Sehun masih bergeming di tempatnya. Tatapannya tertuju ke bawah, tampak kosong setelah kepergian Baekhyun. Kata-kata penolakan yang Baekhyun lontarkan tadi tak henti berdengung dalam benaknya, layaknya sebuah kaset kusut yang memutarkan mimpi buruk. Bohong jika Sehun berkata ia baik-baik saja. Karena faktanya, semakin lama ia memikirkannya, semakin dalam pula luka yang tercipta di hatinya.

Apa ini sungguh akhir dari perasaannya? Berbeda jauh dengan ekspektasinya ketika ia berhasil menemukan Baekhyun, jawaban yang Sehun terima hanya berbuah penolakan? Lalu untuk apa usahanya selama dua belas tahun ini?

Tanpa sadar, kepalan tangan Sehun menguat karena satu nama yang menjadi penyebab dari semua ini. Satu nama yang sejak dulu tak pernah ia sukai dalam kehidupannya. Dan yang terpenting, menjadi penghalang terbesar bagi dirinya untuk bersama Baekhyun.

Park Chanyeol.

"Tidak." Suara Sehun menolak fakta dalam desisan. Sorot matanya berubah dingin, tertuju lurus pada pintu atap yang sedikit terbuka. "Jika aku tidak bisa memiliki Baekhyun, maka kau pun tidak."

Dibutakan oleh pemikiran yang sempit, Sehun mengambil ponselnya dari saku celana dan mengetikkan sebuah pesan pada Chanyeol. Begitu pesan itu terkirim, Sehun mengayunkan tungkainya untuk menyusul Baekhyun, dengan senyum miring terbentang di sudut bibirnya.

.

.

.

###

AEIPATHY (BL VERSION)

Chapter 18 – To the Last Minute

Main Casts : Park Chanyeol & Byun Baekhyun

###

.

.

.

Saat ini Baekhyun berniat untuk menemui Chanyeol. Ia ingin meluruskan semua masalah dan jika bisa—memulai kembali hubungan mereka yang sempat retak. Ini sungguh membuat Baekhyun gugup, tapi juga bersemangat di saat bersamaan. Ada banyak kemungkinan, Baekhyun tak tahu mana yang akan berhasil, setidaknya ia harus mencoba. Karena sama seperti Chanyeol, Baekhyun pun ingin memperjuangkan cintanya untuk pria tinggi itu.

"Mungkin sebaiknya aku menghubunginya du—"

Baekhyun sudah sedikit ini untuk mencari nomor Chanyeol di ponselnya, namun seseorang menahan pergerakan itu dan menariknya menuju sudut bawah tangga.

Tepat di hadapan Baekhyun, manik Sehun menatapnya tajam. Pria bersurai blonde itu melempar asal ponsel Baekhyun dan mengurung tubuh si mungil dalam kungkungannya.

"A–apa yang kau lakukan, Sehun-ah?"

Tak peduli dengan intonasi ketakutan itu, Sehun malah mengeratkan kungkungannya, lalu memajukan wajahnya ke wajah Baekhyun.

"Kau pikir aku akan membiarkanmu bersama Park Chanyeol semudah itu, hm?".

"A–apa?"

Tanpa aba-aba, satu lumatan intens Sehun daratkan di bibir Baekhyun, membuat mata sipit itu membelalak kaget. Susah payah Baekhyun berusaha melepaskan diri, tapi itu justru hanya memperkuat kungkungan Sehun di tubuhnya.

Tak berhenti sampai di sana, tangan Sehun kini bergerak memasuki baju Baekhyun. Pria dominan itu mengelus pinggang ramping si mungil, sambil meninggalkan jejak kemerahan di leher jenjang itu sampai napasnya dibuat berantakan.

Sehun sama sekali tidak mengizinkan Baekhyun barang beberapa detik untuk bicara, apalagi melawan. Alih-alih Sehun memperdalam ciuman sepihak itu, dengan memaksa lidahnya masuk ke dalam mulut Baekhyun dan memonopoli setiap sudutnya.

Tepat di saat Sehun mendengar suara langkah seseorang dari arah kiri, barulah ia mengakhiri kegiatannya. Diambilnya sedikit jarak tanpa melepaskan kungkungan itu, hanya untuk memamerkan seringaian di sudut bibirnya.

"You see, you're missing one important thing, Bee." Sehun berbisik. Maniknya menilik puas Baekhyun yang benar-benar sudah tak memiliki tenaga untuk melawan, sebelum beralih pada sosok bersurai ash grey yang mematung di belakang mereka. "That is..Park Chanyeol gets fucking jealous easily."

Inilah rencana Sehun.

"Smile, Bee. My Uncle is standing right behind us~"

Agar Chanyeol menyaksikan semuanya.

"Apa?!"

Ketika Baekhyun tersadar akan situasi dan perlahan tenaganya terkumpul kembali, Sehun segera melepaskan kungkungannya. Sambil bersandar santai di dinding, ia nikmati ekspresi Chanyeol detik itu. Bagaimana wajah pamannya memerah karena emosi yang nyaris meledak dan tak ada kata terucap dari bibirnya. Itu adalah ekspresi yang sama dengan yang Sehun lihat empat tahun silam.

"C–Chanyeol.." Baekhyun terbata. Wajahnya memucat secara perlahan. "A–aku bisa jelaskan semuanya."

Daripada mendengarkan penjelasan Baekhyun, Chanyeol justru menghampiri Sehun. Kegusaran dalam obsidiannya itu tertuju lurus di mana si rambut blonde berdiri, yang tak lebih direspon dengan sebuah dengusan.

"Bukankah ini seperti déjà vu?" ledek Sehun, tangan melipat sempurna di depan dada. "Bedanya kali ini aku merasa sangat puas sampai aku memperbolehkanmu memukulku."

Mendelik Sehun yang semakin berani menyulut emosinya, lamat-lamat Chanyeol mengertakkan gigi. Muak? Tentu saja, terlebih karena Sehun tahu cara memanfaatkan kelemahannya yang seorang pencemburu untuk memperkeruh hubungannya dengan Baekhyun. Dan sialnya, itu kerap berhasil—termasuk detik ini.

Darah Chanyeol mendidih luar biasa di dalam sana. Kata 'gusar' bahkan tak lagi bisa merepresentasikan perasaannya. Memori ketika Sehun mencium Baekhyun di taman tempo hari dan apa yang Chanyeol barusan saksikan, melebur jadi satu hingga efeknya berimbas pada detakan jantung dan kepalan tangannya.

"Kenapa diam saja, hah? Kau takut?"

Layaknya api yang sengaja disiram bensin, tangan Chanyeol yang mengepal kuat itu melayang begitu saja dan mengantam keras tepat di perut Sehun hingga ia terjatuh. Sehun hendak membalas serangan Chanyeol, namun pamannya terlalu mendominasi perkelahian tersebut. Alhasil, wajah Sehun pun menjadi target bogem mentah Chanyeol berikutnya dan ia kembali terjatuh.

"Heh," Sehun mencibir seraya mengusap darah segar di sudut bibirnya. Mengabaikan rasa nyeri yang menjalari tubuhnya, ia memosisikan diri untuk duduk, sebelum memandang remeh Chanyeol. "Pukulanmu lumayan juga, Park. Tapi apa hanya itu yang kau punya, hah? Menggelikan sekali."

Chanyeol menarik sudut bibirnya membentuk seringaian. Sehun sama sekali belum sadar bahwa Chanyeol baru saja mendapatkan cara untuk menyingkirkannya dari kehidupan Baekhyun.

"Oh, aku baru saja mulai." Chanyeol balik meremehkan Sehun. Ia mendekati keponakannya yang tersudut, kemudian dengan sengaja menginjakkan satu kakinya di tangan kiri Sehun.

"AARGH! FUCK!" Sehun mengerang kesakitan. Belum sempat ia memukul Chanyeol dengan tangan kanannya yang bebas, sang paman lebih cepat satu detik mencengkeramnya.

"Kau bisa saja memanfaatkan kelemahanku, Oh Sehun, tapi kau jangan pernah lupa," Chanyeol menekankan kalimatnya dalam intonasi mengancam. "Aku juga tahu apa kelemahanmu."

Bersamaan dengan alis Sehun yang menukik tajam, Chanyeol mengambil ponselnya dari saku celana, lalu menghubungi nomor seseorang.

"Halo?"

Sehun melotot mendengar suara tak asing itu. Chanyeol ternyata menghubungi Yeonseok—ayahnya Sehun.

"Hyung, kurasa sebaiknya kau mengirim Sehun ke kampus asrama di Inggris."

"Eh? Kenapa? Apa ada yang terjadi?"

"Ya," Chanyeol tersenyum penuh kemenangan ke arah Sehun. "Dia sering membolos kelas dan sekarang malah berkelahi dengan seseorang di kampus. Aku tak yakin sikapnya bisa berubah jika terus kuliah di sini."

Tak ada yang bisa Sehun tangkap detik selanjutnya, selain fakta bahwa Chanyeol baru saja menyingkirkannya dari kehidupan Baekhyun untuk waktu yang cukup lama. Dan Sehun yakin, sebesar apa pun usahanya untuk membela diri di hadapan orangtuanya, mereka pasti akan lebih memercayai ucapan Chanyeol.

Kemudian begitu telepon itu ditutup, Chanyeol pergi dari sana, tanpa melirik Baekhyun yang sedari tadi mematung menyaksikan pertengkaran antara paman-keponakan itu.

"C–Chanyeol, tunggu!" Sontak Baekhyun setengah berlari mengejar Chanyeol. Namun pria tinggi itu seakan menulikan pendengarannya dan terus melangkah ke depan. "Chanyeol, dengarkan aku dulu! Ini tidak seperti yang kelihatannya, kumohon jangan pergi!"

Mendesah lelah, Chanyeol pun menghentikan langkahnya, lalu berbalik menghadap Baekhyun yang tampak putus asa. Pria bersurai ash grey itu masih tak mengeluarkan kata-kata, hanya menatap lurus manik Baekhyun, menunggu penjelasan yang dijanjikannya.

"A–aku tidak memulai semuanya, aku bersumpah. Sehun tiba-tiba saja datang dan menciumku, padahal aku—"

"Hatimu," Chanyeol tiba-tiba memotong. "Kepada siapa tepatnya kau memberikannya?"

"T–tentu saja padamu, Yeol—"

"Seutuhnya?"

"Apa?"

"Atau kau justru membaginya pada Oh Sehun juga?"

Jantung Baekhyun berdenyut ngilu mendengar tuduhan itu. "A–apa maksudmu? Kau meragukan perasaanku?"

Untuk sesaat, Chanyeol terdiam saja. Ia tak yakin ingin mengatakan jawaban yang sesungguhnya karena itu pasti akan menyakiti mereka berdua, terlebih mata Baekhyun sudah mulai berkaca-kaca. Namun di saat bersamaan, Chanyeol juga sadar bahwa ia tak bisa selamanya berpura-pura seolah hatinya baik-baik saja. Chanyeol mungkin bisa memaafkan Baekhyun waktu itu karena ia percaya padanya. Tapi ini adalah kali kedua hal yang sama terjadi, atau mungkin lebih buruk. Sulit rasanya untuk melupakannya begitu saja. Entahlah. Chanyeol terlanjur kecewa pada Baekhyun.

"Sejujurnya, ya." jawab Chanyeol selang beberapa detik. "Aku benci mengakuinya, tapi itulah yang kurasakan sekarang."

Bola mata Baekhyun bergerak gelisah. Hati dan benaknya mulai dipenuhi kekalutan. "Apa karena yang kau lihat barusan? Bukankah sudah kukatakan bahwa itu tidak seperti kelihatannya? Aku bahkan tidak menginginkannya, Yeol. Kumohon, percayalah padaku.." pintanya di antara isak.

Chanyeol mengepalkan tangannya di sisi tubuh. Perasaannya jadi tak keruan. Sakit rasanya melihat Baekhyun terisak seperti ini. Padahal ia paling tak ingin membuatnya menangis, tapi—

"Beri aku waktu." Chanyeol menelan ludahnya susah payah ketika sesak menyulitkannya untuk bernapas. "Sendirian."

Mungkin ini yang terbaik untuk mereka.

.

.

Patah hati.

Selama dua puluh tahun hidupnya, Sehun baru sekarang merasakan yang namanya 'patah hati'. Padahal saat masih tinggal di New York, Sehun selalu menjadi pihak yang memutuskan hubungan dan bersikap tidak peduli meski pasangannya itu menangis tak ingin diputuskan. Tak pernah sekali pun hatinya sesakit ini. Hanya Byun Baekhyun yang berhasil membuatnya seperti ini.

Mungkinkah ini karma? Entahlah. Sehun tidak ingin memikirkan itu sekarang. Pikirannya terlalu semrawut. Setelah dibuat babak belur oleh Chanyeol dan diteror oleh rentetan panggilan tak terjawab dari orangtuanya, Sehun hanya ingin melepas stres dengan minum bir sepuasnya. Ia tak peduli lagi pada apa pun, toh pada kenyataannya Baekhyun sudah menolaknya mentah-mentah dan sebentar lagi ia akan dikirim ke Inggris.

"Fuck." Umpatan kecil Sehun lontarkan saat kaleng bir yang dilemparnya tidak masuk ke tong sampah. Namun bukannya langsung memungut kaleng tersebut, pria bersurai blonde itu malah membuka bir berikutnya. Pikirnya, biarlah, nanti juga akan muncul orang yang peduli dan memungut kaleng itu.

"Yak, sebegitu malasnyakah kau untuk sekedar membuang sampah ke tempatnya? Aigoo!"

Itu Kyungsoo, berdiri tak jauh dari tempat Sehun berada. Pria bermata besar itu memungut kaleng bir yang tadi si jangkung lempar, lalu memasukkannya ke dalam tong sampah.

Seperti biasa, Sehun bersikap tak acuh. Dengan santai ia menyesap bir-nya, seolah Kyungsoo yang duduk di sebelahnya tidak kasat mata.

"Biar kutebak," Kyungsoo melirik Sehun. "Sedang melepas stres?"

Lagi, Sehun tak memberikan respon, hanya memandang lurus lampu-lampu jalanan yang berkedip dengan indahnya. Biar saja Kyungsoo berkicau semaunya malam ini, Sehun sedang malas bicara.

"Kau akan terus mengabaikanku, hm?" tanya Kyungsoo sambil membuka salah satu bir milik Sehun tanpa meminta izin pada si empu-nya. Pandangannya kemudian turut berlabuh pada lampu-lampu jalanan. "Lukamu..sudah kau kompres?"

Sehun mendengus kasar. Entah kenapa ia tak terkejut ditanyai begitu. Pasti Baekhyun sudah menceritakan kejadian tadi pagi pada Kyungsoo.

"Kupikir kali ini kau harus mengakuinya, Sehun." Kyungsoo menyesap bir-nya sesaat. "Bahwa kau sudah melakukan kesalahan fatal."

Sehun merotasikan bola matanya jemu. Mood-nya jadi bertambah buruk. "Jika kau datang kemari untuk menceramahiku, lebih baik kau pulang—"

"Baekhyun terluka, kau tahu?" Kyungsoo menyela Sehun. "Aku tak bermaksud membelanya karena aku juga tahu kau dalam posisi terluka, hanya saja.." Ia menatap Sehun, yang juga tengah menatapnya. "Apa kau benar-benar akan pergi dengan situasi seperti ini?"

Sehun termangu kemudian. Jantungnya berdenyut ngilu untuk satu alasan.

.

.

Satu helaan napas keluar dari celah bibir Chanyeol setelah tubuhnya ia hempaskan ke sofa. Sekilas kejadian tadi pagi lagi-lagi menghasilkan rasa tak suka dalam hatinya. Entah bagaimana, semuanya jadi begitu kacau. Padahal Chanyeol pikir ia sudah memberikan pelajaran yang setimpal pada Sehun, tapi tak disangka keponakannya itu berbuat sejauh ini. Dan sialnya, itu memengaruhi kepercayaannya pada Baekhyun.

"Aish." Menggelengkan kepalanya, Chanyeol kemudian memejamkan matanya, berharap dengan begitu ia bisa menemukan solusi untuk semua masalahnya.

Tapi tidak.

Yang ada, Chanyeol malah dibawa kembali pada ingatan empat tahun yang lalu, di mana ia pertama kali mulai membenci Sehun.

Kala itu, Chanyeol tengah menjalin hubungan bersama pria berdarah Cina bernama Xi Luhan. Mereka saling mencintai, hampir tak ada masalah yang tak bisa mereka selesaikan berdua. Semuanya berjalan harmonis selama hampir lima bulan, namun itu sampai ketika Luhan bertemu Sehun.

Chanyeol ingat betul itu adalah hari Minggu di bulan Mei ketika ia berkunjung ke apartemen Luhan. Dengan niatan memberitahu kabar baik bahwa ia lulus cumlaud dalam sidang tesisnya tiga hari yang lalu, Chanyeol berjalan mengendap-endap menuju kamar Luhan. Namun alih-alih memberikan kejutan, justru Chanyeol yang dibuat terkejut oleh pemandangan di sana.

Ia menemukan Luhan tengah memeluk Sehun dalam keadaan tubuh telanjang.

Tidak membutuhkan waktu lama bagi Chanyeol untuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Ditambah dengan sikap Luhan yang berubah akhir-akhir ini, itu meyakinkan Chanyeol bahwa ia-lah pihak yang paling bodoh di sini.

Merasa sakit hati, Chanyeol pun mengakhiri hubungannya dengan Luhan dan memendam kebencian pada Sehun detik itu juga. Meski Sehun beralasan dia tidak tahu bahwa Luhan adalah kekasih pamannya, Chanyeol tetap tak peduli. Ia hafal betul perangai Sehun yang playboy dan itu tidak membenarkan ucapannya yang katanya 'tidak sengaja' meniduri Luhan.

Jika dipikir-pikir lagi, mungkin sejak saat itu pula Chanyeol memiliki sifat posesif ini. Namun tak sekali pun terbesit dalam benaknya kejadian ini akan terulang kembali pada Baekhyun. Apa Dewi Fortuna sebegitu membencinya sampai ia harus mengalami kejadian ini lagi?

Dan yang terburuk di antara itu semua adalah hubungannya dengan Baekhyun masih retak, sementara besok Chanyeol harus pergi dinas ke Jerman—entah untuk berapa lama.

"Aku harus bagaimana, Baek?" Chanyeol mengerang frustrasi.

###

Pukul tujuh pagi, Baekhyun terbangun dengan mata sembab di kamar Kyungsoo. Ia meringis kecil ketika kepalanya terasa agak pening. Ah, itu pasti efek dari ketiduran setelah minum dua botol soju. Baekhyun ingat kemarin ia datang ke apartemen Kyungsoo, menceritakan semua yang terjadi sampai ia membanjiri baju sahabatnya dengan airmata.

Mencoba bangkit dari posisi berbaring, Baekhyun ambil ponselnya di atas nakas. Terdapat beberapa pesan masuk di sana, tapi satu pun berasal dari Chanyeol. Dalam hati Baekhyun mengejek dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia berharap Chanyeol menghubunginya di saat kemarin ia sudah menyakiti hatinya. Meski itu disebabkan oleh rencana licik Sehun, tetap saja Baekhyun merasa buruk pada Chanyeol. Ia bahkan tak tahu apakah Chanyeol mau memaafkannya dan kembali padanya.

Sadar pelupuk matanya kembali digenangi airmata, Baekhyun pun meletakkan ponselnya, lalu melangkah lesu menuju kamar mandi. Dibasuhnya beberapa kali wajahnya yang kusut itu, lalu menatap miris bayangannya di cermin wastafel. Ia benar-benar tampak kacau dengan kantung mata yang tebal itu. Beruntung Kyungsoo mengizinkannya bermalam di apartemennya, karena jika tidak, Baekhyun harus pulang ke rumah dan berhadapan dengan rentetan pertanyaan dari Samuel.

Omong-omong tentang Kyungsoo, ke mana perginya pria bermata besar itu? Baekhyun tidak menemukannya di dalam kamar. Mungkinkah Kyungsoo sudah pergi duluan ke kampus?

.

.

Dahi Kyungsoo berkerut ketika pendengarannya menangkap suara hair-dryer, tak jauh dari tempatnya tertidur. Membuka kelopak matanya yang masih terasa berat, Kyungsoo mencari sumber suara itu. Bayangan seorang pria yang bertelanjang dada ia tangkap sedikit kabur. Sempat beberapa kali pria bermata besar itu mengucek matanya untuk memastikan bahwa ia sedang berhalusinasi, tapi sosok pria bertelanjang dada itu tetap ada di sana.

Dan pria itu adalah Oh Sehun.

"A–APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI?!" Kyungsoo menunjuk Sehun dengan mata melotot saking kagetnya. Sementara si rambut blonde hanya menanggapi dengan raut datar.

"Kau belum sadar di mana kau berada ya?"

"Eh?" Kyungsoo mengerjap dua kali. Diperhatikannya sekelilingnya, menemukan pemandangan yang tak biasa. Mendadak tenggorokan Kyungsoo jadi kering. Ia tak ingin main tebak, tapi juga sangat penasaran. "D–di mana ini sebenarnya?" tanyanya hati-hati.

"Di mana lagi?" Sehun balik bertanya. "Tentu saja di hotel."

Bola mata Kyungsoo kembali membelalak, kali ini dilengkapi dengan pipi bersemu sampai ke telinga.

"HO–HOTEL, KATAMU?! K–KENAPA KITA ADA DI HOTEL?! APA YANG TERJADI SEMALAM?!"

Sehun merotasikan bola matanya bosan. Reaksi Kyungsoo ini benar-benar berlebihan.

"Seharusnya kau tanya pada dirimu sendiri, Owl."

"Eh?! Kenapa aku?!"

"Karena jika kau tak mabuk semalam, aku tak perlu repot-repot membawamu kemari."

"Mabuk? Aku mabuk? Bagaimana bisa?" Kyungsoo menunjuk wajahnya, kentara tak percaya dengan ucapan Sehun.

"Aku membeli tujuh kaleng bir dan kau meminum lima. Sekarang kau paham kenapa kau bisa mabuk?"

Kilas balik kejadian semalam tiba-tiba memenuhi kepala Kyungsoo. Ah, ia ingat sekarang. Setelah meminum satu kaleng bir milik Sehun, ia jadi seperti ketagihan sampai tidak sadar sudah meminum lima. Sekelebat racauannya pun mulai Kyungsoo ingat. Sial, ini benar-benar memalukan. Ia jadi penasaran akan sesuatu.

"T–tapi, aku tidak muntah di bajumu, kan?" tanya Kyungsoo takut-takut. Ini akan menjadi lebih memalukan jika dia benar muntah di baju Oh Sehun.

"Tidak, kau muntah sebelum aku menggendongmu."

Kyungsoo menghela napas lega untuk itu.

"Oh, and FYI," Sehun menambahkan. "You're heavy like a freakin' bear."

Dikatai 'beruang', refleks Kyungsoo menendang bokong Sehun sampai si jangkung terjatuh dari ranjang.

"YAK! Apa yang kau lakukan, sialan?!" protes Sehun sambil mengelus bokongnya yang berdenyut.

"Kau hanya mengarang cerita, iya kan?" Kyungsoo melipat kedua tangannya di depan dada, masih menolak percaya pada ucapan Sehun. "Lagipula, kenapa juga kau malah membawaku kemari dan bukannya ke apartemenku?"

Sehun ikut melipat kedua tangannya di depan dada, menantang Kyungsoo. "Dari mana aku tahu alamat apartemenmu, bodoh? Aku bahkan tidak pernah ke sana."

"Kau kan bisa bertanya!"

Sehun mendengus. "Pada siapa? Kau?"

"Tentu saja pada—" Kyungsoo cepat-cepat menggigit lidahnya. Nyaris saja ia menyebut nama 'Baekhyun'.

"Daripada marah-marah, seharusnya kau bersyukur aku tidak meninggalkanmu di taman yang sepi itu, Owl. Kau tahu punggungku hampir patah gara-gara menggendong tubuhmu yang berat."

"YAK!"

"Kalau kau sudah merasa lebih baik, cepat pakai jaketmu. Aku mau check-out sekarang."

Alis Kyungsoo terangkat sebelah mendengar itu. "Check-out? Memang kau mau ke mana?"

Ada satu jeda ketika Sehun memunggungi Kyungsoo dan tak langsung menjawab pertanyaannya. Pria bersurai blonde itu menunduk sebentar, sebelum menoleh pada si mata besar.

"Ke Inggris."

.

.

Setelah berdebat dengan otaknya selama hampir setengah jam, ego Baekhyun akhirnya menang. Ia memutuskan untuk pergi ke kampus hari ini. Tujuan utamanya tak lain dan tak bukan adalah bertemu Chanyeol. Well, tidak sepenuhnya bertemu, Baekhyun hanya akan melihatnya dari kejauhan. Dan agar tujuannya itu tercapai, Baekhyun menggunakan masker dan topi untuk menutupi wajahnya. Semoga saja ia tidak ketahuan oleh Chanyeol.

"Oke, ini dia."

Hentakan jantung Baekhyun meningkat seiring langkahnya menuju lobi jurusan. Jemari-jemarinya yang lentik bermain satu sama lain sebagai pelampiasan atas kegugupannya.

Saat ini, waktu tengah menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh tujuh menit. Seingat Baekhyun, hari ini Chanyeol ada jadwal mengajar pukul sepuluh di lantai tiga. Chanyeol mungkin belum datang, jadi menunggu di lobi jurusan sepertinya ide yang bagus.

Sengaja Baekhyun memilih tempat duduk tepat di samping para mahasiswa tingkat tiga berkumpul, dengan begitu kehadirannya tidak akan disadari Chanyeol. Namun baru duduk sekitar lima menit, percakapan para mahasiswa tingkat tiga itu lebih dulu menarik perhatian Baekhyun.

"Yak, bukankah sekarang kau ada kelas PCY Seonsaengnim? Kau membolos ya?"

"Eyy~ tenang saja. PCY Seonsaengnim tidak akan masuk. Kudengar dari Tuan Ryu, beliau sedang pergi dinas."

"Eh? Ke mana?"

"Entahlah, yang pasti dinasnya lumayan lama. Kudengar para sunbae yang dosen pembimbingnya PCY Seonsaengnim pun akan dialihkan ke dosen lain."

"Eh? Serius?"

Kata-kata itu sontak mengagetkan Baekhyun. Pasalnya ia baru tahu hal ini, Chanyeol bahkan tak menyebutkan apa-apa soal dinas. Mungkinkah Chanyeol memang sengaja tidak memberitahunya?

"T–tidak, sebaiknya kupastikan dulu pada Tuan Ryu." Bangkit dari duduknya, Baekhyun pun pergi menemui Tuan Ryu di meja jurusan. Ia tak mau berprasangka buruk dulu pada Chanyeol. "Permisi, Tuan Ryu." panggil Baekhyun, menghentikan kegiatan Tuan Ryu yang sedang mengetik sesuatu di komputer. "Apa PCY Seonsaengnim sudah datang kemari?"

"PCY Seonsaengnim? Beliau sedang cuti."

"C–cuti? Kenapa?"

"Kau tidak tahu? Beliau sedang pergi dinas ke Jerman. Hari ini jadwal keberangkatannya."

"J–Jerman? Untuk berapa lama?"

"Entahlah, tidak bisa dipastikan karena beliau ke sana untuk melakukan riset. Kau ada perlu dengan beliau?"

Bola mata Baekhyun tiba-tiba bergerak gelisah dan jantungnya berdegup lebih kencang. Tak satu pun suara bisa Baekhyun dengar karena benaknya terlalu penuh dengan berbagai pertanyaan. Namun sekeras apa pun pria mungil itu berpikir, ia tak bisa menemukan jawaban yang cocok. Seolah ada benang kusut melilit otaknya sampai ia kesulitan berpikir.

Apakah ini memang sungguh akhir dari hubungan mereka? Benar-benar sudah tidak ada harapan lagi?

"Sampai kau benar-benar menolak perasaanku," Chanyeol mengecup punggung tangan Baekhyun, tersenyum lembut di jeda kalimatnya. "Aku takkan menyerah tentangmu, Byun Baekhyun.."

Tidak.

Ini belum berakhir.

Sama seperti Chanyeol, Baekhyun sudah putuskan untuk memperjuangkan cintanya pada Chanyeol. Ia tidak akan menyerah. Setidaknya sampai masalah di antara mereka selesai dan Baekhyun mendapatkan jawaban yang pasti atas perasaannya, ia akan terus memperjuangkan cintanya.

Dengan tekad itulah, Baekhyun pergi menyusul Chanyeol ke bandara. Semoga ia belum terlambat.

.

.

Bandara Internasional Incheon..

Semula Kyungsoo pikir Sehun bercanda ketika dia berkata akan pergi ke Inggris, tapi ternyata itu benar. Nyatanya kini pria bersurai blonde itu memegang sebuah paspor dan membawa seluruh barangnya ke dalam koper.

"Orangtuamu tidak ikut mengantarmu?"

"Kau pikir aku bocah umur sepuluh?"

Kyungsoo mengedikkan bahu. "Kau masih anak orangtuamu, omong-omong."

Sehun mendengus mendengar fakta menggelikan itu. "Mana mau mereka mengantar anak berandal sepertiku." Dan hening sejenak. Satu senyum simpul Sehun berikan pada Kyungsoo yang menatapnya khawatir. "Aku baik-baik saja, Owl."

Sedikit malu, Kyungsoo membuang muka. Pipinya samar-samar bersemu. "Aku tidak bilang apa pun kok! Dan berhenti memanggilku 'Owl', bodoh! Aku punya nama!"

"Aku lebih suka memanggilmu 'Owl', itu cocok untukmu." goda Sehun seraya mengacak surai Kyungsoo sampai berantakan.

"Aish, hentikan! Dasar bocah menyebalkan!"

"Hey, do me a favor."

"What?"

"Kabari aku kalau Baekhyun sudah putus dengan Park Tua itu."

Kyungsoo melemparkan raut datar. "Kau masih belum menyerah, hah?"

"Menyerah itu membutuhkan waktu, kau tahu? Kecuali jika aku sudah menemukan pengganti yang cocok."

"Ada banyak pria dan wanita cantik di Inggris, kau pilih saja salah satunya."

"Kita lihat saja nanti." Sehun melirik waktu di jam tangannya. "Aku harus pergi sekarang."

"Hm, jaga dirimu. Kabari aku kalau kau sudah sampai di sana, oke?"

Sehun tersenyum kecil, sedikit banyak terharu akan perhatian yang Kyungsoo berikan padanya. Padahal jika diingat-ingat, sejarah pertemuan mereka tidak terlalu bagus, tapi justru Kyungsoo-lah yang selalu menemaninya di saat-saat tak terduga. Termasuk detik ini.

"Thanks, Owl." Sehun membawa wajahnya mendekati wajah Kyungsoo dan mendaratkan kecupan di pipi gembil itu. "Don't miss me too much, okay?" Lalu mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda si mungil yang melotot kaget.

"K–k–kau—"

"Bye~"

Kyungsoo tak sempat mengeluarkan umpatannya karena Sehun sudah lebih dulu pergi meninggalkannya. Alih-alih, Kyungsoo justru tersenyum kecil pada sosok bersurai blonde itu. Dalam hati ia berharap semoga Tuhan memberi Sehun kesempatan untuk jatuh cinta lagi, kali ini pada orang yang juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya.

.

.

Kedua tungkai Baekhyun berlari kencang menyusuri kerumunan yang memadati bandara. Sambil terus berusaha menghubungi nomor Chanyeol, bola mata Baekhyun tak henti mencari sosok tinggi bersurai ash grey itu, tak peduli sekalipun napasnya kian berantakan. Baekhyun tak tahu pasti jam berapa pesawat yang ditumpangi Chanyeol berangkat, ia hanya berharap pria jangkung itu segera mengangkat teleponnya, hingga Baekhyun tahu ia belum terlambat.

"Chanyeol, di mana kau? Kumohon, cepat angkat ponselmu." Baekhyun menggigit bibir bawahnya kelewat resah. Perasaannya semakin tidak enak karena lagi-lagi ia terhubung dengan voice mail. Pikirnya, mungkinkah pesawat yang membawa Chanyeol sudah lepas landas?

"Tidak, tidak!" Baekhyun menggeleng keras, berusaha menepis pemikiran buruknya. Apa pun yang terjadi, ia tak boleh menyerah. Siapa tahu kan Chanyeol mengaktifkan mode getar di ponselnya dan dia tidak sadar ada yang meneleponnya? Atau bisa juga baterai ponsel Chanyeol memang sudah habis. Ya, kemungkinan itu selalu ada.

Berhenti menelepon Chanyeol, Baekhyun kemudian berlari menuju FIDS untuk mencari tahu jadwal keberangkatan pesawat dengan tujuan Frankfurt, Jerman. Namun belum sempat Baekhyun menemukannya, sebuah pengumuman menghentikan laju larinya.

"Perhatian, panggilan terakhir untuk para penumpang yang belum memasuki pesawat Asiana Airlines dengan nomor penerbangan OZ541 tujuan Frankfurt, dipersilakan segera naik ke pesawat melalui pintu A12."

Pelupuk mata Baekhyun seketika digenangi airmata. Ia semakin panik.

"Tidak.." Baekhyun kembali berlari, ia mulai terisak. "Jangan pergi dulu, Yeol, kumohon.."

Sepuluh menit—tidak, lima menit. Bahkan jika Tuhan berbaik hati memberinya sedikit waktu untuk bertemu Chanyeol, Baekhyun berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia akan meminta maaf pada Chanyeol, mengatakan bahwa ia tak pernah membagi hatinya pada siapa pun, hanya pada Chanyeol.

"Kumohon.."

Seutuhnya, hatinya adalah milik Chanyeol.

"Jangan pergi.."

Kaki Baekhyun berhenti di depan pintu A12 yang sudah tertutup rapat. Ia terlambat.

"Aku.." Baekhyun menunduk di antara airmatanya yang berjatuhan tanpa henti. Satu tangannya memegang dada sebelah kiri, di mana jantungnya terasa begitu sesak. "Aku mencintaimu, Chanyeol. Sangat.."

Baekhyun benar-benar merasa begitu bodoh. Padahal dulu ia memiliki banyak kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka, bahkan Chanyeol sempat memintanya untuk memulai kembali hubungan yang retak itu, tapi kenapa ia malah mengulur-ulur waktu dan baru sadar sekarang?

Di saat Chanyeol pergi jauh dan belum tahu pasti kapan ia akan pulang.

Di saat tak banyak waktu untuk mengutarakan apa yang ada dalam hati satu sama lain.

"Baek?"

Suara itu lantas menyentakkan Baekhyun. Ia mendongak perlahan, mendapati seorang pria tak asing berdiri di hadapannya dengan raut kebingungan.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Itu Kyungsoo.

"Kyungsoo-ya.." Baekhyun memeluk sang sahabat, menumpahkan kesedihannya di bahu sempit itu. "Chanyeol..dia pergi.."

"Pergi? Ke mana?"

Baekhyun tak menjawab, hanya mengeratkan pelukannya di tubuh mungil itu dan menangis sesenggukan. Kyungsoo sendiri tak bertanya lebih lanjut, memilih untuk mengusap punggung Baekhyun agar sahabatnya merasa lebih baik. Entah apa yang sebenarnya terjadi, tapi sepertinya ini bukan berita bagus.

"Ayo, kita pulang. Kau ceritakan semuanya begitu kita tiba di apartemenku, oke?"

Kyungsoo menggenggam tangan Baekhyun, mengajaknya pergi dari sana. Ia menyetop sebuah taksi yang baru memasuki pelataran bandara. Namun tepat ketika tangannya terulur untuk membuka pintu taksi, itu sudah dibuka duluan oleh seseorang dari dalam.

Manik bertemu manik.

Baik Baekhyun, maupun Kyungsoo, sama-sama membelalakkan mata akan sosok tinggi bersurai ash grey yang keluar dari taksi tersebut. Bahkan untuk sesaat, Baekhyun merasa jantungnya seperti berhenti berdetak, terlebih karena kini sosok itu berdiri di hadapannya dengan senyum yang teramat Baekhyun rindukan.

Itu Park Chanyeol.

TBC

Nah, loh? Ternyata Pak Dosen belom pergi, behahahahahaha! Sengaja saya potong di sini biar kalian gigit jari /plakk/

Saya harap alur chapter ini gak terlalu cepet atau (mungkin) terlalu maksain. Semisal ada beberapa dari kalian bilang FF ini mirip sinetron atau drama, saya gak akan menyangkal karena saya pun berpikir demikian. Tapi mengesampingkan hal itu, saya harap kalian suka chapter ini. Saya juga ingin berterima kasih sebanyak-banyaknya buat yang masih mau baca FF sinetron ini dan bahkan kasih saya support berupa review, favorite, juga follow. SICERELY, I LOVE YOU, GUYSSS~

Anyway, bakal baikan gak nih ChanBaek? Tunggu aja lanjutannya di chapter terakhir ya!

REVIEW, PLEASE?