The Student

A Jaemren Story

BoyxBoy

Bagian 16

.

Ponsel Jaemin bergetar, saat ia membukanya, ada pesan masuk dari Jeno: 'Aku di bawah, cepat turun.'

Tanpa membalasnya, Jaemin segera memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku celana Winwin yang dipinjamnya. "Injunie," panggil Jaemin pada sosok Renjun yang masih rebahan di ranjang, masih telanjang juga terlilit selimut hangat warna birunya.

"Hmm?" Renjun menggumam, menyahut pada panggilan Jaemin.

"Aku pulang ya," kata Jaemin, mengambil tas dan buku-bukunya yang masih setengah basah karena hujan-hujanan mengejar Renjun tadi saat pulang sekolah. Milik Renjun pun sama, besok dia tak punya seragam untuk dipakai ke sekolah. Pun seragam Jaemin juga ia tinggal di tempat Renjun.

"Kalau besok pagi masih sakit, jangan dipaksakan berangkat." Jaemin mendekat ke Renjun, mencondongkan wajahnya pada wajah favoritnya, memberi kecupan singkat pada bibir siswa yang lebih tua. Dapat dirasakannya bibir Renjun sedikit bengkak karena ulahnya tadi. "Selamat tidur, sayang."

Wajah Renjun memerah. Cara Jaemin memanggilnya dengan sebutan sayang adalah hal terindah yang ia dengar selama mengenal Jaemin. "Ha—hati-hati, Jaeminaa," ucap Renjun pelan, wajahnya masih tersipu.

Jaemin tersenyum, tangan besarnya bergerak maju mengusap puncak kepala Renjun. Hal itu merupakan kebiasaan Jaemin sejak dulu untuk orang-orang yang dia anggap imut nan menggemaskan. Jisung bahkan sampai muak diperlakukan seperti itu oleh hyungnya setiap hari setiap menit.

Berjalan meninggalkan kamar Renjun dengan membawa tas dan buku-bukunya yang basah. Jaemin membuka pintu keluar apartemen Renjun. Ia sedikit berjengit mendapati Winwin sedang berdiri bersiap masuk ke dalam apartemen.

"Ni hao?" sapa Jaemin dengan wajah sangat ramah. Moodnya benar-benar sedang ada di puncak.

Winwin masih memasang wajah bingung. "Ni hao, teman Renjun?" tanya Winwin, matanya tak bisa lepas dari rambut pink Jaemin. Bisa dibilang orang yang sering berkunjung ke apartemen mereka hanya Haechan. Hyunjin juga pernah tapi hanya beberapa kali, itupun karena tugas kelompok saat mereka sekelas dulu.

Melihat sosok Jaemin yang asing, tentu saja Winwin penasaran, siapa anak tampan berambut merah muda di depannya ini. Renjun tak pernah bercerita tentang teman sekolahnya semenjak menginjak kelas 3.

Jaemin mengangguk. "Aku baru saja mau pulang,hyung. Pamit dulu." Jaemin membungkuk dengan sopan lalu meninggalkan Winwin.

"Hati-hati ya!" Winwin meninggikan nada suaranya karena Jaemin sudah berlalu melewatinya. "Aku bahkan belum tahu siapa namanya," ujarnya pada diri sendiri ketika berbalik masuk apartemen.

"Rambut pink.. kenapa rasanya tidak asing?" Sambil memasuki apartemen, Winwin masih memikirkan rambut Jaemin dan kapan dia pernah bertemu dengan anak itu. Menyadari sesuatu, Winwin kemudian memekik.

"Eh, tadi kan bajuku?!"

X

X

"Apa yang terjadi? Kenapa kau senyum-senyum terus seperti orang gila?" tanya Jeno. Matanya bolak-balik melirik Jaemin, rear-view-mirror dan jalanan depan karena sedang menyetir. Senyuman lebar pada wajah Jaemin sejak mereka berangkat dari apartemen Renjun, tidak luntur sedari tadi.

Jaemin tertawa. "HA HA HA!" Lalu memeluk Jeno gemas dan mencium pipi sahabatnya itu. Jeno menjadi tidak fokus menyetir karena sahabatnya yang mendadak jadi gila tersebut. Ia bergidik ngeri dan terus menghindari serangan kasih sayang Jaemin.

"Ya tuhan, aku tidak mau ketularan gila," kata Jeno bergidik ngeri. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang sudah terjadi pada sahabatnya itu. Sepengetahuannya, Renjun sudah benar-benar kecewa pada Jaemin karena melihatnya bersama dengan Jeongin kemarin.

Tapi karena malam ini tiba-tiba saja kakaknya menyuruh Jeno untuk menjemput Jaemin di tempat Renjun, Jeno tidak bodoh untuk menyimpulkan bahwa Jaemin dan Renjun sudah baikan. "Sudah baikan dengan Renjun?" tanya Jeno. Ia yakin Jaemin tahu maksudnya.

Jaemin yang tahu maksud Jeno langsung mengerutkan kedua alisnya. "Darimana kau tahu kalau kami bertengkar?" tanyanya penuh kecurigaan.

Jeno tahu dia tak bisa membohongi Jaemin. Menyembunyikan fakta bahwa dia dan Renjun sudah bernostalgia saja sangat sulit rasanya. "Kemarin Renjun menangis setelah pertandingan basket Mark hyung. Sekolahmu melawan sekolahku, jadi aku ada disana saat dia menangis," ujar Jeno jujur.

Jaemin mengangguk, tersenyum miris karena ia tak disana saat Renjun menangis akibat ulahnya sendiri. Ia juga membenarkan bahwa pertandingan basket kemarin adalah sebab pertengkarannya dengan Renjun sampai harus rela kehujanan untuk meminta maaf. "Jeongin bukan pacarku asal kau tahu," ucap Jaemin, mengklarifikasi pada sahabatnya.

"Aku tahu kau tidak sembarang mengencani orang. Kau kan masih lebih bodoh dalam hal percintaan daripada aku." Setelah mengucapkan itu, Jeno tertawa. Disusul dengan jitakan keras dari tangan Jaemin yang mendarat di kepalanya.

Mereka pun kemudian saling bercanda gurau satu sama lain hingga hanya suara music dari mp3 mobil Jeno yang terdengar. "Jeno-ya," panggil Jaemin saat suasana terasa sangat tenang. Yang dipanggil hanya menggumam tanpa menoleh.

"Aku sudah tidak perjaka sekarang."

Ckiit!

Jeno menginjak rem mendadak, membuat tubuhnya dan Jaemin hampir membentur ke depan jika tak tertahan oleh seatbelt yang mereka pakai. "LEE JENO! KAU MAU MEMBUNUHKU YA?!" geram Jaemin marah. Dia benar-benar kaget dengan reaksi langsung yang diberikan Jeno. Sahabatnya itu mengerem mendadak di tengah jalan saat mobil melaju dengan kecepatan 60 km/jam.

"Barusan kau bilang apa?" Jeno membanting stir ke kanan, mencoba menepi. Ia masih harus mengatur detak jantungnya sesudah mendengar pernyataan Jaemin barusan. Saking kagetnya, ia tadi sampai menginjak rem kuat-kuat. Untung saja tak ada kendaraan di belakang mereka. Kini Jeno jadi tahu kenapa sejak tadi Jaemin tersenyum lebar sampai ia mengira bahwa anak itu gila.

"Aku sudah tidak perjaka. Hari ini aku dan Renjun melakukannya." Jaemin mengulangi pengakuannya. Alisnya naik turun merasa bangga bahwa ia bisa mengalahkan Jeno dalam hal percintaan sekarang. "Aku sudah pernah berhubungan sex dan kau belum kan? HA HA HA!" Jaemin tertawa puas, meledek Jeno.

Biasanya Jeno selalu bilang Jaemin bodoh tentang hal percintaan. Kini siswa berambut pink itu sudah punya kartu AS untuk menyanggah ejekan Jeno padanya. "Ayo Jeno-ya, kapan kau mau melepaskan keperjakaanmu itu! Cari pacar sana. Apa perlu kucarikan?" ejek Jaemin. Suaranya dibuat-buat, terdengar sangat menyebalkan bagi siapapun yang mendengarnya dan hal itu sukses membuat Jeno kesal.

"Diam kau," desis Jeno mati kutu tak bisa membalas Jaemin. "Eh, bukanya itu Jeongin dan Haechan?" Tatapannya tersita pada sebuah café. Di dalam sana ada Haechan dan Jeongin sedang mengobrol berdua. Jaemin pun mengikuti arah pandang Jeno.

"Kita kesana," perintah Jaemin yang langsung diangguki Jeno. Dia penasaran apa yang dilakukan teman sekelas dan adik kelasnya itu.

X

X

Haechan masih menunggu jawaban Jeongin. Ia sengaja meminta Jeongin untuk menemuinya di luar sekolah agar tak ketahuan Renjun ataupun Hyunjin apalagi Jaemin. Anak itu berinisiatif sendiri untuk menanyakan hubungan Jaemin dan Jeongin.

Jika memang keduanya berkencan, Haechan ingin menjauhkan Renjun dari Jaemin agar mereka tak lagi berhubungan. Sudah cukup Haechan melihat Renjun menangis dalam diam hanya karena Na Jaemin. Hal itu sangat menyakitkan untuknya.

"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Jaemin sunbae. Kemarin kami hanya berkencan sekali saja. Itupun karena Jaemin sunbae ingin mengucapkan terima kasih padaku." Jeongin memberi penjelasan pada Haechan.

Ia sebenarnya malas sekali berurusan dengan Haechan yang bisa dibilang tak ada urusan dengannya ataupun Jaemin. Haechan tidak mengerti apa yang sudah dia dan Jaemin rahasiakan satu sama lain. Walaupun Jeongin menyukai kakak kelasnya itu, tapi bukan berarti dia tak punya malu untuk terus mengejarnya. Jeongin tahu kalau Jaemin tidak tertarik padanya dan anak itu tidak mau memaksa.

"Terima kasih apa?" tanya Haechan penuh selidik.

Jeongin tersenyum kaku, mencari alasan. "Karena aku mengembalikan dompetnya yang tertinggal di UKS," bohongnya.

"Lalu dia mengajakmu berkencan sebagai ucapan terima kasih?"

Jeongin mengangguk padahal tadinya dia ingin bilang bahwa dia yang mengajak Jaemin berkencan. Tapi karena Haechan sudah menyimpulkan sendiri, Jeongin hanya mengiyakan saja. "Hanya sebatas itu sunbae. Aku tahu Jaemin sunbae menyukai orang lain. Kami benar-benar tidak memiliki hubungan apapun," lanjutnya lagi.

Haechan mengangguk mengerti. "Maaf kalau membuatmu tidak nyaman. Kau bilang kalau kau menyukai Jaemin, makanya aku hanya ingin memastikannya sendiri. Kalau memang kau ada hubungan dengan Jaemin, aku juga tidak akan memarahimu."

Jeongin mengangguk. Ia tidak tahu maksud Haechan mengajaknya kesini, maka dari itu dia bertanya. "Apa Haechan sunbae menyukai Jaemin sunbae?" tanyanya.

Mata Haechan melotot lebar, mulutnya sampai membentuk huruf 'O' saking terkejutnya dia dengan pertanyaan Jeongin. "Aku? Menyukainya? Tidak akan." Lalu memperagakan gesture pura-pura muntah yang membuat Jeongin terkikik.

"Kenapa sunbae? Jaemin sunbae kan pintar, tampan."

"Aku sudah punya orang lain yang kusukai daripada dia. Jaemin bukan tipeku. Aku lebih suka orang yang agak bodoh, pintar basket, menyebalkan dan tidak peka." Haechan secara tidak sadar menyebutkan ciri-ciri Mark.

Jeongin yang tahu kalau Haechan sedang menyebutkan ciri-ciri Mark langsung tersenyum dan mengangguk-angguk. Ia yang setiap hari selalu bersama Hyunjin sudah kenyang mendengar gossip dari kakak kelasnya itu bahwa Haechan menyukai Mark sejak mereka kelas 1.

"Bilang saja kalau kau suka Mark." Suara berat Jaemin yang sudah berdiri di samping meja mereka membuat keduanya berjengit kaget.

"Yaak! Kau!" Haechan langsung berdiri, menunjuk wajah Jaemin. "Kau!" Lalu kemudian wajah Jeno. "Apa yang kalian lakukan disini?!" tanyanya dengan suara melengking, membuat Jeongin sedikit meringis mendengar suara keras Haechan.

"Menguping lah. Mau apa lagi?" ucap Jeno. Ia dan Jaemin langsung jujur saja. Keduanya sudah mengintai meja Haechan dan Jeongin sejak Jeongin bertanya apakah Haechan menyukai Jaemin. Kemampuan dua pembunuh muda tersebut untuk menguntit dan sembunyi terlalu hebat.

"Yak! Jinjja! Kurang ajar kalian! Kalian mengagetkanku dasar bodoh!" Haechan menahan malunya karena Jaemin dan Jeno sukses memergoki pengakuannya bahwa dia menyukai Mark, walau tidak secara eksplisit. Jaemin sebagai sahabat Mark di sekolah pasti tahu Mark seperti apa. Apalagi Jeno adik tiri Mark, ciri-ciri yang Haechan sebutkan ada di Mark semua.

Jaemin menyeringai. Ia kemudian menatap Jeongin. "Pinjam Haechan sebentar ya?" Jeongin hanya mengangguk. Kemudian Jaemin menggandeng Haechan untuk berjalan menjauh dari meja mereka.

"Apa? Kau mau bicara apa? Issh, jinjja, kalian benar-benar kurang ajar. Aish, menguping pembicaraan orang, dasar tidak tau malu! Jinjja, Na Jaemin. Kau dan Jeno tidak bisa ya muncul dengan cara biasa saja? Huh?!" Selama berjalan menjauh bersama Jaemin, Haechan masih terus saja mengomel.

Jaemin tersenyum usil mendengar omelan Haechan. Ia diam-diam mengagumi Renjun karena tahan dekat-dekat dengan anak ini. Siswa berambut pink itu kemudian menyeringai, setelah dirasa sudah jauh dari Jeno dan Jeongin, Jaemin membisikkan sesuatu pada telinga Haechan.

Mata Haechan melotot sempurna, mulutnya membuka lebar-lebar, wajahnya memerah mendengar apa yang dibisikkan Jaemin baru saja. "YAK! NA JAEMIN! KAU MAU KUBUNUH?!" Suara menggelegar Haechan sukses membuat semua pengunjung café menutup telinga.

.

.

.

To be continued.

Bisikin apa tuh sunshine ke Nana?