Enjoy!

Sorry for typo~

.

.

Because of YOU

Bonus Chapter

.

.

Lu Yong Sheng, adalah seorang pengusaha sukses yang memimpin sebuah perusahaa utama di Cina. Ia adalah tipe pekerja keras dengan obsesinya yang menggebu-gebu terhadap apa yang ia inginkan, sifatnya seperti anak laki-laki pertama kebanyakan. Ia mendapatkan posisi sebagai CEO diwaktu muda, yaitu saat usianya masih 25 tahun. Setahun kemudian, Yongsheng berhasil mengembangkan perusahaannya hingga memasuki pasaran di Korea Selatan. Itulah bagaimana Yongsheng jatuh cinta dengan gadis Korea yang manis dan menawan, Kwon Yu Ri.

Yuri, gadis yang ia pilih sebagai calon isterinya itu rupanya berasal dari keluarga sederhana. Ayah Yuri adalah manager di perusahaan online shop dan ibunya membuka rumah makan sederhana di pinggiran kota. Awalnya keluarga Yongsheng tidak merestui hubungan keduanya, tetapi karena Yongsheng terus meyakini kedua orangtuanya, akhirnya mereka menikah. Tak lama setelah keduanya menikah, ayah Yuri mengalami kecelakaan kerja dan meninggal, kemudian selang beberapa bulan disusul ibunya yang meninggal karena jatuh sakit akibat kematian suaminya.

Masalah tidak berhenti di situ. Sudah dua tahun lamanya Yongsheng dan Yuri belum juga dikaruniai keturunan yang membuat keluarga Lu terus menyalahkan Yuri. Tidak tega melihat isterinya yang selalu disalahkan, akhirnya Yongsheng membawa Yuri kembali ke Korea dan mereka pun tinggal di sana. Keluarga Lu awalnya tidak setuju karena Yongsheng adalah pemegang tanggungjawab perusahaan, tetapi dasarnya Yongsheng memiliki pemikiran yang tidak bisa ditembus siapapun. Jadilah Yongsheng melimpahkan perusahaan utama pada adiknya, Lu Yong Yuan, dengan ia sendiri sebagai pengawas dan pengelola perusahaan cabang Korea.

Yongyuan menikah setahun setelah pernikahan kakaknya. Sebelum menikah ia sudah dikaruniai anak laki-laki bernama: Lu Lian dan saat pernikahannya, isterinya sedang mengandung anak kedua mereka. Anak kedua mereka perempuan: Lu Yi Xing (sepupu Luhan yang muncul di chapter 6).

Ditengah usaha Yongsheng dan Yuri, akhirnya setelah hampir 4 tahun mereka dikaruniai putri cantik yang diberi nama Lu Han. Kabar itu menyebar ke keluarga besar Lu, mereka sangat senang dan merasa lega tapi, hanya beberapa lama saja.

Bagaikan belum cukup Tuhan menguji Yongsheng dan Yuri, keluarga Lu menuntut Yongsheng memiliki keturunan laki-laki agar bisa mewarisi perusahaan keluarga. Keluarga Lu masih berpikir bahwa yang bisa mewarisi perusahaan hanyalah laki-laki. Sayangnya, Yuri tidak bisa lagi hamil. Jika kemungkinan ia hamil, maka nyawa ibunya tidak akan selamat. Yongsheng tentu saja menentang keras saat Yuri bilang bahwa ia bisa memiliki anak lagi. Tetapi kemungkinan tidak ada yang tahu, Yongsheng tidak mau kehilangan isteri yang ia cintai dan juga ia tidak siap membiarkan Luhan yang masih sangat kecil tanpa seorang ibu.

Yuri terus-terusan didesak oleh keluarga Lu untuk hamil lagi agar memiliki keturunan laki-laki. Saat Yongsheng menceritakan tentang keadaan isterinya, keluarga Lu mulai mencemooh Yuri. Mereka mengatakan bahwa Yuri bukanlah wanita sempurna karena tidak bisa melahirkan anak laki-laki. Perlakuan keluarga Lu membuat Yuri menderita, meski Yuri tidak di Cina, tetapi keluarga Lu masih mengintainya seperti penguntit.

Yongsheng yang mengetahui hal itu juga sudah berkali-kali memberitahu keluarga agar tak lagi mengganggu isterinya. Tapi tetap saja di setiap kesempatan seperti pertemuan keluarga, Yuri selalu diganggu. Yuri tidak pernah membiarkan Luhan untuk dibawa ke Cina karena ia tak mau Luhan juga menjadi sasaran oleh keluarga Lu.

Saat usia Luhan menginjak 3 tahun, Yongsheng jarang kembali ke Korea karena membenahi perusahaan utama yang krisis. Yuri juga ikut membantu suaminya dengan mempertahankan perusahaan cabang Korea. Hal itu membuat Luhan kesepian karena hanya ditinggal bersama pengasuhnya.

Sampai tragedi itu terjadi.

..

[Malam sebelum tragedi…]

"Yeobo, kau sudah pulang?" tanya Yuri saat suaminya memasuki ruang tengah. Wajah suaminya terlihat lelah, tetapi wajahnya masih tetap menampilkan senyuman. Apalagi saat ia melihat malaikat kecilnya yang tertidur di pangkuan isterinya.

Yongsheng duduk di samping isterinya lalu mengecup pipinya, "maaf ya, aku lembur lagi…" ucapnya.

Yuri tersenyum, "tidak apa, aku tahu kau memiliki banyak tanggungjawab di kedua perusahaan. Atau… bagaimana jika kita kembali ke Cina? Sepertinya kau kesulitan."

Suaminya tersenyum, "tidak perlu. Aku tidak mau kau tertekan, cukup tinggallah dengan nyaman dan berikan banyak cinta pada Luhan. Aku minta maaf karena tak bisa selalu bersama malaikat kita." Yongsheng memandangi wajah anaknya, "Luhan menangis lagi?" tanyanya. Pasalnya beberapa hari ini Luhan terus menangis karena merindukan ayahnya.

Yuri menggeleng, "tidak lagi. Tapi… aku jadi berjanji padanya. Bagaimana? Maafkan aku…" sesalnya.

Yongsheng tersenyum, "apa yang kau janjikan? Aku akan mengabulkannya, mungkin itu bisa menjadi hari istirahatku kan?"

Yuri menggenggam tangan suaminya, "tidak sulit. Aku berjanji pada Luhan bahwa kita akan piknik sekeluarga."

"Hanya itu?" Yongsheng mengecupi punggung tangan isterinya. Yuri mengangguk. "Kalau begitu ayo kita piknik," finalnya.

..

Dini hari, Yongsheng mendapatkan kabar bahwa perusahaan utama mengalami kekacauan. Saat itu juga Yongsheng bersiap untuk terbang ke Cina.

"Yeobo? Kau mau ke mana?" tanya Yuri yang terbangun karena lampu kamar mereka hidup.

"Ah, maafkan aku. Aku membangunkanmu?"

"Gwaenchanha. Apa ada urusan mendesak?" tanya Yuri sambil turun dari ranjangnya. Ia membantu suaminya yang tengah memasukkan pakaian ganti ke tas.

"Aku harus ke Cina sekarang, mereka membutuhkanku."

"Cina?" tanya Yuri lagi. Apa janji ini akan batal untuk kesekian kalinya? Pikirnya.

Yongsheng mencium dahi Yuri. "Aku akan kembali secepat mungkin. Aku kan sudah berjanji."

Pintu kamar terbuka, memperlihatkan putri kecil mereka yang mengusap matanya. "Baba~" Luhan berlari sedikit terhuyung melihat Baba-nya ada di rumah.

Yongsheng meletakkan kembali tasnya lalu merunduk, menangkap malaikat kecilnya, dan membawanya dalam gendongannya. "Ugh, tuan putri Baba. Mengapa bangun?" tanyanya.

"Luhan melindukan Baba…" rengeknya.

Yongsheng mengusap punggung anaknya, "Baba juga, sayang…"

"Baba, tidul sama Luhan ya?" pinta Luhan sambil memperlihatkan matanya yang mengerjap lucu.

Yongsheng menatap isterinya, sepertinya Luhan akan menangis jika tidak dituruti. "Luhan sayang… Baba ingin bekerja, Mama sudah bilang kan? Baba sudah berjanji sore nanti kita akan piknik di taman kesukaan Luhan."

Mata Luhan berair, hidungnya mulai memerah, dan tangannya semakin erat melingkar di leher Baba-nya. Ia menggeleng ribut, "Luhan ingin Baba!" teriaknya.

"Hei, sayang. Tuan Putri Baba…" Yongsheng mengayunkan Luhan dalam gendongannya. "Baba janji, nanti Baba akan main kejar-kejaran dengan Luhan. Bagaimana?"

Mata Luhan mengerjap lucu, "makan esklim juga?" Baba-nya mengangguk. Luhan tidak merespon, sepertinya ia masih tidak bisa meninggalkan Baba-nya.

"Bagaimana jika naik sepeda. Luhan mau kan? Baba yang akan membonceng Luhan."

"Sepeda?" mata Luhan membulat lucu, Baba-nya kembali mengangguk.

"Alaseo! Asikk, Luhan mau naik sepeda!" pekik Luhan senang. Tangannya tidak lagi mengikat erat leher Baba-nya.

Kini Luhan sudah berpindah ke pelukan sang Mama. Yongsheng mencium kening, kedua mata, kedua pipi, dan bibir putrinya dengan gemas membuat Luhan terkikik. "Baba pergi dulu ya…" Luhan mengangguk lucu.

Yuri tersenyum, "yeobo, hati-hati…"

Yongsheng kembali mencium kening isterinya. "Aku akan kembali."

.

.

[Siang hari…]

Yeobo, akan berangkat ke Korea. Tunggu aku ya!

Yuri tersenyum membaca pesan dari suaminya. Saat ini ia sedang di dapur mempersiapkan berbagai makanan yang bisa mereka santap saat piknik. Sembari menyusun makanan dalam wadahnya, mata Yuri tidak lepas dari Luhan yang sedang asik bermain dengan boneka tak jauh dari tempatnya.

"Mama! Flisella tidak mau ikut…" adu Luhan. Frisella adalah nama boneka cantik milik Luhan.

"Kenapa?" tanya sang Mama.

"Katanya panas. Flisel-Flisella sukanya salju, uhh…" wajah Luhan berubah sebal.

Mama-nya tersenyum. "Frisella kan putri es, tentu saja tidak suka panas."

"Belalti Flisella dan Luhan tidak bisa jadi teman kalena tidak sama?"

Yuri selesai menata makanan lalu mendekati putrinya. Ia mengelus surainya, "dalam berteman tidak boleh pilih-pilih. Luhan harus berteman dengan siapa saja, tapi kalau teman kita buruk, maka Luhan yang harus mengingatkan? Begitu,"

Luhan kecil mengangguk, ia mengelus sayang bonekanya lalu meletakkannya di kursi makan. Ia menarik-narik tangan Mama-nya. "Mama ayoo~ kalau Baba menunggu bagaimana~" rengeknya.

"Araseo, nanti kita berangkat setelah Luhan mandi ya. Mau bertemu Baba harus cantik dong."

"Alaseo." Jawab Luhan tersenyum lucu.

..

..

Yuri dan Luhan kini sudah sampai di taman. Ia memilih tempat yang terbaik, di bawah pohon dengan sebuah kursi. Mereka bisa menggelar tikar di sana, pikirnya.

Sayang aku sudah di Korea. Aku akan ke taman dengan taksi.

Yuri membalas pesan dari suaminya tersebut. Sepertinya hari ini ia bisa menepati janji pada Luhan. Ia menatap putrinya yang sibuk bermain dengan bunga-bunga kecil di sana.

"Ma! Kapan Baba datang?" tanya Luhan kecil yang kembali dari tengah taman.

Mama-nya membersihkan daun yang mendarat di surai lembut putri kecilnya, "sebentar lagi Baba pasti datang. Baba sudah berjanji pada Luhan kan?"

Luhan mengangguk sambil tersenyum imut, "eung! Baba bilang kita akan makan es klim, belmain kejal-kejalan dan…"

"Baba berjanji mengajak Luhan naik sepeda?" Mama-nya melanjutkan.

Luhan mengangguk antusias. "Luhan sukaa!" pekiknya.

Yuri mengangkat putri kecilnya itu karena gemas. Ia mendudukkan Luhan dipangkuannya dan menciumi wajah kecil putrinya, membuat Luhan berteriak geli.

Yuri mengambil ponselnya yang berdering, lalu menunjukkannya pada sang anak. "Baba menelfon…"

"Baba!" pekik Luhan senang.

"Ne, Yeobo dimana–"

"Maaf apa ini benar nomor isteri Lu Yongsheng? Tuan Lu mengalami kecelakaan beruntun, dibawa ke rumah sakit bandara, tetapi maaf karena menyampaikan hal buruk ini. Beliau tidak dapat diselamatkan…"

Tangan Yuri terkulai lemas, ponselnya tergeletak begitu saja di kursi taman. "Ma, Baba sudah datang?" tanya Luhan penasaran, tetapi kemudian ia ikut menangis karena melihat Mama-nya mengeluarkan air mata.

"Mama! Huaaaa! Baba!" teriak Luhan yang masih belum mengetahui apapun, yang ia tahu ia menangis karena sedih Mama-nya menangis.

Yuri segera memeluk Luhan dan menenangkannya. "Kkajja, sayang… cup cup jangan menangis. Gwaenchanha… gwaenchanha…" ucap Yuri menenangkan putrinya dalam gendongannya.

"Baba!" teriak Luhan masih histeris.

.

.

Jenazah Yongsheng dikirim ke Cina sebagaimana keluarganya meminta. Yuri hanya mematuhinya karena ia juga tidak memiliki kuasa apapun, ditambah ia sedang terguncang dengan kematian suaminya yang tiba-tiba.

Di hari yang sama, Yuri, Luhan, beserta pengasuh Luhan terbang ke Cina untuk mempersiapkan pemakaman. Yuri belum memberitahu Luhan prihal Baba-nya dan tidak tahu harus bagaimana memberitahunya.

Yuri tiba lagi di rumah kediamannya dahulu, rumah yang masih satu lingkungan dengan rumah keluarga Lu. Yuri membiarkan Luhan dijaga pengasuhnya karena sedang tidur dan ia sendiri langsung menuju ke rumah duka.

Saat Yuri baru memasuki rumah, ia langsung mendapat cacian dari Nyonya Lu–mertuanya. "Lihat! Kau benar-benar pembawa sial, Yuri!" maki Nyonya Lu dengan air mata yang mengalir.

"Ma… maafkan aku…" ucap Yuri, kakinya tidak sanggup berdiri. Ia sudah bersimpuh di hadapan kedua mertuanya.

"Dasar wanita tidak tahu diri! kau masih bisa menampakkan dirimu disini?! Kau membunuh putraku! KAU MEMBUNUHNYA!" teriak Nyonya Lu lagi.

"Ma… tenanglah. Mama jangan seperti ini," ucap adik Yongsheng.

Yuri memegang dadanya, meremas pakaian yang ia kenakan. Kematian suaminya sudah membuatnya terpuruk, lalu bagaimana bisa ia menghadapi kesalahan seperti ini? Ia benar tidak tahu harus bagaimana lagi. Ia menangis di sana, bersahutan dengan suara tangis dari ibu mertua dan beberapa keluarga dekat lainnya.

"Jiali, bawa Yuri ke kamar." Ucap Tuan Lu.

Jiali mendekati Yuri yang masih di lantai lalu mendekapnya. "Jie, ayo ke kamar. Kau dalam keadaan yang sangat tidak baik…" ucap isteri dari adik suaminya itu.

Yuri berdiri dibantu Jiali, saat keduanya hendak pergi, Nyonya Lu kembali membuaka suaranya. "Pergi kau dari sini, jangan pernah muncul lagi!"

Yuri tidak merespon, ia memperkuat topangannya pada Jiali. 'Dia suamiku, bagaimana aku bisa pergi…' gumam Yuri dalam hatinya.

"Jie… jangan masukkan dalam hati apa yang Mama ucapkan. Mama sangat sedih," Jiali memberitahu. Yuri mendengarnya, tetapi tidak merespon apapun.

..

..

Tamu masih berdatangan ke rumah duka untuk memberi salam perpisahan. Keluarga pun bergantian menunggu di depan. Tidak dengan Yuri, sedaritadi ia tidak pergi dari sisi suaminya yang sebagai gantinya, Nyonya Lu tidak bisa di samping anak sulungnya. Nyonya Lu akan terus memaki Yuri ketika melihatnya.

"Jie… biarkan Mama di sini sebentar." Ucap Jiali. Yuri bergeming, ia tidak mau meninggalkan suaminya. "Aku mohon jie, sebentar saja." Yuri akhirnya menurut dengan dituntun oleh Jiali.

Yuri kembali ke kamarnya, ia menatap sekeliling, kamar ini adalah kamar semasa muda suaminya. Mereka juga pernah tinggal di kamar ini beberapa hari setelah pernikahan mereka. Air mata Yuri kembali mengalir, kali ini tidak disertai isakan. Hatinya terlalu menekan dirinya hingga tidak bisa lagi mengeluarkan suara.

Ponselnya berdering, tetapi Yuri membiarkannya. Jiali yang masih di sampingnya lalu mengambil alih ponsel kakaknya itu. "Halo…"

"Apa Nyonya Yuri ada?"

"Maaf ini siapa?"

"Saya pengasuh Nona Luhan. Sedaritadi Nona Luhan terus menangis, saya ingin bertanya apakah Nona Luhan bisa ke sana?"

Jiali terlihat terkejut saat mengetahui keponakannya itu ada di Cina. "A-ah, kalau begitu biar saya saja yang ke sana. Di rumah meraka kan? Saya isteri adik Yongsheng ge."

"Ah, ye. Baik Nyonya."

Jiali meletakkan kembali ponsel Yuri. "Jie… kau kemari bersama Luhan? Mengapa Luhan tidak diajak kemari? Aku akan membawanya,"

Yuri sedikit tersadar dari lamunannya begitu nama anaknya disebut. Yuri menarik pinggiran baju Jiali, wajahnya terlihat khawatir saat Jiali ingin membawa Luhan. "Tenang Jie… Luhan tidak akan kuperlihatkan pada siapapun." Jiali menepuk punggung tangan kakaknya, seakan mengerti ketakutannya.

Setelah kepergian Jiali, kedua mertuanya beserta adik Yongseheng mendatangi Yuri. Tuan Lu menyerahkan sebuah kertas beserta pena. "Tandatangani itu," Tuan Lu memberitahu.

Yuri mengambil kertas tersebut lalu membacanya. "Untuk apa surat ini, Ba?" tanya Yuri.

Nyonya Lu menatap Yuri tidak suka, "cepat tadatangi! Kau harus bercerai dengan putraku, kami tidak pernah menganggapmu sebagai menantu kami."

"Ma, tapi bagaimana bisa…" ucap Yuri tak paham.

"Kami akan mengurus bahwa kau bercerai sebelum kematian Yongsheng. Jadi tandatangani saja, hiduplah berdua dengan anakmu tanpa membawa nama keluarga kami." Jelas Nyonya Lu lagi.

"Yongyuan…" Yuri melihat pada adik suaminya yang terlihat tidak bisa melakukan apapun, Yongyuan hanya bisa menggeleng sambil merasa bersalah.

"A-aku tidak bisa… Aku mencintai Yongsheng sampai kapanpun. Aku tidak bisa melakukan ini." tolak Yuri.

"Kau–"

"Ma… Mama tenang," Yongyuan menahan Mama-nya yang hendak menampar Yuri.

"Maafkan aku Ma, Ba… Yuri tidak bisa." Yuri meletakkan kembali kertas dan penanya.

"Dasar wanita tidak tahu diri! Kau sengaja kan? Ini rencanamu? Kau membuat anakku MATI, lalu kau menguras hartanya, BEGITU?!" teriak Nyonya Lu.

Yuri terlihat bingung, harta? "Maksud Mama?"

"Jangan berpura-pura! Kau benar-benar ular! Malang sekali nasib anakku…" histeris Nyonya Lu.

"Yuri, begini. Yongsheng ternyata sudah mewariskan semua asetnya atas nama Luhan, anak kalian. Perusahaan Korea dan 60% saham di perusahaan utama, tapi itu tidak bisa, Luhan bukan laki-laki. Anak perempuan tidak bisa mewarisi sebanyak itu. Jika kalian bercerai, asset yang dimiliki Luhan tidak akan sebanyak itu, dan kami masih bisa memberikan bagian Luhan sesuai keputusan keluarga." Jelas Tuan Lu, ia masih bisa mengontrol emosinya.

Yuri merasa sakit hati, apa hanya karena itu Yuri harus melepas suaminya? "Ba… tidakkah kalian malu mengatakannya? Yuri tidak mengharapkan apapun. Lagipula selama ini kalian tidak pernah mengangap kami keluarga kan?"

"Tidak bisa, kau harus tetap bercerai! Aku tidak sudi memiliki menantu sepertimu! Cepat tandatangani!" Nyonya Lu memaksa Yuri untuk menandatanganinya dengan memegang tangan Yuri.

"Ti-tidak mau!" Yuri menghempas tangan Nyonya Lu hingga mertuanya itu tersungkur.

"Kau–"

PLAK!

Tuan Lu kehabisan kesabarannya, ia menampar Yuri. "KELUAR KAU SEKARANG DARI RUMAH INI!" teriak Tuan Lu.

Air mata Yuri kembali mengalir, pipinya terasa panas. Ia berlari keluar dari sana. Sebelum Yuri benar-benar keluar, ia mencuri dengar percakapan yang membuatnya terkejut.

"Baguslah wanita tidak tahu diri itu tidak mau bercerai. Sekarang mudah saja untuk tidak memberikan sepeserpun harta pada mereka." Ucap Nyonya Lu.

"Yongyuan, cari anak Yuri. Buat dia menempelkan jarinya pada surat pindahtangan harta." Kini suara Tuan Lu terdengar.

"Ya, Baba." Jawab Yongyuan.

Yuri segera pergi dari sana. Ia harus melindungi anaknnya dari keluarga gila ini. Yuri keluar di tengah-tengah keramaian, ia menjadi pusat perhatian karena penampilannya yang terlihat kacau. Ia melihat foto pemakaman suaminya dengan sedih, 'yeobo…maafkan aku. Sepertinya aku harus menajuhkan Luhan dari keluargamu. Aku yakin, kau memberikan yang terbaik bagi putri kecil kita satu-satunya. Maafkan aku karena tidak membawa Luhan disaat terakhirmu. Aku mencintaimu, selalu…' ucap Yuri dalam hatinya. Kemudian ia bergegas ke rumahnya, Luhan tidak boleh kemari.

"Jie?" Yuri bertemu Jiali yang sedang menggendong putrinya. Ia lalu merebut Luhan dari tangan Jiali lalu pergi dari sana.

"Jie… kau mau ke mana?" Jiali mengejar Yuri.

"Aku harus kembali, keluarga ini sudah gila!"

"Jie…" Jiali tidak lagi mengejar Yuri. Sepertinya ia paham apa yang terjadi karena sebelumnya ia juga mendengar sedikit rencana suaminya bersama kedua mertuanya. "Jie, kau harus kuat…" gumamnya sambil memandang Yuri sedih.

..

..

"Nyonya!" pengasuh Luhan terlihat terkejut melihat majikannya yang tergesa.

"Sunkyu, tolong bawa Luhan ke Korea saat ini juga. Aku akan membelikan tiketnya,"

"Nyonya ada apa?" tanya Sunkyu heran.

"Kau harus melindunginya. Aku akan tinggal di sini untuk mengurus sesuatu. Pastikan Luhan selamat sampai di Korea. Jangan pernah lepaskan Luhan apapun keadaannya." Yuri mengemas baju Luhan dan memberikannya pada pengasuhnya.

"Aku mohon…" pinta Yuri.

"Y-ye…Nyonya." Sunkyu menelan ludahnya, sepertinya sedang terjadi sesuatu. Meski sepertinya pekerjaannya sulit, ia harus membantu majikannya itu.

Setelah Sunkyu dan Luhan pergi. Yuri mengganti pakaiannya dengan yang lebih layak. Ia menelefon pengacara suaminya dan menyuruhnya untuk ke Cina. Ia harus mengurus ini semua.

"Luhan, kau akan mendapatkan apa yang menjadi hakmu, sayang. Mama akan membuatmu menjadi wanita hebat, wanita yang tidak akan kalah dari laki-laki!" Yuri sudah bertekad.

.

.

[Oxford, Inggris]

Yuri menyelesaikan penjelasannya pada Luhan mengapa Luhan harus menjadi orang sukses. Luhan tidak bisa menahan air matanya, mendengar perjuangan Baba dan Mama-nya serta perjuangan Mama-nya setelah kepergian Baba-nya sangatlah menyakitkan. Selama ini ia tidak tahu apapun, mungkin Mama-nya memiliki alasan sendiri karena ia masih kecil.

Saat ini, Luhan bisa memahaminya, bagaimana Luhan harus membuktikan bahwa wanita bisa melakukan hal yang hebat. Mendengar itu tidak membuat Luhan membenci kakek-neneknya, Luhan malah jadi termotivasi.

"Mama… mianhaeyo. Maafkan Luan karena membangkang pada Mama sebelum ini," ucap Luhan tulus.

Yuri tersenyum, "Mama juga minta maaf padamu karena banyak membatasimu. Tapi kita harus kuat Luhan, hanya kau yang Mama miliki." Ia memeluk anak semata wayangnya.

"Hm… Luhan mengerti." Angguk Luhan. 'Gomawoyo, Ma, Ba… karena kalian begitu menyayangi Luhan.' Ucapnya dalam hati.

Mungkin keputusannya menyakiti Sehun untuk menolong Mama-nya adalah keputusannya yang baik. Luhan mengingat perkataan Sehun padanya: "Yang terbaik bukan berarti yang kau sukai. Itu juga bukan penghalang impianmu, tetapi semacam rintangan mencapai impian yang terbaik?"

Tapi ia juga sadar akan kesalahannya. Ia tidak berani berkata jujur pada Sehun. Bagaimana jika ia jujur? Apa Sehun akan memahaminya? Menyesal saat ini pun tidak ada gunanya. Saat ini Luhan sudah duduk di semester kedua program sarjananya. Ia hanya akan terus berjuang dan melakukan yang terbaik. Setelahnya ia bisa kembali dengan situasi yang lebih baik.

"Mama akan kembali ke Korea karena urusan Mama juga sudah selesai di sini. Belajarlah dengan giat, ne?"

Luhan mengangguk, "hm, tentu saja Ma."

.

.

[Dua tahun kemudian di Seoul, Korea Selatan]

Oh Sehun, kini laki-laki yang dahulu begitu menyukai Luhan, tengah disibukkan dengan berbagai berkas-berkas menyebalkan yang berserakkan disekitarnya. Sedaritadi ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena frustasi menyusun beberapa lembar dokumen yang baru saja ia kumpulkan untuk mendaftar program pascasarjana.

"Astaga… dimana berkas itu…" desah Sehun kesal. Ia bangkit menuju laci lemarinya tempat menyimpan dokumen lama. Saat ia sibuk mencari, tak sengaja tangannya menyentuh sebuah kotak kecil yang langsung ditariknya.

'Luhan' begitulah yang tertulis di kotak berwarna coklat itu. Sehun ragu saat akan membukanya, tetapi tangannya bergerak sendiri untuk membuka tutup kotak itu. Sebuah kalung dengan bandul cincin terlihat sudah sangat lama, tetapi tetap familiar di matanya. Ia mengambil kalung itu lalu mengusapnya, kalung itu sudah banyak berkarat karena tentu saja itu hanya imitasi. Ia kembali mengingat masa-masa sekolahnya yang benar-benar brutal, ia jadi menertawainya. Sudah 3 tahun lebih lamanya, ia tidak pernah lagi mendengar nama Luhan disebut ataupun nama Luhan muncul di ponselnya.

Sebenarnya Sehun pernah menghubungi Luhan saat baru saja menjadi mahasiswa selama 1 tahun, tetapi tidak ada respon apapun. Ia pun berasumsi bahwa Luhan benar-benar sudah menghilang, jauh dari kehidupannya.

Poselnya berdering, sebuah panggilan masuk membuatnya berdecak. "Wae?" tanyanya.

"Yo Sehun~ kau di rumah?"

"Kau pikir di mana lagi!"

"Kami akan ke rumahmu."

"Kami? Kalian bertiga? Lagi? Ya! bisakah kalian membuat hidupku sedikit tenang, aku sedang pusing" keluh Sehun.

"Maka itu kami akan membantu, apalagi kami membawa seseorang lainnya agar kau benar-benar terbantu."

"Nugu?" tanya Sehun penasaran.

"Ra-ha-si-a…"

"Sialan!" kesal Sehun.

Suara tawa terdengar setelahnya dari seberang sana. Suara Chanyeol paling mendominasi, kemudian dua suara lainnya bersahutan, ia sangat kenal suara tawa itu. "Daah Sehun-ah!"

"Ya! Park Chanyeol–" Sehun menatap marah pada ponselnya, kemudian ia hanya bisa menghela napasnya. "Baiklah kita tunggu saja…" ucap Sehun final.

Sehun mengembalikan kalung itu ke tempatnya, tangannya mengambil gantungan kunci rusa dan serigala yang ada di sana. Ya benar, gantungan rusa itu milik Luhan, ia masih menyimpannya. "Baiklah, sepertinya kalian harus kembali tidur…" ucap Sehun lalu menyimpan kembali kenangan lama beserta kotaknya di tempat semula. Ia menutup lacinya, tidak jadi mencari dokumenya. Ia lelah, lebih baik istirahat sebentar sebelum teman-teman gilanya datang.

.

.

[Bagaiman nasib Kim Taehyung saat ini?]

Setelah pertemuan kedua kelompok besar, Bailon dan Hanseung, beasiswa yang diterima Taehyung dicabut dan ia di-drop out dari sekolah karena dianggap sebagai kaki tangan dalam kejadian tersebut. Tidak ada yang tahu bahwa Taehyung adalah siswa penerima beasiswa dan tidak ada yang tahu Taehyung dikeluarkan dari sekolah kecuali Sehun, Luhan, Baekhyun, Chanyeol, dan Minseok, tentu saja.

Kini Taehyung bekerja keras membantu kehidupan keluarganya dengan bekerja sebagai cleaning service perusaan di pagi hari, pelayan di restoran di siang hari, dan bekerja sebagai kasir minimarket di malam harinya.

Sebenarnya ia merasa menyesal karena mengharapkan lebih dari apa yang seharusnya ia syukuri. Bisa bersekolah dan dibiayai seharusnya ia cukup diam untuk tidak mengenal siapapun hingga akhirnya lulus, tetapi ternyata, ia malah harus jatuh cinta yang membuatnya masuk ke masalah besar. Ini memang murni kesalahannya karena tidak mempertimbangkan apa yang akan terjadi.

Sebagai kompensasi dari keluarga Kim (Namjoon), Taehyung dibiarkan bekerja di bagian cleaning service perusahaan keluarga mereka, tetapi Taehyung menolaknya karena ia tidak mau lagi berurusan dengan keluarga Kim.

Keluarga kaya Kim itu tidak percaya melepaskan Taehyung begitu saja, mereka khawatir Taehyung akan berbuat semaunya hingga mengancam keluarga mereka karena perbuatan anak mereka sendiri–Kim Nam Joon. Akhirnya Taehyung ditawari untuk bekerja di bawah perusahaan kolega keluarga Kim, keluarga Kim tidak akan mencampuri kehidupan Taheyung lagi asal Taehyung melupakan segala kelakuan yang Namjoon perbuat.

Taehyung mengiyakannya dengan mudah mengingat ia bukanlah siapa-siapa. Ia hanya orang tidak punya dan seharusnya tidak mengharapkan sesuatu lebih dari ini, serta tidak seharusnya memiliki dendam.

.

.

[Lalu, Kim Namjoon sendiri…?]

Sebagaimana yang kita ketahui, Namjoon adalah putra dari yayasan Kim. Meski begitu, kedua orangtua mereka tidak bisa lagi mengelak bahwa anak mereka terlibat sebuah kejahatan. Kim Namjoon dipenjara hanya 1 tahun, itupun ditutupi secara rapat tanpa ada yang tahu, keluarga besar juga tidak ada yang mengetahuinya, semua dibereskan dengan bersih.

Setelah keluar dari penjara, Namjoon tetap dapat melanjutkan pendidikannya seperti biasa dan lulus di perguruan tinggi yayasannya. Kedua orangtuanya benar-benar menutupi kelakuan anak mereka hingga Namjoon mendapatkan sebuah perusahaan untuk dikelolanya, meski hanya perusahaan cabang yang ada di pinggiran kota. Kini Namjoon menjadi pemimpin di perusahaan tersebut. Banyak mata (keluarga) yang memerhatikan gerakan Namjoon hingga ia tak bisa berkutik selain menjalani kehidupannya yang terasa seperti rantai yang mencekik lehernya.

.

.

END

.

.


Season 1 - Love Sick: Because of YOU (16 Chapter + Side Story) Complete!

Season 2 - Coming soon~

*loveforHUNHAN yeayy!