UNBELIEVABLE MARRIAGE
Summary : Sebelum meninggal, Kushina dan Minato meninggalkan pesan bahwa Naruto harus menjemput istrinya di Quebec City. Sementara Naruto tidak ingat pernah menikah? Apa yang sebenarnya terjadi? Tiba-tiba kehidupannya yang tenang berubah.
Disclaimer : Karakter milik Om Masashi. Cerita sepenuhnya milik Author. Arigatou.
Warning : Au, Ooc, Marriage Life. NaruSaku.
oOo
PRAKK!
Sakura melemparkan sesuatu hingga terdengar bunyi pecahan cermin yang sangat keras. Cukup keras untuk membuat Tenten yang sedang berada di dapur menghampiri pintu kamar Sakura dan bertanya-tanya dengan tingkah Sakura di dalam kamar.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Tanpa meminta izin Tenten masuk ke dalam kamar Sakura dan menemukan wanita itu sedang memeluk lutut sambil berjongkok di atas pecahan cermin yang berserakan di mana-mana. Kakinya terluka dan mengeluarkan banyak darah.
"Sakura-sama!"
Tenten langsung memburu memeluk majikannya. Ia kemudian melihat botol obat yang tergeletak di lantai dengan isinya yang keluar dan berceceran. Itu obat penenang yang dulu sering Sakura minum sebelum pertemuannya dengan Naruto! Sejak kapan majikannya mulai meminum obat itu lagi?
"Sakura-sama. Aku di sini." Tenten memeluk tubuh Sakura yang berguncang menangis. Ia tidak tahu bahwa efek pertemuan kembali mereka dengan Naruto akan sedahsyat ini untuk Sakura. "Apa kau ingin kita kembali lagi ke Montreal? Aku akan memesankan tiket untuk kita pulang. Ayo kita pulang."
oOo
Pagi itu Tenten menyiapkan sarapan seperti biasa. Ia terus melemparkan tatapan pada Sakura yang tampak baik-baik saja pagi ini. Seolah tidak terjadi apa-apa. Tenten menaruh sepiring sandwich di depan Sakura dan menunggu respon wanita itu namun Sakura hanya diam dan mengambil piring sandwich yang diserahkan Tenten. Sai berlarian di ruang makan mengejar Haru yang masih kukuh tidak mau sarapan pagi ini. Sementara Sasori duduk dengan tenang namun tidak sekali pun matanya berani menatap Sakura.
Tenten menghela napas kasar, ia tidak suka situasi yang baik-baik saja ini setelah apa yang terjadi semalam.
Rencananya hari ini Sakura akan berkunjung ke rumah Ino, ia juga sudah punya janji untuk membatu mencarikan souvenir yang bagus untuk pestanya. Ino menunggu mereka di depan departement store tempat mereka akan keliling. Ia terlihat berdiri sendirian di lobi, Sakura setengah berlari menghampiri sahabatnya.
"Pig!"
"Hei Forehead! Kau ke mana saja?!" Ino sedikit membentak Sakura dan memeluk sahabatnya sangat erat. "Kupikir kau sudah lupa denganku!" Ino menangis.
"Itu tidak mungkin, aku tidak mungkin melupakanmu."
"Jadi?" Ino melepas pelukannya dan memegang kedua tangan Sakura. Ia pun melebarkan kedua matanya saat melihat Tenten berdiri di belakang Sakura sambil menuntun Haru. Ino tidak kuasa menahan keterkejutannya. Ia menutup mulutnya dan melangkah mendekati Haru.
"Perkenalkan, ini Haru. Haru, ini Tante Ino. Dia teman Ibu."
Haru maju selangkah sambil mengulurkan tangan kecilnya. "Bachan, salam kenal."
Ino menutup mulutnya tidak percaya. "Ha-Ha ... Ini a-anakmu Sakura? Astaga!"
"Ceritanya panjang. Nanti aku ceritakan. Sekarang bagaimana kalau kita lanjutkan seperti rencana awal?"
"Kau berhutang banyak cerita padaku?"
"Kau juga! Bisa-bisanya ya kau dekat dengan laki-laki dan aku tidak tahu!"
"Kau lebih buruk Forehead! Kau punya anak dan sudah sebesar itu dan aku tidak tahu?!" Mereka melanjutkan perjalanan sambil berdebat.
"Aku tidak punya nomor kontakmu. Aku menghapus semuanya meskipun setelah itu aku menyesal menghapus semuanya!"
Ino cemberut. "Dasar bodoh! Setidaknya sisakan nomorku! Memangnya aku ini siapa?"
Hari beranjak sore dan Ino memperoleh nyaris sepuluh kantong souvenir di tangannya. Ia rasa itu sudah cukup. Bahkan Sakura justru mengira itu terlalu berlebihan. Bayangkan saja mereka menghabiskan satu hari penuh untuk memperoleh kurang lebih dua puluh jenis souvenir yang sisanyaa akan dikirim langsung ke rumah Ino. Hari yang sangat panjang.
Ino melihat mobil Shikamaru yang sudah terparkir di jalan tengah menunggunya. Ia melambaikan tangan memberikan tanda kalau dirinya tidak jauh dari mobil Shikamaru. Entah kebetulan atau apa, Sakura juga melihat seseorag lain di mobil Shikamaru. Ya, tentu saja bos sekaligus teman dekat pria itu. Uzumaki Naruto.
"Err Ino sepertinya sampai di sini saja. Aku akan naik taksi dan segera pulang. Lagipula sepertinya Haru sudah kelelahan." Sakura melirik Haru yang tertidur pulas di gendongan Tenten.
"Ah kukira kau mau kuantar pulang sekalian?"
"Tidak perlu. Tidak akan cukup menampung kami."
Ino tersenyum penuh arti. Ia bukan tidak tahu jika sahabatnya sedang menghindari Naruto. Tadi Shikamaru sempat bilang kalau ia membawa Naruto di mobilnya karena mereka sedang dalam perjalanan pulang dari kantor, dan kebetulan dekat dengan posisi Ino. Ino meraih kepala sahabatnya dan menepuknya pelan.
"Aku selalu percaya padamu, dan aku juga percaya kau memiliki alasan untuk keputusan yang kau ambil. Aku hanya terus berharap untuk kebahagiaannmu." Setelah mengatakan hal terseut Ino langsung meluncur menghampiri mobil Shikamaru. Sakura hanya termenung memandang bayangan Ino yang masuk ke dalam mobil lalu pergi meninggalkannya.
oOo
Naruto menyandarkan punggungnya pada sandaran mobil. Ia melirik Ino melalui kaca spion dan melihat betapa banyaknya wanita itu belanja untuk keperluan pernikahan. Ia menguap, tiba-tiba saja ia merasa mengantuk. Sepertinya tadi ia tidak salah lihat saat melihat Ino sedang bersama orang lain di halaman Mall. Orang itu pasti Sakura. Ia bisa langsung mengenalinya hanya dengan melihat warna rambutnya yang mencolok. Ingatannya terbang pada kejadian penolakan Sakura semalam. Mengingat kejadian itu membuat perasaannya terasa aneh, ia tidak suka.
Ino dan Shikamaru tidak mengucapkan sepatah kata pun saat berada di dalam mobil. Di tengah keheningan itulah dering ponsel Naruto berbunyi dan terdengar sangat keras. Naruto terbangun dan melihat deretan nomor di layar ponselnya. Ia berjengit kaget saat melihat namanya.
SAKURA?
"Ha-halo?"
"Bisa bicara dengan keluarga Nona Uzumaki Sakura?"
Naruto mengernyit heran, suara dari seberang adalah milik laki-laki dan terdengar sopan.
"Kami dari Rumah Sakit Konoha. Nona Sakura, pengasuh beserta putranya, saat ini sedang dalam perawatan IGD kami. Mereka mengalami kecelakaan beberapa saat lalu, jadi bisakah walinya datang ke sini?"
DEG
"Shikamaru kita balik arah!"
"Apa?" Shikamaru yang terkejut spontan menginjak rem.
"Kita ke RS Konoha. Sakura kecelakaan!"
"APA!" Ino dan Shikamaru sontak berteriak. Tanpa pikir panjang Shikamaru langsung memutar balik stirnya kembali.
OOo
Sakura membuka mata dan meringis saat merasakan sakit di kepalanya. Ia melihat botol infusan yang menggantung di sampingnya serta langit-langit yang berwarna putih. Tak lama kemudian, banyak suara yang masuk ke kepalanya.
"Sakura!"
Teriakan itu membuat Sakura menoleh ke arah suara. Ia bisa melihat Sasori berdiri di sampingnya ditemani Sai. Apa yang sebenarnya terjadi? Saat itulah otaknya memutar ulang memori ketika dirinya naik ke atas taksi dan tidak lama setelah itu ia merasakan tubuhnya terbanting dengan sangat keras.
"Haru?!" Sakura sontak bangun saat mengingat anaknya. "Di mana Haru?"
Sai menunduk, tidak berani mengatakan apa-apa.
"Di mana Haru?"
"Haru mengalami luka serius dan sekarang masih di dalam ruang operasi."
Saat itulah Sakura langsung mencabut jarum infusan di tangannya dengan kasar dan turun dari ranjang pasien. Ia berlari menuju pintu namun Sasori menahannya.
"Kau masih sakit, Haruno-sensei?"
"Biarkan aku lewat."
Tanpa pikir panjang Sai langsung bergerak membantu Sakura untuk berjalan tertatih-tatih menuju ke ruangan di mana Haru berada. Sakura bersikeras melihat Haru meskipun tubuhnya sendiri dipenuhi luka-luka. Sesampainya di lorong dekat ruang operasi, Sakura bisa melihat Naruto ditemani Ino dan Shikamaru sedang duduk di kursi tunggu. Wajah mereka cemas menunggu keadaan Haru.
"Na-Naruto?"
Naruto menengadah dan melihat kondisi Sakura dengan wajah pucat dan perban di kepalanya. Ia berdiri meraih bahu istrinya. "Sa-Sakura, Haru ..." lantas menarik Sakura dalam pelukannya. Sakura perlahan menangis. Tangisan yang semakin lama semakin keras. Sasori yang melihat hal tersebut hanya memalingkan wajah, sementara semua orang turut berduka dengan kejadian ini.
Apa ini? Apa semua ini? Dinding yang Sakura bangun tinggi-tinggi agar tidak goyah di hadapan Naruto hancur begitu saja. Ia tidak tahu apa yang sedang dilakukannya. Ia tidak terpikirkan hal lain saat ini otaknya hanya dipenuhi kekhawatiran pada Haru. Ia tidak peduli pada ego atau apa pun itu jika ini tentang Haru. Ia hanya memeluk Naruto sebagaimana seharusnya. Ia hanya ...
"Tidak apa-apa, Haru pasti baik-baik saja," ucap Naruto begitu tenang. Tangisan Sakura merendah, Naruto melepas pelukannya dan mengajak Sakura duduk di kursi, dan Sakura menyandarkan kepalanya di bahu Naruto. Mereka berpegangan dengan sangat erat.
"Apa kau baik-baik saja?"
Sakura menggeleng lemah sebagai jawaban. Ia justru menyembunyikan wajahnya di lengan Naruto. Entah berapa lama sejak terakhir kali ia mendapatkan sandaran yang nyaman saat dirinya dalam kondisi seperti ini. Dua jam sudah berlalu, Ino dan Shikamaru sudah berpamitan pulang dan Sai meminta diri untuk mencarikan mereka makanan. Sementara itu Sasori berada di ruangan tempat Tenten dirawat. Lebih tepatnya menghindari dua orang yang akan mambuatnya canggung bergerak. Operasi masih berlangsung. Semua orang melayangkan doa yang sama, berharap Haru baik-baik saja. Sakura tertidur sebentar di bahu Naruto, beberapa saat kemudian ia terbangun dan menangis, lalu tertidur lagi, begitulah seterusnya.
"Kau tahu, aku tidak pernah berharap kita seperti ini," lirih Naruto sambil terus menggenggam tangan Sakura.
Mata Sakura tertutup namun telinganya bisa mendengar kalimat Naruto. "Hari itu, tiga tahun yang lalu, aku pergi ke rumah sakit sebagai ucapkan perpisahan yang terakhir untuk Hinata. Aku ... Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu. Aku tidak pernah bermaksud membantakmu. Aku tahu tidak akan ada yang berubah meskipun aku menjelaskannya sekarang. Aku tahu salahku kau terluka sendirian, karena otak bodohku yang melupakan semuanya. Karena aku kau melewati masa-masa yang sangat sulit dan bahkan membesarkan Haru seorang diri. Waktu yang tidak akan pernah bisa aku bayangkan bagaimana sulitnya saat itu. Untuk itu aku meminta maaf padamu. Maaf ini adalah untuk kebaikan anak kita." Naruto mengelus rambut Sakura lembut, sementara Sakura mendengarkan semua kalimat Naruto. "Dan maaf ini adalah karena aku tidak bisa lagi hidup di mana tidak ada kau di sisiku. Sakura-ku. Cherry ..."
oOo
Hari pernikahan Ino berjalan dengan lancar meskipun tanpa kehadiran Haru yang masih tidak bisa meninggalkan tempat tidur. Sakura pun hanya datang sebentar untuk menyapa lalu kembali lagi karena merasa tidak bisa meninggalkan Haru lebih lama. Salju berguguran menguarkan dingin. Membekukan setiap ingatan yang mulanya tercetak di kota ini. Sakura memandang ke luar jendela mobil yang berembun. Sejak kejadian di rumah sakit minggu lalu, Sakura belum mengatakan apa-apa. Ia berpura-pura tidak tahu apa-apa dan membiarkannya begitu saja. Bukan Sakura menolak keinginan Naruto untuk memperbaiki semuanya, ia hanya membutuhkan waktu untuk berpikir.
Sakura menghela napas kasar berkali-kali hingga membuat Sai yang sedang menyetir di sebelahnya merasa heran. Ada yang tidak beres dengan Sakura. Ah bukannya majikannya itu memang selalu tidak beres?
"Apa kau ingin mampir ke suatu tempat? Kurasa kau perlu bertemu seseorang?" celetuk Sai begitu saja.
"Jangan memulai," sergah Sakura merasa jengkel dengan candaan garing Sai. Pria itu sangat tidak cocok dalam hal bercanda.
Sai hanya tersenyum. "Aku serius." Sai berbelok di perempatan jalan dan mereka menyimpang dari jalan yang seharusnya menuju rumah tempat mereka menginap. Sakura melotot sadar ke arah mana Sai membawa mobilnya.
"Sai!" teriaknya panik. Mobil mereka pun terus bergerak menuju ke arah kantor Uzumaki. "Hentikan atau aku akan melompat turun!"
Sai bergerak cepat mengunci pintu penumpang dan menekan gas lebih keras lagi. Ia sudah tidak tahan melihat tingkah Tuan dan Nyonya-nya yang seperti sedang main petak umpet. Sebentar yang satu mencari tapi yang lain bersembunyi, giliran yang lain mencari, yang satu malah bersembunyi. Sebenarnya mau mereka itu apa?
"Kau harus bertemu seseorang! Aku yakin!" Sai bersikukuh.
"Sai!"
Sampai di lobi kantor Uzumaki, Sai menghentikan mobilnya lalu membuka kunci. Ia keluar untuk membukakan pintu penumpang dan keluarlah Sakura. Nyaris saja Sakura memukul kepala pengawal tidak sopannya itu jika saja ia tidak berubah pikiran. Ia memandangi gedung Uzumaki dengan seksama. Hatinya menghangat, ada banyak sekali kenangan yang ia tinggalkan di tempat ini. Tiba-tiba saja ia merasa perlu bertemu Naruto. Ya sudah saatnya ia berbicara pada Naruto. Suaminya.
Sakura masuk dikawal Sai di sampingnya. Spontan seluruh penjaga gedung menundukan kepala mereka saat menyadari istri Naruto yang datang. Lama sekali sejak terakhir kali istri presdir mengunjungi kantor Uzumaki. Sakura dikawal Sai sampai di depan pintu besar ruangan Naruto.
Ia melangkah memasuki ruangan yang terasa dingin lantainya, meskipun ia mengenakan highheels dan kakinya tidak berpijak langsung ke lantai. Atau hanya suasana ruangannya saja yang terasa dingin? Bukan lantainya? Naruto duduk di kursinya, di belakang sebuah meja berukuran besar sambil membelakangi dinding kaca raksasa yang menghubungkan langsung ruangan gedung dengan pemandangan Konoha yang ditutupi salju. Sangat indah dan menenangkan.
"Sakura?" respon Naruto begitu melihat Sakura memasuki ruangannya. "Apa yang membawamu ke sini?"
Sakura tersenyum kikuk. Tiba-tiba saja kata-kata Naruto terngiang dalam kepalanya.
Dan maaf ini adalah karena aku tidak bisa lagi hidup di mana tidak ada kau di sisiku. Sakura-ku. Cherry ...
Benarkah semua itu? Sakura sangsi. Namun hatinya sendiri tidak bisa berbohong. Ia juga merasakan hal yang sama terhadap Naruto.
"Aku ingin meminta maaf." Sakura menghampiri tempat Naruto duduk. "Karena telah meninggalkanmu, semua alasanku hanyalah pembenaranku saja yang masih tidak bisa menerima keadaanmu, karena kau sudah melupakan kita." Sakura semakin mendekati Naruto, dan kini ia berdiri tepat di hadapan suaminya.
"Sakura?"
"Aku tidak tahan lagi hidup di dunia di mana tidak ada kau di sisiku..."
Naruto terbelalak kaget. Bukankan itu kata-katanya saat di rumah sakit hari itu? Tapi seingatnya Sakura tertidur dan tidak mendengarnya. "Sakura kau ..."
"Bodoh. Naruto bodoh!" rutuk Sakura.
Naruto bangkit dan langsung membawa Sakura ke dalam dekapannya. "Cherry... Aku ...," Naruto mempererat pelukannya. Menyesap wangi Sakura yang sangat lama ia rindukan dalam kesepian. Sakura membalas pelukan Naruto. Ia tidak bisa menahannya lagi. Perasaan rindunya pada Naruto kian membuncah sepanjang waktu. Terlebih perpisahan-perpisahan memilukan yang menyiksanya selama ini. Ia tidak sanggup lagi menanggungnya.
Hari itu, tiga tahun yang lalu Sakura hanya terbawa emosi sesaat. Ia menyesali keputusannya setiap hari setelahnya. Dokter sering mengatakan jika perasaan sedihnya hanyalah efek dari hormon Sakura yang meningkat saat sedang mengandung. Namun perasaan sesaat itulah yang merubah segalanya. Ino benar, selama ini Sakura sangat salah karena terus lari dari masalah. Karena pergi mempersulit segalanya. Karena kepergian mengacaukan semuanya. Setelah ia sadar dengan apa yang sudah dilakukannya semua itu sudah terlambat. Naruto tidak pernah datang meskipun Sakura menunggunya. Semua kesalahpahaman itu terus berlanjut selama tiga tahun. Sampai akhinya mereka seperti benar-benar berpisah. Naruto tidak bisa menemukan Sakura dan tersiksa oleh penyesalan. Mereka telah sama-sama terluka.
oOo
To Be Continued
