The Student

A Jaemren Story

BoyxBoy

Bagian 17

.

Ziiiing!

Jaemin merasakan ada seseorang yang membidik dirinya dan Haechan, dengan cepat Jaemin menarik tubuh Haechan ke dalam pelukannya untuk menghindari tembakan. Tapi terlambat, tembakan orang tersebut jauh lebih akurat dan cepat daripada Jisung, peluru biusnya berhasil menancap pada tengkuk Haechan dan membuat bola mata anak itu memutar ke belakang, kehilangan kesadaran dan jatuh dalam pelukan Jaemin.

Jeno dan Jeongin melihat semuanya, bagaimana Jaemin memeluk Haechan dan detik-detik sahabat Renjun tersebut jatuh kehilangan kesadaran. "Haechan sunbae!" Jeongin refleks berdiri dan berlari diikuti Jeno menuju Haechan yang sudah digendong Jaemin ala bridal style. "Buka pintunya Jeongin," perintah Jaemin yang langsung dilaksanakan oleh adik kelasnya.

Kembali ke mobilnya, Jeno siap di kursi kemudi, Jaemin meletakkan Haechan di seat tengah, menyuruh Jeongin untuk duduk di seat depan samping Jeno, sedangkan dirinya masuk dari pintu lain untuk memangku kepala Haechan.

"Apa yang terjadi pada Haechan sunbae? Haruskah kita bawa dia ke rumah sakit?" tanya Jeongin, kepalanya bergantian mengarah ke Jeno dan Jaemin, meminta jawaban.

"Apa yang terjadi, Jaemin?" tanya Jeno, matanya memandang ke rear-view-mirror, melihat Haechan yang masih pingsan berada dalam pangkuan Jaemin.

Jaemin diam, tak menjawab, perhatiannya tersita pada peluru bius yang menancap di tengkuk Haechan. Disana ada gulungan kertas kecil yang diselipkan. "Apa ini?" tanya Jaemin pelan.

Sebelum Jaemin membuka gulungan kecil itu, suara Jeno sudah menginterupsinya. "Kita akan bawa Haechan kemana? Rumahku?" tanya Jeno.

"Jangan, disana ada Mark. Aku tidak mau dia tahu. Kita bawa Haechan ke rumahku."

"Kau yakin?" tanya Jeno memastikan, matanya melirik ke Jeongin yang ada di sampingnya, seolah mengode pada Jaemin bahwa ada orang asing yang tak mengenal identitas asli mereka.

"Tidak papa Jeno-ya, Jeongin sudah tahu identitasku yang sebenarnya," jawab Jaemin yang langsung disusul helaan nafas lega oleh Jeno. Ia menatap Jeongin dan memberikan anak itu eye-smile andalannya. Jeongin pun membalas dengan senyuman manis yang sudah membuat Hyunjin tergila-gila.

'Manis sekali..' batin Jeno. Ia sekarang tahu kenapa Jaemin mau berkencan dengan adik kelasnya ini dan kenapa Hyunjin si player terjebak friendzone sejak SMP dengan Jeongin. Senyumannya terlalu manis.

Tak menghiraukan Jeno dan Jeongin yang saling melempar senyum, Jaemin membuka gulungan kertas tadi dan membacanya.

Kalau kau ingin cepat menyelesaikan misimu, temui aku di apartment Huang Renjun sebulan dari sekarang, di tanggal yang sama.

ZC.

X

X

Setelah melewati hutan dan jalanan tanpa penghuni di samping kanan kiri, mobil Jeno tiba di gerbang tinggi nan besar berwarna emas yang menjadi pintu masuk mansion besar nan megah di tengah hutan. Itu gerbang mansion ibu Jaemin di Korea, lokasinya memang sangat terpencil, susah dijangkau dan jauh dari peradaban. Orang sekitar yang melihatnya akan mengira bahwa mansion besar itu berhantu padahal tidak.

Jeno memarkirkan Bentley Continental GTnya di garasi mansion Jaemin, diapit oleh Tesla putih dan Porsche merah sahabatnya yang sudah ada di dalam. Setelahnya, Jeno, Jeongin dan Jaemin yang menggendong Haechan keluar dari mobil segera masuk mansion besar dan megah itu untuk membaringkan Haechan di ruang tamu keluarga.

Jaemin berlari ke dapur mengambil ember kecil dan sebotol susu. "Untuk apa ember?" tanya Jeongin yang sedang memijat kaki Haechan agar kakak kelasnya lekas sadar. Haechan sedang pingsan karena bius dan Jaemin malah menyiapkan ember kecil.

"Orang yang terbius karena obat, otaknya dipaksa untuk berhenti bekerja. Itu ilmu anestesi, saat dia sadar, biasanya akan pusing dan muntah. Kalau langsung muntah malah bagus. Ember ini untuk tempat muntah Haechan dan susu ini untuk menetralkan biusnya." Jaemin memberi penjelasan pada Jeongin, jempolnya sibuk menscroll gadgetnya untuk menelfon seseorang.

Jeongin mengangguk, mulutnya membentuk huruf O. Pantas saja Jaemin menyandang predikat siswa paling cerdas seangkatan. Anak itu memang tau segalanya dan hal itu semakin menambah rasa kagumnya pada Jaemin.

"Kalau dosisnya kecil, jam 2 atau 3 pagi dia akan bangun dengan sendirinya," lanjut Jaemin.

Duduk di samping kepala Haechan yang berbaring, Jeno masih membaca gulungan kecil yang tadi diberikan Jaemin padanya. Gulungan yang berisi surat dari orang berinisial ZC. Kening Jeno berkerut mencari petunjuk tentang orang tersebut tapi nihil, dia tidak tahu siapa yang membius Haechan dan mengirimkan surat itu ke Jaemin.

Sedangkan Jaemin kini terlihat sibuk menelfon. "Moshi-moshi, Haruto-kun?"

"Moshi-moshi, Jaemin-san."

"Kau sibuk?"

"Tidak juga. Keluargaku sedang makan malam dengan keluarga Park. Ada petunjuk baru kah?"

Hati Jaemin mencelos mendengar Haruto sedang makan malam dengan keluarga Jisung. Ia jadi sedikit tergoncang dan hampir lupa mau bicara apa. "Temanku ditembak bius oleh seseorang malam ini," ucap Jaemin pada akhirnya.

"Siapa pelakunya?"

"Aku tidak tahu. Kau tahu inisial ZC? Apakah dia salah satu anggota mafia yang kucari?"

"ZC? Wakaranai Jaemin-san."

"Bisakah kau carikan informasi tentangnya?"

"Kau mau aku bertanya pada kepala keluarga Park?"

"JANGAN!" Jaemin membentak, membuat Haruto menjauhkan telfon dari telinganya. Di sisi lain, Jeno dan Jeongin juga kaget karena suara keras Jaemin yang terdengar panik.

"Hai' hai'. Akan kuhubungi kau secepatnya jika aku tau siapa ZC."

"Satu hal lagi. Bisakah kau kesini sebelum bulan depan di tanggal yang sama? Orang ini mengajakku bertemu pada hari itu."

"Bertemu untuk bicara atau bertemu untuk saling bunuh?"

"Aku tidak tahu. Mungkin keduanya."

"Hai' Jaemin-san, aku akan bersiap mulai sekarang jika begitu. Apakah Mark Lee jadi kita gunakan sebagai umpan?"

"Tergantung siapa ZC, baru kita putuskan untuk gunakan Mark atau tidak. Aku tidak yakin Mark bisa dijadikan umpan untuk ZC."

"Oke. Kau ingin aku bergerak sendiri atau bekerja sama dengan Jeno-san?"

"Yang penting kau datang dulu saja ke Korea. Kita bicarakan hal itu nanti."

"Hai' Jaemin-san. Aku sudah dipanggil kepala keluarga Park untuk kembali bergabung. Aku pamit."

"Arigatou, Haruto-kun."

"Hai', sampai jumpa di Korea, Jaemin-san."

Jaemin berbalik kembali menghadap Jeno dan Jeongin yang sudah melempar tatapan penuh tanya mereka padanya. Terutama Jeno, ia memandang Jaemin dengan tatapan tak percaya. "Apa?" tanya Jaemin.

"Kau benar-benar meminta tolong pada Haruto?" tanya Jeno. Tatapannya terlihat jelas bahwa dia tidak suka dengan tindakan Jaemin.

"Kenapa memangnya, kau tidak suka?" tantang Jaemin, membuat sahabatnya mendecak karena sikapnya yang keras kepala dan suka bertindak semaunya sendiri.

"Kau lupa kalau Haruto pernah berusaha membunuhku?" Jeno meninggikan suaranya, menunjukkan betapa tak sukanya dia pada anak bungsu keluarga Watanabe itu.

Jaemin menarik sudut bibirnya, mengingat bahwa tiga tahun lalu Haruto ditugaskan untuk uji coba pembunuhan terhadap Jeno dan Jisung oleh seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah ayah Jaemin sendiri.

Hal itu ayahnya lakukan untuk mengeluarkan potensi Jaemin sampai puncak maksimal. Untungnya Jaemin bisa melindungi keduanya walau harus berakhir dirawat di rumah sakit karena luka tusuk dari Haruto.

Haruto adalah tipe pembunuh yang sama seperti Jeno, menggunakan kekuatan dan daya tahan. Hanya saja ia lebih gesit dan lincah dibandingkan dengan Jeno. "Hey, itu hanya percobaan bodoh dari ayahku. Dia tidak benar-benar ingin membunuh kalian," ucap Jaemin menenangkan Jeno.

"Huh, tetap saja, Jaemin." Jeno memghempaskan punggungnya di sofa empuk ruang tamu keluarga Na, membiarkan tubuhnya merosot karena gravitasi yang bernama 'malas gerak'.

Jeongin yang tidak mengerti obrolan Jaemin dan Jeno hanya bisa mengedarkan pandangannya pada setiap sudut mansion besar Jaemin, tak mau ambil pusing dengan topik obrolan Jaemin dan Jeno yang dipenuhi kata bunuh. Pun pandangannya tersita pada piano besar berwarna emas klasik dengan ukiran cantik bertuliskan 'For: Nana hyung'.

"Kau bisa piano, sunbae?" tanya Jeongin. Jaemin yang diajak bicara langsung menoleh ke arah piano besar di rumah itu yang merupakan hadiah dari Jisung saat Jaemin berulang tahun yang ke 14.

Tak menjawab pertanyaan Jeongin, Jaemin berjalan ke arah piano besarnya yang usang dan berdebu. Ia ingat hari dimana Jisung memberikan piano itu padanya. Saat itu Jaemin baru saja tiba di Korea dari Argentina dan Jisung juga baru tiba di Korea dari Polandia.

[[Flashback]]

"Selamat datang kembali, hyung." Jisung dengan wajahnya yang lelah dan kusut berusaha tersenyum lebar lalu memeluk hyungnya yang baru saja tiba di Korea, di mansion ibu hyungnya tercinta. Sayangnya, Jeno tak bisa ikut merayakan ulang tahun Jaemin saat itu karena pekerjaan di Jepang.

"Gomawoo, Jisungaa." Jaemin balas memeluk Jisung sangat erat, berterima kasih karena Jisung rela menyisihkan waktu sibuk dari pekerjaan pembunuhnya hanya untuk memberikan hadiah tepat di hari ulang tahun Jaemin.

Jisung memberikan kotak kecil berwarna merah pada hyungnya, saat dibuka, disana berisi sebuah kunci berwarna emas dengan kesan antik dan mewah yang kental di setiap detailnya. "Apa ini, Jisungie?" tanya Jaemin bingung.

"Hadiah." Jisung tersenyum lebar. "Aku ingin hyung memainkan komposisi favoritku kalau kita ada waktu luang dan berkumpul bersama dengan Jeno hyung juga." Jaemin yang mendengarnya langsung tahu jika Jisung memberikan kado berupa piano untuknya.

"Liszt? Dalam mimpimu ya? Aku bukan penggemar Liszt." Jaemin menggoda Jisung, membuat adiknya protes, sedikit membentak tak terima. "Hyung! Liszt itu keren! Lebih keren daripada Chopin!"

Jaemin hanya terkekeh pelan mendengarnya. "Terserah kau saja. Aku tetap lebih suka Chopin."

Ia lalu berjalan mengikuti Jisung yang sudah ada di depannya, menuntun Jaemin pada sebuah kotak kayu besar dengan lubang kunci di tengahnya. Tingginya 5cm lebih tinggi dari Jisung dan lebarnya sama dengan tinggi badan Jaemin.

"Tadaa~" Jisung merentangkan kedua tangannya di samping kotak besar tersebut, menunjukkan bahwa itu adalah kado untuk Jaemin. Dengan segera Jaemin memasukkan kunci dari kotak kecil ke dalam lubang kotak besar untuk membuka kado besar tersebut.

Saat kotak besar terbuka, nampaklah piano besar berwarna emas dengan ukiran indah warna hitam bertuliskan nama panggilan Jaemin yang hanya boleh disebut oleh orang terdekat anak itu. For: Nana hyung. Jaemin tersenyum, ia kemudian menatap Jisung yang masih tersenyum lebar dari tadi.

"Hyung suka?" tanya Jisung mendapati hyungnya tersenyum lebar mengagumi piano pemberiannya. Ia berjalan memutari Jaemin dan berakhir berdiri di belakang hyungnya yang duduk dan membuka kap piano megah itu.

Jaemin mengangguk. "Jisungaa. Ini.. indah sekali." Jaemin mengagumi tiap bagian yang ada pada pianonya. Sempurna dan indah sama seperti Jisung.

Perjuangan Jisung pun tidak main-main untuk mendapatkan piano langka tersebut. Ia memesan langsung dari Jerman dengan harga yang bahkan bisa dipakai untuk membeli 3 city car baru.

Jaemin mendongak ke belakang, melihat Jisung yang masih memasang senyum bangga karena berhasil membuat Jaemin puas dengan pemberiannya. Ditatapnya adik tanpa hubungan darah itu dengan tatapan sendu.

Jisung menunduk, menatap hyungnya. "Selamat ulang tahun, hyung." Senyuman laki-laki bermarga Park itu berubah tulus, sangat tulus hingga membuat Jaemin terharu menahan air mata. "Aku menyayangimu," lanjut Jisung, memeluk Jaemin yang sedang duduk dari belakang.

Melepaskan kedua lengan Jisung yang mengalung di lehernya, Jaemin berdiri dan berbalik menghadap Jisung. "Gomawo.. Jisungaa. Aku juga menyayangimu," ucap Jaemin. Air matanya menetes sealiran memeluk adik kesayangannya.

Dua kakak beradik yang dipersatukan oleh takdir ini melepas rasa rindu mereka masing-masing, menyalurkannya lewat pelukan hangat yang jarang sekali mereka berikan satu sama lain karena jarak dan waktu.

Jaemin duduk kembali, membelakangi Jisung dan bersiap memainkan komposisi permintaan Jisung. "Kau ingin aku memainkan komposisi Liszt?" tanya Jaemin. Jisung berdiri di belakangnya, kedua tangan besar itu memegang bahu hyungnya.

"Hyung mau memainkannya untukku?" Mata Jisung berbinar, ia jadi terlihat sangat imut seperti anak kecil yang disogok akan dibelikan eskrim setelah berbuat baik. Ia sangat senang dan antusias mendengar permainan piano Jaemin yang selalu menjadi alunan musik favoritnya.

Permainan piano Jaemin selalu menjadi sirine di tengah kegelapan yang Jisung hadapi, menuntun anak itu keluar dari gelapnya kesendirian. Alunan nada dari tuts piano yang dimainkan Jaemin adalah cahaya redup penenang kegelisahan atas tekanan yang selalu anak itu rasakan. Jaemin adalah orang yang sangat berharga untuk Jisung melebihi orang tuanya sendiri.

"Liszt? Liebestraum kan?" Jaemin mulai menekan tuts piano dengan jari-jari panjangnya, alunan nada mulai masuk ke indera pendengaran Jaemin dan Jisung yang langsung menutup mata menikmati permainan piano hyungnya.

Dan dengan itu kedua pembunuh muda dari keluarga Na dan keluarga Park menikmati kebersamaan mereka. Hati yang lebih muda merasa bangga dan selalu tenang jika bersama hyungnya. Sedangkan hyung yang lebih tua dengan senang hati akan terus menemani dan menuruti permintaan adik kecil kesayangannya.

[[End of flashback]]

"Sunbae?" panggilan Jeongin membuyarkan lamunan masa lalu Jaemin, membuatnya menoleh dan menatap Jeongin dengan kedua alisnya yang naik.

"Sunbae bisa bermain piano? Siapa itu Nana?" Jeongin membaca nama yang tercetak di piano besar Jaemin. Ia mengagumi ukiran dan ukurannya. Piano itu pastilah sangat langka dan mahal harganya.

"Aku bisa bermain piano, tapi aku sudah lama tidak memainkan piano yang ini." Jaemin menunjuk piano besarnya. "Nana bukan siapa-siapa," lanjutnya, nada bicaranya berubah dingin dan menusuk.

"Lalu kenapa piano untuk Nana bisa ada di rumah sunbae?" tanya Jeongin tak menyerah. Ia benar-benar ingin tahu lebih dalam tentang Jaemin.

"Jeonginaa, bisakah berhenti bertanya? Dan jangan sebut-sebut nama Nana lagi, dimanapun, terutama di sekolah." Rahang Jaemin mengeras, ia tak mau berbagi apapun informasi tentangnya pada Jeongin. Hanya orang-orang yang dia anggap berharga yang bisa memanggilnya Nana.

"Kalau kau tidak bisa tutup mulut soal Nana, aku akan membunuhmu," lanjutnya, membuat Jeongin diam seribu bahasa karena ketakutan melanda. Tatapan Jaemin terlihat sangat tidak suka dan hawa membunuhnya meledak-ledak sekarang.

"Jeno-ya, tolong antar Jeongin pulang." Jaemin menggerakkan kepalanya mengarah ke Jeongin, menyuruh sahabatnya untuk mengantarkan adik kelasnya itu. Jeno hanya tersenyum tipis. "Hahh, kau ini, selalu seenaknya saja." Ia pun berdiri dan mengajak Jeongin untuk mengikuti langkahnya.

Setelah Jeongin dan Jeno pergi, selang waktu 2 jam, terdengar suara lenguhan Haechan, pertanda bahwa anak itu sudah sadar. Jaemin sudah menutupi piano besarnya dengan kain hitam agar tak ada lagi yang bisa membaca tulisan 'For: Nana hyung' disana.

Haechan memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing. Dunia masih berputar-putar dalam indera pengelihatannya. "Dimana aku? Siapa kau?" tanya Haechan melantur.

"Aku Mark," jawab Jaemin. Ia tahu kalau Haechan masih belum sadar sepenuhnya, maka anak itu memutuskan untuk menggodanya.

"Mark?" Haechan menyipitkan kedua matanya, mencoba menangkap sosok di depannya. Sosok itu membawa gadget dan mengarahkan gadget itu kepadanya, merekam semua perkataan dan perilaku Haechan.

"Iya, aku Mark Lee. Suamimu," goda Jaemin, menahan tawanya karena geli. Wajah Haechan benar-benar membuatnya ingin tertawa. Tangannya sibuk memegang gadget yang merekam Haechan.

"Suamiku? Ah, Mark, aku menyayangimu, Mark." Haechan mencoba bangkit, tapi ia terjatuh lagi ke sofa empuk ruang tamu keluarga Na.

Jaemin maju lebih dekat, ia terkekeh geli dan masih menyorot wajah Haechan sampai close-up. Setelah puas menadapatkan gambar Haechan yang meracau, ia kemudian menyuruh Haechan untuk meminum susu yang sudah ia siapkan. "Minum susumu, Haechanaa."

Haechan menurut, segera meminum susunya sampai habis. Beberapa menit setelahnya ia merasakan sesuatu yang tak beres pada tubuhnya dan muntah banyak sekali di ember kecil yang sudah disiapkan oleh Jaemin.

"Muntahkan semuanya Haechan, kalau sudah selesai aku akan mengantarmu pulang," ucap Jaemin penuh perhatian walaupun Haechan masih belum sepenuhnya sadar.

.

.

.

To be continued.