Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

.

Catatan :

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

.

= Enjoy for read =

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

.

.

[ Kagutsuchi(Dewa Api) ]

~ Chapter 19 ~

.

.

.

Sakura pov.

Pagi ini, terbangun dengan suara ramai dari arah depan rumah, apa yang terjadi? Mencoba melihat ke jendela, beberapa tetangga yang berdekatan dengan rumahku dan beberapa anggota kepolisian, aku tidak mengerti kenapa mereka berada di depan rumah, melihat mereka berbicara dan sesekali menatap ke arah rumahku, mungkin sedang terjadi sesuatu di luar.

Mencuci mukaku sejenak dan berjalan keluar, mereka segera menatap ke arahku dan membuatku tidak nyaman, apa aku yang membuat masalah? Semalam aku tidur dengan nyenyak dan tidak merasakan melakukan kesalahaan, hal lainnya, aku mencium bau bahan bakar di sekitar halaman rumah dan beberapa rumput dan tanaman yang terlihat sudah terbakar, aku benar-benar bingung akan keadaan ini.

"Jadi nona yang tinggal di sini?" Tanya seorang anggota polisi.

"I-iya, ini rumah saya, apa yang sedang terjadi?" Tanyaku bingung.

"Sakura, kau baik-baik saja?" Ucap salah seorang tetanggaku, dia pun memastikan keadaanku.

"A-aku baik-baik saja bibi, sebenarnya apa yang terjadi?" Ucapku dan semakin membuatku bingung.

Saat pagi buta, salah seorang tetanggaku keluar dan mencium bau bahan bakar itu, baunya berasal dari halaman rumahku, dia pun segera menghubungi polisi dan memikirkan jika mungkin terjadi kebakaran.

Hasil pemeriksaan polisi, di duga seseorang sedang berencana membakar halaman rumahku dan mungkin aku bisa ikut terkena dampak kebakaran itu, mereka mulai mengusut kasus ini secara serius, pembakaran yang di sengaja dan mengancam nyawa seseorang, seperti sebuah kejahatan yang sudah di rencanakan, tapi siapa yang berani melakukan hal ini padaku? Seseorang sedang berusaha mencelakakanku.

Anehnya, kebakaran itu tidak terjadi dan api hanya membakar halaman saja, seperti sesuatu telah menghilangkan api itu, tidak ada juga tanda-tanda jika di siram dengan air.

Pada akhirnya, aku tidak bisa ke sekolah sementara waktu, aku harus ikut ke kantor polisi sebagai saksi dan sekaligus korban, aku akan mati terbakar jika api itu tidak padam dan membakar seluruh area halaman, mungkin saja rumah lainnya akan ikut terbakar.

Untung saja hari ini aku tidak ada kegiatan belajar dan hanya tinggal menunggu hari kelulusan, aku hanya tidak menyangka jika kabarku datang ke kantor polisi menjadi salah paham terhadap mereka.

"Kau baik-baik saja?" Ucap Ino.

"Ada apa denganmu? Kenapa kau berada di kantor polisi?" Ucap Shion.

"Kau bisa cerita pada kami jika terjadi masalah." Ucap Tenten.

Mereka bertiga kompak datang ke kantor polisi dan cukup ribut, mereka salah paham, aku tidak membuat masalah atau kejahatan, lalu aku hanya menceritakan apa yang terjadi, ucapanku akan menjadi sebuah keterangan di kantor polisi dan mungkin menjadi kasus pembunuhan berencana.

"Siapa lagi yang berani mengganggumu, mereka sudah keterlaluan." Ucap Shion dan terlihat sangat marah.

"Kita laporkan saja mereka, biarkan mereka hidup di dalam penjara." Ucap Ino.

"Tenanglah, kalian tidak bisa asal menuduh begitu saja, kita yang akan mendapat masalah sebagai pencemaran nama baik dan tuduhan palsu, aku menyerahkan segalanya terhadap polisi, mereka jauh lebih baik menangani hal ini." Jelasku.

Ketiganya hanya menatapku, mereka tidak percaya jika aku bisa menjadi orang yang setegar ini, sejujurnya aku mulai masa bodoh untuk semua keadaan, aku lelah untuk memikirkan segalanya, aku ingin hidup tenang dan damai dan tidak meninggalkan masalah sebelum pergi dari Konoha.

Setelah itu,

Kami berpisah di jalanan, langkah kakiku tidak ingin pulang, para tetangga cukup baik dengan menyiram halamanku agar bau dari bahan bakar itu menghilang, berhenti tepat di ujung tangga paling atas, dia ada disana, duduk di teras dan terlihat bersantai.

"Ada apa kau datang sepagi ini? Kau tidak ke sekolah?" Ucapnya.

"Aku dari kantor polisi, sedang terjadi masalah di rumahku, aku tidak tahu jika ada yang berani mencelakakanku." Ucapku.

Dewa itu tetap tenang, aku semakin terbiasa padanya, aku senang setiap ada masalah dan datang ke sini, dia terus mendengar semua ucapanku tanpa mengeluh, memberiku nasehat dan menenangkanku, aku merasa jauh lebih kuat untuk menghadapi apapun setelah bertemu dengannya.

"Aku tahu pelakunya." Ucapnya.

Ucapannya membuatku sangat terkejut, dewa Sasuke tahu siapa yang berusaha membakar rumahku! Tenanglah Sakura, semuanya sudah di usut oleh pihak berwajib, aku hanya perlu menunggu kabar dari mereka, tapi jika dewa Sasuke tahu siapa pelakunya, apa dia yang memadamkan api itu?

"Apa dewa yang menolongku?" Tanyaku.

"Aku tidak menolongmu, api itu memanggilku, mereka merasa jika mereka akan melakukan kesalahan dan memintaku menarik mereka." Ucapnya.

Ucapan itu terdengar seperti ucapan konyol, apa karena dia dewa api jadi dia bisa mengetahui api-api itu? Mereka seakan berbicara padanya.

"Terima kasih dewa! Terima kasih telah menyelamatkan nyawaku, aku terus berutang nyawa padamu." Ucapku, lagi-lagi dia menyelamatkanku.

"Bagaimana aku harus membalasmu?" Tanyaku, aku ingin sesuatu yang setimpal yang bisa membalas kebaikan dewa Sasuke, aku rasa membawakannya persembahan saja tidak cukup.

Dewa Sasuke terdiam dan hanya menatapku, sejujurnya aku tidak begitu suka di tatapnya, ini membuatku malu dan terus menyadarkan diriku jika hubungan manusia dan dewa itu adalah hal mustahil.

"Menetaplah di Konoha." Ucapnya.

Sejenak angin berhembus perlahan, menggoyangkan pepohonan dan bel raksasa yang ada di atas langit-langit kuil, aku tidak mengerti akan ucapannya, kenapa aku harus menetap di Konoha? A-apa artinya aku tidak boleh pergi dari sini? Sebentar lagi aku akan segera pergi, aku tidak bisa mengingkari janjiku pada nenekku, belau teus memhubungiku agar segera berkemas dan tinggalkan apapun yang tidak penting di sini,

"A-apa maksudmu, dewa?" Tanyaku, bingung, aku lebih baik bertanya langsung padanya dari pada berkesimpulan sendiri.

"Tidak, aku hanya bercanda, lupakan ucapanku dan pulanglah, aku yakin hari ini cukup berat untukmu." Ucapnya.

Aku tidak ingin pulang, karena keadaan yang tidak tenang ini, aku datang kesini, tapi dia memintaku segera pulang, aku tidak punya alasan untuk tetap tinggal disini, seharusnya aku membawa makanan agar ada alasan menunggunya selesai makan.

"Baiklah, aku akan pulang." Ucapku, murung,

"Datanglah lagi sesuai janjimu." Ucapnya sebelum aku beranjak.

Menolah ke arahnya, tatapan tenang itu selalu membuatku sulit menebak dewa ini, dia seperti manusia, tapi dia itu punya kekuatan, sikapnya juga sangat sulit di pahami, apa karena dia sudah di hidup sangat lama? Dan jika di perhatikan dia seperti pria yang sangat-sangat dewasa.

"Aku pasti akan datang!" Tegasku dan bergegas pergi, wajahku jadi merona, aku tidak mengerti, kenapa aku jadi malu hanya mendengar ucapannya itu.

.

.

.

.

.

Sehari sebelum hari kelulusan.

Polisi kembali memanggilku dan aku bisa melihat pelaku yang berhasil di tangkap mereka, aku tidak tahu harus berbicara seperti apa, kedua orang tua mereka malah marah padaku dan mengatakan aku yang mengarang semua itu, aku hanya di dampingi oleh tetanggaku dan akhirnya kantor polisi menjadi sangat ribut, mereka bertengkar untuk saling menyalahkan, aku bisa melihat tatapan teman-teman sekolahku itu, mereka seakan tidak peduli padaku atau mereka merasa gagal membunuhku, bukannya aku ingin menuduh mereka juga, tapi polisi disini sangat hebat dalam menangani kasus.

"Dia hanya anak yang tidak memiliki orang tua! Dia sengaja melakukan hal itu dan menuduh anak-anak kami!" Ucap salah seorang ibu dari ketiga teman sekolahku itu.

"Kenapa Sakura harus bodoh dengan membakar rumahnya sendiri! Anak-anak kalian yang memiliki otak kriminal!" Ucap salah seorang tetanggaku.

Mereka kembali ribut dan para polisi sibuk membuat mereka tenang.

"Katakan! Katakan kau bohong! Anak sepertimu selalu saja berbohong dan membuat masalah!"

"Sakura tidak pernah berbohong, bagaimana kalian asal menuduhnya!"

Setelah di tenangkan, mereka tetap kembali ribut, hingga polisi mengancam akan memenjarakan mereka karena membuat keributan di kantor polisi.

Aku pun yang sebagai saksi tidak bisa apa-apa, kesaksianku terbatas, aku tidak melihat mereka, aku tertidur cukup pulas hingga tidak sadar.

Para orang tua mereka tidak ingin masalah ini menjadi masalah besar, mereka bahkan mengatakan akan memberi kompenisasi atas sikap mereka, namun tetap saja mereka masih menuduhku pembohong, untuk apa aku menyiram halaman rumahku dengan bahan bakar? Itu sangat tidak masuk akal.

Di saat seperti ini aku tidak bisa membela diri dan pasrah begitu saja, jika saja aku melihat mereka, aku bisa menjadi saksi, mereka juga melakukan hal buruk padaku, tapi jika aku mengatakan hal itu, mungkin orang tua mereka akan semakin menuduhku pembohong, tidak ada yang pernah melihat mereka melakukan hal jahat padaku, mereka menutupi segalanya.

.

.

.

.

Beberapa jam terlewatkan, mereka masih di periksa, orang tua mereka menatap sinis padaku, setelahnya, aku di panggil dan di biarkan berada di hadapan mereka, seorang polisi yang akan menemani kami dan para orang tua mereka atau pun tetanggaku di larang masuk, mereka jadi ribut kembali hingga harus di ancam kembali.

"Jadi katakan alasan kalian untuk melakukan hal itu?" Ucap seorang polisi pada mereka, mereka sedang di introgasi.

Aku bisa melihat sikap tak nyaman salah satu dari mereka, polisi ini berbicara dengan sangat baik dan ramah, tapi tetap saja yang namanya kejahatan akan sulit di tutupi, dan salah satu dari mereka menatap kesal padaku, ya dia selalu tidak pernah bersikap baik padaku, padahal dulunya aku berpikir jika mungkin dia menjadi teman yang baik, tapi itu hanya di luar saja.

"Ini termasuk kasus pembunuhan berencana, kalian masih anak sekolah dan di bawah umur, bagaimana kalian bisa melakukan seperti ini?" Pak polisi itu kembali berbicara pada mereka.

Dan murid tidak nyaman itu semakin tidak tenang, tatapannya terlihat gugup, aku harap mereka mengatakannya segera dan masalah ini sudah selesai.

"Nona Sakura, apa kalian dekat?" Tanyanya padaku.

"Maaf, kami beda kelas, dan kami tidak akrab." Ucapku.

Beberapa jam di introgasi itu tidak membuahkan apa-apa, mereka tetap bungkam hingga salah seorang dari mereka mulai menangis.

"Bukan aku pelakunya, Tayuya yang mengajakku, aku tidak melakukan apapun, dia juga yang menyiram halaman rumah Sakura." Ucap salah seorang teman Tayuya.

Kedua orang tua mereka mulai menatap tidak enak padaku, anaknya mulai berbicara, dia menangis dan mengatakan tidak ingin di penjara, ini bukanlah urusanku, mereka harus berhadapan dengan polisi.

.

.

TBC

.

.


update...~
maaf jarang update lagi.

tapi tetap jaga kesehatan yaaa..., author masih tetap rajin mengetik kok walapun di cicil XD kek cicilan saja, :D :D