UNBELIEVABLE MARRIAGE
Summary : Sebelum meninggal, Kushina dan Minato meninggalkan pesan bahwa Naruto harus menjemput istrinya di Quebec City. Sementara Naruto tidak ingat pernah menikah? Apa yang sebenarnya terjadi? Tiba-tiba kehidupannya yang tenang berubah.
Disclaimer : Karakter milik Om Masashi. Cerita sepenuhnya milik Author. Arigatou.
Warning : Au, Ooc, Marriage Life. NaruSaku.
oOo
'Aku tidak bisa hidup di dunia yang tidak ada dirimu di sisiku.'
Sakura terbahak saat membaca salah satu bagian dari novel Unbelievable Love karya Sean Vanues, kenapa kata-katanya terdengar sangat berlebihan. Kalau dipikir-pikir Naruto adalah orang yang sangat kaku di dunia nyata. Ia tidak habis pikir Naruto sampai mendapatkan kata-kata itu dalam otaknya. Ah tapi kata-katanya benar-benar sangat romantis andai itu bisa diucapkan seseorang padanya di dunia nyata. Sepertinya Sakura sedikit berhalusinasi karena terlalu banyak membaca fiksi.
"Tidak lucu," ketus Naruto di sampingnya. Ia tidak suka jika Sakura sudah mulai meledek dirinya. Menyebalkan.
"Hey ayolah, kau marah hanya karena ini?" Sakura semakin tergelak. Ia memegangi perutnya tak kuasa menahan tawa. Naruto hanya diam tidak ingin mengatakan apa-apa. Ia menyilangkan tangannya di depan dada dan melemparkan pandangannya ke luar jendela kamar mereka. Ayolah, Naruto berpikir sangat keras untuk mendapatkan kata-kata itu, dan sekarang Sakura mengejeknya? Ia tidak bisa terima.
Sakura menghela napas. Sepertinya ia memang sudah berlebihan mengejek suaminya. "Baiklah maaafkan aku. Aku tidak bermaksud menyinggungmu. Gomen, Naruto hm?"
Naruto tidak tahan jika Sakura sudah memasang wajah memelas seperti itu. Ia tidak bisa lebih lama marah pada istrinya. Ah sial semua ini karena Sakura terlalu manis baginya.
"Mungkin suatu hari akan ada saat di mana kau mengatakan kata-kata itu untukku," Naruto tersenyum seraya mengelus rambut pinky Sakura.
Sakura tersenyum balik, ia memberikan ciuman singkat untuk Naruto. Terlalu singkat sampai pria itu tidak diberi waktu untuk merespon. "Tapi aku tidak bisa membayangkan jika hal itu terjadi." Sakura tidak pernah membayangkan hidupnya tanpa kehadiran Naruto.
oOo
"Aku tidak tahan lagi hidup di dunia di mana tidak ada kau di sisiku..."
Naruto terbelalak kaget. Bukankan itu kata-katanya saat di rumah sakit hari itu? Tapi seingatnya Sakura tertidur dan tidak mendengarnya. "Sakura kau ..."
"Bodoh. Naruto bodoh!" rutuk Sakura.
Naruto bangkit dan langsung membawa Sakura ke dalam dekapannya. "Cherry... Aku ...," Naruto mempererat pelukannya. Membelai lembut rambut pinky yang lama tak disentuhnya. Oh seberapa banyak ia merindukan wanita ini? Rasanya seperti hampir mau gila!
"Duduklah, aku akan ambilkan minuman untukmu." Naruto masih menaruh tangannya di puncak kepala Sakura. Entah apa yang tiba-tiba membawa sakura sampai ke pelukannya hari ini, yang jelas tidak akan pernah melepaskan Sakura lagi. Tidak untuk yang ke sekian kalinya.
"Aku akan kembali karena sepertinya Tenten membutuhkanku di rumah. Tenang saja aku dan Tenten akan menjaga Haru dengan baik. Kalian lanjutkan saja." Sai meminta diri dan membuat kaget Naruto juga Sakura. Karena terlalu terbawa suasana mereka nyaris lupa dengan kehadiran Sai di ruangan itu.
Naruto berdehem canggung, "Baiklah, nanti biar aku yang bawa Sakura ... pulang."
Setelah itu Sai langsung menghilang di balik pintu. Sejujurnya Sai tidak begitu nyaman kalau harus jadi orang ketiga di tengah-tengah suasana Naruto dan Sakura tadi. Namun ia tersenyum saat mengingat bagaimana manisnya momen barusan. Sangat manis. Ia sempatkan mampir ke meja sekretaris tak jauh dari pintu masuk ruang kerja Naruto.
"Yugao-san," panggilnya pada wanita berambut ungu yang sementara duduk di kursi Shikamaru. Menggantikan posisi sekretaris selama pria itu cuti. "Tolong tolak siapa pun yang ingin bertemu Presdir Uzumaki hari ini. Siapa-pun! Dan pastikan tidak ada yang masuk ke ruangannya sampai beliau memberi izin." Sai melemparkan senyumannya.
Yugao mengangguk meskipun sedikit heran dengan arahan pengawal keluarga Uzumaki itu. "Baiklah," jawabnya patuh.
Naruto dan Sakura duduk berdampingan di sofa ruang kerja, Naruto menyodorkan secangkir teh hangat untuk istrinya sementara ia memegang cangkirnya sendiri.
"Apa kabar?" sapa Naruto kaku.
Sakura memegangi cangkir tehnya dengan kedua tangan. Berusaha menetralisir rasa gugupnya. Ah sialnya ia gugup karena sudah lama sekali tidak bertatap muka dengan suaminya. Ya, Naruto masih suaminya 'kan?
"Aku baik seperti yang kau lihat. Jadi ..."
"Maafkan aku!" Naruto menatap langsung ke mata Sakura. "Tolong mafkan kebodohanku. Aku tahu semuanya tidak termaafkan,"
Sakura terdiam. Ia membalas tatapan Naruto dan mereka seolah berbicara melalui tatapan itu. Naruto ataupun Sakura sudah sama-sama dewasa. Mereka harusnya lebih dewasa dalam menanggapi permasalahan. Sederhana saja permasalahan keduanya, lebih karena kurangnya komunikasi dan harga diri yang terlalu tinggi. Sakura menutup mata dari kebenaran tentang Naruto, dan Naruto bungkam untuk menjelaskan. Selama tiga tahun yang panjang itu, permasalahan mereka tidak serumit yang dibayangkan.
"Sepertinya aku terlalu lama meninggalkan Haru," Sakura menaruh cangkir tehnya kembali ke meja. Sial jantungnya bergerak sangat cepat sampai-sampai tubuhnya terasa gemetar.
"Sudah ada Tenten dan Sai yang menjaga Haru,"
Naruto memang benar. Kata-kata Sakura hanya sebuah cara saja untuk lari dari situasi yang tidak menyenangkan ini. Ia sepertinya tidak sanggup lebih dari ini. Ia tidak bisa menahan dirinya juga desakan perasaan rindunya yang seperti ingin meledak-ledak. Ia sangat merindukan Naruto!
Sementara Naruto hanya menunduk menatap permukaan teh yang tenang di atas cangkir. Masih setengah penuh. Tidak. Naruto lebih suka perumpamaan 'setengah kosong' untuk mengibaratkan cangkir teh dibandingkan setengah penuh. Sama seperti perasaannya selama ia ditinggalkan Sakura yang 'setengah kosong'. Naruto sangat ingin meminta Sakura untuk kembali dan memulai lagi semuanya dari awal. Mengisi kembali kekosongan yang terus menggaung dalam dadanya. Mengulur kembali benang-benang takdir yang telah lama kusut di antara keduanya. Tapi Naruto tidak percaya diri. Tapi tidak keren jika dia meminta itu untuk yang kedua kalinya pada Sakura setelah sebelumnya ia pernah mengatakan hal serupa namun justru mengingkarinya.
"Kau boleh pulang," Naruto memaksakan senyuman. Sepertinya permasalahan sederhana mereka memang sudah terlalu rumit untuk diulur kembali. Ia tidak percaya keinginan untuk mempertahankan Sakura dan dorongan untuk melepaskannya saling bertubrukan satu sama lain.
"Ayo pulang bersamaku, bawa kami pulang ke rumah kita."
Naruto terbelalak tidak menduga Sakura akan mengatakan hal itu. Ia tidak sedang bermimpi 'kan? Jika ini adalah mimpi, Naruto tidak ingin bangun lagi.
"Tapi Cherry..."
Sakura beringsut dari tempatnya untuk mendekati Naruto. Ia mengangkat tangannya menyentuh wajah pria itu. Menelusuri garis tegas rahang suaminya, menyentuh pipinya, menatap dalam iris biru yang menenggelamkan kesadarannya. Kedua matanya membendung kepedihan. Perlahan air mata Sakura jatuh melintasi wajahnya. Naruto terhenyak menyaksikan Sakura menangis dalam diam. Hatinya pedih melihat air mata Sakura jatuh begitu saja karena dirinya. Ia tidak sanggup melihat orang yang dicintainya menangis.
"Jangan menangis,"
"Apa kau tahu seberapa besar rasa rinduku untukmu sampai aku begitu membenci dunia tanpa adanya dirimu? Lebih dari rasa sakitku karenamu, lebih menyedihkan lagi ketika orang yang paling aku rindukan berada di depan mataku tapi aku tidak bisa mengungkapkan perasaan rinduku ini. Menurutmu sampai kapan aku bisa menahan semuanya?" Sakura menghapus jarak di antara mereka dan meraih bibir Naruto. Mereka berpagutan menyalurkan emosi yang telah lama keduanya pendam. Naruto bisa merasakan perasaan putus asa yang teramat dalam dari Sakura. Sehancur itu perasaan Sakura karena perpisahan mereka. Sakura meluapkan seluruh emosinya, seolah memberi tahu Naruto melalui ciuman itu tentang semua perasaan sakitnya, rindunya, pedihnya, seberapa beratnya hari-hari yang ia lalui sampai detik ini. Sebuah pencapaian yang hebat ketika Sakura masih bisa bernapas sampai hari ini padahal ia terus merasa sesak setiap kali mengingat Naruto. Tubuhnya hampir remuk karena obat anti-depresi yang terus ia minum tanpa henti. Sakura ingin Naruto tahu seberapa besar perasaan ia pada suaminya.
Mereka melepaskan diri ketika merasa kehabisan oksigen. Sakura memburu udara dan napasnya tersengal-sengal. Pandangan Naruto berkabut menatap wajah Sakura. Lalu ditariknya kembali Sakura ke dalam ciuman selanjutnya yang begitu intens. Bahkan Naruto dengan frontal menggeram dan menggigit kedua bibir yang ia amat rindukan. Naruto hampir gila. Ia tidak bisa menahan diri. Tunggu mereka sedang berada di dalam kantor. Bagaimana kalau ada yang masuk dan melihat? Persetan dengan semua itu. Naruto menubruk tubuh Sakura memaksanya terbaring di atas sofa. Sakura tak menolak sambil terus menarik oksigen sebanyak mungkin. Dadanya naik turun dengan cepat karena intensitas aktivitas mereka yang tiba-tiba meninggi. Naruto menatap wajah Sakura. Mata hijaunya yang jernih. Hidungnya yang mancung. Garis wajah yang tirus, dan bibir yang... cantik.
Cantik.
Pandangan Naruto berubah nanar.
"Aku takut," ujarnya terpatah-patah. "Aku takut tidak bisa berhenti, Cherry. Kenapa kau memulainya?"
"Aku ingin memulai kembali denganmu, Naruto. Aku sangat..." Sakura menatap kedua mata suaminya dengan penuh keyakinan. "... Sangat mencintaimu."
Naruto tersenyum. Seperti ada banyak kupu-kupu beterbangan dari perutnya. Rasanya sangat menyenangkan. Naruto terus berharap semua ini bukan mimpi.
"Ayo kita pulang," Naruto berbisik.
oOo
Di penghujung musim dingin, awan-awan masih bergumul diterpa angin. Udara masih terasa dingin meskipun beberapa tunas tanaman mulai mencuat di atas permukaan tanah. Es mulai mencair mengalirkan musim menuju semi yang lebih hangat. Sakura menghirup dalam-dalam udara sejuk di halaman rumahnya. Lebih tepatnya sebuah ladang rumput yang terletak di bagian belakang kediaman Uzumaki. Ia menggelar sebuah tikar dengan beberapa kotak makanan yang sudah ia susun dengan cantik. Haru berlarian di atas rerumputan, mengejar seekor kupu-kupu kecil. Sesekali tawa tercetak di wajah cantik Sakura, menyaksikan tingkah lucu buah hatinya.
"Haru, jangan lari-lari!" Ia berteriak sambil meraih secangkir teh hangat dan meminumnya.
Naruto terus memandangi wajah Sakura dan tersenyum kemudian.
"Sepertinya ada sesuatu di wajahku sampai-sampai kau terus menatapku seperti itu," ucap Sakura tanpa menoleh. Naruto kembali tersenyum. Ah cuaca yang terlalu indah atau memang wajah Sakura yang terlalu indah yang membuatnya seperti ini. Naruto hanya bahagia saat memperhatikannya.
Tak lama kemudian dering ponsel berbunyi mengalihkan perhatian Sakura. Ia melirik ponselnya dan melihat sederet nama yang ia kenali terpampang di layar handphonenya.
"Sasori-sensei?"
Naruto menoleh saat mendengar Sakura menyebut nama tersebut. Bukan rahasia umum bahwa Sasori adalah salah satu teman dekat Sakura saat berada di Kanada yang bisa dibilang memiliki ketertarikan pada istrinya. Semua orang tahu bahwa dokter itu menyukai Sakura. Dia bahkan mengekori Sakura sampai ke Jepang saat kepulangannya beberapa waktu lalu untuk acara pernikahan Ino. Secara garis besar, Naruto tidak menyukai pria itu. Atau siapa pun yang memiliki perasaan pada istrinya, ia tidak suka.
Naruto spontan mengambil ponsel dari teling Sakura dan menempelkan benda itu di telinganya.
"Ada keperluan apa dengan 'istriku'?" tanya Naruto sambil menekankan kata istri pada kalimatnya.
Seketika sepi dari seberang sana, sepertinya Sasori terdiam tidak menyangka bahwa Naruto akan berbicara dengannya.
"Ah Uzumaki-san. Aku haya sedang menanyakan pendapat Sakura-sensei tentang proposal donasi yang akan aku ajukan untuk panti asuhan,"
Naruto berpikir sebentar. Ia ingat Sakura pernah mengatakan bahwa mereka pernah tinggal di dekat sebuah panti asuhan di Kanada. Bagaimana pun panti asuhan itu adalah rumah kedua Sakura. Tempat istrinya melewati hari-hari yang berat tanpa Naruto.
"Mungkin aku bisa melihat-lihat isi proposalmu, Sensei. Kirimkan saja padaku akan aku kirim alamat emailku."
Sakura menoleh terkejut. Ia pikir Naruto akan marah dan memaki-maki Sasori karena berani menelpon istrinya. Sakura tersenyum senang, baiklah perasaannya mulai melega.
"Kapan-kapan aku ingin mengajakmu bertemu anak-anak di sana," Sakura melemparkan senyuman pada Naruto.
Naruto menaruh ponsel Sakura setelah menyelesaikan pembicaraannya dengan Sasori. Ia menoleh dan pandangan keduanya bertemu. Hatinya berdebar hebat. Ini sudah berapa tahun dan ia masih saja berdebar saat mentap istrinya? Naruto pasti sudah sangat tergila-gila pada Sakura.
"Aku ingin mengunjungi rumahmu di sana, melihat-lihat seperti apa kamarmu, dapurmu, dan halaman tempatmu menghabiskan waktu selama tiga tahun bersama Haru. Aku ingin melihat semuanya. Aku juga ingin melihat jauh ke dalam hatimu, agar aku tidak perlu menemukan lagi kesalahpahaman di antara kita."
Sakura merangkul Naruto dan membawanya ke dalam pelukan. "Tentu saja, kau boleh melakukan semuanya."
Haru masih berlarian di atas rumput. Langit semakin membiru dengan awan-awan yang sangat indah bergerak di atas sana. Sesekali Sakura tertawa saat melihat tingkah lucu anaknya. Tenten datang dan menghampiri Haru, lalu mereka bermain kejar-kejaran. Dari kejauhan Sai dan Gaara memperhatikan mereka sambil tak berhenti menunjukkan senyuman. Apakah ini yang disebut akhir yang bahagia? Dalam kehidupan tentu saja akan selalu ada rintangan di antara mereka, namun Sai yakin bahwa Naruto dan Sakura sudah berbeda. Merekan akan bisa menghadapi semuanya berbeda dari sebelumnya. Karena Sai bisa melihat mereka lebih mencintai satu sama lain dibandingkan sebelumnya.
"Hei, kau dipanggil tuh," Gaara membuyarkan lamunan Sai.
Sai melihat Naruto dan Sakura melambaikan tangannya di kajauhan. Sepertinya bukan hanya Sai, mereka juga memanggil Gaara untuk mendekat. Sai dan Gaara berlari menghampiri majikannya.
"Kemarilah, kita berfoto bersama," pinta Naruto sambil menata sebuah kamera agar ditaruh di tempat yang bisa mengambil gambar mereka semua. Ia mengatur timer dan menarik semuanya merapat. Haru berlari ke pelukan ibunya sementara Naruto merangkul Sakura. Gaara berdiri kaku di samping Naruto dan Tenten meraih bahu Sai untuk mendekat. Mereka pun bersiap mengambil gambar.
"Katakan cheese!" teriak Naruto.
Jepret!
oOo
The End
A/N : Hai semuanya, apa kabar? Tidak terasa fict ini sudah sampai begitu saja ke ending. Maaf jika endingnya terlalu klise. Tadinya aku ingin mengakhiri cerita di chapter 15, tapi sepertinya terlalu singkat. Jadi aku perpanjang sampai chapter 18. Semoga reader semua menikmati ceritaku. Dan aku berterima kasih kepada kalian yang masih terus mengikutiku meski beberapa kali aku hiatus dan lama tidak update. Oh ya, kalian bisa mengikutiku terus untuk cerita-ceritaku yang selanjutnya. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak untuk semuanya!
Happy reading!
