CAST
Park Chanyeol (25)
Byun Baekhyun (19)
.
.
.
"Aku baik-baik saja Chanyeol.." Baekhyun kembali mengulangi ucapannya, meyakinkan pria itu kembali ketika mereka telah sampai didepan gedung dimana Baekyun mengikuti kelasnya.
Perihal Forks , mereka telah kembali dari sana kemarin. Sejak Baekhyun menceritakan kepada Chanyeol perihal kiriman buket bunga dan panggilan yang diterima Baekhyun malam itu, dirinya menjadi begitu resah. Ditambah pagi ini, Baekhyun mengalami morning sick sampai Chanyeol harus menggendongnya kembali ke ranjang karena terlalu lemas. Sebenarnya Chanyeol tidak setuju Baekhyun masuk hari ini dan menyuruh pria mungilnya itu untuk beristirahat saja dirumah. Tapi Baekhyun dengan sepaket keras kepalanya terus mengatakan bahwa dia akan tetap masuk dengan dalih harus maju presentasi hari ini sekalipun Chanyeol mengatakan bahwa dia akan mengurus ijinnya untuk tidak masuk. Oleh karena itu perasaan Chanyeol semakin bertambah buruk.
"Hei, tersenyumlah, ini masih pagi Tuan Park"
Baekhyun yang beberapa hari yang lalu diteror dan tubuhnya yang lemas pagi ini karena morning sick, apa hal bahagia sehingga Chanyeol bisa tersenyum hari ini ?. Tidak ada.
Sambil mendengus dengan kasar, Chanyeol menarik kedua tangan Baekhyun. Seulas senyum tersesungging di garis wajah Baekhyun ketika merasakan usapan lembut jemari Chanyeol pada punggung tangannya.
"Berjanjilah, jaga dirimu dengan baik, telpon aku jika sesuatu terjadi, jika kau mulai merasa pusing atau apapaun. Langsung beritahu aku, mengerti ?"
Baekhyun terlihat berpura-pura berpikir walau sebenarnya dia tengah menahan kekehan gelinya.
"Aku bersama tiga pengawalmu, lihat ?" ucap Baekhyun menunjuk Sangyeon, Juyeon dan Shinwan yang berdiri diluar mobil lengkap dengan pakaian casual layaknya seorang mahasiswa.
"Dear.."
"Arraseo, arraseo"
Kemudian tangan Chanyeol menarik tengkuk Baekhyun untuk menyambut bibirnya, mengulumnya dengan lembut, kemudian menarik diri.
"Jam 2, bukan ?" tanya Chanyeol sambil mengelus sisi kiri pipi Baekhyun. Tersenyum tipis ketika merasakan pipi pria mungilnya semakin hari semakin penuh.
"Chanyeol, kau tak perlu menjemputku sungguh. Bukankah kau ada pekerjaan ?, kau baru kembali hari ini"
"Jangan khawatir, Minho bisa menghandle sisanya"
"Ah.. aku jadi sedikit kasihan pada Minho-ssi"
"Itu sudah tugasnya"
"Termasuk menerima pekerjaan yang seharusnya dikerjakan pimpinannya ?"
Apakah mereka akan berdebat dipagi hari tentang apa yang dilakukan seorang sekertaris ?. Chanyeol tidak percaya ini, tapi nyatanya dia memang menikahi pemilik dua sabit indah dengan kepala sekeras batu dan mulut pintarnya.
"Ini masih sangat pagi berdebat didalam mobil untuk hal tidak penting"
Baekhyun sedikit meringis menyadari jika mereka memang terlihat akan berdebat.
"Masuklah, semoga presentasimu sukses" ucap Chanyeol setelah sebelumnya mengecup kening Baekhyun agak lama.
"Baiklah, sampai nanti" ucap Baekhyun lalu keluar mobil, berjalan memasuki gedung fakultasnya diikuti tiga pengawal Chanyeol.
.
.
.
Baekyun menyeruput jus strawberry yang tadi dia beli dari kantin. Menyandarkan punggungnya pada kursi dengan lesu.
"Kau benar-benar melakukan yang terbaik tadi dan Ya ! berhenti menghela napas" ucap Younghoon.
"Aku seharusnya tahu kelas Luhan Gyosunim tidak akan semudah yang kukira"
"Oh ayolah, ini hanya presentasi. Jika menurutmu kau kurang maksimal, kau bisa lebih keras di tugas yang lain" ucap Kyungsoo dibalas anggukan setuju oleh Younghoon.
"Kau benar juga" ucap Baekhyun kemudian kembali mendesah pasrah tentang presentasinya tadi.
"Ngomong-ngomong halaman kampus jadi lebih baik setelah wartawan itu pergi. Kudengar universitas melarang wartawan, reporter dan semacamnya untuk meliput apapun dilingkungan kampus tanpa persetujuan rektor" ucap Kyungsoo sambil menatap halaman kampus dari lantai dua.
"Ah ! bagaimana ? apakah kau sudah menampar wanita itu ?" ucap Hoon.
Baekhyun mendecih.
"Kau pikir aku pria macam apa yang menampar seorang wanita hah ?"
"Lalu ? kau membiarkannya begitu saja ?. Oh Tuhan Baekhyun"
"Ya, aku tidak mengatakan membiarkannya. Tapi sudah kupastikan wanita itu cukup jera. Aku menyuruhnya untuk keluar dari JD Enterprises setelah proyeknya dengan Chanyeol berakhir"
"Eh ? kau membiarkan wanita itu tetap melanjutkan kerjasamanya dengan Chanyeol-ssi ? Tunggu, apa maksudmu kau menyuruhnya keluar dari perusahaan itu ?" tanya Younghoon dibalas anggukan oleh Kyungsoo.
"Sekalipun aku tidak setuju dengan proyek yang melibatkan mereka, aku tetap harus menghargai pekerjaan yang Chanyeol lakukan. Mereka tetap bekerja sama, tapi tidak saling bertemu, hanya sebatas formalitas hitam diatas putih. Lagipula mereka memiliki pegawai yang bisa melakukannya. Dan.. perusahaan itu kan menjadi milik Chanyeol dalam waktu dekat-"
"karenanya kau mengusir jalang itu keluar dari perusahaannya karena kau tidak ingin dia bekerja dibawah pimpinan suamimu ?" potong Kyungsoo.
Baekhyun menghela napasnya, kemudian mengangguk.
"Daebak !" ucap Hoon lalu bertepuk tangan secara tiba-tiba membuat keryitan dikening Baekhyun dan Kyungsoo.
"W-wae ? apakah ada yang salah ?" tanya Younghoon saat mendapati tatapan aneh dari kedua temannya.
"Aniya/Aniya" ucap Kyungsoo dan Baekhyun bersamaan sedang Younghoon mulai menggaruk belakang lehernya.
Baekhyun merogoh saku celananya ketika merasakan getaran berasal dari smartphonenya. Panggilan dari Chanyeol.
"Halo ?"
"Bagaimana presentasimu ? berjalan dengan baik ?"
"I guess"
"Ada apa dengan suaramu ? semua baik-baik saja kan ?"
"Aku tidak cukup yakin, tapi aku telah melakukan yang terbaik. Aku hanya beharap tidak mendapat nilai buruk dikelas ini"
"Hei, kau terlalu jauh. Aku mengenalmu, kau sudah bekerja keras sayang. Belajar materi di pesawat ? kurasa hanya kau yang melakukannya. Aku yakin kau akan mendapatkan nilai yang bagus. Jangan jadikan itu beban pikiranmu, oke ?"
"Ya Chanyeol. Terimakasih"
"Ingat, perasaanmu memperngaruhi baby juga"
"Kau benar. Tidak seharusnya aku memikirkannya terlalu berlebihan" ucap Baekhyun.
Diseberang sana, Chanyeol mengulas senyum diruangannya. Minho yang tengah membantu pekerjaan Chanyeol ikut mengulas senyum ketika melihat presdirnya tersenyum. Tahu benar hanya pria mungil pemilik kedua sabit terang itu yang mampu membuat suasana hati presdirnya lebih baik.
"Kalau begitu sampai nanti"
"Ya, sampai bertemu nanti" balas Baekhyun kemudian keduanya mengakhiri panggilan singkat mereka.
"Chanyeol-ssi ?" tanya Kyungsoo dan Baekhyun mengangguk mengiyakan.
.
.
.
"Ada apa disana ?" tanya Kyungsoo ketika melihat orang-orang begitu ramai didepan gerbang masuk kampus. Baekhyun hanya mengedikkan bahu.
"Haruskah kita juga melihatnya ?" tawar Younghoon kemudian berjalan cepat menyusul orang-orang yang tengah mengerumuni sesuatu, Baekhyun dan Kyungsoo hanya menggelengkan kepala ketika melihatnya. Bahkan mereka belum menyutujuinya tapi Younghoon berlalu begitu saja.
Semakin dekat pada keramaian, Baekhyun menyipitkan kedua matanya. Mencari tahu apa yang sebenarnya dikerumuni oleh orang-orang. Hatinya berubah resah ketika beberapa orang mulai melemparkan pandangan mereka padanya. Lalu jantung Baekhyun berdetak begitu keras ketika matanya semakin jelas melihat figur pria tengah bersandar dimobil sambil memainkan smartphonenya. Baekhyun kenal betul siapa disana walau pria itu tengah menunduk, sama sekali tidak menghiraukan kerumunan orang-orang disekitarnya.
"Tidak mungkin" gumam Baekhyun. Sedang Kyungsoo dan Younghoon telah lebih dulu memekik sambil memasang ekspresi tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Chanyeol ?" Baekhyun menghembuskan napasnya yang sebelumnya tertahan ketika mengeja nama itu. Pria itu mendongak, tersenyum lalu memasukkan smartphonenya ke dalam jas kantornya.
"Hei, sudah selesai dengan kelasmu ?" , suaranya begitu tenang.
"Ya, kelasku sudah- tunggu, apa yang kau lakukan disini ?"
"Menjemputmu, bukan ?"
"Tapi-"
"Ah, dan…" Chanyeol menggantung kalimatnya, membuka pintu mobil dan hati Baekhyun terasa jatuh dibawah kakinya dengan raga terasa ditarik ke langit ketika melihat apa yang dikeluarkan Chanyeol dari dalam mobil. Sebuket besar carnation berwarna merah muda dan Baekhyun bisa mendengar sorakan dari orang-orang disekitar mereka. Baekhyun menerima buket itu dengan sedikit kaku. Masih tidak percaya Chanyeol-nya menunggu didepan kampus dan memberikannya sebuket carnation didepan banyak orang. Tidak seperti Chanyeol yang biasanya.
"Chanyeol..kenapa tiba-tiba ?"
"Untukmu, aku tahu kau tidak merasa baik mengenai presentasimu hari ini, walaupun aku tahu benar kau telah melakukan yang terbaik. Jadi semoga ini membuat suasana hatimu lebih baik"
"Chanyeol.." Baekhyun terharu, hatinya menghangat.
Lalu Baekhyun menerjang Chanyeol dengan sebuah pelukan.
"Terimakasih Chanyeol"
"Dengan senang hati. Kau menyukainya ?"
Baekhyun mengangguk sambil mengeratkan kembali pelukannya.
"Haruskah kita pulang ?" ucap Chanyeol sambil melepaskan rengkuhan mereka, dibalas anggukan oleh Baekhyun.
Mengabaikan orang-orang disekitar mereka, Baekhyun dan Chanyeol memasuki mobil setelah sebelumnya Baekhyun berpamitan pada Younghoon dan Kyungsoo.
"Kau tidak pernah mengira itu bukan ?" bisik Younghoon pada Kyungsoo sambil menatap mobil Chanyeol dan pengawalnya yang meninggalkan area kampus.
Kyungsoo menggeleng.
"Aku kira presdir Park bukan orang dengan tipe affection in public" ucap Kyungsoo.
"Kupikir juga begitu" sahut Younghoon menyetujui.
.
.
.
"Selamat datang tuan" ucap bibi Yoon saat Baekhyun datang diikuti dengan Chanyeol .
"Bibi, tolong ambilkan vas bunga baru" ucap Baekhyun sambil tetap melenggang ke ruang tengah dan duduk disana.
Chanyeol yang sedari tadi melihat Baekhyun yang terus-terusan menatap buket bunga yang ia berikan tadi mulai jengah. Chanyeol berpikir bahwa ini bukan pertama kalinya dia memberikan bunga untuk Baekhyun, lalu kenapa dia terlihat begitu bahagia ?.
"Chanyeol !" adalah pekikkan Baekhyun ketika tiba-tiba buket bunga miliknya diraih paksa oleh Chanyeol.
"Kembalikan.." ,dan Chanyeol menggeleng untuk itu.
"Berikan aku ciuman dulu" ucap Chanyeol tidak lupa menyungginggkan senyumnya, semakin gemas ketika melihat bibir tipis Baekhyun yang memberengut mengerucut kedepan.
"Chanyeol~ itu milikku"
Chanyeol menggeleng kembali dengan menunjuk bibirnya dengan telunjuk.
"Aish !" dengus Baekhyun. Dengan setengah hati Baekhyun perlaan bergerak kedepan untuk mencium Chanyeol. Terlampau singkat, Baekhyun kemudian menarik tubuhnya kembali.
"Apa ?" ucap Chanyeol setelah Baekhyun menarik diri.
"Aku sudah menciummu, kembalikan"
"Sayang, itu bukan ciuman" ucap Chanyeol meletakkan buket bunga carnation berwarna merah muda itu disamping tubuhnya kemudian menarik Baekhyun mendekat.
"Sekarang, cium aku dengan benar"
Baekhyun mengerjap, pipinya telah memerah karena mereka berada dalam jarak yang begitu dekat sampai dimana masing-masing hidung mereka bersinggungan. Tangan Chanyeol masih memegang lengan Baekhyun, tidak membiarkan Baekhyun untuk menjauh, menunggu. Dengan gerakan yang sedikit kaku, tangan Baekhyun perlahan bergerak naik, meletakkannya dibelakang tengkuk Chanyeol lalu menariknya mendekat. Chanyeol menyambut bibir lembut Baekhyun.
"Nghh"
Memagutnya lebih dalam. Baekhyun meremang ketika Chanyeol melesakkan lidahnya. Mengabsen satu persatu giginya, membelai langit-langit mulut Baekhyun. Lidah mereka saling terjalin.
"Ah!"
Baekhyun memekik ketika Chanyeol mengangkat tubuhnya secara tiba-tiba untuk diletakkan dipangkuannya. Jari-jari Baekhyun meremat surai Chanyeol ketika tubuhnya semakin ditarik mendekat. Kelemahan Baekhyun adalah ketika tangan-tangan Chanyeol mulai bergerak menggerayai seluruh tubuhnya. Dia bisa gila, Chanyeol membuatnya gila. Tubuhnya tersentak ketika merasakan jari-jari Chanyeol diatas kulitnya. Persetan dengan buket bunga, Baekhyun menginginkan phoenix favoritnya, sekarang juga, disini.
Chanyeol sedikit terkekeh disela-sela pagutan bibir mereka ketika merasakan Baekhyun menarik kepalanya semakin dekat, memperdalam ciuman mereka. Baekhyun merasakannya. Ketika tangan Chanyeol yang sebelumnya diatas kulit pinggangnya berpindah menuju pusarnya. Kemudian turun dan Baekhyun terengah. Melepas kancing celana Baekhyun. Ah.
Namun tiba-tiba sebuah suara deheman menghentikan mereka.
"Fuck" umpat Chanyeol ketika seseorang dengan penuh keberanian menganggu kesenangannya.
Baekhyun yang masih terengah mengikuti arah pandang Chanyeol dibelakang punggungnya.
"Ada apa ?" tanya Chanyeol pada bibi Yoon.
"Tuan Minho mencari anda"
"Suruh dia kesini"
"Baik Tuan"
Selepas bibi Yoon pergi, Baekhyun bermaksud turun dari pangkuan Chanyeol namun ditahan olehnya.
"Minho-ssi akan kesini Chanyeol" ucap Baekhyun.
"Lalu ?"
"Memangnya tidak apa-apa jika dia melihat kita seperti ini ?"
"Tentu, lagipula kau suamiku" ucap Chanyeo.
Kemudian Minho datang, membungkuk pada Chanyeol dengan ekspresinya begitu tenang ketika melihat interaksi diantara pimpinan dan suaminya. Namun tetap saja Baekhyun merasa tidak nyaman entah bagaimana.
"Oh, Minho. Ada apa ?"
"Ini perihal permintaan anda lusa lalu"
Raut wajah Chanyeol seketika berubah begitu dingin dan Baekhyun menyadarinya.
"Dear.."
Seolah mengerti, Baekhyun kemudian mengangkat tubuhnya turun dari pangkuan Chanyeol.
"Aku akan berbicara pada Minho sebentar" ucap Chanyeol sambil mengecup kening Baekhyun kemudian beranjak dari sana menuju ruang kerjanya diikuti oleh Minho.
Mungkinkah ada masalah dikantornya?, pikir Baekhyun.
.
.
.
"Apa yang kau temukan ?" ucap Chanyeol tanpa basa-basi setelah mengunci pintu ruang kerjanya.
Chanyeol langsung meraih map coklat yang baru saja diletakkan Minho diatas meja kerjanya. Dengan dahi yang mengerut, Chanyeol membuka map itu. Sebuah foto-foto rekaman cctv juga catatan panggilan telepon.
"Panggilan telepon kepada tuan Baekhyun dilakukan ditelepon umum. Kami tidak bisa mengetahui bagaimana wajahnya karena tidak ada penerangan lampu disana"
"Daerah mana ?"sahut Chanyeol saat melihat foto seorang pria dengan postur tubuh cukup tinggi keluar dari telepon umum.
"Seoul"
"Mereka pria yang sama ?" tanya Chanyeol ketika membuka lembaran foto berikutnya. Seorang pria berjas hitam menggunakan masker terlihat memasuki toko bunga dan keluar lagi sambil membawa buket bunga berwarna ungu. Persis dengan apa yang diceritakan Baekhyun padanya. Suaminya itu telah dua kali mendapat buket bunga berwarna ungu tanpa pengirim. Dan Chanyeol menyesalkan fakta bahwa buket itu sampai pada Baekhyun sebelum percobaan penculikan yang dialaminya.
Ketika mendapatkan pertanyaan seperti itu, Minho menggeleng.
"Kami tidak bisa memutuskan mereka adalah pria yang sama atau tidak karena wajah mereka tidak begitu jelas di kamera cctv"
"Bagaimana catatan pembelian di toko bunga ? mereka tidak memilikinya ?"
"Kami sudah menanyakannya, tapi tidak ada catatan apapun"
Dan Minho sedikit berjengit diatas kakinya ketika Chanyeol membuang foto-foto itu begitu kasar diatas meja.
Chanyeol menghempaskan tubuhnya diatas kursinya. Memijit kepalanya yang tiba-tiba pening. Seseorang- tidak, lebih dari satu orang diluar sana tengah mengancam keselamatan suaminya dan Chanyeol benci dimana dia merasa tidak berguna.
"Presdir ?"
"Kembalilah, aku ingin sendiri" ucap Chanyeol dibalas anggukan oleh Minho.
.
.
.
Baekhyun sebenarnya betanya-tanya apa yang terjadi ketika Minho datang kemarin. Karena setelah itu Chanyeol terlihat lebih banyak dan seperti tengah memikirkan sesuatu yang berat. Baekhyun telah mencoba untuk bertanya padanya, namun Chanyeol hanya mengatakan bahwa itu hanya perihal masalah perusahaan dan Baekhyun tidak bisa bertanya lebih. Jikalau pun itu bukan masalah perusahaan, Chanyeol pasti akan memberitahu Baekhyun nanti.
Hari ini Baekhyun tidak ada kelas. Sebenarnya dia telah memiliki janji bersama Kyungsoo dan Hoon untuk ke bioskop pagi ini. Tapi Chanyeol tidak mengijinkannya untuk keluar penthouse entah mengapa. Baekhyun bisa saja menjadi keras kepala tapi nada yang digunakan Chanyeol pagi tadi benar-benar tidak bisa dibantah dan Baekhyun cukup tahu tentang menghormati pasangannya. Karenanya, dengan berat hati dia memberitahu Kyungsoo dan Hoon bahwa dia tidak bisa pergi bersama mereka. Baekhyun tahu itu sangat disayangkan, tapi tidakada yang bisa dilakukan Baekhyun.
"Kau sungguhan tidak bisa pergi ?"
"Chanyeol melarangku, besok bagaimana ?. Aku janji akan mentraktir kalian di kafe dekat kampus"
"Kupegang kata-katamu Nyonya Park"
"Hei !"
"Haha, ingat, kau harus mentraktir kami. Kalau begitu sampai jumpa !"
Panggilan berakhir sepihak oleh Kyungsoo.
"Sialan" umpat Baekhyun kemudian melempar smartphonenya di sofa dan berniat melanjutkan acaranya menonton TV.
Namun tiba-tiba terdengar notifikasi pesan masuk dari smartphonenya. Baekhyun hendak mengabaikannya tapi terdengar notifikasi pesan masuk kembali. Dengan malas, Baekhyun meraih smartphonenya kembali dan terlihat 2 pesan masuk dari ibu Chanyeol. Baekhyun menggeser notifikasi pesan tersebut dan jantungnya seakan berhenti berdetak untuk sepersekian detik ketika membaca kalimat diatas layar smartphonenya.
Mertuamu sedang bersamaku. Tidakkah kau ingin bergabung ?
Datanglah, aku bisa membuangnya karena mati kebosanan.
Dengan tangan yang gemetar, Baekhyun segera menelpon nomor ibu Chanyeol. Panggilan tersambung.
"H-halo ! E-eomma ? Eomma katakan-"
"Kau memanggilnya eomma ? how sweet"
"Sialan ! Siapa kau ?! Dimana eomma ?"
"Woah.. mind your tone. Nyawa wanita tua ini bisa kapan saja melayang jika kau berteriak padaku "
"Don't ! Please don't.. I beg you."
Air mata perlahan telah menuruni pipi Baekhyun. Seseorang menculik ibu Chanyeol. Apa yang sebenarnya terjadi ?
"Aku minta maaf, tolong jangan lakukan apapun pada eomma. Dimana eomma ? kenapa kau melakukan ini ?" Ucap Baekhyun begitu lemah. Pikirannya kosong, dia tidak bisa berpikir apa-apa.
"Kenapa aku melakukan ini ? Uh.. mungkin karena aku gagal membawamu pergi beberapa waktu yang lalu. Kau ingin menggantikannya disini ?"
"Aku akan menggantikannya ! Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan tapi jangan berani-beraninya untuk menyakiti Eomma"
Lalu terdengar suara tawa diseberang sana. Baekhyun menggigit bibirnya dengan kuat, menahan orang itu mendengar isakannya.
"Kau cukup berani untuk mengancamku. Dengarkan baik-baik, datang ke basement sekarang tanpa pengawalmu yang memuakkan itu"
"Apa ?"
"Waktumu 10 menit, aku mulai bosan dengan wanita tua ini"
Panggilan terputus begitu saja.
"Sial !"
Baekhyun mengusap airmatanya dengan kasar.
"Tenang, Baekhyun, tenang. Berpikir.. kau harus berpikir.." gumam Baekhyun. Baekhyun berlari menuju pintu penthouse dan mengintip bahwa hanya ada Shinwan disana. Baekhyun kembali membuka smartphonenya dan menelpon Shinwan.
"Iya, tuan ?"
"Bisakah kau ke apotik xxxx ? ada resep obat yang harus kuambil disana"
"Saya akan menelpon Sangyeon untuk mengambilkannya"
"Tidak !"
"Ne ?"
"Ambil sekarang, ini sudah masuk waktu minum obatku. Dokter melarangku untuk telat meminumnya"
Great. Akting yang bagus.
"Apakah kau bersama Sangyeon dan Juyeon ?"
"Tidak Tuan, mereka akan segera kembali setelah dari kantor presdir"
"Baiklah, kalau begitu segera pergi ke apotik"
"Baik Tuan"
Setelah memastikan Shinwan pergi dari depan pintu penthousenya, Baekhyun segera keluar secara diam-diam. Jari-jarinya menekan tombol lift dengan tidak sabar. Menatap layar smarthphonenya. 5 menit lagi.
"God please.."gumam Baekhyun.
Tidak lama kemudian, tepat setelah pintu lift terbuka, kakinya segera berlari menuju basement. Baekhyun mengeluarkan smartphonenya dari saku lalu menelpon nomor ibu Chanyeol kembali. Kepalanya bergerak mencari-cari dimana bajingan yang menelponnya tadi. Namun dalam sepersekian detik berikutnya sesuatu membekap mulutnya lalu kemudian pandangannya memburam kemudian gelap.
.
.
.
Chanyeol membuka kancing jasnya dengan kasar setelah memasuki ruangannya. Rapatnya hari ini berjalan sangat alot dan emosinya sedikit banyak tertekan didalam ruang rapat. Chanyeol memejamkan matanya, setelah menghempaskan tubuhnya secara kasar pada kursi kebesarannya.
"Presdir"
"Pergi. Aku sangat lelah. Letakkan saja apa yang harus kulakukan diatas meja"
"Tapi presdir-"
"Pergi Minho"
"Shinwan mengatakan pada saya bahwa Tuan Baekhyun tidak berada di penthouse Tuan"
Phoenixnya terbuka dengan alisnya yang tebal hampir menyatu.
"Sangyeon dan yang lain tidak menemukan tuan Baekhyun baik di kediaman Ketua atapun Tuan Byun" lanjut Minho dan perasaan khawatir perlahan menyelubungi ketika Chanyeol mendengarnya.
Chanyeol beranjak dari kursinya.
"Kita ke penthouse. Buat panggilan dengan orang bernama Kyungsoo dan Younghoon. Mungkin Baekhyun bersama mereka"
.
.
.
"Apa yang terjadi ?" ucap Chanyeol menyembunyikan kedua tangannya yang terkepal didalam saku celana kainnya.
Minho telah mengatakan padanya bahwa Kyungsoo dan Younghoon tidak bersama Baekhyun. Salah satu dari mereka mengatakan bahwa sebenarnya mereka memiliki janji untuk pergi menonton hari ini, tapi Baekhyun menolaknya. Itu artinya seharusnya Baekhyun berada di penthouse, sekalipun dia pergi pasti Baekhyun akan mengatakannya pada Chanyeol atau eommanya. Lalu dimana pria mungilnya ?.
Shinwan, Juyeon dan Sangyeon menelan ludahnya kasar ketika mendengar bagaimana nada dingin penuh intimidasi itu seolah mengancam mereka.
"Maafkan atas kelalaian-" ucap Shinwan mendahului namun berhenti ketika tangan Chanyeol terangkat.
"Aku tidak ingin mendengar permintaan maaf. Apa yang terjadi ? Siapa yang bertanggungjawab disini ?" potong Chanyeol tidak ingin mendengar omong kosong.
Shinwan langsung meletakkan lututnya dibawah kaki Chanyeol, membungkuk.
"Ini terjadi karena kelalaian saya meninggalkan tuan Baekhyun sendiri" ucap Shinwan masih dengan kepala menunduk.
Tidak berani bersitatap dengan sepasang phoenix yang menajam itu. Chanyeol masih terdiam, sehingga Shinwan dengan sedikit ragu meneruskan ucapannya.
"Sebelumnya Tuan Baekhyun menyuruh saya untuk mengambil obat di apotik. Saya hendak menyuruh Sangyeon untuk melakukannya, tapi Tuan Baekhyun mengatakan bahwa saya harus segera mengambil obatnya karena telah mendekati waktu minum obatnya. Namun saat saya kesana, pihak apotik mengatakan tidak ada obat yang diresepkan untuk Tuan Baekhyun. Kemudian saya mencoba menghubungi beliau, namun panggilan saya terus dialihkan. Saya bergegas untuk kembali ke sini namun tuan Baekhyun sudah tidak ada"
"Dimana bibi Yoon ?"tanya Chanyeol mengabaikan Shinwan yang masih berlutut didepannya.
"Beliau tidak bisa datang hari ini karena sakit presdir"
Chanyeol mengalihkan pandangannya pada smartphone Baekhyun yang ditemukan oleh Shinwan di basement saat pria itu kembali.
"Berdiri" perintah Chanyeol begitu dingin dan Shinwan langsung bangun menegakkan tubuhnya kembali.
Namun kemudian Shinwan merintih kesakitan ketika tiba-tiba belakang kepalanya terbentur tembok dengan keras dan merasakan cekikan dari tangan atasannya. Tangan Shinwan hanya bisa terkepal bertahan sebisa mungkin, tidak berani untuk sekedar terangkat menahan tangan Chanyeol yang tengah mencekiknya. Dia bisa merasakan darahnya berhenti, tapi Shinwan tahu benar dimana posisinya.
"Presdir" Minho memperingati.
"Dengar, aku memiliki alasan sehingga kau dapat berada diposisi ini. Jangan membuatku menyesal karena alasan itu" desis Chanyeol lalu melepas cekikan pada leher Shinwan, mendorongnya dengan kasar.
Lalu berjalan menuju ruangannya dengan langkah penuh amarah. Sangyeon yang melihat rekannya terjatuh langsung membantunya untuk berdiri.
"Mohon maaf atas sikap presdir. Beliau hanya kalut" ucap Minho sambil sedikit membungkuk pada mereka.
"Kami mengerti" ucap Sangyeon, kemudian Minho mengangguk dan melangkah menyusul Chanyeol masuk keruangannya.
"Kau baik?" tanya Sangyeon kepada Shinwan yang terlihat meraba lehernya. Chanyeol tidak main-main ketika mencekiknya.
"Ya" jawab Shinwan.
"Hyung, jangan dimasukkan dalam hati. Tuan memang sedang kalut" ucap Juyeon dan Shinwan terkekeh.
"Aku tahu. Aku benar tidak apa-apa. Ini bukan pertama kalinya kita menghadapi emosinya, kan ?. Bagaimanapun aku harus bertanggung jawab. Tuan Park sudah berbuat banyak untukku. Aku tidak boleh mengecewakannya"
"Pada kita" sahut Sangyeon.
"Ini budi seumur hidup. Kita harus segera menemukan Tuan Baekhyun" kali ini Juyeon yang berbicara dibalas anggukan oleh mereka.
Mungkin Chanyeol terkadang kejam, arogan, dingin, otoriter atau apapun yang membuat orang berpikir dua kali untuk terlibat kedalam lingkup kehidupan yang ia jalani. Tapi bagi Shinwan, Juyeon dan Sangyeon, seorang Park Chanyeol lebih dari pandangan orang-orang. Pria itu memberi mereka tujuan, dididik untuk tidak menyerah pada kerasnya dunia. Mereka bekerja pada seorang Park Chanyeol bukan untuk alasan dangkal semata. Mereka lebih dari itu.
.
.
.
Chanyeol mengurut pangkal hidungnya berharap peningnya hilang. Sejak pengawalnya mengatakan bahwa Baekhyun menghilang, dunianya seakan berhenti saat itu juga. Dia sadar, bahwa dalam dunia bisnis merupakan hal yang lumrah memiliki musuh. Tapi Chanyeol tidak menyangka bahwa ada seseorang diluar sana yang nekat melakukan hal seperti ini padanya. Chanyeol telah melihat cctv di penthousenya, dan dia bisa memastikan bahwa pria munglinya itu terlihat menerima sebuah telepon lalu tergesa-gesa keluar penthouse. Baekhyun juga terlihat tergesa-gesa namun seakan bingung. Terlihat di cctv bahwa dia berulangkali terdiam. Chanyeol mendapati bahwa kontak nomor eommanya yang terakhir berada di log panggilan Baekhyun. Setelah itu dia mencoba menelpon eommanya, namun panggilan dialihkan.
Dering telepon membuyarkan lamunannya, dengan malas Chanyeol menerima panggilan itu.
"Hyung !"
Chanyeol dengan nada memperingati ketika adiknya itu lagi-lagi meninggikan suara padanya namun berusaha mengabaikannya.
"Apakah eomma telah kembali ?" tanya Chanyeol.
"Eomma pergi ke Daegu dan kembali kerumah saat sore. Tapi sampai sekarang eomma belum juga pulang"
Berikutnya semua firasat buruk Chanyeol seakan naik ke permukaan. Dia telah menduganya. Namun seberapa banyak kemungkinan yang ada dikepalanya tidak dapat menjelaskan korelasi antara keduanya.
"Hyung, apa yang terjadi ?"
"Ku tutup"
"Hyung-"
Chanyeol melarikan jari-jarinya diatas layar smartphone, menekan nomor telepon seseorang.
"Aku butuh bantuanmu, sekarang juga"
.
.
.
5 jam sebelum penculikan Baekhyun..
Nyonya Park tengah berada di toilet umum saat menerima panggilan dari menantunya.
"Chanyeol tidak mengijinkanmu keluar ? Dasar anak itu. Gwaencana, eomma akan mampir ke sana dan mengajakmu keluar. Bagaimana ?. Hahaha..terimakasih menantuku. Hm, sampai nanti"
"Terlihat bahagia" sebuah suara menginterupsi ketika nyonya Park tengah membasuh tangannya. Lalu ketika Park Soo Young mendongak, dia bersumpah bahwa dia berharap bahwa ini adalah mimpi.
"Kau-"
"Lama tidak bertemu, Park. Soo. Young"
.
.
.
Saya tetap berusaha sebisa mungkin meluangkan waktu untuk menulis kelanjutan di setiap chapternya. Untuk itu, saya berterimakasih kepada readers yang selalu sabar menunggu saya untuk update juga terimakasih spam review dari reader baru. Saya membaca semuanya.
Jangan lupa tulis di kolom review ya, sehingga saya tahu komentar kalian untuk chapter ini ! See u next chapter !
