15
Mundo de Ensueńo
.
.
.
Rutinitas Luhan berubah, frekuensinya pergi ke rumah sakit jauh berkurang. Baekhyun lebih sering datang kemari, melakukan sesinya dengan lebih santai dan ramah.
Shia akan memiliki kelas dengan Mr. Lee satu jam setelah sarapan, kelasnya tak pernah selesai dalam waktu tertentu, selalu fleksibel tergantung apa yang Shia pelajari. Beberapa dari mereka adalah pendidikan formal, seperti matematika, ilmu alam dan sosial serta bahasa. Pelajaran melukis, musik dan sesekali menari memiliki porsi lebih banyak, sama rata dengan pelajaran kepribadian. Luhan mendesah, Mr. Lee adalah tutor yang serba bisa, pendidikan sebanyak apa yang ia lewati untuk mendapatkan semua itu? Luhan tak habis pikir.
"Shia, Mr. Lee datang untukmu. Beri salam."
Shia membungkukkan tubuhnya sopan pada pria dewasa yang datang melewati pintu. Mr. Lee mengangguk elegan dan menyapanya.
"Nyonya Luhan, Nona Baekhyun." Dia mengangguk sopan.
"Hai Mr. Lee, apa yang akan kau ajarkan pada gadis kecil kita?" Baekhyun menyeletuk dari meja makan, mengabaikan potongan pancake-nya sejenak untuk melambai jenaka.
"Hari ini tentang evaluasi bahasa Shia, aku akan melihat bagaimana pengucapannya."
Shia mencebil, sedikit menggerutu menirukan kalimat Mr. Lee, yang secara mengejutkan tidak mendapatkan amarah, tetapi cubitan gemas pada pipinya yang mulai berisi.
"Karena kau sudah berhasil menirukan aku, mari kita lihat pronunciation-mu, Shia?"
"Ugh, baiklah." Shia memeluk Luhan sekilas, tersenyum manis. "Shia belajar dulu, ya? Mama jangan lupa membuatkan pudding stoberi untuk Shia, oke? Ah! Untuk Mr. Lee juga!"
Gadis kecil itu terkikik mendapat tatapan tajam dari Mr. Lee yang jelas tak menyukai makanan manis apapun, lalu berjalan menuju ruang belajarnya di lantai dua. Sementara di sana Luhan tertawa bersama Baekhyun.
"Aku tidak bisa menolak permintaan Shia, Mr. Lee." Kata Luhan dengan wajah terhibur.
Mr. Lee tersenyum susah payah. "Gadis kecil itu, selalu punya hal baru untuk mengerjaiku."
"Tapi bukankah dia sangat manis, Mr. Lee?" Baekhyun menyahut.
"Tentu saja."
Mr. Lee berlalu, meninggalkan Luhan yang berjalan mendekati Baekhyun. "Aku tak pernah melihatmu sarapan kecuali pancake, kau sangat menyukainya?" Luhan duduk di depan Baekhyun yang baru saja menelan pancake terakhirnya.
Baekhyun mengangguk. "Aku juga sweet tooth sama seperti Shia. Jangan salahkan aku."
Luhan tersenyum. Begitu Baekhyun membereskan sarapannya dan membiarkan salah seorang pelayan membawa pergi, ia mulai bicara serius.
"Bagaimana keadaanmu, Luhan?"
"Mengapa semua orang bertanya seperti itu? Tentu saja aku baik-baik saja. Ayah dan Ibu akan berkunjung nanti sore, dan aku sangat senang. Semua yang aku rasakan saat ini membuatku agak takut, apakah ini hanya mimpi. Seperti dunia mimpi, menyenangkan, sampai aku membutuhkan Sehun untuk mengatakan padaku bahwa ini semua nyata."
Baekhyun tersenyum pengertian. "Kurasa kau masih dalam penyangkalan. Aku memakluminya, setelah semua hal mengerikan di belakang, saat itu berakhir dan mulai membaik, beberapa orang merasa tidak percaya. Karena semua penderitaan membuatnya pernah merasa tak akan ada titik terang."
Luhan menatap jauh, memikirkan semuanya dan mengurutkan satu demi satu. Mulai dari saat Seungho datang, kekacauan kecil dengan Kyungsoo, lalu saat ia kehilangan Shia, ancaman yang ia dapatkan, kebodohannya untuk meninggalkan Sehun. Semua itu menyakitkan, dan belum berkurang sedikitpun saat ia bisa memeluk Shia, trauma mendalam dan mimpi buruk yang Shia dapatkan, semua terapi dan diagnosis yang membuat Luhan ingin menangis.
"Luhan, fokus pada apa yang ada di depanmu sekarang. Melihat dan memikirkan masa lalu tidak akan banyak membantu."
Luhan menghela nafas, menatap kekhawatiran Baekhyun di matanya. "Aku … sedikit ketakutan. Aku tidak dapat meminta lebih."
"Kau merasa tidak layak?"
Itu begitu menusuk, bagaimanapun ia akan mencoba menutupi, Baekhyun selalu dapat menemukan perasaan tersembunyi di dalam hatinya. Perasaan insekur yang masih cukup membebani.
"Jika Sehun mengetahui ini, dia mungkin akan sangat kecewa. Aku mengerti perasaanmu, Luhan, aku sangat mengerti. Tetapi bukan berarti kau bisa terus merasakan ini. Kau harus merasa layak untuk semua ini, karena kau memang layak."
Luhan menyadari tekanan yang Baekhyun berikan pada tiap kalimatnya, dia benar-benar berusaha meyakinkannya. Dan ia berterimakasih.
"Aku akan berusaha."
"Dan sungguh, Luhan, kau harus berhasil. Jika kau merasa tidak layak, Shia akan terpengaruh. Dan di saat yang sama, mungkin kau akan melukai Sehun. Maafkan aku, aku mengatakan hal yang sangat egois untuk kakakku." Baekhyun tersenyum sedih.
"Aku mengerti."
Mereka saling memandang, kemudian tersenyum kecil.
.
.
.
Seorang wanita berpakaian formal berjalan menyusuri koridor rumah tahanan dengan ketukan sepatu yang menggema. Sesekali melirik beberapa penjaga yang menatapnya dengan mata jelalatan. Ia sudah diberitahu untuk ke ruang nomer 17, dan ia menghitung perlahan.
"Oh, ini dia."
Wanita muda itu masuk, dan disambut dengan gadis berambut merah menyala yang duduk melipat tangan dengan wajah mengantuk. Gadis kaukasia itu membuka sebelah mata, lalu tersenyum kecil. "Kau datang, Bee."
"Bagaimana kabarmu, Tsali?"
"Seperti yang kau lihat," Tsali mengedikkan bahu. "terlihat cukup sehat. Meski makanan di sini tidak terlalu enak, setidaknya aku mendapat kamar sendiri."
Baekhyun tersenyum, menyelipkan rambut cokelatnya ke belakang telinga dan duduk. Langsung membongkar isi tasnya di atas meja. Tsali berbinar mendapati sebotol mojito ada di antara lembaran-lembaran berkas yang cukup banyak itu. Tsali segera menyambarnya dan mendesah lega.
"Aku sangat merindukan ini, Sialan."
"Hanya hadiah kecil, hadiah besar menunggumu sebentar lagi."
Tsali mengerling berkas Baekhyun, kemudian mengangguk paham. "Jadi, pemindahannya saat tahun baru?"
"Yep, aku sudah menyiapkan semuanya untukmu. Paspor, identitas dan dokumen-dokumen penting—hanya kurang sebuah nama baru saja, segala macam akomodasi dan juga apartemen dengan spesifikasi menyakitkan mata." Tsali terkekeh.
"Kau ingin nama seperti apa?"
Tsali menimbang-nimbang. "Hmm… Berikan aku sesuatu yang klasik."
"Atau kau ingin anagram?"
"Oh, boleh juga."
Baekhyun mencorat-coret buku catatannya sebelum mengangguk puas. "Antara Erina Salvt dan Reina Valts. Mana yang lebih kau suka?"
"Yang terakhir."
"Oke." Baekhyun membuat catatannya. "Bagaimana dengan Kris? Anagram juga?"
"Terserah padamu, aku tidak peduli. Ah, dia akan kembali ke Vancouver? Bukankah itu agak … sentimental?" Tsali mendengus geli, sama seperti Baekhyun.
"Dia ingin pulang, sepertinya. Bagaimana denganmu? Ingin tetap ke Luxembourg atau ikut Kris?"
"Tetap pada pilihanku, aku tidak ingin melihat wajahnya selama paling tidak, hmm… Satu dua tahun barangkali?"
Baekhyun terdiam sejenak, memikirkan bahwa mungkin satu dua tahun kedepan, mereka akan berhenti sejenak. Menjalani kehidupan secara normal. Enggan mengakui, tetapi Baekhyun tahu bebannya saat ini nyaris melewati batas.
"Bagaimana keadaan gadis kecil itu? Apakah semuanya berjalan seperti yang kau rencanakan?"
"Tentu saja." Baekhyun menyombongkan diri. "Meski masih ada variable lain yang sedikit harus mendapat perhatian, tetapi semuanya berjalan cukup mulus. Seperti dugaanku, dia akan mengalami amnesia disosiatif alih-alih distorsi ingatan. Aku nyaris takut itu tidak berhasil, sejujurnya. Dia pulih, bisa menangkap pelajaran dengan baik, integritasnya meningkat dan syukurlah dia tidak kehilangan identitas diri. Tutornya sekarang sangat mumpuni, jika saja dia punya sedikit titik hitam, mungkin Mr. Lee akan jadi orang yang sama hebat dengannya."
Tsali terkekeh dengan humor satir itu. "Jadi, gadis kecil itu akan hidup dengan amnesia disosiatif yang mengubur PTSD-nya?"
Baekhyun meringis. "Banyak sekali resiko, tapi seperti yang pernah kita bicarakan, lingkungan keluarga yang berfungsi dengan baik akan sangat membantu."
"Kau pasti berpegang dengan bukankah lebih baik jika seseorang tidak dapat mengingat kenangan traumatisnya, aku benar?"
"Jika aku bisa, aku akan melakukannya untuk diriku sendiri." Kata Baekhyun pahit. Tsali tersenyum mengerti.
"Sehabis ini kau akan menemui Kris?"
"Tentu saja tidak." Baekhyun mencibir. "Dia sudah masa bodoh, tidak khawatir apakah aku akan mengacaukannya atau tidak."
Tsali tertawa. "Dia percaya kau tidak akan mengacaukannya."
"Kau keberatan menunggu sekitar hmm… sekitar dua bulan lagi?"
"Oh, sungguh, kau tahu itu layak."
Baekhyun mendengus, dan membiarkan Tsali menandatangani beberapa berkas.
"Oh iya, kapan Lance dan Huening akan datang ke Korea?"
"Awal Januari, mereka akan transit di Tokyo selama dua-tiga minggu."
"Aah, membantu Joy dan Kirisaki?"
"Yep. Musim dingin di Jepang lebih menyenangkan katanya" Baekhyun mengangguk kalem. Memikirkan pekerjaan lain yang harus ia siapkan sejak awal agar ia bisa beristirahat lebih cepat.
.
.
.
Waktu terlewat begitu cepat, angin dingin berhembus kering. Suhu mulai mencekik dan membekukan. Daun meranggas sudah lama gugur, digantikan dahan-dahan hitam eksotis yang mulai tertutup salju. Natal masih lama, tetapi perbelanjaan dan tempat-tempat umum sudah ramai dengan suasana natal, yang mana membuat Shia nyaris melompat senang.
Ada kekhawatiran karena Natal selalu identik dengan warna merah, tetapi Shia tidak menunjukkan rasa cemas. Di matanya warna merah memiliki arti yang sama dengan warna-warna lain.
"Mama, apakah nanti kita akan menghias pohon Natal di rumah kakek? Apakah akan ada gingerbread? Apakah Nenek akan membiarkan Shia membantu membuatnya?" Pertanyaan beruntun itu terucap saat Luhan sibuk menata rambut Shia. Shia sulit sekali diam, membuat Luhan harus berkali-kali mengarahkan Shia agar terus menatap kedepan selagi ia menata rambutnya menjadi jalinan memutar.
"Kamu sangat bersemangat. Tidak bisakah Shia diam sebentar?" Kata Luhan gemas.
"Uuh… Baiklah."
Luhan tertawa, meminta bantuan Heeju untuk menyematkan jepit rambut berbentuk ranting perak dengan aksen berlian kecil. Shia berbalik begitu rambutnya selesai, tersenyum pada Luhan. "Apakah Shia cantik?"
"Tentu saja."
Shia menurut ketika Miran memakaikan coat moka padanya.
"Apakah acara dandan cantiknya selesai? Jika lebih lama lagi, mungkin kita akan terjebak macet." Sehun datang sambil melihat jam tangannya, kemudian menoleh dan terkesima.
"Oh, kalian sangat cantik."
Luhan tersipu, sementara Shia sudah berlari memeluk Sehun. "Kita berangkat sekarang, Papa?"
Sehun mengalihkan pandang pada Shia, walau matanya sesekali melirik Luhan yang tengah meminta Miran dan Heeju membereskan kekacauan kecil yang Shia buat saat memilih gaun. "Tentu, Sayang."
Mereka memiliki janji untuk ke rumah orang tua Luhan, janji kecil yang selalu mundur karena Luhan masih saja ragu untuk menginjakkan kaki ke sana. Luhan selalu memiliki alasan ketika ia ditanya mengapa belum juga berkunjung, atau dalam kasusnya, pulang. Shia sedikit kecewa, tetapi dia adalah gadis pengertian yang tak pernah memaksa. Dan Sehun, ia hanya tidak ingin Luhan merasa tidak nyaman.
Sepanjang perjalanan Luhan terus meremat genggaman tangan di atas gaun putih berbalut mantel yang sama. Sehun tak bisa melakukan apa-apa, karena ketakutan ini harus Luhan atasi sendiri. Di kursi belakang Shia sibuk menulis di catatan hariannya, kebiasaan itu membuat Sehun merasa terkenang. Ada seulas senyum di wajahnya.
"Mama, apakah boleh jika hadiah natal diberikan sebelum natal?"
Luhan tersadar dari lamunan, cepat-cepat menoleh ke kursi belakang. "Ah, mengapa begitu?"
"Shia tidak sabar memberikannya!" kata Shia.
"Bukan karena Shia ingin segera melihat hadiah Shia?" Sehun berkata jenaka.
Tak ada raut wajah malu-malu, hanya senyum kecil di sana. "Tidak, Papa. Shia ingin melihat bagaimana orang-orang setelah melihat hadiah yang Shia siapkan, Shia ingin tahu apakah mereka menyukainya."
Pasangan itu tertegun dan berpandangan, Sehun tersenyum pasrah. Memijit hidungnya menyembunyikan senyum.
"Kita lebih baik memberikannya saat natal, karena bukankah itu hadiah natal?"
Mereka sampai. Dengan Shia yang pandangannya berkeliling, sama seperti Luhan. Jika Shia penuh dengan binar ingin tahu, yang ada di mata Luhan adalah kerinduan dan nostalgia yang sangat dalam. Matanya mulai basah dalam diam. Rumah itu masih tampak sama, terlepas dari salju yang mulai menutupi.
Luhan masih ragu melangkahkan kaki, tetapi melihat betapa Shia sangat menyukai ini membuatnya sedikit mengalah, menyingkirkan rasa takutnya sendiri. Walaupun sang Ayah sudah menerimanya kembali, tetap saja kenangan saat ia dihujani caci maki dan diusir dari pintu rumah ini masih sangat menyakitkan.
Pintu itu terbuka, Nyonya Xi ada di baliknya dengan senyum penuh rindu. Matanya juga berkaca-kaca, tetapi segera disembunyikan ketika ia melihat Shia.
"Masuklah." Itu lebih terdengar seperti pulanglah untuk Luhan.
Luhan mengedarkan pandangan, mendapati semua interior dan penataan barang tak berubah walau sudah delapan tahun lebih. Nuansanya masih sama, warna jingga dan krim yang sangat lembut. Ruang tamu itu terlihat sedikit kosong, sofa krim dengan rangka kayu cokelat kehitaman itu terlihat dingin. Juga dengan lampu gantung yang sedikit temaram.
Nyonya Xi membimbingnya ke ruang tengah, di mana semua kenangan langsung menyeruak dan membuatnya tak dapat menahan air mata.
Ruang tengah itu luas, menjadi penghubung antara ruang depan dengan ruang-ruang lain. Kursi-kursi yang masih sama ada di salah satu sudut ruangan, menghadap ke perapian yang menyala hangat. Di sisinya ada dua rak buku besar yang menampung seluruh koleksi buku sang Ayah, dan Luhan menggigit bibir ketika melihat buku-buku tipis berwarna pastel masih mendekam di salah satu bagian rak. Buku-buku masa kecilnya.
Di atas perapian tertata indah rangkaian bunga edelweiss dan figura-figura berisikan foto keluarga di masa lalu. Foto-foto penting ada di sana, termasuk foto terakhir yang Luhan ambil saat wisuda SMA-nya.
Luhan menahan diri mati-matian untuk tidak menangis, di sisinya Sehun memeluknya pelan.
Tuan Xi datang dari dalam kamar dengan senyum teduh.
"Luhan, kau akhirnya pulang."
Luhan melangkah mendekat, memberi ayahnya pelukan erat. "Terimakasih. Luhan pulang, Ayah. Maaf jika aku masih merasa takut."
Luhan melarikan diri ke dapur bersama Nyonya Xi, berdalih membantu ibunya menyiapkan makan malam. Padahal Sehun tahu, Luhan masih tak bisa menatap ayahnya terlalu lama atau ia akan terus menangis.
Tuan Xi duduk di kursi goyang dengan Shia yang ada di pangkuannya, mereka bercerita tentang beberapa hal yang membuat Sehun merasa ia harus memberikan mereka waktu berdua. Meski sekarang ia jadi bingung ingin melakukan apa.
"Sehun," Sehun menoleh ketika namanya di panggil. "kau bisa ambilkan buku bersampul biru tua di rak nomer 2? Nomor 4 dari kanan."
Permintaan detail itu Sehun beri anggukan. Ia menuju rak buku yang di maksud, dan mencari buku yang Tuan Xi inginkan. Sejenak mengamati lapisan debu tipis di buku-buku di sampingnya, melihat itu, mungkin ini adalah buku yang sering Tuan Xi baca.
Tak ada tulisan di sana, dan menimbang beratnya, mungkin itu adalah album foto. Sehun tertegun saat menyadarinya.
Tuan Xi membukanya, dan benar saja di halaman pertama sudah terdapat foto seorang bayi mungil berambut pendek menggemaskan. Sehun mendekat mengikuti rasa ingin tahunya.
Shia menatap foto itu dalam diam. "Apakah ini Shia? Mengapa Kakek sudah memiliki foto Shia?"
Tuan Xi terkekeh renyah. "Kalian memang sangat mirip, tetapi ini adalah Mamamu, Shia. Ini Luhan."
Dan Sehun tak menyalahkan Shia, foto itu tak berbeda dengan foto bayi Shia yang pernah ia lihat di figura lama Luhan. Sama sama mungil dengan pipi gembil, berkulit putih kemerahan dengan rambut coklat kehitaman pendek yang menggemaskan. Bahkan baju yang mereka kenakan serupa, biru terang dengan pita kecil di dada.
Dan yang paling menakjubkan adalah, mata mereka sama persis.
"Mama sangat lucu saat bayi."
"Berarti kamu juga sangat lucu, apakah kamu memuji diri sendiri, Shia?" Canda Sehun sambil mengusak rambut Shia. Shia memberikan cengiran manis. Tangan kecil itu membalik lembaran album foto, dan menampakan potret-potret lain.
Saat Luhan kecil mulai belajar berjalan. Fotonya saat berada di taman bermain dengan bando merah muda. Juga ekspresi menggemaskan ketika mendapat hadiah sepeda kecil. Album itu menyimpan banyak sekali kenangan. Nyaris semua tahun ada di sana, terwakili beberapa lembar foto.
Tuan Xi menceritakan setiap arti foto itu, sangat detail, dan bagi Sehun itu teramat detail.
Sehun merasa takjub, melihat perjalanan hidup dari wanita terkasihnya lewat foto-foto lama.
Foto terakhir bukan foto wisuda Luhan, sama seperti yang dipajang di atas perapian, melainkan foto ulang tahun Luhan yang ke 17. Rambut Luhan diikat tinggi, dia tersenyum sangat lebar sampai matanya membentuk bulan sabit dengan kue ulang tahun di tangannya.
Sehun merasa dadanya sedikit sesak. Itu mungkin terakhir kalinya Luhan tersenyum selebar itu sebelum kehidupannya jatuh ke jurang.
"Ini saat Mamamu berulang tahun, berkata tidak menginginkan kejutan karena dia sudah dewasa dan membuat ulah dengan pulang terlambat. Aku masih ingat ekspresi lucunya saat masuk ke ruang tengah yang sudah aku dekorasi dengan pita menggelikan. Dia seperti ingin menangis, sempat merajuk karena malu, tetapi akhirnya memeluk kami sangat erat."
Tuan Xi mengelus rambut Shia sayang, tatapannya bermacam-macam. Kontradiksi antara perasaan bersalah dan bersyukur adalah yang paling terlihat di sana.
"Apakah Kakek sangat menyayangi Mama?" Pertanyaan polos itu muncul. Tuan Xi tersenyum sedikit sedih.
"Sama seperti Mama mencintaimu, seperti itulah perasaanku pada Luhan, Shia."
Shia memeluk leher Tuan Xi erat-erat, membuat pria baya itu tertawa senang.
"Apa kau ingin melihat album lain? Ada di rak terbawah, kau bisa mencapainya." Kata Tuan Xi pada Shia. Shia mengangguk antusias, membongkar rak buku dengan cepat dan duduk di atas karpet bulu dengan hamparan album yang memuat lebih banyak foto. Sehun memiliki hasrat untuk bergabung dengan Shia, tetapi instingnya mengatakan bahwa Tuan Xi ingin membicarakan sesuatu padanya.
Entah apa yang membuatnya menegakkan punggung, baru kali ini ia merasa sedikit tertekan duduk bersebelahan dengan Tuan Xi.
"Apa kau mencintai Shia?"
Ah, benar saja. Pembicaraan ini akan sangat berat.
"Anda tidak perlu menanyakannya."
Tuan Xi terkekeh. "Dengan semua hal yang kau lakukan saat aku masih sibuk keras kepala dengan egoku, bahkan aku tidak memiliki hak untuk menanyakannya."
Sehun terdiam, menyadari Tuan Xi masih memiliki kepedihan dalam hatinya. Sehun bisa melihat tatapan Tuan Xi pada Shia yang tengah antusias melihat foto-foto lama Luhan.
"Saya mencintainya, baik Luhan maupun Shia. Tidak ada hal yang membuat saya membedakan mereka berdua."
"Aku lega mendengarnya. Sehun," Tuan Xi berhenti sejenak. "Apakah mereka akan baik-baik saja?"
Sehun tersenyum. "Dengan hadirnya Anda dan Nyonya Xi, mereka akan lebih cepat menyembuhkan diri. Shia mulai pulih, Anda bisa melihat perkembangannya sendiri. Dia gadis yang tangguh dan kuat, sama seperti Luhan."
"Aku merasa sangat berdosa, selama bertahun-tahun yang aku lewati setelah mengusir putri tunggalku dari rumah ini. Tetapi di saat yang sama, aku masih begitu keras kepala. Aku terus saja keras kepala meski hatiku hancur mendengar berita terkutuk itu. Aku baru mau mengalahkan egoku ketika istriku berkata bahwa Luhan sangat membutuhkan dukungan, lebih dari sebelumnya."
"Karena bagaimanapun, seorang ayah adalah figur terpenting bagi setiap anak perempuan." Sehun menyela. Tuan Xi tersenyum kecil.
"Luhan masih takut menatapku, dan aku mengerti. Aku sadar kemarahanku dulu memberikan mimpi buruk untuknya, aku tak bisa apa-apa untuk itu."
"Luhan sangat mencintai Anda, Tuan Xi. Dia mungkin hanya memerlukan sedikit waktu lagi."
Tuan Xi mengangguk, masih menatap Shia. Tatapannya berubah serius.
"Bagaimana dengan bajingan yang menghancurkan hidup Luhan?"
Rahang Sehun mengeras, sekuat tenaga menahan diri agar bisa meredam kemarahannya sendiri. Matanya berkilat penuh emosi. "Anda sudah mengetahuinya, hukuman seumur hidup, dan saya akan memastikan dia tak akan bisa menyentuh Luhan dan Shia lagi."
"Apa kau sudah memberinya pelajaran dengan tanganmu?"
Sehun tersenyum berbahaya. "Lebih dari itu, Tuan Xi."
Tuan Xi memejamkan mata, menghela nafas berat.
Hening menyelimuti mereka, hanya suara dari perapian yang ada di antara mereka bersama suara lembaran yang bergesekan. Shia tenang dengan kegiatannya di sana, sesekali tersenyum manis, sesekali terdiam seperti ingin menangis.
"Sehun."
Sehun tidak menjawab, merasa Tuan Xi masih memiliki lanjutan kalimat.
"Aku tidak memiliki hak apapun untuk mengatur kehidupan Luhan setelah semua yang terjadi, tetapi jika aku boleh berharap, aku tetap ayahnya. Dan untuk menebus semua kesalahan beratku di masa lalu, aku ingin memastikan Luhan berada di tempat semestinya."
Sehun terkesiap, menatap cepat pada Tuan Xi. "Tuan Xi?"
"Luhan bahagia bersamamu, aku bisa melihatnya. Begitupun dengan Shia. Dia menemukan figure ayah yang tak ia dapatkan sejak ia lahir ke dunia dalam dirimu. Jika aku boleh meminta, jika kau memang belum ingin mengikatnya, tolong biarkan Luhan tinggal di sini sebentar. Aku terlalu egois dengan permintaanku, aku sadar. Tapi jika kau sudah memikirkan tentang pernikahan dan meminangnya, maka aku tidak akan berkata apa-apa."
Sehun terdiam sebentar.
"Saya mencintainya. Saya sangat mencintai Luhan. Ada keinginan itu, saya selalu memikirkannya. Saya merasa sedih tiap kali Shia memperkenalkan diri dengan nama pemberiannya, tanpa nama keluarga." Sehun melihat Tuan Xi mengusap kasar wajahnya. "Saya tidak keberatan memberikan segalanya untuk Luhan dan Shia, tetapi saya masih ragu apakah saya pantas."
"Jangan bercanda tentang pantas atau tidak pantas."
Sehun tersenyum lirih. "Apakah Luhan akan bisa menerimanya saat di pikirannya hanya ada tentang kesembuhan Shia?"
"Bukankah Shia sudah sembuh?"
Sehun mengangkat pandangan, mengikuti arah tatapan Tuan Xi pada Shia yang begitu cerah. Sehun tertawa lembut dengan mata panas. "Ya, sepertinya Shia sudah sembuh." Katanya serak, terselip banyak doa di kalimat sederhana itu.
"Tolong jaga putriku, berikan dia tempat di mana ia tak akan merasa sendirian lagi. Aku sudah tidak memiliki hak untuk itu."
.
.
.
Siang itu Sehun kehilangan fokus, berkali-kali terpaku pada lamunannya sendiri saat rapat berlangsung. Sampai mengundang tanya orang di sekitarnya. Chanyeol hanya menatap penuh arti, sama sekali tidak berkomentar karena ia tahu Sehun membutuhkan waktunya sendiri. Di sisi lain Baekhyun memicing ingin tahu, tetapi menyerah saat Chanyeol memberinya tatapan memperingatkan.
Satu-satunya yang dapat bertanya pada Sehun hanya pria tua yang sudah menjadi kepala pelayan Keluarga Park semenjak muda itu, Paman Seo.
Paman Seo datang dengan secangkir kopi hitam. Meletakkannya di depan Sehun yang tampak berkelana meski di tangannya terdapat berkas.
"Apa yang kau lamunkan?"
Sehun mengerjap kaget, berusaha mengumpulkan fokus sebelum menatap Paman Seo dengan tatapan lemah. "Kau mengagetkan aku, Paman." Sehun lantas menyerah dengan berkasnya.
"Katakan padaku apa yang membebanimu. Chanyeol tidak berkata apapun, dan Baekhyun berbaik hati menahan diri. Tapi kurasa mereka tak akan diam jika besok kau masih seperti ini."
Sehun terkekeh, menyandarkan tubuh ke sandaran kursi dan memejamkan mata sejenak. "Hanya sesuatu tentang keinginan egoisku."
"Kau mulai memikirkan tentang pernikahan?" Paman Seo menembak langsung, membuat Sehun tertawa pasrah.
"Apakah raut wajahku mengatakan semuanya?"
Paman Seo diam, dan Sehun tahu ini saatnya ia berbicara.
"Ya, aku memikirkan pernikahan." Sehun menyesap kopinya sedikit. "Saat pertama kali melihat Luhan, aku seperti dibanjiri perasaan dia adalah yang aku cari. Keberadaan Shia tidak membuatku mundur atau apa, membuatku malah semakin ingin memiliki mereka. Kau tahu itu, Paman."
"Pemilihan katamu mulai berubah." Kata Paman Seo dengan senyum tak dapat diartikan.
"Semua yang terjadi memengaruhiku." Jawab Sehun jujur. "Aku sudah mengira semuanya akan rumit, tetapi kedatangan bajingan itu membuat semuanya kacau." Sehun menggeram marah. "Jika saja ia tidak datang, tidak memprovokasi, maka semua penderitaan ini tidak akan menimpa Luhan dan Shia."
"Kau tahu itu bukan salahmu." Ucap Paman Seo tegas, sedikit tajam.
"Bukan salahku, tetapi aku tetap punya andil, bagaimanapun juga."
"Kau menyesali semua ini?"
"Tidak." Jawab Sehun tegas. "Aku tidak menyesali apapun. Mengandai-andai tentang sesuatu yang telah terjadi hanya akan membuatnya lebih buruk. Aku hanya berharap bisa memperbaikinya." Sehun menghela nafas lelah.
"Aku masih ragu dengan pernikahan ini, aku takut suatu saat keadaan akan memburuk. Luhan tidak akan bisa menerimaku, atau yang paling buruk, pergi. Jika itu terjadi, maka aku sudah tidak dapat melakukan apapun. Aku takut Luhan tersakiti, tetapi di saat yang sama aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi jika aku melepaskannya. Kedua pilihan itu sama seperti bunuh diri."
Paman Seo terdiam. Lalu tersenyum kecil.
"Bukankah kau tahu bahwa Luhan adalah wanita yang diberkati surga dengan semua kebaikan dan kesabaran hatinya?" Sehun tersenyum tipis. "Terlepas dari apa yang telah kau lakukan untuknya, Luhan tidak akan menikah denganmu hanya karena balas budi. Kau tahu Luhan mencintaimu. Dia menginginkanmu sama besar dengan kau menginginkannya."
"Paman Seo…"
Paman Seo berbalik. Sebelum mencapai pintu dia berhenti sejenak. "Sehun, kau harus bicara empat mata dengannya. Kau harus tahu seperti apa keinginannya, dan kurasa dia menjadi lebih lunak setelah melihat Shia saat ini. Aku akan meminta sekretarismu menjadwalkan janji dengan pembuat perhiasan, pastikan kau memilih sendiri cincin untuk Luhan."
.
.
.
Malam natal tiba.
Ruang tengah di lantai dua, di mana semua acara di rumah besar ini di gelar, penuh dengan ornamen natal yang berkilauan. Pohon natal yang nyaris setinggi langit-langit diletakkan di dekat balkon, hiasannya bermacam-macam dan tidak seprofesionnal tahun-tahun sebelumnya, tetapi itu istimewa karena Shia menghabiskan seharian menghiasnya. Membuat Heeju dan Miran menggigit kuku khawatir nona kecil mereka akan terjatuh saat menaiki tangga.
Nyaris menyerupai pesta ulang tahun Sehun, jika menilik meja tinggi dipenuhi dengan makanan-makanan yang berkilau. Luhan tersenyum hangat, mengedarkan pandang dan menangkap pemandangan menyenangkan.
Ia sendiri duduk di salah satu sofa dengan segelas wine, sementara di sudut lain Chanyeol dan Baekhyun sibuk berfoto dengan Shia yang tampak begitu manis dengan bando tanduk rusa. Luhan terkekeh, ia akan benar-benar menjadi rusa jika ia mengenakan bando yang sama. Luhan mendengar gumaman "Aku akan membuat seluruh teman departemenku iri dengan mengunggah foto ini ke SNS. Ayo, Shia, cium pipiku seperti tadi. Dan kau Chanyeol, jangan kacaukan angle-nya."
Luhan mengubah sudut pandang, dan menemukan ayahnya berbincang dengan Paman Seo. Ayahnya tertawa renyah, mungkin berbagi humor yang sama dengan Paman Seo. Mengingat usia mereka yang tak terpaut jauh. Kyungsoo sedang berbincang dengan Ibunya di sofa seberang, mungkin Ibunya sedang meminta Kyungsoo memberitahu tentang kehidupannya. Luhan tersenyum kecil.
Lalu, tinggal Sehun. Pria kesayangannya belum terlihat sejak menyambut kedatangan orangtuanya tadi. Dia berkata akan mengurus pekerjaan sebentar, karena tidak seperti tahun-tahun sebelumnya di mana mereka merayakan malam natal perusahaan bersama staff rumah sakit.
Luhan bertanya apakah ini baik-baik saja. Sehun tersenyum, mencium keningnya pelan dan menjawab: "Apa kau tahu Paman Seo sangat ingin merayakan malam natal di rumah ini?" Jawaban itu cukup membuatnya lega.
Lalu Sehun datang tanpa mengganggu siapapun di sana. Masuk dengan kasual dan mendapatkan tempatnya di sisi Luhan. "Apa yang aku lewatkan?" tanya Sehun.
Luhan menggeleng. "Kau tidak melewatkan apapun, kecuali kau ingin berfoto heboh dengan Baekhyun atau kau ingin mencoba belajar humor Paman Seo dan Ayah. Ah, mencoba obrolan ibu-ibu bersama Kyungie dan Ibu?"
Sehun membuat wajah lucu. "Oh, tidak ketiganya."
"Jadi, pekerjaanmu sudah selesai?"
Sehun mengedikkan bahu. Menuang wine ke dalam gelas berkaki dan meminumnya dalam tegukan besar. Luhan mengerjap melihatnya. "Yah, kurasa begitu."
Luhan baru akan bertanya ketika Sehun menyelanya lebih dulu. "Bagaimana dengan kado natal? Apakah Shia tetap bersikeras?"
Luhan tertawa lembut, mengerling putrinya sejenak. "Yah, mengingat tidak semua orang bisa memiliki pagi natal yang sama, Shia memutuskan untuk membagikan kadonya malam ini kecuali pada kita. Mereka semua sudah membukanya di depan Shia, dan Shia sangat senang. Tadi Mr. Lee sempat menelfon, mengucapkan terimakasih dengan hadiah menggemaskan dari Shia."
Sehun tertawa. "Aku rasa Shia akan memaksa Mr. Lee mengaitkan gantungan kunci stroberi berkilau itu di salah satu tas kerjanya."
Luhan mengigit bibir geli. "Shia menjadi sangat jahil sekarang."
Sehun mengajak Luhan ke balkon. Mereka terdiam sejenak, menatap keluar di mana salju sudah menyelimuti seluruh bagian kota.
"Sehun, apa kau sudah mulai berdamai dengan hadiah?"
Sehun mengerjap, untuk pertama kalinya melihat senyum kekanakan di bibir merah Luhan. Sehun menggigit bibir tak tahan, memalingkah wajah sejenak menghalau rona dan rasa gugup.
"Apa kau baru saja bertanya apakah aku menyiapkan hadiah untukmu?" Senyuman Luhan melebar, sampai matanya berbentuk bulan sabit.
Sehun tertegun melihatnya, menatap Luhan serius. "Luhan, bantu aku sejenak?"
"Bantuan ap—hmmph." Luhan terkejut ketika Sehun menciumnya dalam-dalam, meraih pinggangnya mendekat dan memeluknya cukup erat. Luhan kewalahan, rona memenuhi wajahnya saat merasakan aroma manis wine begitu Sehun menelusup masuk.
Luhan terengah ketika Sehun melepaskan ciuman, begitu malu dan memerah.
"A-apa yang…"
"Aku ingin mengatakan sesuatu." Kata Sehun, dengan suara lebih keras. Membuat semua pasang mata menatap pada mereka.
Luhan menatap tak mengerti saat Sehun melepaskan pelukannya, menarik sesuatu dari saku celananya.
Luhan mengerjap ketika Sehun membuka kotak beludru hitam itu, menampilkan sepasang cincin berbeda ukuran.
"Luhan. Aku tidak sempat menanyakan padamu seperti apa kau ingin di lamar; di atas jembatan dengan taburan bunga atau saat kita makan malam. Aku tidak bisa lagi memikirkan kejutan, karena kau tahu, memilih cincin ini saja sudah membuatku gugup. Aku ingin melamarmu saat Musim Semi tiba, saat kau bisa merasakan aroma dari sakura dan azalea, tetapi, aku tidak bisa menunggu."
Luhan tertegun, menatap Sehun tak mengerti.
Sehun memiliki rona merah di bawah mata dan tulang hidungnya. Tetapi suaranya tegas dan mantap, tanpa ada sepercik keraguan.
Sehun berlutut, menatapnya dengan senyum hangat yang menawarkan perlindungan dan juga … rumah. Mata Luhan mulai basah.
"Aku ingin melamarmu saat semua orang terdekat ada bersamamu, agar mereka tahu kau tidak akan merasa sendiri lagi. Agar mereka tahu kau tak harus membesarkan Shia sendiri, karena aku akan melakukannya untukmu. Kita akan melihat Shia tumbuh menjadi gadis cantik bersama-sama."
"Sehunna…" Air mata terjatuh.
"Luhan, aku mencintaimu. Maukah kau menikah denganku?"
Penglihatannya mulai mengabur dan terasa panas. "A-aku…" Ia mengedarkan pandang. Menemukan ayahnya tersenyum teduh, memberi anggukan kecil bersama Paman Seo. Kyungsoo dan Ibunya hanya tersenyum simpul. Sementara Chanyeol dan Baekhyun menatapnya dengan mata berkaca. Dan yang terakhir, gadis kecilnya tersenyum lebar dengan mata berkilat.
Luhan tidak dapat menemukan suaranya, sampai Shia datang dan memeluk pinggangnya dengan lembut. Shia menatap ke atas. "Mama, bukankah Mama harus bahagia?"
Oh, astaga…
Luhan menatap Sehun yang masih di tempatnya, kemudian mengangguk kacau sembari terisak. Mengesampingkan semua rasa ragu dan tak pantas yang belum sepenuhnya berdamai. "Ya…" Bisiknya.
Sehun bangkit, memakaikan cincin platinum bermata berlian putih dan berukir mawar. Sehun memakai cincinnya sendiri dengan senyum kecil di bibir tipisnya. Luhan masih terisak saat Sehun mengangkat Shia ke dalam pelukannya, lalu meraih pinggangnya dan memberikan ciuman manis di bibirnya.
"Terimakasih…" Bisiknya di pelukan Sehun.
.
.
.
"Jadi, itu sudah mencapai 70%?" Chanyeol bertanya pada Sehun yang baru saja datang melewati pintu ruang kerja. Sehun hanya menatap bertanya sekilas.
"Maksudku, pembangunan pembangkit tenaga surya di barat daya Albania dan pusat kesehatannya."
Sehun mengangguk. Menyampirkan jas hitamnya ke gantungan dan duduk di kursi kebesarannya. "Proyek itu hampir selesai, dan dalam seminggu kita akan mengadakan rapat untuk menentukan Tim Dokter yang akan ke sana."
Chanyeol mengangguk paham, menghela nafas sebentar sembari menyandarkan punggung ke sofa. Matanya melirik ke Sehun yang sedang menulis di buku bersampul perak kelabu. Tatapannya penuh arti.
"Kau serius?"
"Meski aku lebih suka membangun cabang rumah sakit lain yang lebih besar atau membangun pusat penelitian, kurasa sesekali harus ada proyek semacam itu, bagaimanapun itu penting untuk citra rumah sakit. Kau ingin kumasukkan ke dalam tim itu?"
"Baekhyun akan membunuhku." Sehun terkekeh rendah. "Dan kau tahu bukan itu yang aku maksud." Chanyeol menatap dingin.
Senyum itu berubah menjadi seringai separuh.
Ia meletakkan penanya, menatap ke potret lukisannya yang bernuansa hitam. Menyandarkan tubuh ke punggung kursi dan terkekeh rendah. "Soal pernikahan ini? Bukankah memang ini yang sejak awal aku inginkan?" Senyuman bermain di sudut bibirnya.
"Kau sudah membicarakan keinginanmu?"
"Tentu. Kompromi yang cukup melelahkan, tapi itu bukan apa-apa setelah semua kesabaranku selama ini. Aku mengikuti keinginannya selama pemulihan Shia, aku tidak ikut campur lagi setelah itu berakhir. Dan mungkin ini pertama kalinya aku bisa berkompromi."
Chanyeol memainkan jarinya. "Bagaimana dengan resiko?"
"Bukankah kau tahu aku suka dengan resiko?" Senyuman itu jenaka. "Aku bertaruh sejak awal, dan bukan masalah untuk melakukannya lagi."
Chanyeol tersenyum, sedikit ejekan tersemat di sana. "Kau tidak ingin tahu apakah mereka menerimamu atau tidak?"
Senyum itu hilang.
"Yang penting mereka milikku."
Chanyeol mendengus. "Tentang bagaimana ini berjalan, itu terserah padamu. Tetapi jika suatu saat ini memburuk, aku tidak akan ada di sana untuk kedua kali."
"Tenanglah, aku tidak akan membiarkannya terjadi."
Suara passcode pintu terdengar, Tuan Seo muncul dengan bungkukan tubuh. "Tuan Muda, Anda bisa pergi sekarang."
Sehun bangkit, kembali memasangkan jasnya dan berjalan melewati Chanyeol yang terdiam.
Perjalanan itu tak begitu lama, meski sepanjang jalan Sehun hanya diam tanpa bertukar kata dengan Tuan Seo yang menyetir.
Ketika sampai, Sehun hanya terus berjalan menyusuri koridor kusam dan tak terlalu terawat itu. Mereka berhenti sejenak di resepsionis, melakukan sederet pemeriksaan dan ditunggu oleh pria berkulit tan yang menyandar di dinding koridor. Detektif Kim tersenyum kecil melihat kedatangan mereka.
"Selamat Siang, Detektif Kim."
"Selamat Siang, Tuan Seo. Kabar Anda baik?"
"Kurasa kita tidak di sini untuk menanyakan kabar?" kata Sehun, tanpa menghiraukan mereka berdua berjalan pelan menuju koridor kiri.
"Dia agak menyebalkan." Detektif Kim tersenyum jengkel. Tuan Seo hanya tersenyum tipis.
Mereka mengikuti langkah Sehun. "Ada di ruang nomer 9." Kata Detektif Kim.
Sehun tidak mengangguk atau menggeleng, tetapi masuk ke ruangan itu. Detektif Kim menyandarkan diri ke tembok, telinganya berdiri awas. Yang membuat Tuan Seo terkekeh pelan.
"Apa yang ingin Anda dengarkan, Detektif Kim? Atau, haruskah saya memanggil Anda dengan pangkat baru Anda sekarang?"
Detektif Kim mendengus geli. "Aku menangkap sindiran di sana, dan tidak, aku hanya ingin tahu seperti apa provokasi yang akan dia lakukan pada bajingan itu."
Alis Tuan Seo terangkat, dan Detektif Kim terbahak.
"Baiklah, haruskah aku menyebut diriku juga bajingan di sini?"
Di dalam ruang sempit berukuran 3x3 itu Sehun duduk menyilangkan kaki di hadapan Yoo Seungho, yang menatapnya berbahaya. Tangannya yang terborgol mengepal sampai urat-uratnya terlihat.
"Apa yang kau inginkan?!" Ucap Seungho penuh amarah.
Sehun tersenyum tipis, senyuman yang tidak mencapai matanya. "Aku tidak menginginkan apapun darimu, memang apa yang bisa kau berikan? Peranmu sudah lebih dari cukup, aku tidak dapat mengharapkan lebih." Tukasnya dengan nada jenaka.
Seungho menggeretak marah. "Brengsek…"
"Bukan salahku jika kau tidak menghiraukan celah yang pernah aku berikan untuk mundur, ini adalah apa yang harus kau tanggung untuk semua yang kau lakukan."
"Kau?"
Ia meledak dalam tawa tanpa humor, lantas mengangkat dagu runcingnya, menatap Seungho dengan tatapan rendah. "Haruskah aku menyebut saat Sehun memberikan celah padamu untuk mundur?" Seringai itu muncul dengan dingin.
Seungho tidak menjawab, hanya terus menggeretakkan gigi.
"Saat pertama kali kau muncul, yang ada dalam pikiranku hanya berharap kau tidak akan menjadi pengganggu. Tetapi apa yang bisa aku lakukan ketika kau sendiri begitu menggelikan dengan harga dirimu? Kebetulan yang menyenangkan ketika aku tahu Kris mengenalmu." Senyuman itu berubah jenaka.
"Aku tidak mengira provokasi yang aku sampaikan secara halus dapat membakarmu sedemikian rupa, padahal kurasa Kris berkali-kali memperingatkanmu. Aku tidak begitu mengerti mengapa kau susah payah ingin memiliki mereka setelah semua kelakuan brengsek yang kau lakukan selama 8 tahun pada Luhan dan Shia, tetapi aku tidak menolak jika kau memang ingin bermain denganku."
Seugho mendecih remeh. "Kelakuan brengsek? Tidakkah kau berkaca?"
Ia menyeringai. "Aku tidak akan mengelak apapun."
Ia menegakkan punggung.
"Harusnya sejak awal kau menyadari, mereka sudah bukan milikmu dan tak akan pernah menjadi milikmu. Aku akui, sekalipun aku pernah menganggapmu ancaman, tanpa semua permainan ini pun Luhan tak akan berlari padamu, tetapi mengapa aku harus berdiam diri jika aku bisa melakukan dua pekerjaan sekaligus? Memastikan Luhan dan Shia membencimu setengah mati dan juga menyingkirkanmu."
"Kau bilang kau mencintainya dan melakukan permainan ini?!" Seungho melotot dengan wajah memerah padam.
"Kau berkata seolah pernah mendengarnya." Ia kehilangan senyum. "Aku sudah mengatakannya, aku membiarkan Sehun memberikan celah padamu untuk mundur tetapi kau tidak menghiraukannya. Aku hanya mengatur semuanya saat kau memutuskan untuk mencoba mengambil mereka."
"Brengsek…" Seungho mendesis berbahaya.
"Kau mengambil umpan yang aku berikan dan membuang kesempatan untuk menyelamatkan diri; apa yang bisa aku lakukan?"
Seungho menatap sengit. "Apa yang akan Luhan katakan ketika mengetahui keberadaanmu? Mengetahui semua kebohongan yang kau lakukan. Mengetahui yang bertanggung jawab atas semua bencana ini sebenarnya adalah kau. Mengetahui dalang permainan menjijikkan ini adalah orang yang selama ini memerankan sosok malaikat penolong."
Ia tidak menampakkan ekspresi apapun.
"Tidak perlu memikirkannya, kau tidak akan pernah melihat Luhan."
Ia bangkit, merapikan jasnya sebentar sebelum menatap Seungho dengan tatapan dingin. "Dan yang selama ini Luhan ketahui adalah Sehun, bukan aku. Kau pikir aku akan membiarkan Luhan mengetahuinya?"
"Sangat mengejutkan pria seobsesif dirimu bersedia hidup di balik bayangan persona orang lain." Sengho melempar senyum mengejek.
Ia terkekeh rendah. "Secara teknis, bukan orang lain. Dan lagi, Luhan bukannya tidak mengenalku. Setidaknya dia yang memberikan nama untukku; Shixun, apakah itu terdengar bagus?"
Ia sepenuhnya berbalik.
"Dan soal bagaimana aku akan hidup setelah menikahi Luhan, itu sama sekali bukan urusanmu."
Seungho bangkit dengan amarah menggelegak. "Bajingan!"
Tetapi ia sudah pergi ketika Seungho mulai mengamuk.
"Sudah selesai?" Detektif Kim bertanya dengan senyum kecil. "Kurasa dia sedang menghancurkan meja di sana."
"Aku hanya sedang memberikan beberapa kalimat terakhir. Bukankah permainan harus berakhir dengan baik?"
Detektif Kim tahu bagaimana pria di depannya ini sangat menyukai provokasi untuk membuat lawannya frustasi.
"Standar dengan baik-mu sungguh tidak dapat aku mengerti."
.
Tbc
.
Ah yeah, the truth revealed. Hayo siapa yang tebakannya benar? Kayanya semuanya menebak dengan benar *applause Saya senang ketika pembaca bisa menebaknya, berarti detail yang saya tulis tersampaikan dengan baik. ^^
Terimakasih atas sambutan hangat kalian. Karena lockdown ini, saya memiliki cukup banyak waktu, tapi ya itu termasuk untuk mengerjakan proyek dan lain-lain. Saya akan update tiap chapter jika chapter selanjutnya sudah selesai.
See ya soon ^^
.
Anne, 2020-04-03
