18 : Kelingking
.
.
Uchiha Sasuke bukanlah orang yang penyabar.
Jika dilihat-lihat, karakter dirinya yang sekarang jauh lebih lunak daripada dirinya beberapa tahun lalu. Meski begitu, kata sabar masih sedikit sulit ditemukan dalam dirinya. Sasuke adalah orang dengan karakter pendiam dan sedikit bicara. Dia juga sedikit egois dan penuh rasa kompetitif terutama dengan Naruto. Faktor yang menyebabkan ia malas bicara biasanya karena ia tidak mau berbicara panjang lebar yang tidak ada intinya, atau karena ia tidak menyukai lawan bicaranya. Lihatlah... dia bukan pemuda penyabar yang suka bertegur sapa dengan orang lain.
Dan kini kesabarannya diuji saat harus menjalankan misi bersama... Inuzuka Kiba.
Mengingat status yang dimilikinya, Sasuke tahu menjalankan misi seorang diri adalah hal yang mustahil. Oleh karena itu ia tidak ambil pusing ketika tahu partner misinya adalah Inuzuka Kiba. Sayangnya oh sayangnya...
Mengapa Hokage sialan itu harus memasangkannya dengan si pantat anjing yang hobi menggeram dan menggonggong?! Mengapa Kakashi tidak bisa memilihkan partner yang tepat untuk Sasuke misalnya seperti si Nara pemalas atau seseorang yang irit bicara lainnya?! Si Inuzuka itu sangat berisik dan benar-benar mengganggu!
Misi yang seharusnya bisa diselesaikan hanya dalam hitungan jam berubah menjadi hampir seharian akibat cuap-cuap duo anjing berliur itu. Misi yang sederhana berubah rumit karena si duo itu bertingkah seenaknya dan membuat keadaan menjadi runyam. Dan si duo anjing bau itu dengan seenaknya menyalahkan Sasuke untuk semua kekacauan yang terjadi?! Ha! Menggelikan.
Sasuke mengenal Inuzuka Kiba... sepertinya. Ingatan tentang sosok itu berdasarkan pada kelakuannya saat berada di akademi dulu. Inuzuka Kiba sama berisiknya dengan Naruto, dia juga hobi berbuat onar dan mengganggu ketenangan kelas, wajar saja jika Sasuke masih mengenangnya.
Jika Sasuke tidak salah, si Inuzuka ini berada dalam tim yang sama dengan Hinata. Kepribadian si Inuzuka ini sangat... norak. Bagaimana bisa Hinata menoleransinya?
Ah... Sasuke hampir lupa. Hinata memang memiliki selera yang dipertanyakan. Lihat saja, cinta pertamanya adalah Naruto. Jadi jangan heran jika selera pertemanannya juga patut dipertanyakan.
Tapi... saat Sasuke mengingat jika teman terdekatnya saat ini adalah Naruto... sepertinya Sasuke tidak berhak menceramahi Hinata dalam hal pertemanan. Naruto adalah Naruto, tidak perlu dijelaskan panjang lebar pasti banyak orang sudah memahami maksudnya.
Intinya, si Inuzuka itu sangat menjengkelkan. Jika bukan karena Hinata, mungkin Sasuke akan melakukan sesuatu padanya. Misalnya memberikan sebuah pukulan atau menjebaknya dalam genjutsu yang mengerikan. Sayangnya jika Sasuke melakukan itu, si duo anjing pasti akan mengadu dan merengek pada Hinata. Pada akhirnya reputasi Sasuke di mata Hinata akan menjadi buruk.
Tch...
Karena si idiot Kiba begitu lamban dan lembek, saat hari mulai senja mereka baru tiba di salah satu kota kecil yang bernama Haragi. Seandainya si idiot Kiba bisa lebih pintar sedikit, pasti saat ini mereka sudah tiba di Konoha sehingga tidak perlu menghabiskan malam di perjalanan.
Sebenarnya Sasuke tidak keberatan melanjutkan perjalanan saat gelap, sayangnya si duo payah itu lebih memilih beristirahat sebentar, dalam kata lain mereka butuh makan, minum, dan hal yang tidak penting lainnya.
Lain Sasuke lain pula Kiba. Di mata Kiba, menjadi pengasuh si Uchiha angkuh itu sungguh teramat sangat menyebalkan. Jika bukan karena si brengsek Uchiha, pasti saat ini Kiba sedang menghabiskan waktu bersama kedua rekan timnya, Hinata dan Shino. Sayangnya Hokage berpendapat lain, Kiba harus berbesar hati menghadapi tingkah Uchiha yang sok jago namun sebenarnya sangat payah. Jika bukan karena keangkuhannya, pasti misi ini sudah selesai sejak tadi dan saat ini mereka sudah sampai di Konoha.
Tch...
Dan saat Kiba memutuskan untuk beristirahat sejenak karena Akamaru terlihat lapar, si Uchiha angkuh malah memberikan tatapan mencemooh. Hey... hey... dasar tidak berperasaan!
Mood Kiba dan Akamaru memang sedang buruk, tapi itu bukan berarti mereka kehilangan selera makan. Sambil duduk di kedai, Kiba dan Akamaru menyantap makanannya dengan lahap sambil mengabaikan si pria arogan yang turut bergabung bersama mereka. Anggap saja lalat!
Namun tak lama kemudian mood mereka berubah cerah. Penyebabnya adalah dua orang rekan terkasihnya muncul. Ini adalah kebetulan yang begitu menggembirakan. Kiba berpikir jika Kami-sama masih sayang padanya sehingga menghadirkan Hinata dan Shino di hadapannya tepat saat jiwanya terasa lelah.
Tanpa menunggu aba-aba, Kiba langsung berlari menghampiri dua rekannya itu dan memeluk mereka dengan erat. Semua kekesalan dan kejengkelan yang menumpuk di hatinya gara-gara Sasuke langsung sirna bersamaan dengan komplain yang keluar dari mulutnya. Shino bahkan berani bersumpah jika dia melihat air mata yang menggenang di pelupuk mata Kiba. Penampilan Kiba seperti bocah yang baru saja dibully lalu mengadu pada orang tuanya.
Dan saat Sasuke berjalan mendekat, Kiba justru semakin kencang bicara. Nampaknya dia tidak peduli dengan tanggapan Sasuke terhadap dirinya.
Jika boleh jujur, Shino sedikit tidak nyaman dengan tingkah Kiba yang sedikit kekanak-kanakan. Oke, Sasuke memang dilengkapi dengan sifat yang sedikit menjengkelkan, tidak bersahabat, dan berbagai sifat negatif lainnya namun itu bukan berarti dia pantas dijelek-jelekkan tepat di depan wajahnya. Jika Kiba mau menjelek-jelekan Sasuke, seharusnya dia melakukannya dengan sembunyi-sembunyi.
Saat Shino hendak membuka mulut untuk menyapa Sasuke, dengan sigap Kiba langsung menyeretnya agar menjauh. Pemikiran yang terlintas di benak Kiba saat ini adalah sahabatnya ini tidak boleh tercemari virus Uchiha! Biarlah Kiba yang menanggungnya! Shino tidak boleh terlalu dekat dengan si Uchiha itu!
Sayangnya Kiba lupa jika dia masih memiliki satu sahabat lagi...
"Maaf..." Hanya itu yang bisa dikatakan Hinata setelah melihat kelakuan sahabatnya. "Kiba-kun tidak biasanya bersikap seperti... itu."
Sebenarnya sudah sejak lama Hinata tahu jika Kiba tidak menyukai Sasuke. Namun Hinata tidak tahu jika reaksi Kiba pada Sasuke akan seekstrim ini.
Sasuke mendengus. Ia tidak peduli dengan Kibasiapaitu, orang seperti itu tidaklah penting. Energi Sasuke hanya akan terbuang percuma jika menanggapi orang rendahan yang tidak mendatangkan manfaat dalam hidup.
Sasuke tersentak saat Hinata menyentuh jari kelingkingnya.
Mereka berdua berdiri di tepi jalanan yang ramai. Diantara banyaknya orang yang berlalu-lalang, mereka berdua tetap diam di tempat seolah-olah keramaian yang ada di sekitar mereka hanya sebuah latar belakang.
Di balik jubah hitam itu, si gadis dengan malu-malu mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Sasuke.
Kedua jari mereka saling bertaut.
Dan hati mereka perlahan turut terikat.
Wajah Hinata tertunduk, pipinya memerah. Bahkan ia sendiri tidak tahu mengapa ia dengan beraninya mengaitkan jari kelingking mereka berdua seperti ini. Namun saat Sasuke dengan tenangnya menerima perlakuan itu, keberanian di hati Hinata perlahan tumbuh. Sambil berusaha menyembunyikan senyumnya, Hinata membimbing Sasuke menyusuri jalanan kota Haragi dengan kelingking mereka yang masih bertaut.
Jubah hitam yang dikenakan pemuda itu menyembunyikan keterikatan mereka berdua dari pandangan publik.
"Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini." Hinata sedikit mengayunkan tangannya sehingga tangan Sasuke juga turut terayun. "Meski begitu a-a-ku se-se-senang."
Ucapan Hinata yang cukup berani tersebut membuat keduanya menjadi bersemu merah.
Dan seorang Uchiha Sasuke hanya bisa berucap "Hn."
Pertemuan ini memang sebuah kebetulan, namun tidak ada yang menolak kebetulan ini.
Matahari memang sudah terbenam namun jalanan justru semakin ramai. Kedai-kedai kecil mulai menggantungkan lentera berwarna-warni untuk penerangan dan demi memikat pelanggan. Beberapa orang terlihat sibuk berlalu-lalang, beberapa lainnya nampak berjalan-jalan santai.
Dan mereka pun berbicara, tentang segala yang terlintas di benak. Mereka berbicara tentang misi dan juga musim panas, tentang Shinobi dan juga hujan.
Dan selama itu pula kelingking mereka tetap bertaut, seolah tak ingin terpisah.
Shino dan Kiba plus Akamaru, yang telah terlupakan, tidak pernah menyangka bisa menyaksikan Hinata-hime mereka yang lugu dan polos sedang berduaan dengan si Uchiha. Reaksi pertama Kiba tentu saja ingin menghampiri mereka lalu memisahkan sejauh mungkin. Namun Shino yang lebih matang dan bijaksana tahu jika hubungan dua orang itu lebih dari sekedar kedekatan biasa. Dengan sedikit susah payah akhirnya Shino berhasil menyeret Kiba untuk menjauh sambil memberikan beberapa 'pencerahan'. Hinata berhak menentukan jalan hidupnya sendiri, dia bebas memutuskan ingin dekat dengan siapa. Sebagai seorang sahabat, Shino tidak berhak ikut campur terlalu dalam.
Saat Kiba mendengar alasan yang dikemukakan Shino, dia merasa... merasa... terkhianati! Mengapa Shino justru berpihak pada si Uchiha itu?! Mengapa Shino begitu mempercayai si Uchiha itu?! Mengapa?! Mengapa Shino dengan teganya mengkhianati persahabatan mereka?! Mengapa?!
Suasana hati Kiba tidak ada hubungannya dengan Hinata dan Sasuke. Kedua orang itu terlihat sedang menikmati dango di salah satu kedai yang ramai pengunjung. Atau yang lebih tepatnya Hinata menikmati dango sedangkan Sasuke hanya minum teh.
"Eh? Kau tidak suka dango? Kenapa?" Tanya Hinata saat dia sadar Sasuke sama sekali tidak menyentuh dango manis itu.
Sasuke memalingkan wajahnya dari tatapan penuh tanya Hinata. "Aku tidak suka manis." Itu adalah salah satu alasan yang bisa dikemukakan Sasuke. Alasan lainnya... dango membuatnya teringat pada sosok kakaknya yang telah lama meninggal. Itachi... dia begitu menyukai makanan manis.
Hinata merasa bersalah. Seharusnya ia bertanya lebih dulu apa yang ingin Sasuke makan.
"A-apa makanan kesukaanmu?" Tidak masalah kan bila Hinata bertanya seperti ini? Sepanjang ingatan Hinata, Sasuke itu tidak pilih-pilih dalam hal makanan. Kari, sup, telur... terkadang Sasuke juga makan ramen.
"Tomat. Onigiri dengan isian tuna."
"Selain itu?" Sudah sejak lama Hinata tahu jika dua makanan itu sangat disukai Sasuke berkat informasi yang dibeberkan oleh Sakura secara tidak sengaja.
"Aku tidak pilih-pilih. Asalkan bukan makanan manis, aku akan memakannya."
Pembicaraan mereka terputus karena seorang Inuzuka pemarah datang tanpa diundang sambil berteriak "HINATA!"
"Kiba-kun?!"
Tanpa malu-malu Kiba langsung menyeruak diantara mereka berdua. Sikapnya yang terlalu waspada bagaikan anjing penjaga yang setia melindungi majikannya dari ancaman orang asing.
Sasuke... harus banyak bersabar...
Terutama saat Kiba dan Shino tiba-tiba turut bergabung bersama...
Terutama saat Sasuke diabaikan...
Terutama saat Sasuke diasingkan...
Menyedihkan...
Hinata memang selalu berusaha untuk melibatkan Sasuke dalam setiap interaksi, tapi sayangnya itu tidak cukup.
Dan di hari berikutnya, saat Sasuke melihat gerbang Konoha, ia begitu terharu karena bisa kembali pulang. Penderitaan yang ia alami akhirnya berakhir! Tidak ada lagi gonggongan Kiba yang begitu berisik!
Namun sayangnya ia berjumpa dengan seseorang yang tidak ingin ia lihat untuk sementara ini.
Sakura.
.
Tbc...
.
Maaf untuk update yang telat ini.
Lebih baik teman-teman semua mengikuti saya di wattpad (username: Hana_nako) untuk update cerita yang lebih cepat karena saya jaraaaang sekali membuka FFN akhir2 ini. Saya merasa lebih nyaman menggunakan wattpad karena saya bisa sering2 membukanya lewat ponsel. Aplikasi FFN di ponsel benar-benarrrr... buruk
