WHITE MARRIAGE
by Gyoulight
.
.
.
.
CHANBAEK FANFICTION
GENRE: Romance, Marriage Life/?
RATING: T/?
.
.
.
.
"Ayo kita bercerai saja," ucap Baekhyun asal.
.
Chanyeol terdiam. Berdiri patung tanpa bicara apapun soal kalimatnya. Namun Baekhyun tidak perduli dengan apa yang dipikirkan pria itu, yang jelas ia ingin segera tidur. Menjemput kantuknya yang tidak kunjung muncul, daripada meladeni setumpuk lelah dalam pikirannya.
"Aku sudah menemukan orang yang tepat, jadi ayo kita bercerai saja," jelas Baekhyun membuka mantelnya. Menggantungnya di dekat dinding, namun tidak juga membereskan keberantakan kamarnya.
Sebuah tangan kemudian menahannya. Menariknya mendekat dengan segera. "Dia bukan orang yang tepat. Kau salah." Chanyeol menangkap maniknya yang berkabut. Menelannya dalam gelap yang sudah lebih dahulu menjemput.
"Apa perdulimu?" Baekhyun menghempas tangan itu. Kakinya pun lelah, bosan menahan berat tubuhnya sendiri. "Aku tidak bisa terus hidup seperti ini. Sekeras apapun aku berusaha, aku tetap tidak bisa mengerti dirimu. Kau pun tidak berusaha untuk mencintaiku jadi tidak ada alasan untuk melanjutkan ini."
Raut Chanyeol berubah mengeras. Berkilat-kilat matanya membakar emosi yang menggebu. "Setelah semua yang aku lakukan, kau masih bilang bahwa aku tidak berusaha?"
Jantung Baekhyun berhenti berdegup. Ketakutannya berlarian mengitari semua bentang dirinya. Aura dominasi Chanyeol lalu kembali menangkapnya. Tidak memberinya ruang untuk melarikan diri. Alih-alih memenjarakannya ke tepian dinding.
"Lihat aku. Apa semua yang aku lakukan itu bukan usaha?" Chanyeol menguncinya. Mendorongnya ke belakang sampai punggungnya terhimpit pada dinding. "Aku melakukan semua hal yang bisa aku lakukan untukmu. Aku menghawatirkanmu, membuatkanmu sarapan dan melakukan tanggung jawabku seperti pernikahan yang mereka katakan. Kau pikir ini apa?"
Jemari Baekhyun mendingin mendengarnya. Sorotnya bahkan bisa gemetar menatap sepasang manik hitam di depannya itu. Mungkin benar jika ia tidak mengerti Chanyeol. Tidak pernah ia memikirkan pria itu dengan baik. Tidak pernah tahu jika Chanyeol terpaksa melakukan semua itu karena dirinya.
Baekhyun tidak berbeda dengan seorang egois, tidak seharusnya ia membebani Chanyeol untuk waktu yang lama. Maka benarlah jika ia harus mencari alasan tepat, yang akan membuat Chanyeol bebas. Berbohong seperti, "Aku tidak pernah merasa bahwa semua itu berarti bagiku."
Tanpa sadar sebuah air mata lolos begitu saja dari pipinya. Mengaburkan bayangan Chanyeol yang masih memandanginya dengan sekelumit emosi yang rumit. Dan pria itu kembali mendekat. Mengikis jarak yang mereka buat dengan sekali tatap.
"Aku belum menyelesaikan semua usahaku. Mau ku tunjukkan sisanya?"
Baekhyun tidak mampu bersuara, tidak bisa menahan sendiri isakannya. Sesak di dadanya pun sudah lebih dahulu mengambil sensitifitas indranya. Tidak sadar jika Chanyeol sudah menariknya pergi. Melemparnya ke atas ranjang berantakan miliknya, lengkap dengan lengan-lengan Chanyeol yang terus memenjarakannya.
Baekhyun membatu. Otaknya sangat terbentur menerima semua perlakuan yang dilihatnya. Nyatanya Chanyeol tidak berhenti bergerak. Pria itu menciumnya tergesa seakan ia akan mati esok hari. Jemari-jemari itu ikut melintasi bahunya. Menangkapnya seperti pasokan oksigen yang dibutuhkan paru-parunya.
"Chan─yeol─" Baekhyun terus mendorong tubuh besar itu dengan nafas terputus. Mencoba menggerakkan kepalanya untuk menghindar, tapi Chanyeol tidak akan melepaskannya. Menghalangi nafasnya yang bekerja untuk terus hidup.
Sesaat ketika pria itu melepaskannya, ia dapat melihat keredupan mata itu berlinang. Semakin menyesakkan dadanya saat ia berbisik, "Aku tidak pernah melakukan ini pada siapapun. Jadi saat aku melakukannya, maka kau adalah orang yang tidak akan pernah aku lepaskan."
Bagai daun yang terseret angin, jiwa Baekhyun tergerus menjauhi raganya. Terbawa arus hebat dalam kenyataan yang sama sekali belum ia dengar. Dan Baekhyun hanya bisa menangis dalam diamnya. Ia tidak pernah tahu jika Chanyeol bisa membuatnya tergugu tanpa alasan.
Sosok itu kembali menurunkan wajahnya. Menarik dirinya yang rapuh tanpa sisa. Memorak-porandakan ranjangnya yang semakin berhamburan. Ciuman-ciuman Chanyeol datang menjelajahi dirinya. Turun ke bahunya saat tangannya ditahan. Alih-alih menbuatnya tidak nyaman dengan semua perlakuan itu.
"Chanyeol, hentikan─"
Chanyeol sekali lagi tidak mendengarnya. Pria itu kini menarik pakaiannya. Membuat jemari itu menari di atas kulitnya yang dingin. Pun bicara-bicara yang dibuat Baekhyun kini tercekat, membisu. Tertahan pada tangisnya yang tidak bisa ia suarakan.
"Chanyeol!"
Berontakan demi berontakan yang dibuat Baekhyun pada bahu Chanyeol kemudian semakin melunak. Ia tidak lagi menemukan sorot Chanyeol yang menyinarinya dalam keremangan.
Gelap semakin menghantam, nafas Baekhyun terseok-seok mencari kebebasan. Ia sama sekali tidak mengerti hal aneh apa yang ia rasakan ketika Chanyeol kembali menciumnya. Pria itu seakan membawanya pergi. Memujanya semakin tinggi saat ia mencoba berlari menghindar.
e)(o
Remang kamar yang biasa Baekhyun hindari kini menenggelamkannya sepi. Salah satu jendela kamar masih terbuka lebar. Mempersilahkan banyak angin malam yang masuk dengan bebas. Liuk korden pada jendela seakan menertawakannya. Yang pada akhirnya semua itu membuatnya mengingat pekatnya malam yang baru saja ia lalui.
Tak mau terus tenggelam dalam selimut tebal, sorot Baekhyun menyisir sekitar. Tubuh polosnya bahkan terasa remuk tak tersisa, mengantarkannya kantuk yang tidak bisa diredam. Sebuah elusan halus pada surainya lalu datang ketika ia mendapati sosok yang begitu dekat dengannya. Sorotnya redup, tidak berwana ketika Baekhyun selami lautannya.
Sama dengan hatinya, Chanyeol pun tidak kunjung bicara. Tidak juga memohon maaf seperti hal yang selalu pria itu lakukan ketika melakukan kesalahan.
"Ayo kita bercerai," bicara Baekhyun susah payah. Tenggorokannya terlalu kering untuk sekedar kecewa. Namun Chanyeol kembali meraihnya, tanpa perduli pada waktu yang semakin menyadarkan pagi.
Baekhyun kembali menjalani setiap detik yang berjalan begitu lambat. Begitu panjang untuk meladeni setumpuk lelah yang dibebankan padanya. Kini ia merasakan kebas yang luar biasa. Tubuhnya lumpuh diluputi sakit, tak terkecuali luka di hatinya.
Baekhyun mungkin tidak pernah menyangka akan berakhir demikian. Namun ia tahu, cepat atau lambat ia pasti akan melaluinya. Suka tidak suka, Chanyeol adalah suami sahnya, pria itu berhak mendapatkan apapun yang menjadi haknya. Namun entah, mengapa semua itu terus menyisakan sesak di dadanya dibandingkan dengan menganggap ini sebagai kecelakaan kecil seperti sebelumnya.
Mendapati keterdiamannya sendiri, Baekhyun menatap pahatan wajah Chanyeol yang terlelap di dekatnya. Rambut pria itu tak kalah berantakan. Sama seperti miliknya yang sudah bercampur dengan peluh. Dengan sisa tenaganya, ia semakin menyeret selimut yang ia kenakan untuk melingkupi tubuhnya. Menumpahkan tangis bisunya di dalam sana, lengkap dengan punggungnya yang dipeluk dingin.
e)(o
Chanyeol mendapati dirinya disiram cahaya mentari yang terhalang korden. Matanya yang masih memburam kini menyisakan denyutan di kepala. Menatap langit-langit kamar yang dihadapnya membuatnya harus bergerak untuk mendudukkan diri. Tidak juga punya banyak tenaga untuk sekedar bergegas ke kamar mandi.
Butuh lima detik sampai Chanyeol menyadari bahwa dirinya tidak tertidur di kamarnya sendiri. Tertidur di kamar Baekhyun dengan rambut kusut yang membuatnya sedikit mengingat memori semalam.
Pakaiannya sudah tergeletak di lantai, ranjang itu bahkan kusut lebih dari berantakan. Ia sungguh sadar benar apa yang dilakukannya semalam sampai Baekhyun tidak lagi terlihat di sampingnya.
Kini kakinya bergerak turun dari ranjang. Menjuput pakaiannya di lantai, lalu memakainya dengan tergesa, tanpa perduli dengan rambutnya yang naik berantakan. Pun pikirannya penuh dengan rasa berdosanya sendiri. Percuma saja menaruh sesal.
Sebuah dering ponsel kemudian segera menyadarkan pening Chanyeol yang membabi buta. Tangannya segera meraih ponsel Baekhyun yang terabaikan di atas lantai. Memeriksa nama si pemanggil, yang nyatanya semalam telah menjadi bahan perdebatan mereka.
"Hyung, kau sudah bangun? Pak Choi mencarimu." Suara di seberang sana berbicara dengan nada cemas. Cukup sampai Chanyeol berpikir bahwa si pembuat panggilan cukup perhatian pada Baekhyun.
"Baekhyun melupakan ponselnya," jawab Chanyeol menyugar surainya. Menyeret korden jendela dengan sekali tarikan. Hingga matanya silau sendiri karena menyambut siang yang akhirnya datang menelan waktu. Fakta bahwa matahari sudah sangat tinggi, membuatnya berpikir untuk tidak datang bekerja.
Seseorang bernama Sehan atau Sehun─masa bodoh siapa─akhirnya terdiam seribu bahasa di seberang sana. Chanyeol sendiri tidak perduli dengan itu. Yang jelas ia ingin memberitahu si pemuda soal dirinya agar ia tidak berpikir macam-macam soal Baekhyun.
"Aku suaminya," jelasnya. "Baekhyun tidak pergi ke kampus?"
Suasana berubah canggung. Ada jeda panjang sebelum seseorang itu menjawab, "T-tidak. Aku menelfon untuk menemukannya."
Chanyeol terdiam sejenak. Ia memperhatikan seisi kamar Baekhyun yang seperti kapal pecah. Tidak ditemukannya sesuatu seperti jejak Baekhyun yang akan membawa barangnya pergi. Karena isi lemari suaminya masih lengkap dengan pakaian.
"Ada yang ingin kau sampaikan pada Baekhyun? Aku bisa menyampaikannya nanti."
"Katakan pada Baekhyun hyung untuk segera menemui Pak Choi. Ada beberapa berkas yang harus diurus," jawabnya.
Panggilan itu kemudian berakhir ketika Chanyeol berterima kasih. Ia lalu meletakkan ponsel Baekhyun ke atas nakas. Keluar dari kamar itu untuk mendapatkan sebotol air sambil mencari keberadaan Baekhyun yang entah tersesat dimana.
"Baekhyun?" panggilnya sepi di setiap sudut rumahnya. Memeriksa halamannya, membongkar setiap ruang di rumahnya. Namun tidak pernah ia temukan sosok yang dicarinya.
Sekelumit pikiran Chanyeol lalu terbang bersama bayangan bibi Gong yang datang. Mendapati wanita paruh baya itu membuka pagarnya lantas membuatnya memeriksa dapur. Namun yang ia temukan hanya dapurnya yang bersih. Tidak tersentuh siapapun seperti biasanya.
"Kau tidak bekerja?"
Chanyeol berharap pertanyaan itu adalah pertanyaan dari Baekhyun yang tiba-tiba muncul di belakangnya dengan memakan snack setelah acara menonton televisi. Tapi sayangnya bukan. Hanya ada bibi Gong yang datang dengan kantung belanjaannya.
e)(o
Mual.
Menumpahkan seluruh isi perutnya, mungkin hal yang benar-benar dibenci oleh Baekhyun belakangan ini. Ia sangat menyesal karena terlalu banyak makan semalam. Terlebih ia mengalami tekanan di beberapa waktu terakhir, membuatnya sering pusing dan mual di pagi hari.
Keluar dari rumah Chanyeol, ia langsung menyetop sebuah taxi. Tidak terpikirkan baginya kemana arah dan tujuan. Bukannya alamat rumah, bukan bandara atau yang lainnya, ia hanya menyebutkan salah satu area kecil di tengah kepadatan Seoul kepada sang supir.
Baekhyun mengeratkan mantelnya. Turun dari taxi, ia melangkah dengan mata yang bengkak, tidak perduli pandangan banyak orang yang heran akan keterdiamannya. Syal merahnya sudah melingkar manis di leher. Melindunginya dari dingin yang terus ia rasakan sejak dini hari.
Sesampainya ia di depan sebuah pagar yang berembun, ia membukanya perlahan. Ada dua orang yang tidak asing kini terkejut mendapatinya. Baekhyun menatap keduanya bergantian. Mencari mata bulat Kyungsoo yang berubah cemas dan melupakan suami sepupunya yang butuh diladeni soal pamit.
Lama bersitatap, akhirnya Baekhyun berlari menggapai Kyungsoo. Memeluknya erat lalu menumpahkan tangis yang tak tertahankan. Hal itu membuat Kyungsoo panik. Segera melupakan Jongin yang menanti.
"Aku tidak tahu aku harus kemana," lirih Baekhyun pedih.
"Baek, ada apa?!" tanya Kyungsoo gusar. Kebingungannya melanda, menatap sekali lagi Jongin yang masih membeku menyaksikannya dipeluk Baekhyun. "Kenapa kau menangis?"
Tidak mau suaminya terlambat, Kyungsoo pun memberi kode 'pergi' pada Jongin. Memerintahkan suaminya itu untuk pergi dengan segera karena ia harus mengurus sepupunya. Maka setelah Jongin mengangguk, pria itu pun pergi dengan memasuki mobilnya. Mencoba untuk tidak banyak berpikir soal Baekhyun yang tiba-tiba saja membuatnya ingin tahu.
e)(o
Pukul kembali berputar hingga menunjuk angka empat. Sudah lebih dari tujuh jam Chanyeol tidak menemukan sosok Baekhyun di rumahnya. Ponsel suaminya yang tertinggal lantas membuyarkan pikirannya yang sejak tadi diluputi pikiran positifnya. Cemaslah kini yang mulai menderanya, seperti kemarin saat ia tidak menemukan Baekhyun hingga tengah malam tiba.
Chanyeol tidak tahu mengapa ia berubah cemas. Jantung di dalam dadanya berisik, takut akan sesuatu yang tidak ia inginkan benar-benar terjadi.
Pria tinggi itu akhirnya memutuskan untuk melepas pekerjaan rumahnya, demi mencari Baekhyun. Mengambil jaket tebalnya dan juga kunci mobilnya. Menahan dirinya untuk tidak menelfon Kyungsoo, karena ia sendiri dapat menebak jika Baekhyun akan pergi ke sana.
Maka saat ia membawa mobilnya melesat ke badan jalan, ponselnyalah yang kini berdering ribut. Buru-buru Chanyeol mengangkatnya tanpa ingin melihat nama si pemanggil.
"Chanyeol, apa Baekhyun baik-baik saja?" tanya Kyungsoo di seberang sana.
Untuk sepersekian detik jantung Chanyeol kembali bertabuh semakin cepat. Ia menghentikan laju mobilnya. Menepi demi keselamatannya saat berkendara.
"Jadi dia tidak ada di rumahmu?"
Ada jeda panjang setelahnya. Chanyeol sendiri tidak paham mengapa ia menjadi semakin kalut saat Kyungsoo tidak menjawab pertanyaannya. Alih-alih pria itu ingin mengutuk dirinya sendiri karena telah membuat Baekhyun pergi.
"Sungguh dia tidak pulang?" Kyungsoo tidak kalah cemas. Sepupu Baekhyun itu bahkan kesulitan saat ia mengatakan, "Chanyeol, ku mohon, kau harus segera mencarinya."
"Dia sempat datang pagi tadi. Aku tidak tahu masalah apa yang kalian hadapi, tapi Baekhyun menangis. Dia tidak mau berbicara apapun saat kutanya. Dia sakit─"
Chanyeol semakin kehilangan suaranya sendiri. Ia dapat mendengar detakan kuat jantungnya yang memompa. Menggebrak dadanya seorang diri, tidak tahu pikirannya merangkak mencari jalan keluar.
Chanyeol lalu terdiam dalam lautan kesalahannya. Menenggelamkan kepalanya di atas kemudi. Memohon pada udara yang mungkin saja membawa maafnya pada Baekhyun yang entah berada dimana.
e)(o
Jemari Baekhyun berubah gelisah di balik selimut. Wajahnya tertunduk lesu, sambil mendengar racauan pikirannya tentang banyak hal. Seharian di rumah Kyungsoo membuatnya kehilangan banyak tenaga. Tubuhnya melemah. Perutnya tidak berhenti mual karena beberapa aroma.
Kyungsoo membuatkannya sup sebelum ia muntah. Mungkin Kyungsoo bisa maklum dengannya yang keras kepala karena tidak mau dilarikan ke rumah sakit. Sepupunya itu percaya dengan ia yang meminta pulang dan akan menyetop sebuah taxi untuk mengantarnya segera. Tapi pada akhirnya, ia bertemu Jongin di sebuah halte. Pria itu awalnya bersikeras akan mengantarnya pulang, tapi melihat dirinya yang pucat nyaris pingsan, pria itu malah membawanya ke rumah sakit meski Baekhyun berteriak marah.
Baekhyun kini duduk di atas matras dengan selang infuse tersambung di tangan. Ia pun tidak tahu mengapa dokter buru-buru memberinya infuse. Sedangkan orang yang duduk santai di sampingnya, hanya menunggunya bicara.
"Aku tahu kau bukan orang yang mudah marah pada sesuatu." Jongin berbicara dengan lembut padanya. Selalu begitu, meski terakhir kali dalam kisah mereka, selalu Baekhyun yang meneriakinya.
Canggung mendera, dokter pun tidak kunjung datang menjelaskan kabar. Baekhyun ingin segera pergi saja dari pandangan Jongin yang seakan mempertanyakan kondisinya. Ingin tahu mengapa ia bisa pergi dari rumah dan alasan Chanyeol tidak kunjung mencarinya.
"Kau marah karena kau mencintainya," sambung Jongin asal. Tidak perduli pada Baekhyun yang ingin sekali mengusirnya pergi karena mengatakan hal demikian.
"Tidak," jawab Baekhyun menggeleng. Karena tentu, mau dipikir seribu kalipun, ia tetap akan menolak pernyataan seperti itu. Tidak mungkin ia jatuh cinta pada Chanyeol yang selalu tidak perduli padanya.
"Kyungsoo juga sering marah padaku." Jongin terus berbicara. Dengan kesabarannya, pria itu tidak juga mengangkat telpon dari Chanyeol demi mendengar alasannya. Menjaga perasaanya seperti pria yang pernah ia banggakan sebelumnya. "Dan karena itu aku mulai memahami mengapa dahulu kau selalu meneriakiku pria bodoh."
"Kau hanya ingin jujur dengan perasaanmu. Tapi pria sepertiku tidak pernah bisa mengertimu. Begitu pula dengan Chanyeol." Jongin mematikan ponselnya, lalu memasukannya ke dalam saku. Berusaha memasang fokusnya pada Baekhyun yang kini mulai sudi menatapnya. "Chanyeol adalah orang yang akan mengerti jika diberitahu. Kau harus jujur padanya, mengatakan padanya mengapa kau marah, mengapa kau sedih atau perasaan yang lainnya."
"Pulanglah, Kyungsoo pasti menunggumu," ujar Baekhyun bosan. Ia benar-benar tidak ingin membicarakan Chanyeol. Setidaknya bukan saat ini.
"Dan kau yakin jika Chanyeol tidak menunggumu?"
Baekhyun terdiam sebentar. Ia pun diliputi bayang-bayang pertanyaan yang sama sejak pagi tadi. Tapi bukankah jawabannya 'tidak'? Sudah pasti Chanyeol tidak akan pergi mencarinya. Jika ia sepenting itu, maka pria itu pasti sudah menemukannya. Mencarinya seperti orang gila di banyak tempat.
"Dia tidak perduli padaku─"
"Kau sedang mengharapkan Chanyeol akan perduli padamu, Baek." Baekhyun masih membisu mendengarnya. "Kau jatuh cinta padanya."
Mendengar itu Baekhyun muak. Ia segera mencabut selang infuse di tangannya. Turun dari sana dengan tergesa lalu menghindari Jongin yang mencegahnya pergi. "Jika kau tidak ingin pergi, maka biar aku saja."
"Baek─"
"Anda tidak boleh pergi dahulu," cegah seseorang berpakaian putih yang berlari gusar menghalanginya. Pria itu menyarankan Baekhyun untuk kembali. Menugaskan seorang suster untuk membawanya dan melakukan pemeriksaan terakhir.
"Bagaimana dengan kondisinya?" tanya Jongin mendahului. Pria itu lalu berubah tenang ketika menyaksikan Baekhyun yang mulai menurut untuk berbaring di tempatnya.
"Dia akan baik-baik saja. Tapi dia tidak boleh mendapatkan tekanan, karena ini adalah kehamilan pertamanya."
Baekhyun dengan jelas mendengar itu. Sangat jelas di telinganya bahwa hal itu menancap tepat pada ulu hatinya. Matanya kembali menatap kosong, tidak menemukan rasa sakit yang lain ketika tangannya kembali tersambung dengan selang infuse.
"A-apa?"
"Kalian bisa mendapatkan hasil pemeriksaannya segera," ujar dokter itu tersenyum lalu pergi begitu saja. Meruntuhkan dunia Baekhyun yang baru saja ingin ia perbaiki. Sampai ia lupa pada sosok Jongin yang tak kalah terkejut setengah mati di depannya.
e)(o
Turun dari mobil Jongin, Baekhyun tidak berucap apapun selain mengangguk ketika Jongin bertanya keyakinannya karena tidak mau diantar pulang. Pria itu hendak mengantarnya masuk, namun Baekhyun menolak. Menyuruhnya pergi sebelum Kyungsoo memikirkan hal-hal yang tidak diinginkan.
Gelap semakin pekat saat langkah Baekhyun memasuki penginapan kecil di tepi danau. Suara serangga malam bernyanyi bersama, menjadikan malam berubah syahdu, menari bersama aliran danau yang tenang. Jemari kecil Baekhyun lalu memutar kenop pintu kamar kecil yang disewanya. Memasukinya tanpa berpikir akan menemukan kegelapan lain di dalamnya.
Penginapan kecil itu memiliki petakan yang sedikit sempit, hanya ada satu ruang dengan jendela. Dan lembutnya cahaya bulan di atas sana, nyatanya tidak merubah gelap yang menyelimuti tiap ruang. Perlahan, ia kembali membuka lembaran di tangannya. Membaca hasil pemeriksaannya yang tertulis disana─sekali lagi─dengan segudang rasa tak percaya.
Tidak kunjung menghidupkan lampu, Baekhyun menempatkan diri di dekat jendela. Menatap sekeliling danau yang dipenuhi kunang-kunang tanpa takut kedinginan. Namun sekilas, semua itu meniupkannya bimbang, melayarkan perahu pilihannya hingga jauh ke tengah. Ia sendiri meragu. Tidak tahu hendak berbuat apa pada hidupnya sendiri.
Baekhyun tidak mengerti perasaannya pada Chanyeol. Ia tidak begitu mengerti mengapa dahulu ia setuju untuk menikah dengan tetangganya itu. Karena walaupun kini ia sudah terikat dengan Chanyeol, ia tetap tidak tahu dimana seharusnya ia menempatkan diri.
Kemudian empat bulan yang dilaluinya bersama Chanyeol berubah menjadi kebiasaan-kebiasaan kecil tanpa ia sadari. Ia menjadi asing, saat tidak menemukan Chanyeol di seberang mejanya ketika makan. Ia menjadi sangat terganggu ketika Chanyeol tidak perduli padanya. Ia bahkan bisa menjadi marah saat Chanyeol dipeluk yang lain. Kemudian hari itu, jantungnya berdebar gila saat Chanyeol menciumnya. Padahal semua itu tidak berarti baginya. Dan sekali lagi, bukan urusannya jika Chanyeol menemukan orang yang tepat.
Tapi yang lebih krusial adalah mengapa ia sangat berusaha menjalankan semua tanggung jawabnya? Lalu yang waktu itu apa? Bukankah Chanyeol tidak mencintainya? Kenapa pula mereka harus melakukan rentetan pernikahan ini dengan rapi? Baekhyun saja awalnya enggan perduli.
Dan sekarang, ia memiliki satu hal lain yang harus lebih ia pertanggung jawabkan. Sebuah wujud kecil yang Tuhan titipkan di dalam dirinya.
Selembar kertas di tangannya membawa pikirannya kembali jauh mengudara. Entah bagaimana perasaan Chanyeol ketika mengetahui dirinya tengah mengandung anaknya. Apakah Chanyeol akan membencinya? Apakah Chanyeol akan membunuh wujud kecil di dalam perutnya? Yang jelas Baekhyun merasa tengah gamang dengan semua hal. Ia belum siap menghadapi Chanyeol. Belum juga siap menghadapi kenyataan yang baru saja datang untuknya.
"Aku hampir terbang ke Guangzhou untuk menemukanmu."
Entah karena terlalu lama melamun atau yang lainnya, Baekhyun kini sudah menemukan bayangan pria kelebihan tinggi dengan jaket tebalnya. Rambutnya sudah lebih dahulu lembab disapu angin malam. Dan jangan lupakan bagaimana wajah itu disinari gelap, membuatnya berkali-kali lipat lebih menawan dari pada sekadar terkejut karena melihat sesuatu yang seram.
Baekhyun menjatuhkan kertas di tangannya, berkedip beberapa kali demi kesadarannya. Bodohnya ia yang lupa mengunci pintu. "Darimana kau tahu─"
"Jongin," jawab Chanyeol cepat. Sangat singkat seperti biasanya.
Alhasil Baekhyun berubah membatu. Ia bahkan tidak tahu jika Jongin bisa setega ini padanya.
Tak lama Chanyeol menyerahkan sebuah benda bundar dari belakang punggungnya. Yang Baekhyun pikir ada sesuatu yang lain ketika pria itu menyembunyikan sesuatu di punggungnya. Padahal nyatanya tidak, hanya benda sejenis barang pecah belahlah yang ia lihat.
"Aku seorang berengsek," tutur Chanyeol meletakkan piring itu di atas nakas. Menyerahkan dirinya pada korban kekejamannya. Tanpa perduli jika nyatanya nanti Baekhyun benar-benar akan membunuhnya.
"Aku hanya bawa satu. Kalau kau masih marah padaku, kita bisa pulang. Kau bisa melempar semua piring yang kita punya. Kau bisa memukulku, lalu mematahkan kakiku. Kau juga bisa membunuhku jika kau mau─" Chanyeol pun mendadak menjeda perkataannya ketika Baekhyun mengeluarkan tangisannya setelah itu.
"Baek─"
"Aku membencimu," isak Baekhyun penuh sesak. "Aku benar-benar membencimu." Pemuda itu meraung. Menangis pedih menyembunyikan seluruh wajahnya. "Kenapa kau melakukan ini padaku?"
Tangisan Baekhyun semakin menyayat hati Chanyeol. Pria itu lantas mengambil beberapa langkah, segera menarik tubuh rapuh itu ke dalam pelukannya. "Aku tahu ini sangat terlambat. Maafkan aku."
"Kau bahkan tidak perduli padaku─"
Chanyeol yang dipenuhi rasa bersalahnya, semakin mengeratkan pelukannya. Mencengkram kuat hatinya sendiri dalam kubangan dosa yang dibuatnya. "Maafkan aku, Baek. Maafkan aku."
"Apa yang harus aku lakukan?" lirih Baekhyun hampir tidak terdengar. Dan jangan lupakan wajah sesenggukan yang menghias mata bengkaknya. "Kau pasti akan menceraikanku."
Seperti paham dengan semua pikiran Baekhyun, Chanyeol menatap manik sembab itu dengan kedua matanya. Meyakinkan pemuda itu soal ia yang kini ingin berubah dari pemikiran sebelumnya. "Tidak, aku tidak akan menceraikanmu."
Baekhyun menggeleng kuat. Ia paham benar bagaimana Chanyeol selama ini. Pria itu akan meninggalkannya. Akan menjauh dari fakta yang mengendap jika Chanyeol tahu keadaannya. "Kau pasti akan menceraikanku─"
"Ku mohon, Baekhyun," mohon pria itu lagi. "Tolong, maafkan aku."
Baekhyun semakin meyakinkan dirinya. Ragu dirinya ingin bicara. Ia tidaklah mungkin terus diam membiarkan Chanyeol tidak mengetahui faktanya. "Chanyeol─"
"Kita bisa bicara di rumah, ayo kita pulang," potong Chanyeol bersikeras membuat Baekhyun berhenti membicarakan soal cerai. Ia ingin menyudahi hal ini, ia ingin memperbaiki diri. Berharap Baekhyun akan memaafkannya lalu setuju untuk kembali ke rumah mereka.
Tapi sebenarnya bukan hal itu yang tengah Baekhyun pertanyakan. Ia kini tidak perduli soal itu meski ia kecewa pada Chanyeol. Ia hanya memikirkan bagaimana caranya membicarakan sesuatu yang lebih penting, seperti ingin tahu pendapat Chanyeol soal kondisinya. Tidak lebih.
"C-chanyeol," mulai Baekhyun masih meragu. Menatap sekali lagi manik Chanyeol yang redup, membuatnya kembali diluputi takut. "aku hamil─"
Chanyeol tercekat. Hampir limbung kakinya menahan berat. Pikirannya jauh melayang-layang memikirkan banyak hal ketika pernyataan itu terucap. Tapi kalau nyatanya demikian, apa yang harus ia lakukan?
"K-kau hamil?"
Baekhyun berakhir menatapnya dengan sorot yang kosong. Tidak juga bicara sebagaimana Chanyeol terus menunggu jawabannya. Jemari Baekhyun lalu gemetar, ragu sorotnya menghindar. Namun dibandingkan dengan Chanyeol, Baekhyun lebih dari ketakutan. Ia benar-benar takut jika Chanyeol membenci nyawa yang dikandungnya.
"Baekhyun, jawab aku," tuntut Chanyeol ingin tahu. Pria itu kini mencengkram bahunya, menunduk mencari maniknya yang jujur.
Baekhyun menggenggam kuat jemarinya. Membayangkan apa yang akan Chanyeol lakukan jika ia mengatakan semua hal yang terjadi. Marahkah Chanyeol padanya? Atau Chanyeol akan menceraikannya? Namun jika mereka bercerai mengapa ia harus merasa setakut ini? Bukankah ia yang menginginkan semua itu?
"Kau pasti akan menceraikanku, kan? Kau pasti sangat membenci ini."
Chanyeol terdiam. Bisu menatap linangan air mata Baekhyun yang semakin kacau. Pria itu diluputi kekosongan dalam relung jiwanya. Melambung tanpa tahu harus bagaimana menata kesalahannya.
Melihat Chanyeol yang terdiam, Baekhyun merasa semakin pilu. Sesak di dadanya semakin menjadi. Ia sungguh tidak siap dengan jawaban Chanyeol atas semua pernyataannya. "Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku selalu berpikir jika aku akan baik-baik saja, tapi ternyata aku salah."
"Apa yang harus aku lakukan?"
Chanyeol berakhir dengan tidak bisa mengatakan sesuatu. Lidahnya seolah hilang dari mulutnya. Ini salahnya. Salahnya yang memperlakukan Baekhyun dengan buruk. Ia bahkan tidak pernah memikirkan perasaan Baekhyun. Ia menyakitinya. Menghancurkan hidup pemuda itu sampai tidak berbentuk.
"Aku hamil─"
Kini Chanyeol jatuh berlutut. Berpegang pada kedua jemari kecil Baekhyun yang lemah dalam genggamannya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kerisauan Baekhyun akannya. Pemuda itu ketakutan, bimbang sendiri dengan pilihannya. Tidak berbeda dengannya yang tidak memahami bagaimana harusnya ia melangkah.
Nyatanya, Chanyeol tidak termaafkan. Kesalahannya kian membesar. Ingin sekali pria itu menyesali segala yang pernah ia lakukan. Pun tangisan Baekhyun di dekatnya semakin menyakitinya. Mencabik-cabik perasaannya yang sudah lebih dahulu terluka.
Genggaman tangannya pada jemari itu perlahan terlepas. Meninggalkan jemari Baekhyun yang dingin dimakan sepi. Chanyeol lama membeku setelah menemukan secarik kertas yang tergeletak di dekat lututnya. Kini, linangan matanya terus mengaburkan sosok Baekhyun yang menangis dalam tundukan.
e)(o
Turun dari mobil, Baekhyun memperhatikan banyak langkah yang dibuatnya. Sedangkan Chanyeol terus diam mendahului. Pria itu lebih banyak diam sejak memulai perjalanan pulang dengannya. Tidak mengajaknya bicara, hanya mendengarnya menangis tanpa menawarkan sesuatu.
Namun Baekhyun terus melangkah di belakang Chanyeol yang tidak pernah berbalik menatapnya. Punggung tegap itu hendak mengatakan 'pergi' untuk semua orang. Dan Baekhyun menghentikan langkahnya ketika melihat Chanyeol memasuki pintu kamarnya. Mengunci pintunya rapat-rapat seakan dirinya adalah sebuah wabah yang harus dihindari.
Perlu banyak waktu untuk membuat Baekhyun memahami. Karena ia sama sekali tidak mengerti mengapa hatinya berkembang menjadi sebuah pesakitan. Air matanya sendiri tidak mau perduli, hanya mengalir tanpa persetujuannya. Memburamkan langkahnya yang kian berat untuk digerakkan.
Lantas mau seberat apapun ia memikirkannya, nyatanya Baekhyun tidak punya satupun tempat untuk pergi. Kyungsoo mungkin adalah seseorang yang akan menghargainya. Tapi entah, walaupun Baekhyun yakin ia akan baik-baik saja dengan berbicara, ia tetap berpikir jika semua ini haruslah ia simpan sendirian. Ia tidak mungkin berbicara pada keluarganya. Ayah, ibunya, atau mungkin Luhan?
Tidak. Semua orang sudah menjadi asing baginya.
Sebuah remang kembali terjatuh di hadapannya ketika ia membuka pintu kamarnya yang berantakan. Langkahnya lebih ingin mundur. Berlari jauh seperti yang pernah dilakukannya. Tidak ingin ingat bagaimana ia─malam itu─mengatakan dengan lantang bahwa ia ingin menyudahi hidupnya yang terikat dengan Chanyeol. Berbicara bahwa ia tidak akan bisa menerima hidup bersama Chanyeol, tapi merasa takut untuk ditinggalkan. Sejatinya, Baekhyun tidak mengerti mengapa ia terus menaruh sesal dalam kejadian malam itu.
Malam pekat terus mengerubungi Baekhyun yang terduduk di balik pintu. Menenggelamkan kepalanya dalam sesal. Menagis sekali lagi bersama lengan-lengannya yang terus menjaga dirinya.
e)(o
Pagi yang lain terus datang. Chanyeol turun dari ranjangnya dengan kepala pening yang tidak tertahankan. Pandangannya mengabur, tidak sempat membereskan selimut. Ia lantas bergegas ke kamar mandi. Membasuh wajahnya sebentar, lalu menatap bayangan dirinya pada cermin di dinding. Dan sesuatu yang pertama disadarinya adalah kejadian semalam bukanlah mimpi buruknya.
Chanyeol lalu mematikan keran air yang baru saja ia lupakan. Membiarkan pernyataan Baekhyun semalam melalang-buana mencarinya. Menggerogoti hatinya yang sempit. Tidak juga menemukan kesimpulan yang ia perlukan.
Maka Chanyeol bergerak dari sana. Menemukan petakan dapurnya yang sepi dibisik pagi buta. Hendak mendekat pada kulkas, ia lebih dahulu menemukan Baekhyun yang menumpahkan gelas susunya. Cairan itu terus meluas mengotori lantai, menggenang di dekat kaki kecilnya.
Baekhyun membekap mulutnya sendiri. Tidak juga menatapnya selain berlarian melewati bahunya. Memasuki kamar mandi terdekat sebelum suara muntah menggema dalam pendengaran Chanyeol yang tajam.
Chanyeol diluputi rasa bersalah yang besar. Dosanya terus menghantui jemarinya yang masih diikat cincin. Tidak juga memperdulikan lantainya yang penuh pecahan gelas, Chanyeol kembali bergegas memasuki kamarnya. Mengambil setelan pakaiannya, mengenakannya tergesa sebelum mengabaikan ponselnya yang terus berdering ribut.
Hari ini adalah jadwal meeting pertamanya dengan beberapa proyek baru, tentu Jongin menanyakan keberadaannya yang seharusnya sudah tiba di bandara. Duduk dengan tiket pesawat dan paspor di tangan, lengkap dengan beberapa dokumen penting. Idealnya demikian.
Tapi sayangnya, Chanyeol lebih ingin membawa dirinya pergi ke suatu tempat yang lain. Menjuput kunci mobilnya di laci nakas, sebelum melesat tanpa bicara dengan Baekhyun sebagai izin. Lalu hal terakhir yang diingatnya kali itu adalah wajah pucat Baekhyun yang terus menghantui pikiran kalutnya.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Nah loh. Nah loh. Kita bakalan punya adek :D
Selamat hari minggu yang kesekian kalinya.
