Seoul, 2018

Sinar matahari pagi tampak bersinar cerah hari itu. Sengatannya mata kuat seolah menghapuskan seluruh jejak badai hebat yang menghantam semalaman suntuk. Mansion mewah yang berdiri megah di daerah elite pinggiran kota Seoul itu tampak sepi. Sesekali, terlihat beberapa pelayan berseragam hitam yang berlalu-lalang melakukan perkerjaan mereka.

Beberapa tampak sibuk membersihkan pelataran mansion yang luas, memastikan di tiap sudutnya tidak terdapat satupun kotoran atau bekas daun gugur yang tersisa. Mengingat sang tuan besar adalah seorang perfeksionis. Pria tampan itu tentu tidak akan senang jika rumahnya tidak bersih sempurna.

Well, jika kalian kira sang bos besar tidak terlalu memperhatikan keadaan rumah dan memasrahkan itu kepada Jongdae, kalian salah. Karena Chanyeol amat sangat jeli. Sekali, ia pernah memecat seorang pelayan yang lupa mengelap sebuah meja kecil di Lorong—sungguh tempat terakhir yang kau kira akan diperhatikan sang chairman. Oh, semua orang yang masih bekerja disana tentu saja mengingat jelas kejadian sakral itu. Bagaimana sang chairman menggesekkan jari panjangnya pada permukaan meja, kemudian tersenyum mematikan sembari mata menatap tajam kearah debu tebal yang mengotori jari. Tidak banyak bicara memang, wajahnya terlihat santai meski pelayan wanita yang bertanggung jawab di daerah itu sudah gemetaran dan hampir menangis. Chairman Jetdale co tersebut hanya mengangguk dan berucap santai seperti "sayang sekali kau lalai dalam tugasmu. Lebih baik besok kau beristirahat dan tak perlu kembali bekerja", diikuti derap langkah tegas, meninggalkan sang abdi yang sudah terduduk sembari menangis. Dipecat Park Chanyeol berarti mimpi buruk atau bahkan akhir dari duniamu. Kau akan sulit mencari pekerjaan kemanapun hingga sudut Korea Selatan.

Sehingga tidak heran jika kini pelayan-pelayan itu bahkan mengecek dua hingga kali keadaan daerah yang mereka bersihkan agar kejadian yang sama tak perlu terjadi lagi. Beberapa petugas taman pun juga sama, mereka tampak sibuk menanam beberapa bunga dan tumbuhan di beberapa titik halaman rumput luas yang masih terlihat kosong tersebut. Wajar memang, keluarga Park bisa dibilang baru menempati rumah tersebut hingga pasti masih ada sedikit detail disini dan disana yang masih perlu untuk diperbaiki.

Namun ada suasana yang sedikit berbeda. Mansion baru milik Park Chanyeol yang baru saja aktif berfungsi selama sekitar sebuan itu merupakan satu dari sekian yang dikelilingi laut buatan atau mudahnya mereka menyebut danau. Dengan luas permukaan air yang bisa dibilang sangat besar, diperlukan setidaknya dua puluh orang untuk menyaring sampah-sampah daun yang tak sengaja gugur disana atau kotoran-kotoran lain setiap pagi, Sedang pembersihan secara keseluruhan dilakukan setiap seminggu sekali. Pagi itu, tidak seperti biasanya satupun pelayan tak ada yang menginjakkan kaki disekitar danau. Cukup aneh memang, mengingat sang chairman yang sangat mengutamakan kebersihan adalah dalang dari alasan kenapa para pelayan tak ada yang berani menginjakkan kaki disana.

Sejak pagi, para pelayan ribut, berbisik disini dan disana membicarakan mengapa kekasih tuan besar mereka kembali ke mansion dengan keadaan tak sadarkan diri dan dikawal oleh petugas kesehatan. Juga mempertanyakan identitas sosok pria paruh baya asing tampan bermata biru yang auranya sedikit angkuh tersebut dan dua abdinya yang juga tak ramah, terlebih ketika seorang pelayan mendapatkan info bahwa pria itu adalah ayah dari kekasih sang chairman. Gosip-gosip yang mereka lontarkan semakin gencar melihat bagaimana kedua ayah dan anak itu memiliki perangai yang berbeda, hingga beberapa pelayan memutuskan tak percaya dengan info tersebut. Well, sampai hal ini secara tak langsung dikonfirmasi oleh Jongdae yang sedang mencari Jessica dan mengatakan bahwa "Jackson tertidur di pangkuan kakeknya". Satu hal lain yang juga tampaknya menjadi topik pembahasan hingga larut malam adalah larangan keras para pelayan menginjakkan kaki keluar bangunan utama hingga dikuncinya pintu akses keluar masuk mansion. Hingga akhirnya Jongdae –yang mengetahui fakta sebenarnya, membubarkan gerombolan penggosip itu dengan ancaman pemotongan gaji dan akhirnya tepat sebelum badai pertama menggelegar, suasana mansion sudah sepi.

Adalah Yeri, salah satu dari ratusan pelayan yang mengabdi pada keluarga Park. Gadis berusia dua puluh tahun itu baru saja bekerja untuk Chairman Park sekitar dua bulan terakhir ketika pertama kali keluarga konglomerat itu pindah menempati mansion baru ini. Sejak pertama gadis itu bekerja untuk sang chairman, sekalipun ia belum pernah berinteraksi langsung dengan bos besar Jetdale co tersebut. Ia hanya beberapa kali bertemu dengan tuan Park, kebanyakan adalah ketika ia sedang membersihkan halaman dan biasanya tepat pada pukul delapan Tuan Park sudah tampak rapih dengan derap tegas diikuti para bodyguardnya untuk menuju mobil Aston Martin hitam mengkilat yang akan mengantarkan sang chairman menuju 'singgasananya'.

Berbeda dengan Tuan besar Park, Yeri sudah beberapa kali berinteraksi dengan lelaki mungil bersurai Ash Grey yang merupakan kekasih sang chairman. Berbeda dengan dominannya, si mungil merupakan sosok yang lebih ceria dan bisa dibilang polos. Lelaki berparas cantik itu sering menghabiskan waktunya di ruangan bawah tanah yang Yeri ketahui karena tuan Baekhyun senang mengamati paus beluga putih peliharaannya. Selain ruangan bawah tanah, Tuan Baekhyun juga cukup sering menghabiskan waktu di taman untuk bermain dengan Jackson atau duduk di pinggiran danau dan berenang.

Berenang yang sebenarnya cukup lama dan aneh menurut Yeri.

Karena, setiap kali si lelaki mungil tersebut menceburkan diri kedalam air, ia tak akan menyembul ke permukaan hingga setidaknya beberapa jam, dan ketika ia muncul ke permukaan adalah saat ia benar-benar selesai berenang.

Tampaknya, Yeri merupakan satu-satunya yang menyadari hal tersebut. Karena alih-alih diam dan focus pada apa yang mereka lakukan, para pelayan lain lebih memilih bergosip disela-sela pekerjaan mereka. Hingga tak heran jika mereka tak menyadari keanehan kekasih sang chairman.

Meskipun begitu, Yeri enggan membuka mulut untuk bertanya pada pelayan lain, karena wanita muda itu yakin jika hal itu ia lakukan, si lelaki manis bersurai Ash grey tersebut malah akan menjadi bahan gossip para pelayan. Lagipula, dimata Yeri Tuan Baekhyun adalah lelaki yang amat baik hati.

Setiap kali ia membuat sesuatu yang enak sebagai hasil dari kelas memasakknya, tuan Baekhyun akan membaginya pada beberapa pelayan. Termasuk Yeri yang beruntung karena Baekhyun selalu mengingat dirinya.

Sesungguhnya, hal ini terjadi bukan karena kebetulan.

Hari itu, di siang yang cerah adalah kali pertama dan awal Yeri mendapatkan seluruh kepercayaan Baekhyun.

Seperti biasa, Baekhyun akan menceburkan diri kedalam danau untuk berenang. Hanya saja kali ini sepertinya nasib Baekhyun kurang beruntung. Kepala pelayan Kim yang biasanya sigap menanti sang tuan dengan handuk dan perlengkapan lain kini hilang entah kemana. Yeri tengah membersihkan sisa dedaunan kering di taman ketika ia mendengar teriakan pelan tuan Baekhyun. Teriakan lirih itu mengundang Yeri untuk mengedarkan pandangan, memastikan jika ada orang dengan kedudukan lebih tinggi darinya yang lebih berwenang untuk berinteraksi dengan kekasih sang tuan besar. Jangan heran, salah satu dari peraturan pertama yang dibacakan ketika ia baru masuk untuk bekerja disana adalah hanya pekerja dengan kedudukan tertentu yang diizinkan berinteraksi langsung dengan keluarga tuan Park. Mereka adalah orang-orang seperti Kepala Pelayan, Kepala Keamanan, Kepala Taman, pelayan dalam, dan pelayan luar bagian taman sepertinya tentu tak berada dalam daftar tersebut. Sehingga, mencari atasannya adalah sebuah reflek yang terbentuk dari sebuah kebiasaan Yeri selama dua bulan ia bekerja disana.

Kening Yeri mengernyit ketika ia tak melihat siapapun ada di sekelilingnya. Disana hanya ada beberapa pelayan taman lain seperti dirinya dan Yeri jelas tahu mereka berada di kedudukan sama dan memiliki mulut besar.

Sehingga, setelah beberapa kali ia memantapkan tekad akhirnya Yeri memberanikan diri untuk berjalan mendekat dengan sedikit panik. Karena ia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap tuan Baekhyun.

Alih-alih menemukan lelaki tersebut berdarah atau hal buruk lainnya, Yeri justru melihat suatu perbedaan mencolok dari kekasih sang chairman. Surai Ash Grey nya hilang entah kemana digantikan dengan surai berwarna biru terang yang sama dengan warna mata si mungil. Wajah putih yang biasanya mulus tanpa cacat kini dihiasi sisik-sisik biru berkilauan di beberapa titiknya.

Jika kalian kira bagian itu sudah cukup membuat Yeri tercengang kalian salah. Karena sedetik kemudian Yeri baru menyadari kedua kaki putih tuan Baekhyun kini digantikan dengan sebuah ekor ikan berwarna biru yang panjang dan berkilauan.

Yeri baru saja akan memekik ketika telunjuk lentik Baekhyun terulur dan menempel pada bibirnya sendiri seolah memerintahkan sang pelayan untuk tak mengeluarkan suara.

Singkatnya setelah itu Baekhyun meminta Yeri mengambilkan handuk dan peralatan lain, juga memohon agar Yeri tidak membocorkan apapun yang dilihatnya pada siapapun. Setelah tiga minggu berlalu dan belum ada satu pelayanpun yang membicarakan mengenai hari itu, akhirnya Baekhyun memutuskan bahwa Yeri merupakan seseorang yang bisa ia percaya.

Sejujurnya, hingga kini Yeri tidak mengetahui makhluk apa sebenarnya kekasih sang chairman, dan Yeri tidak benar-benar peduli selama lelaki mungil itu tidak menyakitinya. Namun, ia bisa dengan percaya diri mengatakan bahwa Tuan Baekhyun bukanlah manusia.

Karena itu, Yeri sungguh tidak kaget dengan kejadian aneh beberapa hari terakhir dan hari ini ketika tiba-tiba dirinya dan seluruh pekerja luar rumah diminta untuk berkumpul di ruangan pertemuan utama di lantai dua mansion.

Yeri amat yakin hal ini tentu berhubungan dengan Tuan Baekhyun, dan dugaannya di perkuat dengan kehadiran sang chairman di apit pria paruh baya asing yang semua orang katakan sebagai ayah dari tuan Baekhyun dan tuan besar Park Yoochun.

Ruangan pertemuan lantai dua merupakan sebuah ruangan yang memang sejak awal difungsikan sebagai aula. Dapat digunakan untuk acara-acara penting seperti ulang tahun dan acara lain. Namun, ruangan mewah itu terlihat sedikit aneh hari ini. Dengan semua tirai terbuka, membiarkan bias cahaya masuk melalui jendela-jendela kaca yang melingkari ruangan, serta seluruh pekerja mansion berbaris rapih sambil menatap kearah sang chairman yang berdiri tegap di hadapan mereka ruangan yang seharusnya berisi tawa dan kebahagiaan itu kini terasa amat serius dan tegang.

Semuanya ada disana.

Mulai dari Kepala Pelayan Kim Jongdae yang memiliki jabatan tertinggi di susunan pelayanan, hingga tuan Tan Jae salah satu penjaga gerbang depan, semua berbaris rapi dalam hening. Tiada satupun yang berani berucap dibawah tatapan tajam nan serius milik sang bos besar.

Menit berlalu dalam keheningan, sampai sekitar sepuluh menit berlalu ketika Kepala Pelayan Kim mengangguk pada sang bos besar sebagai tanda bahwa semua pekerja sudah berada disana tanpa terkecuali.

"Selamat Pagi", Sapa sang Chairman.

Seluruh pelayan dan penjaga dengan serentak membungkukkan badan sebagai balasan dari sapaan sang chairman.

"Kalian tentu bertanya-tanya alasan kenapa aku untuk pertama kali mengumpulkan kalian semua dalam keadaan yang sedikit membingungkan", Chanyeol berdeham sekilas sebelum melanjutkan. "Anggap saja ini merupakan sapaan dariku secara langsung kepada kalian semua".

Hening.

Seluruh pelayan masih berdiri terpaku menatap pada bos besar mereka yang terlihat serius tersebut.

Terlalu takut bahkan untuk berucap.

"Tentu, beberapa dari kalian atau semua yang ada diruangan ini sudah mendengar Baekhyun kekasihku kembali kerumah dalam keadaan tak sadarkan diri. Kepala Pelayan Kim mengatakan itu adalah topik yang ia dengar sepanjang hari sejak kemarin. Pagi ini, untuk menjawab seluruh rasa penasaran kalian. Aku Park Chanyeol akan menjelaskan semuanya dengan mulutku sendiri".

Hening yang tadi menyergap kini mulai tergantikan dengan bisik-bisik penasaran para pelayan yang menggema di sepanjang ruangan. Mereka yang awalnya berdiri tegak kini saling menoleh dan menatap heran penuh pertanyaan kearah satu sama lain.

"Apapun yang kalian dengar setelah ini, adalah seharga dengan nyawa kalian", suara Chanyeol sedikit meninggi, berusaha menarik perharian para abdinya.

"Jika kalian bisa berjanji untuk menjaga apapun yang akan kuucapkan, dan suatu hari aku mendengar seseorang membocorkan hal ini, aku akan mencarinya sampai dapat dan menghabisi nyawa nya dengan tanganku sendiri. Namun jika kalian merasa tak sanggup menahan rahasia ini suatu hari, aku memberi kesempatan kalian untuk meninggalkan ruangan dan tempat ini", hening sesaat. "Pesangon tidak akan berubah, semua sama seperti perjanjian kontrak".

Suara bisikan dan gumaman tadi kini pecah menjadi diskusi yang tak beraturan hingga ke setiap sudut ruangan.

Chanyeol menarik nafas dalam kemudian kembali berteriak dengan lantang.

"Aku memberi kalian satu menit!".

Paras tampan itu tampak kaku, disamping sang chairman, kedua pria paruh baya yang merupakan ayah Chanyeol dan Baekhyun tersebut juga tampak serius. Tatapan tajam tak lepas dari mata mereka.

"Jika kalian ingin keluar, sekarang saat yang tepat", ujar Chanyeol lagi.

Namun, dengan ungkapan tegas penuh wibawa itu, suasana hening kembali. Gaduh para pelayan yang tengah berdiskusi perlahan mulai senyap hingga akhirnya seluruh pelayan dan penjaga mansion kembali berbaris tegap tanpa bergerak se incipun, termasuk Yeri yang sejak awal sudah berdiri yakin tanpa bergeming.

Chanyeol tersenyum simpul ketika setelah timer berdering menandakan waktu habis, tak seorangpun abdinya melangkah.

"Aku yakin kalian tahu bahwa aku tak pernah main-main dan yang kuharapkan mulai detik ini adalah kalian bisa menjaga semua pembicaraan ini hingga sampai batas terakhir gerbang milik Keluarga Park".

Seketika, seluruh pelayan dan penjaga disana membungkuk hormat. Siap menanti apa yang akan dikatakan sang bos besar.

"Kekasihku, yang kalian kenal sebagai Park Baekhyun memiliki nama Aereviane. Ia adalah seorang pangeran lautan", hening sejenak penuh dengan debaran gugup yang dirasakan oleh setiap insan disana tanpa terkecuali.

"Kekasihku adalah seekor siren".

Sedetik setelahnya, ruangan itu dipenuhi dengan gumam dan pekikan kaget yang hanya direspon oleh anggukan mantap Yoochun, dan Adriros yang ditangkap Chanyeol sebagai sinyal untuk melanjutkan.

.

.

Heart of The Ocean

.

.

Chapter 20

.

Do not Copy, Edit and Repost

Seoul, 2018

"Menantuku, perkenalkan ini adalah Lucas", ujar Adriros sesaat ketika enam pasang langkah kaki tersebut menapaki gazebo yang suda tertata rapih untuk sarapan.

Biasanya, keluarga Park akan memulai hari dengan menyantap makanan pagi di ruangan makan mewah yang berada di lantai dasar mansion. Namun, hari ini setelah pengumuman besar yang dilakukan sang chairman, Chanyeol memerintahkan seluruh hidangan sarapan dipindahkan di gazebo taman dekat danau.

Tidak ada acara special sebenarnya, namun ini adalah sarapan pertama yang mereka lakukan setelah Baekhyun membuka mata, ditambah Adriros ada disana sehingga Chanyeol merasa momennya tepat untuk mereka menyulap gazebo menjadi tempat sarapan kali ini. Selain bisa melihat si biru secara dekat –kalau-kalau nanti ia muncul ke permukaan, makan siang dengan suasana Outdoor rasanya lebih menyenangkan.

Ragu, tangan kokoh Chanyeol terulur, membalas salaman pria dihadapannya dengan tegas. Mata kelinci tersebut menatapi Lucas dengan jeli, seolah menilai pria tampan dihadapannya tanpa terlewat.

Chanyeol tak mengerti apakah sang raja masih tidak dapat mempercayai dirinya, sehingga ia harus meninggalkan salah satu abdi disana untuk mengawasi dan menjaga Baekhyun. Tetapi siren paruh baya tersebut sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda agresi dengan sang chairman, sebaliknya Adriros malah terlihat jauh lebih ramah dan berwibawa dibanding terakhir kali Chanyeol melihat sang raja ketika di Vriryn.

"Park Chanyeol", ujar sang chairman, mata tak sekalipun melepaskan Lucas dari belenggunya.

"Lucas, senang berkenalan dengan anda, kekasih yang mulia pangeran Aereviane".

Chanyeol mendecih pelan, kemudian menggeleng.

Park Chanyeol merupakan seorang businessman yang berpengalaman, ia bisa mengendus sikap menyebalkan dan angkuh seseorang hanya dalam sekali melihat.

"Aku baru saja menyebutkan nama beberapa detik yang lalu, Lucas-ssi".

Alih-alih menjawab, Lucas hanya mengendik acuh kemudian beranjak mundur untuk kembali berdiri tepat di belakang sang raja yang kini tengah duduk sembari mendengarkan ocehan Jackson tentang robot kesukaannya.

"Maklumilah bung, ia bukan manusia ingat?".

Adalah bisikan yang dilakukan Sehun tepat di belakang telinga sang chairman.

Chanyeol hanya mengangguk sekilas, mengabaikan tatapan tajam Lucas yang ia yakini dapat mendengar percakapan mereka, kemudian mengambil tempat duduk dihadapan sang raja.

Sang chairman perlahan memulai ritual sarapan dengan mengaduk black coffee kesukaannya, sembari tersenyum menatap interaksi yang terjadi antara sang putera dan (calon) kakek.

"Jackson, apakah sekarang kau sudah melupakan kakek?", ujar Yoochun memotong cerita asik Jackson dan focus Adriros yang kini tercurah pada pewaris selanjutnya Jetdale co tersebut.

"Jackson beltemu kakek cetiap hali, kakek cudah pelnah mendengal celita ini".

Suara polos Jackson mengundang senyuman terkembang di wajah Chanyeol dan tentu saja ekspresi mengejek di wajah tampan sang raja Vriryn. Sejujurnya, Chanyeol sedikit lega bisa melihat adanya interaksi antara sang ayah dengan raja Adriros yang notabene sudah berperang dingin selama bertahun-tahun. Bahkan, ia sempat melarang keras ayahnya untuk datang mengecek keadaan Baekhyun.

Tetapi, apa yang bisa dilakukannya. Sifat keras kepala yang dimiliki Chanyeol tidak muncul secara ajaib bukan?

Well, para pekerja mansion baru saja mendapat kabar mengejutkan menengenai Baekhyun. Chanyeol tak mungkin membiarkan mereka lari terbirit-birit karena melihat pertengkaran dua penguasa tersebut. Oh, sungguh ia bisa membayangkan betapa riuhnya suasana mansion jika itu terjadi. Petir dan api bukanlah elemen yang lembut, kau tahu? Bisa-bisa mansion trilyunan dollar yang ia bangun dengan segenap jerih payah akan langsung lenyap dalam beberapa menit.

Namun, betapa terkejutnya Chanyeol ketika sang ayah datang, alih-alih perdebatan dan pertengkaran. Kedua pria paruh baya tersebut malah cenderung saling mengacuhkan.

Tidak baik memang, tapi lebih baik dibanding bertengkar dan menghanguskan mansion Chanyeol.

"Kakek ingin mendengarnya lagi", Yoochun berdecak kemudian beranjak dari samping putera tunggalnya dan berpindah untuk duduk disamping sang cucu, mengabaikan tatapan intens membunuh dari Adriros.

Sungguh menggemaskan.

Kini sosok mungil Jackon yang belepotan pastry tengah diapit oleh dua orang berpengaruh di dunia, ditambah keduanya tengah menatap serius kearah si kecil, seolah berlomba untuk mendapatkan perhatiannya.

Well, mungkin bukan seolah. Tetapi mereka benar-benar bertengkar dalam diam untuk menarik perhatian Jackson.

"Lihatlah Chanyeol, anakmu benar-benar tertarik dengan segala yang berbau mesin. Aku bisa melihat calon pemimpin Jetdale co tumbuh dalam dirinya", kekeh Yoochun, tangannya mengusak sayang surai sang cucu.

Senyuman simpul terkembang di wajah sang chairman dibarengi anggukan tanda setuju.

"Jackson juga amat menyukai laut, apakah Jackson mau mengunjungi rumah kakek kapan-kapan?".

Sungguh diluar dugaan.

Chanyeol benar-benar salah jika peperangan itu hanya terjadi lewat mata. Kini kedua pria paruh baya tersebut tengah beradu tatapan tajam sembari bersiap menyusun argumen-argumen yang akan mereka gunakan untuk menarik perhatian sang cucu.

"Jack Jack cuka cekali dengan laut! Tetapi Jack Jack tidak mempunyai ekol cepelti papa dan kakek", kerucutan menggemaskan timbul di wajah si kecil. Mengundang orang-orang dewasa disana menahan diri agar tidak mencubitnya.

"Oh tenang saja, kakek yakin Papa-mu akan dengan senang hati membuatkan berbotol-botol Elyxir of The Blue Wave untukmu nak".

Kening Jackson mengerut, sebelum pertanyaan polos lain terlontar.

"Apakah itu minuman ekol kakek?".

Yoochun mendecih, menertawakan Adriros yang kini dimatanya bak orang aneh karena membawa hal-hal rumit tersebut dihadapan bocah berusia lima tahun.

"Sudahlah Jack, kakek yakin menguras darah papa-mu untuk hal seperti itu tidaklah baik kan?", potong Yoochun tepat ketika Adriros baru membuka mulut untuk menjawab pertanyaan sang cucu.

Dihadapan mereka, Chanyeol hanya menggeleng sembari tersenyum penuh arti. Tertarik melihat pertengkaran sepele namun intens tersebut.

"Kurasa, untuk hal itu sebaiknya kalian diskusikan dengan ku bukan?".

Sontak seluruh mata yang ada disana menoleh ketika suara baru itu terdengar, membuat jantung sang chairman berdegub tak beraturan serta menarik rasa penasaran dari beberapa orang lain disana.

"Papa!", pekik Jackson. Menyadarkan Chanyeol bahwa suara itu memang nyata dan bukan ilusi, hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk menoleh dan mencari dimana keberadaan dunianya.

Benar saja, disana sekitar sepuluh meter dari gazebo, Baekhyun tengah menyembul keluar dari danau. Separuh tubunya bersandar nyaman di pinggiran danau, sedang bagian pinggul dan ekor tetap berada didalam air.

Rasanya, Chanyeol ingin menampari dirinya sendiri agar ia bisa tersadar dari belenggu pesona Baekhyun yang seolah sudah bertahun-tahun tak ia temui.

Memang benar, setiap hari dan setiap malam Chanyeol terus menemani si biru tanpa henti. Namun kali ini suasananya berbeda.

Baekhyun dalam sosok biru sirennya dan setelah sekian lama akhirnya terlihat 'hidup'.

Semalam, setelah Baekhyun kembali berubah kedalam bentuk sirennya, Chanyeol kira kekasihnya itu akan langsung dalam keadaan baik-baik saja. Tetapi, sedetik setelah belah bibir keduanya bertemu, Baekhyun tergolek lemah dalam pelukan Chanyeol. Membuat sang chairman dengan panik berenang ke permukaan sembari memeluk sang kekasih.

Ia masih teringat raut lega yang terpancar dari wajah sang raja lautan sebelum siren paruh baya tersebut memerintahkan Chanyeol membaringkan sang kekasih di dasar danau untuk menjalani proses pemulihan dan membiarkan ramuan tersebut sepenuhnya bekerja.

Kemudian jam terasa berlari-larian bagi Chanyeol. Ia mengedipkan mata dan matahari sudah mulai terbit. Sang bos besar menjalani harinya sembari tanpa henti memanggul rasa khawatir akan keadaan sang kekasih yang tengah tergeletak di dasar danau. Terus bertanya-tanya apa yang tengah terjadi padanya.

Chanyeol seolah menahan nafasnya hingga terasa sesak.

Namun kini, melihat sosok itu tengah tersenyum cantik, sembari mata biru nya menjelajahi sepasang manik gelap milik sang chairman, akhirnya Chanyeol bisa bernafas dengan lega.

Karena oksigennya sudah kembali.

Perlahan Chanyeol beranjak dari tempatnya berdiri, melewati para pelayan yang tengah menunduk dalam sejak sosok Baekhyun muncul ke permukaan.

Hal tersebut merupakan aturan baru yang dibuat oleh sang chairman. Dimana tak ada pelayan dan penjaga selain Jongdae si kepala pelayan, Kang Daniel si kepala keamanan dan keluarga Park, yang diizinkan menatap Baekhyun dalam sosok sirennya.

Jika sosok Baekhyun tengah keluar dari dalam danau, atau mereka kebetulan melihat Baekhyun berenang melalui kaca di ruangan bawah tanah, siapapun harus menunduk dan pergi. Karena hukuman atas pelanggaran hal tersebut cukup mengerikan.

Nyawa mereka.

Baekhyun tersenyum manis, mendapati kekasihnya berjalan mendekat. Kedua tangan terulur seolah meminta bos besar itu bergabung dan memeluknya.

Jika itu permintaan Baekhyun, maka itulah yang akan Chanyeol lakukan.

Mengabaikan sepasang kemeja putih dan celana navy karya Armani mahalnya, Chanyeol melompat untuk masuk kedalam danau.

Baekhyun terkikik, kemudian berenang mendekat. Jemari lentiknya mengusap sayang pipi dan rahang tegas Chanyeol. Menyalurkan segala rindu dan cinta yang selama ini tak tersampaikan.

"Terimakasih sudah menyelamatkanku, Chanyeol", bisik Baekhyun.

"Tidak", Chanyeol menggeleng. "Aku yang membahayakan nyawamu, sehingga akulah yang harus memperbaikinya".

Si biru tersenyum, mata birunya menatap penuh kasih kearah sang chairman.

"Bukan kau, Lewis Lee yang melakukannya".

Hening sesaat setelah nama itu keluar dari bibir merah sang siren. Menarik sesuatu keluar dalam diri Chanyeol.

Amarah.

Sorot mata hitam penuh kasih tersebut seketika menghilang, digantikan tatapan tajam penuh kebencian. Seolah dirinya baru saja disadarkan akan suatu hal yang sudah lama dilupakannya.

"Aku akan membalasnya, aku akan membalas segala yang ia lakukan padamu dengan tanganku sendiri, sayang", bisik Chanyeol.

Anggukan menjadi jawaban Baekhyun.

Sebelum sosok biru cantik itu mendekat dan menyatukan bibir mereka dalam ciuman dalam penuh kerinduan.

Mengabaikan pekikan kaget Jackson dan kedua pria paruh baya yang kini tengah berebut untuk menutupi mata si kecil.


Heart of The Ocean


Malam tengah menjemput ketika bos besar Jetdale co tersebut tengah bersandar nyaman diatas sofa panjang berwarna beige yang menatap langsung keluar jendela kaca. Badai diluar sana tengah mengudara, hujan deras membasahi setiap jengkal lahan milik Park tanpa terkecuali.

Salah satu perubahan yang terjadi di kediaman Park Chanyeol adalah, pria itu hampir setiap hari menghabiskan waktunya di ruangan bawah tanah yang dapat langsung menatap kedalam danau.

Sehari setelah seluruh pelayan dan penjaga mengetahui identitas Baekhyun yang sesungguhnya, Chanyeol secara mendadak meminta ms. Adelline –arsitek kepercayaan sang chairman, untuk datang dan mengatur ulang tata letak ruangan bawah tanah yang sebelumnya dipergunakan Baekhyun untuk bersantai dan berbicara dengan Belle si beluga, menjadi ruangan pribadi sang chairman. Chanyeol meminta ruang kerja, kamar tidur serta kamar mandi dan koleksi wine nya di 'pindah' ke ruangan tersebut untuk sementara.

Dua hari berturut-turut, mansion berubah menjadi sibuk. Beberapa kali mobil box datang untuk mengangkut furniture mahal yang dipesan untuk ruangan sang chairman, begitupun perlengkapan-perlengkapan lain yang digunakan untuk menyulap ruangan santai luas tersebut menjadi beberapa ruangan khusus dilengkapi voice lock yang hanya bisa dibuka dan ditutup oleh Chanyeol.

Setelah perjuangan yang dilakukan Chanyeol selama dua hari terakhir –yakni duduk di samping danau tiap malam untuk menemani Baekhyun, akhirnya bos besar tersebut dapat menatap puas sang kekasih tanpa dirinya harus menjadi santapan empuk para nyamuk dan serangga menjijikkan lain.

Ditambah kini ia bisa dengan leluasa mengawasi gerak-gerik Lucas yang sepertinya hobi menempeli sang kekasih kemanapun ia pergi.

Chanyeol tersenyum, melihat bagaimana ekor biru sang kekasih tengah berenang-renang mengitari danau dihadapannya. Sesekali Baekhyun akan menoleh dan melambaikan tangan kearah Chanyeol.

Baekhyun yang dalam bentuk siren dan tengah berenang lincah merupakan sosok yang menggemaskan. Beberapa kali Baekhyun tampak berenang berputar-putar untuk mengejar ekornya sendiri. Atau ia tiba-tiba akan berenang melesat ke ujung danau dan dalam beberapa detik kemudian kembali berenang kearah berlawanan dengan kecepatan yang sama.

Chanyeol bisa melihat si biru merindukan kehidupannya yang ini.

Kehidupan dibawah permukaan air.

Sang chairman terkekeh pelan ketika Baekhyun tampak memeluk Belle –si paus beluga, sembari berenang berputar-putar. Tawa lebar menghiasi paras manis sang pangeran. Menarik Chanyeol untuk berdiri dan mendekat kearah kaca.

Tangan kokoh itu tampak memutar-mutar gelas kristal berisi vodka sebelum menyesapnya perlahan. Kedua mata gelap masih mengikuti kemanapun Baekhyun bergerak tanpa luput.

Tentunya, lama kelamaan hal tersebut disadari oleh si biru. Melihat kekasih tampannya berada di dekat kaca, Baekhyun perlahan melepaskan pelukannya pada Belle dan berenang menghampiri Chanyeol.

Kedua tangan sang siren terulur. Menempel pada kaca sembari wajahnya mendekat.

Chanyeol terpesona untuk ke sekian juta kali.

Melihat bagaimana mata biru tersebut bersinar dalam remang danau, bagaimana rambut lembut birunya berkibar mengikuti arus air, dan bagaimana bibir bak pualam tersebut tengah tersenyum kearah sang chairman.

Perlahan Chanyeol meletakkan gelasnya, kemudian kedua tangan berotot tersebut terulur untuk menempelkan telapak pada tempat yang sama dimana kini telapak Baekhyun tengah menempel di sisi lain.

Kening keduanya beradu.

Meski tiada kehangatan kulit terasa karena dinding kaca tebal menjadi penghalang mereka, namun deguban jantung didalam sana tiada dapat terbendung.

Kelopak Chanyeol memejam.

Diikuti ungkapan cinta yang tak akan pernah lelah ia ucapkan.

"Aku mencintaimu, Aereviane. Amat sangat", bisik Chanyeol.

Diseberang sana, Baekhyun mengangguk, sebari menatap kearah kekasih tampannya.

Bibir si biru bergerak-gerak membalas ucapan yang sang chairman yakini sebagai pernyataan cinta balasan.

Hening kemudian menyapa.

Hening yang menyenangkan, karena saat itu tiada kata yang perlu terucap karena semua rasa rindu dan cinta dapat tersampaikan secara sempurna melalui pandangan mata.

Hanya seperti ini, melihat Baekhyunnya bernafas, hidup dan tersenyum kearahnya, Chanyeol merasa dunianya yang sempat hancur kini perlahan bangkit dan menjadi lebih kuat.

"Aku merindukanmu Chan", bisik Baekhyun seolah si biru tengah berada tepat sejengkal nafas darinya.

Chanyeol terlonjak kaget, lagi-lagi tak siap dengan hal-hal luar biasa yang dapat dilakukan sang kekasih.

Kedua manik hitam tersebut menatap penuh tanya pada sang pangeran diseberang sana. Anggukan dan senyum manis merupakan jawaban yang ia dapat, seolah memberikan pembenaran bahwa yang barusan merupakan dirinya.

Mata biru merindu tersebut seolah menyalurkan ombak besar Samudra masuk kedalam diri Chanyeol. Memanggil sang chairman, menariknya dalam seolah ia bisa mendengar deru ombak secara dekat seperti hari itu ketika pertama kali ia menjelajahi dunia penuh misteri dibawah permukaan.

Membangunkan sang chairman dan kesadaran bahwa laut juga merupakan rumahnya.

Menyadarkan Chanyeol bahwa meskipun Baekhyunnya amat dekat, ia masih teramat jauh.

Dunia mereka masihlah berbeda, dan Chanyeol tiba-tiba amat membenci fakta tersebut.

Membenci dirinya sendiri karena tak segera terbangun untuk melakukan hal yang seharusnya ia selesaikan sejak awal.

Malam itu, setelah Chanyeol memastikan Baekhyun berbaring nyaman diatas batu besar di dasar danau, sang chairman dengan perlahan mengangkat gagang telepon di meja kerjanya.

Menanti beberapa detik sebelum suara pria di seberang sana terdengar.

"Ayah, aku sudah siap. Katakan padaku apa yang harus kulakukan".

Tanpa Chanyeol ketahui, di sana Baekhyun masih terjaga dan mendengar sederet kalimat yang terucap dari bibir sang kekasih tampan.

Membuat senyumannya merekah, menerangi gelapnya dasar danau.


Jam berubah menjadi hari, dan hari berganti menjadi minggu sejak Baekhyun membuka mata untuk pertama kali setelah sekian lama. Tidak banyak yang terjadi setelah hari itu, selain Chanyeol menghabiskan sebagian besar harinya dengan Baekhyun.

Membayarkan seluruh hutang cinta yang selama ini gagal ia berikan sesuai janji manis bibir ketika mereka memadu kasih untuk pertama kali.

Malam ini pun tak jauh berbeda, bulan tengah bersinar terang diatas singgasananya. Ekor biru Baekhyun tampak berenang-renang di tengah gelapnya danau. Kedua mata biru tersebut menyusuri tiap sudut ruangan Chanyeol tanpa terkecuali. Berusaha mencari keberadaan kekasih tingginya yang absen sejak matahari tenggelam.

Si biru perlahan mendengus, kemudian berenang perlahan menuju permukaan. Udara diatas permukaan tampak cerah dan indah, menarik rasa rindu sang pangeran pada dunia diatas permukaan yang seolah sudah bertahun-tahun tidak dijamahnya.

Diam-diam, meskipun tidak ia tunjukkan, Baekhyun merindukan kedua kakinya. Namun ia sadar betul, semua yang dilakukannya adalah agar ia segera pulih dan Bersatu dengan Chanyeol.

Ia benar-benar merindukan si tinggi. Kini dunia mereka kembali terpisah, ia tak dapat lagi memeluk Chanyeol kapanpun rasa rindu itu muncul.

Batas daratan dan air kembali menjadi penghalang mereka.

"Mencariku, cantik?".

Nyatanya suara berat tersebut menjadi yang pertama Baekhyun dengar ketika tubuhnya menyentuh dingin angin malam. Dengan cepat kepala bersurai biru tersebut menoleh kesegala arah mencari keberadaan si tinggi tampan yang amat ia rindukan.

Hingga tepat di detik ke sepuluh menuju pukul sebelas malam, sang pangeran melihatnya.

Pria tampan tersebut mengenakan kemeja putih yang digulung hingga lengan. Kaki panjangnya terbalut celana kain hitam, serta rambut semerah api miliki sang chairman ditata rapih keatas menunjukkan kening andalan Chanyeol.

Membuat Baekhyun jatuh cinta untuk yang kesekian kali.

"Chan, kau darimana saja?".

Chanyeol terkekeh melihat tubuh ramping tersebut berenang mendekat, kemudian berjongkok agar ia dapat melihat kekasih manisnya lebih dekat.

"Ada sesuatu yang menahanku di kantor, sayang".

Kepala bersurai biru tersebut mengangguk sembari bersandar di pinggiran danau, senyum manisnya menarik debaran gila didalam rongga dada sang chairman.

"Aku memiliki sesuatu untukmu", lanjut Chanyeol.

"Um? Apa itu Channie?".

Senyuman menjadi jawaban sang chairman, sebelum kedua tangan berototnya terulur, menjadi isyarat agar kekasih birunya mendekat.

"Ikut aku? Tenang saja, aku tak akan membawamu jauh dari air".

Memasrahkan segala kepercayaan pada kekasih tingginya, perlahan Baekhyun menyembul keluar dari dalam air. Menahan berat tubuhnya dengan kedua tangan, membiarkan Chanyeol menarik si mungil dan membawanya dalam pelukan erat.

Dalam heningnya malam, kedua kekasih tersebut berjalan menembus kegelapan disekitar mansion. Kejadian ini mengingatkan Chanyeol akan malam itu dimana Baekhyun untuk pertama kalinya berada di daratan bersamanya. Baekhyun berada dalam pelukannya, hidup dan tersenyum manis untuk sang chairman.

Benar saja, mata biru tersebut tak lepas menatap sosok tampan sang kekasih. Seolah tak ingin melepaskan Chanyeol dari perangkap samudera birunya.

Suasana mansion malam itu sangat sepi, para pelayan dan penjaga sudah kembali kedalam kamar masing-masing untuk beristirahat. Beberapa yang masih bertugas dari malam hingga pagi kini tengah berada di pos masing-masing. Hingga Chanyeol tak perlu khawatir jika ada yang akan melihat mereka.

Perlahan namun pasti, tubuh tinggi tersebut berjalan menuju lantai tiga mansion dengan Baekhyun berada di gendongan. Sesekali keduanya akan berbagi cerita singkat tentang hari mereka, atau pertanyaan umum lain.

Lima menit berlalu bak kedipan mata ketika mereka akhirnya tiba di sebuah ruangan.

Baekhyun yang selama beberapa bulan terakhir tinggal disana tentu tahu ruangan apa yang dihadapannya.

Tentu saja, apalagi jika bukan kolam renang indoor milik keluarga Park.

Jackson amat suka bermain air –begitupun dengan Baekhyun tentu saja, hingga pria matang tersebut memikirkan design rumah yang mengizinkan kedua orang tersayangnya tetap dapat bermain air meskipun saat musim dingin menjemput.

"Bisa tolong kau buka pintunya untukku sayang?".

Baekhyun terkikik pelan, kemudian mengangguk sebelum mengulurkan tangan untuk membuka pintu kayu jati tersebut.

Si biru bisa dibilang sering menghabiskan waktu disana, sehingga ia hafal diluar kepala bagaimana interior ruangan mewah serba marmer tersebut. Ruangan mewah tersebut menyita lebih dari lima puluh persen lantai tiga. Seluruh ruangan terlapisi marmer perpaduan warna hitam dan putih sehingga menimbulkan kesan mewah klasik yang amat kental disana. Chandelier besar bertabur kristal biru menggantung tepat ditengah kolam renang senada dengan warna air, melengkapi design ruangan yang sejak awal sudah terlihat 'mahal'.

Tepat di ujung ruangan sebelah kiri, terdapat sekat tembok –juga dilapisi marmer, yang menyembunyikan ruangan mandi dan ganti.

Tetapi, malam itu tiba-tiba semuanya berbeda.

Chandelier yang selalu berpendar bangga kini digantikan redup lilin yang tersebar di sekitar kolam renang. Kelopak-kelopak bunga mawar bertebaran, menguarkan aroma wangi. Memanjakan hidung serta mata siapapun yang ada disana dengan keindahannya.

Baekhyun sempat terdiam, tak sanggup berkata-kata bahkan sampai keduanya tiba di pinggir kolam dan Chanyeol melepaskan si biru untuk terjun kedalam air. Baekhyun menceburkan seluruh tubuhnya, menyelam hingga ke dasar kolam menghirup air sebanyak mungkin sebelum kembali muncul ke permukaan.

Tepat ketika surai biru tersebut menyembul keluar, Chanyeol sudah melepaskan kemeja serta celana yang melekat digantikan sebuah celana renang hitam, memerkan tubuh berotot sempurnanya.

Baekhyun tersenyum manis, merentangkan tangan mengajak Chanyeol untuk segera masuk dan bergabung dengannya.

Tanpa menunggu lama untuk memenuhi permintaan sang kekasih, si tinggi dengan cepat melompat kedalam air. Menimbulkan cipratan hingga membuat si manis terkikik lucu.

Tak ingin membuang banyak waktu, perlahan sang chairman menarik ekor biru sang kekasih hingga membuat tubuh mungil itu menghilang dibalik permukaan. Baekhyun tertawa lepas, kemudian mengulurkan tangan untuk memeluk erat leher kokoh sang kekasih.

Keduanya berdiam dibawah air, mata saling menatap menjadi satu-satunya media komunikasi pengantar cinta mereka. Chanyeol tersenyum, kemudian perlahan merangkul pinggang Baekhyun dan menarik tubuh mungilnya ke permukaan.

Kecupan-kecupan sayang sang chairman berikan pada bibir merah Baekhyun, memicu kikikan manis tersebut keluar.

Senyuman merekah di bibir sang chairman, sebelum pria tersebut bersadar pada pinggiran kolam dengan Baekhyun di pangkuannya. Dengan penuh kasih, jemari lentik Baekhyun menyusuri dada berotot Chanyeol. Merasakan permukaan hangat tersebut di telapak tangannya.

Tiada yang membuka suara terlebih dahulu, keduanya diselimuti keheningan yang nyaman. Tatapan sayang Chanyeol berikan pada sang kekasih. Menelusuri wajah manis yang amat ia rindukan.

"Baby, apakah kau benar sudah memaafkanku hmm?", usapan telapak kasar tersebut menarik senyuman Baekhyun membuatnya terkikik.

"Tentu saja Chan, aku tidak akan berada disini jika tidak".

Chanyeol mengangguk kemudian menghela nafasnya perlahan.

"Sungguh, malam itu aku tak bermaksud mememberikan nama itu untukmu. Aku hanya… Aku tak tahu harus berbuat apa Baek. Segalanya terasa membingungkan".

"Aku paham, aku mengerti bagaimana perasaanmu ketika Eva pergi Chan. Dan kemungkinan bahwa aku membunuh Eva… Sungguh, aku tidak sengaja melakukannya. Aku bahkan tidak tahu jari siapa yang aku makan. Yang kutahu, aku akan terus menyimpan cincin itu sebagai tanda terimakasihku kepadanya", hening sesaat. "Aku bersumpah aku tidak tau jika itu adalah jari Eva".

"Adriviane sudah menjelaskan semuanya padaku. Maafkan aku Baek sungguh, aku belum bisa menghapus bayangan malam itu ketika kau tergeletak tak sadarkan diri di rumah sakit. Aku ketakutan", rahang Chanyeol mengeras sebelum ia melanjutkan. "Aku takut kau pergi tanpa mengetahui seberapa besar aku mencintaimu".

"Park Chanyeol", perlahan jemari lentik tersebut terulur, menangkup pipi si tampan. "Darahmu yang mengalir didalam tubuhku sudah cukup sebagai persembahan yang kau berikan".

Baekhyun mengecup sayang pipi sang kekasih kemudian tersenyum ketika pria tampan tersebut menoleh kearahnya dan mendekatkan wajah mereka.

"Kau tahu, aku akan memberikan segalanya padamu sayang", bisik Chanyeol.

Aura yang keduanya keluarkan tiba-tiba berubah begitu intens hingga Baekhyun terasa sesak. Si biru hanya mengangguk dan mengeratkan pelukan pada leher Chanyeol.

"Aku mencintaimu, Aereviane. Amat mencintaimu".

"Aku juga", Bisik Baekhyun.

"Aku bersumpah, aku akan membunuh Lewis Lee dengan tanganku sendiri dan membawa darahnya kesini. Kehadapanmu. Aku…"

Telunjuk Baekhyun menempel pada bibir Chanyeol. Manahan kalimat apapun yang akan dia keluarkan.

"Kiss me, Channie".

Sang chairman memejam perlahan, kemudian tersenyum. Tak membiarkan kekasih cantiknya menunggu lama, Chanyeol mendekat erat tubuh mungil tersebut dan meraup bibirnya dalam ciuman dalam yang memabukkan.


Heart of The Ocean


"Lucas! Kembalikan!", suara kikikan riang bak lonceng milik Baekhyun memecah keheningan pagi di taman belakang mansion keluarga Park.

"Lucas Hyung! Kembalii!", sautan Jackson yang kini tengah mengapung didalam balon pelampung birunya.

Jam tengah menunjukkan pukul Sembilan ketika Chanyeol keluar dari ruangannya, sudah terlihat segar dan tampan.

Siap untuk memulai hari.

Bos besar Jetdale co tersebut mengawali hari dengan kernyitan di kening, karena Baekhyun yang entah kenapa absen dari penglihatannya. Oh, jangan kira ia protektif. Biasanya Baekhyun akan berenang-renang didepan kaca untuk menyambut Chanyeol yang bangun tidur, mengikuti si tinggi ke kamar mandi, hingga menemani sang chairman berganti baju dari dalam danau.

Namun pagi ini, sejak mata kelinci itu terbuka, Baekhyun tak terlihat sejauh mata memandang.

Ia sedikit merasa khawatir sesungguhnya, tetapi Lucas seharusnya ada disana untuk menjaga sang kekasih kemanapun ia pergi kan? Serta Baekhyun masih berada dalam borderline dimana pengawasan puluhan mata bisa diandalkan, semua tentu akan baik-baik saja.

Dengan pemikiran itu, sang chairman dapat merasa sedikit tenang sebelum akhirnya turun dari tempat tidur untuk memulai hari, tentu dengan rasa khawatir sebesar nol koma sekian persen yang menolah untuk enyah dari hatinya.

Secepat mungkin ia berusaha menyelesaikan kegiatan bersiapnya sebelum beranjak keluar ke taman.

Hanya untuk melihat Baekhyun yang kini tengah berebut bola dengan Lucas dan Jackson yang tampaknya sudah berniat untuk berenang.

Chanyeol mendengus, rasa kesal tanpa alasan tiba-tiba menggenangi hatinya. Entah kenapa sang chairman sedikit tidak suka jika Baekhyun terlalu dekat dengan Lucas. Well, mungkin lebih dari sedikit karena ia benar-benar merasa tidak nyaman hanya dengan melihat Lucas tertawa bersama dengan sang kekasih.

"Lucas kembalikaan!", teriak Baekhyun sebelum akhirnya siren berekor biru tersebut sedikit melompat keluar dari dalam air dan menerjang Lucas. Keduanya lalu tenggelam dan menghilang dibalik permukaan. Meninggalkan Jackson yang terkikik menggemaskan.

'Baiklah sudah cukup, terlalu banyak sentuhan', Batin Chanyeol.

Aksi Baekhyun dan Lucas tadi akhirnya mendorong sang chairman yang sebelumnya masih berdiri di kejauhan untuk mendekat ke bibir danau. Memutuskan bahwa sudah saatnya mereka menyadari kehadiran sang pemilik rumah.

"Kulihat kalian sedang bersenang-senang tanpa aku", ujar suara berat tersebut. Menarik perhatian Jackson yang kini langsung menoleh dan tersenyum lebar kearah sang ayah.

"Daddy!".

Rupanya, pekikan si kecil tersebut mampu membuat Baekhyun yang tengah asik berebut bola dengan Lucas muncul ke permukaan. Senyuman lebar menghiasi paras cantiknya begitu sosok sang kekasih yang tampan terlihat oleh netra.

"Selamat pagi, Chanyeol".

Chanyeol tersenyum, kemudian mengangguk dan beranjak menuju gazebo yang terletak beberapa meter dihadapannya. Pria tinggi tersebut membiarkan para pelayan sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk sang bos besar.

Jackson yang melihat kehadiran sang daddy seketika menggerak-gerakkan kakinya lucu untuk menyusul sosok tinggi tersebut.

Entahlah, pagi itu sepertinya rasa cemburu cukup membuat hatinya dongkol. Terutama melihat Baekhyun menerjang Lucas sembari melingkarkan lengan pada leher si siren hijau. Sebenarnya Baekhyun tengah mencekik Lucas dengan lengannya, namun dimata Chanyeol si pencemburu, gestur tersebut terlihat sedikit intim.

Baekhyun yang tampaknya menyadari kejanggalan dari ekspresi sang kekasih, perlahan berenang menyusuri danau dan berhenti tepat di samping gazebo. Memperhatikan lekat-lekat wajah tampan sang kekasih yang kini sibuk dengan roti nya.

"Chan?", penggil Baekhyun. Berusaha menarik perhatian si tampan.

"Ya Baek?", ujar sang chairman sembari mengaduk cairan hitam favoritnya.

Baekhyun mengernyit, kemudian melemparkan tatapan penuh tanya pada Lucas.

"Daddy, kenapa daddy tadi tidak ikut belmain?", polos suara Jackson yang kini sudah duduk sempurna di samping Chanyeol akhirnya menarik perhatian sang ayah.

"Daddy tidak tahu jika kalian berencana bermain bersama".

Sang chairman tersenyum, kemudian membantu si kecil menuangkan orange juice kedalam gelas kristal berbentuk ikan miliknya.

"Jangan lupa memandikan Jackson setelah ini", titah Chanyeol kearah Jessica yang kini berdiri tepat dibelakang sang tuan muda sembari melilitkan handuk bergambar mobil pada tubuh kecil itu.

Jessica hanya membungkukkan badan, wanita itu sudah bekerja cukup lama dengan keluarga Park hingga tahu bahwa kini mood sang tuan besar tidaklah terlalu bagus.

Hal ini nampak jelas dari wajah tampan yang tampak serius dengan aura dingin menguar. Tatapan mata hitam tajam terpaku pada roti lapis dihadapannya, seolah sengaja mengabaikan si biru yang kini tengah memandanginya dari pinggiran danau.

"Channie? Jangan lupa memakan salad mu", ujar Baekhyun. Mata birunya masih lekat mengunci sosok tampan sang kekasih.

"Tentu".

Bibir merah Baekhyun sedikit mengerucut akibat tanggapan dingin sang kekasih. Dalam kepala indah terbingkai surai biru tersebut, ia tengah menyusuri dimana kira-kira ia melakukan kesalahan sehingga Chanyeol begitu sinis kepadanya. Seingat si biru, semalam Chanyeol masih baik-baik saja sebelum mereka tertidur.

"Channie, kau baik-baik saja kan?".

Gumaman menjadi jawaban tunggal sang chairman.

"Bukan salah yang mulia jika kau tidak bermain bersama kami", perlahan suara dingin Lucas terdengar. Mendahului jawaban Chanyeol yang sudah tercekat di tenggorokan. "Bukan salah yang mulia jika kau tidak memiliki ekor, Tuan Park air bukanlah tempatmu".

Hingga kalimat terakhir itu cukup menarik emosi Chanyeol hingga ke puncak kepala. Tiba-tiba perasaan untuk menghabisi Lucas disana dan saat itu juga muncul bak badai di musim panas.

Kedua tangannya mengepal, hingga buku jari memutih. Tubuh tinggi itu sudah berdiri tegak siap menceburkan diri kedalam danau untuk membungkam mulut Lucas dengan caranya.

"Lucas", ujar Baekhyun. Mata biru tersebut menatap tajam penuh peringatan.

Jackson yang merasakan hawa kemarahan dari sang Daddy perlahan mengulurkan tangan. Menggenggam ibu jari sang ayah yang terlihat besar didalam tangannya.

"Daddy?".

Tepat ketika suara mungil itu terdengar, sambaran kesadaran menampar Chanyeol. Cukup membuatnya sedikit menahan ledakan amarah yang sudah berada di ujung tombak. Helaan nafas dalam ia keluarkan, sesaat sebelum senyuman simpul sang chairman lontarkan pada putera kecilnya.

Benar, Chanyeol tidak boleh melakukan ini.

Tidak ketika Jackson ada disana.

Dengan hati-hati, Chanyeol melepaskan genggaman tangan Jackson sebelum melangkah pelan mendekati siren hijau yang masih menatap penuh tantangan kearahnya.

Mengabaikan suara pelan Baekhyun yang kini tengah berusaha menenangkan sang kekasih, Chanyeol perlahan berjongkok di pinggiran danau. Mata bak elang itu seolah menusuk kedalam jiwa sang siren hijau.

"Sebaiknya kau berhati-hati dengan ucapanmu Lucas, sebelum aku membungkamnya hingga seumur hidupmu. Percayalah, ekor hijau mu itu tak cukup hebat untuk menjatuhkanku", senyuman miring penuh ancaman terkembang di wajah tampan sang chairman. "Dekat dengan Putera Mahkota tidak membuat derajatmu naik, sadarlah pengawal kerajaan Lucas".

Kekehan remeh terlontar dari sang chairman sebelum pria tampan itu beranjak berdiri. Menatap kekasih birunya sembari tersenyum, berusaha keras meyakinkan Baekhyun bahwa si biru bukanlah masalah disini.

"Aku harus menemui seseorang, sayang. Baik-baiklah dirumah".

Tanpa menunggu jawaban dari si biru, Chanyeol segera berbalik dan beranjak pergi. Tak bisa berlama-lama disana karena amarahnya dapat meledak kapanpun di detik itu.

Serta siapapun tidak bisa menjamin, Lucas akan berhasil lolos dari amarah sang chairman.

.

Sejuk angin terasa menerpa kedua pria tinggi berbeda usia yang kini tengah berdiri tegap sembari melihat ke batas cakrawala.

Deburan ombak yang sedikit demi sedikit mulai membasahi sepatu mahal mereka seolah bukan masalah.

Seolah focus dan pikiran mereka kini tengah berada di hal lain, dan itu merupakan prioritas keduanya.

Detik berlalu dalam keheningan.

Teriakan burung camar di batas langit sore menjadi satu-satunya pengiring music di sana. Membuat suasana semakin tegang.

Satu tepukan Pundak diberikan oleh yang paling tua diantara keduanya, dilanjutkan dengan anggukan kepala yakin. Memantapkan perasaan yang lebih muda serta dorongan agar apapun itu yang menahannya dapat segera enyah.

Perlahan namun pasti, yang lebih muda merogoh sesuatu kedalam kantong celana khaki karya Armani, mengeluarkan pendar merah permata dari sana sebelum menggenggam benda berbentuk hari tersebut dengan erat.

"Aku sudah siap, ayah".

.

.

.

To Be Continued


Hellooooo! Aku kembaliiii!

Siapa yang kangeen? huhu

Akukangen kalian dan FF ini.

Chapter 21 akan jadi chapter terakhir dan ada beberapa epilogue atau extra mini chapter nantii..

Maaf banget ya aku updatenya lama.. kerjaan dan tugas kuliahku lagi numpuk banget.

Huhu tapi aku janji akan selsesaiin ff ini sampai tuntas.

Anyway!

Untuk kalian stay safe ya, sehat-sehat selalu, jangan lupa cuci tangan dan menjaga kebersihan, juga makan makanan yang sehat okee. Kalau bisa stay dirumah ajaa

istirahat sampai semua lebih aman.

Semoga kita semua selalu dalam perlindungan Tuhan.

Aamiin.

See you di chapter 21!

Love You all!

Kutunggu review kaliaan..

Dan terimakasih buat kalian yang selalu menunggu ff ini, selalu nagihin ke akuu, sampai baca ulang-ulang karena kangen. Begitupun readers baru. Terimakasihh sudah mengapresiasi karyaku.

I love u all.

Love,

Kileela.