mungkin menghabiskan waktunya lebih banyak di rumah. Tidak perduli ia tengah mengerjakan sesuatu yang tidak ia ketahui atau yang lain. Namun tidakkah Baekhyun tahu tugasnya? Ini bukanlah pertama kalinya pemuda itu lalai dengan tugasnya. Pemuda itu selalu pulang malam, beberapa kali tidak sempat ia temukan di meja makan, entah apa yang dikerjakannya di luar sana.

"Kau sudah lakukan tugasmu?" tanya Chanyeol sedikit sabar.

"Aku sibuk," jawab Baekhyun santai. Pura-pura bahwa rasa mualnya tidak pernah terjadi pagi ini. Ia fokus menikmati apelnya dengan tidak perduli sebelum beranjak dari sana. "hari ini aku harus sidang."

Chanyeol berbalik. Menunjuk tumpukan cucian piringnya dengan sangat ramah. "Jadi siapa yang akan mencuci ini?"

Baekhyun yang pucat meliriknya sebentar. Maniknya bahkan terlihat lesu ketika berbicara, "Karena kau yang memasak, seharusnya itu kau."

Hilang sudah kesabaran Chanyeol pagi ini. "Kenapa harus selalu aku yang melakukannya?"

"Jadi kau berpikir bahwa itu satu-satunya tugasku?" tanya Baekhyun menyernyit. Ia paham kalau bersih-bersih adalah tugasnya. Tapi bukankah ini sedikit berlebihan? Ia harus melakukan banyak hal untuk persiapan sidangnya, dan bahkan hari ini pun ia tengah kurang sehat. Kalaupun ia sempat, ia pasti akan mencucinya.

"Chanyeol, aku mencuci pakaianmu 2 kali seminggu, mengurus halamanmu, membersihkan rumahmu sehari dua kali, lalu membuatkanmu kopi setiap kali kau butuh, tidakkah itu sudah terlalu banyak? Aku juga punya kesibukan."

"Terlalu banyak?" Tapi Chanyeol tidak paham. Mereka sama-sama mempertahankan ego demi hal kecil perihal cuci piring. Kalau sampai ibunya tahu, ia pasti sudah ditertawakan seperti lawakan murahan. "Kau bahkan selalu pulang malam akhir-akhir ini."

Baekhyun susah payah meredam emosinya. Perutnya kembali bergejolak. Kesadarannya akan keberadaan Chanyeol membuatnya harus menahan diri untuk tidak muntah. "Aku sibuk, Chanyeol."

"Dengar, aku pun bekerja sepanjang hari, hampir lembur 4 kali seminggu. Kau harusnya paham kalau aku tidak selalu mungkin melakukannya."

Mendengar itu, Baekhyun membuang wajahnya. "Aku mungkin tidak menghasilkan uang sepertimu, tapi sungguh bicaramu ini sudah keterlaluan," hardiknya beranjak dari kursi. Pemuda itu lantas melepas apelnya. Urung menikmatinya seakan harus benar-benar pergi dari sana. Tapi setelah melihat raut Chanyeol yang semakin mengeras, ia pun berpikir jika ia tidak pantas marah soal ini.

Chanyeol menghidupinya di rumah, membayar banyak tagihan dan memasakkannya sesuatu saat bibi Gong tidak ada. Dan yang lebih penting, pria itu tidak perduli walaupun dia marah, dia tetap akan melakukan tanggung jawabnya. Seperti membuatkannya sarapan pagi seperti ini. Bukankah ia yang sudah keterlaluan? Memangnya apa yang sudah ia lakukan untuk Chanyeol?

Mengambil nafas tenangnya sebentar, Baekhyun pun menggenggam ujung meja di depannya. Kepalanya pun mendadak pusing akibat menahan emosi. "Baik, ini salahku. Aku akan mencucinya nanti," tuturnya sebelum pergi dari sana. Buru-buru kakinya mencari pintu kamar mandi. Memuntahkan isi perutnya di wastafel diam-diam, sementara Chanyeol masih bergeming sendiri menahan seluruh kekesalannya di ruang makan.

e)(o

Chanyeol berusaha lupa dengan emosinya sendiri. Pria itu bahkan menumpahkan setumpuk pekerjaannya akibat kurang fokus. Butuh berjam-jam sampai Chanyeol untuk menyelesaikan ketikannya, dan sekarang dokumen itu harus ia benahi sebelum jam makan siangnya terpangkas. Sungguh buang-buang waktu. Jongin yang duduk di sebelahnya saja sampai menoleh. Membiarkannya dirundung frustasi, sebelum menginterogasi layaknya unit penyelidikan.

Pandangan pria tan itu kembali mencap pada layar komputernya. Mencari ide lain yang bisa menyegarkan suasana setelah melihat managernya memasuki ruangan bersama sekertaris direktur yang entah apa yang terjadi sampai pemandangannya memberat lebih cepat.

"Moodmu buruk pagi ini."

Chanyeol terdiam. Ia mendengar semua itu. Namun ia mahir memilah pekerjaan mana yang lebih penting dari sekedar membereskan kertas yang berserakan di lantai.

"Aku tidak bermaksud merusak suasana hatimu, tapi macan tutul mungkin tidak menerima penawaran kita," lanjut Jongin masih terfokus pada layar komputernya. Menelan banyak tugasnya sendiri sampai matanya tidak berkedip sedikitpun.

Chanyeol tidak terkejut. Hal ini lumrah dalam dunia pekerjaan, ditolak kemudian menyusun strategi baru. Chanyeol saja sudah menebak bagaimana hasil pekerjaan rusuhnya seminggu yang lalu.

Menyaksikan Chanyeol yang tidak bereaksi dengan perkataannya membuat Jongin menghela nafas sebentar. Benar jika ia menemukan bayangan managernya dari dinding kaca. "Aku bisa menebak, Manager Kim pasti tengah melakukan banding dengan pemilik gedung 24 lantai."

"Dan aku yang akan melakukannya?" lirik Chanyeol malas.

Lalu sampai pada sang manager yang membuka pintu ruangannya tergesa. Mencari keberadaan seseorang yang sudah Jongin tebak sampai ia kerepotan sendiri. "Chanyeol, bisa ke ruanganku?"

"Good luck!" bisik Jongin. Ia sebenarnya harap cemas. Ia bisa saja menjadi orang cadangan kapanpun pimpinan meminta bantuannya.

"Ya Tuhan," gumam Chanyeol beranjak dari posisi jongkoknya. Meletakkan tumpukan kertasnya di atas meja, mau tak mau segera pergi ke ruangan agung managernya.

Di dalam, Chanyeol bertemu dengan managernya yang kalut. Pria paruh baya itu sibuk memasukkan barangnya ke dalam tas, tak lupa memasang jasnya. "Kita harus melakukan beberapa hal. Kau bisa menghubungi sekertarisnya untuk melakukan pertemuan?"

"Tentu," jawab Chanyeol mantap. Menerima beberapa map yang isinya sudah bisa ditebak.

"Aku harus mengurus beberapa pertemuan siang ini. Aku berharap banyak padamu." Dan pria itupun segera menghilang dari pandangan. Buru-buru menyelusuri lorong-lorong panjang departemennya. Tanpa mau dengar jika Chanyeol akan beralasan soal perkataannya.

Chanyeol mengeluh hebat dalam pikirannya yang sempit. Ia dengan segera memasukkan pekerjaannya ke dalam tas. Merapikan seisi mejanya sebelum membuat panggilan penting pada ponselnya.

Sesegera mungkin ia mencatat beberapa pesan yang ia dapatkan dari panggilan itu. Sebuah suara sobekan kertas kemudian terdengar. Mengganggu Jongin yang sekali lagi sangat butuh diperhatikan.

"Aku pergi," tepuk Chanyeol pada bahu tegang Jongin. Dibalas anggukan kecil Jongin yang hanya bisa melambaikan salah satu tangannya.

e)(o

Baekhyun beranjak dari kursi setelah sidangnya selesai digelar. Tiga guru besar di depannya sudah lebih dulu beranjak dengan berbagai kepentingan. Menyisakan dirinya bersama layar proyektor yang masih menyala terang. Ia merenung sebentar di tengah kekosongan ruangan. Wajahnya semakin pucat pasi, hatinya bahkan ingin meledak sebentar lagi.

Dengan segera ia mematikan laptopnya. Melangkah ragu untuk membenahi berbagai hal. Sampai akhirnya ia berhasil membuka daun pintu yang cukup mudah baginya untuk dibuka. Di luar, ia menemukan Sehun yang duduk sabar menunggunya. Pemuda itu lalu beranjak, mengabaikan tumpukan mapnya di sebelah kursi. Hendak bertanya bagaimana hasil sidangnya tapi raut Baekhyun yang pucat membuatnya khawatir salah bicara.

Lama saling menatap, akhirnya Baekhyun bersuara. "Aku lulus."

Wajah penuh datar itu akhirnya lega luar biasa. Senyum di wajahnya terlukis tanpa alasan. Begitu tulus lalu mendekat padanya. "Selamat, hyung! Kau hebat."

Baekhyun tergugu. Belum genap dua minggu ia mengenal Sehun, ia sudah bisa merasa tersentuh dengan pemuda itu. Sehun mungkin tidak pandai bicara sepertinya, tapi pancaran matanya yang tulus, lalu kepolosannya yang lucu membuatnya ingin selalu melindunginya. Baekhyun bahkan ingin menjadikan Sehun adiknya kalau ibunya setuju.

"Hyung harus mentraktirku makan," ujarnya mengekor. Menelusuri banyak anak tangga dengan hati yang sama riang dengannya.

"Jadi itu sebabnya kau menungguku?" Baekhyun terkikik. Sengaja meraih kerah si pemuda tinggi untuk ia seret sampai benar-benar keluar dari fakultasnya. Terserah kalau Sehun memekik karena kesulitan berjalan dengan membungkuk.

"Karena aku baik, ayo kita pergi ke restoran mahal."

Tawa mereka akhirnya pecah di sepanjang jalan. Sehun mahir membuat beberapa lelucon. Menemaninya menunggu bus di halte yang ramai, sambil berbagi cerita khas mahasiswa. Skripsi misalnya. Baekhyun pun menyimak dengan baik. Ia merasa dirinya seperti kembali ke masa muda karena berhasil menyegarkan pikirannya yang kusut.

Tapi sungguh, semua terasa kosong ketika ia ingin memikirkannya. Ia terus merasa seperti dirinya hilang. Hampa sendiri. Seakan mengharapkan sesuatu yang ketika ia mendapatkannya, ia tidak bahagia. Dan entah mengapa saat ini ia bisa sangat mengharapkan Chanyeol berada di sampingnya. Mengatakan bahwa ia sudah bekerja keras dengan beberapa ucapan selamat. Seperti yang dilakukan Sehun untuknya.

Apa akan menyenangkan jika Chanyeol menunggunya di depan pintu selama ia sidang?

"Hyung, sudah sampai."

Baekhyun terbangun dari lamunannya. Ia segera melirik ke sekitar. Pandangannya memburam ketika dilihatnya jalanan di luar mendadak ramai. Dan busnya sudah berhenti tepat pada tujuan. Sudah saatnya mereka turun, lalu menyusuri jalan selama lima menit untuk sampai.

Baekhyun terbang dari angan-angannya. Ia turun dari bus dengan hati yang lenggang. Mendengarkan cerita Sehun kembali, yang sungguh kali ini tidak terdengar baik di telinganya. Padahal ia tidak sedang ingin mengingat Chanyeol dalam pikirannya. Tapi entah mengapa ia seperti dapat melihat bayangan Chanyeol di dalam restoran yang ia masuki.

Pria itu duduk di sudut resto dengan setelan kantornya. Begitu rapi dengan dasinya yang selalu terlihat pas dengan penampilannya. Baekhyun bahkan beberapa kali berkedip untuk menghilangkan bayangan itu dari jarak pandangnya. Namun semua itu terlihat begitu nyata, tidak palsu sampai ia benar-benar duduk di kursi.

Ia mengambil buku menu, menanyakan makanan yang disukai Sehun sebagai pengalihan perhatian. Ia bahkan tahu benar jika ia berhalusinasi. Siapa tahu semua yang dilihatnya kini cuma mimpi di siang bolong.

Seorang pelayan datang ke mejanya. Membuat Baekhyun harus segera memesan sesuatu yang ia inginkan. Sampai pada akhirnya sepasang mata itu kembali menemukannya. Menangkapnya dalam hening yang tidak terdefinisikan. Padahal hanya beberapa detik, tapi Baekhyun sudah merasakan dunianya dipenuhi detak jantungnya sendiri.

Baekhyun bersumpah, pagi tadi ia masih sangat membenci sosok yang meliriknya itu. Namun entah bagaimana, saat sepasang manik chestnut itu beralih, ia mendadak merasa kehilangan. Seperti ia diabaikan. Padahal ia tahu sendiri, ialah yang menginginkan semua ini. Ia ingin Chanyeol tidak mengenalnya saat di luar. Ia ingin Chanyeol tidak menyapanya ketika ia bersenang-senang dengan yang lain.

Lantas kenapa ia harus merasa seaneh ini?

Terlebih ketika ia tahu dengan siapa pria itu berhadapan. Berbicara akrab dengan seorang yang luar biasa cantik. Jauh lebih berpenampilan baik darinya. Chanyeol sampai terlihat sangat perhatian dan memesankannya sesuatu sebagai tambahan. Baekhyun tidak ingin perduli, tapi hatinya tidak bisa berbohong kalau ia tengah kesal menyadari semua itu.

"Hyung, yakin hanya pesan ini?" Sehun membangunkan lamunan Baekhyun soal Carbonaranya yang baru saja datang. Berhadapan dengan isian piring milik Sehun yang dipenuhi makanan berat dan juga Gravad Lax yang biasanya tak absen dari pesanan Baekhyun. Pemuda itu rupanya tengah menyadarkannya tentang sesuatu, bahwa sejak pagi tadi ia tidak pernah bisa memakan sesuatu yang ia sukai.

Khawatir ia akan memuntahkan banyak makanan, Baekhyun akhirnya menyerah dan memesan sesuatu dalam porsi kecil. Hanya sedikit berjaga jika perutnya akan bergejolak di hadapan Sehun. Lagi pula, jika ia baik-baik saja, ia bisa memesan sesuatu yang lain nanti.

"Jangan tidak enak begitu, aku yang traktir," balas Baekhyun mulai sedikit memutar lembaran pasta di garpunya. Ragu-ragu ia mencicipi.

"Hyung sakit?"

Baekhyun menggeleng lalu terkikik. Ia mungkin lega karena ia baik-baik saja dengan menu yang disantapnya. Namun sekilas, lewat ekor matanya ia bisa melihat Chanyeol yang mulai beranjak dari sana bersama dengan wanita anggun berambut coklat. Kali ini Chanyeol tidak menatapnya, mengantar wanita itu keluar dari resto yang kemudian dapat dilihatnya dari luar jendela.

Sang wanita tersenyum cantik karena Chanyeol berbaik hati membukakannya pintu. Mengantarnya sampai ke depan mobil yang terparkir sambil mengobrol ringan. Si wanita beberapa kali tertawa kecil lalu memeluk Chanyeol sebelum memasuki mobilnya. Tepat ketika itu, sebuah rasa dahaga muncul dari kerongkongan Baekhyun yang kering. Ia pun segera menggeret minumnya, sebelum Sehun mengobservasi apa yang dilihatnya.

"Apa wajar jika aku marah?" tanya Baekhyun tanpa sadar. Dan Sehun sukses mengangkat kepala padanya.

"Hyung marah padaku karena aku memesan banyak makanan?"

Baekhyun batal bergundah hati. Ia lantas terkikik menyaksikan Sehun yang begitu polos menghentikan suapannya. Ia pun sukses mengabaikan Chanyeol yang mendapatinya sebentar di balik kaca. Pria itu masih berdiri disana seperti orang asing yang menemukannya menghabiskan waktu berdua dengan seorang teman spesial. Cukup mendukung jika Baekhyun mau balas pamer kemesraan. Tapi sayangnya, Baekhyun bukan orang yang mau perduli dengan hidup suaminya. Meskipun jauh dalam lubuk hatinya, ia sebenarnya tengah mempertanyakan mengapa ia tidak bisa baik-baik saja soal ini.

e)(o

"Kau kemana saja?"

Pertanyaan itu meluncur saat Baekhyun memasuki pintu. Ia belum membuka mantelnya, belum masuk ke kamarnya, tapi sudah dihadang dengan sosok Chanyeol di ruang tengah.

"Aku bahkan mencuci semua piring itu," sambung Chanyeol tidak mau tahu.

Pria itu terlihat marah. Kepala Baekhyun pun mendadak pusing dibuatnya. Ia tentu tidak sempat memikirkan banyak hal di luar. Apalagi memikirkan cucian piring, ia tidak akan sudi memikirkannya walaupun ia berjanji akan bertanggung jawab soal itu.

"Aku sibuk," maka jawabnya.

Chanyeol mengekori suaminya. Mengikuti pemuda itu kemanapun, meski masuk ke dalam kamarnya. Persetan dengan melanggar privasi, karena Baekhyun pun sering lalai dengan itu semua. "Kau lembur apa sampai pulang selarut ini?"

Baekhyun yang kesal kini melempar tasnya. Kamarnya bahkan sudah seperti kapal pecah karena pakaiannya berserakan dimana-mana. "Bukan urusanmu!"

"Kau minum?"

Baekhyun mengakui jika Chanyeol pandai membacanya. Ia sebenarnya sudah menyelesaikan kegiatannya dengan Sehun siang tadi. Tapi karena suasana hatinya sedang kacau ia jadi berkeliling seorang diri. Menikmati angin dingin lalu pergi ke beberapa tempat di pinggir jalan untuk makan sampai kekenyangan.

"Kau pergi dengannya?"

Pertanyaan yang lain kembali mengikis hati Baekhyun. Walaupun dia selalu senang menghabiskan waktunya dengan Sehun, ia tidak mungkin mengajak anak itu dengannya sampai selarut ini. Baekhyun cukup waras dalam meletakkan hal pribadinya dalam berteman. Dan Sehun tidak lebih dari seorang teman yang ia butuhkan. Seperti Kyungsoo.

"Ya, Sehun menemaniku seharian. Dia bahkan menunggu sampai sidangku selesai." Baekhyun berbohong. Tidak tahu mengapa ia ingin berbohong soal ini. Lagipula apa untungnya? Memangnya hal itu bisa membuat Chanyeol marah?

Chanyeol membuang wajahnya. "Dan kau mengajaknya makan di tempat mahal seperti itu?"

Ingatan siang tadi lantas menghujam keduanya. Begitu membekas bayangan Chanyeol siang itu sampai Baekhyun merasakan hatinya berdenyut. Ia dengan jelas menyaksikan Chanyeol mengantar wanita itu sampai depan mobilnya. Terlebih menerima pelukan hangatnya seakan tidak ada hari esok.

"Apa bedanya denganmu? Kau rela dipeluk wanita itu seperti orang murahan."

"Dia orang yang penting," balas Chanyeol tak kalah tegas. Nyatanya pria itu tidak menerima kata 'murahan' tersemat dalam dirinya.

"Kenapa kau tidak menikahinya saja kalau dia sepenting itu?!"

Chanyeol terlihat semakin marah. Baekhyun bahkan bisa melihat bagaimana kilatan tajam dari maniknya yang jernih. "Aku tidak suka kau yang selalu marah seperti ini. Kau marah pada hal-hal kecil yang tidak kau pahami."

Tapi Baekhyun memilih menyerah dengan semua yang ia pikirkan. Ia lelah, hatinya pun terlanjur sakit. Ia tidak mengerti lagi mengapa ia ingin sekali menyerah, hanya karena melihat Chanyeol dengan wanita asing yang tidak ia ketahui asal usulnya.

"Ayo kita bercerai saja," ucap Baekhyun asal.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Yuhu udah chap 10 aja.

Cuman mau bilang, WM mau ending bentar lagi. Dan selamat datang buat yang baru baca. Terima kasih untuk jejaknya ^^

See you next chap~