Sehun merasakan tubuhnya ditarik paksa ke belakang oleh seseorang, yang kemudian disusul oleh lemparan bogem mentah. Pria bersurai blonde itu terjerembab ke tanah, mendesis pada sakit di rahang dan perih di sudut bibirnya yang berdarah.
"Beraninya kau." Suara rendah dari si pelaku bermakna geram. Itu Chanyeol, mengepalkan tangannya dengan kuat dan sorot menusuk tepat ke manik Sehun. "Bukankah sudah kuperingatkan kau untuk tak lagi mendekati Baekhyun, hah?! Dia milikku!"
"Dia bukan lagi milikmu, Park." Sehun mengoreksi dengan tegas. Senyum miring ia cetak sebagai sindiran. "Kalian sudah putus, ingat?"
Kepalan tangan Chanyeol sontak menguat. Habis sudah kesabarannya.
"DAN KAU ADALAH PENYEBABNYA, BRENGSEK!"
"Chanyeol, hentikan!" Baekhyun menahan tangan Chanyeol yang hendak memukul Sehun dan memeluknya agar pria tinggi itu tenang. "Kumohon, hentikan. Aku tidak mau kalian bertengkar.." pintanya memelas.
Chanyeol hanya mampu mengertakkan gigi guna menekan amarahnya. Ingin sekali ia memukul Sehun berkali-kali atas semua yang telah dilakukannya, tapi Baekhyun membuatnya lemah. Hell, jika bukan demi Baekhyun, Sehun pasti sudah babak belur di tangan Chanyeol, tak peduli sekalipun bocah itu keponakannya sendiri.
"Keluar dari rumahku hari ini juga. Kau paham?"
Ultimatum pun Chanyeol keluarkan. Ia sudah muak dengan Sehun dan meladeninya hanya memperburuk dirinya di mata Baekhyun. Jadi tanpa mengatakan apa pun lagi, Chanyeol pergi dari sana bersama Baekhyun, meninggalkan Sehun yang menatap tajam punggung pamannya.
.
.
.
###
AEIPATHY (BL VERSION)
Chapter 17 – One More Chance
Main Casts : Park Chanyeol & Byun Baekhyun
###
.
.
.
Sehun merasakan kehadiran orang lain saat ia mencoba bangkit dari posisinya. Ia menoleh, mendapati Kyungsoo berdiri dengan raut khawatir. Ah, pria burung hantu itu pasti menyaksikan kejadian barusan—batinnya.
"Apa?"
Kyungsoo menghela napas mendengar intonasi ketus Sehun. "Maaf aku menyaksikan semuanya." ucapnya tulus. "Kau tidak apa-apa?"
"Aku baik. Tidak usah pedulikan aku." sahut Sehun, lebih ketus dari sebelumnya. Ia tak mau berdiam diri dengan Kyungsoo lebih lama di sana dan memutuskan untuk pergi.
"Kau akan tinggal di mana setelah ini?"
"Bukan urusanmu."
"Kalau kau mau, kau boleh tinggal di apartemenku."
Namun ucapan itu sontak menghentikan gerakan tungkai Sehun. Ia bergeming di tempatnya untuk sesaat, sebelum menoleh pada Kyungsoo diiringi dengusan keras.
"Kenapa? Kau kasihan padaku?"
Alih-alih menjawab, Kyungsoo justru terdiam seribu bahasa. Ia tak tahu harus berkata apa karena tebakan Sehun tidak salah.
"Cih." Sehun merotasikan bola matanya. "Simpan saja rasa simpatimu." Lalu pergi meninggalkan Kyungsoo di belakang sana.
.
.
Belum ada kata terucap bahkan sampai Chanyeol menginjak pedal rem mobilnya di depan kediaman Byun. Baekhyun hanya terdiam sambil sesekali mencuri pandang ke arah samping, sementara Chanyeol tampak fokus pada jalanan di depan sana.
Ciuman di taman tadi sungguh di luar kendali Baekhyun, ia sendiri masih terkejut karena aksi Sehun. Selama ini, Sehun selalu menjadi teman yang baik di mata Baekhyun. Tak sekali pun terbesit dalam benak Baekhyun bahwa Sehun akan menciumnya.
Namun hal yang sedari tadi terus mengganggu pikiran Baekhyun adalah reaksi Chanyeol waktu itu. Sebenarnya tak ada yang perlu Baekhyun khawatirkan karena ia dan Chanyeol sudah tak memiliki hubungan apa pun, hanya saja seperti ada yang mengganjal di hatinya.
Baekhyun sendiri tidak yakin apakah Chanyeol masih marah atau hanya sedang berusaha tenang, ekspresinya tidak terbaca. Namun apa pun itu, Baekhyun tidak suka situasi canggung yang tercipta di antara mereka.
"Bisa kita bicara sebentar? Aku ingin mengatakan beberapa hal padamu." Chanyeol akhirnya mengusir kesunyian itu dengan suaranya. Pria bersurai ash grey itu mematikan mesin mobil terlebih dahulu, kemudian menghembuskan napas sebagai awal. "Aku sudah memikirkan masalah kita secara matang-matang selama di perjalanan tadi dan kurasa aku berhutang banyak maaf padamu, Baek."
Baekhyun menoleh pada Chanyeol. Tampak jelas raut bersalah di air muka si jangkung.
"Maaf, karena telah menomorsatukan ego-ku. Bahkan sampai mengancam akan menghambat skripsimu segala, aku benar-benar menyesal, Baekhyun-ah.." Chanyeol balas menatap manik Baekhyun. Satu tangannya menggenggam jemari lentik si mungil. "Dan maaf, karena telah berbohong padamu.."
Baekhyun terkejut mendengar rentetan permintaan maaf Chanyeol. Padahal tadinya ia berpikir Chanyeol akan melontarkan pertanyaan macam-macam lagi padanya, terlebih setelah Sehun menciumnya, tapi ternyata tidak. Daripada itu, Chanyeol justru meminta maaf padanya dengan tulus.
"Aku takkan mengeluarkan alasan apa pun untuk menutupi sikapku yang keterlaluan ini. Kau berhak marah. Karenanya, aku minta maaf, Baek.."
Tak banyak yang Baekhyun lakukan selain menggigit kuat bibir bawahnya. Hatinya berdenyut ngilu jika teringat sikapnya ketika Chanyeol memperingatkannya berkali-kali tentang Sehun. Sekarang Baekhyun merasa sangat buruk pada Chanyeol. Tidak semestinya ia terus-terusan berpikir bahwa Chanyeol cemburu pada Sehun. Ada kalanya pria jangkung itu berkata sesuai fakta, mengingat ia mengenal Sehun lebih baik daripada Baekhyun. Dan seharusnya Baekhyun menyadarinya lebih awal; tentang perasaan Sehun, juga tentang niatan baik Chanyeol.
Baekhyun-lah yang seharusnya minta maaf pada Chanyeol.
"Aku tahu hubungan kita sudah berakhir dan aku tidak tahu apakah perasaanmu padaku masih sama atau telah berubah. Meski begitu, kuputuskan untuk memulai semuanya lagi dari awal. Sampai kau benar-benar menolak perasaanku," Chanyeol mengecup punggung tangan Baekhyun, tersenyum lembut di jeda kalimatnya. "Aku takkan menyerah tentangmu, Byun Baekhyun.."
Lambat laun Baekhyun bisa merasakan panas memenuhi pipinya, bersamaan dengan munculnya debaran menggila di balik rongga dadanya. Ingin sekali ia mengalihkan wajahnya ke arah lain, namun obsidian Chanyeol seolah mengunci pergerakannya.
"Hari sudah mulai gelap, sebaiknya kau pulang sebelum Sam mengkhawatirkanmu." Chanyeol memakaikan jaketnya di tubuh Baekhyun, memastikan si mungil merasa hangat. "Sebaiknya kau basuh tubuhmu dengan air hangat setelah ini. Kalau perlu, minumlah obat. Jangan sampai kau jatuh sakit karena hujan-hujanan, oke?"
Lagi, jantung Baekhyun menghentak kencang oleh perlakuan sederhana Chanyeol. Suara hentakannya pun masih sama seperti dulu; begitu menenangkan juga membuat candu. Baekhyun penasaran kenapa Chanyeol masih bisa bersikap begitu baik padanya, bahkan setelah semua yang terjadi di antara mereka? Ini membuat Baekhyun semakin sulit menentukan sikap.
"Ayo, aku akan mengantar—"
"Tidak perlu." Baekhyun menyela cepat. Pria bersurai brunette itu kemudian membuang wajahnya ke arah lain. "Kau juga pulanglah. Aku akan mengembalikan jaketmu besok."
Merasa tak memiliki hak untuk memaksa Baekhyun, Chanyeol pun mengangguk paham. "Baiklah." Lalu mengusuk lembut puncak kepala Baekhyun. "Sampai jumpa besok, Baekhyunnie.."
Baekhyun tak memberikan respon apa pun, hanya segera keluar dari mobil itu. Setelah memastikan Baekhyun masuk ke dalam rumah, Chanyeol melajukan kembali mobilnya. Satu senyum tipis tercipta di sudut bibir tebal itu. Sedikitnya ia bisa bernapas lega. Meski belum bisa berbaikan seutuhnya, tapi setidaknya Baekhyun masih mau bicara dengannya dan itu awal yang bagus.
.
.
Chanyeol tak menemukan kehadiran Sehun setibanya ia di rumah. Barang-barang di kamarnya pun sudah tidak ada. Keponakannya benar-benar pergi dari sana.
Jika pada situasi normal, Chanyeol pasti akan langsung menghubungi nomor Sehun dan menyuruhnya pulang detik ini juga. Namun setelah semua yang terjadi, Chanyeol justru senang Sehun pergi dari rumahnya. Katakanlah Chanyeol kejam atau semacamnya, tapi Sehun benar-benar sudah melewati batas dan Chanyeol tak bisa memaafkannya. Ia takkan membiarkan kejadian empat tahun yang lalu terulang kembali.
Tidak pada Baekhyun.
###
Satu helaan napas Kyungsoo buang setelah ia menyeduh kopi paginya. Pandangan pria bermarga Do itu terarah lurus ke luar jendela. Tiba-tiba kejadian kemarin di taman terlintas dalam benaknya. Seumur-umur, Kyungsoo baru kali ini melihat Chanyeol semarah itu pada seseorang sampai memukulnya segala. Terlebih 'seseorang' itu adalah keponakannya sendiri. Diam-diam Kyungsoo penasaran Sehun pergi ke mana setelah diusir Chanyeol. Mungkinkah Sehun kembali ke rumah orangtuanya atau menyewa kamar hotel?
"Aish, untuk apa juga dipikirkan? Bocah itu kan anak orang kaya, bodoh sekali aku menawarkannya untuk tinggal di apartemenku." cibir Kyungsoo pada dirinya sendiri. Satu sesap kopi melewati tenggorokannya sebelum atensinya bergeser pada jam dinding. Sekarang masih pukul tujuh pagi.
Sebenarnya Kyungsoo tak memiliki jadwal bimbingan skripsi hari ini, namun ia terus kepikiran pada Baekhyun. Bagaimana kabar sahabatnya setelah kejadian kemarin? Apakah dia baik-baik saja? Pasalnya Kyungsoo tidak tahu apa yang terjadi dan Baekhyun belum menceritakan apa pun padanya.
"Sebaiknya aku cek sendiri saja." Kyungsoo beranjak dari duduknya. Ia tak bisa berdiam diri setelah menyaksikan kejadian di taman itu.
.
.
Baekhyun sengaja berangkat lebih pagi agar ia bisa menitipkan jaket Chanyeol pada orang jurusan, tanpa harus bertemu langsung dengan Chanyeol. Jujur, Baekhyun masih merasa tidak enak hati pada Chanyeol dan berhadapan dengannya hanya akan membuat canggung keadaan. Jadi, menitipkan jaket itu pada orang jurusan sepertinya merupakan keputusan yang tepat.
"Permisi, Tuan Ryu." Baekhyun memanggil Tuan Ryu—salah satu orang jurusan. "Saya ingin menitipkan barang PCY Seonsaengnim, bisa?"
"Kenapa kau tidak temui langsung saja? Beliau ada di ruangannya."
Tersenyum kikuk, Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Saya ada urusan lain, tidak apa kan kalau saya titipkan saja di sini? Saya mohon."
"Baiklah. Siapa namamu?"
"Byun Baekhyun."
"Eh? Byun Baekhyun, katamu?"
"Iya. Kenapa?"
Tuan Ryu mengambil sesuatu di atas meja, lalu memberikannya pada Baekhyun. Itu sekotak susu strawberry dan sebuah buku. "PCY Seonsaengnim menitipkan ini untukmu."
"Eh? Dari PCY Seonsaengnim?" Baekhyun mengerjap kaget.
"Ya, beliau berpesan untuk memberikannya pada mahasiswa bernama Byun Baekhyun. Itu kau, kan?"
Baekhyun mengangguk membenarkan. Masih setengah kaget, ia terima susu strawberry dan buku itu. Ternyata itu adalah buku referensi, cetakan Cambridge pula. Tidak hanya itu, terdapat sticky note di dalam buku itu dengan tulisan tangan Chanyeol.
Don't skip you breakfast, Muffin~
From your secret admirer,
PCY
'Muffin'.
Panggilan sayang yang khusus Chanyeol buat untuknya. Entah kenapa, Baekhyun rindu panggilan itu.
"Ada lagi yang ingin kau titipkan untuk beliau?"
Suara Tuan Ryu tiba-tiba menyentakkan Baekhyun dari lamunannya. Pria mungil itu menggeleng sebagai jawaban, lalu berterima kasih sebelum berbalik pergi. Namun langkahnya refleks terhenti karena sosok pria bersurai blonde di hadapannya. Itu Sehun, menyapanya dengan senyuman lebar.
"Pantas saja tak ada siapa pun di rumahmu, kau berangkat lebih pagi rupanya."
Baekhyun mengernyit. "Kau..datang ke rumahku?"
"Yup, jadi kita bisa berangkat ke kampus bersama~"
Seketika kejadian kemarin di taman terbayang dalam benak Baekhyun. Tak berpikir dua kali, pria bermata sipit itu mengambil satu langkah ke belakang, lalu berjalan meninggalkan Sehun.
"Bee, tunggu dulu!" Tapi tentu saja Sehun tak membiarkan hal itu terjadi dan segera memotong langkah Baekhyun dengan menahan tangannya. Sehun tahu betul kenapa Baekhyun bersikap seperti ini padanya. "Maaf kalau kemarin aku membuatmu terkejut. Hanya kumohon, jangan mengabaikanku setelah ini, hm?"
Baekhyun tak memberikan respon berarti, maniknya bahkan tak menatap balik tautan mata Sehun.
"Bee, please.." pinta Sehun. "Tatap mataku—"
"Lepas."
Satu kata itu memang menyerupai bisikan, namun Sehun bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Belum cukup dibuat kaget oleh intonasi dingin itu, yang Sehun tangkap berikutnya adalah Baekhyun menepis kasar tangannya, lalu pergi begitu saja. Menyisakan Sehun yang speechless di belakang sana.
.
.
Kedua tungkai Baekhyun melangkah menuju meja kantin yang masih kosong setelah membayar dua sandwich tuna yang tadi dibelinya. Pria mungil itu memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu di kantin sebelum pulang ke rumah. Kepalanya terasa agak pening, ini pasti gara-gara ia kehujanan kemarin.
Baru saja Baekhyun bersiap untuk memakan salah satu sandwich itu, kenangannya bersama Chanyeol tiba-tiba melintas bagai nostalgia. Baekhyun ingat dulu pria tinggi itu pernah membuatkannya sandwich tuna karena tahu ia belum sarapan. Memang hanya hal sederhana, namun itu sangat berarti bagi Baekhyun.
"Ugh.." Baekhyun meremat dada sebelah kirinya, tepat di mana rasa ngilu itu berasal. Lagi-lagi kerinduannya pada Chanyeol membuatnya tersiksa. Bahkan pada hal terkecil sekalipun, hanya Chanyeol yang terus berputar dalam benaknya.
"Di sini kau rupanya."
Suara Kyungsoo di belakang sana lantas meleburkan lamunan Baekhyun. Sahabatnya itu duduk di depannya dan tanpa permisi mengambil sandwich tuna milik Baekhyun.
"Kau tidak akan memakan ini?" Tak menunggu jawaban Baekhyun, Kyungsoo langsung saja memakan sandwich tuna itu. "Anyway, kenapa kau sarapan sendirian, hm? Mana PCY Seonsaengnim?"
Diingatkan tentang Chanyeol, mood Baekhyun pun jadi semakin turun. Bibirnya melengkung ke bawah dan kepalanya bersandar lesu pada meja.
"Kami sudah putus."
Diameter bola mata Kyungsoo yang sudah besar itu semakin besar karena ucapan Baekhyun. Beruntung ia sudah menelan sandwich tuna dalam mulutnya, jika tidak, bisa dipastikan ia tersedak.
"Apa?!" seru Kyungsoo tak percaya. "Kapan? Maksudku, bagaimana bisa kalian putus?"
"Aku yang memutuskan hubungan kami." Baekhyun membuang napas. "Tadinya kemarin aku ingin meminta saranmu, tapi malah terjadi kejadian tak terduga dan akhirnya kami putus."
Kyungsoo ikut membuang napas. Jadi ini sebabnya ia tidak menemukan Baekhyun di kampus kemarin? Ternyata terjadi hal seperti itu sebelum kekacauan yang ia saksikan di taman. Kyungsoo bertaruh 'kejadian tak terduga' yang dimaksud Baekhyun pasti ada hubungannya dengan Sehun.
"Aku harus bagaimana, Kyungsoo-ya?" Baekhyun menggigit bibir bawahnya sesaat ketika suaranya bergetar. Tampak bulir bening telah menumpuk di pelupuk matanya. "Semuanya jadi kacau gara-gara aku.."
Melihat Baekhyun yang terluka, hati Kyungsoo turut sakit karenanya. Padahal hubungan Baekhyun dan Chanyeol belum berjalan lama, tapi mereka sudah dihadapkan ujian berat. Tidak mungkin Baekhyun masih baik-baik saja jika sudah menitikkan airmata.
"Bisa kau ceritakan semuanya dari awal? Aku ingin membantumu, Baek.." pinta Kyungsoo sambil mengelus punggung tangan Baekhyun.
.
.
Pergerakan jemari Chanyeol di atas keyboard refleks terhenti karena ketukan di pintu ruangannya. Ia mempersilakan orang itu masuk, sebelum kembali sibuk mengetik.
"Ada titipan untuk Anda, Seonsaengnim." Tuan Ryu meletakkan paper bag di atas meja Chanyeol. "Ini dari mahasiswa yang bernama Byun Baekhyun."
Mendengar nama Baekhyun disebut, sontak mengalihkan atensi Chanyeol dari layar laptop. "Baekhyun, katamu? Di mana dia sekarang?"
"Uh..sudah pulang saya rasa."
"Begitu." Chanyeol mendesah kecewa. Tatapannya berhenti pada surat dinas yang tadi dibacanya, lalu beralih pada ponselnya yang belum bergetar sejak tadi.
Apa boleh buat—batinnya. Sudah menjadi keputusannya untuk memulai semuanya dari awal lagi, jadi mau tidak mau ia harus menahan diri agar tidak membuat Baekhyun lebih canggung padanya.
"Oh ya, apa titipan saya sudah diberikan pada Baekhyun?"
"Ya, sudah saya lakukan." sahut Tuan Ryu sambil mengangguk. "Apa ada hal lain yang Anda butuhkan?"
Chanyeol berpikir sejenak, sebelum akhirnya ia menggelengkan kepalanya. "Untuk saat ini tidak ada. Terima kasih banyak sebelumnya, Tuan Ryu."
"Sama-sama, Seonsaengnim. Kalau begitu, saya pamit dulu."
Begitu pintu ruangan ditutup, Chanyeol kembali menghela napas. Kali ini terdengar lebih berat dari sebelumnya. Pria bermarga Park itu memijat pelipis yang sedikit berdenyut, berusaha menenangkan pikirannya yang semrawut.
"Ah, sial." Chanyeol meraih surat dinas itu dan membaca isinya sekali lagi. "Kenapa aku harus pergi di saat seperti ini?"
.
.
"Begitu rupanya." Kyungsoo manggut-manggut setelah Baekhyun menyelesaikan ceritanya. Sekarang ia paham apa permasalahan sebenarnya di sini. Dan jika boleh jujur, Kyungsoo menyalahkan kenaifan Baekhyun sebagai salah satu pemicu terbesar dari permasalahan itu sendiri. Tapi ia akan membahasnya nanti, saat ini Baekhyun lebih membutuhkan dukungannya sebagai sahabat.
"Aku tidak tahu harus bagaimana, Kyungsoo-ya. Chanyeol bilang dia ingin memulai semuanya dari awal lagi, tapi aku bahkan tak bisa memikirkannya dengan benar karena Sehun terus mendekatiku."
"Jadi, kau ragu karena Sehun?"
"Bukan karena Sehun, ini lebih condong pada perasaanku sendiri. Aku bingung."
Menghela napas panjang, Kyungsoo kemudian mengubah posisi duduknya ke samping Baekhyun. "Biar kutanya beberapa pertanyaan padamu. Kau jawab dengan jujur, oke?"
"Pertanyaan apa?"
"Apa kau memiliki perasaan lebih dari seorang teman terhadap Sehun?"
Baekhyun menggeleng. "Aku hanya menyukainya sebagai teman."
"Bagaimana dengan perasaanmu pada PCY Seonsaengnim?"
Pandangan Baekhyun menerawang ke depan, membayangkan sosok Chanyeol; dimulai dari pertemuan pertama mereka yang tidak begitu bagus, sampai ke detik di mana si jangkung menyatakan cinta padanya.
DEG!
Dan respon berupa hentakan tak keruan Baekhyun dapatkan tak lama kemudian.
"Aku..masih mencintainya.."
Kyungsoo menarik senyum. "Bukankah selama ini kau sudah memiliki jawabannya? Apa lagi yang kau ragukan, hm?"
Raut Baekhyun kembali muram ketika pokok permasalahannya dibahas. "Kau tak mengerti, Kyung. Ini tidak sesederhana kelihatannya." Ia memainkan jemarinya satu sama lain sambil merangkai kalimat dalam benaknya. "Aku merasa buruk pada Chanyeol. Yang dia lakukan hanyalah memperingatkanku tentang Sehun, tapi aku malah menangkapnya sebagai bentuk kecemburuan berlebihan."
"Lalu?"
"Lalu, aku..tidak yakin memulai semuanya dari awal adalah jawaban kucari. Sejujurnya, aku takut jika semuanya malah berubah menjadi lebih buruk dari ini. Aku tak mau hal itu terjadi.."
Lagi, Kyungsoo menghela napas. Sepertinya sahabatnya ini berpikir terlalu banyak.
"Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari, Baek. Yang bisa kau lakukan hanyalah menjalaninya, termasuk hubunganmu dengan PCY Seonsaengnim. Memang ada kalanya hubungan kalian menemui masalah, tapi itu adalah hal wajar. Dan lagi, bukankah di situ letak tantangannya? Sekarang, PCY Seonsaengnim menawarkanmu untuk memulai semua dari awal lagi dan menurutku itu hal yang bagus."
"Kenapa begitu?"
"Karena itu membuktikan bahwa perasaan PCY Seonsaengnim tulus padamu. Dia ingin mempertahankanmu, bahkan rela menyingkirkan ego-nya demi kau. Ambil saja contoh saat Sehun menciummu, apakah dia mempermasalahkannya? Tidak, kan?"
Benar juga. Alih-alih membahas Sehun, waktu itu Chanyeol justru meminta maaf dan meminjamkan Baekhyun jaket agar ia tidak kedinginan. Tak ada perdebatan seperti yang Baekhyun bayangkan, hanya ada sensasi hangat dan tulusnya perasaan Chanyeol. Sikap Chanyeol yang seperti itulah yang menghentakkan jantung Baekhyun sampai ke titik di mana ia sulit melupakan sosok tinggi itu.
Jika dipikir dengan saksama, ketakutan Baekhyun ini memang agak berlebihan. Padahal Chanyeol sebegitu mencintainya, sama seperti dirinya. Lalu, apa lagi yang harus Baekhyun takutkan di saat mereka memiliki hati satu sama lain? Bahkan Sehun bukan halangan baginya untuk kembali ke pelukan Chanyeol.
"Daripada memikirkan hal yang belum tentu akan terjadi, bagaimana kalau kau berhenti menyiksa hatimu sendiri? Jika kau merasa buruk pada PCY Seonsaengnim, segeralah minta maaf padanya. Karena menurutku, masalah sekecil apa pun tidak akan beres jika yang kau lakukan hanyalah menghindarinya, itu bukanlah jawaban." tutur Kyungsoo disertai senyuman. "Apa kau sudah mengerti, Baek?"
Baekhyun mengangguk pelan. Berat yang sedari tadi memikul hatinya, kini berangsur berkurang.
"Terima kasih, Kyungsoo-ya.."
"Hm." Kyungsoo menepuk-nepuk gemas pipi Baekhyun. "Nah, sekarang lebih baik kau cepat mengambil keputusan; apakah kau akan mengiyakan tawaran PCY Seonsaengnim atau justru menolaknya." Seringaian jahil muncul di sela kalimat Kyungsoo. "PCY Seonsaengnim itu tampan dan mapan lho, pasti banyak yang mengincarnya~"
"Y–yak! Jangan bicara yang tidak-tidak!" Bibir Baekhyun mengerucut sebal.
"Aku ini bicara tentang kenyataan, tahu? Karena itu, kau harus segera memutuskan kalau tidak ingin PCY Seonsaengnim-mu direbut orang lain."
Pipi Baekhyun sontak merona dan sialnya ia tak bisa menyembunyikannya. Meski saran Kyungsoo sangat membantu, tapi menyebalkan juga kalau digoda olehnya. Pria bermata besar itu seolah tahu apa yang ada dalam pikirannya.
"Ah, menceramahimu panjang lebar begini membuatku haus. Hey, kau tidak akan meminum itu?"
Baekhyun melotot saat Kyungsoo menunjuk susu strawberry-nya yang belum diminum. "Jangan! Ini dari Chanyeol untukku!" serunya sambil mengamankan susu strawberry itu. Tapi yang didapatkannya kemudian adalah ledakan tawa dari mulut Kyungsoo. Hell, didengar dari sudut mana pun, sahabatnya itu jelas sedang mengejeknya.
"Aigoo~ coba lihat siapa yang tiba-tiba berubah jadi posesif, hm? Kau ini lucu sekali, Baek, hahaha!"
Sial. Ini memalukan sekali. Ditambah beberapa orang di kantin juga ikut terkekeh karena aksinya.
"Diam kau, Do Kyungsoo, atau aku akan menyumpal mulutmu dengan sepatuku." Baekhyun mengancam sambil memasang raut seram, tapi sepertinya itu tidak terlalu efektif. Kyungsoo tetap saja menertawakannya. "Yak, kubilang berhenti! Ini memalukan, tahu?!"
"Haha, baiklah, baiklah, aku berhenti." Kyungsoo mengusap airmata di sudut matanya. Ia sudah sedikit ini untuk menjahili Baekhyun lagi ketika matanya tak sengaja menangkap sosok Sehun yang berjalan ke arah kantin. "B–Baekhyun-ah, aku duluan ya. Aku harus pergi menemui Song Seonsaengnim."
"Hm? Apa mau kutemani?"
"Eyy~ tidak usah, aku bisa sendiri. Sudah ya, bye!"
Tak menunggu respon Baekhyun, Kyungsoo cepat-cepat menghampiri Sehun. Apa pun yang terjadi, ia harus menahan Sehun agar tak bertemu Baekhyun.
"Kau mau menemui Baekhyun?" selidik Kyungsoo sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Jangan menggangguku, Owl."
Kyungsoo mendengus keras. Ternyata dugaannya benar. Sehun hendak menemui Baekhyun.
"Ada urusan apa lagi kau dengan Baekhyun, hah? Kau belum puas setelah merusak hubungannya dengan PCY Seonsaengnim?"
"Memang belum. Sekarang adalah kesempatanku untuk mendapatkan hati Baekhyun, jadi cepat menyingkir dari jalanku."
Dengusan keras kembali Kyungsoo keluarkan. "Sepertinya kau bermimpi, Oh Sehun."
"Apa?"
"PCY Seonsaengnim mengajak Baekhyun berpacaran lagi dan Baekhyun akan mengiyakannya."
Berbalik Sehun yang mendengus karena ucapan Kyungsoo. "Kau takkan bisa menipuku, Owl."
Merasa tersinggung, alis Kyungsoo pun menukik tajam. "Kau pikir aku berbohong?"
"Apa lagi?"
"Aku baru saja bicara dengan Baekhyun."
"Selain mendengarnya sendiri, aku takkan memercayai ucapan siapa pun—termasuk kau."
Kyungsoo berdecak kesal. Kalau begini caranya, Sehun akan terus mengejar Baekhyun dan semuanya bisa kacau lagi. Ia harus memikirkan cara lain agar Sehun sadar bahwa cintanya pada Baekhyun hanyalah bertepuk sebelah tangan.
"Kau mau bukti? Fine. Datanglah ke atap fakultas bahasa besok jam sembilan pagi. Aku akan meminta Baekhyun ke sana, jadi kau bisa mendengar sendiri bagaimana perasaannya padamu. Bagaimana?"
Sebenarnya Sehun ragu, tapi raut muka Kyungsoo terlihat sangat meyakinkan.
"Kenapa kau tiba-tiba melakukan ini?" tanya Sehun, mata memicing curiga pada Kyungsoo.
"Karena aku tidak berbohong."
Keadaan tiba-tiba menjadi hening.
Sehun masih menilik Kyungsoo, memastikan apakah pria bermata besar itu serius dengan ucapannya atau tidak. Sementara Kyungsoo bergeming pada posisi dan raut yang sama. Sudah ia putuskan untuk mengambil cara ini. Semoga Baekhyun bisa mengatasinya dengan baik nanti.
"Okay." Sehun akhirnya setuju. "Besok jam sembilan pagi, di atap fakultas bahasa. Tapi jika ternyata kau hanya membual," Ia maju ke sisi wajah Kyungsoo dan berbisik di depan telinganya, "Bersiap-siaplah menanggung akibatnya, Owl."
"Sialan." Kyungsoo mendesis kesal sambil menutup telinganya. Tak tahu kenapa, perasaannya jadi tidak enak, terlebih setelah Sehun pergi dengan seringaian terbentang di sudut bibirnya.
Mudah-mudahan ini langkah yang tepat.
.
.
"Kau ingin aku apa?!"
Atau tidak.
Bahkan tanpa tautan tajam alis Baekhyun, Kyungsoo dengan jelas bisa melihat protes besar-besaran dalam sorot mata sahabatnya itu setelah ia memintanya untuk bertemu Sehun besok. Tapi ini bukanlah akhir. Bagaimana pun caranya, Kyungsoo harus berhasil meyakinkan Baekhyun.
"Ini demi kalian berdua, Baek. Kau hanya perlu bicara sebentar dengan Sehun dan beri tahu dia bagaimana perasaanmu."
"Kenapa harus?" Baekhyun masih melancarkan aksi protesnya. Ia sungguh tak ingin bertemu Sehun untuk sementara waktu ini.
"Karena Sehun hanya percaya jika mendengar penjelasannya langsung darimu." Kyungsoo menatap Baekhyun dengan pandangan memohon, berharap sahabatnya luluh. "Ya? Kumohon, ini satu-satunya cara agar Sehun berhenti mengejarmu. Kau juga tidak mau kan jika Sehun terus-terusan berada di antara kau dan PCY Seonsaengnim? Bisa-bisa hubungan kalian rusak lagi olehnya."
Baekhyun mengemut bibir bawahnya, merasa ragu. Ia memang ingin segera berbaikan dengan Chanyeol, tapi Kyungsoo ada benarnya juga. Selama Baekhyun belum memberikan penolakan tegas, Sehun pasti akan terus mengejarnya.
"Baekhyun-ah, kau tentu masih ingat kan apa yang kukatakan padamu? Menghindar tidak akan menyelesaikan masalah, begitu pula dengan kau dan Sehun. Kau harus menghadapinya sebelum keadaan menjadi semakin rumit, lebih cepat lebih baik."
"A–aku paham itu, tapi—"
"Tenanglah, Baek." Kyungsoo menggenggam tangan Baekhyun, berusaha meyakinkan si mata sipit bahwa semuanya akan baik-baik saja. "Aku berjanji akan menemanimu sampai urusanmu dengan Sehun selesai. Oke?"
Baekhyun menunduk lemas. Tampaknya ia tak memiliki pilihan yang lebih baik.
"Baiklah. Akan kutemui Sehun besok."
Kyungsoo tersenyum senang.
###
Sehun tak peduli lagi pada kelas pagi yang kini sedang berlangsung. Benaknya terlalu dipenuhi Baekhyun sampai-sampai ia sulit tidur semalam.
Gugup? Hell, tentu saja. Bagaimana mungkin Sehun bisa tenang jika hari ini ia akan memastikan sendiri perasaan Baekhyun terhadapnya? Ini adalah momen yang ia tunggu-tunggu.
Melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya, Sehun menghembuskan napas untuk yang ke-sekian kali. Sebentar lagi memasuki waktu janjiannya dengan Baekhyun. Ah, ia sudah tidak sabar. Hentakan jantungnya bahkan semakin menggila di dalam sana.
CKLEK.
Pintu atap dibuka seseorang. Baekhyun muncul di sana.
"Bee, kau datang." Sehun menghampiri Baekhyun. Senyumannya terlampau lebar, jauh berbeda dengan ekspresi wajah Baekhyun yang terlihat dingin. "Untuk sesaat kupikir si mata besar itu menipuku, tapi aku senang ternyata kau benar-benar datang."
"Kau mau bicara apa?" tanya Baekhyun, tak basa-basi.
"Tidak perlu buru-buru begitu, Bee. Oh ya, kau sudah sarapan? Ayo kita—"
"Langsung saja bicara, aku ada urusan lain."
Mendapatkan respon begitu, senyuman Sehun luntur seketika. Ia benci melihat Baekhyun yang seperti ini, hanya membuatnya berpikir bahwa ia telah kalah dari Chanyeol.
"Kenapa diam saja? Kalau tidak ada yang ingin kau katakan, aku akan pergi."
Dengan cepat Sehun menahan tangan Baekhyun agar tetap di tempatnya. Keduanya sama-sama melayangkan tatapan menusuk.
"Kenapa kau berubah begini, hah?" Pertanyaan pertama Sehun. Dan Baekhyun tak menjawab. "Apa ini karena aku menciummu atau karena Park Chanyeol mengatakan sesuatu padamu?"
"Menurutmu kenapa?" Baekhyun balik bertanya. "Kau tahu yang kau lakukan itu salah, Sehun. Aku baru saja putus dengan Chanyeol dan kau malah—"
"Aku tidak berpikir yang kulakukan adalah salah, Bee." tandas Sehun. Lamat-lamat ia tekan emosinya yang mulai goyah. "Aku memiliki perasaan ini jauh sebelum kau bertemu Park Chanyeol. Menurutmu kenapa aku kembali ke Seoul dan sudi tinggal bersama Park Chanyeol? Itu semua demi kau, Bee. Aku ingin bertemu denganmu lagi. Aku ingin kau tahu bagaimana perasaanku padamu dan aku juga ingin tahu bagaimana perasaanmu padaku."
"Bukankah semuanya sudah jelas? Selama ini aku hanya menganggapmu sebagai teman, Sehun. Sekalipun aku dan Chanyeol sudah putus, kau tetaplah seorang teman bagiku. Tidak lebih."
Tanpa sadar pegangan tangan Sehun di tangan Baekhyun mengerat. Bukan ini yang ia harapkan untuk ia dengar.
"Kenapa?" desis Sehun, nyaris menyerupai bisikan. "Apa yang kurang dariku sampai kau lebih memilihnya, Bee?"
"Ini bukan tentang siapa yang lebih baik, Sehun." Baekhyun melepaskan tangan Sehun. "Aku mencintai Chanyeol, hatiku hanya bereaksi padanya. Dan ini tidak ada hubungannya dengan siapa yang duluan menyukaiku, aku tetap mencintai Chanyeol."
Keheningan lalu merayapi situasi keruh di sana. Sehun tak bereaksi apa pun, tenggorokannya terlalu sakit untuk berkata. Sama sakitnya dengan luka yang Baekhyun torehkan di hatinya.
"Mungkin ini terdengar tidak adil bagimu, tapi aku bersungguh-sungguh mengatakannya, Sehun-ah." Baekhyun menggenggam tangan Sehun, menatap si jangkung dengan pandangan memohon. "Karena itu, aku mohon padamu, biarkan aku bersamanya.."
Selesai sudah.
Baekhyun meninggalkannya sendirian dan itu adalah jawaban yang Sehun terima atas perasaannya—mau tidak mau. Ia telah ditolak, tanpa diberi satu kesempatan.
TBC
