Sudut pandang Baekhyun.
.
.
.
CAST
Park Chanyeol (25)
Byun Baekhyun (19)
.
.
Aku telah berhenti menangis beberapa menit yang lalu. Selanjutnya baik aku maupun Chanyeol tidak ada yang bersuara. Kami memilih diam sambil menikmati suara detak jantung dari masing-masing yang bersautan.
"Chanyeol ?" lirihku sambil mengusakkan hidungku di dada Chanyeol memecah keheningan.
"hm ?"
"Aku mencintaimu" ucapku.
Aku bisa melihat kening Chanyeol berkerut setelah aku mengatakannya.
"Dear.." Chanyeol mendorongku dari tubuhnya. Kedua mataku mulai berkaca-kaca tanpa bisa kucegah entah kenapa. Ketakutanku masih belum juga pergi dan itu cukup menggangguku.
"Chanyeol aku mencintaimu, jadi jangan tinggalkan aku" rengekku sambil meremas lengan kemeja Chanyeol. Aku takut. Karena sejujurnya aku hanya berpura-pura terlihat kuat didepan wanita itu sedangkan pada nyatanya nuraniku benar-benar ingin menangis meraung-raung disana.
Lalu apa ?. Kau tidak lihat jika suamimu itu tidak menghindariku ?. Dia menyukainya Baekhyun, kau pikir baginya cukup hanya memiliki bocah cengeng sepertimu ?. Pada dasarnya hanya kami yang bisa memuaskan pria seperti Chanyeol.
Oh hatiku terasa seperti diremas ketika kembali teringat ucapan Yoo Rachel tadi. Wanita itu benar, mengapa Chanyeol tidak menghindar ketika wanita itu bermaksud menggodanya ?. Aku kembali ingin menangis ketika phoenix Chanyeol mencari-cari kedua mataku.
Aku meyakinkan diri sendiri jika Chanyeol hanya mencintaiku.Tapi mengapa ucapan wanita itu membuatnya takut seperti ini ?.
Chanyeol membawa kedua tangannya untuk menangkup pipiku.
"Baekhyun, sayang.. dengar. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Tidak akan pernah, karena aku sangat mencintaimu. Sekarang, coba tatap kedua mataku. Apakah aku berbohong ?"
Kedua sabitku mencari-cari kebohongan kedalam phoenixnya. Lalu aku tersentak, nihil. Tidak ada kebohongan didalam mata Chanyeol. Chanyeol mencintainya. Chanyeol tersenyum ketika sungai kecil kembali mengalir dikedua pipiku. Kenapa aku begitu sensitif seperti ini ?
"Apapun yang sedang berada didalam kepala kecilmu, hentikan. Membuat janji dihadapan Tuhan bukanlah hal main-main Baekhyun. Detik itu aku telah berjanji untuk selalu mencintaimu dan memberikan hidupku untukmu. Jadi jangan pernah meragukanku, jangan pernah. Mengerti ?" ucap Chanyeol sambil menyeka air mataku.
"Tapi kau membiarkan wanita itu menyentuhmu", perasaan takutku belum juga hilang.
"Dia hanya bermain. Dia tidak benar-benar menyentuhku Baekhyun. Seperti yang kau katakan padanya tadi, apakah kau pikir aku pria murahan ?"
Aku menggeleng dengan cepat. Tidak, Chanyeol bukan pria seperti itu. Bibir penuhnya tersenyum menarik tubuhku kembali kedalam pelukannya secepat aku melepaskan kembali membuat Chanyeol mengangkat satu alisnya keatas. Mengabaikannya, kedua tanganku meraih ujung baju yang kukenakan dan bermaksud menariknya keatas. Kedua mata Chanyeol melebar dan dengan cepat menghentikan pergerakan tanganku.
"Baekhyun apa yang kau lakukan ?" tanyanya dengan pandangan begitu sangsi.
"Chanyeol kau tidak merindukanku ?" cicitku.
"Tentu saja aku merindukanmu sayang"
Aku mengangguk kemudian menarik kembali bajuku.
"Baekhyun, berhenti. Kau tidak bermaksud memperlihatkan tubuhmu pada orang-orang kan ?" ucap Chanyeol menghentikan tanganku kembali, sempat membuatku kesal.
"Apa ?"
"Tuhan, disini ada cctv" ucap Chanyeol.
Aku terkekeh mendengarnya lalu bergerak kedepan menarik Chanyeol kedalam sebuah ciuman. Kedua bibirku terangkat, tersenyum kecil tanpa bisa kucegah ketika merasakan kedua tangan Chanyeol digaris pinggangku. Chanyeol mungkin tidak mengetahuinya, tapi hal kecil seperti ini kerap kali membuat hatiku berdesir dengan cara yang menyenangkan tanpa bisa kujelaskan dengan kata-kata. Ah, aku sangat merindukan bibir penuhnya. Kakiku selalu terasa seperti kesemutan setiap kali bibirku berada diantara gigi Chanyeol. Lidah kami saling berpagut, membelai langit-langit mulut masing-masing.
"Nghh" rintihku ketika Chanyeol menarik belah bibir bawahku sebelum melepaskannya. Nafasku terengah tapi aku mengulas senyum pada akhirnya.
Kedua mataku terpejam, menyandarkan kepalaku sepenuhnya ketika tangan Chanyeol mengelus pipi kiriku.
"Aku tidak percaya kau membiarkan orang lain melihat bagaimana aku menciummu saat kau diatas pangkuanku"
Aku terkikik tanpa bisa kutahan lalu bergerak kedepan, mengecup hidung Chanyeol dengan singkat dan menarik tubuhku kembali.
"Tidak, tidak ada yang melihat Chanyeol. Aku sudah menyuruh Shinwan untuk mematikan cctvnya" jawabku.
Chanyeol mengangkat satu alisnya.
"Aku kira kau telah merencanakannya" ucap Chanyeol sambil tersenyum miring.
"Memang. Kau pikir aku akan membiarkan mereka melihat langsung urusan rumah tanggaku ?" jawabku namun beberapa saat kemudian Chanyeol terdiam. Aku yang tersadar akan perubahan suasana hati pria didepanku meletakkan telapak tanganku di pipi Chanyeol. Mengelusnya disana. Aku tahu, tanpa sadar telah membuat perasaan bersalahnya kembali menyeruak.
"Baekhyun"
"Shh" mengangkat telunjukku didepan bibirnya. Menghentikan bibirnya untuk mengatakan apapun yang berada didalam pikirannya.
Kemudian tanganku kembali menarik bajuku kembali, membuangnya sembarangan. Kali ini benar-benar terlepas dan memperlihatkan tubuhku yang terekspos dihadapan Chanyeol dengan kedua puting merah mudaku yang telah mengeras. Bagaimana bisa ?. Bahkan kami belum melakukan apapun. Oh jangan tanyakan itu padaku karena aku bahkan tidak tahu mengapa tubuhku bisa sebinal ini. Kehausan huh ?. Apa yang bisa diharapkan dari seorang pria yang ditinggal suaminya seminggu lebih bersama ranjang yang dingin ?. Aku sangat merindukan dada hangat Chanyeol dan gairahku yang ingin meledak. Jari-jari kurusku hendak membuka kancing celananya namun dihentikan oleh Chanyeol.
"Kau yakin ? Kita bisa mengotori tempat ini Baekhyun" ucap Chanyeol begitu serius tapi aku hanya mengangkat kedua bahuku, tidak peduli.
"Then what ? ini tempatmu lagipula" ucapku begitu tenang membuat Chanyeol lagi-lagi mengerutkan alisnya tidak mengerti.
"Aku mendengar kau akan membeli perusahaan ini kan ?" lanjutku.
"Ya, tapi secara teknis kepemilikannya belum ditanganku" ucap Chanyeol.
Aku memutar kedua mataku. Kenapa dia membuat ini lebih lama ?
"Siapa peduli ?. Lagipula tempat ini akan menjadi milikmu pada akhirnya" ucapku.
"Ah !" pekikku ketika merasakan ibu jarinya menekan garis pingganggu begitu kuat.
"Mata Baekhyun" ucap Chanyeol memperingatiku. Oh Tuhan. Reflek seperti itu bukanlah hal yang bisa kukendalikan setiap waktu tapi aku harus menurutinya. Park Chanyeol memiliki toleransi yang buruk dalam hal itu dan aku cukup tau diri untuk tidak menggodanya.
Chanyeol kembali mengulum bibirku, terkadang aku akan merintih setiap kali Chanyeol menarik belah bibirku diantara giginya. Aku mengalungkan kedua lenganku dileher Chanyeol. Tidak membuatnya jauh barang sedikitpun. Kami berpagutan, berperang lidah, membelit satu sama lain. Aku kewalahan karena tidak bisa mengimbangi bagaimana hebatnya bibir Chanyeol yang bergerak didalam mulutku. Dadaku terasa sesak tapi egoku tidak ingin mengakhiri lumatan bibirnya didalam mulutku. Aku adalah pria yang egois dan aku tidak masalah untuk itu.
"Ahh" lenguhan keluar dari bibirku ketika tangan kasar Chanyeol mulai bergerak diatas kulitku yang begitu sensitif.
Punggungku semakin melengkung kedepan ketika Chanyeol menggerakan kedua jempolnya melingkari kedua putingku, cukup membuatku untuk merengek dan merintih disaat yang bersamaan.
"Chanhh " rengekku disela-sela ciuman kami. Aku tidak menyukai bagaimana Chanyeol menarik ulurnya seperti ini.
Chanyeol melepaskan ciumannya. Bibirnya membuat jejak disepanjang garis rahangku. Terus bergerak turun menelusuri leher jenjangku. Aku mendongak, melenguh, merintih pada beberapa waktu ketika gigi Chanyeol bergesekan dengan kulit leherku. Lidahnya yang panas sesekali menjilatnya. Mulutku terbuka, disertai suara erangan lirih tapi cukup membuat Chanyeol menggeram dipangkal tenggorokannya sedang kedua mataku terpejam, menikmati sensasi ketika Chanyeol menggigit kulit leherku. Kemudian bergerak turun, membuat ciumannya berlanjut menuju tulang selangkaku. Mengecupi juga menggigit disana.
Napasku berubah menjadi pendek-pendek ketika bibir Chanyeol dengan perlahan bergerak ke bawah namun melewati kedua putingnya. Apa ?, batinku terang saja memberontak didalam sana.
Tidak lama sebelum kemudian aku tersentak, tubuhku melengkung kedepan ketika Chanyeol menekan kuat kedua putingku yang keras.
"Ah !" memilin, memutar, lalu menarik kedua putingku secara bersamaan. Jemariku bergetar diantara surai Chanyeol yang kini telah berantakan. Seluruh tubuhku meremang merasakan jari-jari Chanyeol diseluruh tubuhku.
"Mmhhh ah.. eunghh.." desahan terus-terusan menggema didalam ruangan ketika kombinasi jari-jari Chanyeol dan bibirnya melakukan gerakan mematikan diatas tubuhku.
Bibirnya mengecup diantara dadaku tepatnya diatas taju pedang ketika tangannya mulai bergerak kebawah, berusaha menarik turun celana yang kupakai. Mengerti, aku berusaha kembali menegakkan kepalaku yang sebelumnya mendongak, sabitku yang telah berkabut bersitatap dengan phoenix Chanyeol yang berbinar begitu panas. Sambil menggigit bibir bawahku, aku berusaha mengangkat tubuhku, menekan kedua tanganku diatas bahunya. Membantu Chanyeol dengan segera melepaskan celana yang membalut kedua kakiku. Kemudian kedua pipiku merona, juga bibirku yang masih kugigit ketika kakiku yang telah telanjang bergesekan dengan kain celana Chanyeol. Aku telanjang, benar-benar telanjang sampai dimana aku bisa mendengar umpatan lirih dari mulut Chanyeol sehingga membuatku terkekeh pelan.
Chanyeol menggeram sekali lagi.
"Apa yang telah kulakukan dikehidupan sebelumnya sehingga mendapatkan seorang malaikat telanjang sepenuhnya diatas pangkuanku ?" ucapnya dan itu tidak membuat pipiku yang bersemu merah tidak lebih baik.
Aku hampir lupa dengan Chanyeol dan kata-kata manis mautnya. Dia baru saja melakukannya. Menerbangkanku ke langit ke tujuh dan jatuh dengan keras disisinya.
Phoenixnya yang berubah menyala tidak luput dari pandanganku. Apa yang kau pikirkan Chanyeol ?.
"Apa yang kau pikirkan Chanyeol ?" tanyaku pada akhirnya.
Dia tidak menjawab namun secara tiba-tiba menarik tubuhku kedepan, memagut bibirku kedalam sebuah ciuman memabukan seperti biasa.
"Ahh" aku melenguh, menutup kedua mataku. Menyerah pada lidahnya yang- oh, sangat gesit. Pikiranku kembali tidak fokus ketika Chanyeol melarikan kedua tangannya disepanjang garis pinggangku. Terus bergerak kebelakang lalu tangannya menyebar, berhenti diatas bokongku.
"Angh !" ketika Chanyeol mulai meremas bokongku dengan kedua tangannya.
Kami sibuk mencari lidah masing-masing, saling memagut didalam sana. Suara lenguhan akan terdengar dari mulutku setiap kali Chanyeol meremasnya begitu kuat atau menarik belah bibirku diantara giginya dan diwaktu yang lain aku akan mengecap rasa besi diatas bibirku karena Chanyeol menggigitku terlalu bersemangat.
Setelah itu Chanyeol menarik bibirnya kembali lalu segera berpindah diatas puting kananku sedangkan jarinya telah memelintir puting kiriku. Oh tidak, tidak, sentuhan ini- terlalu berlebihan untuk tubuhku.
"Chanyeolhh.. Ahh please.. Akh !" aku memekik begitu keras.
Kedua mataku melebar ketika merasakan jarinya yang menerobos masuk kedalam lubang anusku. Gerakan jarinya tidak menghentikanku untuk berbicara lebih jauh. Aku mendesah dan mendesah atas siksaan nikmatnya. Chanyeol membuat gerakan jarinya memutar dan aku mendongak melepaskan rintihan begitu keras didekat telinganya.
"Ah, aku sangat menyukai desahanmu" ucapnya.
Aku menggeleng ribut ketika merasakan serangan bertubi-tubi dari bibir Chanyeol yang mengulum putingku dengan dua tangannya yang begitu hebat menyentak gairahku keluar, membumbung tinggi lalu menyeruak masuk diantara pangkal pahaku.
"Mhh !" Chanyeol menambah dua jarinya sekaligus. Tidak menungguku, dengan cepat Chanyeol membawa ketiga jarinya bergerak maju-mundur didalam anusku.
Berikutnya aku merasakan jarinya telah menyentuh prostatku. Ah !. Jari-jari panjangnya benar-benar bermaksud membuang akalku. Aku bisa melihat melalui bulu mataku ketika Chanyeol menyeringai. Dia tahu, dia telah menemukannya. Karenanya setelah itu Chanyeol membuat ritme yang berantakan, cepat, tapi begitu kuat. Membenturkan ujung jarinya pada prostatku terus-menerus.
"Ah ah ah nghh kumohon.. Chanyeolhh ahh! mhh"
"Akh !" putingku baru saja ditarik diantara giginya. Kedua tanganku meremas bahunya begitu kuat sampai meninggalkan kusut pada kain kemejanya.
Aku merengek ketika Chanyeol melebarkan kakinya membuat kakiku kini mengangkang lebar dipangkuannya tanpa menghentikan jarinya yang keluar masuk didalam anusku. Walaupun aku kesulitan melihatnya karena sibuk mendongak dengan desahanku sendiri, aku yakin saat ini penisku telah tegak begitu keras dibawah sana. Bagaimana bisa aku begitu yakin ?. Oh tentu saja karena penisku akan membentur perut keras Chanyeol setiap kali dia menarik putingku dengan giginya dan menusuk prostatku dengan jari-jarinya, mengobrak-abrik akalku didalam sana.
Aku telah begitu dekat, sangat dekat dan tak ada yang bisa menolongku kecuali Chanyeol. Jari-jari kakiku telah mengejan dan pusaran gairah telah bersiap untuk meledak. Desahanku berubah begitu keras dan tanganku juga meremat bahunya begitu kuat. Aku memejamkan mataku, melengkungkan tubuhku kedepan seperti sebuah busur dengan kakiku yang ikut bergoyang begitu binal siap untuk menuju langit ketujuh dan menjemput surgaku.
Namun tiba-tiba semuanya berhenti. Chanyeol dengan senyumnya yang begitu jahat menghentikan semua kombinasi mematikan itu didalam tubuhku. Aku bisa melihat garis kemenangan pada bibirnya diatas kulitku.
"Chanyeol," erangku tidak terima.
"Belum,"
"Tidak !"
Sialan ! , umpatku didalam hati.
Dia bernapas membuka resleting celananya. Batinku bersorak kegirangan didalam sana ketika melihat penis besar Chanyeol yang telah mengacung tegak dalam pandanganku. Gairahku yang begitu marah membuat tubuhku bergerak kedepan tapi Chanyeol menghentikannya. Aku ingin menangis.
"Tidak, Baekhyun" ucapnya.
Aku tidak mengerti. Aku telah telanjang, kedua penis kami sudah sangat jelas mengatakan bahwa kami menginginkan ini. Tapi kenapa Chanyeol mengatakan 'tidak'?.
"Please.. Chan kumohon.." aku memohon.
"Apa yang kau inginkan, Park Baekhyun" kata-katanya begitu lembut dan sangat dekat dengan telingaku. Dan lenguhan tanpa sadar kembali keluar dari bibirku ketika Chanyeol hampir bersandar pada tubuhku namun cukup membuatku bisa merasakan penis kerasnya menyentuh penisku.
"Kau.. aku ingin kau Chanyeol" aku terengah dan jari Chanyeol bergerak diatas kulit paha dalamku.
"Bicara yang jelas Baekhyun, aku tidak mengerti"
Sial, sial, sial.
"Aku menginginkanmu Chanyeol. Berada. Di dalam. Tubuhku" Ucapku penuh penekanan diatas kilatan iris tajamnya.
Aku melihat lidahnya dan membasahi bibir bawahnya. Haruskah dia bersikap sepanas ini ?.
"Jika saja aku tidak ingat jika kau sedang mengandung baby.." Chanyeol bergumam, tidak meneruskan ucapannya.
"Apa yang kau pikirkan Chanyeol ?" tanyaku sambil membawa tanganku untuk mengelus garis rahangnya yang begitu tajam.
"Tidak"
"Chanyeol.. katakan"
"Jangan membuatku mengatakan apa yang tidak bisa kulakukan pada akhirnya Baekhyun" ucapnya.
Aku memiringkan kepalaku mendapati kerutan halus dipangkal hidungnya.
"Chanyeol.. hanya katakan" ucapku sekali lagi.
"Aku sangat ingin menyentakmu dengan sangat kasar diatas meja ini Baekhyun"
Apa ? Dan semua udara menguap dari tubuhku.
"..dan aku tidak bisa melakukannya" lanjutnya.
Mengapa dia tidak bisa melakukannya ?
"Kenapa ?"
"Baekhyun, kau sedang mengandung"
"Tidak apa-apa Chanyeol. Aku bisa menjaganya dan kau bisa melakukannya" ucapku sambil membawa tangan kiriku diatas perutku.
Aku dapat melihat sebuah keraguan didalam sorot matanya.
"Aku tidak bisa menyakitinya"
"Chanyeol dengar, kami akan baik-baik saja. Jadi lakukan apapun yang ingin kau lakukan padaku sebelum dokter Lim mulai melarangnya ketika usia kandunganku mulai bertambah. Kau percaya padaku kan ?"
Kubawa tanganku untuk mengenggam penisnya yang –astaga dia begitu keras dan aku tahu itu begitu menyiksa. Chanyeol menggeram rendah ketika jari-jariku mulai mengurutnya perlahan.
"Kau yakin dengan ini ? kau tidak bisa menghentikanku Baek" ucapnya penuh peringatan sambil membawa kedua tangannya kembali ke punggung telanjangku dan aku tersengal kembali. Aku mengangguk, mengganti kedua lenganku untuk melingkar dilehernya.
"Ya ahh jangan berhenti Chanyeol"
Chanyeol menyodorkan tangannya didepan wajahku.
"Meludah" perintahnya dan perutku melilit karenanya.
Aku meludah diatas telapak tangannya yang terbuka. Berikutnya aku memekik ketika tubuhku diangkat dan merasakan kepala penisnya berada disekitar lubangku. Oh Tuhan. Aku merintih dan Chanyeol membawaku kedalam ciuman memabukkannya, mengalihkan rasa sakitku ketika penisnya merengsek masuk. Jari-kariku meremas surainya ketika penis itu memaksa masuk dalam lubang sempitku.
"Mmhh" merintih disela-sela lumatan bibir Chanyeol. Itu begitu sakit sehingga aku ingin menangis. Kemudian Chanyeol melepaskan ciuman kami. Menatap kedua mataku yang mungkin kini telah berair.
"Rileks dear.. aku membutuhkanmu untuk rileks atau ini tidak akan selesai. Sekarang atur napasmu" ucapnya. Aku menarik napasku, menghirup udara sebanyak yang kubisa kemudian menghembuskannya.
"Lagi," perintahnya dan aku mengulangi menarik napasku.
"Lagi,"
"Kau akan terus melakukannya sampai aku tahu kau sudah rileks" dan aku melakukannya sebanyak lima kali lagi sebelum Chanyeol menghentikanku. Dia bertanya melalui matanya dan aku mengangguk padanya.
"Aku akan melakukannya dengan cepat"
Sebelum aku bisa menjawabnya, Chanyeol telah menghentak penisnya ke dalam lubangku begitu keras, cepat dan aku menjerit. Bola mataku berputar kebelakang, memutih bersamaan dengan penisnya yang menghentak tepat menyentuh prostatku dalam sekali hentakan.
"Chanyeol.. ahh…" aku merintih saat dia tenggelam dalam diriku.
"Oh Tuhan, Baekhyun" Chanyeol menarik napas dan mulai bergerak.
"akh ! ah.. " merintih ketika penisnya ditarik kemudian melesakkannya kembali dengan cepat. Kedua tanganku bertumpu diatas bahunya, meremat setiap kali Chanyeol bergerak didalam. Tangannya meremas kedua bongkah bokongku dan aku melenguh lebih keras. Dia mengulanginya kembali, begitu kuat, secara konstan.
"Ahh ah ah Chanh ! Ahh"
Pinggulku ikut bergerak berlawanan dengan gerakan Chanyeol. Mengikuti ritmenya dari dalam diriku. Akalku hilang dan aku hanya dapat memuja Chanyeol semenjak penisnya terus menhentak prostatku terus-menerus. Tidak memberi jeda atau bahkan waktu sejenak untuk membiarkanku menarik napas.
"Chan ahh yeol ah ahh oh God" ketika bibirnya membuat jejak ciuman disana, mengulumnya. Menggigit, meghisap, memutar putingku diantara jari telunjuk dan jempolnya membuat mulutku mendesah lebih keras dibawah belas kasihannya.
Ereksinya menekanku lebih dalam. Tangannya berpindah melingkupi penisku, membuat gerakan tidak beraturan dibawah sana dan aku berteriak, kenikmatan membuncah dari dadaku langsung kearah lipatan pahaku.
"Chanyeolhh.." aku merengek kembali.
Merasa telah begitu dekat dan peluh telah membanjiri seluruh tubuhku. Akan tetapi kemudian dia menutup lubang kencingku, menghentikanku, dan itu membuatku menderita ketika dia mendorong pinggulnya lebih keras dan menekan prostatku yang telah ngilu.
"Ah ! Chanyeol, kumohon !"
Aku meneriakkan ratapan yang tidak jelas.. ini terlalu berlebihan. Chanyeol mengerang keras ketika aku merasakan penisnya yang telah menggembung didalam diriku. Menyodoknya lebih dalam, lagi dan lagi, berulang-ulang, dan aku tersesat, mencoba menyerap semua kenikmatan. Ini mengacaukan pikiranku, mengacaukan tubuhku, mencoba untuk mengontrol klimaksku yang hampir sampai, tapi aku tak bisa. Aku tak tertolong dan aku hanya miliknya, melakukan seperti apa yang Chanyeol inginkan. Airmata menusuk mataku, ini terlalu intens.
"Baekhyun" Chanyeol menggeram diantara desahanku yang tak karuan dan napasnya yang terengah mengejar puncak nafsunya.
Dua hentakkan keras terakhir dan aku meledak disekitarnya, lagi, dan lagi. Kakiku mengejan dan aku berteriak sekeras mungkin saat tubuhku terbang kelangit ketujuh, merobekku menjadi dua, membakar tubuhku. Aku kacau, air mata turun ke pipiku- tubuhku berdenyut dan bergetar. Berikutnya Chanyeol datang dengan keras didalamku saat tubuhku masih bergetar, rasanya begitu penuh. Ini sangat menguras, melelahkan, hedonisme gila yang sayangnya kusukai.
Chanyeol mencium mataku, turun kehidung, pipiku. Dia mencium air mataku, menangkup wajahku dengan kedua tangannya, wajahku memerah. Keningnya berada dikeningku, begitu juga dengan hidung mancungnya. Napasku masih tersengal, tapi kupu-kupu begitu penuh didalam perutku.
"Aku mencintaimu Park Baekhyun" ucapnya, kedua matanya menyelami kedua sabitku. Oh suara rendahnya.
"Aku lebih mencintaimu Park Chanyeol" ucapku tak mau kalah, Chanyeol terkekeh dan kami berpagutan kembali.
.
.
.
Aku melenguh lirih sebelum membuka kedua mataku. Bibirku tertarik dikedua sisi ketika melihat Chanyeol dalam jarak pandangku. Aku bisa merasakan kedua lengannya merengkuhku begitu hangat. Kami sekarang telah berada di hotel tempat Chanyeol menginap. Chanyeol membawaku ke tempatnya karena kurasa aku jatuh tertidur, tepat setelah Chanyeol selesai menghentak tubuhku diatas mejanya dan mendapatkan klimaksnya oleh mulutku yang maju mundur mengulum penisnya. Kami memang baru berhenti setelah Chanyeol mendapatkan pelepasannya yang ketiga.
"Sudah bangun ?" tanya Chanyeol.
"as you can see" jawabku sekaligus menggeser tubuhku, merapat didadanya.
"Kau harus makan" ucapnya sambil mengelus pipiku.
"Tidak mau. Aku tidak lapar" ucapku memberengut dan dia tidak menyukai jawabanku.
"Baekhyun kau harus makan. Aku tahu kau belum makan siang, dan ini sudah jam 7 malam. Kau harus makan"
Lihat bagaimana dia berbicara ?, sungguh bossy. Aku hampir lupa bahwa dia bisa berubah sensitif mengenai kebutuhan makanku.
Aku mendengus dan kembali meringkuk diatas ranjang kali ini menjauhinya.
"Aku akan memanggil room service. Sambil menunggunya datang, bagaimana jika mandi ?" tawarnya.
Sontak aku langsung menaikkan selimutku ke atas dan Chanyeol terkekeh.
"Apa yang kau pikirkan ?" tanyanya dan pipiku merona atas asumsi yang diciptakan pikiranku sendiri.
"T-tidak ada" elakku.
"Aku akan menyiapkan air hangat di bak mandi dan kau bisa berendam disana sambil menunggu makan malammu" ucapnya kemudian berlalu menuju kamar mandi.
Tanpa sadar aku menghembuskan napasku. Bodoh, apa yang kau pikirkan Baekhyun ?. Kau pikir Chanyeol setega itu untuk menyetubuhimu setelah kalian mendapatkan pelepasan luar biasa di kantornya tadi ?. Astaga, hentikan sekarang juga otak mesummu, rutuk dewa batinnya.
Tidak lama kemudian Chanyeol kembali, lalu dengan perlahan mengangkat tubuhku. Menggendongku di lengannya dan melangkah menuju kamar mandi. Perlahan menurunkanku kedalam bak mandi yang telah terisi air hangat juga bau strawberry yang menguar. Aku meringis ketika merasakan airnya merengsek masuk menyentuh bagian selatan tubuhku. Aku juga merasakan sedikit nyeri di pinggulku.
Ah, Chanyeol memang terlampau hebat.
Dia mencondongkan tubuhnya kemudian, merunduk mengecup pucuk kepalaku dan keluar dari kamar mandi setelah memastikan aku telah benar-benar nyaman.
.
.
.
"Kau jadi mengunjungi kakekmu ?" tanyaku ketika melahap makan malamku sedangkan Chanyeol dengan rum ditangannya.
"Entahlah. Aku bermaksud untuk membatalkan rencanaku untuk mengunjunginya karena sudah begitu lama disini dan aku menyesal meninggalkanmu sendirian"
"Tentu saja kau harus menyesal" ucapku begitu lirih melupakan bagaimana tajamnya pendengaran Chanyeol.
"Aku minta maaf Baekhyun.." suaranya mendayu dan aku tidak tahan.
"Berhenti minta maaf Chanyeol. Kau tidak melakukan kesalahan .. hanya saja membuatku kecewa(batinku melirih). Lagipula aku disini, bersamamu. Tidakkah kau ingin menemui kakekmu ?"
"Haruskah ?"
Aku mengangguk.
"Kenalkan aku juga padanya" ucapku.
"Aku yakin kakek akan menyukaimu"
"Kakekmu tahu perihal cucunya yang menikah kan ?"
"Of course he knew. Ayah telah mengabarinya tapi kakek tidak bisa datang karena sakit" jelas Chanyeol.
"Sakit ? bagaimana keadaannya sekarang ? " ulangku dan Chanyeol mengangguk.
"Sudah membaik, buktinya kakek sedang berlibur sekarang" ucapnya sambil sedikit terkekeh.
Aku mengangguk-angguk. Meletakkan garpu dan menarik tisu untuk mengelap mulutku.
"Aku heran kenapa kakekmu tinggal disini, sedangkan anaknya berada di Korea. Tidakkah kesepian ?" tanyaku.
Sejujurnya aku begitu penasaran dengan kakek Chanyeol. Aku masih ingat ketika dulu sebelum kami menikah, Chanyeol meninggalkanku untuk pergi ke Manhattan untuk mengurus anggur kakeknya. Sekarang, kakeknya berada disini. Apa orang tua itu memang hidup berpindah-pindah atau bagaimana ?.
"Pamanku akan mengunjunginya seminggu sekali. Dia disini hanya sekedar berlibur. Tempat tinggalnya yang sebenarnya ada di Washington walaupun dia lahir di UK"
Tunggu, apa ?.
"Dia bukan orang korea ?" dan aku tidak menyangka saat Chanyeol mengangguk.
Pantas saja wajah ayah Chanyeol dan Chanyeol tidak seperti orang Korea pada umumnya, hidung mancung juga rahang tajamnya. Mereka sama-sama memiliki garis wajah yang begitu tegas, berbeda dengan ibunya yang begitu lembut dan tenang.
"Bagaimana bisa ?" ucapku. Chanyeol menegak habis gelas berisi rum ditangannya.
"Kau menyuruhku untuk berbicara silsilah keluarga ?"
"Oh ayolah, aku penasaran Chanyeol" aku merengek tapi Chanyeol menggeleng sambil meletakkan gelas kosongnya.
"Tidak, sebaiknya kita tidur" ucapnya sambil beranjak dari kursinya dan berjalan menghampiriku, menarik tanganku untuk mengikutinya.
"Tapi aku sudah tidur tadi"
"Nah, kita akan kesana besok pagi. Jadi sebaiknya tidur lebih awal"
Aku hampir memprotesnya kembali tapi Chanyeol langsung membungkam bibirku dengan bibir penuhnya dan mengangkatku tubuhku untuk dia turunkan diatas ranjang. Menarik selimut sampai diatas dada dan aku mendapatkan kecupan diatas keningku.
"Tidur" dan itu perintah, karena aku bisa melihat raut wajahnya tidak menginginkan argumen dimalam hari. Maka aku memutuskan untuk menurutinya, segera memejamkan mataku bersiap ke alam mimpi.
.
.
.
Tepat jam 9 pagi, kami sampai di rumah kakek Chanyeol. Ketika aku turun dari mobil, mulutku sempat menganga dan bertanya pada Chanyeol apakah kami berada di alamat yang benar karena aku tidak menyangka akan melihat rumah kayu sebesar ini walaupun arsitekturnya terkesan sederha.
Tanganku menarik bagian belakang jaket yang Chanyeol pakai ketika dia main masuk begitu saja. Tidakkah seharusnya kita menekan bel terlebih dahulu ?, maksudku sedikit sopan santun. Chanyeol menghentikan langkahnya dan aku yakin bahwa kami sedang berada di ruang tengah. Aku bisa melihat figur seorang pria tengah duduk menikmati kopi panasnya di sisi kanan. Ah, bau kafeinnya begitu kuat.
"Kakek, aku datang" ucap Chanyeol.
Oh ?. Dan benar saja ketika pria itu menoleh- dia sama sekali bukan orang korea !. Alisnya tebal namun telah sedikit memutih, hidung yang mancung dan iris mata berwarna abu-abu terang.
"Richard ? You come ? Oh God.." kedua bibirnya menarik senyum begitu lebar ketika netranya menemukan Chanyeol.
Pria paruh baya itu sedikit kesulitan saat berdiri tapi Chanyeol segera membantunya untuk berdiri.
"Are you very busy ? why is it taking so long to come here ?" ucap kakek Chanyeol lalu segera membawa cucunya itu kedalam pelukannya.
"Don't whine, I'm already here"
Dan tepukan begitu keras dari kakek Chanyeol tidak terhindarkan setelah Chanyeol mengatakannya.
Aku menggigit bibirku ketika kedua mata kami bertemu, sangat canggung. Orang tua itu terlihat sedikit bingung, dan aku memakluminya.
"Who is he ?" ucapnya setelah sebelumnya melepaskan pelukan. Aku telah akan memperkenalkan diri sebelum Chanyeol memberi gestur untuk membuatku berhenti berbicara.
"Try to guess," ucap Chanyeol sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana jeansnya.
Kening kakeknya semakin mengerut dan aku sudah cukup gugup diatas kakiku sendiri.
"No idea ?" tanya Chanyeol dan kakeknya menggeleng.
Setelah itu aku benar-benar dibuat mematung ketika Chanyeol memutar tubuhnya, menghampiriku dan meletakkan lengannya didepan perutku. Memelukku dari belakang, meletakkan dagunya dibahu kananku dan- oh jangan lupakan kecupannya dileherku. Di depan kakeknya ?. Ya, kau benar didepan kakeknya dan aku meminta Tuhan untuk membelah bumi dibawah kakiku sekarang juga sehingga aku bisa langsung mengubur diriku dalam-dalam. Aku malu !.
"Well, I never bring anyone except this one to meet you so.." ucap Chanyeol menggantung dan perubahan raut wajah orang tua itu begitu jelas dimataku. Terkejut.
"It can't be ! You must be Bekyon !"
Bekyon ? Uh.. aku tidak menyangka akan mendengar namaku seperti itu.
"It's Baek-hyun. Not Bekyon. Can you just spell it properly ?"
"Shh.. Chanyeol, tidak apa-apa"
"Ah, aku minta maaf. Sudah lama aku tidak berbicara bahasa korea. Senang berkenalan denganmu.. Bae- Bek.. Uh.. Baekhyun ?"
Dan aku juga tidak menyangka orang tua itu bisa berbicara bahasa korea dengan fasih.
"Senang berkenalan dengan anda, kakek" ucapku tidak lupa mengulas senyum.
"Kakek tidak melakukan apapun hari ini ?" tanya Chanyeol.
"Aku memutuskan untuk istirahat. Pinggangku terasa sakit setelah kemarin duduk berjam-jam untuk memancing"
"See, you never heard me. Watch your health ,you're old. Aku akan naik ke atas bersama Baekhyun, dia butuh istirahat"
"Chanyeol-"
"Anak nakal ! siapa yang baru saja kau panggil-"
"See you at lunch !" Ucap Chanyeol memotong ucapan kakeknya lalu segera menarikku keatas menaiki tangga menuju kamarnya,kupikir.
.
.
.
"Tidakkah kau sedikit kasar ?" tanyaku sambil mensejajarkan kedua kakiku yang entah kenapa begitu pegal diatas ranjang, sedangkan Chanyeol sibuk membuka kemejanya dan menggantinya dengan kaos lengan pendek berwarna hitam.
Dia sangat panas, dan terimakasih, aku menikmatinya. Sangat.
"Tenang saja, kami sudah terbiasa seperti itu. Apa yang kau lihat ?" tanyanya kini telah sepenuhnya menghadapku. Oh sial, mataku.
"A-apa ? aku tidak melihat apa-apa"
Chanyeol mendekat, mengambil tempat duduk disamping kakiku lalu mulai memijatnya.
"Chanyeol, tidak usah. Aku baik-baik saja" ucapku mencoba menahan tangannya tapi Chanyeol adalah Chanyeol. Bersikeras memijat kakiku kembali. Tangannya kini berpindah memijat betisku dengan perlahan, begitu nyaman.
"Apakah sangat pegal ?" tanyanya. Aku menggeleng.
"Aku baik-baik saja" jawabku.
"Apakah baby begitu berat ?" Chanyeol mengulangi pertanyaannya.
Aku mengulas senyum. Membawa tanganku untuk mengelus pipi kirinya. Bohong jika aku tidak pegal. Aku tahu bahwa kandunganku masih belum bisa dikatakan besar. Tapi terkadang tubuhku mudah merasa lelah entah bagaimana. Aku sudah pernah menanyakannya pada dokter Lim dan beliau mengatakan bahwa itu wajar ketika seseorang yang mengandung mudah merasa lelah. Jadi aku pikir itu baik-baik saja.
"Tidak, tidak sama sekali Chanyeol. Hanya saja kadang tubuhku terasa lelah, mungkin aku kurang olahraga" ucapku sedikit terkikik di akhir. Faktanya memang aku tidak terlalu suka olahraga.
"Kau yakin ?" tanyanya terlihat masih ragu.
"Ya, dokter Lim juga mengatakan bahwa ini wajar. Jadi lepaskan tanganmu, aku baik-baik saja hm ?"
Chanyeol mengecupku begitu tiba-tiba, sedikit membuatku terkejut.
"Biarkan aku memijatmu beberapa menit lagi. Berbaringlah"
"Bagaimana jika aku tertidur lagi ?"
"Aku akan membangunkanmu saat makan siang" ucapnya sambil mendorong tubuhku untuk berbaring diatas ranjang.
"Istirahat saja" ucap Chanyeol sekali lagi, dan aku benar-benar tenggelam ke alam mimpi 5 menit berikutnya.
.
.
.
Aku sedang berada di balkon lantai dua rumah ini. Pemandangan dari sini begitu hijau dan sejuk, sangat menyegarkan. Aku dan Chanyeol telah makan siang tadi bersama kakek, setelahnya dia meninggalkanku karena tiba-tiba Minho menelponnya, dan sekarang aku mati kebosanan.
"Baekhyun ?" terdengar suara dari arah belakang.
Aku menoleh.
"Ah kakek" ucapku sambil sedikit membungkuk ketika kakek Chanyeol berjalan menghampiriku.
"Kenapa berdiri ? duduklah" ucap kakek Chanyeol.
Aku mendudukkan diri di atas kursi kayu, tepat disampingnya.
"Aku mendengar dari Chanyeol, kau tengah mengandung. Benarkah ?"
"Ne.." sambil mengangguk, sedikit kaku.
"Sudah berapa bulan ?"
"Sekitar 3 bulan"
"Hmm, aku masih tidak menyangka cucuku menikah dengan seorang pria, dan pria itu kini tengah mengandung"
Aku terdiam, bingung akan menjawab apa. Dia sedang memberitahuku keterkejutannya ataukah kekecewaannya ?. Karena cucunya menikahi seorang berjenis kelamin sama, seorang pria.
Aku tersentak ketika merasakan telapak tangannya diatas punggung tanganku.
"Tolong selalu jaga kesehatanmu dan bayi yang kau kandung. Cucuku Chanyeol, bukan seseorang yang mudah mengutarakan apa yang dia rasakan. Tapi aku tahu bocah itu sangat mencintai kalian"
Ucapannya begitu tulus hingga sampai pada hatiku.
"Terimakasih kakek. Aku akan menjaganya dengan baik" ucapku tidak dapat menyembunyikan senyumanku yang begitu lebar. Aku hanya begitu bahagia.
"Bolehkah aku menyapanya ?" tanyanya. Tapi entah kenapa sorot matanya- bagaimana bisa kedua matanya berbinar juga mendung disaat yang bersamaan ?. Aku sedikit mengeryit namun tetap menganggukkan kepala, memberinya ijin.
"Tentu saja kakek"
Aku bisa melihat tangannya yang telah keriput itu sedikit bergetar diatas perutku, bergerak kekanan dan kekiri. Mengelus perutku. Tapi kemudian aku berubah panik ketika melihat airmata mengalir diatas pipinya.
"Kakek ? kakek tidak apa-apa ?" tanyaku. Namun kakek Chanyeol hanya tersenyum, menarik tangannya dari atas perutku lalu menyeka airmatanya.
"Ya, tentu. Maaf aku hanya terbawa suasana"
Punggungnya dibawa untuk bersender, sedang matanya menerawang kedepan, entah apa yang tengah dipikirkannya.
.
.
.
Aku sedang mengeringkan rambutku setelah mandi ketika terdengar dering panggilan dari smartphoneku. Aku mematikan hairdryer lalu segera menjawab panggilan itu.
"Yeobseo ?"
"…"
Dahiku mengeryit ketika hening yang terdengar.
"halo ?"
Aku hampir mematikannya ketika berikutnya jantungku terasa berhenti berdetak untuk sesaat.
"Apa kau menyukai buket bunga yang kuberikan ?"
Suara itu. Tidak mungkin, tidak mungkin, tidak mungkin, tidak mungkin, tidak-
"Maaf, sepertinya anda salah orang" ucapku masih berusaha untuk terlihat tenang. Kemudian suara tawa terdengar, dan cukup untuk membuatku tubuhku meremang karenanya.
"Hahahaha.. oh ya ? jadi ini bukan Park Baekhyun ?"
Jari-jariku seketika bergerak tergesa-gesa untuk langsung mengakhiri panggilan.
Kilasan ingatakan ketika rasa dingin ketika pisau menyentuh leherku beberapa waktu yang lalu kembali datang, tanpa sadar darah keluar dari ibu jariku ketika aku menggigitnya terlalu keras. Aku.. takut.
"Baekhyun ?"
Berikutnya kurasakan tangannya berada dibahuku, lalu memutar tubuhku untuk menghadapnya.
"Hei, ada apa ?"
Kedua manik phoenixnya terlihat khawatir. Aku hanya menggeleng mencoba sekuat tenaga menahan airmataku yang ingin turun.
"Baekhyun.."
Ketika pandanganku mulai memburam dan akan meledak, Chanyeol menarikku kedalam pelukannya, merengkuhku begitu hangat. Kemudian tangisku pecah diatas dadanya. Aku takut.
.
.
.
.
.
AKHIRNYA UPDATE JUGA ! hehe.
Short story, jadi semester ini dosen-dosenku lebih strict dibanding semester kemarin. Entah itu dari tugas individu, kelompok, atau kuis tiap pertemuan. Karena sksnya juga lebih banyak dari semester kemarin, jadi agak susah untuk nyari waktu yang benar-benar luang, apalagi kalo udah deadline sama revisi hm :).
Since I'm not a multitasking person, jadi mohon maklum dan sabar ya jika updatenya lama. But I made it !, Thankyou so much buat kalian yang tetep setia di ff ini. Jangan lupa tinggalkan review ya !.
