Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
.
.
[ Kagutsuchi(Dewa Api) ]
~ Chapter Epilog ~
.
.
.
Normal Pov.
Hari kelulusan SMP K.
Sekolah sangat ramai dengan murid-murid kelas tiga yang sudah lulus, para orang tua datang untuk memberi mereka ucapan selamat dan juga buket bunga.
"Selamat atas kelulusannya!" Ucap kompak, Ino, Tenten, dan Shion pada Sakura, mereka memberi bunga pada Sakura, gadis ini merasa terharu jika sampai detik ini mereka tetap bersamanya.
"Terima kasih, teman-teman." Ucap Sakura.
"Jangan seperti itu, kau harus mengikuti kami hari ini." Ucap Ino.
Mereka heboh untuk sebuah liburan bersama setelah kelulusan.
Di tengah keramaian ini, Sakura melihat seorang wanita tua yang datang dan juga membawa bunga untuknya.
"Nenek!" Teriak Sakura dan memeluk wanita tua itu.
Ketiga temannya memberi salam dengan sangat sopan.
"Selamat untuk kelulusanamu, Sakura." Ucap neneknya.
"Terima kasih nenek, kenapa nenek datang seperti ini? Aku bisa menjemput nenek." Ucap Sakura, dia pun sangat khawatir dengan neneknya yang tiba-tiba datang.
"Nenek ingin melihatmu lulus."
"Dimana barang-barang nenek?"
"Aku menitipnya di tetanggamu, mereka orang-orang yang baik." Ucap neneknya. "Kau sudah berusaha seperti ini, nenek sangat bangga padamu." Tambahnya.
Sakura terlihat sedih dan menangis, dia pun menangis keras, memeluk neneknya dan ketiga temannya itu seperti merasakan apa yang Sakura alami selama ini.
"Nenek apa kami bisa mengajak Sakura liburan? Sebelum dia meninggalkan Konoha." Ucap Shion.
"Silahkan, aku mengijinkan kalian, tapi hati-hati." Ucap nenek Sakura.
Sakura jadi harus mengantar neneknya pulang dan berpisah dengan teman-temannya.
"Apa kau tidak ingin sekolah di kota besar?" Tanya nenek Sakura
"Aku ingin sekolah di desa saja, itu tidak masalah, aku jauh lebih senang tinggal bersama nenek." Ucap Sakura.
Perjalanan mereka pun terhenti, Sakura menatap tangga kuil itu.
"Kuil ini masih ada rupanya."
"Apa nenek tahu kuil ini?"
"Ya, kuil ini sudah sangat lama ada. Apa festivalnya masih di adakan?"
"Iya, masih nek, dan sangat ramai." Ucap Sakura.
"Nenek tidak percaya jika kau begitu banyak berubah sekarang, nenek senang melihatmu seperti ini, kau masih memiliki banyak teman yang baik dan juga tetangga yang perhatian padamu."
"Aku juga merasa seperti itu nek, aku juga ingin berubah dan tidak ingin terbelenggu di dalam masa lalu. Apa nenek mau naik ke atas?" Tanya Sakura.
"Kita bisa berdoa bersama."
Keduanya pun naik ke atas, Sakura bisa melihat dewa itu, seperti biasa dia akan duduk di atas pohon dan menatapnya, Sakura mulai menarik tali yang menghubungkan lonceng besar di atas langit-langitnya, menggoyangkannya perlahan dan mulai berdoa bersama neneknya.
Sasuke menghilang dari atas pohon dan berdiri tepat di samping Sakura.
"Selamat atas kelulusannya." Ucap Sasuke dan cukup membuat gadis itu terkejut, dia tidak tahu jika dewa ini akan menghampirinya.
"Ada apa Sakura?" Tanya neneknya, dia melihat gadis itu terkejut.
"Ti-tidak apa-apa. Nenek tahu, katanya di kuil ini ada seorang dewa, dia sangat baik."
"Dewa Kagutsuchi, nenek pikir itu hanya sebuah cerita-cerita saja."
"Itu benar nenek! Dewa itu ada!" Ucap Sakura dengan penuh semangat.
Sebuah senyum di wajah wanita tua ini, membelai perlahan puncuk kepala cucunya.
"Nenek rasa dewa itu sedang menjadi pelindungmu."
Wajahnya terlihat merona setelah mendengar ucapan neneknya. Sakura harus kembali mengantar neneknya pulang, sebelum turun tangga, berbalik dan melambai tangan dengan senang pada dewa Sasuke.
"Aku akan datang lagi, aku belum menyampaikan ucapan perpisahanku." Ucap Sakura dengan sangat pelan.
.
.
.
.
Hanya melewati sehari liburan bersama teman-temannya, Sakura tidak bisa lama-lama dan meninggalkan neneknya, teman-temannya juga akan mempersiapkan diri untuk ujian masuk SMA.
"Maaf jika pertemuan kita hanya seperti ini saja." Ucap Sakura, merasa cukup tidak enak meninggalkan mereka yang mulai memahami keadaannya dan menerima Sakura sebagai teman mereka.
"Tidak, kami yang minta maaf, selama ini kami tidak berusaha membantumu." Ucap Shion.
"Itu benar, selama dari kelas 1, aku jadi merasa bersalah setiap mengingatnya." Ucap Tenten.
"Itu tidak benar, kalian adalah teman-teman terhebatku." Tegas Sakura, dia pun tidak bisa menyalahkan mereka yang terlambat berteman dengannya, selama ini Sakura sudah berusaha bertahan sendirian hingga akhirnya mereka muncul dan terus menopangnya untuk tetap berdiri. "Kalian termasuk kekuatanku, aku jadi memikirkan jika selama ini masih ada yang ingin berteman denganku." Tambah Sakura.
"Sudah-sudah, kenapa suasananya sedih seperti ini? Pokoknya jika kau liburan, datanglah ke Konoha, kita akan liburan bersama-sama lagi, masalah tempat tinggal kau bisa memilih akan tinggal dimana, kami masih memiliki rumah yang siap menapungmu." Ucap Ino.
Liburan yang telah berakhir dan Sakura selesai pamit pada teman-temannya, menatap tangannya, di sana ada tiga jenis gelang berbentuk tali dengan warna yang berbeda. Sakura tersenyum menatap gelang hadiah perpisahan oleh teman-temannya, dia sangat senang akan hubungan itu dan tidak akan melupakan teman-teman berharganya.
Menghentikan langkahnya sejenak, menatap tangga menuju kuil itu, dia pun harus pamit pada dewa Sasuke, tapi rasanya cukup berat, Sakura tidak berani naik ke tangga itu dan menyampaikan perpisahannya, bergegas berlari dan menjauh dari arah kuil.
Sementara itu, dewa Sasuke menyadarinya, dia melihat gadis itu, tapi Sakura tidak juga naik ke kuil, dia berlari menjauh dan tatapannya terlihat sangat sedih.
Setelah kembali ke rumah.
Sakura harus mengepak barang-barangnya, neneknya mulai membantunya, hanya beberapa pakaian dan barang-barang penting yang akan di bawanya.
"Nenek dengar kau sempat terlibat masalah?" Ucap nenek Sakura.
Gadis ini sempat terkejut, sejujurnya dia tidak ingin neneknya tahu apapun tentang keadaannya yang sangat sulit.
"Dari mana nenek mendengarnya?" Tanya Sakura.
"Para tetanggamu menceritakan beberapa anak yang berusaha membakar rumah ini, nenek tidak percaya jika kau menyembunyikan masalah ini dari nenek, bagaimana jika kau benar-benar terbakar bersama rumah ini? Apa kau tidak memikirkan nenek?"
"Maaf nek, aku tidak tahu akan seperti ini, tapi aku tidak ingin nenek kepikiran, tenang saja, aku baik-baik saja." Ucap Sakura, berusaha membuat neneknya tenang.
Sakura jadi mengingat kembali kejadian itu dan hal yang cukup kacau di kantor polisi, para orang tua para peluka terus menyalahkannya dan tetangganya terus membelanya, teman-temannya terbukti bersalah dengan kesaksian salah satu dari mereka, dia mengatakan segalanya dan menunjuk barang bukti yang di simpan mereka, kasus itu sudah di tutup dengan memberi hukuman pada ketiga murid itu, walaupun mereka masih di bawah umur, hukum di Konoha tetap berlaku, mereka mendapat sanksi sebagai pelayanan masyarakat selama setahun, dari pada mendapat hukuman selama 3 tahun di penjara dengan kasus pembunuhan berencana.
Para orang tua itu memohon pada Sakura untuk membebaskan anak mereka, tapi para tetangganya melindungi Sakura dan tidak membiarkan gadis itu memberi mereka keringanan.
Pada akhirnya Tayuya angkat suara dan marah pada kedua orang tuanya tidak perlu memohon pada anak yang tidak memiliki kedua orang tua itu, sikapnya semakin menjad-jadi dan semua hukuman akan di tanggung mereka.
"Nenek hanya kecewa kau tidak memberi kabar apa-apa."
"Maaf nek, aku sungguh minta maaf, tapi mulai sekarang kita akan tinggal bersama dan aku tidak akan menutupi apapun lagi." Ucap Sakura dan memeluk manja neneknya.
"Biklah, cepat bereskan pakaianmu. Besok kita akan menggunakan kereta jam 8 pagi."
"Uhm, iya." Ucap Sakura, dan tatapannya kembali murung, dia tidak menepati janjinya pada dewa Sasuke.
"Apa kau sudah pamit pada teman-temanmu?"
"Sudah, nek."
.
.
.
.
Pukul 05:00
Sakura terbangun cukup pagi, menatap sekeliling kamarnya dan sudah bersih, barang-barang yang lain dan perabotan di biarkan begitu saja, koper mereka sudah siap, Sakura tidak bisa kembali tidur lagi dengan segala pikiran yang menumpuk di kepalanya.
Memakai jaket dan celana panjangnya, berjalan keluar perlahan agar neneknya tidak terbangun jika dia keluar di pagi buta, perasaannya tetap tidak tenang jika dia belum menyampaikan berpisahan pada dewa itu.
Berlari cukup cepat hingga menatap tangga ke arah kuil, langit masih gelap dan udaranya sangat dingin. Lagi-lagi gadis ini hanya mematung dan tidak juga naik ke atas, selalu saja perasaan sedih akan menyelimutinya, dia tidak ingin bepisah, tapi dia harus tinggal bersama neneknya.
"Kenapa hanya berdiri di situ saja?" Ucap sebuah suara dan membuat gadis ini sangat terkejut, melihat kesana dan kemari tapi tidak ada siapapun di sekitarnya. "Kau bisa pergi tanpa perlu pamit, aku bukan seperti teman-temanmu itu." Ucap suara itu lagi, Sakura tahu jika itu adalah suara dewa Sasuke.
Ucapan dewa itu membuatnya sedikit kesal hingga berlari naik ke atas tangga, gadis itu terlihat ngos-ngosan dengan tingkah bodohnya sendiri, menatap dewa itu yang berdiri tidak jauh dari bangunan kuil, mereka saling bertatapan, Sakura hampir tidak bisa menatapnya lebih lama.
Melangkah perlahan hingga menghampiri Sasuke, masih tidak berani menatapnya dan menundukkan wajahnya.
"Aku akan pergi, dewa." Ucap Sakura.
"Aku sudah katakan padamu, aku bukan teman-temanmu, ucapan perpisahan atau pamit seperti ini tidak perlu kau lakukan padaku." Ucap Sasuke, menatap gadis itu, gadis itu sama sekali tidak menatapnya.
"A-apa itu salah? Aku hanya ingin pamit pada siapapun yang mengetahui keberadaanku, termasuk kau dewa." Ucap Sakura.
"Baiklah, kau sudah melakukannya, sekarang pulanglah."
Sakura akhirnya mengangkat wajahnya, menatap dewa itu, jika dia terus menatapnya, perasaan bimbang mulai menguasainya, dia ingin tetap tinggal, dia ingin tetap bertemu dewa Kagutsuchi dan juga teman-temannya, dia ingin melanjutkan pendidikannya di Konoha, tapi neneknya yang jauh lebih penting, dia harus menjaga dan mengurus neneknya yang hanya sendirian di desa.
"Selamat tinggal dewa, terima kasih atas segalanya." Ucap Sakura, setelahnya berbalik dan dia tidak bisa menahan diri, meneteskan air mata dan sesekali di nyeka wajah.
Bug!
Wajahnya menabrak dada seseorang, mengangkat wajahnya dan terkejut, dewa itu sudah berpindah tempat dan sekarang berada di hadapannya.
"Manusia dan dewa itu berbeda, jangan membuat dirimu sulit untuk sebuah kebimbangan yang tidak nyata, lakukan apapun yang sudah menjadi takdirmu sebagai manusia, bukan aku yang memberikan semua kekuatan dan rasa percaya diri ini, tapi itu semua dari dalam dirimu sendiri, seharusnya kau berterima kasih pada dirimu, bukan padaku." Ucap Sasuke.
Sakura tidak mendengar ucapan dewa itu, dia hanya menangis dan memikirkan perpisahan ini, walaupun sangat konyol, Sakura menaruh sebuah harapan pada dewa ini.
"Kenapa kau menangis?" Tanya Sasuke, merasa ucapannya tidak dengar.
"Ti-tidak apa-apa, aku hanya ingin menangis." Ucap Sakura, berusaha menghentikan air matanya.
"Kau benar-benar tidak berubah." Ucap Sasuke.
Sebuah tarikan pelan dan pelukan darinya, Sakura sampai tidak percaya jika dewa ini akan memeluknya.
"Kau tetap Kahukura yang dulu, sepertinya sikap keras kepalamu itu terus mengikutimu hingga sekarang." Ucap Sasuke.
"Si-siapa Kahukura! Namaku Sakura! Haruno Sakura!" Tegas Sakura, tapi tidak juga melepas pelukan Sasuke.
"Ya, kau adalah Haruno Sakura, gadis di jaman modern ini." Ucap Sasuke, melepaskan pelukan mereka dan menatapnya. "Aku membocorkannya sedikit, nikmati takdir baikmu." Tambah Sasuke.
Sakura mengangguk pasti, dia akan terus menjalankan hidupnya dan akan berusaha menjadi orang yang baik untuk dirinya sendiri.
Walaupun perpisahan ini sungguh berat, Sakura berharap akan tetap menemukan dewa itu di kuil tua ini.
.
.
TAMAT
.
.
update...~
akhirnya epilog *hiks* maaf jika typonya banyak =w= ku terburu-buru ngetik untuk cepat update.
tidak banyak mau di sampaikan disini, mungkin nanti pas buat sequelnya, jadi di tunggu yaaa.
disini alurnya cukup banyak, dan fic ini tidak begitu banyak memiliki chapter, author tak memikirkan banyak konflik disini, yang ringan-ringan saja, bagaimana masalah si dewa Sasuke, terus terhubung dengan keluar Uzumaki dan bagaimana kaitannya dengan Sakura. jadi seputar itu aja, jadi tidak begitu meluas dan alurnya nggak kemana-mana, Ino, Shion, dan Tenten, hanya pemeran tambahan agar menjadi support bagi Sakura. dan tayuya muncul di akhir sebagai antagonis disini, beserta kedua temannya yang sebut saja A dan B, author sulit cari tokoh jahat di NAruto, padahal banyak, eheheh.
terus untuk teman-teman Tayuya, tidak author sebutkan siapa mereka, Sorry untuk sitilafifah989. khusus untuk yang biangkeroknya saja, XD di akhir baru dii kasih tahu, hehehehe. dan Nejes terima kasih reviewnya..
pokoknya yang tinggakan review, maupun tidak, tapi tetap baca, terima kasih, terima kasih, author ingin membuat banyak fic biar bisa di baca bagi yang tetap berada di rumah, pokoknya semua reader hati-hati dan jaga kesehatan, tetap di rumah demi perlindungan, bukan apa-apa yaa, demi keselamatan bersama. author masih tetap bekerja karena author kerja di rumah sakit, =w= tapi tetap jaga diri juga. dan masih sempat banget ngetik Fic, ini hanya agar tidak bosan saja.
nanti fic lain pelan-pelan juga author selesaikan, semua akan tamat kok. (y)
